Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Friday, July 29, 2016

Cerpen: Sekejut Mati


Bagaiamana rasanya, jika hari ini kamu tengah asik mengerjakan pekerjaan, mengejar karir, diselingi tawa lepas dikala malam ngobrol dengan teman-teman, sudah menyiapkan tiket traveling sendirian ke tempat yang diidam-idamkan dengan uang hasil kerja yang ditabung intens selama setahun belakang. Hidupmu berat penuh kerja keras, tapi kamu selalu tahu cara untuk bersenang-senang. Begitulah kamu menjalani waktu.

Lalu, seminggu kemudian, ada seorang laki-laki yang tak pernah kamu dengar sebelumnya, tak pernah bersingungan, tak pernah terpikirkan, tak pernah bertinteraksi selain berpapasan sekilas disebuah acara, datang ke rumahmu, berbicara dengan orang tua mu untuk meminangmu? Laki - laki sempurna untuk mu. Satu kufu, satu frekuensi, satu iman, satu visi, menetramkan. Anehnya, orang tua mu meneteskan air mata haru  dan anehnya lagi kamu langsung mengiyakan. Semua terjadi begitu saja, sekejut mati yang tak diduga dan tak dapat dihindari.

Dua bulan kemudian, yang harusnya menjadi moment terindahmu di tengah salju memakai jaket bulu angsa broken white, sepatu ankle boots warna khaki, pashmina, kupluk, dan sarung tangan kulit dusty pink, dengan lipstik wrna fuschia. Berdiri menatap indahnya senja di Barat, berubah menjadi moment yang jauh lebih indah tak terbayangkan sebelumnya. Karena ada laki-laki yang dua bulan lalu melamarmu telah menikahimu seminggu yang lalu kini ikut bersamamu ke tempat yang kamu idam-idamkan. Lalu, nikmat mana yang kau dustakan? 

Semua terjadi begitu saja. 
Hati yang terbolak balik, waktu yang mengejutkan, rejeki yang tak terduga, kasih yang saling terpaut.


Bandung, 29/7/2016

Saturday, May 21, 2016

Luruh

akad terlaksana. hidup mandiri, bertahan dalam rupiah receh yang terbagi untuk kontrakan, transport, dan makan. perih. semua disimpan dalam diam. menjalani hidup sebagai manusia dewasa berdiri diatas kaki sendiri.

Hujan, banjir, berdua bersama jabang bayi, menyapu hujan menembus atap membasahi seluruh ruang kontrakan tanpa sekat antara dapur dengan kasur. gelap. jauh dari sanak saudara. sang suami masih sibuk mencari nafkah di luar.

malam kelam, jeritan di ruang rumah sakit mengerang mempertahankan hidup mati dua nyawa. air mata jatuh seiring kumandang adzan di telingga jiwa baru. haru memancarkan harap.

segala kekhawatiran, segala hutang, segala sakit, segala badai rumah tangga, segala goresan batin, semua dipendam dalam diam, membangun benteng hati untuk bertahan hidup. berjuang demi yang dicinta hingga tak terbatas apapun.

mata. mata yang menceritakan semuanya. menyelami jiwa menembus waktu. semua rasa terasa. air mata terurai dalam isak tangis tertahan. meluruhkan semua rasa benci.

Bandung, 21 Mei 2016

Friday, May 20, 2016

Pernah ngeh nggak?

Pernah ngeh ngak? saat cerita achievement, mungkin lawan bicara sedang berada dlm fase terendahnya tp dia menutup rapat-rapat dirinya dan tetap merespon dengan antusias.

Pernah ngeh ngak? saat cerita kemajuan finansial, mungkin lawan bicara sedang dalam keadaan pas-pasan gak tau besok makan apa atau bahkan sedang terlilit hutang, tp dia simpan dalam-dalam kekhawatiran dirinya dan terus mendengarkan sambil merespon bahagia.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah cinta sepele, mungkin lawan bicara sedang patah hati hancur karena gagal nikah di h-3 nya tp dia menutup kesedihannya dgn sabar mendengarkan sambil berempati.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah hidup, mungkin lawan bicara punya masalah yang jauh luar biasa ratusan kali lipat tp dia menahan diri membandingkan masalahnya dan tetap sabar mendengarkan dengan respon supportif.

Pernah ngeh ngak? saat cerita panjang lebar untuk hal remeh, sebenarnya lawan bicara sedang berada dalam deadline penting, hanya saja ia meluangkan waktunya untuk mengisi kesepianmu.
Pernah ngeh ngak?

Mungkin lawan bicara hanya sebatas pengisi kebutuhanmu yang tak pernah kamu pedulikan secara tulus waktu, perasaan, pengorbanannya. Ia pun sama memiliki masalah bahkan jauh lebih besar, hanya saja hatinya lebih lapang untuk mendahulukan kebahagian orang lain, memendam masalahnya sendiri, dan memendam egonya untuk acuh sambil berkata "masalah lo cuma gt doang, masalah gw lbh gede".


Pernah ngeh ngak?

Thursday, May 19, 2016

Habis

Semua bilang aku mapan, sempurna, bahagia. Banyak yang iri, entah apa yang patut mereka irikan dari diriku. Aku hanya seorang yang tak tau apa yang dilakukan meski namaku selalu terucap dalam perbincangan internasional sebagai narasumber dan tercetak pada majalah kesehatan sebagai idola, entah siapa yang mengidolakan. Justru aku iri dengan para pengamen yang masih bisa tertawa lepas. Aku iri pada anak kecil yang mengebu-gebu belajar piano lalu menujukannya di depan umum. Aku iri pada pengusaha muda yang jatuh bangun namun tetap berjuang karena passionnya. Jiwaku telah lama mati, entah kapan tepatnya. Aku tak dapat lagi merasakan kebahagian, semua dilakukan hanya sebatas rutinitas. Lalu apa yang perlu kamu iri kan dari ku?

pendidikan? kekayaan? keternaran? semua semu dengan jarak tak terasa pada jiwa, mengambang dalam rentang tak tersentuh, sekitar yang mendekat karena atribut duniawiku bukan karena jiwaku. 

Waktuku hampir habis, dunia terasa menjemukan, memuakan. Terlalu banyak asing yang datang hanya untuk menempelkan namaku untuk ketenarannya. Terlalu banyak asing yang mendekat untuk meminjam kekayaanku, entah siapa mereka, entah untuk apa. Aku bagaikan sebuah bongkahan emas yang menarik mata siapapun, mengikisnya hingga tak tersisa. Aku tak tahu siapa yang benar tulus atau bahkan tak ada kata tulus selama perjalanan ini. Kulirik dia, yang berjanji mendampingiku seumur hidup dibawah nama agama, telah pergi bersama pengusaha mapan tampan yang sedang naik daun. Aku lirik anak-anaku yang telah merantau entah kemana tanpa pernah mengunjungiku lagi semenjak bagi waris selesai. Seandainya aku menjaga jiwaku dengan mengikuti kata hati, melakukan sepenuh hati, hidup dengan sebenar-benarnya hidup untuk “hidup", mungkin aku tak sekaya sempurna kata orang-orang, tapi aku tau yang datang adalah orang-orang tulus dengan jiwa tersambung, menjagaku hingga tanah menutupku dengan sempurna.

*cerita fiksi hasil empati menyelami jiwa dalam imajinasi dibalut perenungan.

Wednesday, May 11, 2016

Aku

Aku berjalan tak tentu arah
berjuang sesuai hasrat diri
mengikuti hati yang bias oleh nafsu

Aku diam tak bergeming
menatap dalam diri bercermin
bertanya tentang semua hal

Aku berfikir dalam tawa
bergelut dalam pikiran kelut
memendam semua rasa

Aku berlari berlinang tangis
mengurai linu hati
berdoa dalam hening


Sleman, 11 Mei 2016

Kamu

Kamu tau, apa yang membuatku percaya? percaya untuk membuka diri terhadapmu? karena kamu telah membuka pintu penerimaan sebelum aku mengetuk.

Kamu tau, apa yang membuatku mau melepaskan sedikit kebebasanku untuk belajar bergantung padamu? karena kamu telah menyiapkan tangan untuk menopang sebelum aku terjatuh.

Kamu tau, apa yang membuatku belajar menahan segala gejolak meledak dalam diri? karena pelan - pelan pancaran kasihmu berhasil menghancurkan gejolak itu.

Kamu tau, apa yang membuatku berani untuk dicintai? dicintai lebih sulit dari mencintai bukan? karena kamu memberikan ruang sabar tak berbatas untuk aku belajar dicintai.

Kamu ingat, kapan pertama kali kita bertemu? saat kita tanpa sadar sudah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. seperti katamu. kita bertemu di waktu yang tepat dikala diri sudah bisa menerima diri dan dikala doa-doa orang tua kita diijabah dalam waktu bersamaan.

Sleman, 11 Mei 2016

Kalian

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu mendukung dan mengiyakan semua perkataan dan perbuatan kalian.

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu tunduk dalam aturan kalian. Aku seorang pembangkang yang tak terhalang untuk terus mencari kebenaran. bukan karena sok benar, justru karena merasa banyak yang salah. salah dengan diri, salah dengan kalian, salah dengan society rule.

Mungkin aku tak bermanis sopan didepan kalian, tapi aku tak pernah menipu sedikitpun dibelakang kalian.

Mungkin aku bertengkar dengan segala situasi dan manusia, termasuk kalian.

Mungkin kalian hampir gila dengan perjuangan kebebasanku yang tak bisa diikat maupun dikontrol.
Aku tak akan lantang bilang sayang, tapi aku akan selalu menjadi benteng pertama saat kalian kenapa-napa.

Salam hangat untuk keluarga dari sini.

Friday, February 5, 2016

Come and Go


Ada yang pergi dan ada yang datang
Ada yang meninggalkan dan ada yang ditinggalkan
Ada yang hilang dan ada yang terganti

Semesta ini diam-diam memberikan kita pengganti yang lebih baik saat kita kehilangan sesuatu.
Semesta ini berperan serta dalam menghubungkan frekuensi-frekuensi.
yang tak se-frekuensi akan menjauh dengan sendirinya tanpa berat dan yang se-frekuensi akan mendekat tak di duga tanpa effort sekalipun.

Everything comes and goes.
friends. feeling. lucky. faith. wealth. love.

11/11/2013


Tuesday, January 26, 2016

#21

tua renta berjalan tertatih. hilir mudik orang membuatnya hampir hilang arah. mendekati, mengulurkan tangan membantu, tiba2 seseorang datang dengan agresifnya memopang sang tua. tangan terulur ditarik kembali, membiarkan sang agresif menolong sang tua.

ada kalanya orang yang terlihat diam bukan karena acuh, namun dalam proses mengulurkan tangan, ia melihat ada org lain tiba2 menyerobot dgn sangat agresifnya ingin melakukan kebaikan. maka, ia memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan kebaikan, meski kesempatan itu sangat bisa dia ambil. 
------------------

ruang penuh ketengangan jiwa kompetitor menjadi ketua organisasi. sang rival terasa sangat sangat ambisius dan menginginkan jabatannya. maka ia pun sengaja mengundurkan diri, mengalahkan diri, untuk memberikan kesempatan rivalnya mewujudkan hasrat dan mimpinya.
------------------

ia memendam cintanya dalam-dalam. melihat temannya sangat menyukai orang yg sama. memberikan kesempatan, lalu pergi berlalu.
-------------------

pekerjaan datang dikala lembaran seribu menjadi sangat berarti. sang mahasiswa yang masih mendapati uang jajan dari orang tuanya, datang, mengambil pekerjaan itu untuk pengalaman. ia pun merelakan, memberikan kesempatan itu. duduk termenung, mengikis kekhawatiran hari esok.
--------------------

Lalu ia tercaci maki dalam society, tak berbudi, tak berbelas kasih, selalu gagal. katanya. kata mereka. kata orang-orang yg tak pernah tau apa yg ada di hati terdalam orang itu.

Adakalanya, memberikan kesempatan keberhasilan kepada orang lain adalah sebuah perjalanan tersendiri terhadap diri sendiri. dan pada akhirnya, ada satu masa harus melawan semua perasaan itu dengan mulai mengambil kesempatan, mendahulukan diri.

24/1/2016

#20




Bukan seberapa lama kita mengenal,
Tapi seberapa dalam kita saling menoreh.



- utie -

#15

tas ransel belasan kilo tersangkut di bahu menempuh ratusan ribu meter. semua bertanggungjawab atas barang masing-masing. tak peduli perempuan ataupun laki-laki, semua dianggap sama. sama2 kuat, sama2 mampu dalam stamina kondisi yg sama. "kamu pms? itu urusanmu. kamu sakit? itu deritamu". perjalanan, tujuan menjadi utama.

Toleransi menjadi bias dengan keterbukaan pikiran. kain-kain penutup aurat tak dihiraukan sebagaimana ia sebaiknya diperlakukan. murah menjadi hal utama, tak peduli dalam satu ruang saling bertumpuk hingga sang jilbab selalu terpasang dgn rambut yg tak bisa bebas. bikin pusing? tentu, sakit kepala malahan.

perjalanan demi perjalanan silih datang berganti, menghadirkan beragam pertemuan yang ternyata sama saja. Ternyata ada satu hal berbeda, perjalanan terakhir yang benar-benar berbeda. tak bahagia, tak ada momen, tak ada petualangan unpredictable. Namun semuanya diiringi dgn kebaikan lain yg membuatnya seimbang. untuk pertama kalinya tas ransel dibawakan oleh partner trip pdhl gak berat2 amat; untuk pertamakalinya partner trip peduli dgn jilbab, dia mencarikan tmpt bermalam dmn rambut bs tergerai bebas dalam kamar yg cm dihuni sendirian; dan dia solat 5 waktu dgn teratur, meski di bus skalipun. dan untuk pertamakalinya, hati berdecak "ini toleransi sebenarnya", menjaga nilai orang menjadi tetap, bukan "memaksa" menurunkan atau menaikan agar sesuai/ sama dgn mayoritas.

4/1/2016

#14

pantai selatan dgn segala kelicikan mencapainya, ternyata perjalanan terakhir bersama. kamu pulang duluan. entah ada apa, lupa. aku bertemu kawan baru esoknya berjalan2 hingga ke tower tertinggi di sebuah kampus terkenal. singkat. teman lain menunggu di bawah, membawa ke surga vegetarian. perut kenyang. tidur di rumahnya yg pernah kusingahi bbrp tahun lalu.

puluhan hari terlewati, kita bertemu dalam open trip random, bersama eek eek mengambang di wc tanpa lampu, satu ruang untuk 10 orang menggelar badan di lantai. aku suka pantai. kamu suka gunung. aku menyelami lautan, kamu hanya diam melihat dr atas perahu. esok subuh, menuju gunung, menatap bintang jam 3 pagi dari atap kapal di tengah laut dalam. kamu senang bagaikan anak kecil dapat mainan. menuliskan kata "rakata" dan "rinjani" diatas pasir. sesak nafas melawan gravitasi menuju puncak, kamu tetap semangat.

ah sudah 2.5 tahun yg lalu.
sekarang aku melihat kembali kata "rakata dan rinjani" pada sebuah tumpukan beserta namamu di toko buku terkenal. sebuah rasa, memori, pemikiran, dan mimpi yg diwujudkannya.


*sepengal memori jogja, selat sunda, dan anak gunung krakatau.

1/1/2016

#13

anjing! pintu terbanting. kamu diam tanpa ekspresi dan masih mengucapkan terimakasih kepada penipu ulung. aneh.

upacara sakral berakhir dalam hiruk pikuk ribuan manusia dalam balutan gelap menguyur hujan. 2 jam berjalan kaki, yg menjanjikan tak bisa dihubungi, dinginnya malam berair meresap tak mampu menutupi panasnya hati. brengsek. tukang tipu. dan cuma kamu yg dalam diam nya tetap pny hati yg netral. manusia tanpa emosi.
-------------

sisa kemarin malam masih membekas, menyelusuri kota jogja berjalan kaki cukup mengharapkan sebuah percepatan tanpa daya. teman temannya teman menawarkan sepeda motor, kami berdua naik, sang pemilik berjalan kaki dgn dia, manusia tanpa emosi, entah apa yg mereka bicarakan sepanjang perjalanan kaki.
--------------

alarm berbunyi, 3 dini hari. baru satu jam terlelap. bantal kubanting keras ke sumber alarm, sang pemilik buru2 mematikannya. pdhl br kenal 7 jam yg lalu. 
---------------

penumpang kursi depan bercerita tanpa henti, aku dan dia pura-pura tenggelam dalam mimpi. kamu? setia mendengarkan sepanjang malam dalam alunan gesekan rel. entah bualan, entah nyata, kamu percaya.
-------------

kami terpisah, berbeda rumah dalam dusun pinggir pantai. aku datang ke tempatmu, numpang mandi. wc rumahku penuh eek tanpa air. kamu ketawa habis. 
-----------

katamu, kita sama. sama2 suka menganalisa, merasakan, bermain analogi. hanya beda dalam emosi. katamu, aku tipe yg mengeluarkan, ekspresif. kamu tipe yg mememdam, datar. Tapi diam2, aku belajar banyak darimu. tentang mereduksi emosi dalam diam, tentang menutup diri, tentang sabar. pertemuan kita memang aneh, tak habis pikir kalau ingat.

*sepenggal memori jogja, magelang, dan krakatau

Saturday, November 28, 2015

Satu Terang

ada yg tiba2 datang, menghantam, menjatuhkan, lalu pergi.
ada yg diam dalam jauh memperhatikan, lalu datang, mentatih perlahan.

ada yg mencaci penuh benci mendalam.
ada yg bersyukur penuh kasih dalam hening.

ada yg berbisik nyaring menusuk.
ada yg lantang bilang itu prinsip.

meski ada seribu menyerang, selalu ada satu terang menolong.
utie - 28/11/2015

Monday, November 9, 2015

Biru Ruby

Matahari masih malu muncul, bangun krn kepala berputar, berhasil mengeluarkan semua isi perut hari kemarin lewat mulut berkali2. hasil mabuk di ombak malam menguncang dgn semangatnya. Sailing musim hujan.

Selesai sudah, menahan diri untuk tidak keluar isi perut. diam di deck memperhatikan burung2 berterbangan. sendirian. semua masih dalam mimpinya, tertidur diatas riak air yg masih menyisakan gemuruhnya. seseorang datang dgn sebatang rokok, berdiri disebelah. "udh pny pacar tie?". hah?? the random question i ever heard from stranger. " hahaha belom." dan kembali diam dlm kompleksnya pikiran masing2.

detik dmn menyadari match, sblmnya pertamakali sadar pas pertama liat dan di kota sebelumnya.
Kapal sampai di darat 4 hari kemudian, ada ragu terbesit untuk lanjut dgn org2 saat itu. rasanya pgn pergi aja sendiri ikut mas2 bertato gahar yg ternyata super cheerful dan suka lumba2. Niat urung, krn tak enak dgn teman. alasan klasik. Org itu seperti bs membaca perasaan  dan pikiran meski sy berakting everything going well. "yakin mo pergi ma mrk tie?". sy cm diem aja. ternyata keraguan terjawab dgn adanya seseorang yg berbuat curang. ya sudahlah. msh dlm batas toleransi dlm hati.

--------- tahun demi tahun berlalu

tapi sampe detik ini, msh merasa tertarik dgn org itu, kaya ada sesuatu, ngerasa ada yg match aja tp gatau apa. sampe suatu waktu dia blg rejeki sy bagus, yg saya sadar cm kalo ibu selalu blg: " ibu mah aneh, knp semua yg kamu mau, selalu dapet meski kalo dipikir2 kaya gak mungkin.", Seandainya semua keinginan adalah kebutuhan.

Barusan siang random, nanya org itu, dan terjawab. why i feel match with her. krn kita sama2 biru.
jd inget celotehan tmn sekamar: jiwa2 itu pny kelompoknya masing2, yg sama bakal melembut dan mendekat, yg berbeda akan mengeras dan menjauh dgn sendirinya.

Saturday, October 17, 2015

Buka Tutup Gerbang

Gerbang selalu terbuka, kaca jendela transparant sepanjang dinding. Terlihat dengan mudah meski dr sebrang jalan. Mengundang dan diundang. Orang bisa keluar masuk seenaknya, rumah penuh, ramai, riuh, namun mematikan. Rumah penuh dengan orang-orang yang tak peduli, menjadikannya berantakan penuh caci, kotor tanpa etika, sesak, tak dapat 'istirahat'. chaos se cahos chaosnya. 
-------------------------------------------------------------
Bertahun-tahun lamanya, menjadikan rumah dan pemiliknya semakin memprihatinkan.
--------------------------------------------------------------

Rumah itu mulai dirapihkan, dengan mengeluarkan semua orang di dalamnya beserta benda-benda tak perlu, dan sang pemilik sendiri merapihkannya sendirian. Gerbang tertutup, tak ada yg bs masuk dan sekedar melihat dari sisi jalan. Perlahan menutup dari pandangan siapapun. Ada yang mengetuk, sang pemilik diam, lalu tersadar, merapihkan sendiri entah selesai kapan. Sang pemilik mulai membuka gerbang pada orang yang benar-benar ingin masuk, kenal, peduli, dan memberi kesempatan untuk dibantu.

Ia belajar untuk membuka dan menutup gerbang, untuk menjaga rumah tetap rapih dengan sedikit orang di dalamnya; menjaga rumahnya tetap bersih, dan aman. Ia mulai paham berapa maksimal orang yang bisa diajak kedalam rumahnya, kapan orang bisa melihat dan masuk, dimana orang-orang tersebut duduk dan area mana saja yg boleh dijamah. Ia mulai sadar, buka tutup gerbang menjaga kebaikan kestabilan rumah dan pemiliknya. Ia dapat tidur dengan tenang tanpa terusik, dapat membersihkan tanpa halangan dalam sunyi, bisa 'hidup' dengan adanya orang saat gerbang dibuka, bisa sepi untuk merenung mengenal dirinya saat pintu tertutup.
Buka tutup gerbang ini berhasil menguras batin pemilik. Tentang kepercayaan, pengendalian, keyakinan.

Bandung, 17 Oktober 2015

Monday, August 10, 2015

aku dan hilang

peran berganti
tanpa tersubsitusi

waktu bergulir
tanpa kembali

hampa menekan
tanpa rasa

semua berteriak
tanpa mendengar

semua mengecam
tanpa ruang

aku disini
tanpa siapapun

berdiri tegak
tanpa tulang

menatap dalam
tanpa daya

Thursday, July 16, 2015

Memahami

Ada yang melihat untuk menilai,
Ada yang melihat untuk memahami.

Ada yang mendengar untuk mengibah,
Ada yang mendengar untuk memahami.

Ada yang merasakan untuk tujuan,
Ada yang merasakan untuk memahami.

Ada yang berbicara dengan logika,
Ada yang berbicara dengan empati.

----------------------------------------

Kalau diperhatikan, dirasakan, dan dianalisa,

Banyaknya miskom (miss communication) karena setiap individu mendengarkan untuk menjawab tanpa memahami. Parahnya, setiap individu hanya menunggu gilirannya untuk berbicara. 

Banyaknya sleg yang terjadi karena setiap pihak merasa berhak untuk menilai tanpa usaha memahami. Setiap pihak merasa benar dengan logikanya tanpa adanya empati.

----------------------------------------

Menilai:
si a sensitif ya blablabla
(tidak ada kebaikan untuk dirinya maupun orang lain. hanya sebatas bahan obrolan/ omongan).

Memahami: 
si a sensitif ya, berarti kalo ma dia harus blablabla 
(ada unsur kepedulian dan kebaikan untuk dirinya maupun orang lain).

Friday, June 19, 2015

19 Juni 2015

Aku turun entah diturunkan dari sebuah bus yang tak akan pernah kembali lagi.
Diam menunggu dalam anggan meyakini kalau bus itu akan kembali, mengejar sesekali tak kekejar.
Waktu terus bergulir, bus-bus lain yang menawarkan tempat dan bisa membawa ke perjalanan yang lebih jauh terlewat begitu saja, cuma karena takut jika nanti diturunkan di jalan seperti lalu, adakalanya pula bercampur dengan rasa bahwa bus awal akan datang kembali.

Menjebak diri dalam masalah sendiri. mengharap sesuatu yang seharusnya "let it go" dan "menolak" sesuatu yang datang tulus.

Sunday, May 17, 2015

Hingga

Aku berdiri tegap menghadap langit,
hingga lupa cara menunduk.

Aku bergerak cepat mengejar terdepan,
hingga lupa menikmati.

Aku melihat terlalu lama,
hingga lupa waktu berlalu.

Aku berfikir terlalu dalam,
hingga lupa raga.

Aku sibuk mencari,
hingga lupa syukur.


(Utie. kosan,17/5/2015)