Sunday, February 2, 2025

Cinta

Dari pengalaman, kita akan memahami dan mengenal energy, orang, pola, keadaan, situasi, dll. Dari situ kita akan mudah membaca sesuatu termasuk mampu melindungi diri dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat. Contoh relationship percintaan.

- Cinta atas dasar cinta, itu rasanya tenang, aman, nyaman, tidak ada gejolak, emosi intense menggebu-gebu, dan hasrat seksual meledak-ledak. Semua terasa mudah, bertahap, dan natural. Ada chemistry tanpa perlu usaha, ada koneksi namun tidak membuat diri menjadi terikat alias kita tetap menjadi diri sendiri, mandiri secara emosi, tidak ada hasrat menugubah pasangan. Cinta itu membebaskan, melindungi, menutrisi, merawat, mendukung menjadi versi terbaik. 

- Trauma bonding yang sering dianggap cinta, rasanya seperti adiksi dan berantakin nervous system. Meski tau tidak sehat, tidak dihargai, di aniaya. Namun diri tak mampu lepas atau meninggalkan, malah mengulang pola tersebut berkali-kali. Tanpa sadar, diri mengulang pola trauma yang terjadi di masa kecil: tentang pengabaian kah, penolakan, penganiayaan fisik kah, penganiayaan secara emosi, atau hal lainnya. Jika sadar yang dialami adalah trauma bonding (bukan cinta), maka ini akan ajdi ajang yang bagus untuk melihat kedalam diri dan healing. 

- Pelet, dari awal sudah terasa intense, pikiran 24/7 tertuju pada orang itu, hasrat seksual meledak menggebu-gebu tak tertahan terus-terusan sampe bikin frustasi hinga depresif, hanya mau dengan orang itu, menutup diri dari yang lain, rindu mendalam tak tertahan yang sangat menyakitkan. Batin terikat kuat meski diperlakukan tidak baik seperti sampah bahkan di perbudak. Logika bisa mikir dan sadar, tapi tidak bisa lepas, alam bawah sadar terikat dan tertuju hanya dengan orang itu hingga merusak diri dan mengabaikan kepentingan diri sendiri (secara fisik, psikis, mental, pekerjaan, keuangan, kesehatan), relasi dengan orang lain berantakan. Rela melakukan dan berkorban apapun. Sulit dan tidak bisa tidur. Rasa sakit dan penderitaan hilang sendiri saat bertemu dengan yang memelet, langsung berubah berbungga-bungan dan sangat bahagia. Saat yang memelet mengacuhkan, meninggalkan, menjauh, hilang, maka penderitaan menjadi berkali-kali lipat dan hasrat untuk bertemu dan berinteraksi semakin tinggi. Sehingga kerelaan berkorban dan melakukan apapun menjadi berkali-kali lipast dari sebelumnya, dst. Saat peletnya hilang/ dicabut/ lepas, tiba-tiba jadi tidak cinta, tidak suka, hilang hasrat, bahkan aneh "ngapain suka sama orang ini". Dan proses recovery dari kerusakan jiwa, pikrian, batin, dan trauma nyata selama di pelet, memakan waktu lama. Termasuk memebnahi area-area kehidupan yang rusak (pekerjaan, karir, keuangan, dll). Masalahnya, orang pelet bukan karena cinta, suka, dan ingin menikah, namun untuk uang (baiks ecara energy maupun cash) dengan menumbalkan orang. Orang akan rela melakukan dan memberikan apapun. Apalagi saat di tarik ulur hingga gilak, itu seperti panen energy money tak terhingga saat memberikan remeh2 terhadap korbannya yg menjadi super joy. Llau dibuat menderita lagi, agar joy selanjutnya lebih banyak, dst nya. Dan joy korban ditarik diambilin untuk dirinya yang kemudian ia conver to money cash, dikala korbannya sengsara lahir batin semuanya.

Saat mengalami itu semua, kedepannya diri akan sangat peka dan kenal energi cinta seperti apa, trauma bonding bagaimana, dan saat diri di pelet. Dari situ bisa langsung taking action. 

Tentang pelet, bentengnya: 
1. Never being alone. Surrounded yourself with people who love and support you; great social life, socially active; having nurturing, meaningful, and healthy friendship/ relationship with others; being present and grounded.  
2. Love yourself. Ketika kita sayang diri sendiri, ada benteng yang tercipta sendiri. Jikapun kebobolan kena, maka lepasnya akan lebih cepat dan mudah.
3. Perkuat barrier energetically, bisa lewat spiritualitas atau hal lainnya.

Untuk orang yg "kosong" efeknya bisa sampe gilak permanent, apalagi jika oragnya empath, sufferingnya berkali-kali lipat. Untuk orang yang ada "penjaganya", meski suffering berkali-kali lipat karena empath dan dampaknya real sampe babak belur depresi, miskin, sakit-sakitan, nge block segala rejeki relasi, sendirian, almost gilak; ya gak sampe gilak permanent dan akan ada aja yang bantu/ menolong hingga bersih, sembuh, dan kembali berfungsi baik. 

Semoga Allah selalu melindungi dan menjauhi dari orang-orang fasik, munafik, dzolim, berniat jahat, dan jahat. 
Semoga segala kejahatan kembali kepada pelakunya hingga merasakan hal yang sama di kehidupan ini dan semua dibayar kontan.

Saturday, February 1, 2025

True Power

Saat kita bergerak dari takut salah, sehingga selalu mencari bagusnya seperti apa, baiknya seperti apa, yang benar seperti apa, dan menghindari semua hal yang berpotensi kurang baik. Tanpa sadar kita di strir atau di kontrol oleh kesadaran sementara di momen itu, dimana hal itu masih bisa berubah dan hidup dalam ketidakjelasan tanpa kemajuan berarti. 

Lain halnya, 
Saat kita tau apa yang benar-benar kita inginkan dan doing everything to get it.
Semua hal menjadi tidak relevant dan tidak berdampak besar pada diri, termasuk diri tidak dapat di kontrol dan di stir oleh hal-hal eksternal maupun temporary. Diri memfokuskan energy, waktu, source pada tujuan. Dari tujuan-tujuan yang berhasil di achieve dan di dapat, memunculkan target-target baru. Jika pun gagal, maka diri akan terus mencari jalan hingga dapat atau justru menemukan hal baru yang lebih worth it. Semua kendali ada di diri sendiri. Tak ada ketakutan apapun, because we know what we want and trust ourself.

Kita adalah source itu sendiri.
Kita punya kendali penuh untuk menciptakan kehidupan kita sendiri.
Mau kehidupan seperti apa dan bagaimana.
Tidak ada satupun yang bisa ngapa-ngapain diri jika tidak kita izinkan.
Kita yang menciptakan itu semua, termasuk celah untuk di manfaatkan. di manipulasi, di abuse, di buang, ditinggal, dibantu, dicintai, di dukung, semuanya apapun itu, kita yang ciptakan dan izinkan.
Kekuatan sebenarnya adalah saat kita kenal diri sendiri, apa yang dimau, apa tujuan diri, dan kita tau kita mampu mencapai itu semua. 

Saat kita kenal diri sendiri, tau apa yg dimau, dan trust ourself, ya itu power. 
Ditambah  fokus dan disiplin. We can achieve and get everything what we really desire. 

1/2/2025

Saat kita tahu apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa kelebihan kita, apa kekuatan kita, dan tau aturan mainnya (dalam relasi, pekerjaan, sosial, tempat tinggal. Semua tempat dan relasi kita berada). Hidup akan sangat mudah. Tak ada satupun yang bisa menganggu apalagi merusak diri. Justru kita bisa menggunakan itu semua untuk kebaikan bagi diri dan sampai ke tujuan dengan cepat nan berkemudahan.

Aturan Main

Setiap tempat, lingkungan, relasi, apapun itu, memiliki aturan main tersendiri. 
Untuk bisa survive, stay healthy, wealthy, waras; kita perlu tau aturan mainnya.
Ada aturan main yang memang diungkapkan langsung, dikomunikasikan, sama-sama tahu, atau perlu cari tau sendiri. 

Masalah muncul, sata kita memiliki pandangan yang berbeda, lack of insight tentang aturan main di suatu relasi atau tempat, dan lack of communication dari pihak lain (entah malas, missleading, atau menganggap semua orang paham dan sama dengan dirinya). 

Misal, 
Ada orang memiliki libido yang tinggi dan melihat sex sebagai hal menyenangkan layaknya liburan dan makanan enak, sehingga bisa melakukan casual sex dengan siapapun yang ia tertarik tanpa perlu kenal, mengenal, punya relasi, dan komitmen apapun. Sehingga meski ia telat menikah, ia tetap mencari partner seks diluar pasangannya (dimana pasangannya sudah tahu dan ada aturan main bersama). Ini akan jadi masalah sata ia bertemu orang baru yang intentionnya relationship, sacred banget tentang sex, pakai perasaan, dan melihat itu sebagai sesuatu serius yang bisa give all everything. Dikala orang ni tidak mengkomunikasikan semuanya dari awal, make it clear, menyampaikan tujuan dan boundariesnya secara langsung dari awal. Lalu saat semua jadi masalah, ia pergi begitu saja karena menganggap hal tidka penting (baginya) dikala orang itu menganggap pernting hingga merusak self esteem, self worth, pekerjaan, dan kehidupannya, bahkan trauma. Hal ini akan berbeda, jika ia bertemu dengan prang yang memiliki mindset, value, dan intention yang sama, for fun misal. Tanpa di komunikasikan pun, akan sama-sama tau aturan mainnya, sehingga tak ada yang dirugikan apalagi ke abuse/ ke harming.

Contoh lainnya,
Dalam suatu perusahaan, ada aturan main tak tertulis bahkan tak disampaikan. Misal saling cari muka, menjatuhkan, lempar-lemparan tanggung jawab. Saat ada anak baru masuk yang tak pernah ada pengalaman berada di lingkungan seperti itu dan fokusnya bekerja. Maka ia tak sadar saat ke pingpong, jadi tumbal, berakhir jadi repot sendiri dan overwhelmed tidak bisa menjaga diri sendiri dan set boundaries karena tidak tahu aturan main di perusahaan itu, Endingnya ya merugikan diri sendiri. 

Semakin banyak pengalaman hidup, luasnya pergaulan, dan kepekaan membaca situasi, kewaspadaan akan hal-hal baru (orang baru dan tempat); semakin tinggi sinyal waspada dan kemampuan memahami aturan main dalam relasi, pekerjaan, dan lingkungan. 

Begitupun saat kita punya hati nurani, empati, integritas, secara natural kita akan menyampaikan aturan main kita atau sesederhana mengkunikasikannya secara jelas ke pihak lain. Sehingga tidak misleading apalagi merugikan hingga merusak kehidupan orang lain. 

Masalahnya, tidak semua orang peduli dengan orang lain, sehingga kita yang perlu cerdas dan jeli membaca aturan main dalam setiap tempat dan hubungan. 

Wednesday, January 15, 2025

Teman

Aku suka nge test orang. Orang-orang yang aku pilih sebagai teman.
Karena value pertemananku tinggi dan tipe orang yang bisa masukin orang ke dalam hidup untuk seumur hidup. Bukan sebatas kepentingan, mencari keuntungan, atau kebutuhan semata. I am willing to nurture, protect, nourish, encourage, love, be loyal, be kind, be supportive; and grow faster and higher. 

Ada yang stay, banyak yang pergi dan me reject.
Tidak jarang sering disalahpahami, dijudge, dijauhi, direject, di abuse.
Ada yang stay; banyak yang pergi, mereject, memblock, dan menyalahpahami.
Ada yang jadi sedih, memberikan trauma, ada juga yang disyukuri.

Dari situ, banyak data di dapat yang aku simpan sendiri.

Buat ku, pertemanan bukan karena keadaan (sekolah, kerja, hobby, karena ada urusan abc, karena sedang berada di lingkungan blabla), bukan juga untuk memenuhi kebutuhan, survive, or just for taking. Namun sebuah pilihan dan memilih secara sadar. Mau apapun backgroudnya, selama memiliki kualitas yang ok, value yang sama, punya kemampuan bertumbuh dengan cepat, mampu deep understanding, satu frekuensi, dan mutual, why not?

15/1/25

Selama kita kenal diri sendiri, menerima diri seutuhnya (baik buruknya), 
omongan orang lain tuh ya hanya omongan aja, ga akan berdampak apapun. 

Termasuk saat diri secure, acknowledge semua perubahan, menyayangi diri,
Kita ga butuh apa-apa lagi dari dunia luar. We know who we are.

Begitupun saat kita tau apa tujuan kita, goal kita, kemampuan kita, dan fokus,
Gak ada satupun yang bisa mengoyahkan apalagi merusak. 
We know what we want and what we do. 

Friday, January 3, 2025

Happy New Year

I am so gratitude.
Bersyukur dengan ayah, ibu, adik yang sangat sayang.
Bersyukur dengan teman-teman yang baik.
Bersyukur dengan orang-orang yang mampu berempati, menepati janji, mengabari, 
memberikan pengalaman baru yang baik dan menyembuhkan.
Bersyukur atas segala insight, awareness, dan info-info yang hadir.
Bersyukur dengan diri yang semakin memperlakukan diri dengan baik tiap harinya.
Bersyukur dengan luka-luka yang ke trigger dan akhirnya released dan sembuh.
Bersyukur atas segala ketenangan batin dan kesehatan fisik yang prima.
Bersyukur untuk terus mampu bangkit di setiap keterpurukan.
Bersyukur atas hati yang tak pernah dendam.
Bersyukur atas kemampuan untuk berempati dan menyayangi diri.
Bersyukur atas tubuh yang menyenangkan, sehat, lengkap, berfungsi baik, utuh
Bersyukur atas kemampuan diri untuk sendiri dalam kesendirian.
Bersyukur atas kehdiupan sosial yang rich, menyenangkan, dan membuat diri terus tumbuh baik
Bersyukur atas kemampuan berbicara baik dan toleran terhadap diri sendiri.
Bersyukur terlihat seperti umur 20an di usia sekarang.
Bersyukur untuk terus maju dan optimis menjalani hidup.
Bersyukur untuk tubuh yang selalu menemani.

Dibalik banyak dan dalamnya kesedihan, selalu hadir hal-hal yang membuat diri bersyukur.
Yang pasti hidup semakin baik dari tahun ke tahun, bahkan dari detik ke detik.

I love you, Utie.        
Thank you.        

Sunday, December 22, 2024

Driving Golf

 

I did driving golf with my gen z's friends that I met last night at social event. So many fun, 
excitement, pleasant conversation, expand knowledge, and burn calories haha. Btw, I don't like PIK.  Surprisingly, when I went to PIK for golf, I felt very happy, expand, excited joy all the way to the location, like being on holiday. The sensation and feeling, like more than just go to the place to do exercise. and the next time I came here again with different people, it turned out to still feel the same,  so fun, expand, excited, and joy, even I deprived sleep.

Cheers!

So proud of myself to take care of myself even the life so struggle and unfair, to cherish myself, to maintain social life, to have healthy relationship, to build networking, to have positive attitude to the life, to be mature, to be more kind to self. 



Being independent, doesn't mean I have to do everything by myself, live the life alone, and reject everything outside myself. When I healed, I can be open to others, ask for help, ask for companionship, receive people's contribution, without any attachment and still be independent. I am so gratitude to meet al people that I met. Thank you to teach me and give me experience healthy relationship that consist of: maturity, respect, boundaries, empathy, great communication skill, consistency, and space.


Trust and Honoring Self

ok.

Thursday, December 5, 2024

Space

Jaman kuliah, lagi ngomel-ngomel sesuatu.
Tiba-tiba ada seorang teman, tidak terlalu akrab dan jarang main bareng, komen "lo kan tipe yang butuh space banyak". Disitu baru sadar hal yang bikin diri ngomel-ngomel adalah lagi less of space di tempat itu. Hal yang bikin kaget, ketika orang yang tidak akrab bisa notice my personality dengan tepat, dikala orang-orang terdekat yang sudah lama bersama pun tak menyadari hal itu.

Space untuk melakukan sesuatu dengan cara sendiri, ritme sendiri, dan kebebasan untuk mengeksplorasi. Kasarnya, kasih target dan jadwal, dan yaudah (ga perlu nanya-nanya, usik-usik, follow up - follow up), pasti beres ok kok. 

Bisa di bilang beruntung juga punya orang tua yang tidak pernah sekalipun menanyakan urusan akademik (pr, ujian)n apakagi nyuruh-nyuruh belajar. Tidak pernah sekalipun. Aku selalu handle semuanya sendiri meski nangis berdarah-darah saat tidak paham sesuatu, dan dari situ justru diri sangat berkembang cepat, beraktualisasi diri dengan baik, dan menghasilkan kehidupan akademik yang baik (selalu masuk sekolah ungulan dan berprestasi). Karena tidak pernah ada satupun orang yang mengusik (sekecil nanya pr/ nyuruh sekolah/ nyuruh belajar).

Dan ternyata kebutuhan space ini pun terjadi dalam relasi.
Saat upset, sedih, tersinggung, marah, being hurted, aku tipe yang diem, menjauh, dan menyendiri. Dan tidak ada satu pun orang yang bisa membaca keadaan dan emosiku yang sebenarnya. Hingga diri meledak karena takk kuat bottle up emotion, dan orang kaget dan malah jadi harming/ nge reject/ atau nge abuse diri. Makinlah deep sakit hatinya, dan semakin pula menyimpan dalam dan menjauh. Nah dalam keadaan yang tiba-tiba pergi, menjauh, meledak marah, ada orang yang tidak bereaksi terhadap ekspresiku, Ia hanya memberikanku space untuk menyelesaikan sendiri dan menetralkan diri. Dan saat diri kembali dengan ceria, ia pun menyambut dengan sangat terbuka. Dari ribuan orang  yang ditemui, baru ketemu satu orang yang ternyata mengenal sisiku yang itu. 

Termasuk kebutuhan space saat sedang berkomunikasi.

Monday, December 2, 2024

2/12/24 (2)

Tidak ada penyesalan terhadap orang-orang yang pernah hadir dalam hidup dan akhirny pergi memilih yang lain. Karena di  moment itu, memang akunya yang belum siap, belum mau, dan tidak benar-benar suka. Dan semuanya sudah sangat jelas di awal, tidak ada harapa yang aku gantungkan, tidak ada kebutuhan yang aku hold, dan tidak ada rejection seperti kabur dan ghosting. Semua dikomunikasikan dua belah pihak dan clear dengan waktu yang cepat tanpa merugikan siapapun. 

Giliran ada yang diri suka, bener-bener suka, udah sampe bisa super being vulneraable, ekspresi baik secara perasaan dan emosi, semua diliatin, dan settle dari awal. Orangnya gak suka dan nge reject, itu pun dalam waktu lama dalam harapan palsu, digantugin, di ghosting, yang tanpa sadar malah harming dan abusing. Di dia nya tidak ada kerugian apapun, di diri wow bgt dampaknya dan proses pemulihannay cukup lama. Karena tidak dikomunikasikan dan jelas dari awalm jadi  lukanya terlalu dalam dan berkpanjangan.

Dari proses hidup itu, berlabuh dalam kesadaran,
ternyata yang aku butuhkan saat ini, bukan tentang uang dan karir, tapi cinta.
Akhirnya memutuskan fokus untuk urusan cinta ini dan mulai membuka diri,
yang saat ditelusuri ke dalam diri, ternyata aku tidak benar-benar membuka diri, seperti masih ada barrier tinggi dan rasa takut. Entah trauma relasi sebelumnya atau ada hal-hal lan yang  belum akus sadari. Dan pertamakalinya juga dalam hidup, dalam waktu lama tidak ada orang yang hadir dalam hidup, sampe beberapa teman aneh "masa sih", "masa sih". Ya emang ga ada. Ga ada yang suka, ga ada yang naksir, ga ada yang ngedeketin, ga ada yang ngajak kenalan, ya ga ada sama sekali.

Mungkin ga harus sampe nikah buru-buru, lebih ke arah ya punya teman hidup partner. 
Yang bisa deep understanding, yang nyambung secara intellectual, yang sama-sama deep feeling, yang terkoneksi secara jiwa, yang saling nurturing dan nourishing, yang punya level energy minimal sama, yang mutual (aku milih dia, dia milih aku. aku suka dia, dia suka aku. aku cinta dia, dia cinta aku), yang sama-sama bertumbuh dan berkembang, yang bisa co creation, yang selevel. 

Dan bener-bener gatau cari dan ketemu dimana, karena dari dulu gak pernah cari orang, orang-orang yang dateng sendiri. Dan sekarang ga ada satupun yang dateng dan hadir dalam hidup. 

2/12/24 (1)

Being heard and accompanied, is nurturing way for me. 

Saat ngobrol, curhat, atau cerita ke teman seumuran, banyak yang sibuk menganalisa, memberi solusi tanpa tahu whole nya dan tidak mau tau semua variablenya, memberi masukan yang tak diminta, membenarkan seharusnya seperti apa. Bahkan banyak yang langsung memotong, menilai, menjudge. Lalu sadar, kok cerita ke orang malah bikin hidup makin sengsara nelangsa, dan tak memberikan kebaikan apapun. 

Hingga suatu saat bercerita ke seseorang yang usianya jauh diatas, dari mulai cerita banyak kemana-mana hingga akhirnya nangis dan batin kembali space nan expand. Dan orang ini hanya bering present, mendengarkan tanpa judgement, give me space and safety. Dan aada beberapa kejadian seperti ini, hingga akhirnya semakin mengenali diri sendiri. Ternyata diri yang sering memendam emopsi hingga tidak thu sedang mengalami emosi apa, sedang dalam keadaan apa, dan butuh apa. Saat bercerita, tanpa sadar mengurai hal-hal yang sdah kusut, membuka lapisan-lapisan penutup emosi, hingag emosi naik ke permukaan dan released (biasnaya nangis). Saat bercerita dengan orang secara real (telepon/ ketemu langsung/ zoom) rasanya berbeda dengan saat jurnaling menulis sendirian. Emosi yang keluar nya lebih cepat dan banyak. Dan memunculkan experience baru: oh ternyata ada orang yang mau nemenin, oh ternyata aku gak sendiri, oh ternyata ada orang yang nerima, oh ternyata ada orang yang  mau bantu, oh ternyata ada yang peduli. Disitu kepercayaan diri terhadap dunia luar meningkat, yang efeknya lebih mampu vulnerable, mulai percaya orang, mulai berbagi/ atau mendelegasikan sesuatu, mulai terbuka, mulai mengenal being nurtured seperti apa, mulai sadar akan beberapa perasaan dan pikiran diri selama ini yang salah, mulai belajar sayang sama diri sendiri, dan banyak hal lainnya.

Dan dari semua perjalanan dan pengalaman diri, ternyata my needs gak lebay, gak susah, gak gede. Bahkan cenderung receh dan kecil. Sesederhanan ditanya kabar, diajak main, ditemenin semenit, being present effortless, dan banyak hal kecil lainnya. Anehnya, kenapa orang-orang pelit untuk kasih ya? 

Pernah hampir drop depresi, udah takut banget. Karena kalau udah jebol depresi, sembuhinnya lama banget bisa tahunan dan gak mau mengalami lagi. Di momen itu tiba-tiba cerita panjang ke orang, long text acem novel. Dan orangnya cuma bales "aku disini ya". Terus selesai aja, ga banyak cerita lagi dan ga jebol depresi. Aku merasa gak sendirian, ditemenin, dan ga jadi depresi. Meski gatau juga chat aku dibaca atau tidak, dia peduli atau tidak, yang pasti orang itu super sibuk dan banyak urusan. He saved my life dengan kalimat itu tanpa perlu melakukan apapun atau effort energy waktu dll. 

Kalau diruntut, gak ngerti juga ketemu orang-orang itu. Dan mereka datang dalam hidup di momen diri sedang super struggle suffering sesendirian. Dan saat semuanya sudah selesai, kembali baik-baik saja, orang-orang ini hilang sendiri. 

Hidupku sesendirian dari kecil. Gak kaya orang-orang yang punya family supportif nan bonding baik, punya temen, circle, pasangan, komunitas, dll. Aku selalu sendirian, kalau lagi susah ga ada satupun yang sadar diri sedang super susah. Kalaupun udah mau dying terus minta tolong, orang-orang nyepelein, nge reject, dll. Alhasil ya semakin menutup diri, semakin menyimpan masalah sendiri, semakin merasa sendirian, semakin merasa tak layak dapat kontribusi orang, dan semakin berjarak dan tak percaya siapapun. Dibantu nggak, malah di reject, disalahpahami, di reject, diabaikan, di abuse. Gak ngerti juga kenapa dunia sejahat itu? 

Mungkin selama ini, yang aku butuhkan dari kecil, ya being loved.
Being loved: being accepted for who am I, being accepted, being nurtured, being nourished, being space, being supported, being trusted, being understood, being heard, being seen, being protected, being appreciated. Experience consistency, stability, maturity, reliability, and safety. Emotional, spiritual, and intellectual needs meet. 

Thursday, November 21, 2024

21/11/24

Jaman masih mengantungkan kebahagian pada dunia luar, tanpa sadar diri dan hidup abis buat ngurusin dan benerin orang. Alih-alih fokus sama diri sendiri, menjaga diri, membahagiakan diri; malah jadi sibuk ngurusin orang, benerin lingkungan, sistem, dan memikirkan semua hal. Dimana akhirnya malah merugikan diri sendiri dan masuk kedalam penderitaan tak berujung wkwk.

Hingga beberes diri, semua change, terjadi secara otomatis.
Misal, kalau dulu di abuse dan di reject orang, malah stay bahkan jadi lebih kind.
Kalau sekarang, secara otomatis langsung bye dengan sendirinya. Tanpa perlu explanation, cari validasi, cari dukungan, cari teman, meragukan diri sendiri, jadi cemas, dan memicu masalah-masalah lain.

Kalau dulu sapa orang karena open for friendship dan care, terus di reject atau di respon negatif, sedih. Dan malah berusaha keras to be liked atau sesederhana dipahami.
Kalau sekarang ya just know it as information dan gak akan pernah nyapa lagi, apalagi pake acara karena care dan ingin berteman. Ya kalau disapa, ya merespon, tapi tidak akan pernah menyapa duluan.

Kalau dulu gampang bercerita panjang super jujur ke orang, sekarang sadar tidak semua orang dapat dipercaya, pantas, dan layak.
Kalau dulu saat cerita hanya cerita, dianggap macem-macem hingga negatif, jadi sedih dan terus bercerita. Kalau sekarang, yausudah tidak bercerita lagi pada orang itu. 
--------

Kadang orang merasa melakukan hal yang benar dan niat baik, tanpa benar-benar kenal orang dan situasinya, tanpa benar-benar sadar akan efeknya. Yang ada di benaknya, ya itu sudah benar, tepat, dan selesai. 

Self Reflection - 2

Tidak ada yang mengajarkan untuk memprioritaskan diri, menghargai diri, mencintai diri, melindungi diri, menjaga diri, membela diri, memperkaya diri, membuat batas, memenuhi kebutuhan diri dan cara untuk kebutuhan diri terpenuhi. 

Tidak diajarkan, tidak dibiasakan, tidak ada ruang untuk hal itu tumbuh. 
Entah karma dan janji apa yang aku bawa di kehidupan sebelumnya. 

Hingga akhirnya, disaat mencari dan berhasrat untuk merubah kehidupan,
banyak sekali tanda, peluang, pertemuan, info, dan petunjuk yang hadir.

Disitu diri mulai belajar mencintai diri, berbuat baik, menyayangi diri, membuat batasan, menghargai diri, mendengarkan diri, melepaskan sesuatu, termasuk mengejar apa yang benar-benar diinginkan. Disitu pula hidup mulai berubah. Dari yang awalnya berkorban-berkorban, nelangsa, menderita, struggle, sekarang jadi lebih banyak happy nya.

Sunday, November 10, 2024

Self reflection - 1

When we know ourselves well, we don't be bothered by people opinion and judgement about us.
When we be kind to ourselves more, we attract good things, people, and place better.
When we love ourselves more, we can build healthy boundaries effortless.
When we care to ourselves, we have purpose, goal, and discipline. 

When we know our worth, 
We can receive great things easily,
We are unstoppable can achieve everything that we desire, 
We can walk away from negativity, bad things, and toxicity quickly.
We will be surrounded by joy, abundance, love, money, happiness, healthy, wealth, respect, ease, accompanies, glory.

Monday, November 4, 2024

Unstopable

Semakin kesini, semakin menyadari dan disadarkan tentang banyak sekali hal tak penting dan benar-benar tak penting. Seiring itu dipertemukan dengan orang-orang yang fokus dengan hidupnya seperti apa keadaan dan kehidupannya. Rasanya seperti tertampar dan disini tantangan bukan pada resilince; namun tentang berbuat baik pada diri sendiri. Tentang meaafkan diri, menerima segala kebodohan yang dilakukan, dan segala hal tak berguna yang diri pertahankan, energy dan waktu yang terbuang. Saat itu sudah dilewati, mulailah membuka intimacy pada diri sendiri tentang apa yang mau dicapai, apa yang mau dituju, apa yang benar-benar diinginkan. The big picture sekaligus sebagai kompas hidup. 

Apa yang sebenar-benarnya penting untukku?
Apa yang sebenar-benarnya aku inginkan?
Apa dan bagaimana realitaku yang sebenar-benarnya?
Show me the truth, clearity, and guide me