Showing posts with label #ramadhan2024. Show all posts
Showing posts with label #ramadhan2024. Show all posts

Wednesday, April 17, 2024

Ramadhan #29

This morning, while walking in the yard, a sudden awareness and clarity emerged. It felt neutral and didn't trigger any thoughts, just a sense of knowing. One of the realizations that emerged was about relationships. When in a state of lack, one becomes willing to do anything, and this gap is exploited by takers to take advantage.

If there's family, a circle, plenty of backups, meeting people in person or just exchanging greetings every day, even with strangers. Indirectly, it serves as a "shield" from predators who only want to take advantage. Because the emotional and spiritual nourishment is sufficient, there's no malnourishment. So, there's a filter on who is allowed in.

Ramadhan #28

When you wear a veil, follow religious rules, yet still discriminate and even ostracize those who don't cover themselves perfectly, hmm...

My humble opinion, when our religious side align with spirtual maturity, we can see all the people through compassion and love (no matter who are they and what they decided about they life). No judgement, no assumption, no separation, no exclusivity.

Ramadhan #27

Ttg "rumah", ga semua org yg akrab dan relatives sekalipun boleh masuk. Jika memang di luar aturan, kenyamanan, apalagi mengancam, kita berhak mengusir dan tak membuka pagar sekecil apapun.  Masalahnya, dr kecil sering diajarkan untuk berbuat baik pd org lain, berpikiran positif, mendahulukan kepentingan org lain, hrs ini itu tanpa diajarkan berbuat baik pd diri sendiri dan memprioritaskan diri. Someyimes, budaya kolektif dan altruism lead to self confussion and abuse.

Realitanya: 
Gak semua orang itu baik, pny niat baik, dan layak diperlakukan baik, sekalipun satu darah. Gak semua orang2 yg sayang itu tdk akan menyakiti dan merusak. Gak semua kenalan akrab itu akan baik2 sana ke diri. Dan kita gak bs mengubah orang, jd kuncinya di diri. Apakah diri mengizinkan diperlakukan gak baik? Diambil keuntungan? Dimanfaatin? Di abuse? Di lecehkan? Jika tidak, ya jgn izinkan dan terima. Cm ya emang saat being assertive, too vocal, too honest, resikonya banyak orang yang gak suka, dibenci, di reject, diomongin, dijauhin, dll. Namun buat orang2 dan lingkungan yang sehat, dewasa, waras, bijak, sifat2 itu justru malah dihargai, di apresiasi, hal biasa, dan mempermudah relasi menjadi lebih baik, sehat, nurturing, dan nourishing

Ramadhan #25

About gossip, it can indeed be something fun, which is why "celebrity infotainment" shows can be popular and profitable because they have an audience. So, don't take it too seriously if someone talks or gossips about someone else. They might just do it for their own enjoyment, and then forget about it. They don't really care much, let alone judge harshly. So, just consider it as passing information. Like hearing gossip, well, that's it, no need to treat it as absolute and solid truth, right?

Ramadhan #26

Having fun, playing around, frolicking, and enjoying oneself turns out to be one of the basic needs. As long as everyone is on the same page and doesn't harm others. But usually, it's indeed a tug of war. For example, if someone finds joy in teasing, they'll seek out others who find joy in being teased. In such cases, it's important to realize what activities bring joy to oneself. So, one can choose to stay or pursue other activities. For instance, if chasing after someone is fun for some but exhausting, causing struggle and significant effort for others, it may give pleasure to those pursuing but not necessarily to those being chased.

Having fun, being playful, messing around, and enjoying oneself are indeed basic needs. As long as everyone is on the same page and doesn't harm others. But usually, it's indeed a tug of war. For example, if someone finds joy in being chased, they'll attract or seek out others who enjoy chasing. If someone finds joy in tormenting, they'll encounter others who enjoy being tormented. In such cases, it's essential to realize what brings joy to oneself. So, one can choose to stay in that pattern or opt for something different.

If the types of fun are different or don't mutually fulfill each other's joy and pleasure, they won't be able to engage in the back-and-forth, the pulling, or the "dance." Like in cases of Narcissistic Personality Disorder (NPD) and codependency, they won't be able to dance if deep down, neither enjoys it or finds it fun, even if one party is suffering (due to subconscious patterns and settings). *In cases of fun related to others.

Friday, April 5, 2024

Ramadhan #24

Previously, I wasn't aware that material possessions and lifestyle were important considerations in a relationship. It wasn't until I met someone who, during our first encounter, asked, "Where do you usually buy clothes? What brands do you wear?" I've also had acquaintances say, "Wow, you almost always eat at those places. Hopefully, your future husband will be able to afford to feed you." Back then, I considered these questions odd and the comments unimportant. It wasn't until 7 years later that I realized these inquiries were a form of assessing lifestyle, comfort, consumption level, dressing standards, and even measuring whether the person interested in me could provide for me.

Growing up in a highly independent environment, unfamiliar with patriarchy and the feminine energy (receiving), I was always accustomed to doing everything on my own—handling things alone, going places alone, dealing with sickness alone, solving problems alone, and even having a tendency to give without taking. It wasn't until a moment of realization that women are provided for, protected, and loved. In religion, there are four men responsible for one woman (her father, husband, brothers, and sons), for both worldly and afterlife matters. Women are honored in religion. Perhaps it's natural for feminine energy to emerge and flow healthily, one of which is the ability to receive. It's as simple as accepting assistance, attention, love, sustenance, and protection.

I used to think that if a woman had a need X, she should be able to provide for herself. Now, I believe that my partner should be able to provide me with X even if I'm capable of fulfilling it myself. How a man treats a woman ultimately reflects his own quality because not all women can receive. Not all women like to depend on others, be picked up, be escorted, have things paid for, be watched over, be accompanied, be protected, or be loved (even though they are capable of loving). I used to be like that. Until I started transforming by learning to ask for help, allowing myself to be assisted without feeling indebted, learning to accept what others give, feeling comfortable when someone pays, letting go of my independence little by little.

Ultimately, a healthy relationship is formed by many factors. Some of them include balanced feminine and masculine energies, how a woman's feminine side can emerge (even if she's very masculine: independent, working, aggressive, active, dominant, rational, controlling, etc.) and how a man's masculine side can emerge (taking initiative, leading, protecting, providing, taking action, being active).

Ramadhan #23

Sesuatu hal menjadi penting dan berarti, 
karena kita memberikan makna pada hal/ orang/ kejadian/ sesuatu itu. 

Misal: ada yg anggap mudik itu suatu hal penting/ keharusan meski tiap bulan ketemu. Gali2 deh, apakah krn menaruh keberhargaan diri dari penerimaan keluarga? dmn caranya mengikuti seluruh acara family sekalipun nyusahin diri sendiri? Apakah di layer bawahnya, ada perasaan kesepian sehingga butuh validasi keberhargaan dr family? Apakah layer bawahnya lg, ada memory trauma di abaikan/ di reject di masa kandungan? Atau sesederhana memang kangen ingin bertemu, atau ketidaksadaran mengikuti tradisi?

Tuesday, April 2, 2024

Ramadhan #22

Mengasihi dan mengasihani diri sendiri adalah dua hal berbeda.

Saat mengasihi, tandanya kita bersyukur pada diri sendiri, menyayangi, meraawat, menjaga, dan memperlakukan diri penuh kehormatan, kebaikan, kasih sayang, dan cinta tak bersyarat. Fokusnya pada diri sendiri untuk membuat diri lebih baik, lebih sehat, lebih luas, lebih tinggi; meningkatkan kualitas diri dan kehidupan diri. Termasuk saat menyayangi dan berbuat baik pada sekitar dan orang lain, dilakukan karena sayang pada diri sendiri dan berbagi kasih pada sekitar tanpa merusak, merugikan, dan menyakiti diri sendiri. 

Saat mengasihani diri sendiri, berarti diri memiliki judgement dan men-juduge diri sendiri less than. Bagaimana rasa syukur bisa tercipta dari energi menghakimi diri sendiri rendah dan kurang? Bagaimana rasa kasih dan cinta mampu tumbuh dengan baik dari penilaian menyedihkan akan diri sendiri? Bagaimana diri mampu menyayangi orang lain dan sekitar jika diri sendiri pun dianggap kurang dan menyedihkan? Alih-alih memberi karena diri berlimpah, yang ada malah berbuat baik, menolong, berkorban, mengurusi orang lain sebagai proyeksi mengasihani diri sendiri, dimana diri tak mampu menolong diri sendiri hingga fokusnya ke dunia luar. Fokusnya menolong orang, membantu orang, memprioritaskan orang, mengurusi urusan orang, sekalipun orang lainnya tak meminta. 

Rasa syukur muncul saat tak ada penilaian (judgement) pada diri sendiri maupun orang lain.
Rasa syukur tumbuh dari energy kasih (kasih pada diri sendiri, kasih pada orang lain, kasih pada mahluk hidup lainnya, kasih pada bumi, kasih pada alam semesta, kasih pada sang Pencipta yang rasa kasihNya tak terbatas untuk seluruh makhlukNya) yang berkembang menjadi keberlimpahan.
Dan keberlimpahan akan tumbuh menjadi energy yang terus memupuk hal-hal yang disyukuri semakin berkembang, semakin banyak, semakin hebat, semakin berlimpah. 

Ramadhan #21

Saat tak ada masalah dengan bentuk dan keadaan tubuh (kurus, berisi, gemuk, gendut, putih, hitam, belang, mulus, berjerawat, pendek, tinggi, sedang); Saat tak ada masalah dengan pergi dan datang ke tempat asing sendirian; Saat tak bermasalah melakukan aktivitas yang belum pernah di lakukan di tengah-tengah orang yang sudah berpengalaman bahkan lihai; Saat tak perlu validasi dan dukungan siapapun untuk melakukan hal-hal yang disukai, diinginkan; Saat mampu nyaman dengan diri sendiri dimanapun berada baik dengan orang-orang baru maupun sendirian; Saat mampu bahagia dan cukup dengan diri sendiri tanpa perlu mencari sumber dari luar; Saat mampu meregulasi sistem syaraf dan mendapati ketenangan dalam hitungan detik.

Mungkin hal-hal diatas sering dilakukan dan dialami dengan sangat mudah tanpa usaha apapun, terjadi bertahun-tahun, menjadi bagian diri yang jalan secara otomatis, hingga tak sadar bahwa itu adalah sebuah "privilage and power" yang mungkin lupa untuk disyukuri. Karena ternyata di luar sana banyak sekali orang-orang yang tak percaya diri dengan tubuhnya, yang tak berani melakukan sesuatu atau pergi ke suatu tempat jika tak ada teman, yang tak yakin dengan dirinya sendiri, yang selalu butuh orang lain tanpa mengenal kemampuan dirinya sendiri. Hingga semesta mempertemukan dengan orang-orang seperti itu, mengamati sejenak berkotemplasi, dan sadar ternyata hal-hal yang mudah bagi diri belum tentu mudah bagi orang lain. Mungkin dari situ, akhirnya memunculkan rasa terimakasih pada diri sendiri.

Terimakasih telah mampu menerima tubuh seutuhnya,
Terimakasih telah mampu mandiri untuk melakukan sesuatu,
Terimakasih telah mampu percaya diri untuk pergi seorang diri,
Terimakasih telah mampu diandalkan untuk diri sendiri,
Terimakasih telah yakin dan percaya pada diri hingga tak perlu validasi siapapun. 

Ramadhan #20

Rejection: Feeling denied, refused or rebuffed; discarded as useless or unimportant; cast out; unwanted; forsaken.
Rejection tuh gede jg ya efeknya sampe bs leading to u worthy, deppresion, sucide. Sbenernya bukan ttg rejection itu cm info aja kalo kita ga masuk kriteria sesuatu/ preference org, just it. Yg jd masalah, mungkin cara org menginfokannya, dgn diemin, cuekin, ghosting, avoid, ngilang, nge gantungin, ga kasih closure, mixed signal, atau bahkan byk yg gak enak nge reject jd ttp pura2 baik/boong yg efeknya lbh boomerang.

Longing: To have a strong desire or craving; a yearning or pining; aching for; to miss someone or something; to want something you do not have (e.g. She longed for a different life).
Kadang longing sesederhana being heard, hugged, seen, loved. Dan ini bs stay sampe puluhan tahun sampe terpenuhi. Efeknya bs kmn2. Kadang ada org over achieve (akademik, kerjaan, karir, materi) dr emosi longing yg kependem. Longing di hargai misal. Krn wkt kecilnya gak pernah di apresiasi dan sering dikucilkan di lecehkan. Ada jg yg pny addiction (sex, games, shopping, porn, learning, dll) dr emosi ini.

Overjoy: Intense delight or elation which is too overpowering for the body; joy that it is a shock to the system.This one emotion will appear for any and all positive emotions that have become trapped.
Kadang ada kegembiraan2 yg tak bs, tak mampu, tak boleh di expresikan. Layaknya anak kecil menang lomba, saat mau cerita langsung di shut off care giver nya. Sampe jd gak ngerti gmn sih expresiin kegembiraan, dan bs dipake apa aja sih emosi joy berlebihan ini, ngalirinnya gmn. Berakhir stuck di badan dan munculin masalah2 lain. Seperti tanpa sadar body nya jd seneng sama penderitaan untuk mereda dan nutupin overjoy yg trapped di tubuhnya.

Ramadhan #19

Saat fasilitator/ mentor/ terapis/ dokter/ guru/ pemuka/ siapapun yang dianggap hirarkinya lebih tinggi untuk belajar, sadari apakah yg disampaikan masih murni awareness atau sudah masuk ke point of view/ judgement/ dogma nya. Sekalipun kita dalam posisi belajar, sebagai pelajar, pembelajar, never telen mentah-mentah omongan orang. Always crosscheck. And it feels heavy, just trust self.

Ramadhan #18

Mungkin ada orang-orang yang tak sadar dengan ucapan, perkataan, sifat, sikap, dan keputusannya yang ternyata menyiksa, merugikan, mempersulit, dan merusak orang lain sebegitu besar dan dalamnya. Dimana orang yang mengalaminya, tak menuntut apapun, tak dendam, bahkan tak sadar diperlakukan sekeji dan se dzolim itu oleh orang lain. Mereka fokus pada diri sendiri untuk keluar dari keadaan tersebut, untuk menyembuhkan dirinya, dan membangun hidupnya kembali yang telah porak poranda. Dan orang yang melakukannya tak peduli, tak ingat, tak sadar efeknay sejauh dan sebesar apa pada orang lain.

Hingga ada suatu waktu (entah memakan waktu hari, minggu, tahun, belasan tahun, bahkan puluhan tahun), orang-orang tersebut tiba-tiba menghubungi, berusaha mengontak, hanya untuk meminta maaf. Maaf yang tak merubah dan memperbaiki apapun kecuali melepas rasa bersalahanya saat ia mendapati pencerahan dan kesadaran akan kejadian itu. Entah kesadaran yang muncul karena tiba-tiba mengalami hal sejenis, lewat mimpi intense, ataupun hal lainnya secara tiba-tiba. Kesadaran yang bisa jadi sebuah kenikmatan yang semesta kasih karena ada ruang untuk memperbaiki diri sendiri dan tumbuh lebih baik. Jika meomen sadar itu tak pernah di dapat, dan hidupnay berubah menjadi susah, menderita, hilang arah, bahkan penuh kegelisahan tanpa pernah tau sumbernya dari mana, bagaimana keadaannya bisa diubah?

Thursday, March 28, 2024

Ramadhan #17

Orang santun, sopan, ramah, belum tentu baik.
Orang berbuat baik belum tentu juga hatinya baik.
Orang hatinya baik, belum tentu juga ke diri baik.

Satu darah belum tentu mendukung dan menolong.
Satu darah belum tentu senang saat diri senang.
Satu darah belum tentu baik dan menutrisi.

Orang jahat belum tentu selalu jahat.
Orang berbuat jahat belum tentu hatinya jahat.
Orang jahat bentuk tentu akan pasti jahat pada diri.

Orang sayang belum tentu memahami.
Orang sayang belum tentu tak menyakiti.
Orang sayang pada diri belum tentu selamanya.

Satu darah belum tentu mengenal.
Satu darah belum tentu dekat.
Satu darah belum tentu peduli.

Orang asing belum tentu cuek.
Orang asing belum tentu tak baik.
Orang asing belum tentu tak tulus.

Cinta tak selamanya menyenangkan
Cinta tak selamanya menumbuhkan
Cinta tak selamanya mutual.

Semua hal bisa berbeda dan berubah-ubah.
Kadang ada orang baik namun ke diri tidak, 
Kadang ada orang peduli pada temannya, pada satu darah tidak. 
Kadang ada orang jahat pada yang lain, pada pasangannya sangat melindungi.
Kadang ada orang perampok kehidupan orang, pada keluarganya sangat sayang.
Kadang ada orang menolong banyak orang dengan keras, pada turnannya abai.
Kadang ada orang yang sekarang cinta, esok hari mampu menumbalkan diri ini.
Kadang ada orang yang dulunya benci, hari kemudian menjadi sangat mendukung.

Kadang ada orang berbuat baik, terlihat baik, penuh kesantunan, sangat sopan, menghargai orang penuh sapaan, mengapresiasi, ternyata hanya bentuk marketing untuk keuntungan dirinya. 
Kadang ada orang terlihat brutal tak bertatakrama, melontarkan hal-hal jujur tanpa filter, penuh emosi intense yang dianggap marah, ternyata sangat peduli, ingin menolong, tulus, hanya saja caranya tak mampu diterima ego manusia lain yang haus akan penghormatan, lemah lembut, dan sopan santun.
Kadang ada orang diam karena bingung merespon saking pedulinya, ada pula yang diamnya karena tak peduli bahkan tak menganggap diri penting di dunia ini. 
Kadang ada orang menyapa karena peduli, basa basi, sopan santun, menjaga relasi, ada pula hanya sebatas kepentingan pribadi.
Kadang ada orang beterman karena kesepian, tulus, kepentingan diri, untuk bertahan hidup dalam lingkungan baru, untuk mencari dukungan, ada pula sebagai investasi untuk kehiddupan dan bisnisnya. 

Mungkin hidup tak sehitam putih itu. Jikapun hanya ada dua spektrum hitam putih, yang hitam saat ini bisa berubah putih 2 detik kemudian, dan sebaliknya. Yang baik saat ini bisa berubah jahat di kemudian hari, dan sebaliknya. Yang benci saat ini bisa berubah cinta, begitupun sebaliknya. 

Dari itu semua, pada akhirnya di ingatkan untuk selalu mencintai diri, berbuat baik pad adiri, menjaga diri, dan mempercayai diri. Termasuk percaya pada pengalaman yang dialami, percaya pada insting dan intuisi diri akan sesuatu, percaya pada kemampuan diri. Termasuk percaya kapan perlu meninggalkan , menyudahi, memulai, menghampiri, dan berjarak terhadap sesuatu maupun orang. Perlakuan dan niat orang pada diri bisa berubah, maka peganglah diri erat penuh kasih, hingga sekalipun dunia memusuhi, mengingalkan, menyerang, menyakiti, beerkhianat, apapun itu; diri tau masiha da manusia yang sayang, setia, hadir, baik, yaitu diri sendiri. 

Ramadhan #16

Saat diri kenal diri sendiri dan merasa aman,
apapun perkataan orang lain pada diri, tak akan berdampak.
apalagi hingga membuat diri tenggelam jurang dan dalam kegelapan,

Saat diri tau tujuan dan tau apa yang dilakukan,
apapun cibiran, komentar, hambatan yang hadir, 
dilewati layaknya hembusan angin yang tak merubah arah dan mengoyangkan apapun

Saat diri sayang pada diri sendiri dan tau keberhargaan diri,
apapun perbuatan orang dan dunia luar, tak akan membuat dirinya jatuh dan "mati".

Apapun yang datang dari luar, sejatinya milik mereka,
Diri memiliki kuasa untuk apa yang bisa diterima dan tidak.
Diri memiliki kuasa untuk mengizinkan itu semua memberi dampak maupun tidak

Tuesday, March 26, 2024

Ramadhan #15

Bisa jadi saat sesuatu baik untuk diri, semuanya menjadi mudah. Begitupun saat sesuatu kurang baik bahkan buruk untuk diri, Tuhan sudah memberikan petunjuknya dengan segala kesulita selama prosesnya yang sudah muncul dari awal. Mulai dari pekerjaan, pertemanan, pasangan, perjalanan, bisnis, relasi, dan semua hal dalam aspek kehidupan dari hal kecil hingga besar. 

Saat seseorang baik untuk diri, bisa jadi tanpa perlu di cari, dikejar, berusah payah, ia akan hadir dengan sendirinya dalam hidup, prosesnya mudah, semua terjadi secara alami dan mengarahkan ke hal-hal yang terjadi memang baik dampaknya untuk diri di saat bersama maupun efek jangka panjangnya sekalipun sudah tak bersama. Saat sesuatu buruk untuk diri meski logika berfikir baik, perasaan tertarik tersangkut, banyak cara semesta melindungi diri untuk memeprlihatkan bahwa itu bukan hal baik untuk diri dan berpotensi memberikan kerusakan jangka panjang. 

Jadi tak perlu sedih jika ada sesuatu yang hilang, pergi, tertutup; saat diri diabaikan, dibuang, ditolak. Bisa jadi, itu bentuk kasih sayang semesta agar diri terjaga. Karena tahu hal-hal tersebut atau orang-orang itu tidak baik dan buruk untuk diri. Atau sudah tak relevan, berkontribusi, dan selasar dengan diri. Biarka itu terlepas, berlalu, terlupakan. Sehingga diri terus berjalan maju dan akan bertemu dengan hal-hal dan orang-orang baru yang memang pantas, selevel maupun lebih tinggi di setiap tahapannya, dan diri terus bertumbuh dan berkembang dengan baik.  

ÙˆَعَسَÙ‰ Ø£َÙ†ْ تَÙƒْرَÙ‡ُوا Ø´َÙŠْئًا ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø®َÙŠْرٌ Ù„َÙƒُÙ…ْ ÙˆَعَسَÙ‰ Ø£َÙ†ْ تُØ­ِبُّوا Ø´َÙŠْئًا ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø´َرٌّ Ù„َÙƒُÙ…ْ ÙˆَاللَّÙ‡ُ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُ ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ Ù„َا تَعْÙ„َÙ…ُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;  Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).

-------

Ramadhan #14

Bisa jadi saat seseorang marah,  kesel, depresi, atau mengalami permasalahan psikis lainnya, karena ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Ada yang malnutrisi. Kebutuhan akan cinta, pengakuan, pengertian, keterhubungan, konsistensi, sense of belonging, aktualisasi diri, di dengar, dipahami, dll. Sama halnya dengan fisik. Jika fisiks sedang ada yang kurang (tidur, makan, gerak, dll) kemungkinan besar terjadi masalah, mulai dari kurang prima stamina hingga sakit.

Kadang memeunuhi kebutuhan orang lain akan itu, bukan hal sulit. Bisa jadi sesederhana kata "hi", "apa kabar?", "ok". Bahkan ada yang pernah menyelamatkan oranga dari depresi dan bunuh diri hanya dengan kalimat "aku disini ya". Sekalipun tak direspon dan ada tindaklanjut lain, orang merasa dirinya tak sendirian hingga mampu keluar dari struggle depresi dan suicidalnya.

Fenomena kebutuhan manusia dalam relasi dan ranah sosial, topik menarik. 
Semakin aware dan mengikuti awareness, hidup semakin mudah. Kita bisa membantu orang tanpa terbebani, mampu meraih sesuatu yang tak merugikan pihak lain, dll. Mungkin kuncinya adalah dengan menjadi sadar utuh atau being present (tidak terpengaruh emosi orang lain dan sekitar, tidak reaktif, tidak ada asumsi apapun).

Ramadhan #13

 Bisa jadi, keinginan-keinginan kita lah yang menjadi sumber penderitaan itu sendiri.

Seorang istri yang menginginkan suami bertanggung jawab dan menafkahi penuh. Saat suaminya bergaji kecil, tidak kerja, bahkan malas kerja. Maka masalah muncul. Dan penderitaan dimulai saat itu menjadi masalah tapi tidak mau pergi meninggalkannya. Karena ingin merubahnya.

Seorang suami yang menginginkan istri penurut, melayani, pintar. Saat istri pintar, kritis, bekerja, tidak bisa dikendalikan, sudah lelah dengan pekerjaannya sehingga tak melayani dengan sempurna. Maka suami mencari penganti lainnya. Dan ini akan menjadi masalah jika suami mencari pelampiasan keinginannya tanpa mau melepaskan/ menceraikan istrinya.

Seorang ibu yang mengingkan anaknya sesuai keinginannya hingga sang anak keluar dari fitrah dan jati dirinya berakhir tidak bahagia, depresi, kehilangan jiwa dan kehidupannya. Dan ini menjadi masalah saat sang anak ingin membahagiakan orang tuanya dengan menjadi penurut namun lupa merawat dirinya sendiri.

Seorang ayah yang menginginkan anak sesuai keinginannya hingga menyakiti, menghina, menganiaya saat sang anak tidak mampu mengikuti ego nya. Dan ini menjadi masalah di anaknya seumur hidup sampai ia mampu menyembuhkan segala luka batin dan lepa dari segala pengaruh ayahnya.

Seorang anak yang menginginkan orang tua yang mampu memahami, membebaskan, merawat, mendukung seccara emosi, waktu bersama, yang mampu mengayomi. Dan ini menjadi masalah saat sang anak terus mengingkan itu dikala orang tuanya pun tak mampu memberikannya. Entah karena dirinya terlalu sibuk, tidak mampu hadir secara utuh, belum dewasa secara emosi, memiliki gangguan kepribadian, kurang sehat secara mental, sehingga konflik pun muncul dan bsia berkepanjangan. Hingga keluar kata-kata "anak setan", "anak durhaka", "melawan", "hanya bisa menyusahkan" dan akhirnya sang anak tersakiti oleh keinginannya sendiri yang tak mampu ia dapati selain menambah luka dan masalah. 

Kadang keinginan-keinginan terhadap dana dari manusia lain tanpa disadari bertransformasi menjadi ekspetasi dimana menjebak diri dalam dunia utopian yang diciptakan dalam pikiran dan perasaannya sendiri. Hingga diri tak mampu melihat dan menerima kenyataan dan keadaan sebenarnya. Kemudian hal itu berkembang menjadi penghakiman, tuntutan, masalah, dan penderitaan.

Saturday, March 23, 2024

Ramadhan #12

Hanya karena satu orang yang mengabaikan, membuang, meninggalkan, menolak, menganiaya, menyakiti, mengkhianati, memperbudak, merampok, memanfaatkan, merusak, mencampakan, melecehkan, berbuat jahat pada diri; bertahun - tahun fokus terhadap orang itu dikala banyak sekali keberlimpahan yang hadir, orang-orang yang menyayangi, memprioritaskan, menghargai, mencintai, menemani, membantu, mempermudah hidup, peduli, bersikap baik, berbuat baik, yang tak dilihat, disadari, disyukuri. 

Aku meminta maaf pada diriku atas segala kejahatan yang aku lakukan terhadap tubuh, pikiran, jiwa, dan segala aspek kehidupanku; dengan memasukan orang itu, memberikan seluruh energi ku saat itu dengan mengabaikan diri sendiri hingga pada penderitaan yang tak dapat dibayangkan siapapun kecuali orang-orang yang mampu merasakan jiwaku saat itu, menjadikan dia jauh lebih besar dariku dikala ia pun menyedot seluruh energi kehidupanku untuk keuntungan duniawinya bersama orang yang "membunuhku" dengan segala kiriminan energi mematikan. 

Hingga akhirnya sadar,
Ternyata aku lupa untuk berterimakasih pada diri sendiri. 
Terimakasih telah berjuang keluar dari sana, 
Terimakasih telah meminta pertolongan, 
Terimakasih telah menerima kebaikan orang,
Terimakasih telah memaafkan diri sendiri, 
Terimakasih telah mampu berbuat baik pada diri, 
Terimakasih telah bertanggung jawab pada diri sendiri, 
Terimakasih untuk akhirnya sadar, memilih diri, dan berubah. 

Dan berterimakasih terhadap segala yang hadir selama ini.
Terimakasih untuk yang telah memberi peringatan,
Terimakasih untuk yang menemani dalam kegelapan saat itu,
Terimakasih untuk yang membantu melepaskan dan membersihkan
Terimakasih untuk yang selalu hadir memperjuangkan dan mencintaiku,
Terimakasih untuk yang mampu menerimaku dan mengingatkan,
Terimakasih untuk yang hadir tanpa penilaian apapun saat itu,
Terimakasih untuk yang menjaga dan melindungi. 

Semoga senantiasa Allah memberikan segala kemudahan dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Semoga segalanya sekecil apapun diberikan balasan kebaikan olehNya.

Ramadhan #10

Berhenti sebentar untuk membeli makanan, tak ada tukang parkir, hanya sekian menit, dan pengemudi tetap di dalam kendaraan. Saat melaju melanjutkan perjalanan, ada tukang parkir meminta biaya. Saat itu tak ada uang hanya recehan koin. Lalu diberikan pada bapak-bapak tersebut, dimana ia tidak menerima, marah, hingga memukul kendaraan yang bukan miliknya. Hingga terbesit, tak ada aturan perlu membayar parkir di area itu, tak ada petugas yang hadir saat datang, tak ada yang memarkirkan, dan tak ada aturan biaya parkir berapa untuk sekian menit. 

Kemudian berhenti kembali di tempat lain untuk membeli sesuatu, tak lama, hanya sekian menit, dan ada yang menunggu di kendaraan. Karena sudah memiliki uang pecahan dalam bentuk kertas, maka kita memberi pada tukang parkir yang memang datang untuk memarkirkan pulang. Mas-mas ini berucap "terimakasih" dengan penuh suka cita dan rasa syukur. Sangat berbeda dengan yang sebelumnya, meski jumlah uang yang diberikan sama. 

Lalu terjadilah perenungan, bisa jadi saat memiliki ekspetasi mendapatkan bayar sekian dengan mental seolah-olah orang lain bertanggung jawab akan hidupnya, saat diberi yang tak memenuhi ekspetasi, akan mmebuat diri jauh dari rasa syukur. Lain halnya sata diri tak memiliki ekspetasi akan dibayar atau tidak, dibayar berapa, melakukan pekerjaan dengan santai, saat orang memberi berapapun nominalnya, maka memunculkan rasa senang dan bersyukur.

Dari kejadian sederhana diatas, memunculkan perenungan lain,
seberapa sering diri berekspetasi hingga tak mampu bersyukur atas segala berkah yang hadir?

Ramadhan #11

Saat kita mampu menyelami jiwa setiap manusia hingga kedalam. Maka kita akan mampu memperlakukan setiap orang dengan penuh compassion termasuk terhadap orang yang tak dikenal maupun yang pernah menyakiti dan menghacurkan diri separah-parahnya.