2012
Lagi ngobrol, temen komen "emang kalo suami lo sakit, lo mau ngurusin?"
Disitu aku bingung, karena ya kenapa gak mau ngurusin? Namanya manusia wajar kalau sakit dan bukan masalah juga untuk taking care, nemenin, dan support saat pasangan sakit. Jangankan suami/pacar, temen aja aku mau nemenin dan merawat kalau memang aku bisa, apalagi kalau temennya sendirian ga ada sanak sodara dan kerabat.
2010-2015
Sempet kesel-kesel sama satu temen yang sering traveling bareng. Dia baik saat traveling tapi langsung nge reject dna nge cut kalau tripnya sudah selesai. Lama-lama kesel berasa diperlakukan kaya baju yang dipakai kalau lagi butuh aja. Apalagi selama trip ketemu banyak orang-orang baru, mereka oepn-oepn aja loh bahkan setelah selesai trip, masih interaksi, ngobrol, kadang ketemuan lagi, dan ada beberapa orang support pas lagi masa sulit, dateng ke wisudaan S2 ku dari luar kota, mau dicurhatin. Disitu otak jadi mikir "berarti temen trip yg aku suka kesel-kesel dan ga enak bgt batin rasanya tuh emang unkind ya. dia ga anggap aku temen" dan semua perasaan tervalidasi sendiri.
2023-2024
Ada orang sksd di acara sosial, jadi temenan. Hampir tiap weekend kita ketemu, kadang makan bareng, main bareng, pergi bareng. Orangnya baik, santun, sopan, empatinya normal, kadang bs curhat. Sampe di momen mengamati, ini orang pelit, itung-itungan ma duit, selalu ngajak ke tempat-tempat mahal standardnya dia, tempat janjian sellau dekat sekitar apartemennya (dimana jauh banget dari tempat tinggalku). Pas ajak ke DWP, dia cuma mau tiket vvip, jadi kalo aku beli reguler ya gak bareng karena dia gak mau. Disitu mulai sadar, ini orang cuma cari companionship, bukan friendship. Ada momen diri lagi super struggle banget, butuh ketemu orang, lagi require support, ajak ketemu. Waktu itu emanga da becandaan "mau nikah". Singkat cerita ketemu, dia sedang haid, aku lagi banyak curhat. Terus dia pulang nai grab di tengah hujan, aku naik gojeg ujan-ujanan. Tapi dia bilang aku egois, bilang gak nanyain kabar dia udh sampe atau belum, aku blabla, langsung bikin benteng bernama boundaries, nge ignore, dan nge reject. Awal-awal pas ketemu lagi, dia lewat kaya orang gak kenal, aku masih merendahkan hati dan ego dengan nyapa, di respon basa basi. Setahun kemudian ketemu lagi, dia pura-pura gak kenal, menjauh, nyuekin, disitu akhirnya aku sadar dan tidak menyapa/ merangkul papun lagi.
Tiap orang punya boundariesnya masing-masih dalam berterman, tapi saat gak nyaman sekali aja, langsung nge cut, ngebuang, cari temen lain. Dikala sebelumnya dia sangat mendominasi, gw ngalah, gw byk kompromi, dan banyak gak enaknya juga cuma karena anggap temen jadi yaudalah, toleran. Ternyata aslinya seperti itu.
Untungnya di momen yang sama, temenan sama orang lain, yang relasinya mudah, mutual, adil. Kalau ketemuan tuh saling nanya dulu "ok ga disini?", trs kadang gantian dia yang ke dekat tempatku, kadang kalo dia lg repot, aku nawarin ketemu deket-deket tempat dia, dan dia masih respon "kamunya gpp kesini?". Toleransi, kompromi, ngalah, "bekorbannya" seimbang, adil. Bahkan di masa-masa sulit pun, teman ini gak ninggalin, gak maksa aku harus ikutin standard dan aturannya dia terus.
Temen kita tuh manusia, punya nasib dan kehidupannya tersendiri. Kadang kita selevel, kadang level kita diatas, dia lagi dibawah, ataupun sebaliknya. Saat kita menuntut punya temen yang selalu selevel dalam gaya hidup, materi, dan standard luxury yang sama; sangat mustahil akan terus berteman kecuali dua2nya terus kaya raya dna gak pernah susah. Buat ku berterman itu hal tulus aja, saling memebri, saling menerima, saling memahami. Dulu aku suka nahan-nahan diri kalau kesinggung, diperlakukan ga adil, ga enak, dikhianati, sampe akhirnya meledak. Pas meledak, orang gak terima dan ninggalin. Tapi dengan teman yang tepat, saat kita meledak, ia akan respon "apa lagi yg lo kesel dari gw?", ada ruang release tanpa penghakiman, ada ruang ngobrol hati ke hati pas reda, ada ruang untuk saling memahami, menghargai, dan sama-sama berusaha membuat pertemanannya lebih baik.
Mungkin banyak orang yang berteman cuma untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Kebutuhan ditemani, kebutuhan emosional, connection, ngilangin kesepian, support sosial, memenuhi kehidupan sosialnya, ada partner aktivitas bersama, support wellbeing nya, dll. Saat kebutuhannya tidak terpenuhi bahkan posisinya jadi dia yang memberi, orang pergi. Banyak yang cuma mau menerima bahkan taking. Disini jadi belajar untuk punya batasan dan berelasi dengan yang mutual aja. Mutual respect, mutual effort, mutual interest, syukur-syukur ketemu orang yag value pertemananya sama dna longterm no matter what will happen.
2026
Ngecek dan nge test beberapa teman lama, mengamati response nya. Banyak data yang terkumpul dan bikin sadar banyak hal. Disamping itu, banyak juga kejadian-kejadian baru yang bikin sadar kalau relasi itu sesuatuyang effortless. Dua-duanya sama-sama saling berusaha, menyambut, merespon, berinisiatif, menjaga, ya mudah aja semuanya. Kalau cuma diri sendiri yang nge reach out, yang insiatif, yg menjaga, yg membuka diri, yg kontak duluan, yg selalu berkompromi. Tapi pihak sananya tidak pernah menjadi yang pertama kontak, menjaga, apalagi berempati, saat susah di reject dengan benteng boundaries tinggi/ di ignore/ di diemin tanpa support apapun setelahnya (even cuma "gmn perasaanya sekarang" atau "aku baca ya, tapi ga komen" atau hal-hal nurturing dan supportif), ya yaudah dilepas aja.
Now, I only choose people who choose me.
----
Kembali ke bahasan awal di tahun 2012-2026
I observe: Many people are not truly looking for friendship or a meaningful relationship. They are simply looking for companionship. They want to receive and to take without being willing to give. Even when they do give, it is often driven by a hidden agenda to gain something in return (personal benefit include pahala). Their interactions are ultimately centered on fulfilling their own needs