Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

Thursday, February 19, 2026

Jodoh

Banyak sekali utas perempuan maupun laki-laki tentang relasi. Perempuan yang ingin hidup mewah secara instant, laki-laki yang pemalas tanpa usaha, perempuan yang meminta sesuatu yang dianggap terlalu tinggi oleh laki-laki. Tentang harta, nafkah, perawan, value yang dinilai sebagai alat tukar dalam relasi. Menariknya tanpa sadar polanya jadi saling menuntut, membandingkan, untung rugi, dan menilai, tanpa ada ruang kontemplatif ke dalam diri sendiri tanpa berisik. 

In deep down, I believe jodoh itu cerminan diri. Cerminan luka yang sama-sama belum sembuh, cerminan fragile ego, cerminan fixed mindset, cerminan pattern, cerminan vibrasi diri, cerminan apa yang terjadi di dalam diri. Saat kita tau kualitas diri, kita tidak akan berisik mengumumkan value diri dan pasangan seperti apa yang pantas, alais cukup disimpan di diri snediri dan dilakukan. Saat ada yang hadir yang secara logika tidak memenuhi ego; justru itu jadi ajang refleksi evaluasi diri to improve. Karena saat vibrasinya sudah berbeda, akan terpisah sendiri. Misal ketemu pasangan yang suka abuse, bohong, mengkhianati diri, mengabaikan; bisa jadi kita melakukan itu juga ke diri sendiri sehingga menarik pasangan seperti itu. Saat diri sadar, ambil pelajarannya, dan evolve dengan belajar mencintai diri, percaya terhdap diri sendiri, prioritasin diri, taking care diri dengan baik. Maka orang yang hadir dalam hidup pun berubah, termasuk pasangan. Datang orang-orang yang sangat menghargai, nurturing, taking care kita dengan baik. 

Untuk waktu, bisa jadi sudah ada ketetapannya.
Yang bisa kita lakukan antara menjalani, menerima, dan berusaha akselerasi.

Personally, I dont have any insecurity about jodoh. 
Bisa jadi ada faktor sudha kenal diri sendiri, anteng sama diri sendiri, relasi yang baik dengan laki-laki disekitar sejak kecil (ayah, adik, kakek, om, pakde, sepupuh).

Untuk perempuan, yang mungkin stress atau ada insecurity ttg jodoh, bisa digali relasi dengan ayah dari kecil sampai dewasa bagaimana? apakah dekat secara emosi, apakah akrab, apakah dapat empati dr ayah, apakah ayah hadir dalam hidup dan kehidupanmu, dll. Biasanya kalau relasi dengan ayah baik, perempuan itu kehidupan sekolah, pekerjaannya baik. Termasuk rasa aman dengan lawan jenis. 

Friday, December 5, 2025

5/12/2025

Beberapa hari ini buka threads, muncul postingan tentang kontra LPDP untuk semua. Ada yang menganggap anak orang kaya tidak layak untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Padahal beasiswa mengejar kualitas juga, tidak sebatas kurang mampu atau miskin. Stop minta privillage bantuan dan kemudahan biaya karena miskin. Selama diri berkualitas, mau miskin ya jalan selalu ada. Tidak akan pernah takut tersaingi oleh orang yang dianggap kaya dna jauh lebih mampu. Disini kompetisi kualitas personal, bukan jual inferiority "miskin berhak dapat beasiswa, anak orang kaya tidak berhak". Heyyyy anak orang kaya itu yang kaya orang tua nya, sama aja yang miskin itu orang tuannya jg. Secara individu ya mereka sama, tidak ada masalah jika diadu kualifikasinya. 

*disclaimer, bukan anak lpdp atau anak orang kaya.

Sedikit cerita, 
Jaman sekolah 1990-2000an, itu ada sekolah unggulan yang isinya benar-benar tersaring. Saya pengejar lingkungan, berambisi sekali masuk sekolah bagus biar punya lingkungan baik (kompetitif, pinter-pinter, fair, dan sehat). SD masuk sekolahan yang dianggap bagus di tempat itu, saat masuk SMP unggulan,a da yang tanya "kamu dr SD mana", saat saya jawab SD X, komen orang-orang "wah itu sekolah anak orang kaya smeua ya". Disitu mendadak sadar, iya juga ya, teman-teman sayang dari keluarga yang sangat mampu. teringat jaman hip suatu sepatu, saya merenggek ke ortu minat dibellin. Ortu komen "itu harga sepatu sebesar gaji satu bulan ibu". Tapi saya bisa bertahan di sekolah itu karena secara otak, kemampuan, kualitas diri baik, dan mampu bergaul dengan baik juga, tidak merasa inferior atau harus ngikutin demi bisa diterima. Karena fokusnya ke pengembangan diri.

di SMP dan SMA yang dianggap bagus, lingkungan lebih heterogen dan tetap memiliki satu kesamaan. Saya tumbuh cukup baik dan ter nurturing selama sekolah. Karena filter yang baik akan menjaga kualitas orangnya yang masuk, sehingga lingkungan pun terjaga. Saat kuliah masuk ITB, saya sangat bersyukur sekali (rasa syukur muncul justru setelah belasan tahun lulus). ITB memberikan ruang belajar, tumbuh, dan pengembangan diri yangs angat baik, aman, dan sehat (personally). Saya bisa bergaul dengan beragam jenis orang (suku, etnis, latarbelakang keluarga, level sosial ekonomi, dll) dan itu membuka perspektif tersendiri; ITB tidak membungkam dan mengecilkan, sifat kritis saya terfasilitasi dengan baik disana; dan beruntung masuk ke kelas yang telat 3 menit kerjana 1 semester kita dibuang dan ngulang 1 tahun, sifat komitmen akan waktu dna displin saya dihargai disana. Ya pengalaman orangs ekolah akan berbeda tergantung personality nya masing-masing, tidak bisa di generalisir. 

Bersyukur sekali dengan sistem pendiidkan di masa itu yang sangat menyaring siswa dan mahasiswnaya berdasarkan kualitas, bersyukur pernah sekolah di lingkungan yang memacu pertumbuhan dan baik. Terimakasih.

Bayangkan sekarang, sekolah bisa bebas diakses siapa saja hanya dengan syarat lokasi tempat tinggal (radius KM). Terlalu banyak keberagaman, range nya pun terlalu jauh. Pengalaman jadi sisten dosen di ITB, ngajarin anak-anaknya lebih mudah dan senneg melihat orang tumbuh karen amereka sekolah karena keinginnnya dna punya motivasi tinggi. Saat menjadi dosen di bbrp kampus swasta apalagi yang baru, itu ada anak yang pinter, bisa, bahkan banyak juga yang dibawah rata-rata, mengajarnya pun sulit dan tidak bisa sekeras di PTN. Dan tidak sedikti dari mereka kesadaran dan motivasi kuliahnya hanya sekedar menjalankan kehidupan, disuruh ortu, dan ya sekolah saja. (tidak mengeneralisir ya).

Dan saat bekerja, terasa sekali bedanya.
Ohya, nasib orang setelah lulus berbeda-beda, banyak variable. Dari mulai keadaan ekonomi, keluarga, perputaran hidup, masalah personal, ya benar-benar nasib. Karena bekerja tidak hanya butuh kualitas diri, ada peran opportunity dan jalan hidup juga. Lanjut bahas kantor. Nah saat bekerja karena himpitan uang; semua idealisme, standard ideal dilepas. Masuk kantor yang isinya orang-orang dari kampus-kampus yang gatau dimana dan baru denger. Dan itu budaya yang tercipta jadi sebatas for surive. Tidak ada diskusi intelektual, tidak ada jiwa-jiwa kritis dan haus akan perubahan, tidak ada motivasi tinggi to achieve more dan tumbuh, bahkan banyak yang hanya peduli sama diri sendiri even di level manager/ team leader. Belum lagi sistem dan lingkungannya sangat mematikan jiwa, menahan pertumbuhan, merusak integritas, dan sangat manipulatif abusif. Jauh dari rasa kepedulian terhadap sesama, nurturing, encourage others, growth. Pada akhirnya yang waras dan sehat yang resign. Dan orang-orangs eperti itu terbentuk sudah dari kecilnya, masa sekolahnya, lingkungan rumah, tumbuh, sekolah, dan pergaulannya. 

Jadi lingkungan sangat penting...
Menjaga kualitas orang-orang dalam suatu ekosistem pun penting.
Apalagi buat orang-orang kaya air yang sangat absorbing, seperti cermin yang memantulkan tempat ia berada. Adaptasi bukan berarti harus menjadi sama dan mengecilkan atau "mematikan" diri hanya untuk diterima dan memiliki pola yang sama. 

Saturday, May 4, 2024

Just Wondering,

Just wondering,
Do men marry truly out of love for their partner, or is it merely for their personal needs? (the need for a field of worship, the need for biological intimacy and sexual relations, the need and desire to marry and have children)?

Is the woman they marry truly the one they love wholeheartedly? Or is she someone considered suitable to take care of him, according to his financial budget, capable of accompanying his vision, capable of fulfilling his needs (biological/financial/social/etc.)?

For women married to someone they love and sleep with, is it the same person and only one? Or can they marry without any feelings, sleep together without any feelings, have a household only as a social duty, and still have other secret lovers who are never revealed and never married?

Do men marry purely out of love, wanting to nurture and care? Or is it all actually done for themselves? to avoid loneliness, to have someone to care for and watch over them again?

Is the love given, the affection poured out, purely for others? Or is it merely to fulfill their own need to love and care for others?

If everything is a choice, merely for fulfilling needs, and done for self-interest. Then what kind of woman is truly worthy and capable of accompanying without ever feeling hurt, betrayed, unbound, and still clear-minded?

Thursday, October 19, 2023

Fantasi

Dunia Dalam Imajinasi, Menjual Mimpi, Meraup Untung.

Buku, film, serial, sinetron, cerita, sebuah komoditas bisnis dalam ranah menjual mimpi, mengisi kekosangan, kabur dari ketakutan, menutup mata dari realita diri. Dari kisah yang dibagikan, dikonsumsi, para penikmat (pembaca, penonton, pendengar) bebas mengembangkan imajinasinya masing-masing berdasarkan ekspetasi, proyeksi, hasrat, kebutuhan, fantasi, ilusi, delusi, dan kecanduannya. Sinetron orang susah mendadak kaya raya, menjual mimpi hasrat orang-orang yang ingin hidupnya berubah drastis. Adengan film yang memperlihatkan keluarga ideal, paras indah, harta berlimpah, mobil bagus, pasangan sempuran, menjual utopian ideal akan kehidupan yang bisa jadi tidak ada di dunia nyata ini. Cerita buku yang mengambarkan persahabatan abadi yang penuh kasih dan kesetiaan, memberika pandangan akan sebuah persahabatan seperti itu. Sekelipun di dunia nyata, banyak kemungkinan yang bisa terjadi atau bahkan terjadi, seperti pengkhianatan, manipulasi, dibohongi, dimanfaatkan, bahkan hanya digunakan sebagai kebutuhan untuk menaikan status sosial, pendukung karir dan bisnis. Tak sedikit yang berinvestasi pertemanan untuk kemudahan bisnis yang orientasinya keuntungan secara finansial. Kisah audio tentang kesedihan, tanpa sadar bisa membangkitkan imajinasi, adanya orang senasib, yang memahami, mengerti, atau malah mendramatisir keadaan nyata yang terjadi. Jika tidak berada dalam kondisi hadir utuh saat ini, menyadari mana dunia nyata dan bukan, hal tersebut bisa menyeret seseorang masuk ke dalam fantasi, ilusi, delusi, hingga obsesi. 

Selain komoditas diatas, perkembangn teknologi memberikan ruang kreasi yang lebih luas dalam ranah penjualan imajinasi. Dari mulai jasa VCS (video call sex), phonesex, teman curhat, teman ngobrol, teman bincang sebelum tidur, hingga jasa menemani sebagai pacar virtual dalam bentuk chat maupun telepon hanya dengan beberapa sentuhaan klik. Untuk jasa yang produknya berbentuk suara dan wajah, para pekerja tetap merasa aman akan indentitasnya sehingga tidak mempengaruhi kehidupan sehari-harinya dan orang-orang terdekatnya. 

Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain, rasa keterhubungan, dan intimasi. Tak lain salah satu antisipasi dari kesepian dan depresi, atau justru cara untuk keluar dari itu semua. Manusia memiliki kebutuhan untuk di dengar, berbicara, mendengar, bercerita, hubungan berkelanjutan, ditemani, menemani, dipahami, diterima, dan ruang berekspresi. Termasuk kebutuhan akan keterhubungan satu sama lain secara emosi, pikiran, fisik, spiritual. 

Untuk phonesex dan VCS (Video Call Sex), selain untuk membantu dalam penyaluran birahi lewat mastrubasi ditemani orang secara nyata lewat suara nyata maupun visual untuk membangkitkan imajinasi kesenangan. Jika dipikir, untuk apa VCS? bisa saja ditemani video porno atau film semi, namun jasa ini masih sangat marak. Bisa jadi orang ingin adanya hal nyata di waktu yang sama dengan orang yang memang benaran melakukan itu di tempat lain yang terhubung lewat video call, dengan kata lain orangnya benar ada. Selain itu mungkin bisa dipilih sesuai selera, sesuai permintaan, preferensi, dan hal lainnya yang lebih memuaskan. Tarifnya pun ternyata sangat terjangkau dibanding menggunakan jasa nyata secara fisik yang saling bertemu. Dari 2 jenis layanan yang menjajakan pemenuhan kebutuhan biologis sebagai pelepas birahi, stress, ataupun sebuah kecanduan, yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri hanay dengan menggunakan imajinasi tanpa perlu stimuli dari orang lain dan membayar. Hal ini memperlihatkan adanya bergama faktor, entah kemampuan imajinasi orang yang berbeda-beda atau hal lainnya: ada yang kuat dan mampu sendiri; ada yang butuh di stimuli langsung secara visual, suara, ataupun keduanya; ada yang butuh ditemani secara nyata selama prosesnya, ketakutan zina jika dilakukan langsung, masalah biaya, rasa kesepian yang begitu pekat, dan perhitungan lainnya. Itu semua yang dijual adalah imajinasi, fantasi, ilusi, delusi. Karena pembeli jasa tak kenal apapun secara nyata dengan memberikan jasa. Mereka bebas membangun kisah, imajinasi, cerita yang saling dikembangkan untuk tujuan kepuasan diri. Dari mata dan telingga, di proses di kepala, terealisasikan lewat tubuh dan genital. 

Untuk teman ngobrol, teman bicara, teman curhat. Sekilas terkesan miris, masa iya ada orang yang sesedih itu, se kesepian itu, sesendirian itu. Realitanya ada, dan banyak. Jikapun ada yang memiliki teman, belum tentu temannya bisa diajak ngobrol, curhat, bicara di momen yang sangat dibutuhkan. Jikapun ada, belum tentu bisa menemani sesuai kebutuhan, karena teman memiliki prioritas dan urusan lainnya. Apalagi saat usia sudah 20 tahun ke atas, dimana secara psikososial dalam tahap membangun intimasi, merantau sendirian ke tempat asing, teman-temas sudah berpasangan, waktu dan biaya bersosialisasi kurang, tahapan psikososial tersebut menjadi sangat berat. Sehingga kebutuhan akan layanan ini pun semakin meningkat, apalagi bayar, setidaknya orang yang dibayar punya tujuan memuaskan dan menyenangkan pembeli. Kalau ngobrol dengan orang lain secara nyata, mereka tidak ada tanggung jawab itu, mereka bisa respon susak hatinya, dan belum tentu responnya baik, bisa jadi malah jadi debat, konflik, atau pengalaman tak menyenangkan hati. Ya teman ngobrol ini sebenarnya sudah ada dari lama. Di tahun 90an ada sahabat pena, lewat internert ada MIRC, kemudian 2000an ada yahoo messanger yang populer. Orang bisa terhubung dengan siapa aja, mengobrol, bercerita, curhat, dan dua arah. Bedanya kita terhubung secara alami karena tidak ada yang dibayar dan membayar. 

Jasa-jasa tersebut dianggap aman, jika dibandingkan dengan aplikasi kencan. 

Monday, November 23, 2020

Giver or Taker?

Menolong orang adalah hal yang bisa dilakukan semua orang yang memiliki kemampuan untuk menolongnya dan setiap orang punya hal yang bisa ia lakukan untuk menolong orang. Menolong rasanya membahagiakan, bahagia saat melihat orang lain bisa keluar dari masalahnya, bis ajuga bahagia karena self esteem naik dan feeling good about self. 

Aktivitasnya sama (menolong), jenis manusia yang melakukannya beda.

1. Tipe altruism (giver)

2. Tipe egois (taker).

Tipe altruism. giver, dia menolong murni untuk kebaikan orang yang ditolongnya, terlepas orang yeng menolongnya tau terimakasih ataupun tidak. Fokusnya untuk kebaikan orang lain, bukan untuk dirinya. Lain halnya dengan tipe egois/taker, ia menolong orang untuk kepentingan dirinya bahkan mengambil manfaat dari orang lain. Misal, ada seorang nolong orang yang kesulitan agar dirinya merasa hebat, superior, self esteem nya naik, dan ngambil manfaat dari keadaan orang yg sulit dengan bikin orang tersebut berterimakasih, memuja muji dirinya, bahkan jadi "dependable" dmn akhirnya ia merasa punya kontrol terhadap orang yang ditolongnya. Kalau yang altruism, dia nolong ya nolong aja bahkan bikin orang yang ditolongnya independent bisa menolong dirinya sendiri, krn motivasinya adalah untuk kebaikan orang yang ditolongnya bukan untuk kepuasan dirinya semata.

Aktivitasnya sama, motivasinya beda.

Yang bahaya itu kalau ketemu orang narsistic personality disorder, psikopat, sosiopath, yang kadang mencari mangsa orang2 yg lagi susah, fragile, dan sejenisnya. Datang sebagai orang yang bisa menolong dan baik, kenyataannya hanya eksploitasi orang, hanya jadiin orang objek agar dirinya dapat puja puji, jahat2nya bikin orangjd tergantung sama dirinya dan akhirnya dia bs seenak udel mainin orang kaya boneka. Krn tujuan nolongnya adalah untuk mendapati pujian dan kontrol. Dia gak peduli sama keadaan orang yang ditolongnya. Lalu saat ia tidak mendapati apa yang diinginkan dari "korbannya", orang itu dibuang gitu aja tanpa closure, dignity, dan fair. Lain halnya kalau orang nolong dengan motivasi altruism, ia akan tulus. Kalaupun ada orang yg ditolongnya menyalahpahami dirinya dengan nuduh ini itu, orang ini gak akan bereaksi, karena tujuan dia menolong orang murni bukan untuk pride dan keegoisan pribadi lainnya. Jika ketrlaluan, orang ini akan menyampaikan boundariesnya dengan fair dan ada closure. 

Taker and Giver.

Karena tidak semua orang berlaku baik aslinya baik. 


Thursday, October 15, 2020

Perempuan

Saat seorang perempuan tau nilai dirinya, tau value nya, ada prinsip yang dipegang, tau apa yang diinginkannya, tau apa tujuan hidupnya, hidup dalam dunia yang ia ciptakan.

Maka, tidak akan ada rasa tak aman terhadap bentuk tubuh, tak akan merasa tak berharga selaput dara tak ada, tak akan merasa rendah hanya karena "perempuan", tak akan merasa tak laku karena belum menikah, tak akan kesepian saat sendirian dan tak ada tempat bergantung, tak akan ada persaingan terhadap sesama untuk menutupi insecurities.

Know yourself, your value.


Sunday, September 13, 2020

Struggle

Terimakasih untuk para ayah yang struggle bekerja keras demi keluarga.

Terimakasih untuk para ibu yang struggle maninggalkan anak demi memenuhi kebutuhan hidip.

Terimakasih untuk para bayi dan anak yang struggle kesepian bersama pembantu.

Terimakasih untuk para pembantu yang struggle meninggalkan keluarga demi untuk bertahan hidup.

Terimakasih. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya.


Jika bisa memilih, para ayah tak akan rela istrinya ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Jika bisa memilih, para ibu diam di rumah menemani anaknya dengan cinta yang hadir utuh bersama fisik.

Jika bisa memilih, para anak ingin bersama ayah ibunya, ibu hadir dlm kesehariannya dan ayah yang hadir sebelum dirinya terlelap tidur malam.

Jika bisa memilih, para pembantu tak akan merantau jauh meninggalkan keluarga demi bertahan hidup.


Kadang ada hal-hal yang tak bisa dipilih, diri hanya menjalani sebaik mungkin keputusan terbaik dari keadaan saat itu.

Dan dari setiap keputusan selalu ada yang dikorbankan sekalipun pengorbanan yang dilakukan untuk tujuan yang baik. Semua pihak struggle dalam setiap perannya.


Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesulitan hidup.

Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesedihan mendalam.

Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam kesepian jiwa.

Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap perjuangan.

Tuesday, September 8, 2020

Value

Setiap orang, normalnya memiliki value-value dalam hidupnya.

Value yang membuat diri tau arah tujuan, batasan, dan menghargai diri sendiri. Saat value yang dipilih dalam hidup untuk jadi pegangan, di junjung tinggi penuh disiplin, maka apapun yang orang katakan tidak akan membuat diri goyah. Karena diri tau dimana diri berdiri.

Value mampu membuat self esteem dan sense of self terjaga, misal: diri tau siapa Tuhannya, punya konsep spiritual yang ia pahami dan yakin dari dasar hati bukan atas dogma. Saat ada orang bilang munafik, bisa bodo amat. Gak peduli dan terpengaruh dengan label-label sosial, karena yg diri pegang dr sebuah agama adalah esensi spiritual bukan identitas, dan ada nilai yang dijunjung tinggi.  

Memegang value, salah satu yang membentuk integritas diri. Misal punya value kejujuran dan bermain adil. Dan value ini teraplikasikan dari hal sesederhana ujian bikin SIM meski gagal berkali-kali cm krn hal sepele dan ditawari jalur belakang sama petugas, diri menolak dan tetap pada prinsip yg dipegang hingga ia berhasil mendapatkan SIM dengan cara jujur.

Pada akhirnya, value atau bahasa lainnya dikenal sebagai prinsip, membentuk karakter diri dan sense of self. Saat karakter kuat, orang gak akan "sembarangan" memperlakukan diri karena diri sudah mampu menghargai diri sendiri.

So, pilihlah 5 value penting dalam hidup yang dijunjung tinggi dan menjadi patokan standard dari semua hal yang dilakukan dan di pilih.

Value ini gak bisa nyontek orang lain, harus diri sendiri yang nyari dan bikin.

Monday, August 24, 2020

Perpanjangan

*ini cerita kisah, bukan ngomongin orang. Focus on value, moral, and insight ya.

Beberapa tahun lalu, di perjalanan pulang dari tempat kerja, ada berita uwa meninggal. Sontak rasa sedh melanda dan langsung menayakan alamat lengkap untuk langsung pergi ke rumahnya naik gocar. Setelah dipikir, lebih baik pulang ke rumah nenek dulu dan berangkat bareng dengan orang rumah. Nenek sudah berangkat duluan, dan di rumah masih banyak orang yang pergi masing-masing. 

Singkat cerita sampai lah di rumah uwa. Sanak saudara menanyakan kemana ibu, saya bilang sedang di Thailand dari kantornya. Lalu beberapa om dan uwa berkomentar "teteh disuruh ibu ya kesini", "teteh ngewakilin ibu ya", dan kalimat-kalimat sejenis. Sampai di titik, kenapa saya dilihat sebagai perpanjangan dan wakil orang tua? Kenapa mereka gak melihat saya sebagai keponakan yang memang datang atas keinginan sendiri karena kepedulian dan rasa kasih terhadap uwa? Kenapa saya dikait-kaitan dengan orang tua? Apa pentingnya jg ibu menyuruh saya mewakili dirinya, memang menghadiri kematian sanak saudara itu diabsen layaknya meeting kantor yang butuh perwakilan saat yang bertugas tak dapat hadir?

Selama di rumah tersebut, saya memperhatikan, setiap orang sibuk dengan orang-orang yang dianggap "penting", seperti para orang tua, saudara berumur, tetangga, rekan kerja. dan para sepupuh pun bareng sama keluarga intinya masing-masing. Disitu saya merasa sendirian banget, bener-bener sendirian. Kemudian, saat shalat jenazah, cuma satu saudara yang gak memetingkan keluarga intinya aja, dia menyapa "sini, disini aja shalatnya" sebelahnya, dikala saya tersisih hingga barisan terbelakang sesendirian. 

Hari semakin malam, bingung mau pulangnya gimana. Akhirnya saya pulang bersama istri om, nebeng gocar sepupuh. Itu pun turunnya di pinggir jalan terus lanjut nyebrang dan jalan kaki sampai rumah. Sampai rumah, saya merenung "gini ya saat datang ke acara keluarga tanpa orang tua alias sendirian, ya hasilnya sesendirian meski dikelilingin orang-orang satu darah. Mereka melihat saya sebagai anak ibu, bukan sebagai keponakan layak anaknya sendiri, bukan sebagai sepupuh yang dianggap kakak/adiknya sendiri". Dan realita kenyataan tersebut saya terima. 

Sebelumnya, ada beberapa kejadian sejenis. Kalau diperhatiin, kadang ada orang2 menolong/ nganterin/ nengok karena takut dianggap ini itu, dengan kata lain motivasi bukan dari gerak hati spontannya. Hal kedua yang diamati yang sering terjadi adalah kalau ada yang bermasalah pasti sekeluarga ikut-ikutan/ kebawa-bawa. Misal ortu bermasalah, anaknya ikut2an musuhin orang yang dianggap musuh ibunya. Anak bermasalah, ortunya belain dengan ikut2an musuhin orang yang dianggap menganggu wellbeing anaknya. 


Tuesday, August 4, 2020

Trauma

Bagaimana jika trauma yang dialami telah berubah menjadi patologi?
Apakah dengan memaafkan akan terhapus dan hilang?

Layaknya lidah yang terpotong, 
Apakah dengan memaafkan akan mengembalikan fungsi lidah?

Bagaimana jika patologi yang muncul merusak kehidupan seumur hidup?
Apakah mendekatkan diri pada Tuhan mampu menyembuhkan?

-----------------------
Patologi,
Personality disorder, Mental illness, Substance abuse.

Orang punya gangguan kepribadian karena trauma menumpuk semasa pertumbuhan masa kecilnya,  lalu dikucilkan hingga ia dewasa bahkan seumur hidupnya. Menambah luka yang terus dalam dan banyak. Alih-alih kehidupan sosial menjadi area terapi, malah memperparah.

Orang yang punya mental illness, mendapat stigma. Ironinya stigma tersebut datang dari para tenaga medis dan terapis. Banyak pula disepelekan oleh orang-orang tak teredukasi tentang hal tersebut. alih-alih membaik, malah meningkatkan angka bunuh diri.

Orang terkena narkoba, eating binge, kecanduan sex, dihujat, dinilai rendah, dipaksa mendekatkan diri pada agama, tanpa diselesaikan akarnya. Trauma masa kecil, luka batin yang menjadikan false belief terus menguasai hati dan pikiran. 
------------------------

Orang dengan mudah berkata "maafkanlah", lalu berlalu.
Orang dengan mudah berteriak "kurang agama", lalu mencibir.
Orang dengan mudak berkomentar "kemasukan jin", lalu menghakimi.
Orang dengan mudah berkhotbah bagaimana seharusnya bersikap, menjalani hidup, dengan otak kosong tanpa mengetahui masalahnya apa dan proses seseorang menjadi begitu.

Orang-orang tanpa empati.
Mengandalkan keyakinan akan Tuhan tanpa usaha untuk teredukasi.
Mengandalkan logika atas kejadian saat ini tanpa melihat sejarahnya.
Mengandalkan pemahaman bak tetesan air dilaut tanpa analisa mendalam.
------------------------

Trauma.
Memaafkan mengurangi beban diri, namun banyak hal yang perlu dibenahi bahkan proyek seumur hidup. Bukan seperti penyakit patah tulang yang tinggal operasi.
Memaafkan menjauhkan dari dendam, sehingga diri mampu fokus untuk mengobati di masa sekarang demi masa depan yang lebih baik, namu tak menyembuhkan.
Memaafkan sebagai bentuk menyayangi dan menghargai diri sendiri, sehingga tak menambah luka-luka menjadi-jadi.
------------------------

Tuesday, April 7, 2020

Jembatan

Mungkin aku sebuah jembatan,
yang menghantarkan adam pada hawa nya,
yang menghantarkan gelap pada terangnya.

Jika memang peranku sebagai jembatan,
apa yang kudapatkan dari itu semua?
Jika kebutuhanku saja tak ada yang terpenuhi.

Apkah itu adil, Tuhan?

Atau aku nya saja yang bodoh
tak memanfaatkan peran jembatan
untuk menghasilkan keuntungan diri sendiri?

Jembatan menghantarkan orang pada tujuannya,
lalu apa yang bisa jembatan lakukan untuk dirinya?

Thursday, September 26, 2019

Baba

Sebuah ruang penuh manula menunggu giliran terapi dan dokter. Ada sebuah ruangan kecil di dalam ruangan itu, ruangan orang berkonsultasi dan diperiksa. 

Pintu ruangan terbuja dengan teriakan sang dokter memanggil pasiennya. 

Masuklah si Baba.
Baru membuka pintu, sang dokter penuh senyum dengan posisi duduk condong ke depan berkata “kenapa?” Dengan suara halus penuh kasih bagaikan seorang ayah yang menanyakan “kenapa” ketika anaknya nangis habis jatuh dari sepedah. 

Baba sadar apa yang dimaksud oleh dokternya. Ia sadar sang dokter bertanya tentang perasaanya, perasaan sedih yang ia ceritakan sebulan yg lalu lewat pesan tertulis. Ia mendadak sedih, ingin menangis. Sedih karena selama ini tak pernah dapat kasih sayang dan empati orang tua seperti itu. Namun, Baba menahan perasaannya, mengendalikan ekspresi wajahnya. Dan berkata “ini dok kaki saya sakit-sakit lagi”.

Sang dokter kembali berbicara “kemarin teman saya menelepon, katanya sedang sedih. Saya tanya kenapa, dia tak menjawab”. 

Lalu Baba kembali menarik pembicaraan pada sakit kakinya “dok, ini sakitnya dari pinggang”.

Sang dokter tak mengubris, kembali bercerita “teman saya itu punya trauma dari sd, sudah 35 tahun traumanya masih dibawa-bawa.”

“Dok, saya tidak diperiksa?” Ungkap Baba.

Sang dokter pun berhenti sekejap lalu berkata “ya boleh deh”. 

Lalu baba diperiksa. Setelah itu kembali duduk, sang dokter pun kembali bercerita. Namun keadaan semakin emosional. Baba memutuskan untuk cepat pergi dari ruangan tersebut sebelum air matanya tumpah. Dokternya paham, dan berkata “kamu kalau ada apa-apa, chat saya aja” sambil ikut meninggalkan ruangan tersebut. 

Semakin sedih lah hati Baba. Sudah dapat empati dengan pertanyaan “kenapa”, sudah dapat insight dari cerita dokter tentang temannya, ditawari kasih sayang juga. Dan kesedihan semakin mendalam ketika ia menyadari bahwa ia mendapat kasih sayang justru dari orang lain, orang yang dikenalnya di rumah sakit, tak ada hubungan darah, tak ada urusan personal apapun. Dikala ia tak pernah dapat empati tersebut dari orang tua nya sendiri, orang pertama yang ia temui saat lahir di dunia, orang yang ada hubungan darah. 

Sepanjang perjalanan pulang, Baba nangis. Padahal dokternya biasa saja, baik terhadap pasien, senang menolong. Namun untuk keadaan Baba, itu menjadi hal yang tak biasa, terlalu intense dan emosional. 
——

Semesta memang adil.
Selalu memberikan kebaikan.
Hanya kadang justru diri yang tak siap menerima kebaikan itu, entah karena merasa tak pantas, tak berharga, tak mampu, terbayang-bayang kata-kata negatif orang tua abusif “kalau keluarga tak mampu menerimamu, apalagi orang lain”.

Padahal kenyataannya, banyak orang yang sayang pada dirinya, banyak orang yang mau menerimanya, banyak orang yang peduli. 
——

Untuk siapapun yang merasa kamu tak pantas dicintai, tak pantas disayang, tak ada yang mau menerima, berhentilah percaya itu semua. 

Kamu pantas disayang, dicintai, dan diterima. 
Jika tak dapat dari orang tua dan keluarga, semesta luas sekali, akan banyak tempat dan manusia yang bisa cocok dan sayang padamu. 

26/9/19

Suami tukang selingkuh dan ngutang. Istri bertahan berharap suaminya akan berubah. Realitanya terjadi berulang dan makin memburuk. Dan istri tetap bertahan dengan harapan suatu kelak suaminya berubah. Hingga kerja keras menggumpulkan uang, membawa pergi haji dengan harapan pulang membawa perubahan pada suaminya. 

Lalu, suaminya berubah? 
Tidak.

Tetap hobby main, hobby ngutang, hobby foya2. 

Istri tak berhenti berusaha, terus berdoa dan berharap suaminya berubah. Dengan segala banyak penyangkalan suaminya buruk, dengan segala banyak pembenaran untuk bertahan, dengan segala citra keluarga baik yang terus di tampilkan di depan publik. 

Tanpa sadar puluhan tahun telah lewat, ia terjebak pikiran dan khayalannya sendiri untuk merubah suaminya hingga lupa untuk merawat anaknya dengan baik, bahkan menanamkan segala sifat delusi dan kondependesi terhadap anaknya. Anaknya menjadi seperti dirinya. Dan pola berulang. 

Berakhir sia2. Berharap manusia berubah dikala yang bermasalahnya pun tak sadar dirinya bermasalah ataupun mau berubah. 

——
Lalu memperjuangkan keluarga besarnya bagaiman dewa. Semua yang susah dibantu seolah-olah tanggung jawabnya. Empati terhadap keluarga besarnya tinggi sekali karena merasa ia sudah hidup puluhan tahun bersamanya. Sedangkan terhadap anaknya, acuh, tak ada empati, ataupun hubungan mendalam hati ke hati. Karena merasa “siapa kamu? Kamu gak lebih lama kenal dengan saya dibanding keluarga besar saya”.

Ibunya menelepon kesepian di kampung, langsung di datangi, meninggalkan anaknya yang sedang sakit sendirian.

Keluarganya lagi susah, di tolong, dikasihani, anaknya sedang berjuang keras dan kasepian diabaikan.

Hingga akhirnya ia melihat bahwa keluarganya hanya memanfaatkan, bahwa keluarganya hanya peduli dengan keluarga inti masing-masing, kalau keluarganya tak sebaik setulus imajinasinya, kalau keluarganya tidak seberusaha keras menjaga hubungan dan menolong seperti yang ia sering lakukan, bahwa hubunganya tak seimbang antar dua pihak. Dan penyangkalan pun terjadi, tak mampu melihat realita, tenggelam dalam kesedihan dan imajinasi kebaikan keluarganya yang biasa aja namun diagungkan. 

———
Sebagai manusia, perlu belajar melihat sesuatu sebagaimana sesuatu itu secara nyata, tak dibumbui harapan ataupun ilusi. Ada kalanya perlu diperjuangkan, ada kalanya tau kapan harus berhenti. Berhenti demi kehidupan yang lebih baik. Memperjuangkan orang yang tak mau berjuang hingga merusak banyak jiwa lain yang patutu diperjuangkan itu sebuah penganiayan, alangkah tidak bijaknya. 

Disini butuh batas. Batas kapan merasa cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan beracun. Setelah 3x di selingkuhi kah? Setelah 3x rumah di gadai suami tanpa izin hanya untuk foya2 kah? Setelah 3x dipukul kasar kah? 

Batas. 
Sebuah upaya untuk menjaga diri tetap waras. Sebua upaya untuk menghargai diri sendiri.
Sebuah upaya untuk menciptakan hubungan yanh sehat.

Manusia tidak bisa menyenangkan semua manusia. Ada kalanya dibenci, ada kalanya di tidak sukai, ada kalanya di caci, biasa saja. Selama tidak merusak orang lain dna merusak diri sendiri. Orang mau sepakat/tidak, senang/tidak, ya tak apa. 

——
Selama diri tau diri seperti apa, apa yang dimau, apa yang dikejar, apa yang dikerjakan. Yausudahlah orang mau berbicara apa.
Nilai diri tak ditentukan oleh komentar orang, karena diri dibenci di suatu tempat, bisa jadi di tempat lain malah disayang banyak orang. 

——
Seandainya kamu tahu seberapa rusaknya kamu, seberapa banyaknya luka batinmu, seberapa banyaknya issue masa lalu yg tak terselesaikan, seberapa besarnya kamu merusak hidup anakmu lewat kurangnya perhatian, empati, menghancurkan kepercayaan diri, keberhargaan diri, dan menanamkan perasaan tak pantas dicintai hanya dengan sibuk mengurusi orang lain hingga kurang memenuhi kebutuhan emosi anak dan menanamkan kata-kata baik hingga anak tumbuh dalam perasaan kosong, tak berharga, tak mampu, hingga dihinggapi banyak penyakit mental merusak jiwa dan pikirannyaa hingga rusak masa depannya dikala potensinya luas biasa. Mungkin mati pun tak akan menghilangkan rasa bersalahmu. 
——

Dan saat anaknya sadar apa yang terjadi, ingin berusaha menjadi normal dan hiduo bahagia. Biarkan. Berhenti menanamkan rasa bersalah, berhenti bermain peran sebagai korban, berhenti menjadi manusia paling menderita dengan mengngkapkan segala perjuangan dan harapan imbalan yang tak sesuai imajinasi, berhenti menularkan sakit jiwamu. Jadikan sebagai bahan renungan. Renungan untuk menjadi manusia yang terus belajar menjadi baik. 

Jika tak mampu memperbaiki, maka jarak hal terbaik yang dapat dilakukan. Demi memutus rantai dan pola beracun. 

Saturday, September 21, 2019

Untuk ibu dan perempuan.

Menikah, melayani suami, hamil, melahirkan, punya anak, di kasih makan, di kenalin agama, di sekolahin, di nikahkan. Selesai. 

Sebagai anak, saya belajar. Seorang perempuan tugasnya lebih dari sekedar itu (diatas), menurut saya. 

Menikah harus atas dasar suka sama suka dan penuh tanggung jawab. Semacam ditanya “dulu nikah knp?”, orang tanggung jawab akan jawab “karena sudah siap menikah untuk beribadah dan membangun peradaban”, jawaban orang lepas tanggung jawab “ya dulu disuruh nikah ya nikah aja lah”. Sexual intercourse kebutuhan bersama mutual bukan sekedar menggurkan kewajiban sebagai istri, hamil perlu perencanaan dilakukan dlm keadaan mental dan fisik terbaik (menyelesaikan trauma masing2, menyehatkan badan, dan bertanggung jawab dengan memberi makanan baik lewat perasaan positif, nutrisi baik, pikiran positif, lingkungan positif). Melahirkan pun butuh mental yg baik, dukungan dari suami, tak peduli teknisnya mau vaginal ataupun cesar. 

Anak lahir, ia punya kebutuhan 

  • fisik (makan,minum,tidur,olahraga, pakaian, tempat tinggal)
  • Emosional (perasaan dicintai, dipahami, diterima, disayang, di dukung, ditemani). Ini di dapat lewat komunikasi hati ke hati, dipahami, diterima baik buruknya tanpa selalu menyalahkan, membandingkan, me reject, menekan, menuntut. Sesederhana menanyakan “td di sekolah ngapain aja?”, “temen kamu skrg siapa?”, “kamu sedih kenapa?”. EMPATI.
  • Spiritual. Bukan sekedar disuruh solat, ngaji, pake hijab, puasa. Diberikan awareness iman yg baik, diajarkan untuk menjadi lbh tenang dan dewasa, diberikan wisdom2 kehidupan sebagai bekalnya nanti. 
  • Intelektual. Ini pentingnya perempuan harus cerdas dan punya mental belajar untuk terus belajar. Anak gak cukup disekolahin, harus mampu jadi teman diskusinya, teman menjawab pertanyaannya sampai tuntas secara holistic (scientific, humanitarian, dan agama). Diarahkan pola pikirnya ke hal2 konstruktif, menjadi mentor kehidupannya. 

Anak kan bukan binatang yg dikasih makan, di sekolahin, selesai urusan. Ia manusia butuh kehidupan sosial dgn interaksi, butuh emotional connection dgn komunikasi hati ke hati guna mengembangkan EQ nya dgn baik, butuh mentor yg mampu membimbing ke tujuan dan cita2nya sesuai jati diri dan fitrahnya. 

Bikin anak gak mudah, hamil gak mudah, melahirkan gak mudah, ngurus anak jg gak mudah. Gak sebatas modal agama dan uang, butuh ilmu jg, butuh kedewasaan jg, butuh mental yg baik. Ya kalau mau anaknya baik. 

Bayangin deh, kamu minta anak baik sama Allah dikasih kaca yg bs bernilai milyaran. Tapi kaca itu gak kamu bentuk dgn baik, alih2 jd sesuatu yg indah, malah rusak sebelum berproses. Kamu minta anak yg baik, sama Allah dikasih grade A, tapi semua kemampuannya terbuang percuma karena keterbatasan ilmu dalam me nurtuner, bahkan byk potensinya yg gak keluar karena sering dicekokin hal2 negatif “mana bisa kamu”, “mana ada yg mau sama kamu”, “kalo mimpi jgn ketinggian”, “jadi anak bisanya cuma nangis”, “nyusahin orang tua aja”. 

Jiwa itu sama kaya fisik. Kalo dijejelin hal2 negatif, jadinya negatif, ngerasa sampah, ngerasa gak berharga, ngerasa gak mampu. Karena udah di program puluhan tahun dari kecilnya begitu sama orang tua yg frustasi dan bermasalah. Krn orang2 yg udah sehat secara mental dan batin dgn menyelesaikan semua unresolved issue nya, krn dirinya sudah positif, maka ia akan ngasih hal2 positif ke anaknya “wah hebat kamu udh bs gambar”, “wah hebat kamu jualan apel di sekolah laku”, “wah baik sekali kamu tidur tepat waktu”, “pinter sekali kamu mampu ranking 1”. “Kalau sedih nanggis aja gpp, kalau kesel ya lari aja, its okay to feel that, semua manusia jg gt kok”. Ia akan terus apresiasi anak, nurtuner anaknya, memberi cinta dan naikin self esteem nya. Dan ini hal terpenting yg bs diberikan ortu untuk bekal hidup anaknya (bukan sekolah, bukan materi, bukan makanan). 

Ngejar agama nyuruh solat ngaji puasa blabla. Tp kebutuhan2 lainnya terabaikan. Gak ada interaksi sosial, gak ada komunikasi, kebutuhan emosionalnya gak terpenuhi, gak diberikan arahan hidup, selalu dibentak, dipukul, disalahkan, dibanding2kan, diabaikan kebutuhan bekal duniawinya. Ya abis lah cuma jd sampah. Padahal anak ini bakal dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Kan titipan. 

Dalam pandangan gw, modal sayang aja gak cukup. Butuh ilmu, butuh finansial yg baik, butuh kedewasaan, butuh keimanan yg baik dan aplikasi agama yg baik (bukan sekedar rutinitas, pelarian dr masalah, tameng defense). Baik menurut kita blm tentu hasilnya baik jika tidak dibarengi ilmu. Semacam saking sayangnya sama ikan, kasian liat ikan di air terus, alhasil diangkat ke darat diselimutin. Yg ada ikannya mati. Semacam saking sayangnya jd overprotektif sampe anaknya gak pny kehidupan sosial gak pny temen, kesepian, jd stress, EQ jd rendah, ujung2nya banyak masalah2 lain muncul ps dewasa. Niat baik tanpa ilmu tuh kebodohan terdzolim. 

Tugas perempuan bukan sekedar nurut suami, melayani, tapi juga menjadi edukator, fasilitator, mentor, teman, dan role model buat anaknya. Penting perempuan menjadi cerdas. Kalau perempuannya berkualitas, maka ia pun akan menarik orang sejenis dan selevel dengan dirinya untuk menjadi suaminya. Kasarnya, lo level 2 ya narik cowok level 2, pas punya anak sama Allah dikasih level 10 tp krn kemampuan lo berdua mentok di level 2, ya anak lo cm bs sampe level 2 jg, sisanya (8) ilang percuma sia2 gak dikembangakn dan terpakai sesuai fitrahnya. Kasian anaknya. Dan kalo udah gini jangan nyalahin anaknya yg kepinteran, harusnya orang tua yang terus belajar, kalau gak bisa ngimbamgi secara intelektual, minimal kebutuhan emosionalnya terpenuhi (kan cm butuh cinta dan EMPATI). Kalo materi ya selama kebutuhan primernya terpenuhi ya baik, gak perlu sampe nyiapin mobil/rumah buat anak. 
————
Si ini anak siapa, lulusan apa, gelarnya apa, kerja dmn, tingginya brp, putih nggak, dll. Itu mah urusan sepele. Superficial. Yg penting level dirinya selevel dan tipe yg terus terus berusaha, belajar, berkembang. Krn nikah bukan tolak ukur pencapaian, apalagi 1/2 agama berarti ilmu yg harus dipersiapkannya lbh banyak, mental hrs lbh kuat, iman hrs lbh baik, tandanya apa? Ya harus terus belajar. Perkembangan dan pertumbuhan diri jgn mentok sampe di tahap nikah aja. 
————-
Lahiran via vagina atau cesar; asi atau sufor; bekerja di kantor orang atau di rumah; itu mah hal sepele gak perlu diributin. Perempuan tetap utuh meski gak ada selaput dara, meski lahiran cesar, meski asi nya gak keluar, meski kerja dari rumah. Selama sesuai value, punya prinsip hidup, punya vision dan tujuan yg jelas. Fokusnya ke yang penting2 aja gimana caranya jalanin amanah Allah lewat anak (kalau memutuskan punya anak) tumbuh sesuai nature dirinya, bisa mekar di waktunya (jangan sampe mati sebelum mekar), fokus ke masa depan yg berdampak pada peradaban (ya nurtuner anak dgn baik). 

Beneran deh, otak tuh penting bgt dipake! Bukan buat ngitung2 hal detail dan berkalkulasi aja, tp dipake buat bikin vision, melihat big picture, bikin konsep, dan ngejalanin step by step nya. Hati jg penting dipakai, minimal belajar EMPATI deh dna berkomunikasi dengan baik, membangun bonding. Agama ya kepake ke semua aspek (kalau agamanya baik, dewasa, bijaksana, dan mampu berintegritas). 

*wuallahualam bishawab

Thursday, June 20, 2019

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa tidaklah mudah namun perlu dilakukan jika diri ingin terus tumbuh dan mampu survive.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menerima hal-hal diluar kontrol diri.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menghasilkan sebuah keputusan besar dalam hidup dan bertanggung jawab terhadap resikonya.
Menjadi dewasa adalah saat diri fokus untuk terus tumbuh dan mampu belajar untuk memberi manfaat terhadap sekitar.
Menjadi dewasa adalah saat bisa berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan hidup tenang penuh kedamaian.
Menjadi dewasa adalah saat bisa melepaskan hal-hal yang tak baik dan sudah tak relevan.

Itu defisini menjadi dewasa (menurutku).

Banyak manusia berumur, telah mampu menghasilkan banyak uang dan karir mapan, berkeluarga, Tapi membuat keputusan saja masih diikut campuri oleh orang lain, masih menyalahkan orang saat hal tak menyenangkan datang, masih belum bisa menerima keburukan diri, masih memegang masa lalu dengan penuh attachment, masih belum punya goal hidup selain hanya hidup berutinitas.
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Butuh kesadaran dan keinginan untuk berproses.

Bukan pula hal menyenangkan. Namun dari situ, kita bisa naik ke level hidup selanjutnya,
menjadi manusia yang bebas, damai, dan paripurna.

selamat berproses :)

Korban dan Raja

Manusia diciptakan tak terlepas dari emosi.
Merasakan beragam emosi. nah dari emosi-emosi yang hadir, seringnya memposisikan diri sebagai korban atau raja?

Misal, kamu diselingkuhi, pada umumnya orang merasa kecewa, sedih, bahkan bisa sampe depesi. Nah dari emosi yang hadir, kamu merasa diri sebagai korban dan berlarut dalam kesedihan atau berusaha menjadi raja dari emosi kamu dengan berusaha mengedalikan perasaan yang muncul dan mengalirkannya ke hal-hal konsruktif. Apa yang biasa kamu lakukan? Menjadi korban atau Raja?


Seorang ibu memiliki anak yang sulit sekali dia kendalikan. Lalu merasa dirinya adalah korban dan satu-satunya yang diuji. Kerjanya meratapi, marah-marah, merasa diri tak berharga, hingga merasa berhak memarahi anaknya karena memposisikan dirinya yang paling menderita. Ia lupa kalau anak pun diuji, anak pun punya struggle nya, anak pun punya masalah. Jika sang ibu bermental raja, saat mendapati anak yang kurang compatible hingga sulit ia kendalikan, maka ia akan melihat itu sebagai tantangan, sebagai peluang untuk membuatnya tumbuh dan menjadi orang yg lebih bijak. Maka ia kana menerima, mengobservasi, belajar, beradaptasi, dan memperbaiki keadaan lewat perbaikan mindset dan mentalnya, maka tanpa sadar ia telah menjadi raja dari emosinya sendiri dan telah memberi contoh yang baik untuk anaknya.

Seorang anak sakit karena dirinya kurang menjaga kesehatan, lalu sedih karena harus opname di rumah sakit. Lalu keluarganya bilang "sabar ya sedang diuji". Pertama, si anak sakit karen kesalahannya, harusnya diajarkan taking responsibility dengan "ini kamu sakit karena kurang jaga kesehatan", lalu biar ia berfikir sendiri. Kedua, respon "sabar sedang diuji" tanpa sadar mengajarkan anak memposisikan diri sebagai korban dan orang tak berdaya. coba bandingin sama respon "wuih enak sakit, bisa istirahat badan dan pikirannya", maka ia kana melihat sakit sebagai suatu peluang positif untuk kebaikan dirinya, bahkan bisa menstimuli perasaan superior sehingga ia bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Maksudnya, ia jadi bisa merasa punya kendali terhadap keadaan dan dirinya.

Nah, dalam lingkungan kita sehari-hari, lebih sering ketemu orang bermental korban atau bermental raja?

Kalau lingkungan utama dan pertama kita (keluarga) banyak yang bermental korban, playing small, playing victim, maka tanpa sadar kita pun terbawa polanya dan mirip mereka. Untuk bisa keluar dari "turunan" seperti itu, cara pertama adalah cari lingkungan baru, bergaul sama banyak jenis orang yang beragam, reflektif instropeksi, self educate (edukasi diri), dan mulai pela-pela merubah diri.


Kadang untuk tumbuh lebih sehat dan waras, demi perbaikan diri untuk keturunan yang lebih berkualitas, kita perlu meninggalkan lingkungan yang tidak baik untuk menjaga diri dari kontaminasi hingga diri benar-benar telah sehat dan kebal terhadap kontaminasi tersebut. Pergi jauh dari keluarga bukanlah hal jahat. Jika memang lebih banyak mudharatnya, kenapa tidak? 

Mindset, mental, dan perilaku terjadi turun temurun. Gimana kita bisa sadar berada di lingkungan toxic dan diri punya banya "penyakit" kalau kita belum pernah melihat apa itu lingkungan sehat dan orang-orang waras? Bagaimana kita bisa tumbuh sehat dan memperbaiki diri jika berada dilingunga negatif yang menarik diri untuk terus sama seperti mereka? Gimana bisa memutuskan rantai tidak baik demi generasi yang lebih baik, jika kita tidak bisa memperbaiki diri?


Menjadi korban dan raja dari emosi sendiri adalah contoh kecil dalam proses perbaikan diri. Contoh kecil bagaimana mindset raja dan korban tertanam dalam diri seseorang lewat interaksi pertamanya dan lingkungan terdekatnya.

Wednesday, June 5, 2019

Attachment

Keterikatan.

Pernah gak punya suatu barang, pas ilang ngerasa kehilangan dan kesel banget?
Pernah gak saat ada saudara/ orang tua meninggal, ngerasa kehilangan dan sedih?
Pernah gak sedih saat gak bisa mudik dan ketemu keluarga?
Pernah gak sedih saat kehilangan uang banyak?
Pernah gak merasa keluarga harus baik dan nolong?
Pernah gak merasa pacar/ pasangan harus bisa menyenangkan diri?
Pernah gak dateng ke suatu tempat mendadak syahdu?
Pernah gak merasa cemburu?

Kalau pernah atau sering, berarti diri punya attachment sama hal-hal tersebut (harta, orang, tempat, kejadian, barang). Ada keterikatan atau punya ego kepemilikan terhadap hal-hal tersebut. Jadi saat kehilangan, ada perasaan sedih, marah, kesal.

Kalau dipikir-pikir, manusia punya apa sih?
Harta dan barang hanya titipan, orang tua/anak pun bukan milik pribadi, tempat hanya tempat, kejadian hanya kejadian. 

Kadang manusia merepotkan dirinya sendiri oleh attachment yang dibuatnya sendiri. 
Misal, baru bisa ketem keluarga di hari kedua lebaran, terus sepanjang perjalanan macet 10 jam nangis karena merasa jauh dari keluarga dan gak bisa dateng di hari pertama. Padahal hari kedua pun bisa ketemu, bahkan kalau niat silahturahmi, bisa dilakukan kapan saja saat luang tidak harus saat lebaran. Dan apa gunanya juga nangis meratapi dikala tidak merubah keadaan apapun, malah bikin makin ribet.

Contoh lainnya, saat ada kerabat/ keluarga/ anak/ oarng tua meninggal, kenapa perlu nangis? kenapa perlu merasa kehilangan? mereka hanya manusia yag Tuhan ciptakan dan takdirkan bertemu yang pasti akan ada batas waktunya berpisah. Mereka bukan milik diri, hanya titipan, hanya takdir. Lalu kenapa perlu menangis? karena ada bonding? karena telah banyak kenangan yang dijalani bersama? atau hanya karena ada attachment yang kuat?

Attachment bisa menguntungkan, membuat manusia merasa bertanggung jawab, ada sense of belonging, mengembangkan hasrat me-nurtuner sesuatu/ orang/ momen. Disisi lain, banyak merepotkan dan menyusahkan diri sendiri dengan segala pemikiran-pemikiran yang berkembang dari akar attachment. Seperti lebaran harus mudik, kalau gak mudik jadi sedih. Semacam orang tua/anak harus menolong, kalau gak ditolong langsung merasa gak berharga. Semacam harta adalah miliknya yang membuat diri secure, saat mendadak ilang banyak, langsung merasa miskin. Lupa kalau semua hal hanyalah titipan dan sesuatu yang tak kekal.

Semakin tinggi attachment diri terhadap orang/harta/mmen/tempat, semakin berkembang juga belief dan dogma, semakin tinggi juga keribetan dibuat diri sendiri, semakin tinggi tingkat stress dan kekecewaan yang dihasilkan saat seseorang/sesuatu itu hilang.

Shalat atau meditasi, (menurut analisa gw) membantu manusia melepas attachment-attachment itu, sehingga diri lebih bisa menerima, belajar ikhlas, legowo, dan hidup dengan perasaan ringan nan jiwa bebas. 

Berapa banyak attachment yang kamu tanamkan?

Berapa banyak attachment yang telah kamu lepas?


Saturday, May 11, 2019

Parsial.

2 tahun ini merhatiin sesuatu. 
Followers instagram.

Semenjak buku Mind Traveler launching, dan entah mention dari siapa, followers instagram bertambah pesat. 

Dari awal semua sosmed gw isinya to express. Jd bebas2 aja mau sharing curhatan, jd journal pas depresi, sharing keseharian, makanan, pengalaman cat rambut, termasuk misuh2. 

Lalu ku perhatikan, banyak yg unfollow. 
Tiap cerita yg orang nganggep negatif/ gak gamblang ngasih pembelajaran, mereka unfollow. Semudah itu lah orang follow dan unfollow. Semudah menghakimi dan berkomentar sembarangan jg tanpa mengenal dan tau situasi kondisi secara keseluruhan.

Dan thats life in the real life.
Jadi mikir, orang cuma mau yang enak2 aja buat dirinya sendiri. Cuma mau hal2 yg dianggap positif dalam kacamatanya. Cuma mau pembelajaran2 explisit yang gamblang. 

Awal2 sedih di unfollow banyak orang, lama2 bodo amat. Karena secara gak langsung jadi seleksi alam. Dan IG di private. Jd kalau udh unfollow cm krn postingan2 yg gak disukai mereka, mereka pun gak akan bisa lagi liat postingan2 lain yg dianggap baik. Kosekuensinya gitu. 

Dari fenomena ini, mulai paham kenapa banyak influencer hobby mengedukasi orang, ternyata banyak juga ya orang yg melihat sesuatu hanya dari sudut pandang yg sempit, hitam putih, dan penuh dogmatis salah benar, dosa pahala, dan mudah untuk menghakimi. Lagi-lagi seleksi alam, cocok2an. Bakal ada yg stay dan pergi. 

Kadang suka iseng jg kalau lagi tenang damai, sharing unek2, trs merhatiin brp byk yg unfollow. Banyak. Makin menguatkan asumsi dan data observasi. 

Kalau cuma mau hal-hal positif, hal-hal baik, dengar dan baca yang bagus-bagus. Maka ilmu dan insight yg di dapat ya segitu-segitu aja. Karena hidup ini dualisme positif negatif, baik buruk, gelap cerah. Semakin mau menerima ujung spektrum lainnya (buruk, jelek, negatif), makin luas juga perspektif yanh dimiliki, makin bs melihat secara keseluruhan,  dan mendapati banyak pemahaman serta insight yang berguna tidak untuk diri sendiri namun sekitar. Nangkep ga? Hehe

Tuesday, April 23, 2019

Identitas

Membentuk identitas dalam society penuh prejudice sangatlah mudah.
Hanya mengunakan sesuatu yang dianggap simbol sesuatu, maka masyarakat telah memiliki asumsi identitas sesuatu terhadap orang tersebut.

Misalnya,
Nama kamu ada siti/ muhammad, orang sudah bisa tau kamu muslim. 
dari identitas muslim itu, maka orang bisa berasumsi banyak hal tentang muslim.

Kamu pakai hijab, orang sudah bisa tau kamu muslim, dan tidak memungkiri adanya asumsi bahwa perempuan berhijab itu agamanya baik, shalatnya baik, ibadahnya baik, akhlaknya baik, mengikuti ajaran agama penuh taat dan kebaikan. Realitanya? Belum tentu kan?

Jika namamu muhamad (nama identitas muslim), tangan penuh tattoo, rambut diwarnai merah, (identitas nakal), maka masyarakat pun akan punya pandangan dan asumsi lain sekalipun hatimu sebaik mother Theresa.

Kamu pakai sarung, peci, berjanggut, maka asumsi orang pun akan menganggap orang baik, karena membawa identitas alim ustadz. Di awal, mungkin orang tak akan mengira bahwa dia pedofil (contohnya) atau penipu ulung yang tak takut dosa.

Kamu pakai baju gombrang casual berbahan linen, rambut diwarnai hijau gradasi biru, pakai tas ransel neon, pembawaan penuh kegembiraan ceria. Mungkin orang tak akan mengira bahwa kamu lulusan S3, punya otak briliant, pekerja keras nan serius, seorang muslim, taat ibadah meski tak berhijab.

Coba perhatikan atau tanya ke dirimu sendiri, seberapa sering kamu berasumsi terhadap seseorang atau sesederhana menebak identitasnya hanya dari penampilan dan pembawaannya?

Semakin sering berasumsi hanya dari apa yang dilihat, di dengar, di rasa, semakin mudah di tipu. Karena hal-hal yang sifatnya visual dan terekam panca indra itu bisa diciptakan. Semudah menentukan/ mengunakan suatu identitas untuk menciptakan persepsi dan asumsi tertentu.

Hidup dalam society bagaikan hidup dalam ilusi.
Orang saling menciptakan indentitas-identitas dan terikat oleh aturan-aturan tak baku yang kebenarannya pun masih dipertanyakan, lalu sibuk berasumsi dan menyakini bahwa itu sebuah realita yang pasti benar. Begitu terus polanya turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga nilai kebenaran menjadi abu-abu, pikiran menjadi dangkal untuk melihat lebih dalam dan menjadi kritis, orang serba instan menilai dan begitu mudah dalam meyakini sesuatu tanpa dicari tau kebenarannya.