Friday, May 22, 2026

Luka

Luka tidak pernah sembuh dan hilang jika tidak di proses dan disemnuhkan.
Ia hanya masuk ke lapisan bawah, diam, terkubur, menumpuk, hingga muncul ke permukaan, meledak saat adatersenggol hal jenis dan terpicu aktivasinya. 
Hal yang dianggap sepele untuk orang lain, bisa menjadi hal besar yang membuat seseorang meledak, bunuh diri, ataupun membunuh orang. Karena ada luka yang teraktivasi sekalipun logikanya bisa berfikir jernih; sistem tubuh, sistem syarat, dan sistem otaknya bereaksi langsung dan diluar nalar.

Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disembuhkan
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak di proses
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disadari dan di akui. 
Luka tidak akan hadir ke permukaan tanpa trigger maupun ruang tenang.
Luka tidak akan bisa di proses dan sembuh tanpa rasa aman, bahwa diri dan tubuhnya aman.

Orang toxic, abusif, lack of empathy, apapun itu siapapin itu bisa memicu luka dalam diri sekalipun di lapisan terdalam yang tak pernah tersentuh puluhan tahun. Tapi penyembuhan tetap butuh ruang tenang dan aman. Lingkungan dan orang-orang yang sehat, aman, mature.

-----

Bagaimana jika salah satu sumber pahala adalah saat mampu taking care diri, menjadi ruang aman bagi orang lain, dan memberikan warisan baik (nervous system yg sehat, system otak yang baik, sistem hormon yang seimbang, trauma-trauma yang healed, mental blok yang terlepas, rasa takut yang hilang,  energy joy dan mature grounded ygang tercipta, mindset yg sehat dan bertumbuh,  boundarie syg sehat, dll) untuk keturunan yang merubakan bagian dari peradaban. 

Thursday, May 21, 2026

Rasa Takut

  • Intercourse karena takut ditinggalin, padahal in deep down ga mau/ belum siap.
  • Bertahan di hubungan yang tau tidak baik dan tak bertumbuh, karena takut memulai relasi baru. Takut tidak sesuai, takut tidak nyaman, takut lama lagi, takut makan waktu dalam prosesnya, dll.
  • Bertahan di pekerjaan yang tidak menghargai, merendahkan, memperlakukan seperti keset; karena takut dikeluarkan, takut di pecat, takut sulit dapat pekerjaan baru, takut besok gak bisa makan, takut.
  • Bertahan dalam pertemanan yang tidak mutual, tidak nurturing, unkind, harming, one sided, tidak bertumbuh, tdk menghargai; karena takut sendirian.
  • Bertahan dalam rumah tangga abusif, karena takut tidak bisa makan.
  • Bertahan dalam pernikahan yang harming dan membuat diri stuck, karena takut memilih diri sendiri.
  • Menggubur jati diri, menjadi people pleaser, melepaskan boundaries; karena takut tidak dicintai dan tidak diterima.
  • Rebutan ini itu, booking ini itu, karena takut tidak kebagian.
  • Sikut sana sini, rampas sana sini, menghalalkan segala cara; karena takut kehilangan.
  • Bekerja keras menggumpulkan banyak harta hingga greedy dan sangat pelit; karena takut miskin.
  • mencambuk diri, menekan diri, keras terhadap diri; karena takut hidup sia-sia. Sekalipun tubuhnya butuh rehat dan sedang dalam fase banyak gabut.
  • Rela dimadu, menjadi yang kedua, mejadi selingan, menjadi budak, karena takut tidak ada lagi yang mau dengan dirinya dan tidak mendapatkan cinta dari siapapun meski orang yang memanfaakan dia pun tidak cinta dan jauh dari kata baik.
  • Memaksakan diri lembur meski badan sudah lelah dan bisa dilakukan besok, hanya karena takut tidak dicintai karena berbeda (pulang duluan dikala yang lain pada lembur)
  • Membeli sesuatu yang tidak disukai, karena takut dikeluarkan dari kelompoknya.
  • Menolak orang-orang yang datanf dengan baik, karena takut kecewa lagi.
  • Menolak bantuan yang hadir, karena takut merepotkan
  • Mengorbankan diri demi keluarga, hingga jiwa mati karena takut kehilangan cinta dari mereka
  • Bertahan di tempat yang tidak menghargai dan memberikan ruang tumbuh, karena takut keluar dari zona aman yang sudah bisa diprediksi meski beracun.
  • Selalu sibuk karena takut teringat hal-hal tidak menyenangkan dan segala trauma
  • Sibuk mengejar pahala dengan sebagian ibadah hingga lalai dengan kehidupan duniawi (tidak bekerja, tidak menafkahi keluarga dengan baik, kurang aksi nyata), karena takut dosa, takut masuk neraka. 
Seberapa banyak keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan rasa takut?
Takut tidak dicintai, takut sendirian, takut ditolak, takut tidak diterima, takut keluar dari rasa aman dna familiar, takut memulai hal baru, takut tenang, takut dihakimi, takut menjadi ruang untuk duduk bersama segala sensasi emosi yang hadir.

------

Apakah iblis dan setan, selain masuk lewat ego, mereka pun masuk lewat rasa takut?
Rasa takut yang kadang sering tidak disadari, tapi menjadi emosi dasar dalam memutuskan sesuatu?
Rasa takut yang membuat diri tubuh, pikiran, dan jiwa, tidak selaras?
Rasa takut yang membuat diri selalu berada di survival mode?
Rasa takut yang menciptakan benteng sendiri untuk tumbuh dan melompat?
Rasa takut yang membuat diri tenggelam dalam ketakutan yang tidak nyata?
Rasa takut hingga diri lupa kalau sejatinya hanya Tuhan  yang paling berkuasa menjadikan sesuatu dan merubah segala sesuatunya. 

-------

Saat kita utuh dengan diri sendiri, tenang, mencitai diri, menerima diri apa adanya; kita tidak akan tertarik mencari-cari validasi, cinta, stimuli, penerimaan dari siapapun, dan membuktikan diri.

Saat tubuh kita merasa aman, kita merasa aman dan nyaman dengan diri sendiri, percaya Tuhan ada, dan percaya semesta selalu mendukung, tidak ada celah rasa takut muncul. 


Sunday, April 12, 2026

Ruang Kosong

Mungkin ada ruang kosong di dalam jiwa yang disadari ataupun tidak.
Ruang akan cinta, koneksi, rasa aman, sense of belonging, dicintai, dipahami, diterima, diakui, apapun itu.
Ruang kosong itu akan terus-terusan minta diisi dan diisi agar diri merasa utuh bahkan menghindari ketidaknyamana dari rasa kosong tersebut. 
Entah diisi dengan rutinitas, kesibukan, belanja, makan, harta benda, liburan, achievement, status, pendidikan, goal, mengejar apapun yang bisa dikejar termasuk orang-orang toxic, memasukan orang-orang ke dalam diri untuk menutup rasa kosong tersebut meski efeknya tidak baik nan mutual, dll.

Hingga akhirnya sadar....
  • Meski ada ruang kosong, tidak semua layak untuk dimasuki dan masuk, hanya karena ruang itu kosong dan butuh di penuhi.
  • Ruang kosong itu kaan tetap kosong hingga kita mengisinya dengan isi yang tepat.
  • Saat tidak ada cinta, maka ruang kosong itu perlu diisi cinta. Bukan yang lain. Jika tidak ada cinta yang bisa kita terima atau tidak ada orang yang mau memberi dan mengisi. Tandanya kita yang perlu mengisi ruang kosong akan cinta itu dari diri dalam diri sendiri.
  • Kadang ruang kosong hanya butuh disii oleh diri. Diri yang penuh welas asih dengan diri sendiri, diri yang memvalidasi semua sensasi dan pengalaman yang hadir, diri yang menemani setiap detik yang hadir, diri yang memaafkan diri sendiri, diri yang mengakui akan kekosongan itu dan menerima tanpa penghakiman apapun, diri yang mulai bisa merangkul dan merawat ruang kosong tersebut.
  • Tidak semua kekosongan perlu diisi. Jika tidak mempu diisi, terisi, mengisi; cukup disadari, diakui, diterima. 
  • Menghargai diri adalah saat tidak sembarangan mengisi ruang-ruang dalam jiwa termasuk ruang kosong tersebut. Kita berharga, kita layak, kita bernilai, jangan pernah mengisi ruang dengan sampah hanya karena belum menemukan berlian. Jika masih kosong ya rawat saja agar tetap bersih, rapih, baik, wangi, dan isi dengan hal-hal baik meski tidak sampai penuh.
  • Jiwa kita, kita sendiir yang punya kendali. Dan semua yang masuk atas se izin diri. Jangan pernah izinkan semua hal yg hadir apalagi ingin masuk hanya karena ada ruang.
  • Ruang kosong tetaplah ruang, tidak selalu harus jadi gudang dan tenpat sampah. Kita bs merubahnya jadi ruang sakral yang hanya bs diakses oleh diri sendiri atau oleh orang2/hal2 baik berguna yg memang kita izinkan masuk.

Tennis

Tadi main tennis pakai pelatih bersama strangers.
I observed very single things, movement, energy, everything (termasuk pikiran sendiri).
As usual, latihan tennis mengingatkan untuk:
1. Saat bola ga kepukul, biarin, ga usah disesali.
2. Saat bola jauh, ada kalanya dilepas aja, gak perlu di kejar.
3. Fokus di saat ini, masa ini, dan yang akan hadir di depan. 
4. Calm and stay grounded.
5. Fokus sama diri sendiri

----
Selama latihan, muncul suara-suara mengecilkan diri yang mebangun ketidakpercayaan diri dan kualitas diri yang menurun. Seperti "duh bego bgt gw" pas satu bola lewat. Atau saat tidak segesit 2 tahun lalu karena sudah lama tidak latihan, muncul pikiran "mampu ga ya, bisa ga ya", Terus fokus berubah ke orang lain dan ketakutan terlihat jelek, buruk, salah, merasa orang-orang lebih hebat, lbh wah (pdhl orang biasa aja bahkan dont care). Terus mulai banding-bandingin dengan orang, apalagi kalo pelatihnya malah mendiskriminan dan gak fair (diri dikucilkan, dikasih jatah wkt lbh dikit, di taro diurutan belakang) suara-suara mengecikan diri di kepala semakin keras.

Durasi 2 jam, lebih penuh sama suara mengkerdilkan dan menghaikimi diri sendiri daripa having fun dalam proses latihan, bermain, dan koneksi dengan tubuhnya.

Sampai di momen mulai mengendalikan pikiran sendiri "stop pikiran. kita (body, mind, and soul) udh lama ga main, bukan berarti bodoh, ga bisa, ga mampu, orang lain lebih keren. Kita dibawah mrk, bukan berarti kita berhak diperlakukan gak adil dengan selalu jd urutan terbelakang dan waktu yg lbh sedikit. Kita ga oke sekarang bukan berarti krn tdk mampu, tdk bisa, dan ga bs lebih keren dr mrk. Kita kan keren". Hasilnya?
1. Speak up ke pelatih ttg unfairness akan waktu.
2. Minta rally sama kaya orang lain (one on one) dan semuanya adil
3. Pukulan mulai terarah dan benar (ya kadang kita perceive judgement org ke diri dan mewujudkan judgement itu. Jd saat pelatih anggap kita bodoh, kiat bs teerus2an bodoh sampe kita sadar sama kemampuan diri. Disitu jumping potential muncul).
4. Resentemnt akan ketidakadilan mulai hilang
5. Keluar lapangan dengan rasa happy.
6. Bisa me-review bloon krn udh lama ga latihan, hasil dr pikiran yg mengecilkan diri, perceive judgement orang. Ternyata banyak amsalah dan kesalahan 90% dr pikiran dan terlalu menaruh judgement/energy orang (meski tdk 100% mrk suarakan langsung) diatas diri.

Inget, latihan itu kita bayar sama. Jadi harus dapet keadilan yg sama, minimal secara kesempatan dan waktu. Kalau kita bodoh (saat itu) just stop our mind to judge ourself dan mengecilkan diri sendiri.
 

Wednesday, March 11, 2026

Maturity and Being Wise

 Banyak pemimpin yang cerdas, capable, gesit, dan sangat logic. Sekali melihat masalah, logikanya langsung jalan, cepat memberikan penilaian dan keputusan. Semua dilihat dari apa yang terlihat dan diputuskan berdasakan logika tanpa banyak variable.

Contoh sederhana:
Naik taxi, nunggu lama, drivernya banyak nanya, gatau jalan, nyasar,  telat.  Maka dengan mudah langsung memberikan penialain performa bintang 1. Secara logika benar, melihat hanya di momen itu dengan variable waktu dna knowledge driver.  Dibalik itu semua, ada variable lain yang berkontribusi tentang sikon dan dampak penialainnya  karena bintang 1 langsung bikin di suspend, dll. Penilaian hanya dilihat lewat kejadian saat itu. Tapi penilaiannya bisa berdampak panjang untuk kehidupan orang lain. Dan ini tidak hanya tentang profesionalitas, karena driver pun manusia yang kehidupannya dinamis, flukturatif. Dan jangka waktu sependek itu, kurang bijak untuk memberikan penilaian keseluruhan tentang seseorang dan pekerjaannya.

Begitupun sata di pekerjaan, banyak bos-bos muda yang cerdas, cekatan, dan mampu memimpin sistem bergerak sesuai tujuan perusahaan. Namun ada kebijaksanaan yang luput. Kebijaksanaan tentang cara menyampaikan kritik, dignity orang lain yg perlu di jaga, cara memanusiakan manusia, variable-variable lain, situasi kondisi, kemampuan melihat dari sudut pandang orang lain, penilaian yang komprehensif. Kalau diamati, hanya sebatas objek, 2-3 variable, selesai. 

Misal: ada pegawai baru tanpa info jelas, target, job list, dan expetasi yg disampaikan di awal, dikenalkan ke sistem, struktur organisasi, ke orang-orang satu divisi diharapkan tau semuanya. Tau apa yg dikerjakan, tau sejauh apa, tau harus ngapain, tau budaya kantor seperti apa, tau alur informasi dan hirarkinya, tau pikiran dan expetasi bosnya. 

Friday, March 6, 2026

Komunikasi

Kadang komunikasi bermasalah karena arahnya beda.
Pihak A berdasarkan ego, melihat dari salah-benar, kalah-menang.
Pihak B berangkat dari pemahaman.
Pihak C berangkat dari kesadaran. 

Pihak A sibuk gimana caranya menang dan benar.
Pihak B sibuk menjelaskan untuk terpahami dan saling menangkap poin.
Pihak C membuka kesadaran dengan pertanyaan tanpa kesimpulan.

Beda arah ditambah beda gaya komunikasi, level intelektual seseorang, level maturity, level life's experience, level vibrasi, level kedalaman jiwa, ya akan beda juga dinamika komunikasi dan hasilnya.

Komunikasi dengan pihak A untuk orang-orang B dan C di level  berbeda, akan terasa sangat melelahkan. Menjelaskan untuk membuka clarity dan saling menangkap poin dianggap defensif (ya karena ini proyeksi pribadi mereka yang mengejar benar dan menang, tidak mau salah dan kalah dengan defensif). Sedangkan pihak B yang tujuannya untuk dipahami dan memahami, mendapatkan clarity, ia akan frustasi dengan pihak A, endingnya ya pihak B yg terdzolimin dengan drama ego pihak A. Pihak C ketemu pihak A ya cukup diterima dan dilepas, ketemu pihak B dia bisa langsung paham, mepati jalan, logika memahami, kesadaran aktif. 

Tuesday, February 24, 2026

What if

Kalau uang bukan masalah, 
Pilihan apa yang dipilih?

Kalau uang bukan masalah,
apakah membeli barang x akan membuat diri dan kehidupan lebih greater?

kalau uang bukan masalah,
apakah bekerja di X membuat jiwa raga bahagia dna greater?

kalau uang bukan masalah,
apakah masih tinggal di tempat sekarang?

kalau uang bukan masalah,
apakah akan memilih kantor xx?

kalau uang bukan masalah,
apakah mau beli makanan ini? apakah body nya happy?

kalau uang bukan masalah,
mau pergi jalan kaki, ojeg, pesawat, atau apa yang bikin diri greater?

kalau uang bukan masalah,
apakah memilih pilihan saat ini/ ini?

kalau uang bukan masalah,
pilihan apa yang tersedia yang bikin diri (jiwa raga) expand, greater, joy?

kalau uang bukan masalah,
apakah tetap berada di relasi saat ini?

kalau uang bukan masalah,
kehidupan apa yang bisa dipilih?

kalau uang bukan masalah,
karya apa yang bisa diciptakan dengan segala kemudahan?

kalau uang bukan masalah,
tempat mana yang paling berkontribusi dan nurturing?

kalau uang bukan masalah,
keputusan apa yang mau diambil?


Thursday, February 19, 2026

Jodoh

Banyak sekali utas perempuan maupun laki-laki tentang relasi. Perempuan yang ingin hidup mewah secara instant, laki-laki yang pemalas tanpa usaha, perempuan yang meminta sesuatu yang dianggap terlalu tinggi oleh laki-laki. Tentang harta, nafkah, perawan, value yang dinilai sebagai alat tukar dalam relasi. Menariknya tanpa sadar polanya jadi saling menuntut, membandingkan, untung rugi, dan menilai, tanpa ada ruang kontemplatif ke dalam diri sendiri tanpa berisik. 

In deep down, I believe jodoh itu cerminan diri. Cerminan luka yang sama-sama belum sembuh, cerminan fragile ego, cerminan fixed mindset, cerminan pattern, cerminan vibrasi diri, cerminan apa yang terjadi di dalam diri. Saat kita tau kualitas diri, kita tidak akan berisik mengumumkan value diri dan pasangan seperti apa yang pantas, alais cukup disimpan di diri snediri dan dilakukan. Saat ada yang hadir yang secara logika tidak memenuhi ego; justru itu jadi ajang refleksi evaluasi diri to improve. Karena saat vibrasinya sudah berbeda, akan terpisah sendiri. Misal ketemu pasangan yang suka abuse, bohong, mengkhianati diri, mengabaikan; bisa jadi kita melakukan itu juga ke diri sendiri sehingga menarik pasangan seperti itu. Saat diri sadar, ambil pelajarannya, dan evolve dengan belajar mencintai diri, percaya terhdap diri sendiri, prioritasin diri, taking care diri dengan baik. Maka orang yang hadir dalam hidup pun berubah, termasuk pasangan. Datang orang-orang yang sangat menghargai, nurturing, taking care kita dengan baik. 

Untuk waktu, bisa jadi sudah ada ketetapannya.
Yang bisa kita lakukan antara menjalani, menerima, dan berusaha akselerasi.

Personally, I dont have any insecurity about jodoh. 
Bisa jadi ada faktor sudha kenal diri sendiri, anteng sama diri sendiri, relasi yang baik dengan laki-laki disekitar sejak kecil (ayah, adik, kakek, om, pakde, sepupuh).

Untuk perempuan, yang mungkin stress atau ada insecurity ttg jodoh, bisa digali relasi dengan ayah dari kecil sampai dewasa bagaimana? apakah dekat secara emosi, apakah akrab, apakah dapat empati dr ayah, apakah ayah hadir dalam hidup dan kehidupanmu, dll. Biasanya kalau relasi dengan ayah baik, perempuan itu kehidupan sekolah, pekerjaannya baik. Termasuk rasa aman dengan lawan jenis. 

Wednesday, January 28, 2026

Ekspresi (2)

Ekspresi itu sesederhana hari ini mau pakai baju apa hari ini. Kita udah pilih baju yang soapn sesuai normal sosial, tapi kita pengen warna neon misal. Itu akan ada saja yang menghakimi "norak", "cari perharian", "jelek", atau penghakiman positif "ih lucu", "bagus", "keren banget kamu", "wah berani". Dan komentar-komentar orang itu gak ada hubungannya sama diri sendiri. Itu cuma proyeksi apa yang ada di dalam dirinya. Selama kita masih mengikuti aturan (pakaian tidak terbuka, terlalu pendek, dna tidak ada aturan tentang warna pakaian, ya tidak jadi masalah).

Ada pun expresi dalam berkomunikasi jujur. Being vulnerable bilang "aku sedih banget waktu ditinggalin sendiri", "akugak suka di kontak weekend kalau tidak urgent", itu semua kan hak orang loh. Anehnya, banyak masyarakat yang anggap kejujuran, being direct, komunikasikan boundaries, expresikan perasaan, itu dianggap serangan, ngajak ribut, ngajak berantem, nyalahin, menabuh genderang permusuhan. Alhasil yang diributkan ego mereka sendiri tapi blamming orang lain yang immature, arogan, 

Adapun ekspresi dalam berkarya, misal nulis buku di judge "gak akan laku", "ngapain", blabla. Ekspresi dengan masak, bikin kue, jualin karena suka dan prosesnya fun, ada aja penghakiman "lulusan S2 cm jualan kue", "ngapain dokter masak2, gabut", "udha kaya, jualan, nutup rejeki orang gak mampu".

Ekspresi emosi pun akan ada aja penghakimannya. Sedih, nangis, dianggap lebay cengeng, di suruh berhenti berisik. Kesal, menyampaikan kesal, dianggap nyari ribut. Saat olahraga dianggap gilak olahraga, dan kadang malah menyiksa diri sendiri. Kecewa di nilai banyak harapan padahal orang yang gak amanah dan memang abusif. Banyak sekali judgement, gaslighting, manipulatif, rejection. Alhasil banyak orang sakit-sakitan dari memendam segala macam emosi karena tidak ada ruang ekspresi yang aman. 

Kalau orang ekpresiin diri dengan pakai parfum terasi menyengat, ya wajar orang terganggu karena yang terdampak panca indra langsung - tubuh. Tapi kalau ekspresi orang tidak menganggu fisik kita, masih muncul judgement dan memicu masalah, ya tandanya sudah tidak objektif karena sudah ada penilaian yang muncul hasil dari persepsi, ego, pov, dll. Padahal semua hal itu netral just information, just color, just shape, just words, just tone, as simple as that. 

Ekspresi (1)

Setiap orang memiliki pengalaman, pikiran, perasaan, emosi, persepsi, dan energy nya tersendiri. Ekspresi adalah salah satu bentuk untuk mengalirkan energy agar jiwa, raga, pikiran bisa menjadi sehat, tenang, ringan, dabhkan mendapati inspirasi dalam prosesnya, bahkan uang. Ekspresi bisa dilakukan secara verbal langsung, tulisan, aktivitas, kreasi, pakaian, ataupun karya. Saat individu menahan ekspresi dalam dirinya, ada energy yang tertahan dan stuck, manifestasinya bisa ke emosi, trauma yang tak tersembuhkan, sakit fisik, wellbeing, hambatan dalam keuangan, dan lainnya.

Idealnya sesuatu di ekspesikan secara jujur, murni, langsung, tuntas, tanpa beban. Namun kenyataannya, banyak sekali yang perli dipikirkan agar apa yang ingin di ekspresikan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari yang merugikan diri. Sehingga banyak sekali yang di pikirkan, dipertimbangkan, dipedulikan, yaitu: norma sosial norma agama, norma tempat kita tinggal, pikirna orang lain, perasaan orang lain, ego orang lain, dll. Sampai akhirnya itu semua menjadi beban tersendiri dan menimbulkan ketakutan. Ketakutan tidak diterima, tidak dicintai, ditolak, dihakimi, dinilai buruk, kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dll. Alhasil mungkin banyak yang memilih diam, cari aman, menekan perasaan, emosi, ambisi, ide, hasrat, pikirannya sendiri bahkan menekan kedalam. 

Saat seseornag mengekspresikan sesuatu, ya itu tentang dirinya. Tentang apa yang terjadi di dalamnya, pikirannya, jiwanya, perasaannya, tubuhnya. Tentang kepedulian akan sesuatu, kemarahan, rasa syukur, kebahagian, kesedihan, dll. Jadi, saat muncul judgement, reaksi atas ekspresi orang, bisa jadi masalahnya ada di diri. Misal, ada orang mengekspresikan kekecewaannya dengan teriak anjing, even bukan ke kita terus kita nge judge negatif, ga sopan, buruk karena mengkaitkan dengan norma, ya bisa jadi in deep down diri juga pengen teriak kasar tapi gak berani, malu, ketahan super ego, jadi men judge orang lain seperti itu. Atau mendadak reaktif karena ekspresi orang tersebut mentrigger luka lama yang suka di maki-maki orang tua dengan kata anjing (misal). 

Yang ingin dishare di tulisan ini adalah....
Apapun yang orang lain lakukan tuh tidak ada hubungan dengan diri sendiri, sebgitupun komentar orang lain pun tidak ada relevansinya dengan diri. Semua itu hanya cerminan apa yang terjadi di dalam dan apa yang tertahan oleh super ego. 
1. Jadi kalau mau berekspresi ya lakukan aja, jangan takut dihakimi, dinilai buruk, tidak di cintai, ditolak. 
2. Kalau ada orang berekspresi abc, ya itu tentang dirinya. Stop taking personally dan jadiin masalah

Masalahnya settingan sosial yang mementingkan "apa kata orang", "image sosial", "image perusahaan", "image keluarga", dan mengkaitkan ke banyak hal, ini yang membuat sedikti orang mampu benar-beanr menjadi dirinya sendiri dan jujur. Everyone wants to be loved, accepted. Fakta lainnya, judgement itu akan selalu ada, penolakan pun akan ada saja, kita tidak bisa mengontrol dunia luar kecuali punya uang segunung as power yang bisa shut people off di depan kita, jadi ya pilihan ada di tangan masing-masing sejuah apa memendam diri dan being people pleasing at this society, dan seberapa jauh berani jujur menjadi diri sendiri termasuk berekspresi. Dan itu bukan hal putih, kita bisa memilih presentasinya. 

Monday, January 5, 2026

Rasa Takut

1 January 2026 pagi aku check out dari penginapan menuju bandara untuk pulang. Sebelum ke bandara, aku mampir ke toko oleh-oleh. Lalu pesan gojeg agar perjalanan lebih cepat dan murah. Selama perjalanan, drivernya cerita kalau jalana sepi, driver-driver tepar semalaman kerja sampe subuh, akan sulit dapat ojeg maupun taxi online. Dia pun menawarkan untuk ditungguin di te,pat oleh-oleh dan mengantarkan ke bandara. Seketika aku sempat merasa panik dan takut untuk susah dapat driver karena sedang buru-buru dan waktunya mepet. Saat diri lebih tenang, lebih jernih, akhirnya kembali ke keinginan diri untuk pakau mobil ke bandaranya (bukan ojeg-motor), akhirnya aku tolak "nggak deh mas, makasih, saya sampe sini aja gak usah ditungguin". Setelah berbelanja, saya pesan taxi online dan langsung dapat dengan cepat nan mudah.

Dari kejadian itu tiba-tiba muncul kesadaran tentang "ketakutan". Emosi adalah barang dagang paling laku apalagi rasa takut. Mulai dari asuransi, kecantikan, sekolah, dan bayak hal lainnya yang memanfaatkan rasa takut manusia untuk mendapatkan keuntungan. Banyak manusia yang takut jelek, takut ditinggalin, takut kesepian, takut diabaikan, takut gak pasti, takut susah, takut gak dapet dan telat, takut tidak berguna, takut miskin, dan keytakutan-ketakutan lain dimana itu lahan basah untuk bisnis, Ya, memanfaatkan rasa takut dengan menjual ilusi rasa aman lewat suatu produk. Hal keculnya seperti yang dilakukan driver ojeg dengan mengkaitkan fenomena tahun baru yang ramai dan banyakk gojeg yang tepat, lalu memanfaatkan kepanikan saya ngejar pesawat, dan menjual rasa takut dengan menawarkan rasa aman dengan nungguin saya untuk lanjut ke bandara. 

Ya, tidak ada yang salah dengan rasa takut amupun pihak lain yang memanfaatkan rasa takut diri untuk keuntungannya. Yang perlu disadari adalah adanya emosi takut tersebut, menerima ketakutan diri, dan berfikir jernih, makan kita akan bisa membuat pilihan yang memang align dengan keinginan diri, tujuan, dan jiwa.