Showing posts with label #journey. Show all posts
Showing posts with label #journey. Show all posts

Friday, May 22, 2026

Luka

Luka tidak pernah sembuh dan hilang jika tidak di proses dan disemnuhkan.
Ia hanya masuk ke lapisan bawah, diam, terkubur, menumpuk, hingga muncul ke permukaan, meledak saat adatersenggol hal jenis dan terpicu aktivasinya. 
Hal yang dianggap sepele untuk orang lain, bisa menjadi hal besar yang membuat seseorang meledak, bunuh diri, ataupun membunuh orang. Karena ada luka yang teraktivasi sekalipun logikanya bisa berfikir jernih; sistem tubuh, sistem syarat, dan sistem otaknya bereaksi langsung dan diluar nalar.

Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disembuhkan
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak di proses
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disadari dan di akui. 
Luka tidak akan hadir ke permukaan tanpa trigger maupun ruang tenang.
Luka tidak akan bisa di proses dan sembuh tanpa rasa aman, bahwa diri dan tubuhnya aman.

Orang toxic, abusif, lack of empathy, apapun itu siapapin itu bisa memicu luka dalam diri sekalipun di lapisan terdalam yang tak pernah tersentuh puluhan tahun. Tapi penyembuhan tetap butuh ruang tenang dan aman. Lingkungan dan orang-orang yang sehat, aman, mature.

-----

Bagaimana jika salah satu sumber pahala adalah saat mampu taking care diri, menjadi ruang aman bagi orang lain, dan memberikan warisan baik (nervous system yg sehat, system otak yang baik, sistem hormon yang seimbang, trauma-trauma yang healed, mental blok yang terlepas, rasa takut yang hilang,  energy joy dan mature grounded ygang tercipta, mindset yg sehat dan bertumbuh,  boundarie syg sehat, dll) untuk keturunan yang merubakan bagian dari peradaban. 

Sunday, April 12, 2026

Ruang Kosong

Mungkin ada ruang kosong di dalam jiwa yang disadari ataupun tidak.
Ruang akan cinta, koneksi, rasa aman, sense of belonging, dicintai, dipahami, diterima, diakui, apapun itu.
Ruang kosong itu akan terus-terusan minta diisi dan diisi agar diri merasa utuh bahkan menghindari ketidaknyamana dari rasa kosong tersebut. 
Entah diisi dengan rutinitas, kesibukan, belanja, makan, harta benda, liburan, achievement, status, pendidikan, goal, mengejar apapun yang bisa dikejar termasuk orang-orang toxic, memasukan orang-orang ke dalam diri untuk menutup rasa kosong tersebut meski efeknya tidak baik nan mutual, dll.

Hingga akhirnya sadar....
  • Meski ada ruang kosong, tidak semua layak untuk dimasuki dan masuk, hanya karena ruang itu kosong dan butuh di penuhi.
  • Ruang kosong itu kaan tetap kosong hingga kita mengisinya dengan isi yang tepat.
  • Saat tidak ada cinta, maka ruang kosong itu perlu diisi cinta. Bukan yang lain. Jika tidak ada cinta yang bisa kita terima atau tidak ada orang yang mau memberi dan mengisi. Tandanya kita yang perlu mengisi ruang kosong akan cinta itu dari diri dalam diri sendiri.
  • Kadang ruang kosong hanya butuh disii oleh diri. Diri yang penuh welas asih dengan diri sendiri, diri yang memvalidasi semua sensasi dan pengalaman yang hadir, diri yang menemani setiap detik yang hadir, diri yang memaafkan diri sendiri, diri yang mengakui akan kekosongan itu dan menerima tanpa penghakiman apapun, diri yang mulai bisa merangkul dan merawat ruang kosong tersebut.
  • Tidak semua kekosongan perlu diisi. Jika tidak mempu diisi, terisi, mengisi; cukup disadari, diakui, diterima. 
  • Menghargai diri adalah saat tidak sembarangan mengisi ruang-ruang dalam jiwa termasuk ruang kosong tersebut. Kita berharga, kita layak, kita bernilai, jangan pernah mengisi ruang dengan sampah hanya karena belum menemukan berlian. Jika masih kosong ya rawat saja agar tetap bersih, rapih, baik, wangi, dan isi dengan hal-hal baik meski tidak sampai penuh.
  • Jiwa kita, kita sendiir yang punya kendali. Dan semua yang masuk atas se izin diri. Jangan pernah izinkan semua hal yg hadir apalagi ingin masuk hanya karena ada ruang.
  • Ruang kosong tetaplah ruang, tidak selalu harus jadi gudang dan tenpat sampah. Kita bs merubahnya jadi ruang sakral yang hanya bs diakses oleh diri sendiri atau oleh orang2/hal2 baik berguna yg memang kita izinkan masuk.

Tennis

Tadi main tennis pakai pelatih bersama strangers.
I observed very single things, movement, energy, everything (termasuk pikiran sendiri).
As usual, latihan tennis mengingatkan untuk:
1. Saat bola ga kepukul, biarin, ga usah disesali.
2. Saat bola jauh, ada kalanya dilepas aja, gak perlu di kejar.
3. Fokus di saat ini, masa ini, dan yang akan hadir di depan. 
4. Calm and stay grounded.
5. Fokus sama diri sendiri

----
Selama latihan, muncul suara-suara mengecilkan diri yang mebangun ketidakpercayaan diri dan kualitas diri yang menurun. Seperti "duh bego bgt gw" pas satu bola lewat. Atau saat tidak segesit 2 tahun lalu karena sudah lama tidak latihan, muncul pikiran "mampu ga ya, bisa ga ya", Terus fokus berubah ke orang lain dan ketakutan terlihat jelek, buruk, salah, merasa orang-orang lebih hebat, lbh wah (pdhl orang biasa aja bahkan dont care). Terus mulai banding-bandingin dengan orang, apalagi kalo pelatihnya malah mendiskriminan dan gak fair (diri dikucilkan, dikasih jatah wkt lbh dikit, di taro diurutan belakang) suara-suara mengecikan diri di kepala semakin keras.

Durasi 2 jam, lebih penuh sama suara mengkerdilkan dan menghaikimi diri sendiri daripa having fun dalam proses latihan, bermain, dan koneksi dengan tubuhnya.

Sampai di momen mulai mengendalikan pikiran sendiri "stop pikiran. kita (body, mind, and soul) udh lama ga main, bukan berarti bodoh, ga bisa, ga mampu, orang lain lebih keren. Kita dibawah mrk, bukan berarti kita berhak diperlakukan gak adil dengan selalu jd urutan terbelakang dan waktu yg lbh sedikit. Kita ga oke sekarang bukan berarti krn tdk mampu, tdk bisa, dan ga bs lebih keren dr mrk. Kita kan keren". Hasilnya?
1. Speak up ke pelatih ttg unfairness akan waktu.
2. Minta rally sama kaya orang lain (one on one) dan semuanya adil
3. Pukulan mulai terarah dan benar (ya kadang kita perceive judgement org ke diri dan mewujudkan judgement itu. Jd saat pelatih anggap kita bodoh, kiat bs teerus2an bodoh sampe kita sadar sama kemampuan diri. Disitu jumping potential muncul).
4. Resentemnt akan ketidakadilan mulai hilang
5. Keluar lapangan dengan rasa happy.
6. Bisa me-review bloon krn udh lama ga latihan, hasil dr pikiran yg mengecilkan diri, perceive judgement orang. Ternyata banyak amsalah dan kesalahan 90% dr pikiran dan terlalu menaruh judgement/energy orang (meski tdk 100% mrk suarakan langsung) diatas diri.

Inget, latihan itu kita bayar sama. Jadi harus dapet keadilan yg sama, minimal secara kesempatan dan waktu. Kalau kita bodoh (saat itu) just stop our mind to judge ourself dan mengecilkan diri sendiri.
 

Monday, January 5, 2026

Rasa Takut

1 January 2026 pagi aku check out dari penginapan menuju bandara untuk pulang. Sebelum ke bandara, aku mampir ke toko oleh-oleh. Lalu pesan gojeg agar perjalanan lebih cepat dan murah. Selama perjalanan, drivernya cerita kalau jalana sepi, driver-driver tepar semalaman kerja sampe subuh, akan sulit dapat ojeg maupun taxi online. Dia pun menawarkan untuk ditungguin di te,pat oleh-oleh dan mengantarkan ke bandara. Seketika aku sempat merasa panik dan takut untuk susah dapat driver karena sedang buru-buru dan waktunya mepet. Saat diri lebih tenang, lebih jernih, akhirnya kembali ke keinginan diri untuk pakau mobil ke bandaranya (bukan ojeg-motor), akhirnya aku tolak "nggak deh mas, makasih, saya sampe sini aja gak usah ditungguin". Setelah berbelanja, saya pesan taxi online dan langsung dapat dengan cepat nan mudah.

Dari kejadian itu tiba-tiba muncul kesadaran tentang "ketakutan". Emosi adalah barang dagang paling laku apalagi rasa takut. Mulai dari asuransi, kecantikan, sekolah, dan bayak hal lainnya yang memanfaatkan rasa takut manusia untuk mendapatkan keuntungan. Banyak manusia yang takut jelek, takut ditinggalin, takut kesepian, takut diabaikan, takut gak pasti, takut susah, takut gak dapet dan telat, takut tidak berguna, takut miskin, dan keytakutan-ketakutan lain dimana itu lahan basah untuk bisnis, Ya, memanfaatkan rasa takut dengan menjual ilusi rasa aman lewat suatu produk. Hal keculnya seperti yang dilakukan driver ojeg dengan mengkaitkan fenomena tahun baru yang ramai dan banyakk gojeg yang tepat, lalu memanfaatkan kepanikan saya ngejar pesawat, dan menjual rasa takut dengan menawarkan rasa aman dengan nungguin saya untuk lanjut ke bandara. 

Ya, tidak ada yang salah dengan rasa takut amupun pihak lain yang memanfaatkan rasa takut diri untuk keuntungannya. Yang perlu disadari adalah adanya emosi takut tersebut, menerima ketakutan diri, dan berfikir jernih, makan kita akan bisa membuat pilihan yang memang align dengan keinginan diri, tujuan, dan jiwa. 

Thursday, December 4, 2025

Trusting Self

Setiap orang memiliki awarenessnya masing-masing baik being dan tubuhnya. Dan setiap pengalaman yang di rasakan, semuanya valid. Not just perception, we can sense energy. 

Nah saat kita tumbuh di lingkungan yang manipulatif, abusif, gaslighting, yang sering meng invalidasi sebagai bentuk mendistorsi realita diri untuk lepas dari tanggung jawab atau gain kontrol; orang mungkin akan belajar untuk invalidasi dirinya sendiri, untuk mengecilkan perasaannya, untuk mempertanyakan awarenessnya, untuk mengkhianati intuisinya, dan tidak mempercayai dirinya sendiri dan butuh validasi luar untuk mengkonfirmasi experience, intuisi, dan awarenessnya.

Baiknya, semesta memfasilitasi untuk kita kembali terhubung dengan diri dan belajar mempercayai diri kembali. Lewat kejadian-kejadian sejenis, lewat orang-orang manipulatif, lewat orang-orang yang tidak mau memvalidasi truth yang hadir, lewat situasi kondisi tersebut yang berulang. Samapi akhirnya kita sadar, belajar mengakui diri, memvalidasi diri, trusting self, dan akhirnya bersatu dengan diri kembali. Kita tumbuh menjadi orang yang tak bergantung pada siapapun untuk memvalidasi pengalaman, perasaan, emosi, bahkan insight yg datang. Sehingga langkah kita lebih cepat dan mudah.

Lalu trusting self itu apa?
Sesederhana dunia bilang makanan A enak, tapi kamu ngerasainnya gak enak, ya trust self. 
Jangan nyalahin diri sendiri karena kamu merasakan hal berbeda, gak perlu cari bukti kenapa makanan A yang kamu gak enak, gak perlu cari dukungan orang lain untuk memvalidasi makanan A di kamu gak enak. Just trust self dan done.

Semakin kita kenal diri sendiri, trust diri sendiri, semakin tidak mempan di gaslight. Sekalipun orang gaslighting di iya in banyak orang untuk menguatkan manipulasinya, kita tau the turth, our truth, dan tidak membuat diri mempertanyakan kewarasna diri dan menggerus self worth.

Monday, November 10, 2025

10/11/2025

Satu persatu anggota keluarga pergi meninggalakn tubuhnya untuk selamanya. Dari mulai kakek nenek, adik kakak orang tua, sepupuh, saudara yang lain. Masa telah berganti menuju waktunya masing-masing.

Dulu kita masih anak kecil yang bertemu setahun sekali saat lebaran, bermain bersama, nginep di rumah saudara bergilir. Saat merantau satu kota, dianterin sekolah naik mobil maupun motor, yang saat sakit ditengokin diajak ngobrol. Ada juga momen kesel banyak dinasehati yang gak relevan, dan banyak momen kasih yang dirasakan oleh beberapa anggota keluarga yang telah pergi dari tubuhnya.
 
Semoga segala amal menjadikan cahaya dan kemudahan di akhirat,
Semoga Allah selalu memberikan kasih dan sayangnya selalu.
Jika ada yang masih menganjal atau belum selesai, semoga Allah berikan keikhlasan, kelapangan, healing, dan rasa tuntas.

--------
Seorang perempuan yang ditinggal meninggal suaminya dikala anak-anak sudah besar, bukanlah hal mudah melupakan segala kenangan puluhan tahun bersama. Segala jatuh bangun, perasaan cinta yang hadir dan tumbuh, kebersamaan, koneksi antar jiwa, dan kehadiran baik secara fisik, psikis, mental, dan emosi.

Lalu ditinggal saudara kembarnya, adiknya, sepupuh terdekatnya, dan sekarang ditinggal pergi anak-anaknya. Lebih dari 4 orang sudah mendahuluinya. Mungkin takdir yang memberikan kepikunan akan memory terbaru, justru menjadi kebaikan untuknya. Kebaikan untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan, rasa bersalah yang mungkin hadir akan kenangan masa lalu.
---------

Terimakasih telah hadir ke dunia dan bersingungan takdir mejadi keluarga.
Terimakasih atas segala kontribusi dan pembelajarannya.
Terimakasih atas segala contoh dan pengalaman yang diberikan.
Semoga selalu diberkahi dan dapat tempat yang terbaik.

Thursday, October 23, 2025

Experiences

Thankful for all experience that came.
for each has revealed a different kind of energy,
guiding me gently toward greater awareness of myself and life.

When I was manipulated, I learned to sense the energy of manipulation.
So now, when it appears again, I can recognize it early
and choose a response that protects my life and honors myself.

When I was attacked by black magic, 
I came to recognize what it feels like. So in the future, 
if a similar experience arises, I can sense and discern whether 
it comes from dark energy, an energetic clash, or something else entirely.

The more souls I meet  from different places, times, and situations,
the richer my awareness becomes of human energy and their intention.
Every encounter, whether in friendship, work, or love, family
adds a new layer of understanding and teaches me how to 
navigate connections with clarity, compassion, and grace.

Friday, October 17, 2025

Kebutuhan dan kepentingan (1)

Kebutuhan dan kepentingan.
Semua orang memiliki kebutuhan dan kepentingannya masing-masing.
Kebutuhan dasar seperti makan, tidur, bergerak, aktifitas rekreasi, social connection, sense of belonging, intimacy, feeling loved, loving others, being respected, recognition, money, self actualization, meaningful relationship, purpose, goal, space for growth, freedom. Dimana saat ada yang tak terpenuhi apalagi jika banyak, maka akan muncul berbagai masalah. Dari masalah emosi, psikologis, mental, perilaku, kesehatan, keuangan, dll.

Menariknya, mungkin tidak semua orang diberi ruang atau diajarkan untuk mengenal dirinya sendiri, mengenal kebutuhannya, dan dibiasakan untuk meet their needs. Terutama jika individu tumbuh di lingkungan yang tidak pernah memenuhi kebutuhannya dan di tuntut untuk memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Maka akan tertanam dalam alam bawah sadarnya jika dirinya tak penting, kebutuhannya tidak penting, kebutuhan orang lain paling penting dan harus diutamakan. Dan saat dirinya lack of di berbagai area dan tidak ada satupun yang mau memenuhinya (seperti sense of belonging, hal2 yang butuh orang lain) ya akan muncul gangguan emosi, lalu ke pikiran, ke fisik, ke pekerjaan, keuangan, dan ke kehidupan lainnya ikut berantakan. karena love dan sense of belonging kebutuhan dasar manusia sekalipun terhubung dengan Tuhan, ya tetap butuh dari manusia jg. 

Dari setiap kebutuhan yang tak terpenuhi, menghasilakn penderitaan, ketidakbahagian, pengkhianatan, kesulitan hidup, kemiskinan, Hingga akhirnya sadar akan kebutuhannya, belajar untuk memenuhinnya, jikapun dunia luar tak memberikan kebutuhannya, ia belajar untuk memberikan dari dirinya sendiri. Sayangnya, bagaimana diri bisa memberikan sesuatu yang diripun tak pernah merasakan dan tak kenal energy nya? 

Pada akhirnya berserah diri jadi usaha terakhir. Hingga Tuhan membuka jalan, memepertemukan dengan orang-orang yang memenuhi kebutuhannya sata itu. Entah lewat insight, action, maupun support material lainnya dna menghasilkan pengalaman bagaimana kebutuhan terpenuhi. Lambat laun, ia membiasakan diri untuk memenuhi kebutuhan dirinya hingga badannya merekam itu semua dan attract hal-hal yang dibutuhkannya effortlss. Dan itu bukan perjalanan singkat 1-2 tahun, butuh puluhan tahun bahkan lebih. Dan disini power diri muncul. Power untuk percaya dengan dirinya, menghargai dirinya, menciptakan boundaries anatara memberi dan menerima, memperjuangkan diri, mengejar apa yang dibutuhkan, termasuk menyembuhkan self worth - perasaan layak. Self power untuk merubah keadaannya sendiri. Dari yang awalnya tak berdaya, tersisihkan, terabaikan oleh dunia luar, mengabaikan diri sendiri, taken for granted, fokus pad adunia luar, menjadi fokus kedalam diri, bersinar dari gelas yang penuh. 

Thursday, September 18, 2025

18092025

Dengan orang yang tepat, di tempat yang tepat; diri ternutrisi dengan baik dan tumbuh melesat. Tentramnya jiwa, tenangnya batin, jernihnya pikiran, dan sehatnya fisik memberikan kehidupan yang terus lebih baik dan lebih baik.; mencapai aktualisasi diri hingga membuat dada lapang,

Tuesday, September 9, 2025

09092025

Saat kita tahu seberapa berharganya diri, seberapa pentingnya diri, dan tau ada yang sayang dengan diri meski 1-2 orang, kita akan mampu memfilter mana yang penting dna tidak, mana yang layak dna tidak, mana yang kind dan harming. Termasuk mampu utuk mejaga, menghargai, dan menyayangi diri sendiri.

Se abusif nya orang tua, dengan segala harming, abuse, dan trauma yang mereka ciptakan pada diri. Trauma yang menghancurkan kehidupan, jiwa, raga, kesehatan, masa depan, relasi, dan finansial. Ada waktu yang mereka korbankan, ada harta yang mereka usahakan, ada mimpi yang mereka lepaskan sejak kita di kandungannya, lahir, dan tumbuh. 

Mungkin bukan hal mudah menerima, memaafkan, dan melepaskan segala kesempatan yang hilang atas segala trauma yang orang tua ciptakan. Dan disini kita belajar untuk mencintai orang tua tanpa syarat dengan segala apa yang mereka lakukan terhadap diri, belajar untuk mengasihi orang tua, mengasihi diri sendiri, belajar untuk ikhlas terhadap yang sudah lewat, dan mengambil alih dengan bertanggung jawab pada kehidupan sendiri. 

Semakin disadari, menyadari; semakin sadar banyak sekali orang-orang yang tak penting dalam hidup, banyak sekali energy yang terkuras untuk hal-hal itu, banyak sekali orang-orang yang memang tidak layak; dan dari sini boundaries tercipta dengan sendirinya.

I feel grateful atas segala kesadaran yang hadir dna perubahan yang terjadi.

Thursday, August 28, 2025

Beda level (2)

Kasus 1. Batalin janji
Si A gak ngabarin, pas ditagih malah marah, blamming kita, playing victim, dan tidak ada resekejul. Jikapun ada resekejul, akan dibatalin lagi.
si B mengabari beberapa jam sebelumnya (karena mepet), menjelaskan alasannya, memberikan pilihan jadwal lain. Dan sata orang kecewa/ kesal, ya terbuka santai menerima kosekuensinya tanpa defensif atau ma;ah menyerang.

Kasus 2. Being vulnerable and asertif.
Si A merasa diserang, penuh pembenaran dan defensif, malah jadi nyerang dengan intention menyakiti. Alhasil tidak terjalin komunikasi, pemahaman, dan solusi bersama.
Si B berterimakasih "makasih ya sudha terbuka dan bilang", lalu being space "apa lagi yang kamu kesal sama aku", "menawarkan solusi "apa yang kamu mau?". Dilakukan, case closed, dan tak pernah berulang.

Kasus 3. Salah paham
si A defensif, menyelamatkan diri, merasa dirinya benar, gaslighting orang, manipulatif.
Si B, menderngarkan perspektif dan asumsi pihak lain, memahami, tidak defense amupun menyerang. Lalu mengkomunikasikan maksdunya dan ada rekonsilisasi. 

Cara orang merespon, handle masalah, melihat masalah, menyelesaikan masalah, ternyata dipengaruhi banyak hal. Mulai dari latar belakang, pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, pergaulan, kedwasaan, kematangan mental, daya nalar, IQ, spiritual, wawasan, kepekaan, dll. Termasuk levelnya masing-masing.

----
Kadang ada orang melihat suatu masalah sepele dan menyepelekan. Ya bisa jadi masalah itu sepele, atau dirinya yang tak mampu melihat the core of that situation and problem, atau ya memang ignorant dan kurang wawasan aja. 

Beda Level (1)

Ada beberapa unpleasant experience dan emotion yang terus terjadi berulang. 
Setiap curhat ke orang terkait hal itu, orang-orang yang dicurhati merespon "kayaknay mereka kurang wawasan, jadi gak paham sikap kaya gitu berdampak apa, gak paham juga cara merepon hal seperti apa", "mereka beda level, kalo kamu kan sering pindah-pindah tempat, merantau, berbaur sama banyak jenis orang baru, mandiri dari kecil. Sedangkan mungkin mereka lingkungannya ya ity-itu aja", "latar belakang pendidikannya beda ya, S1 dan S2 cara berfikirnya beda, cara melihat masalahnya beda, cara padangnya beda. pendidikan tuh berpengaruh loh dan sepertinya memang beda aja levelnya", "udah lah gak usah dipikirin, gak penting, beda level. fokus aja ke kerjaan kamu".

Berbulan-bulan tidak paham omongan mereka. Aku malah terus fighting, menjelaskan, berjuang, dan berusaha to make it better. Sampai di momen saat sedang ngobrol dengan orang kantor, mendadak sadar "oooo bener ya emang beda level". Mereka tidak mampu melihat masalah, sehingga solusi yang mereka lakukan pun tidak tepat dan didnt works. Bahkan jadi blamming dna labeling akunya yang bermasalah dan masalah hanya karena aku sendirian minoritas, dan mereka tidak mampu "melihat" apa yang aku "lihat". 

Semenjak itu, badanku spontan melakukan hal-hal penting. Termasuk jadi stop interaksi duluan, konfrotasi, mejelaskan, gifing knpwledge, sharing expereince, dan hal-hal yang selama ini memang tidak perlu diberikan ke orang yang tidak mampu menerima dan paham. Alih-alih bisa menerima, saling kontribus, malah diri yang dianggpa ini itu. 

Ternyata "beda level" bukan bentuk arogansi dan kalimat menyenangkan diri. 
Alhamdulillah akhirnya paham. Bismillah.

Wednesday, August 20, 2025

20/08/2025

Penderitaan terbesar adalah:
Saat diri bisa melihat semuanya; melihat hingga ke dalam hingga akar; mampu membaca dan mengidentfikasi masalahnya; tau solusinya; mau berkontribusi; mencurahkan seluruh waktu, energi, perhatian, kemampuan, semuanya untuk mengubah itu semua menjadi lebih baik; tapi hal tersebut tidak mau berubah, tidka mau menerima kontribusi, tak sadar. 

Ketika kita bisa melihat lebih dari apa yang pad aumumnya terlihat, memiliki hasrat untuk menolong melebihi menolong diri sendiri, melihat semua kekacauan dan mengambil itu semua sebagai masalah diri hingga diri yang menderita tanpa ada perubahan yang hal itu mampu terima dan terjadi. 

I am really sorry to myself,
to be too aware, too sensitive, too care, too nurture, too sacrifice for people/ place/ things that mutual or reject us. Sorry for abandonment you dear myself, for everything org people that really important to me. 

20/08/2025

I’m truly happy to see friends getting married, launching books, starting new businesses, moving to America, receiving promotions, buying property, and achieving their dreams. Deep down, all of this reminds me to focus on what really matters and stay committed to the process. Thank you for sharing such inspiring and eye-opening news. Bismillah.

Sunday, August 10, 2025

2/8/25

My soul full of love, joy, and gratitude.
Thank you for invitation and having me.

Happy birthday, Arthur!
All the best for everything!

 
 

Flashback, 3 years ago (2022) I moved to Jakarta, without family, friends, circle, just alone by myself. I asked my self "how to make friends at this age?". Suddenly one of my  acquaintance told me about this community. So I joined and still have not friends wkwk. Beside that, I am so grateful to meet all of these people. I felt sense of belonging; experience love, warm, kindness; learned many things, to love myself, to more open to others, to trust, to communicate better, to create healthy boundaries. Its mean a lot for me. I am so grateful to know Arthur. His maturity, kindness, energy, so wonderful.

Wednesday, August 6, 2025

Gratitude

Energy never lies. We can feel it in every action, word, situation, condition, place, object, and person long before the mind begins to process it.

Last weekend, I attended an event where I met many people from different walks of life. At one moment, a guy complimented my dress: “You are so gorgeous". I smiled, said thank you, and started explaining why I chose to wear that dress. But before I could finish, he gently cut in and said, “Just own it". I instantly stopped my word and got the energy behind that. The energy was uplifting, encouraging, and deeply empowering. It hit me in a way that made me pause and reflect.

Before leaving the event, I said goodbye to everyone, waving my hands and giving hugs. When I hugged one of the guys, his embrace carried such warmth and kindness that it caught me off guard. In that moment, I felt like crying, his energy was so gentle, it touched something deep in me.

On the taxi ride home, I cried. Tears flowed as I began to realize so many good things I had never truly noticed before. There was a deep sense of gratitude and tenderness behind those tears, like my heart was finally catching up with everything I’d been feeling.

Thursday, July 31, 2025

Beres

2019 ada cidera di betis, lalu fiisoterapi. Out of blue, dokternya komen "kamu kalo nikah, nikah sama orang yang kamu cinta, yang saling cinta. Yang cocok sama kamu, bukan orangmu", "dna ingat, nikah sama cowok yang beres, yang beres ya". Tahun berganti, sampai di momen pertengahan 2025 (barusan) sadar sesuatu, teringat perkataan dokter rehab medik, dan baru get it maksudnya. 

Mungkin kita terbiasa pada kondisi dan pengkondisian masa kecil. Semua yang diterima dianggap hal normal dan saat terjadi berulang di usia dewasa bahkan sepanjang usia, hal tersebut di normalisasikan. Hingga di momen banyak healing, dapat experience berbeda (good or bad), semua jadi terlihat jernih. Lambat laun jadi paham mana laki-laki beres, wounded, baik, healed, bermasalah, semua terlihat jernih. Termasuk mampu melihat mana boundaries, defense mechanism, trauma response, pure kindnss, yang punya hidden agenda, mana yang personality, karakter, trauma, dll. 

Untuk sampai kesana, diperlukan kejernihan dalam melihat. Dan kejernihan ini, personally di dapat saat melepaskan banyak trauma, being present, being grounded, dan ada kematangan secara spiritual.

Siapapun jodoh ku, semoga kamu beres ya biar kita segera ketemu.
Healed, being real you, stabil, kuat (secara fisik, pemikiran, mental, batin, finansial), kind. Ibarat pohon ya kaya pohon jati dengan kelembutan selembut sutra dan ya kita match aja, mutual, saling berkontribusi, dan bertumbuh terus. 

Monday, April 7, 2025

Love it

The people, the place, the moment, the experience, so light, joyful, and make me expand.
I love to meet people, to socialize, to experience new place, in the move.

Monday, March 24, 2025

Being content

When we feel enough and content with ourselves,
We will realize:
Not all relatives need to be accompanied,
Not all relationships need to be continued,
Not all opportunities need to be seized,
Not all problems need to be solved,
Not all friends need to be kept,
Not all misunderstandings need to be corrected,
Not all accusations need to be explained.

When we feel enough and content with ourselves,
We don't need anything and anyone to fulfill our soul.
So, We can see everything clearly and hear our intuition,
We can make decisions and take action based on our awareness,
And not affected by things outside of oneself.

Thursday, March 20, 2025

Tujuan

Semakin dewasa, semakin mengenal diri sendiri, salah satu yang disadari adalah tentang kecocokan.
Pekerjaan, pertemanan, relasi romantis, ya semua tentang kecocokan. Dan gak perlu jadi orang lain atau berusaha cocok dengan sesuatu atau orang hingga kehilangan jati diri asli. Karena takut ditinggalkan, diabaikan, kehilangan kesempatan, sendirian, atau hal lainnya. 

Dan dibalik itu, tentang tujuan.
Untuk sebagaian orang yang sangat mudah membaca karakter orang, saat ia memiliki tujuan yang sangat jelas dan hasrat tinggi untuk mencapainya. Maka ia akan mampu cocok dengan segala jenis orang (siapapun itu). Karena fokusnya pada tujuannya dan secara alami ia tahu bagaimana cari berkomunikasi, interaksi, dan memperlakukan orang. Jadi ya dia akan cocok dengan semua orang selama tau apa tujuannya.

Personally, tujuan itu seperti kompas dan fokus adalah amunisi untuk sampai ke tujuan itu. 
Selama punya tujuan dan fokus mencapainya, pasti akan selalua da dan bisa menciptakan dan mendapatkans emua yang dibutuhkan untuk sampai kesana. Bahkan bisa jadi banyak yang menenmani, mendukung, datang membantu, bahkan memberikan kendaraannya yang lebih canggih untuk segera sampai. 

Begitupun saat tak punya tujuan, hidup gampang tertarik sana sini, masuk drama sana sini, nyasar sana sini, berkonflik dengan orang, bahkan menyusahkan diri sendiri tanpa arti yang jelas. Karena saat tidak memiliki tujuan, itu dalam keadaan kosong dan bingung, termasuk boundaries (waktu, tenaga, sumber daya, emosi, finansial, dll) pun menjadi lemah bahkan hilang.

Jadi yang ditekankan bahkan ditanya tiap malam dan bangun tidur adalah:
What my truth purpose?
What I really want? Its mine?
What I really truly desire and lust for?
Who am I if I walk on my real reality?
Show me the clarity, Guide me.