Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Saturday, September 21, 2019

Untuk ibu dan perempuan.

Menikah, melayani suami, hamil, melahirkan, punya anak, di kasih makan, di kenalin agama, di sekolahin, di nikahkan. Selesai. 

Sebagai anak, saya belajar. Seorang perempuan tugasnya lebih dari sekedar itu (diatas), menurut saya. 

Menikah harus atas dasar suka sama suka dan penuh tanggung jawab. Semacam ditanya “dulu nikah knp?”, orang tanggung jawab akan jawab “karena sudah siap menikah untuk beribadah dan membangun peradaban”, jawaban orang lepas tanggung jawab “ya dulu disuruh nikah ya nikah aja lah”. Sexual intercourse kebutuhan bersama mutual bukan sekedar menggurkan kewajiban sebagai istri, hamil perlu perencanaan dilakukan dlm keadaan mental dan fisik terbaik (menyelesaikan trauma masing2, menyehatkan badan, dan bertanggung jawab dengan memberi makanan baik lewat perasaan positif, nutrisi baik, pikiran positif, lingkungan positif). Melahirkan pun butuh mental yg baik, dukungan dari suami, tak peduli teknisnya mau vaginal ataupun cesar. 

Anak lahir, ia punya kebutuhan 

  • fisik (makan,minum,tidur,olahraga, pakaian, tempat tinggal)
  • Emosional (perasaan dicintai, dipahami, diterima, disayang, di dukung, ditemani). Ini di dapat lewat komunikasi hati ke hati, dipahami, diterima baik buruknya tanpa selalu menyalahkan, membandingkan, me reject, menekan, menuntut. Sesederhana menanyakan “td di sekolah ngapain aja?”, “temen kamu skrg siapa?”, “kamu sedih kenapa?”. EMPATI.
  • Spiritual. Bukan sekedar disuruh solat, ngaji, pake hijab, puasa. Diberikan awareness iman yg baik, diajarkan untuk menjadi lbh tenang dan dewasa, diberikan wisdom2 kehidupan sebagai bekalnya nanti. 
  • Intelektual. Ini pentingnya perempuan harus cerdas dan punya mental belajar untuk terus belajar. Anak gak cukup disekolahin, harus mampu jadi teman diskusinya, teman menjawab pertanyaannya sampai tuntas secara holistic (scientific, humanitarian, dan agama). Diarahkan pola pikirnya ke hal2 konstruktif, menjadi mentor kehidupannya. 

Anak kan bukan binatang yg dikasih makan, di sekolahin, selesai urusan. Ia manusia butuh kehidupan sosial dgn interaksi, butuh emotional connection dgn komunikasi hati ke hati guna mengembangkan EQ nya dgn baik, butuh mentor yg mampu membimbing ke tujuan dan cita2nya sesuai jati diri dan fitrahnya. 

Bikin anak gak mudah, hamil gak mudah, melahirkan gak mudah, ngurus anak jg gak mudah. Gak sebatas modal agama dan uang, butuh ilmu jg, butuh kedewasaan jg, butuh mental yg baik. Ya kalau mau anaknya baik. 

Bayangin deh, kamu minta anak baik sama Allah dikasih kaca yg bs bernilai milyaran. Tapi kaca itu gak kamu bentuk dgn baik, alih2 jd sesuatu yg indah, malah rusak sebelum berproses. Kamu minta anak yg baik, sama Allah dikasih grade A, tapi semua kemampuannya terbuang percuma karena keterbatasan ilmu dalam me nurtuner, bahkan byk potensinya yg gak keluar karena sering dicekokin hal2 negatif “mana bisa kamu”, “mana ada yg mau sama kamu”, “kalo mimpi jgn ketinggian”, “jadi anak bisanya cuma nangis”, “nyusahin orang tua aja”. 

Jiwa itu sama kaya fisik. Kalo dijejelin hal2 negatif, jadinya negatif, ngerasa sampah, ngerasa gak berharga, ngerasa gak mampu. Karena udah di program puluhan tahun dari kecilnya begitu sama orang tua yg frustasi dan bermasalah. Krn orang2 yg udah sehat secara mental dan batin dgn menyelesaikan semua unresolved issue nya, krn dirinya sudah positif, maka ia akan ngasih hal2 positif ke anaknya “wah hebat kamu udh bs gambar”, “wah hebat kamu jualan apel di sekolah laku”, “wah baik sekali kamu tidur tepat waktu”, “pinter sekali kamu mampu ranking 1”. “Kalau sedih nanggis aja gpp, kalau kesel ya lari aja, its okay to feel that, semua manusia jg gt kok”. Ia akan terus apresiasi anak, nurtuner anaknya, memberi cinta dan naikin self esteem nya. Dan ini hal terpenting yg bs diberikan ortu untuk bekal hidup anaknya (bukan sekolah, bukan materi, bukan makanan). 

Ngejar agama nyuruh solat ngaji puasa blabla. Tp kebutuhan2 lainnya terabaikan. Gak ada interaksi sosial, gak ada komunikasi, kebutuhan emosionalnya gak terpenuhi, gak diberikan arahan hidup, selalu dibentak, dipukul, disalahkan, dibanding2kan, diabaikan kebutuhan bekal duniawinya. Ya abis lah cuma jd sampah. Padahal anak ini bakal dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Kan titipan. 

Dalam pandangan gw, modal sayang aja gak cukup. Butuh ilmu, butuh finansial yg baik, butuh kedewasaan, butuh keimanan yg baik dan aplikasi agama yg baik (bukan sekedar rutinitas, pelarian dr masalah, tameng defense). Baik menurut kita blm tentu hasilnya baik jika tidak dibarengi ilmu. Semacam saking sayangnya sama ikan, kasian liat ikan di air terus, alhasil diangkat ke darat diselimutin. Yg ada ikannya mati. Semacam saking sayangnya jd overprotektif sampe anaknya gak pny kehidupan sosial gak pny temen, kesepian, jd stress, EQ jd rendah, ujung2nya banyak masalah2 lain muncul ps dewasa. Niat baik tanpa ilmu tuh kebodohan terdzolim. 

Tugas perempuan bukan sekedar nurut suami, melayani, tapi juga menjadi edukator, fasilitator, mentor, teman, dan role model buat anaknya. Penting perempuan menjadi cerdas. Kalau perempuannya berkualitas, maka ia pun akan menarik orang sejenis dan selevel dengan dirinya untuk menjadi suaminya. Kasarnya, lo level 2 ya narik cowok level 2, pas punya anak sama Allah dikasih level 10 tp krn kemampuan lo berdua mentok di level 2, ya anak lo cm bs sampe level 2 jg, sisanya (8) ilang percuma sia2 gak dikembangakn dan terpakai sesuai fitrahnya. Kasian anaknya. Dan kalo udah gini jangan nyalahin anaknya yg kepinteran, harusnya orang tua yang terus belajar, kalau gak bisa ngimbamgi secara intelektual, minimal kebutuhan emosionalnya terpenuhi (kan cm butuh cinta dan EMPATI). Kalo materi ya selama kebutuhan primernya terpenuhi ya baik, gak perlu sampe nyiapin mobil/rumah buat anak. 
————
Si ini anak siapa, lulusan apa, gelarnya apa, kerja dmn, tingginya brp, putih nggak, dll. Itu mah urusan sepele. Superficial. Yg penting level dirinya selevel dan tipe yg terus terus berusaha, belajar, berkembang. Krn nikah bukan tolak ukur pencapaian, apalagi 1/2 agama berarti ilmu yg harus dipersiapkannya lbh banyak, mental hrs lbh kuat, iman hrs lbh baik, tandanya apa? Ya harus terus belajar. Perkembangan dan pertumbuhan diri jgn mentok sampe di tahap nikah aja. 
————-
Lahiran via vagina atau cesar; asi atau sufor; bekerja di kantor orang atau di rumah; itu mah hal sepele gak perlu diributin. Perempuan tetap utuh meski gak ada selaput dara, meski lahiran cesar, meski asi nya gak keluar, meski kerja dari rumah. Selama sesuai value, punya prinsip hidup, punya vision dan tujuan yg jelas. Fokusnya ke yang penting2 aja gimana caranya jalanin amanah Allah lewat anak (kalau memutuskan punya anak) tumbuh sesuai nature dirinya, bisa mekar di waktunya (jangan sampe mati sebelum mekar), fokus ke masa depan yg berdampak pada peradaban (ya nurtuner anak dgn baik). 

Beneran deh, otak tuh penting bgt dipake! Bukan buat ngitung2 hal detail dan berkalkulasi aja, tp dipake buat bikin vision, melihat big picture, bikin konsep, dan ngejalanin step by step nya. Hati jg penting dipakai, minimal belajar EMPATI deh dna berkomunikasi dengan baik, membangun bonding. Agama ya kepake ke semua aspek (kalau agamanya baik, dewasa, bijaksana, dan mampu berintegritas). 

*wuallahualam bishawab

Thursday, April 12, 2018

Sosial Media

Sosial media.
Orang sibuk menampilkan segala hal-hal baik dalam hidupnya. Yang entah benaran sebahagia itu atau memang ikut2an share hal2 yang dianggap positif. Semua tampak serupa, sejenis, dan membosankan (dan tulisan2 ini, mungkin untuk sebagian orang pun membosankan).

Di FB,
Yang jualan sibuk jualan, yang pamer kehidupan sehari2 layaknya artis pun sibuk sendiri, yang ceramah sibuk ceramah meski yang paham akan biasa aja dan yang sudah nyinyir duluan tetap akan nyinyir. yang monolog macem gw pun monolog aja tanpa peduli ada yg baca/tidak. Juat share dan gak peduli respon orang banyak yg suka/tidak. Meski pada dunia nyatanya, banyak orang yang akhirnya mempersepsi secara parsial hanya dari postingan dan menutup hati dan pikirannya untuk benaran kenal, dan ini malah jadi filter tersendiri, karena kapasitas orang jadi keliatan.

Dan postingan2 orang direspon oleh orang2 yg meresponnya, jadi semacam saling merespon yang terlihat saja circle di dunia maya nya siapa saja, di dunia nyatanya belum tentu benaran berteman/ se akrab itu. Like jadi tolak ukur dirinya banyak disukai, diapresiasi, didukung. Kenyataannya, banyak alasan. Entah orang benaran suka, kasian, ada kepentingan lain, atau ikut2an karena banyak yang like. 

Di IG,
Sama aja kaya fb cuma lebih private dan yg di sharing lebih detail. Gak jauh dari daily life, reportase liburan, kesibukan kerja, dan postingan2 yang sudah sangat difilter dan disadari akan membentuk image dirinya di mata viewers seperti apa. Semua serba dikurasi, di filiter. Lagi2 lama2 sangat membosankan.

Kadang banyak pula yang norak (maaf dengan pilihan katanya). 
Saking ingin dinilai baik, keren, wah, semua dogma sosial digunakan. Semacam ada yang pergi ke luar negeri, tetangganya/ keluarganya ikutan sharing. Padahal yg pergi bukan dirinya, mungkin terlalu bangga jadi begitu. Dipikir2, apa pentingnya ya mengumumkan kenalannya lagi jalan2 ke luar negeri/ orang hebat/ sedang melakukan hal yg dianggap wah. Dogma orang sukses adalah yan ini itu, maka ini itu yang ditampilkan. Bahkan banyak pula yang insecure belum menikah dan menjadikan sosial medianya sebagai media promosi dengan menampilakn "kualitas" dirinya. Dengan tampilan mapan, cantik/ganteng, jago masak, jago merawat fisik, dll.

Sosial media, dunia maya lambat laun sangat membosankan. Semua isinya seragam, sejenis. Orang2 banyak yang sangat aware bagaimana orang akan menilai dirinya lewat sosial media, sehingga semua tampilan ditampilkan sebaik mungkin. Sayangnya, ada orang2 yg bisa melihat motivasi orang yang sebenarnya, orang2 yg extreamly observant, sensitif, dan tau aja motivasi asli orang. 

Sosial media (banyak digunakan) sebagai proyeksi sisi postif kehidupan, karena yang ditampilakan hanya yg baik2 saja. Sehingga orang hanya mengkonsumsi hal2 baik. Kebayang gak dampaknya apa? Orang jadi terbiasa melihat sesuatu/ segala hal secara parsial (dari sudut pandang positifinya saja). Dan hal itu malah berakhir kurang baik. Semacam orang nikah yg di share kemesraan menikah. Orang akan mempersepsi bahwa nikah itu bahagia. Padahal kenyataanya tidak. Saat ia mengalami sendiri, terjadi konflik, langsung stress karena tidak sesuai dengan persepsinya. Dan polanya terjadi di bidang2 lainnya. Dari segi pendidikan mislanya, orang sharing foto wisuda, yg like banyak. Pas lg misuh2 gak ada yg like krn dianggap negatif. Padahal 2 hal itu nyata, dialami semua orang dan sekolah memang tak hanya merasakan bahagia wisuda saja namun ada susah2nya juga. Namun kenyataannya, orang lebih senang dengan kabar gembira.

Yang buruk2, jelek, segala kegagalan, pengalaman pahit, trauma, semuanya di keep rapat karena dianggap aib. Padahal itu semua dengan komposisi info yg tepat, bisa di share sebagai ajang untuk saling belajar. Belajar tentang kehidupan dan belajar melihat truth bahwa hidup itu ada pahit buruknya juga. 

Giliran orang ngebuka segala truth, awareness, ditangkap sebagai hal2 yg berbau negatif alias dianggap bukan info/ kabar menyenangkan, orang sibuk tutup mata dan telingga. Gak mau menerima kalau itu hal nyata yg ada.

Lama2 gak paham, kenapa orang lebih senang hal baik, positif, berita gembira dikala mereka pun paham hidup tidak seringan itu dan hanya berisikan sisi2 terang saja. Bagaimana mungkin pohon bisa tumbuh tinggi menjulang ke langit, jika akarnya tidak terus menacap di tanah yang gelap. Sesusah itukah menerima kenyataan bahwa semua hal ada sisi terang dan gelapnya? Sesusah itu kah untuk mengedalikan hal2 terang untuk semakin silau hingga yang melihatnya malah kebakar jadi buta malah berakhir gak bisa liat gelap terang.

Sunday, March 18, 2018

Khutbah Nikah #1 - Tanggung Jawab


"Kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, suami. Begitupun sebaliknya, kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, dan istri. Kalian hanya punya tanggung jawab terhadap Allah." - Khutbah Nikah di akad tadi pagi.

Lalu ku nangis. Udah mah setiap akad nikah selalu bikin haru, ditambah khutbahnya yang bikin mikir dan menyadari banyak hal.

Jadi mikir, seorang ayah bertanggung jawab terhadap keluarga dengan memberi nafkah serta menjalani fungsinya, semata-mata untuk mempertanggungjawabkan hidupnya terhadap yang menciptakannya. Begitupun dengan anak yang berbakri, istri yang solehah, tentannga yang baik, teman yang soleh, semuanya tidak memiliki tanggung jawab terhadap manusia lain. Masing-masing manusia hanya punya tanggung jawab terhadap Tuhannya dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Semua manusia yang pernah hadir dan bersinggungan dalam hidup, hanya sebagai ujian, cobaan, tempat belajar, mengajari, dan media dalam mempertanggungjawabkan diri terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, kita akan kembali dalam kesendirian, sendiri. Sendiri dalam kubur, sendiri dalam mempertanggungjawabkan semuanya tanpa siapapun.


Bandung, 17 Maret 2018

Khutbah Nikah #2

Masih blm bs move on dr khutbah nikah td pagi. Singkat tp deep. Bagus bgt.
Sering denger bahasan hubungan anak terhadap orang tua. Nah td bahas hubungan seseorang terhadap adik/kakak (jarang bgt denger bahasan ini). Intinya, saat mau nikah, selain sama ayah ibu, perlu minta restu sama adik/kakak juga. Dan itu sama2 penting. Dan jangan jadikan kehidupan setelah menikah sebagai perlombaan.

Terus kepikiran banyak hal.
1. Perhatiin deh, berapa banyak orang ngebet nikah yang gak mikirin perasaan saudaranya sendiri? Alias cm minta izin ke ortu trs udah aja harus terlaksana secepat mungkin. Gak mikirin keadaan adik/kakaknya lg gimana, gak mikirin apa saudara kandungnya sudah ridho? Ya namanya sodara kandung pasti seneng saudaranya nikah, cm dlm situasi tertentu hal itu jadi menyedihkan apalagi kalo landasannya hanya mementingkan kebahagian diri sendiri. Yg diamati sejauh ini, biasanya laki2 kalo udah pengen nikah, gak bisa ditawar apapun alias harus terlaksana as soon as possible. Beda sama perempuan, lebih banyak pertimbangan dan mikirin orang lain (mikirin apakah ayah ibu nya sudah ikhlas melepas?, apakah adik/kakaknya sudah ikhlas melepas dan jadi “sendirian”?, apakah semuanya telah ridho? dll. Karena ikhlas dan ridho pun butuh prosss dan waktu. Gak bisa maksain diri “ya kalian ridho lah” di detik itu.

Ada yg dilangkahi adiknya nikah. Adiknya baru lulus SMA tp ngebet nikah. Sampe kakaknya ngomong “lo jangan nikah kalo cuma pengen pacaran islami!”. Sedih pasti tiba2 ditinggal saudara nikah apalagi dengan alasan yg belum terlalu matang.
Ada jg yg dilangkahi adiknya tanpa warning apapun, tiba2 mau nikah aja, ga liat keadaan (psikis, fisik, dan materi) ortunya, ga liat keadaan saudaranya lg gmn. Yg dipikirinnya cuma hajat dirinya aja dengan alasan “niat baik jangan ditunda”. Gak mikir, apa ortunya ada biaya? Krn yg namanya ortu pasti pengen berpartisipasi saat anaknya nikah. Gak bs asal jawab “ya nikah di KUA aja dulu”. Pd akhirnya setelah nikah belum2 punya anak pdhl subur, mungkin disitu ada ridho adik/kakak nya yg belum didapat alias masih ketahan. Atau ketahan ridho nya justru sama orang lain, orang yg pernah sakit hati.
Jadi mikir aja, berarti saat nikah minta ridho orang tua, adik/kakak, saudara, dsb nya itu penting. Penting untuk kelancaran hari H dan setelahnya. (*jd notes buat diri sendiri jg).

2. Suka merhatiin orang2 yg berumah tangga dan punya anak ga? Berapa banyak orang yang suka pamer kebahagiaan saat hamil? Berapa banyak ibu2/bapak2 yg suka banggain anaknya sampe seolah2 berlomba2 anaknya yg terbaik? Berapa sering ngeliat orang lagi ngebangain cara mendidik anak? 
Kadang mikir, ini mereka beneran lagi sharing kebahagian dan pengalaman mendidik, atau emang lagi pamer ya? Pamer “gw lebih bener ngedidik dan anak2 gw lebih berhasil”.

3. Perhatiin deh perbedaan keluarga kecil (2 anak) dengan keluarga besar (yg anaknya diatas 10). Keluarga besar cenderung kompetitif dengan siapa lebih baik, siapa lebih berhasil, siapa lebih ini itu lainnya. Entah apa fungsinya dan entah apa dasarnya sampai terbentuk mindset dan sikap seperti itu. Tapi mereka semeng banget mgebangain anaknya masing2, ngebangain cara mendidik anaknya, ngebangain kehatmobisan keluarganya, dsb nya. 
Beda sama keluarga kecil yg cm 2 anak. Anak2nya cenderung saling melindungi, menguatkan, gak ada istilah berkompetisi antar sodara. 
Kalo merhatiin dan ngeliat gakta2 yg terjadi, suka mikir, kenapa ya? Kenapa bs gt? Knp keluarga yg anaknya lebih dikit cenderung lebih solid?

Bandung, 17 Maret 2018

Wednesday, November 23, 2016

Orang Tua

10 tahun merhatiin ayah dan sebuah lingkungan. Ayah yang sudah ditinggal eyang menjadi yatim piatu, menjadikannya sangat hormat, sayang, dan sangat perhatian terhadap mertuanya (nenek). Sesederhana nganterin kesana sini meski super capek baru menempuh kemacetan jalan luar kota. Sesederhana ngajak ke tempat kesukaan nenek di kubang, bukan untuk kepentingannya, karena tahu bahwa nenek senang kalau disana apalagi kalau ada yang mau melestarikannya sesederhana membangun tempat tinggal dan sering berkunjung. Hari demi hari, tahun demi tahun saya memperhatikan ayah ibu memperlakukan orang tua satu-satunya. 

Sampai asisten rumah yang suka bantu-bantu ngomong "bapak sama ibu kaya yang butuh bgt ya sama orang tua. Berarti nanti teteh sama aa juga gitu. Nanti juga teteh jadi berubah sebutuh itu". Sempet heran sih, ini bu agung (yg suka bantu di rumah) ternyata diem-diem merhatiin ya.

Kadang mikir, sedih banget deh pasti kalau orang tua udah gak ada dan gak sempet berbakti bener. Gak ada orang yang bisa dimintai doa super ampuh, gak ada lagi orang yg super sayang, gak ada lagi orang yg bisa disayangi sepenuh hati, dan semua penyesalan dan kesadaran untuk berbakti menjadi sia-sia dikala sudah tak bisa lagi karena sudah tak ada.

Semakin tua, sebagai anak perempuan yang nanti setelah menikah bakti utamanya tak lagi ke orang tua, rasanya moment hingga waktu menikah menjadi sangat berarti untuk lebih banyak bersama orang tua. Meski kayaknya ayah ibu stress bgt punya anak kaya saya yang terlalu pemberontak (ga sejalan pikirannya).

Kadang merasakan, kalau uang bukan segalanya, yang penting menjadi manusia mandiri yang bisa berdiri diatas kaki sendiri, kuat secara mental, pikiran, dan fisik. Tak perlu bergelimang harta dan tahta. Melihat anaknya bahagia dan mandiri sudah cukup membuat orang tua bahagia. Buat apa kaya harta berlimpah dengan tahta diatas jika rumah tangga berantakan, orang tua pun akan sedih. Buat apa sukses dunia kalau shalat ditinggalkan, orang tua pun bakal sedih akan nasib akhirat anaknya. Buat apa semua yang kita kejar dengan kerja keras mati-matian, usaha abis-abisan, kalau tak mendekatkan kepada kebahagian diri dan keluarga? 

Ada nasib hidup orang lain dalam setiap keputusan yang kita buat. Ada hati yang akan sangat terluka dan sedih disetiap kesedihan yang kita alami. Ada hati yang selalu tulus mendoakan kebahagian kita dindunia dan akhirat. Yaitu, ibu,ibu,ibu,ayah.

Ada hal yang disadari kenapa ada hal yg gak bisa diraih, saat direnungkan ya memang apa yang terjadi adalah yang terbaik. Saya tak bisa membayangkan kalau misalnya dapat sekolah ke benua lain pakai beassiwa, tak punya tabungan sepeser pun, sedang ujian, lalu ada kabar orang tua sudah tak ada, dan baru bisa pulang sebulan kemudian dikala air kuburan pun susah kering, tahlil 40 hari tinggal 10 hari, ada kata maaf yang tak pernah bisa disampaikan, ada penyesalan luar biasa yang tak akan pernah bisa selesai sampai benar ikhlas menerima bahwa semuanya takdir. Kadang mikir, luar biasa teman-teman yang tinggal sangat jauh dengan orang tua yang jaraknya tempuhnya lebih dari 8 jam via pesawat. Bakal sedih banget kalau ada apa-apa dengan orang tua gak bisa cepat menemui, membantu, dan menemani. Beruntung yang masih bisa tinggal satu atap sama ayah ibu setiap harinya.

#secuilobservasi #randomfeeling #pikiransebelumtidur

Saturday, October 29, 2016

JFW 2017


Hallo

Ceritanya dateng ke Senayan city dari Bandung dalam rangka mendukung teman yang masuk finalis lomba yang karyanya dipamerkan di catwalk di acara Jakarta Fashion Week 2017. 

ini dia karyanya Metia Ramadhani





Duh, kurus-kurus ya model, gak ngerti mereka makan apa. Sempet merhatiin sesuatu sih, di share di postingan berbeda aja deh hehe. So far So cool.



Pemenangnya cowok dari surabaya. Ini cowok dari lobby (sebelum tau dia siapa) udah kersa banget deh aura-aura "seseorangnya". Jadi pengen kenal, menjalin relasi dan circle mungkin? 


Random ketemu citra ckckc. Awalnya bareng winta, udah keburu pulang duluan.
Ini lupa lagi ngapain ya pas difoto, gesture sama expresinya berasa aneh hahaha


Catatan Kecil #3

Kemarin, pas datang ke acara teman, tiba-tiba ada spirit yang muncul. Oh meeeen... Ini dia rasa yang sempet hilang bertahun-tahun. Sebuah spirit menggebu-gebu nan ambisius yang hadir kembali. 

Rasanya senang sekali melihat teman-teman berjuang pada bidangnya masing-masing, perlahan namun dalam grafik yang terus meningkat. Berjuang menggapai mimpi dan tetap menjaga pertemanan yang saya rasakan semakin dewasa. Entah memang kami yang mulai tenang dan stabil karena menjelang akhir usia 20an. Atau, memang diri kami dan pola pertemanannya yang tumbuh dewasa bersama.

Kalau ditanya,  punya kenalan/ acquanintance berapa? banyak banget.
Kalau ditanya, punya teman berapa? tidak lebih dari dari 5, bahkan hanya 1-2 mungkin. Ada yang sudah teruji 12 tahun dari mulai seragam sekolah, sama-sama berjuang ngejar ambisi masuk PTN terbaik, berjuang untuk lulus, sibuk cari kerja, menemukan jalur masing-masing, hingga akhirnya ia sudah beristri dan memiliki anak. Tak ada yang berbeda, semua terasa sama. Ada pula teman yang dekat tak dekat dahulunya, namun tetap bertahan selama 10 tahun lebih dan menjadi salah satu teman terbaik. Kami memiliki value yang sama, salah satunya karena sama-sama loyal, jujur, dan mandiri. Ada pula beberapa teman yang bertemu tak sengaja beberapa tahun terakhir. Anehnya, seperti ketiban durian runtuh. Menemukan orang-orang yang bisa terkoneksi soul to soul, bisa menerima diri, deep thinking, deep conversation, deep feeling. 

Bagi saya, pertemanan ya seperti ini. Tak harus sering berjumpa, tak harus sering berkomunikasi, namun saling mendukung, saling memahami, saling menerima, saling menularkan ambisi, saling menjaga, saling berjuang mewujudkan mimpinya masing-masing, peduli namun tak ikut campur. Bisa ada dikala down dan senang. Sedikit cerita, pernah mengalami berhasil meraih suatu pencapaian, tapi sendirian, gak ada keluarga dan teman. Itu rasa yang harusnya senang berubah menjadi sedih sekali. Rasa sedihnya sama dengan saat lagi down sendirian. 

I really love my life today. Family, friends, spirit and ambition. 
Api dalam menjalani hidup. 

Sekian catatan kecil di penghujung Oktober tahun 2016 ini. Cheers! :D

Thursday, October 13, 2016

What are you doing?

haiii apa kabar semua? lama bingits deh gak update blog~

sering banget dapet pertanyaan, 
"lo ngapain sekarang?"
"kerjakah?"
"lo dmn skrg?"

yang kalo secara logika, apa pentingnya orang bertanya hal yang tak menambah kebermanfaatan apapun. mereka ga tiba2 ngasih proyek, gak tiba2 jalin silahturahmi, gak tiba2 mendoakan (mungkin), intinya aneh aja pertanyaan kepo yang gak jelas tujuannya. hahaha. Sebenernya paling gak suka kegiatan, aktivitas, kerjaan, purpose, goal diketahui orang lain. Lebih seneng diem-diem dan ngerjain sendiri tanpa sorotan. Ya sekarang mau update deh. ini yg dilakukan tahun ini dan bbrp foto kemarin hingga barusan. Jadi, lo ngapain aja selama ini?

1. Belajar. i really love learn to learn. mulai dari belajar jahit, belajar piano (iya, belajar piano diumur segini hehe, kapan2 deh nanti di share video nya), belajar tentang human behaviour melalu observasi, memahami semesta melalui observasi dan perenungan, belajar untuk belajar, semua hal dipelajari. gatau karena haus pemahaman atau punya tingkat curiousity yang tinggi alias banyak kepo tentang ini itu. ini nih yang akhirnya gak ada detik terlewat tanpa mengobservasi dan berfikir.

2. Ngajar jadi dosen luar biasa (bukan asdos dan bukan dosen tetap). Ngajar di universitas swasta (sbenernya udah dari jaman kuliah s2 sih, bahkan awal2 kuliah s2 sempet jd asdos di almamater sendiri setahun).

hasil mahasiswa. foto kemarin. seneng banget deh saat anak didik bisa menyelesaikan dengan baik dan mencerna setiap proses asistensi yeay. ini matakuliah nirmana dwimatra, salah satu matkul yang diajar semester ini.

3. Proyekan interior, freelance. ya, sendiri. tahun ini ngerjain beberapa dan masih dalam ranah residensial dan commercial place. sekarang ada satu proyek kafe yang lagi di bangun di bandung dan satu proyek residential di jakarta timur masih dalam tahap perancangan.

foto diambil hari ini tadi sore menjelang magrib pulang ngajar dari kampus. on going project.

4. Nulis buku. jadi ada beberapa yang lagi ditulis dan gak selesei. ujung2nya yang mau diterbitin malah yg iseng gak sengaja gitu, draftnya udah selesei, tinggal urusan teknis ini itu, inshaallah desember (kalau gak ada hambatan) launching. doakan lancar ya

beberapa tulisan yang gak selesei-selesei, alhasil ada satu folder yang udah jadi draft naskah mulai masuk ke editor. doakan ya. ini folder pribadi yang di screenshoot barusan.

5. Self improvement (baca buku, perbaiki ini itu, bertransformasi), dan hura-hura. hahaha. kalau dari luar terlihat pendiam dan pemalu, kalau ngomong terlihat serius, aslinya seneng main, hura-hura, hidup nomaden, pergi kesana sini, ketemu orang-orang, ngobrol. traveling terakhir ke eropa bulan april lalu. eh ke jogja deng 3 bulan (sampe dikira pindah kesana).

foto kemarin malam. hura-hura sepulang kerjadan berganti baju. mereka anak couchsurfing bandung, saya bukan haha.
 kalau temen deket dan teman diskusi, jarang ketemu tapi tetap dihati hahaha.

6. ngurusin kawinan adek. dua bersoadara, saya anak pertama perempuan, adik laki2 tapi dia duluan nikah. bukan perkara dilangkahinnya, tapi sedih aja bakal super kesepian soalnya cuma dua bersodara, kebayang ga sih pas nanti nikahan, ayah ibu adik di pelaminan, gw sendirian celingak celinguk dari akad sampe selesei resepsi. ada sodara tp mereka kan gak stay seharian, paling cuma bentar, mana dari sd sampe kuliah (selain sma) gw satu sekolahan ma adek, makin ngenes aja dah "kasian ya kakanya". sedih banget bayanginnya aja suka sedih sendiri. meski dari luar keliatan fine, but in deep my heart, i feel so deep emotionally. sapa sih orang tua yang rela anak perempuan satu2nya dilangkahin adik laki2 satu2nya? yang ada, malah gw yg disuruh cepet2 nikah dan dikasihani orang2. yaelah. kalau ada yang mau nemenin gw selama adek nikah, 7 januari di jakarta timur. boleh loh. 

Gallery photo hp, isinya persiapan pernikahan adek. Seneng aja sih ngurus2 ginian.

Jadi sehari-hari, lo ngapain?
jam 7 malem - 3 subuh adalah jam kerja gw. karena hanya bisa produktif malem. ngerjain tulisan, ngerjain kerjaan interior.
jam 5 pagi - 10 pagi tidur.
jam 10 pagi - 12 siang leyeh-leyeh.
siang - sore ketemu orang, urus2 kerjaan yang haru keluar rumah dan ketemu orang.
dan berlanjut terus. kecuali kalo ngajar, pasti malemnya tidur, karena paginya ahrus udah ke kampus sampe sore. weekend ngapain? sama aja kerja kalo lagi ada kerjaan, main/ leyeh2/ baca buku/ belajar ini itu kalo lagi luang.

Kenapa sering dirumah?
karena kerja sendiri, kantornya adalah kamar. kecuali pas ngajar ya harus ke kampus atau ngecek proyek dan ketemu klien. sisanya ngerjain di kamar, mulai dr nulis sampe kerjaan interior. keluar kalo ada urusan sama orang aja. 

Kenapa sih gak kerja kantoran?
karena gw bisa mati sekejap kalo kerja kantoran. Kalau mau bunuh gw, gampang bgt. Jebak aja di rutinitas dengan kerjaan detail. sehari udah bisa berhasil bikin gw gilak dan die. thats why, lebih suka pola kerja dinamis. jadi dosen, tetep bisa ngerjain proyek interior dan personal project. yang penting mah produktif. berutinitas belum tentu produktif loh. bahkan sampe tenaga udah abis seharian pun, tiap malem jam ngantuk, otak masih tetep produktif mikir ini itu dan beberapa di share di fb deh jadinya biar otak rada kosong dan bisa tidur.

Yang dikerjain banyak banget. emang kelar? bisa multitasking?
nah ini gw jg gak paham sama hasrat banyak mau. cuma hidup emang adil kali ya. dibalik sifat banyak mau dengan ide ini itu, diseimbangkan dengan kemampuan menjaga semua hal tetep on fire dalam waktu bersamaan. gw juga heran kenapa bisa gt. berasa mengebu-gebu kaya gak ada tenang dan jedanya. kalau masalah kelar sih kelar. planning itu wajib bagi gw,  meski makan waktu bertahun. dan meralisasikan hukumnya fardhu ain alias super wajib. inshaallah semua kelar pada waktunya.
Doakan :D

Bandung, 13 Okt 2016, 22:07

Monday, August 22, 2016

Catatan Kecil #2

Setelah melakukan perenungan selama 1.5 tahun, akhirnya benerapa hari yang lalu cerita ke teman kalau sekarang saya memutuskan untuk hidup mengalir. Teman bilang kalau gap antara pikiran saya yang sangat logika nan penuh perencanaan bertolak belakang dengan hati saya yang sangat emosional dan perasa. Hal itu yang bikin suka susah mengambil keputusan karena hati dan pikiran gak satu suara. Akhirnya lebih condong ngikutin hati dengan hidup mengalir. Hidup mengalir bukan berarti doing nothing, hanya lebih menyederhanakan hidup. Sesederhana lapar ya makan, haus ya minum, ngantuk ya tidur. Berusaha membuat proses berfikir ke tindakan menjadi se-pendek mungkin dan se-present moment. Sebagai orang yang banyak mau, hal itu pun jadi masalah saat tak kesampean karena menyadari gak semua hal bisa dikerjain sendiri sekalipun mampu. Alhasil, sekarang hidup mengalir dengan mulai memilih satu keinginan yg difokuskan dan dilakukan step by step. Dimana sebelumnya saya membersihkan diri dari segala racun. Membuang orang-orang yang memberi dampak negatif/ toxic people, meninggalkan segala kebiasaan negatif, belajar cuek, belajar tega, dan belajar menyayangi diri sendiri.

Kalau ingat jaman dulu. Saya sudah merencanakan hidup dari umur 5 tahun dan disiplin menjalankannya sampai orang tua pusing punya anak ribet begini. Umur 9 tahun mulai menuliskannya dengan rapih dalam bagan rencana hidup dengan detail sampai umur 70 tahun. Semua terealisasikan dengan sempurna dan tepat waktu hingga umur 22 tahun tiba-tiba semua berubah. Berantakan. Jadwal yang molor, achievement yang sulit diraih entah karena apa, dan lika liku kehidupan lainnya yang datang tak terduga. Seperti tiba-tiba kecelakaan motor bedrest 4 bulan, tiba2 ada masalah keluarga, tiba tiba ini itu. 2010-2012 fase terendah saya. 2012-2014 saya hidup normal seperti biasanya, s2 yg akhirnya lulus, kerja, jadi dosen, dpt proyek, tp ada sedikit rasa hampa gatau kenapa. Di awal tahun 2015 - tengah tahun 2016 merenungi banyak hal. Tentang pola hidup, siklus, grafik perkembangan, goal, review purpose of life, mulai memikirkan orang-orang sekitar, dll. Sampai pada kesimpulan di postingan sebelum ini, catatan kecil (1). Hari ini melabuhkan pada kemantapan pilihan step hidup selanjutnya (paragraf pertama). Meskipun ada semangat yang terus mengebu-gebu di dasar hati yang perlu diredam, ada lompatan lompatan ide dan rencana jauh puluhan tahun kedepan yang sudah tergambar dalam pikiran yg perlu saya sederhanakan, dan ada perasaan campur aduk kasian sama keluarga ini itu yang perlu saya kendalikan. Ternyata untuk hidup sederhana dan mengalir bagi saya adalah suatu tantangan yang besar dan sulit untuk mengendalikan segala sifat alami yang mengebu-gebu dengan pikiran melangit dan perasaan yang dalam yg selalu berhasil membuat keputusan yg lama dan salah saking overthinkingnya.

Karena saya tukang cerita, jadi gatel kalo gak cerita ke orang. Alhasil cerita ke temen tentang keputusan dan pemikiran saya itu. Teman saya jawab merespon semi ceramah:


Bagi saya, semua yang teman omongin itu bener semua. Bukan karena sepemikiran dan sepemahaman, ya logis aja. Dia menjelaskan dalam kalimat sangat sederhana. Ceramah yang mengingatkan kembali pemahaman yang telah dipahami bbrp tahun yang lalu, untuk mulai dilakukan, dijalani. sekarang.

*udah bilang ke temen bakal di post di blog tp demi privasi jadi identitasnya dihilangkan.


Tangerang, 22 Agustus 2016

Saturday, August 20, 2016

Catatan Kecil #1

15 Agustus 2016

Putih: seorang teman.
Hijau: saya

Obrolan monolog (thdp tmn) ini disimpan di blog, sebagai pengingat untuk suatu saat nanti dikala mulai masuk fase dark dan galau saat logika terlalu melangit dan perasaan terlalu mendalam. Sehingga gap dan jarakn diantaranya keduanya terlalu jauh sehingga sulit mengambil keputusan bijak.
Semoga bisa menjadi rantai diri dalam menuju tujuan agar tak hilang arah. 

18 Agustus 2016


Baru ngeh, kenapa sering ngerasa gak punya temen, gak ada yg nyambung, sepi. Baru paham, ternyata karena secara alami punya sifat progresif dimana orang-orang sekitar saat itu bersifat stabil. Yg awalnya satu frekuensi, lama2 menjauh dengan sendirinya seiring perubahan frekuensi pada diri. Pantes kenapa traveling, tempat baru, lingkungan baru, ketemu orang-orang baru, diskusi-diskusi cerdas (ini bukan sombong/belagu, sejujurnya gw pusing sama obrolan receh, gosip, dangkal, basa basi, dan hal gak penting), film baru, buku-buku rasanya sebagai oksigen kehidupan bagi saya. Memiliki urgensi super tinggi sebagai kebutuhan yang gak habis habis untuk dikejar dan dikejar terus. Sekarang berusaha hidup dengan lebih sederhana dengan menurunkan rasa keingintahuan yg mengebu-gebu, menurunkan self priority, mengendalikan pikiran yg terlalu kedepan nan detail, mereduksi ego, berusaha hidup saat ini, dan mengendalikan perasaan agar lebih logis dan stabil terus logis.

20 Agustus 2016

Cuma orang-orang yg temenan di dunia nyata, chat, line, fb, ig, dan blog, yg setidaknya bs mengambarkan saya 50% mendekati tepat. Kalaupun ada yang temanan di semua hal itu dan mau cari tau, tetepa gak akan pernah bisa mencapai 50%nya karena yang di share hanya sebagian pemikiran, perasaan, observasi, renungan, pengalaman, secara acak  baik dr segi media, waktu, dan tempat. Kecuali orang-orang "cenayang" yg bisa tau tanpa mengumpulkan semua informasi dr panca indra suatu rentang waktu. Dia tepat. Sangat mengambarkan diri, keadaan, fakta, dan realitas yg dihadapi.

Ini tulisan dibuat hanya sebagai notes pribadi yg mungkin bisa bermanfaat bagi orang yg tiba2 nyasar ke blog ini dan bagi org nyasar yg ternyata kenal trs bisa ngingetin pas saya lg "chaos".

*wuallahualambishawab

Friday, August 5, 2016

Jam Kerja

Hallo, udah lama gak nulis di blog.
Ini alasannya karena lagi sibuk ngerjain desain 3D pakai laptop dimana laptopnya suka nge hang, alhasil aktivitas sambil nunggu laptop normal adalah main hp dimana pikiran-pikiran justru tertulisnya di facebook/ line.

I am Extremely Moody and Hypersensitive People. Karena sifat moody ini, tak sedikit orang yang nyangka saya bipolar. padahal bukan. Moody dan sensitive, 2 kombinasi yang berhasil bikin ribet diri sendiri. Cuma bisa kerja di tempat yang tenang, tentam, jauh dari sifat-sifat buruk orang (meski ini hal tak teraba, tapi energi dan aura nya kerasa), dan dalam keadaan mood yang baik. Mood bisa hancur seketika cuma karena hal sepele, "jd kapan?", sesepele pertanyaan itu. I dont know why, perubahan suasana terjadi diluar kendali diri, kendali diri cuma bisa mengekspresikan atau memendam dalam diam.

Kalau durasi pekerjaan 4 minggu, 2 minggu bangun mood, 1 minggu mikir dan bikin konsep, 1 minggu ngerjain. Kalau orang normal, 2 hari mikir konsep, 3 minggu ngerjain, 5 hari terakhir santai. Kebayang kan betapa stress dan deadlinersnya. Hahaha. Begitupula sebaliknya, kalau lagi mood, berasa gak butuh tidur, bawaannya pengen kerja terus, otak panas terus, ide meletup-letup, fisik berasa punya jutaan kalori. Mungkin karena sifat itu, Tuhan memberikan sifat super formalis agar bisa hidup seimbang. Apapun yang terjadi, selalu berusaha memenuhi komitmen dan tanggungjawab sesuai waktu dan batas akhir yang disepakati sebelumnya. (penting bgt nih buat para klien dan calon klien untuk menentukan deadline akhir dan memberi ruang sepanjang proses pengerjaan).

Kembali ke topik awal, jam kerja. Sudah 4 tahun menjalani hidup sebagai freelancer, sempat diselang sekolah S2 dan mengajar di universitas swasta. 1 tahun ini murni hanya fokus bekerja. Jam kerja super gak normal dimulai jam 7 malam hingga 4 subuh, sehabis subuh, bobo. Bangun dzuhur, lalu ini itu sampe sore, dan mulai bekerja selepas isya. Sampe suatu ketika jadi kurang bisa berharmoni dengan orang-orang seatap. Merasa yang salah adalah saya, maka mulai merubah pola hidup dengan tidur jam 12 malem, bangun jam 5 subuh, jam 6 mandi, jam 7 pagi sudah depan laptop. Nyatanya? Dalam seminggu berhasil gak ngapa-ngapain. progressnya cuma seupil kecil.. Sangat jauh dari produktif. fisik fit, tp otak dan mood gak bisa sinkron, lalu malamnya dikala fisik sudah drop, otak malah meletup-letup. Alhasil, membebaskan diri untuk menjadi diri sendiri, salah satunya dengan membiarkan diri kembali pada sifat alaminya, yaitu: bekerja di malam hari, yng membuahkan hasil pada penyelesaian pekerjaan secara produktif, dengan resiko perlu ngekos/ tinggal di tempat yang super tenang untuk beristirahat pada pagi hingga siang harinya. 

Setiap orang, memiliki pola-pola tersendiri, beda-beda tentunya. yang menjadi masalah adalah saat bersinggungan dengan orang lain yang ternyata memiliki pola hidup yang berbeda. bisa menhasilkan permasalahana karena saling terganggu satu sama lain meskipun niatnya tak menganggu. Saya sangat terganggu dengan orang-orang yang berisik pagi-pagi apalagi ditambah suara anak kecil nangis jejeritan, suara televisi sepanjang malam sebagai pengantar tidur seseorang yang menganggu proses kerja yang butuh suasanan hening. Tapi gak ada orang yang keganggu dengan aktivitas saya dimalam hari, paling suara pintu pas lagi ambil air minum ke dapur. Mereka terganggungnya justru karena reaksi emosi saya, hasil gak bisa tidur dan mandek dlm proses bekerja karena keusik sepanjang pagi-malam dengan suara dan aktivitas mereka. Kemudian mereka balik menyerang krn dalam hukum sosial secara alami, minoritas akan kalah oleh mayoritas, Kenapa ya jadi orang sensitif banget.

Meskipun dalam sisi lain, sensitifitas ini justru hal positif yang sangat dibutuhkan oleh para pelaku di dunia kreatif, termasuk desainer interior. Karena dalam proses berkarya, menggunakan konsep design thinking. dimana perlu keahlian dalam "membaca" kebutuhan human/ klien/ customer untuk menciptakan solusi dalam desain, keahlian itu di dapat dari sifat sensitif dan empati. Disisi lain, sifat yg terlalu high pun dapat memacu masalah lainnya.

Friday, June 10, 2016

Ramadhan #5: Moment A-HA!

Singkat cerita, guru musik bilang kalau setiap muridnya punya cara masing-masing dalam menemukan pola belajar untuk bisa. Pola yang didapat melalui eksplorasi sendiri sampai nemu moment AHA. Kalau sudah melewati moment itu, pola yang ditemukan muridnya akan bakal terus teringat sepanjang masa. Dia bilang kalau soal musik, itu soal perasaan, dan hanya perasaan diri sendiri yang benar, jadi setiap muridnya memang harus mencari AHA nya sendiri. Hal itu lebih "abadi" daripada mentransfer cara harus begini begitu.

Teringat oleh seorang pembimbing (karir), dia melihat bakat, lalu bilang: setiap manusia punya jalur rejekinya masing-masing yang gak bakal pernah bisa diambil orang lain, karena cuma dia sendiri yang bakal bisa "melihat" klik polanya. Untuk mencapai kesana memang dibutuhkan struggle sampai nemu titik AHA. Itu semua harus kamu yang jalanin sendiri, saya hanya membantu membimbing.

Pernah lihat orang yang setiap ikut lomba selalu menang? Ya, karena dia udah nemu kliknya dan mungkin itu jalur rejekinya. 

Pernah liat orang bisnis makanan selalu berhasil? Ya, dia udah nemuin celah dan polanya melalui moment AHA dan hal itu gak bisa dilihat orang lain karena itu jalur rejekinya. Maka sekuat apapun orang mau ngikutin, gak bakal bisa nyamain.

Moment A-HA ini menjadi penting banget. Berasa oase di padang pasir.

Permasalahannya, bagaimana menemukan momen A-HA ini?
(sharing aja ini mah, bukan hal mutlak/ generalisir ya) Setiap merenung, makin merasa kalau kalimat "berilah pentunjuk-Mu" itu besar sekali dalam menentukan langkah awal. Berdoa menjadi langkah paling awal dalam memulai. Lalu berusaha, mencoba, mencoba, sampai titik super struggle, hilang hasrat, berdoa, lalu menemukan A-HA moment yang tak terprediksi waktunya. Bisa sekian menit hingga belasan tahun. Berarti emang ahrua sabar. Sabar sebagai penolong itu bener banget. Soalnya kalo gak sabar, gak nemu-nemu moment A-HA, gak bakal wah bersinar stand out alias biasa - biA aja. Gak mau kan? Nggak. (Ngomong sambil ngaca).

Kadang kalau merhatiin dalam society, ada pesan tersembunyi, bahwa berdoa (meminta keberhasilan)  dengan bobot harapan besaaaaar sering dilakukan setelah berusaha, sebagai "pelengkap". Seolah-olah 0- 99% itu kendali dari kerja keras dan 1% itu doa yang melengkapi jadi 100% (gimana ya bahasanya biar gak salah ditangkap pembaca? ya dinalar aja deh ya). Nyatanya, yang dibutuhkan sebelum melangkah adalah arah, ridha, kekuatan (pikiran, batin, mental, fisik, dll). Berdoa di awal usaha penting bgt bgt. 

*wuallahualam bishawab

Sedikit sharing. Selamat berusaha, selamat menemukan A-HA moment, selamat sukses :D

Ramadhan #5

Thursday, May 19, 2016

Berdamai

Berdamai dengan diri sendiri.

Berdamai dengan diri sendiri berarti berdamai dengan masa lalu dan menerima diri sendiri.
Menerima segala perjalanan hidup diluar kendali diri.
Menerima segala kekurangan dan keterbatasan diri.
Menerima segala masa lalu, membersihkan segala trauma.
Menerima segala rasa sakit dan bahagia dalam satu paket utuh.
Menerima segala kekacauan keluarga.
Menerima segala kegagalan.
Menerima segala potensi.

Menerima. Belajar menerima tak semudah pikiran dalam logika.
Menerima keadaan saat ini dengan segala cerita dibelakangnya.

Aku, kamu, kita, terbentuk dalam cerita berbeda dengan penerimaan berbeda atas diri dan lingkungan. Berjuang dalam kepedihan yang tak pernah tampak dan dinampakan. Berjalan dalam pilihan yang diputuskan. Bertahan dalam pelindungan diri. Berdiri pada kaki sendiri dengan beban berat di punggung yang terurai terbuang seiring penerimaan diri, jauh, perjalanan masih panjang. Beban harus segera dilepaskan untuk kedamaian diri, menghidupkan jiwa. Hidup bahagia menjadi diri sendiri lepas bebas mencapai segala achievement dalam kebahagian terpancar nyata tanpa kepalsuan belenggu diri tertahan. Entah berapa banyak yang tetap menangung beban itu hingga hayatnya tanpa menyadari. Kamu tau, kamu tak sendiri, mari berjuang bersama dalam perjalanan masing-masing. 


Pom Bensin Dago, 19 Mei 2016

Tuesday, May 17, 2016

Saya Rindu

Disaat orang-orang seumuran saya, 28 tahun, sibuk mebangun karir yang mulai stabil nan mapan, membangun rumah tangga, program anak kedua, membangun "kerajaan" keluarga, investasi sana sini. Saya masih sibuk dengan self justice, masih sibuk mencari jalur karir, masih sibuk mengexplore, masih berani mengambil resiko yang gak masuk akal, masih sibuk aktualisasi diri belajar segala hal baru, masih sibuk berdamai dengan masa lalu, masih sibuk mengejar ambisi dan menghabiskan ego, masih sibuk cari partner kerja. hari ini kaya bisa kesana sini beli ini itu besok miskin gak bisa makan. berbeda 180derajat dengan teman-teman yang sudah sangat stabil (atau monoton? atau gak berani keluar zona aman?) yg mrk pny financial luar biasa dgn jenjang karir jelas. Anehnya saya gak pernah sirik sedikitpun sama temen2 kaya, sekolah s3 di luar negeri, gak pernah sirik ma orang2 berhasil untuk dirinya sendiri. Tapi kalo liat temen yg bikin sekolah gratis, jadi pengusaha dgn jiwa sosial tinggi, bisa nyekolahin 100 anak gak mampu, nerbitin buku keren, super siriiiik bgt bgt.

begitupun tentang nikah gak pernah sirik apalagi kebawa panas karena teman-teman sudah pada nikah. tapi hal ini sudah terpikirkan bahkan semua rincian biaya dan konsep kehidupan setelah nikah sudah tertulis. tapi untuk berkomitmen dan menjalin hubungan sepertinya belum, masih banyak urusan dengan diri sendiri yang belum selesai, masih banyak hal sosial yang masih ingin dikerjakan. kecuali memang sudah bertemu dengan seseorang yg bisa menerima secara utuh dan mengarahkan kompas saya untuk selalu positif. Pasangan menjadi pelengkap terbesar. variabel hidup yang paling krusial. karena seumur 28 tahun ini hidup suffering bgt bersama orang2 ISTJ sejenisnya, dominan otak kiri, pesimis, biasa aja, hidup sebatas achievement rutinitas tanpa value,  sampe titik trauma. pengen deh berada, ketemu, dan terus berada dilingkungan orang-orang idealis yg ambisius, intelektual tinggi, jiwa sosial besar, dan dengan passion sejenis. menjadi social preneurs salah satunya. semoga lekas bertemu, dipertemukan dan dijodohkan dengan orang-orang seperti itu dan berada di lingkungan kompetitif nan produktif. aamiin.

Saya rindu berjuang mati-matian, saya rindu mengejar ambisi gila-gilaan, saya rindu kerja keras abis-abisan, saya rindu lingkungan yg memberikan energi positif dan memberi peluang seprogresif dan seberkembang itu. Saya rindu menjadi diri sendiri yang fulfilment.

selama ini selalu cari cara biar bisa berada di lingkungan seperti itu, salah satunya dengan sekolah. karena lingkungan sekolah itu kompetitif, jujur, objektif. kalo kantor banyak drama, byk org licik, sikut-sikutan, meski gak terlibat dalam drama pasti menjadi penonton yg malah bikin stress liatnya. jadi gak pernah mau kerja kantoran lagi, kecuali jadi dosen (karena masih sesuai value hidup yg dianut). masalah teori, ketahan mental, dll sih udah teruji, cuma butuh bener-bener butuh ruang. media.

Bandung, 17 Mei 2016

Sunday, May 8, 2016

Menjaga Perasaan

apa yang kamu lakukan saat tahu sesuatu bakal menyakitkan hati temanmu? ya ada sebagian biasa aja, ada sebagian menjaga meski terkesan acuh pdhl peduli, dan banyak juga yang tak peduli.

acara pernikahan dimulai, satu persatu datang, haha hihi, saya hi, makan bareng, foto bareng, dan main bareng pulangnya. tiba-tiba suasana menjadi aneh, bergerombol bisik bisik, entah apa yang dibicarakannya. sekilas terdengar sayup "eh, si A bakal nyusul, tp sama pacarnya, gimana nih si X". terdengar oleh si X yg dia pun sudah tak peduli alias biasa saja. dalam hatinya "lebay banget sih nih temen2, cerita 6 tahun yg lalu masih dibahas2".

kemudian si A dateng bersama pasangannya, gesture mereka langsung pada aneh, diam, tp aneh, seolah-olah sangat menjaga perasaan si X, takut si X sedih. padahal si X nya biasa aja. aktivitas selesai, masing-masing pulang ke rumahnya, mereka masih saja ribet bersikap agak tidak menyakiti perasaan temannya.

sekilas kejadian itu terasa lebay bgt. padahal sejatinya, justru mereka-mereka adalah orang-orang yg peduli dan sangat menjaga perasaan orang lain. layaknya si B lulus dikala si C hampir DO, semua pada diam, tidak gembar gembor atau euforia berlebih, menjaga perasaan si C dalam perjuangan terakhirnya. bahkan menyembunyikan berita bahagia hanya karena takut temannya sedih mendengar mantannya menikah. "kok lo gak ngabari? biasanya kan lo ngabari ssmua info acara", pertanyaan tak dijawab, terkesan acuh, namun nyatanya ia lakukan untuk menjaga perasaan.

"eh, gak usah di upload, si f kan gak ikut, lg sakit doi, nanti dia sedih liatnya". "iya ya, yaudah gak ush di upload ya fotonya".

how care they are. but, life must go on. Dont hide anything, let it be true to make others grow up, realistic, and stronger.

awalnya berfikir seperti itu, namun saat berada diposisi terbalik, ternyata sama saja, melakukan hal yang sama seperti mereka.
b: eh kesini yuk
u: udah
b: sama siapa?
u: sama si r
b: kok dia ngajak lo?
u: gatau
b: padahal dulu gw deket bgt ma dia, sering blabla (kerasa perasaannya mulai sedih)
u: (lngsng byk boong untuk mengembirakan si b) random aja wkt itu, gak sengaja, mungkin mo ngajak lo takut lo lg repot blm dpt cuti
b: emang kpn ngajaknya?
u: bulan xx (terlalu jujur)
b: itu kan gw bs ngurus cuti
..... kemudian hening, bahas topik lain yg bs mengembirakan hatinya dan menjaga self esteem nya.

hal sepele, tapi bisa jadi triger besar buat org lain. kadang menjaga perasaan ini sedikit yg melakukannya. kalau ada yg melakukannya, worth it untuk dipertahankan sbg teman. karena mrk care, "are you okay?". sekilas terkesan seperti ngegosip. "eh si ini apa kabar? si ini sibuk apa? dll". tp mrk bertanya krn peduli bukan penasaran. terlihat dr action setelahnya. layaknya memberikan kail drpd ngasih ikannya lngsng, membantu tanpa membuat harga diri org jatuh dan ketergantungan.


Sleman, 8 Mei 2016

Saturday, May 7, 2016

Controlling Mind


e: lagi ngapain ti?
u: lg mikir
e: susah berentinya ya?
u: iya

the hardest part that i am struggling every second in every day: Controliing Mind.
Rasanya pikiran loncat sana sini, gak mau berenti, susah banget disuru diem, bahkan dikala sedang beraktivitas sekalipun, nih pikiran bisa pararel mikir banyak hal dalam waktu bersamaan. kadang bikin gak bisa tidur, kadang bikin sakit kepala, kadang bikin mikir hal baru, ribet.

---------------
seandainya pekerjaan saya adalah mikir. mikir sistem, mikir konsep, mikir pola, mikir pemecahan masalah ini itu, mikir hal kompleks, mikir semesta, dll. (mikir tp yg ngerjain org lain dgn fungsi activator/ kepribadian -ST-) mungkin sekarang udah jadi orang kaya raya yang bermanfaat bagi banyak orang. I hope, this mind can find the place where its can be valuable w/ its capability. (apapula coba ini kalimat inggrisnya haha)


Jogja, 7 Mei 2016

Monday, March 28, 2016

Teman

Tiba-tiba teringat sesuatu, jd pengen nulis. hahaha
kata temen, seseorang dianggap temen, kalau udah melewati 4 hal ini dan rasanya tetep sama.
1. pernah pergi jauh bareng
2. pernah tidur bareng (mksdnya dr pagi ketemu pagi)
3. pernah marah besar trs jd baik lg
4. pernah terlibat hutang piutang

pas dipikir-pikir, diinget2 pengalaman ma org2, 4 point itu bener juga. kenapa? saya bakal bahas perpoint ya
1. saat pergi jauh, banyak sikon tak terduga yg bisa terjadi, disitu karakter orang bisa keliatan, bagaimana manajemen emosinya, manajemen keuangannya, egoismenya, care sama org nya, bagaimana pola pikirnya, dll. nah ada kalanya disuatu sikon sulit, keluarlah sifat asli buruknya dlm waktu bersamaan, dalam moment ini bakal ada sikap alami/perkataan spontan yg mungkin saling menyakiti baik fisik/psikis/mental. disini, berada dalam sebuah konflik, baik konflik personal maupun konflik dgn lingkungan suasana saat itu. kalau bs saling menerima, saling mereduksi ego, saling memaafkan, yaudah berarti org itu udh lolos sbg temen dlm tahap 1. Krn ga byk yg bs stay untuk netral dan kembali baik atau sayang setelah melewati fase ini. ujung2nya bs hanya sebatas kenal/ ya cukup tau aja, bahkan ada yg bs ampe berantem dan "selesai" hubungan.

2. pernah tidur bareng. hampir sama sama point 1, bedanya durasinya lebih lama alias melewati minimal satu malam bareng. ya bisa tidur bareng di bus/ kereta/ sekamar. dalam tahap ini kelakuan2 minus dan sifat orang lebih keliatan lg secara detail, karena bareng dr bangun tidur ampe bangun tidur hari esoknya. kalau brg yg sejenis kelamin, kalo bs melewati masalah alat mandi, pakaian, pretelah dgn baik, yaudah lewat deh fase ini. kalo bareng jenis kelamin yg berbeda dan pas sekasur (misalnya) biasa aja, sopan, ga awkward, dan konflik masalah baju berantakan, barang dipake seenaknya, dll udh terlewati dan rasanya biasa aja, yaudah lewat deh kriteria tmn tahap 2. soalnya byk loh org yg jd berantem untuk hal2 sepele pas sifat aslinya keluar smua. misal: si A ocd, si B jorok. yaudah kelar antara memendam kesal atau drama jd ribut.

3. hidup tidak seideal games the sims. meski di the sims pun suka ada konflik yg ujug2nya "lha kok jd berantem??". ya sama aja kaya kehidupan nyata yg kenyataannya jauh dr kata "seharusnya kan...." ya masalahnya apa dan marahnya sebesar apa, pasti byk contohnya dan beda2. dari sini keliatan deh kedewasaan seseorang, bukan hanya dr perilaku tp cara memperlakukan org yg mengugah emosinya. misal si A sensitif, si B tipe yg keras kepala, tiba2 ada konflik. si A sakit hati ma si B, si B ttp pd pola pikir dan pendiriannya yg jd menekan batin si B lg, si B pun jd berubah sarkas ma si A. lama2 jd saling menyakiti. kecuali ada salah satu pihak yg mulai membuka pikiran dan hatinya, setidaknya ia udh mendamaikan dirinya sendiri. Bagusnya sih 22nya yg saling buka hati dan pikiran.

4. Pernah terlibat hutang piutang. hal ini memang menjadi paling sensitif apalagi kalau berhubungan dengan uang. hutang bisa berupa uang maupun pekerjaan. saat dua pihak terlibat hutang piutang, yg minjemin uang merasa boleh mendesak yg berakhir jd seenaknya, atau justru malah gak enak nagih pdhl ia sendiri lg butuh tp yg diutangin gak sadar2. yg ngutang pun attitude nya macem2, mulai dari baik2 nyicil bayar, kabur, atau malah defensif yg jd ngerusak silahturahmi. ya point ke-4 cukup dipahami semua orang lah ya. kalau bs melewati ini dgn attitude yg baik, gak kabur/ ga marah2/ ttp baik, sopan, berusaha bayar saat ditagih, dan yg nagih ttp sopan, baik, gak semena2, mejaga aib orang, dsb. maka lengkaplah seseorang itu bisa dikatakan sebagai seorang teman. hehehe

Jadi kalo ga melewati 4 point itu bukan tmn dong? ya ngga jg. 4 point itu cm sebagian tahapan aja. 4 hal itu yg sangat sensitif menghasilkan konflik dan rentan untuk kembali baik lg dgn perasaan yg sama seperti semua, hehehe. its just my opinion through observation, empathy, experience, many perspective, dan analisa. cheers!

kalo ditanya, lo pernah ga tie ktemu org yg udh ngelewati 4 poin itu dan beneran baik lagi jd tmn?
Dari banyaknya orang yg pernah melewati 4 hal itu, berujung sakit hati/ dimusuhin/ saling menjauh/turun level hubungan (yg awalnya tmn, turun jd kolega bahkan cukup tau nama aja). alhamdulillahnya, ada 1 orang yg bener2 berkonflik abis2an, tp kita bs saling buka hati dan pikiran, jd biasa aja deh sampe skrg rasanya ttp sama, tetap sayang, no hurt feeling, ga ada yg kependem.