Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Monday, July 1, 2019

Memutus Rantai

Kita tak bisa memilih terbentuk dari sperma siapa, dalam keadaan seperti apa, mau dilahirkan dari rahim siapa, punya ayah ibu biologis seperti apa (sehat secara fisik kah? sehat secara mental kah? sehat secara psikis kah? sehat secara spiritual kah?).

Anak.
tak minta dibuat,
tak minta dikandung,
tak minta dilahirkan.


Saat sperma bertemu ovum, menjadi embrio, berkembang menjadi janin, lalu lahir sebagai bayi. Makhluk hidup baru ini tak tau apa2, ia lahir ke dunia baru, tak mengenal siapapun kecuali perasaan-perasaan ibunya, kecuali rekaman keadaan lingkungan saat ia di kandungan. Ia lahir dalam keadaan tak berdaya. Butuh cinta, butuh kasih, butuh pijakan, butuh bimbingan, butuh dibantu membuat pondasi yang kuat untuk kehidupannya kelak.

Sayangnya, tak semua orang membuat, mengandung, dan melahirkan anak dalam keadaan sehat dan penuh kesadaran. 

Banyak dalam realita, dua manusia yang sama-sama rapuh menikah atas dasar tuntutan sosial dan berharap bisa saling mengisi satu sama lain tanpa mau membereskan dirinya terlebih dahulu (membereskan trauma-traumanya, menyembuhkan luka batinnya, membenahi mindsetnya, mengedukasi dirinya). Lalu luka batin, insecurity, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, pikiran negatifnya ia tularkan ke anaknya tanpa sadar. Seperti seorang ayah yang waktu kecilnya suka dipukul, maka ia akan memukul anaknya saat ia frustasi, saat ego nya tersenggol, saat luka batinnya tersentuh. Ia akan menularkan itu, seperti pepatah hurting people hurt people. Begitupun seorang ibu yang dulunya merasa sedih, kesepian sesederhana pernah dimusuhin sodaranya waktu main saat masih kecil, ia akan memproyeksikan rasa sakitnya ke anak perempuannya (orang lebih muda memproyeksikan dirinya ke jenis kelamin yang sama) dengan membentuk anak perempuannya seperti dia, menjadi orang yang kesepian dan sendirian. Dengan mengabaikan kebutuhan emosional anaknya, gak memberikan empati, melarang anaknya bergaul, tidak boleh mengekspresikan emosi, sampai anaknya mirip dia, rusak dan rapuh.


Lalu sang anak rapuh penuh tularan luka batin orang tuanya, saat ia menjadi orang tua, ia pun akan menularkan luka batin tersebut terhadap anaknya, dan begitu terus dari generasi ke generasi.
Pertanyaannya,

Mau sampe kapan menularkan luka batin dan merusak anak keturunan?
itu anak cuma titipan loh, yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti (kalau kamu percaya adanya akhirat dan Tuhan). itu anak punya purpose of life dan karakternya masing-masing loh, kenapa dirusak dan menjadi tak seharusnya?


Lalu, gimana cara mutusin rantai tersebut?
1. Jadilah aware.
Sebelum aware, perlu bergaul dan berada di beragam lingkungan biar bisa melihat dunia dari sudut pandang lain, biar bisa melihat beragam jenis manusia lain, biar bisa sadar sama pola dan skema-skema lain. Jadilah aware, sadar sama keadaan diri, sadar mana sifat asli, mana projection dari orang tua dan lingkungan, sadar sama masalah-masalah diri. Luangkan waktu untuk merenung dan berefleksi.
2. Penerimaan
Menerima segala kelebihan kekurangan diri, terima segala luka yang telah berlalu sebagai bagian diri, terima punya orang tua yang begitu, terima kalau diri adalah produk dari orang tua dan lingkungan dengan segala cacat yang ada. Menerima, tidak menyalahkan siapapun termasuk tidak menyalahkan diri sendiri. Lalu benahi satu persatu. 
3. Self improvement.
Mulai lakukan apa yang menjadi kelebihan diri, jangan takut, jangan cemas. Mulai menjalani mimpi dan purpoe of life diri. Mulai hidup penuh kesadaran, mindfullness, dan  enjoyment.

--------------

Kalau ibumu cerai dengan ayahmu lalu menularkan traumanya dengan bilang laki-laki brengsek hingga kamu anak perempuannya takut menikah, berarti ibuu sedang menularkan luka batinnya padamu. Kamu mau hidup waras sesuai realita, kembali padamu.

Kalau ayahmu pernah gagal, takut dinilai buruk. Lalu semua mimpi dan mentalmu dijatuhkan dengan kata-kata gagal sebelum memulai dikala kamu sangat berkompenten dan mampu, maka ayahmu sedang memproyeksikan ketakutan dirinya atas kegagalan terhadapmu.

Kalau ibumu pernah dikatain tak berharga oleh suaminya, hingga slef worth nya jatuh dan membekas jadi trauma, lalu ia melampiaskan rasa sakitnya dengan bilang kamu gak berharga, maka ibu mu sedang menjadikanmu samsak sampah luka batinnya. Kebayang gak jika ini terjadi saat sang anak masih kecil? hanya ibunya yg ada, lalu di cekokin label-label negatif seperti "kamu tidka berharga", maka ia akan memandang dirinya tak layak, tak berharga, pantas ditindas, pantas dikasari, pantas dapat perlakuan buruk, dan tak pantas bahagia. Padahal anak ini brilian, punya bakat menjadi leader, punya potensi menjadi sociopreneurs yang sukses yang mampu membangun satu negara bahkan lebih. Lalu ia hidup seperti sampah, membuang waktunya, menyia-nyiakan potensinya, hanya karena tidak ada satupun yang sadar dan menyadarkan diri aslinya, dan memberikan feedback positif, lingkungan dan orang pertama yg ia lihat di dunia (orang tuanya) selalu melabeli dirinya sampah tak berharga. Satu manusia rusak, satu generasi rusak.
----------------

Menikah tidaklah mudah.
Jangan menikah hanya karena umur, hanya karena tuntutan sosial, hanya karena kesepian, hanya karena berharap ada yang mengisi lubang kosong dalam diri.

Bagaimana orang yang rusak menarik orang yang utuh?
Bagaimana orang yang rusak bisa membenahi orang yg rusak?

Orang menarik orang sesuai frekuensi dirinya. JIka ingin mendapat pasangan waras dan utuh, jadilah waras dan utuh terlebih dahulu.


Memiliki anak tidaklah mudah.
Bukan sebatas urusan bisa hamil, bisa melahirkan, bisa bayar persalinan, bisa menafkahi, menyekolahkan.

Apakah diri sudah sehat dan siap bertanggung jawab?
Apakah diri sudah punya ilmunya dan terus mau belajar?
Apakah diri sudah siap lahir, batin, mental, psikis, spiritual, untuk merawat titipan Tuhan sesuai jati diri aslinya?

----------------

Sudah cukup segala kebodohan dan ego dalam perusakan keturunan dan generasi.
Sudah cukup rantai terikat, perlu diputus demi melahirkan jiwa-jiwa baru yang sehat.
Sudah cukup segala ilusi society menutupi realita.
Sudah waktunya untuk sadar, bebenah demi kehidupan yang lebih baik.
Mau sampai kapan hidup dalam kotak hitam hanya karena takut keluar padahal diluar jauh lebih bebas, luas, sehat. 

Setiap pertumbuhan dan transformasi butuh ketidaknyamanan. Termasuk ketidaknyamanan saat melihat masa lalu, saat menerima segala luka diri, saat menerima kenyataan, saat berusaha tumbuh dengan sagala rintangan yang ada.

Jadilah manusia yang sadar.

Thursday, June 20, 2019

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa tidaklah mudah namun perlu dilakukan jika diri ingin terus tumbuh dan mampu survive.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menerima hal-hal diluar kontrol diri.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menghasilkan sebuah keputusan besar dalam hidup dan bertanggung jawab terhadap resikonya.
Menjadi dewasa adalah saat diri fokus untuk terus tumbuh dan mampu belajar untuk memberi manfaat terhadap sekitar.
Menjadi dewasa adalah saat bisa berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan hidup tenang penuh kedamaian.
Menjadi dewasa adalah saat bisa melepaskan hal-hal yang tak baik dan sudah tak relevan.

Itu defisini menjadi dewasa (menurutku).

Banyak manusia berumur, telah mampu menghasilkan banyak uang dan karir mapan, berkeluarga, Tapi membuat keputusan saja masih diikut campuri oleh orang lain, masih menyalahkan orang saat hal tak menyenangkan datang, masih belum bisa menerima keburukan diri, masih memegang masa lalu dengan penuh attachment, masih belum punya goal hidup selain hanya hidup berutinitas.
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Butuh kesadaran dan keinginan untuk berproses.

Bukan pula hal menyenangkan. Namun dari situ, kita bisa naik ke level hidup selanjutnya,
menjadi manusia yang bebas, damai, dan paripurna.

selamat berproses :)

Korban dan Raja

Manusia diciptakan tak terlepas dari emosi.
Merasakan beragam emosi. nah dari emosi-emosi yang hadir, seringnya memposisikan diri sebagai korban atau raja?

Misal, kamu diselingkuhi, pada umumnya orang merasa kecewa, sedih, bahkan bisa sampe depesi. Nah dari emosi yang hadir, kamu merasa diri sebagai korban dan berlarut dalam kesedihan atau berusaha menjadi raja dari emosi kamu dengan berusaha mengedalikan perasaan yang muncul dan mengalirkannya ke hal-hal konsruktif. Apa yang biasa kamu lakukan? Menjadi korban atau Raja?


Seorang ibu memiliki anak yang sulit sekali dia kendalikan. Lalu merasa dirinya adalah korban dan satu-satunya yang diuji. Kerjanya meratapi, marah-marah, merasa diri tak berharga, hingga merasa berhak memarahi anaknya karena memposisikan dirinya yang paling menderita. Ia lupa kalau anak pun diuji, anak pun punya struggle nya, anak pun punya masalah. Jika sang ibu bermental raja, saat mendapati anak yang kurang compatible hingga sulit ia kendalikan, maka ia akan melihat itu sebagai tantangan, sebagai peluang untuk membuatnya tumbuh dan menjadi orang yg lebih bijak. Maka ia kana menerima, mengobservasi, belajar, beradaptasi, dan memperbaiki keadaan lewat perbaikan mindset dan mentalnya, maka tanpa sadar ia telah menjadi raja dari emosinya sendiri dan telah memberi contoh yang baik untuk anaknya.

Seorang anak sakit karena dirinya kurang menjaga kesehatan, lalu sedih karena harus opname di rumah sakit. Lalu keluarganya bilang "sabar ya sedang diuji". Pertama, si anak sakit karen kesalahannya, harusnya diajarkan taking responsibility dengan "ini kamu sakit karena kurang jaga kesehatan", lalu biar ia berfikir sendiri. Kedua, respon "sabar sedang diuji" tanpa sadar mengajarkan anak memposisikan diri sebagai korban dan orang tak berdaya. coba bandingin sama respon "wuih enak sakit, bisa istirahat badan dan pikirannya", maka ia kana melihat sakit sebagai suatu peluang positif untuk kebaikan dirinya, bahkan bisa menstimuli perasaan superior sehingga ia bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Maksudnya, ia jadi bisa merasa punya kendali terhadap keadaan dan dirinya.

Nah, dalam lingkungan kita sehari-hari, lebih sering ketemu orang bermental korban atau bermental raja?

Kalau lingkungan utama dan pertama kita (keluarga) banyak yang bermental korban, playing small, playing victim, maka tanpa sadar kita pun terbawa polanya dan mirip mereka. Untuk bisa keluar dari "turunan" seperti itu, cara pertama adalah cari lingkungan baru, bergaul sama banyak jenis orang yang beragam, reflektif instropeksi, self educate (edukasi diri), dan mulai pela-pela merubah diri.


Kadang untuk tumbuh lebih sehat dan waras, demi perbaikan diri untuk keturunan yang lebih berkualitas, kita perlu meninggalkan lingkungan yang tidak baik untuk menjaga diri dari kontaminasi hingga diri benar-benar telah sehat dan kebal terhadap kontaminasi tersebut. Pergi jauh dari keluarga bukanlah hal jahat. Jika memang lebih banyak mudharatnya, kenapa tidak? 

Mindset, mental, dan perilaku terjadi turun temurun. Gimana kita bisa sadar berada di lingkungan toxic dan diri punya banya "penyakit" kalau kita belum pernah melihat apa itu lingkungan sehat dan orang-orang waras? Bagaimana kita bisa tumbuh sehat dan memperbaiki diri jika berada dilingunga negatif yang menarik diri untuk terus sama seperti mereka? Gimana bisa memutuskan rantai tidak baik demi generasi yang lebih baik, jika kita tidak bisa memperbaiki diri?


Menjadi korban dan raja dari emosi sendiri adalah contoh kecil dalam proses perbaikan diri. Contoh kecil bagaimana mindset raja dan korban tertanam dalam diri seseorang lewat interaksi pertamanya dan lingkungan terdekatnya.

Yoga dan Meditasi

10 hari pergi ke suatu tempat, tiap hari yoga dan meditasi.
Kelas yang diikuti:
- Pranayama
- Qi Gong
- Yin yoga healing
- Yin and Myofiscial Release
- Kundalini Tantra Yoga
- Shamanic Breathworks
- Higher Self Meditation
- Active consciousness Meditation
- Healing Meditation
- Mindfulness Meditation
- Peacefull Meditation
- Yoga Meditation

Sehari bisa 2-3 kali ikutan kelas. 
Ikut dalam keadaan lepas obat, lagi manic irritable, PMS. Mood lagi super sengol bacok bawaannya pengen gebukin orang, terus berubah jadi super melodramatic nangis2, pokonya kaya rollercoaster dan intense. Entah kenapa tiba2 jadi agak reda, bisa ngendaliin perilaku dan emosi, bisa tidur proper, dan kebukti banget deh yoga dan meditasi bekerja dengan baik buat fisik, jiwa, dan batin gw. Bahkan syaraf kejepit dan lagi sakit2 badan mendadak enakan gt badannya. Kayaknya bakal gw praktekin tiap hari. Nah masalahnya, sekarang gw lupa detail teknisnya. Hahaha.

Intinya dari yoga dan meditasi, gw belajar untuk hadir pada masa sekarang, dengerin badan secara intuitif, connect sama diri sendiri, dan nge release tension. Pengen bahas satu-satu cuma gak janji hehe.

Sunday, March 18, 2018

Khutbah Nikah #1 - Tanggung Jawab


"Kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, suami. Begitupun sebaliknya, kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, dan istri. Kalian hanya punya tanggung jawab terhadap Allah." - Khutbah Nikah di akad tadi pagi.

Lalu ku nangis. Udah mah setiap akad nikah selalu bikin haru, ditambah khutbahnya yang bikin mikir dan menyadari banyak hal.

Jadi mikir, seorang ayah bertanggung jawab terhadap keluarga dengan memberi nafkah serta menjalani fungsinya, semata-mata untuk mempertanggungjawabkan hidupnya terhadap yang menciptakannya. Begitupun dengan anak yang berbakri, istri yang solehah, tentannga yang baik, teman yang soleh, semuanya tidak memiliki tanggung jawab terhadap manusia lain. Masing-masing manusia hanya punya tanggung jawab terhadap Tuhannya dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Semua manusia yang pernah hadir dan bersinggungan dalam hidup, hanya sebagai ujian, cobaan, tempat belajar, mengajari, dan media dalam mempertanggungjawabkan diri terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, kita akan kembali dalam kesendirian, sendiri. Sendiri dalam kubur, sendiri dalam mempertanggungjawabkan semuanya tanpa siapapun.


Bandung, 17 Maret 2018

Khutbah Nikah #2

Masih blm bs move on dr khutbah nikah td pagi. Singkat tp deep. Bagus bgt.
Sering denger bahasan hubungan anak terhadap orang tua. Nah td bahas hubungan seseorang terhadap adik/kakak (jarang bgt denger bahasan ini). Intinya, saat mau nikah, selain sama ayah ibu, perlu minta restu sama adik/kakak juga. Dan itu sama2 penting. Dan jangan jadikan kehidupan setelah menikah sebagai perlombaan.

Terus kepikiran banyak hal.
1. Perhatiin deh, berapa banyak orang ngebet nikah yang gak mikirin perasaan saudaranya sendiri? Alias cm minta izin ke ortu trs udah aja harus terlaksana secepat mungkin. Gak mikirin keadaan adik/kakaknya lg gimana, gak mikirin apa saudara kandungnya sudah ridho? Ya namanya sodara kandung pasti seneng saudaranya nikah, cm dlm situasi tertentu hal itu jadi menyedihkan apalagi kalo landasannya hanya mementingkan kebahagian diri sendiri. Yg diamati sejauh ini, biasanya laki2 kalo udah pengen nikah, gak bisa ditawar apapun alias harus terlaksana as soon as possible. Beda sama perempuan, lebih banyak pertimbangan dan mikirin orang lain (mikirin apakah ayah ibu nya sudah ikhlas melepas?, apakah adik/kakaknya sudah ikhlas melepas dan jadi “sendirian”?, apakah semuanya telah ridho? dll. Karena ikhlas dan ridho pun butuh prosss dan waktu. Gak bisa maksain diri “ya kalian ridho lah” di detik itu.

Ada yg dilangkahi adiknya nikah. Adiknya baru lulus SMA tp ngebet nikah. Sampe kakaknya ngomong “lo jangan nikah kalo cuma pengen pacaran islami!”. Sedih pasti tiba2 ditinggal saudara nikah apalagi dengan alasan yg belum terlalu matang.
Ada jg yg dilangkahi adiknya tanpa warning apapun, tiba2 mau nikah aja, ga liat keadaan (psikis, fisik, dan materi) ortunya, ga liat keadaan saudaranya lg gmn. Yg dipikirinnya cuma hajat dirinya aja dengan alasan “niat baik jangan ditunda”. Gak mikir, apa ortunya ada biaya? Krn yg namanya ortu pasti pengen berpartisipasi saat anaknya nikah. Gak bs asal jawab “ya nikah di KUA aja dulu”. Pd akhirnya setelah nikah belum2 punya anak pdhl subur, mungkin disitu ada ridho adik/kakak nya yg belum didapat alias masih ketahan. Atau ketahan ridho nya justru sama orang lain, orang yg pernah sakit hati.
Jadi mikir aja, berarti saat nikah minta ridho orang tua, adik/kakak, saudara, dsb nya itu penting. Penting untuk kelancaran hari H dan setelahnya. (*jd notes buat diri sendiri jg).

2. Suka merhatiin orang2 yg berumah tangga dan punya anak ga? Berapa banyak orang yang suka pamer kebahagiaan saat hamil? Berapa banyak ibu2/bapak2 yg suka banggain anaknya sampe seolah2 berlomba2 anaknya yg terbaik? Berapa sering ngeliat orang lagi ngebangain cara mendidik anak? 
Kadang mikir, ini mereka beneran lagi sharing kebahagian dan pengalaman mendidik, atau emang lagi pamer ya? Pamer “gw lebih bener ngedidik dan anak2 gw lebih berhasil”.

3. Perhatiin deh perbedaan keluarga kecil (2 anak) dengan keluarga besar (yg anaknya diatas 10). Keluarga besar cenderung kompetitif dengan siapa lebih baik, siapa lebih berhasil, siapa lebih ini itu lainnya. Entah apa fungsinya dan entah apa dasarnya sampai terbentuk mindset dan sikap seperti itu. Tapi mereka semeng banget mgebangain anaknya masing2, ngebangain cara mendidik anaknya, ngebangain kehatmobisan keluarganya, dsb nya. 
Beda sama keluarga kecil yg cm 2 anak. Anak2nya cenderung saling melindungi, menguatkan, gak ada istilah berkompetisi antar sodara. 
Kalo merhatiin dan ngeliat gakta2 yg terjadi, suka mikir, kenapa ya? Kenapa bs gt? Knp keluarga yg anaknya lebih dikit cenderung lebih solid?

Bandung, 17 Maret 2018

Friday, June 10, 2016

Ramadhan #5: Moment A-HA!

Singkat cerita, guru musik bilang kalau setiap muridnya punya cara masing-masing dalam menemukan pola belajar untuk bisa. Pola yang didapat melalui eksplorasi sendiri sampai nemu moment AHA. Kalau sudah melewati moment itu, pola yang ditemukan muridnya akan bakal terus teringat sepanjang masa. Dia bilang kalau soal musik, itu soal perasaan, dan hanya perasaan diri sendiri yang benar, jadi setiap muridnya memang harus mencari AHA nya sendiri. Hal itu lebih "abadi" daripada mentransfer cara harus begini begitu.

Teringat oleh seorang pembimbing (karir), dia melihat bakat, lalu bilang: setiap manusia punya jalur rejekinya masing-masing yang gak bakal pernah bisa diambil orang lain, karena cuma dia sendiri yang bakal bisa "melihat" klik polanya. Untuk mencapai kesana memang dibutuhkan struggle sampai nemu titik AHA. Itu semua harus kamu yang jalanin sendiri, saya hanya membantu membimbing.

Pernah lihat orang yang setiap ikut lomba selalu menang? Ya, karena dia udah nemu kliknya dan mungkin itu jalur rejekinya. 

Pernah liat orang bisnis makanan selalu berhasil? Ya, dia udah nemuin celah dan polanya melalui moment AHA dan hal itu gak bisa dilihat orang lain karena itu jalur rejekinya. Maka sekuat apapun orang mau ngikutin, gak bakal bisa nyamain.

Moment A-HA ini menjadi penting banget. Berasa oase di padang pasir.

Permasalahannya, bagaimana menemukan momen A-HA ini?
(sharing aja ini mah, bukan hal mutlak/ generalisir ya) Setiap merenung, makin merasa kalau kalimat "berilah pentunjuk-Mu" itu besar sekali dalam menentukan langkah awal. Berdoa menjadi langkah paling awal dalam memulai. Lalu berusaha, mencoba, mencoba, sampai titik super struggle, hilang hasrat, berdoa, lalu menemukan A-HA moment yang tak terprediksi waktunya. Bisa sekian menit hingga belasan tahun. Berarti emang ahrua sabar. Sabar sebagai penolong itu bener banget. Soalnya kalo gak sabar, gak nemu-nemu moment A-HA, gak bakal wah bersinar stand out alias biasa - biA aja. Gak mau kan? Nggak. (Ngomong sambil ngaca).

Kadang kalau merhatiin dalam society, ada pesan tersembunyi, bahwa berdoa (meminta keberhasilan)  dengan bobot harapan besaaaaar sering dilakukan setelah berusaha, sebagai "pelengkap". Seolah-olah 0- 99% itu kendali dari kerja keras dan 1% itu doa yang melengkapi jadi 100% (gimana ya bahasanya biar gak salah ditangkap pembaca? ya dinalar aja deh ya). Nyatanya, yang dibutuhkan sebelum melangkah adalah arah, ridha, kekuatan (pikiran, batin, mental, fisik, dll). Berdoa di awal usaha penting bgt bgt. 

*wuallahualam bishawab

Sedikit sharing. Selamat berusaha, selamat menemukan A-HA moment, selamat sukses :D

Ramadhan #5

Thursday, June 9, 2016

Ramadhan #4: Takut

"sama siapa?"
"jangan jauh-jauh"
"jangan sendiri"
"ajak siapa gitu buat nemenin"

Sadar tak sadar, kalimat tersebut sering kita dengar dalam lingkungan kehidupan sehari-hari atau bahkan akrab di telinga yang bersumber dari lingkungan terkecil kita. Tanpa disadari, di bawah alam sadar kita, kalimat tersebut secara tak langsung mengajarkan untuk takut hidup sendiri, takut gak ada temen, takut gak bisa pergi karena tidak ada temen, takut pergi sendirian, takut ini itu, seolah-olah semuanya harus ada teman, aman, ke tempat yang dikenal, takut ini itu.

kalau sendirian kenapa?
kalau jauh kenapa?
kalau ke tempat asing kenapa?
kalau tak ada teman kenapa?
*diluar konteks kalau perempuan pergi harus ada mahramnya ya

ya, semua punya alasan yang masuk akal, sebuah runtutan pola pikir logika manusia yang dirancang dalam pikirannya sendiri tentang sebab akibat dalam ranah ke arah negatif. "takut kenapa-napa".

Kita lupa bahwa sejatinya, sekalipun kita sendirian, kita tak pernah sendirian.
Apakah kamu percaya Tuhan?
Apakah kamu percaya Dia selalu ada? selalu mengawasi? selalu menjaga?
Apakah kamu percaya Dia Sang Maha Penolong, Berkehendak, dan Berkuasa atas semua hal di alam semesta ini?

Lalu, kenapa perlu khawatir?
Kenapa perlu takut pergi tak ada teman? 
Selalu ada "keluarga baru" yang disiapkan oleh-nya di tempat lain, selalu ada pertolongan tak terduga dari Nya, selalu ada cinta yang mengisi hampa meski sendirian ke tempat asing.
Bumi Allah luas, apakah Tuhan di Indonesia dengan di Eropa berbeda? apakah takdir meninggal akan hilang dikala bersamaan dan akan hadir dikala sendirian? semua sudah memiliki ketetapannya masing-masing.
Hasbunallah wani'mal wakil Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.  (Al Imran: 173)
Yang perlu ditakutkan adalah, tujuan dan niat kita.
Apa niat kita? Apa tujuan kita?
Apa baik? apa buruk? apa pantas?

Btw, selalu ada orang-orang yang berani untuk berjalan sendirian menuju tujuannya, jadi bakal pasti ketemu orang-orang lain yang setujuan dalam setiap perjalanan kok. so, why so worry? 

Ramadhan #4

Wednesday, March 16, 2016

Empati

Sore hari disela-sela ngobrolin bisnis yang masih super janin, tersangkut obrolan empati.
Bagi jurusan teknik, empati ini mungkin menjadi sesuatu yang sulit, mungkin, karena sistem pendidikan yang didasari mencetak lulusan yang siap terjun ke dalam sebuah sistem dan berada di belakang layar. Beda hal nya dengan jurusan desain, seni, manajemen yang bekerja hingga depan layar, berinteraksi langsung dan perlu memiliki kemampuan empati yang tinggi untuk komunikasi maupun merasakan dalam sebuah perancangan kebutuhan untuk suatu produk jasa/barang tertentu. Mungkin definisi ini bisa salah secara detail, mohon dikoreksi. Biasanya empati dikembangkan lewat himpunan. "mana temen lo?? kenapa gak lengkap?" dll. bukan semata-mata tradisi, ego, senioritas, namun ada sesuatu yang ditanamkan tentang suatu kebersamaan yg intinya mengajari empati.

Ada suatu contoh yang terasa dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan kampus. Setiap orang berbeda, ada yg cepat dan ada yg lambat, ada yg selesai dan ada yg resign (bahasa halus sebelum DO). Apa yang terjadi saat orang udah lulus? yaudah selesai sudah urusan dikampus dan gak peduli juga dengan teman2nya yg belum lulus. Namun, ada beberapa orang dengan empati yang masih peduli dengan nasib teman-temannya yg diambang DO, baik support mental hingga menawarkan bantuan. Padahal selama kuliah, orang-orang ini gak saling terhubung dalam kelompok pertemanan/ berinteraksi, hanya sebatas kenal nama. Sepele. dan terlihat cerminan seseorang  dimana dirinya berusaha bermanfaat dalam lingkup terkecil diluar circle keluarga. 

Pernah ga bayangin diri menjadi orang lain? dengan segala beban hidupnya?
pernah ga ngerasain hati orang sampe sakit nangis sedih?
pernah ga memposisikan orang secara subjektif sesuai situasi kondisi orang bersangkutan?
pernah ga ngerasain perasaan asli orang hanya dari satu gesture dan nada suaranya?
pernah ga mensupport dgn tulus orang yg kesepian sendirian dalam sebuah perjuangan?
pernah ga care sampe nyari solusi buat org yg lg ada masalah tanpa diminta?
pernah ga nangis pas ngeliat mata orang? semua ketakutan, masalah, kesedihan orang itu seolah2 berpindah ke diri?

Jaman sekarang rasanya semua orang berlomba-lomba menjadi terdepan, yang saat mereka nengok ke belakang, gak ada yg ngikutin mrk sebagai ilmu bermanfaat maupun orang bermanfaat. Lalu apa pentingnya empati? banyak.
- meningkatkan spiritialitas thdp Tuhan
- menemukan titik suatu masalah secara tepat dan tau cara mengatasinya dgn baik
- menciptakan suatu produk yg sangat ergonomi baik secara fisik maupun psikis dan menunjang kualitas hidup user
- salah satu modal menjadi manusia, manusia yg paripurna
- memposisikan orang sesuai porsi dan situasi kondisinya
- membantu orang dari segi dukungan mental dan psikis
- merasakan sesuatu lebih deep
- melatih sensitifitas yg berguna baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan
- dan banyak lagi

Ini salah satu saran yang perlu diperhitungkan dan ada dalam kurikulum pendidikan. Menjadikan manusia terdidik bukan sebagai suatu bahan pabrikan yang siap masuk ke dalam sistem, namun jadikan manusia sebagai manusia. salah satunya dengan menanamkan empati. empati yang muncul dari perasaan dan hati, bukan empati hasil logika.