Thursday, February 19, 2026
Jodoh
Friday, December 5, 2025
5/12/2025
Beberapa hari ini buka threads, muncul postingan tentang kontra LPDP untuk semua. Ada yang menganggap anak orang kaya tidak layak untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Padahal beasiswa mengejar kualitas juga, tidak sebatas kurang mampu atau miskin. Stop minta privillage bantuan dan kemudahan biaya karena miskin. Selama diri berkualitas, mau miskin ya jalan selalu ada. Tidak akan pernah takut tersaingi oleh orang yang dianggap kaya dna jauh lebih mampu. Disini kompetisi kualitas personal, bukan jual inferiority "miskin berhak dapat beasiswa, anak orang kaya tidak berhak". Heyyyy anak orang kaya itu yang kaya orang tua nya, sama aja yang miskin itu orang tuannya jg. Secara individu ya mereka sama, tidak ada masalah jika diadu kualifikasinya.
*disclaimer, bukan anak lpdp atau anak orang kaya.
Jaman sekolah 1990-2000an, itu ada sekolah unggulan yang isinya benar-benar tersaring. Saya pengejar lingkungan, berambisi sekali masuk sekolah bagus biar punya lingkungan baik (kompetitif, pinter-pinter, fair, dan sehat). SD masuk sekolahan yang dianggap bagus di tempat itu, saat masuk SMP unggulan,a da yang tanya "kamu dr SD mana", saat saya jawab SD X, komen orang-orang "wah itu sekolah anak orang kaya smeua ya". Disitu mendadak sadar, iya juga ya, teman-teman sayang dari keluarga yang sangat mampu. teringat jaman hip suatu sepatu, saya merenggek ke ortu minat dibellin. Ortu komen "itu harga sepatu sebesar gaji satu bulan ibu". Tapi saya bisa bertahan di sekolah itu karena secara otak, kemampuan, kualitas diri baik, dan mampu bergaul dengan baik juga, tidak merasa inferior atau harus ngikutin demi bisa diterima. Karena fokusnya ke pengembangan diri.
Saturday, May 4, 2024
Just Wondering,
Thursday, October 19, 2023
Fantasi
Monday, November 23, 2020
Giver or Taker?
Menolong orang adalah hal yang bisa dilakukan semua orang yang memiliki kemampuan untuk menolongnya dan setiap orang punya hal yang bisa ia lakukan untuk menolong orang. Menolong rasanya membahagiakan, bahagia saat melihat orang lain bisa keluar dari masalahnya, bis ajuga bahagia karena self esteem naik dan feeling good about self.
Aktivitasnya sama (menolong), jenis manusia yang melakukannya beda.
1. Tipe altruism (giver)
2. Tipe egois (taker).
Tipe altruism. giver, dia menolong murni untuk kebaikan orang yang ditolongnya, terlepas orang yeng menolongnya tau terimakasih ataupun tidak. Fokusnya untuk kebaikan orang lain, bukan untuk dirinya. Lain halnya dengan tipe egois/taker, ia menolong orang untuk kepentingan dirinya bahkan mengambil manfaat dari orang lain. Misal, ada seorang nolong orang yang kesulitan agar dirinya merasa hebat, superior, self esteem nya naik, dan ngambil manfaat dari keadaan orang yg sulit dengan bikin orang tersebut berterimakasih, memuja muji dirinya, bahkan jadi "dependable" dmn akhirnya ia merasa punya kontrol terhadap orang yang ditolongnya. Kalau yang altruism, dia nolong ya nolong aja bahkan bikin orang yang ditolongnya independent bisa menolong dirinya sendiri, krn motivasinya adalah untuk kebaikan orang yang ditolongnya bukan untuk kepuasan dirinya semata.
Aktivitasnya sama, motivasinya beda.
Yang bahaya itu kalau ketemu orang narsistic personality disorder, psikopat, sosiopath, yang kadang mencari mangsa orang2 yg lagi susah, fragile, dan sejenisnya. Datang sebagai orang yang bisa menolong dan baik, kenyataannya hanya eksploitasi orang, hanya jadiin orang objek agar dirinya dapat puja puji, jahat2nya bikin orangjd tergantung sama dirinya dan akhirnya dia bs seenak udel mainin orang kaya boneka. Krn tujuan nolongnya adalah untuk mendapati pujian dan kontrol. Dia gak peduli sama keadaan orang yang ditolongnya. Lalu saat ia tidak mendapati apa yang diinginkan dari "korbannya", orang itu dibuang gitu aja tanpa closure, dignity, dan fair. Lain halnya kalau orang nolong dengan motivasi altruism, ia akan tulus. Kalaupun ada orang yg ditolongnya menyalahpahami dirinya dengan nuduh ini itu, orang ini gak akan bereaksi, karena tujuan dia menolong orang murni bukan untuk pride dan keegoisan pribadi lainnya. Jika ketrlaluan, orang ini akan menyampaikan boundariesnya dengan fair dan ada closure.
Taker and Giver.
Karena tidak semua orang berlaku baik aslinya baik.
Thursday, October 15, 2020
Perempuan
Saat seorang perempuan tau nilai dirinya, tau value nya, ada prinsip yang dipegang, tau apa yang diinginkannya, tau apa tujuan hidupnya, hidup dalam dunia yang ia ciptakan.
Maka, tidak akan ada rasa tak aman terhadap bentuk tubuh, tak akan merasa tak berharga selaput dara tak ada, tak akan merasa rendah hanya karena "perempuan", tak akan merasa tak laku karena belum menikah, tak akan kesepian saat sendirian dan tak ada tempat bergantung, tak akan ada persaingan terhadap sesama untuk menutupi insecurities.
Know yourself, your value.
Sunday, September 13, 2020
Struggle
Terimakasih untuk para ayah yang struggle bekerja keras demi keluarga.
Terimakasih untuk para ibu yang struggle maninggalkan anak demi memenuhi kebutuhan hidip.
Terimakasih untuk para bayi dan anak yang struggle kesepian bersama pembantu.
Terimakasih untuk para pembantu yang struggle meninggalkan keluarga demi untuk bertahan hidup.
Terimakasih. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya.
Jika bisa memilih, para ayah tak akan rela istrinya ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Jika bisa memilih, para ibu diam di rumah menemani anaknya dengan cinta yang hadir utuh bersama fisik.
Jika bisa memilih, para anak ingin bersama ayah ibunya, ibu hadir dlm kesehariannya dan ayah yang hadir sebelum dirinya terlelap tidur malam.
Jika bisa memilih, para pembantu tak akan merantau jauh meninggalkan keluarga demi bertahan hidup.
Kadang ada hal-hal yang tak bisa dipilih, diri hanya menjalani sebaik mungkin keputusan terbaik dari keadaan saat itu.
Dan dari setiap keputusan selalu ada yang dikorbankan sekalipun pengorbanan yang dilakukan untuk tujuan yang baik. Semua pihak struggle dalam setiap perannya.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesulitan hidup.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesedihan mendalam.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam kesepian jiwa.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap perjuangan.
Tuesday, September 8, 2020
Value
Setiap orang, normalnya memiliki value-value dalam hidupnya.
Value yang membuat diri tau arah tujuan, batasan, dan menghargai diri sendiri. Saat value yang dipilih dalam hidup untuk jadi pegangan, di junjung tinggi penuh disiplin, maka apapun yang orang katakan tidak akan membuat diri goyah. Karena diri tau dimana diri berdiri.
Value mampu membuat self esteem dan sense of self terjaga, misal: diri tau siapa Tuhannya, punya konsep spiritual yang ia pahami dan yakin dari dasar hati bukan atas dogma. Saat ada orang bilang munafik, bisa bodo amat. Gak peduli dan terpengaruh dengan label-label sosial, karena yg diri pegang dr sebuah agama adalah esensi spiritual bukan identitas, dan ada nilai yang dijunjung tinggi.
Memegang value, salah satu yang membentuk integritas diri. Misal punya value kejujuran dan bermain adil. Dan value ini teraplikasikan dari hal sesederhana ujian bikin SIM meski gagal berkali-kali cm krn hal sepele dan ditawari jalur belakang sama petugas, diri menolak dan tetap pada prinsip yg dipegang hingga ia berhasil mendapatkan SIM dengan cara jujur.
Pada akhirnya, value atau bahasa lainnya dikenal sebagai prinsip, membentuk karakter diri dan sense of self. Saat karakter kuat, orang gak akan "sembarangan" memperlakukan diri karena diri sudah mampu menghargai diri sendiri.
So, pilihlah 5 value penting dalam hidup yang dijunjung tinggi dan menjadi patokan standard dari semua hal yang dilakukan dan di pilih.
Value ini gak bisa nyontek orang lain, harus diri sendiri yang nyari dan bikin.
Monday, August 24, 2020
Perpanjangan
*ini cerita kisah, bukan ngomongin orang. Focus on value, moral, and insight ya.
Beberapa tahun lalu, di perjalanan pulang dari tempat kerja, ada berita uwa meninggal. Sontak rasa sedh melanda dan langsung menayakan alamat lengkap untuk langsung pergi ke rumahnya naik gocar. Setelah dipikir, lebih baik pulang ke rumah nenek dulu dan berangkat bareng dengan orang rumah. Nenek sudah berangkat duluan, dan di rumah masih banyak orang yang pergi masing-masing.
Singkat cerita sampai lah di rumah uwa. Sanak saudara menanyakan kemana ibu, saya bilang sedang di Thailand dari kantornya. Lalu beberapa om dan uwa berkomentar "teteh disuruh ibu ya kesini", "teteh ngewakilin ibu ya", dan kalimat-kalimat sejenis. Sampai di titik, kenapa saya dilihat sebagai perpanjangan dan wakil orang tua? Kenapa mereka gak melihat saya sebagai keponakan yang memang datang atas keinginan sendiri karena kepedulian dan rasa kasih terhadap uwa? Kenapa saya dikait-kaitan dengan orang tua? Apa pentingnya jg ibu menyuruh saya mewakili dirinya, memang menghadiri kematian sanak saudara itu diabsen layaknya meeting kantor yang butuh perwakilan saat yang bertugas tak dapat hadir?
Selama di rumah tersebut, saya memperhatikan, setiap orang sibuk dengan orang-orang yang dianggap "penting", seperti para orang tua, saudara berumur, tetangga, rekan kerja. dan para sepupuh pun bareng sama keluarga intinya masing-masing. Disitu saya merasa sendirian banget, bener-bener sendirian. Kemudian, saat shalat jenazah, cuma satu saudara yang gak memetingkan keluarga intinya aja, dia menyapa "sini, disini aja shalatnya" sebelahnya, dikala saya tersisih hingga barisan terbelakang sesendirian.
Hari semakin malam, bingung mau pulangnya gimana. Akhirnya saya pulang bersama istri om, nebeng gocar sepupuh. Itu pun turunnya di pinggir jalan terus lanjut nyebrang dan jalan kaki sampai rumah. Sampai rumah, saya merenung "gini ya saat datang ke acara keluarga tanpa orang tua alias sendirian, ya hasilnya sesendirian meski dikelilingin orang-orang satu darah. Mereka melihat saya sebagai anak ibu, bukan sebagai keponakan layak anaknya sendiri, bukan sebagai sepupuh yang dianggap kakak/adiknya sendiri". Dan realita kenyataan tersebut saya terima.
Sebelumnya, ada beberapa kejadian sejenis. Kalau diperhatiin, kadang ada orang2 menolong/ nganterin/ nengok karena takut dianggap ini itu, dengan kata lain motivasi bukan dari gerak hati spontannya. Hal kedua yang diamati yang sering terjadi adalah kalau ada yang bermasalah pasti sekeluarga ikut-ikutan/ kebawa-bawa. Misal ortu bermasalah, anaknya ikut2an musuhin orang yang dianggap musuh ibunya. Anak bermasalah, ortunya belain dengan ikut2an musuhin orang yang dianggap menganggu wellbeing anaknya.
Tuesday, August 4, 2020
Trauma
Tuesday, April 7, 2020
Jembatan
yang menghantarkan adam pada hawa nya,
yang menghantarkan gelap pada terangnya.
Jika memang peranku sebagai jembatan,
apa yang kudapatkan dari itu semua?
Jika kebutuhanku saja tak ada yang terpenuhi.
Apkah itu adil, Tuhan?
Atau aku nya saja yang bodoh
tak memanfaatkan peran jembatan
untuk menghasilkan keuntungan diri sendiri?
Jembatan menghantarkan orang pada tujuannya,
lalu apa yang bisa jembatan lakukan untuk dirinya?
Thursday, September 26, 2019
Baba
26/9/19
Saturday, September 21, 2019
Untuk ibu dan perempuan.
- fisik (makan,minum,tidur,olahraga, pakaian, tempat tinggal)
- Emosional (perasaan dicintai, dipahami, diterima, disayang, di dukung, ditemani). Ini di dapat lewat komunikasi hati ke hati, dipahami, diterima baik buruknya tanpa selalu menyalahkan, membandingkan, me reject, menekan, menuntut. Sesederhana menanyakan “td di sekolah ngapain aja?”, “temen kamu skrg siapa?”, “kamu sedih kenapa?”. EMPATI.
- Spiritual. Bukan sekedar disuruh solat, ngaji, pake hijab, puasa. Diberikan awareness iman yg baik, diajarkan untuk menjadi lbh tenang dan dewasa, diberikan wisdom2 kehidupan sebagai bekalnya nanti.
- Intelektual. Ini pentingnya perempuan harus cerdas dan punya mental belajar untuk terus belajar. Anak gak cukup disekolahin, harus mampu jadi teman diskusinya, teman menjawab pertanyaannya sampai tuntas secara holistic (scientific, humanitarian, dan agama). Diarahkan pola pikirnya ke hal2 konstruktif, menjadi mentor kehidupannya.