Showing posts with label randomthought. Show all posts
Showing posts with label randomthought. Show all posts

Wednesday, January 28, 2026

Ekspresi (2)

Ekspresi itu sesederhana hari ini mau pakai baju apa hari ini. Kita udah pilih baju yang soapn sesuai normal sosial, tapi kita pengen warna neon misal. Itu akan ada saja yang menghakimi "norak", "cari perharian", "jelek", atau penghakiman positif "ih lucu", "bagus", "keren banget kamu", "wah berani". Dan komentar-komentar orang itu gak ada hubungannya sama diri sendiri. Itu cuma proyeksi apa yang ada di dalam dirinya. Selama kita masih mengikuti aturan (pakaian tidak terbuka, terlalu pendek, dna tidak ada aturan tentang warna pakaian, ya tidak jadi masalah).

Ada pun expresi dalam berkomunikasi jujur. Being vulnerable bilang "aku sedih banget waktu ditinggalin sendiri", "akugak suka di kontak weekend kalau tidak urgent", itu semua kan hak orang loh. Anehnya, banyak masyarakat yang anggap kejujuran, being direct, komunikasikan boundaries, expresikan perasaan, itu dianggap serangan, ngajak ribut, ngajak berantem, nyalahin, menabuh genderang permusuhan. Alhasil yang diributkan ego mereka sendiri tapi blamming orang lain yang immature, arogan, 

Adapun ekspresi dalam berkarya, misal nulis buku di judge "gak akan laku", "ngapain", blabla. Ekspresi dengan masak, bikin kue, jualin karena suka dan prosesnya fun, ada aja penghakiman "lulusan S2 cm jualan kue", "ngapain dokter masak2, gabut", "udha kaya, jualan, nutup rejeki orang gak mampu".

Ekspresi emosi pun akan ada aja penghakimannya. Sedih, nangis, dianggap lebay cengeng, di suruh berhenti berisik. Kesal, menyampaikan kesal, dianggap nyari ribut. Saat olahraga dianggap gilak olahraga, dan kadang malah menyiksa diri sendiri. Kecewa di nilai banyak harapan padahal orang yang gak amanah dan memang abusif. Banyak sekali judgement, gaslighting, manipulatif, rejection. Alhasil banyak orang sakit-sakitan dari memendam segala macam emosi karena tidak ada ruang ekspresi yang aman. 

Kalau orang ekpresiin diri dengan pakai parfum terasi menyengat, ya wajar orang terganggu karena yang terdampak panca indra langsung - tubuh. Tapi kalau ekspresi orang tidak menganggu fisik kita, masih muncul judgement dan memicu masalah, ya tandanya sudah tidak objektif karena sudah ada penilaian yang muncul hasil dari persepsi, ego, pov, dll. Padahal semua hal itu netral just information, just color, just shape, just words, just tone, as simple as that. 

Ekspresi (1)

Setiap orang memiliki pengalaman, pikiran, perasaan, emosi, persepsi, dan energy nya tersendiri. Ekspresi adalah salah satu bentuk untuk mengalirkan energy agar jiwa, raga, pikiran bisa menjadi sehat, tenang, ringan, dabhkan mendapati inspirasi dalam prosesnya, bahkan uang. Ekspresi bisa dilakukan secara verbal langsung, tulisan, aktivitas, kreasi, pakaian, ataupun karya. Saat individu menahan ekspresi dalam dirinya, ada energy yang tertahan dan stuck, manifestasinya bisa ke emosi, trauma yang tak tersembuhkan, sakit fisik, wellbeing, hambatan dalam keuangan, dan lainnya.

Idealnya sesuatu di ekspesikan secara jujur, murni, langsung, tuntas, tanpa beban. Namun kenyataannya, banyak sekali yang perli dipikirkan agar apa yang ingin di ekspresikan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari yang merugikan diri. Sehingga banyak sekali yang di pikirkan, dipertimbangkan, dipedulikan, yaitu: norma sosial norma agama, norma tempat kita tinggal, pikirna orang lain, perasaan orang lain, ego orang lain, dll. Sampai akhirnya itu semua menjadi beban tersendiri dan menimbulkan ketakutan. Ketakutan tidak diterima, tidak dicintai, ditolak, dihakimi, dinilai buruk, kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dll. Alhasil mungkin banyak yang memilih diam, cari aman, menekan perasaan, emosi, ambisi, ide, hasrat, pikirannya sendiri bahkan menekan kedalam. 

Saat seseornag mengekspresikan sesuatu, ya itu tentang dirinya. Tentang apa yang terjadi di dalamnya, pikirannya, jiwanya, perasaannya, tubuhnya. Tentang kepedulian akan sesuatu, kemarahan, rasa syukur, kebahagian, kesedihan, dll. Jadi, saat muncul judgement, reaksi atas ekspresi orang, bisa jadi masalahnya ada di diri. Misal, ada orang mengekspresikan kekecewaannya dengan teriak anjing, even bukan ke kita terus kita nge judge negatif, ga sopan, buruk karena mengkaitkan dengan norma, ya bisa jadi in deep down diri juga pengen teriak kasar tapi gak berani, malu, ketahan super ego, jadi men judge orang lain seperti itu. Atau mendadak reaktif karena ekspresi orang tersebut mentrigger luka lama yang suka di maki-maki orang tua dengan kata anjing (misal). 

Yang ingin dishare di tulisan ini adalah....
Apapun yang orang lain lakukan tuh tidak ada hubungan dengan diri sendiri, sebgitupun komentar orang lain pun tidak ada relevansinya dengan diri. Semua itu hanya cerminan apa yang terjadi di dalam dan apa yang tertahan oleh super ego. 
1. Jadi kalau mau berekspresi ya lakukan aja, jangan takut dihakimi, dinilai buruk, tidak di cintai, ditolak. 
2. Kalau ada orang berekspresi abc, ya itu tentang dirinya. Stop taking personally dan jadiin masalah

Masalahnya settingan sosial yang mementingkan "apa kata orang", "image sosial", "image perusahaan", "image keluarga", dan mengkaitkan ke banyak hal, ini yang membuat sedikti orang mampu benar-beanr menjadi dirinya sendiri dan jujur. Everyone wants to be loved, accepted. Fakta lainnya, judgement itu akan selalu ada, penolakan pun akan ada saja, kita tidak bisa mengontrol dunia luar kecuali punya uang segunung as power yang bisa shut people off di depan kita, jadi ya pilihan ada di tangan masing-masing sejuah apa memendam diri dan being people pleasing at this society, dan seberapa jauh berani jujur menjadi diri sendiri termasuk berekspresi. Dan itu bukan hal putih, kita bisa memilih presentasinya. 

Tuesday, September 2, 2025

Menabur dan Menuai

Menabur dan menuai adalah dua hal berbeda yang saling berkaitan.
Ada yang menabur dalam detik, bulan, dekade, atau bahkan di kehdiupan selanjutnya.
Apapun yang kita tabur, ada masa untuk dituai. Entah diri sendiri yang menuai atau orang setelah diri yang menuat bibir yang diri tanam. Seperti kakek nenek yang sangat baik sepanjang hayatnya, namun selama hidupnya belum sempat menuai benih yang ia tanam. Sampai di waktu menuai saat mereka sudah tidak ada di dunia, sehingga cucunya yang menuai segala karma dan kebaikan nenek kakeknya. Begitupun untuk hal dzolim dan destruktif yang di lakukan. 

Kadang ada hasil yang terlihat cepat, kadang butuh waktu yang lebih lama.
Apapun itu, yang kita nikmati saat ini adalah hasil akumulatif apa yang kita tanam di masa lalu, di kehidupan sebelumnya, termasuk yang di tanam oleh orang-orang yang berhubungan dengan diri seperti keluarga. 

Jika diri lelah berusaha, lelah menyelesaikan banyak hal, lelah secara fisik maupun batin. Tidak ada kata lain selain ikhlas. Karena hanya Tuhan yang tahun kapan semua yang kita usahakan dan tabur akan berbuah dan akan ada masa panennya. Entah di panen dan dinikmati oleh diri sendiri maupun sekitar. Jikapun diri tak sempat menuai dan menikmati semua yang ditanam, maka tak ada kata lain selain ikhlas. Mungkin ikhlas adalah level tertinggi dari manusia yang menyerahkan semuanya pada Sang kuasa dengan segala usaha, pengorbanan, kehilangan, penderitaan, dan ikhtiar yang telah dilakukannya dengan kelapangan hati sebagai hamba yang bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya (kesehatan, kecerdasan, kejernihan, kapasitas, kemampuan, bakat, potensi, dan segala kesempatan yang hadir).

Kembali ke topik menabur dan menuai.
Bisa jadi ada orang yang beruntung berada pada posisi masa panen dari hasil orang-orang sebelumnya tabur dan tanam. Ada yang dihujat dari taburan kedzoliman, ada yang di agung-agungkan dari taburan kebaikan. hal yang ingin disampaikan adalah, apapun yang hadir saat ini, di panen, ingatlah ada pihak lain yang layak mendapatkan kredit yang mungkin terlupakan atau bahkan tak disadari. Begitupun dengan diri sendiri, ada akumulasi keputusan , tindakan, sikap, dari masa lalu yang mungkin terlupakan atau tak disadari. 

Sunday, August 16, 2020

16/8/20

Kadang mikir,
Kalau kangen sama orang, orang itu kangen jg ga?

Sebenernya perasaan itu dua arah ga?

Pernah ada momen kangen bgt sama seseorang, bawaannya udh pgn cerita banyak kalo ketemu. Pas ketemu, orangnya senyum excited jg dan dengan happy siap mendengarkan. Disitu sadar, oh ternyata perasaan kita sama dan dua arah, secara natural connect. 

Pernah jg ketemu 2 orang temen. Sebut saja A dan B. Pas ngobrol2, si A ini menyudahi dan ngajak B pulang. Disitu gw ngerasa si B ini ada perasaan gak enak dan kaya tau aja gw msh pgn ngobrol. Trs jalan ke depan kita dan berpisah. Mereka ke kiri, gw ke kanan. Baru bbrp langkah, merasa ada yg ngeliatin, pas nengok, ternyata si B lg ngeliatin dgn tatapan yg bikin sedih (haru), trs jd pgn nangis dan berakhir balik badan lanjut jalan cepet. 

Disisi lain, pernah ada temen “gw abis ngobrol sama lo, kepikiran berhari2”. Trs gw bingung, emang wkt itu bahas apa ya. Dia kepikiran berhari2 di kala gw gak inget sama sekali. Berarti tandanya pikiran dan hati kita gak connect, gak dia arah. 

Dr bbrp kejadian kaya gt,
Jd bertanya2, apa petanda kalau kita berada dalam hubungan dua arah? Dmn satu sama lain saling bs merasakan hal yg sama? 

Saturday, November 16, 2019

16/11/19

Ku cuma manusia biasa yang punya kekurangan dan berdosa juga. Hanya ingin mengutarakan apa yg ada di pikiran.


Jaman sekarang banyaaak banget yang berhubungan badan (zina) tanpa ikatan pernikahan. Yang penting suka sama suka, selesai. Dan pernikahan hanya sebatas kertas. Bahkan banyak yg bilang “lebih bermoral hidup bersama secara damai tanpa pernikahan daripada hidup bersama dlm pernikahan lalu berpisah”. 



Bahkan salah satu dokter gw pernah bilang “sexual intercourse itu gak perlu nikah. Yg penting suka sama suka. Nikah hanya untuk tertib administrasi”. 



Ya gak salah. Kalau diliat dr sudut pandang mereka ya benar. 



Karena ada pola pikir seperti itu, maka banyak jg orang yg nikah krn ngebet pengen sex. Atau krn banyak orang nikah untuk halal secara sex makanya pola pikir sex tanpa pernikahan itu muncul ya?



In my opinion,
Gatau kenapa di dasar hati terdalam, gw sangat menjauhi zina. Ketemu orang pernah zina aja suka mual (pdhl awalnya blm tau dia suka zina), ada perasaan jijik gt meski cm mild.  Zina memang gak ada urusannya sama moral. Zina haram, sesuatu yg di larang oleh Allah, berarti dampaknya besar. Yang analisa efeknya mungkin gak terjangkau oleh akal manusia. Buat saya, agama diciptakan untuk “mengatur”, dan memberi “petunjuk”. 



Gw lepas jilbab, dosa? Iya. Dosa gak ngikutin aturan agama. Tp gak ada yg berubah sama diri gw selain penutup kepala. Orang ttp respect, gak ada yg macem2. Sampe mikir, respect itu di dapet dr menjaga kesucian bukan sebatas penampilan (in my opinion). Nanti ada aura yg bikin orang respect aja. Sama kaya orang yg blm pernah zina merasa mual di sekitar penzina. Kayaknya secara natural ada reaksi2 seperti itu, gatau kenapa. Coba perhatiin dan rasain sendiri deh...



Tp kalau masturbasi gw setuju. Selama GAK MEMBAYANGKAN/ BERFANTASI APAPUN alias fokus sama badan sendiri semacam garuk tangan krn digigit nyamuk. Masturbasi yg bener2 self love dan explorasi untuk mengenal badan sendiri. Dan dilakukan secara sadar krn diri butuh tp terbatas fisik (gak bs olahraga berat misalnya), jgn krn terstimuli film2 porno (big2 no bgt ini gak bagus buat otak). Gmn ya jelasinnya, intinya masturbasi jg butuh awareness yg baik biar sampe ke titik bukan sekedar carnal desire doang. 


Tuesday, November 12, 2019

12/11/19

Kalau semua orang berbuat baik atas dasar
- tuntutan profesi
- aturan sosial
- tata krama
- takut dosa
- biar dapet pahala
- biar gak dibenci
- biar gak keliatan buruk
- biar image dan reputasinya terjaga
- biar orang balik baik
- biar urusan jd mudah
- dsb

Ku jadi bertanya2, 
Apakah orang baik murni karena hatinya sayang sama makhluk hidup lainnya itu beneran ada?

Giliran ada yg murni baik karena hatinya sayang thdp semua makhluk, hidupnya abis dimanfaatin dan dijadiin keset orang. 

Saturday, July 6, 2019

Lari

Lari dari perasaan sendiri
Lari dari masalah
Lari dari ketidaknyamanan
Lari dari kenyataan
Lar dari kebenaran
Lari dari diri sendiri.

oh dear, how pathetic people.
Terjebak dalam ketakutan dan ilusi.
Hidup dalam sistem turun temurun.

Wednesday, July 3, 2019

Mungkin orang yang menyimak proses hidup seseorang dan bertoleransi atas keberagaman, dia gak akan pernah mempertanyakan hal yang menjadi keputusan seseorang. Karena di setiap keputusan, ada alasan tersendiri.

Kadang pertanyaan dilontarkan hanya untuk memenuhi rasa penasaran bukan kepedulian.
Kadang kita perlu belajar mana yang perlu dijawab, mana yang dibiarkan saja.

Thursday, June 20, 2019

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa tidaklah mudah namun perlu dilakukan jika diri ingin terus tumbuh dan mampu survive.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menerima hal-hal diluar kontrol diri.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menghasilkan sebuah keputusan besar dalam hidup dan bertanggung jawab terhadap resikonya.
Menjadi dewasa adalah saat diri fokus untuk terus tumbuh dan mampu belajar untuk memberi manfaat terhadap sekitar.
Menjadi dewasa adalah saat bisa berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan hidup tenang penuh kedamaian.
Menjadi dewasa adalah saat bisa melepaskan hal-hal yang tak baik dan sudah tak relevan.

Itu defisini menjadi dewasa (menurutku).

Banyak manusia berumur, telah mampu menghasilkan banyak uang dan karir mapan, berkeluarga, Tapi membuat keputusan saja masih diikut campuri oleh orang lain, masih menyalahkan orang saat hal tak menyenangkan datang, masih belum bisa menerima keburukan diri, masih memegang masa lalu dengan penuh attachment, masih belum punya goal hidup selain hanya hidup berutinitas.
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Butuh kesadaran dan keinginan untuk berproses.

Bukan pula hal menyenangkan. Namun dari situ, kita bisa naik ke level hidup selanjutnya,
menjadi manusia yang bebas, damai, dan paripurna.

selamat berproses :)

Korban dan Raja

Manusia diciptakan tak terlepas dari emosi.
Merasakan beragam emosi. nah dari emosi-emosi yang hadir, seringnya memposisikan diri sebagai korban atau raja?

Misal, kamu diselingkuhi, pada umumnya orang merasa kecewa, sedih, bahkan bisa sampe depesi. Nah dari emosi yang hadir, kamu merasa diri sebagai korban dan berlarut dalam kesedihan atau berusaha menjadi raja dari emosi kamu dengan berusaha mengedalikan perasaan yang muncul dan mengalirkannya ke hal-hal konsruktif. Apa yang biasa kamu lakukan? Menjadi korban atau Raja?


Seorang ibu memiliki anak yang sulit sekali dia kendalikan. Lalu merasa dirinya adalah korban dan satu-satunya yang diuji. Kerjanya meratapi, marah-marah, merasa diri tak berharga, hingga merasa berhak memarahi anaknya karena memposisikan dirinya yang paling menderita. Ia lupa kalau anak pun diuji, anak pun punya struggle nya, anak pun punya masalah. Jika sang ibu bermental raja, saat mendapati anak yang kurang compatible hingga sulit ia kendalikan, maka ia akan melihat itu sebagai tantangan, sebagai peluang untuk membuatnya tumbuh dan menjadi orang yg lebih bijak. Maka ia kana menerima, mengobservasi, belajar, beradaptasi, dan memperbaiki keadaan lewat perbaikan mindset dan mentalnya, maka tanpa sadar ia telah menjadi raja dari emosinya sendiri dan telah memberi contoh yang baik untuk anaknya.

Seorang anak sakit karena dirinya kurang menjaga kesehatan, lalu sedih karena harus opname di rumah sakit. Lalu keluarganya bilang "sabar ya sedang diuji". Pertama, si anak sakit karen kesalahannya, harusnya diajarkan taking responsibility dengan "ini kamu sakit karena kurang jaga kesehatan", lalu biar ia berfikir sendiri. Kedua, respon "sabar sedang diuji" tanpa sadar mengajarkan anak memposisikan diri sebagai korban dan orang tak berdaya. coba bandingin sama respon "wuih enak sakit, bisa istirahat badan dan pikirannya", maka ia kana melihat sakit sebagai suatu peluang positif untuk kebaikan dirinya, bahkan bisa menstimuli perasaan superior sehingga ia bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Maksudnya, ia jadi bisa merasa punya kendali terhadap keadaan dan dirinya.

Nah, dalam lingkungan kita sehari-hari, lebih sering ketemu orang bermental korban atau bermental raja?

Kalau lingkungan utama dan pertama kita (keluarga) banyak yang bermental korban, playing small, playing victim, maka tanpa sadar kita pun terbawa polanya dan mirip mereka. Untuk bisa keluar dari "turunan" seperti itu, cara pertama adalah cari lingkungan baru, bergaul sama banyak jenis orang yang beragam, reflektif instropeksi, self educate (edukasi diri), dan mulai pela-pela merubah diri.


Kadang untuk tumbuh lebih sehat dan waras, demi perbaikan diri untuk keturunan yang lebih berkualitas, kita perlu meninggalkan lingkungan yang tidak baik untuk menjaga diri dari kontaminasi hingga diri benar-benar telah sehat dan kebal terhadap kontaminasi tersebut. Pergi jauh dari keluarga bukanlah hal jahat. Jika memang lebih banyak mudharatnya, kenapa tidak? 

Mindset, mental, dan perilaku terjadi turun temurun. Gimana kita bisa sadar berada di lingkungan toxic dan diri punya banya "penyakit" kalau kita belum pernah melihat apa itu lingkungan sehat dan orang-orang waras? Bagaimana kita bisa tumbuh sehat dan memperbaiki diri jika berada dilingunga negatif yang menarik diri untuk terus sama seperti mereka? Gimana bisa memutuskan rantai tidak baik demi generasi yang lebih baik, jika kita tidak bisa memperbaiki diri?


Menjadi korban dan raja dari emosi sendiri adalah contoh kecil dalam proses perbaikan diri. Contoh kecil bagaimana mindset raja dan korban tertanam dalam diri seseorang lewat interaksi pertamanya dan lingkungan terdekatnya.

Wednesday, June 5, 2019

Attachment

Keterikatan.

Pernah gak punya suatu barang, pas ilang ngerasa kehilangan dan kesel banget?
Pernah gak saat ada saudara/ orang tua meninggal, ngerasa kehilangan dan sedih?
Pernah gak sedih saat gak bisa mudik dan ketemu keluarga?
Pernah gak sedih saat kehilangan uang banyak?
Pernah gak merasa keluarga harus baik dan nolong?
Pernah gak merasa pacar/ pasangan harus bisa menyenangkan diri?
Pernah gak dateng ke suatu tempat mendadak syahdu?
Pernah gak merasa cemburu?

Kalau pernah atau sering, berarti diri punya attachment sama hal-hal tersebut (harta, orang, tempat, kejadian, barang). Ada keterikatan atau punya ego kepemilikan terhadap hal-hal tersebut. Jadi saat kehilangan, ada perasaan sedih, marah, kesal.

Kalau dipikir-pikir, manusia punya apa sih?
Harta dan barang hanya titipan, orang tua/anak pun bukan milik pribadi, tempat hanya tempat, kejadian hanya kejadian. 

Kadang manusia merepotkan dirinya sendiri oleh attachment yang dibuatnya sendiri. 
Misal, baru bisa ketem keluarga di hari kedua lebaran, terus sepanjang perjalanan macet 10 jam nangis karena merasa jauh dari keluarga dan gak bisa dateng di hari pertama. Padahal hari kedua pun bisa ketemu, bahkan kalau niat silahturahmi, bisa dilakukan kapan saja saat luang tidak harus saat lebaran. Dan apa gunanya juga nangis meratapi dikala tidak merubah keadaan apapun, malah bikin makin ribet.

Contoh lainnya, saat ada kerabat/ keluarga/ anak/ oarng tua meninggal, kenapa perlu nangis? kenapa perlu merasa kehilangan? mereka hanya manusia yag Tuhan ciptakan dan takdirkan bertemu yang pasti akan ada batas waktunya berpisah. Mereka bukan milik diri, hanya titipan, hanya takdir. Lalu kenapa perlu menangis? karena ada bonding? karena telah banyak kenangan yang dijalani bersama? atau hanya karena ada attachment yang kuat?

Attachment bisa menguntungkan, membuat manusia merasa bertanggung jawab, ada sense of belonging, mengembangkan hasrat me-nurtuner sesuatu/ orang/ momen. Disisi lain, banyak merepotkan dan menyusahkan diri sendiri dengan segala pemikiran-pemikiran yang berkembang dari akar attachment. Seperti lebaran harus mudik, kalau gak mudik jadi sedih. Semacam orang tua/anak harus menolong, kalau gak ditolong langsung merasa gak berharga. Semacam harta adalah miliknya yang membuat diri secure, saat mendadak ilang banyak, langsung merasa miskin. Lupa kalau semua hal hanyalah titipan dan sesuatu yang tak kekal.

Semakin tinggi attachment diri terhadap orang/harta/mmen/tempat, semakin berkembang juga belief dan dogma, semakin tinggi juga keribetan dibuat diri sendiri, semakin tinggi tingkat stress dan kekecewaan yang dihasilkan saat seseorang/sesuatu itu hilang.

Shalat atau meditasi, (menurut analisa gw) membantu manusia melepas attachment-attachment itu, sehingga diri lebih bisa menerima, belajar ikhlas, legowo, dan hidup dengan perasaan ringan nan jiwa bebas. 

Berapa banyak attachment yang kamu tanamkan?

Berapa banyak attachment yang telah kamu lepas?


Saturday, February 2, 2019

Melihat Lebih Dalam

Pernah kah saat ada sesuatu, berusaha melihat lebih dalam ke akarnya?
Memahami sebab akibatnya?Mengidetifikaai motivasi aslinya?Dan menemukan masalahnya? 

Pernahkah menyadari, dibalik kemarahan orang, mungkin ada kesedihan/ ketakutan mendalam yg menjadi akar perilaku emosionalnya?


Pernahkah menyadari, dibalik sifat superiority seseorang dan perasaan menjadi pahlawan, ada perasaan insecure dan inferiority yg mengakar yg tak pernah mampu ia terima sebagai bagian dirinya?


Pernahkah menyadari, dibalik keceriaan seseorang, ada kesedihan dan kesepian yang ia tutup rapat?


Pernahkah menyadari, dibalik diam dan tenangnya seseorang, ada kemarahan dan rasa sakit mengunung yang siap untuk tiba2 meledak?


Pernahkah menyadari, dibalik ketusnya seseorang, ada perasaan takut akan penolakan? 


Pernahkah menyadari, dibalik keramahan seseorang, hanya sebatas basa basi keramahan sosial alias tak peduli?


Pernahkah menyadari, dibalik sifat baiknya seseorang, ada sebuah perasaan hutang budi yang ia ciptakan? dan ia menolong atas dasar untuk kepentingan dirinya?


Pernakah menyadari, apa yang terlihat di permukaan itu hanya ilusi, topeng, baju luar, bukan keadaan aslinya? 


Pernahkah bertanya atau menelusuri tentang kenapa orang bisa begini begitu? Berusaha memahami? Atau hanya sibuk menilai hanya dari apa yg ditampilkan dan di proyeksikannya saja? 


Pernahkah merasakan hati orang dan semua yg sedang dirasakannya kerasa sampe kamu jadi nangis dan ikut2an sakit? 


Pernahkah menyadari motivasi asli orang?
Bisa jadi orang yang baik itu sedang investasi pertemanan agar suatu saat ia minta tolong bisa dibantu. Bisa jadi orang jahat itu sebenarnya lagi pengen ngajarin kamu sesuatu dan aslinya dia baik. Bisa jadi orang cuek itu ngasihruang buat kamu nyelesein masalah sendiri sehingga self esteem dan pede mu tumbuh. Bisa jadi orang nolong itu justru ingin mengotrol hidupmu dengan datang sebagai penolong dan membuatmu bergantung. Bisa jadi apa yang terlihat baik ternyata buruk, apa yang dirasa buruk ternyata baik.

 
Banyak hal yang tak terlihat di permukaan, tak diproyeksikan dengan tepat oleh orang bersangkutan, tak dimunculkan. Rasanya tak adil, jika menilai orang dari hanya baju terluarnya, dari lapisan terluarnya. Tak adil untuk orang tersebut, tak adil juga untuk diri sendiri. Terlalu terlena dengan apa yang ditampilkan dan melihat lapisan luarnya, bisa membuat diri mudah ditipu dan terjebak pula.


Tuesday, October 23, 2018

Sosialis dan Individuality.

"sama siapa?"
"jangan sendirian"
"gak boleh gitu, nanti orang gak suka"
"harus ini itu biar banyak temennya"
"harus baik biar orang baik"
"nanti apa kata orang??"
"jangan sendirian nanti kenapa-napa"
"ajak temennya"
"jangan main sama si itu, si itu blabla"
"besok bareng ya"
"beraninya lo ganggu dia! lo musuhan sama dia, berarti lo musuh kita juga"
"siapa yang berani ganggu salah satu dari kita, bakal kita hajar"
"satu sakit, sakit semua. satu susah, susah semua. satu senang, senang semua"/

Seberapa sering kalian mendengar kalimat yang "mengharuskan" kalian pergi / beraktivitas/ melakukan sesuatu secara bersamaan?
Seberapa sering kalian mendengar kalimat yang "mengharuskan" kalian mengatur sikap agar dapat diterima oleh orang lain?
Seberapa sering kalian memikirikan pandangan orang lain/ mengantungkan hidup terhadap orang lain?
Seberapa sering di alam bawah sadar kalian untuk berani mengemukakan pendapat dan keinginan tanpa takut dibenci/ tidak disukai oleh orang lain?
Seberapa sering kalian berani untuk berbeda menjadi diri sendiri hingga akhirnya dibenci dan diasingkan kelompok?
Seberapa sering kalian berjalan sendiri sendirian dalam "perjalanan" hidup?
Seberapa sering kalian mengenal, menerima, dan nyaman dengan diri sendiri?

Tanpa sadar, secara turun temurun di ajarkan untuk hidup berkelompok, bersikap agar dapat diterima kelompok, berperilaku agar menyenangkan orang lain agar tidak dibenci, bahkan diajarkan memiliki dan menggunakan topeng sesuai kebutuhan sedang berada di  kelompok mana. 

Tanpa sadar, menjadi terlalu asyik menyelami kehidupan berkelompok hingga lupa warna asli diri, hingga lupa "siapa saya", bahkan lupa untuk mengenal dan menerima diri seutuhnya.

Tanpa sadar, mengantungkan keberhargaan diri terhadap seberapa banyak yang menyukai diri, seberapa banyak yang benci, bagaimana pandangan orang (manusia lain), dan bagaimana orang memperlakukan dan mengakui diri ini.

Tanpa sadar, mengantungkan harapan pada manusia lain dalam kelompok, mengantungkan harapan untuk di dukung, dibantu, di bela. Kebersamaan yang pada akhirnya menghasilkan ketidakmandirian dan jiwa-jiwa yang rapuh.

Tanpa sadar, punya kecenderungan cari teman. Baru berani komentar, jika ada orang yang punya komentar yang sama. Baru berani ngomong kalau ada orang yang senasib. Baru berani bergerak saat sudah dapat teman seperjuangan. Semua hal dipendam dalam ketakutan dan baru berani jika ada temannya bahkan mencari teman senasib demi membuat diri kuat.

Tanpa sadar, menjadikan itu semua sebagai strategi untuk survive dalam kehidupan. Baik agar orang baik, menolong agar ditolong, mensuport agar disuport, berteman agar urusan kedepannya mudah. Investasi waktu, tenagam attitude dalam pertemanan, hubungan baik keluarga dan kolega, semata-mata agar dirinya mendapat kemudahan kedepannya (ada yang bantu, ada yang menolong, ada yang bisa diutangin, ada yang backup, dan ini itu lainnya).
--------------------

Karena pola society banyak yang menerapkan konsep hidup seperti itu, maka orang-orang yang tingkat individualitynya tinggi dan menjadi seorang loner, akan dipandang aneh, bahkan menjadi public enemy. Karena yang dianggap tidak sama dan mengacaukan pola yang sudah ada.

Misal, 
Orang pada umumnya makan di luar cari/bareng temen. Saat ada orang makan di restaurat mewah sendirian, pasti dianggap aneh, kasian, gak ada temen, lagi galau, dan segala stigma lainnya. Padahal reality nya, ya dia lagi pengen makan disitu saat itu. kalau ajak orang lain bakal lama lagi. Termasuk saat aktivitas olahraga, kerja, kegiatan sosial, kongkow, dll.

Orang pada umumnya kalau gak suka sama orang lain, diem. Kalaupun berbicara, ya dibelakangnya. gosip sana gosip sini, membangun perspektif orang sesuai keinginannya, menghasut. Saat ada orang yang blak-blak an to the point mengutarakan pendapat dan ketidaksukaannya, maka dianggap nyeleneh, nyebelin, dan berujung dijauhi tidak disukai. 

Orang pada umumnya, menjalin hubungan untuk mempermudah hidupnya, ada tujuan. Saat ada orang asing datang tukus, akan dipertanyakan "maksudnya apa ya? tujuannya apa?" padahal orang dateng ya baik karena baik tulus, gak ada maksud apapun. Jadi terlalu caution (hati-hati) sama orang di luar kelompoknya. Ya bisa bagus bisa buruk sih tergantung sikon.

Seseorang dengan individuality yang tinggi, nyaman menjadi dirinya sendiri dan kadang terkesan egois karena terlalu asertif dan mendahulukan dirinya. Yang justru jadi masalah adalah ketika seseorang memilih menjadi loner, karena banyak orang yang tidak memahami jalan hidup seorang loner, sehingga sering "berbeturan" atau bahkan loner nya yang akhirnya menarik diri.

Tidak ada salah benar, setiap orang memiliki pilihannya masing-masing dengan segala konsekuensinya. Tulisan ini hanya berbagi perspektif dalam observasi.


Thursday, April 12, 2018

Sosial Media

Sosial media.
Orang sibuk menampilkan segala hal-hal baik dalam hidupnya. Yang entah benaran sebahagia itu atau memang ikut2an share hal2 yang dianggap positif. Semua tampak serupa, sejenis, dan membosankan (dan tulisan2 ini, mungkin untuk sebagian orang pun membosankan).

Di FB,
Yang jualan sibuk jualan, yang pamer kehidupan sehari2 layaknya artis pun sibuk sendiri, yang ceramah sibuk ceramah meski yang paham akan biasa aja dan yang sudah nyinyir duluan tetap akan nyinyir. yang monolog macem gw pun monolog aja tanpa peduli ada yg baca/tidak. Juat share dan gak peduli respon orang banyak yg suka/tidak. Meski pada dunia nyatanya, banyak orang yang akhirnya mempersepsi secara parsial hanya dari postingan dan menutup hati dan pikirannya untuk benaran kenal, dan ini malah jadi filter tersendiri, karena kapasitas orang jadi keliatan.

Dan postingan2 orang direspon oleh orang2 yg meresponnya, jadi semacam saling merespon yang terlihat saja circle di dunia maya nya siapa saja, di dunia nyatanya belum tentu benaran berteman/ se akrab itu. Like jadi tolak ukur dirinya banyak disukai, diapresiasi, didukung. Kenyataannya, banyak alasan. Entah orang benaran suka, kasian, ada kepentingan lain, atau ikut2an karena banyak yang like. 

Di IG,
Sama aja kaya fb cuma lebih private dan yg di sharing lebih detail. Gak jauh dari daily life, reportase liburan, kesibukan kerja, dan postingan2 yang sudah sangat difilter dan disadari akan membentuk image dirinya di mata viewers seperti apa. Semua serba dikurasi, di filiter. Lagi2 lama2 sangat membosankan.

Kadang banyak pula yang norak (maaf dengan pilihan katanya). 
Saking ingin dinilai baik, keren, wah, semua dogma sosial digunakan. Semacam ada yang pergi ke luar negeri, tetangganya/ keluarganya ikutan sharing. Padahal yg pergi bukan dirinya, mungkin terlalu bangga jadi begitu. Dipikir2, apa pentingnya ya mengumumkan kenalannya lagi jalan2 ke luar negeri/ orang hebat/ sedang melakukan hal yg dianggap wah. Dogma orang sukses adalah yan ini itu, maka ini itu yang ditampilkan. Bahkan banyak pula yang insecure belum menikah dan menjadikan sosial medianya sebagai media promosi dengan menampilakn "kualitas" dirinya. Dengan tampilan mapan, cantik/ganteng, jago masak, jago merawat fisik, dll.

Sosial media, dunia maya lambat laun sangat membosankan. Semua isinya seragam, sejenis. Orang2 banyak yang sangat aware bagaimana orang akan menilai dirinya lewat sosial media, sehingga semua tampilan ditampilkan sebaik mungkin. Sayangnya, ada orang2 yg bisa melihat motivasi orang yang sebenarnya, orang2 yg extreamly observant, sensitif, dan tau aja motivasi asli orang. 

Sosial media (banyak digunakan) sebagai proyeksi sisi postif kehidupan, karena yang ditampilakan hanya yg baik2 saja. Sehingga orang hanya mengkonsumsi hal2 baik. Kebayang gak dampaknya apa? Orang jadi terbiasa melihat sesuatu/ segala hal secara parsial (dari sudut pandang positifinya saja). Dan hal itu malah berakhir kurang baik. Semacam orang nikah yg di share kemesraan menikah. Orang akan mempersepsi bahwa nikah itu bahagia. Padahal kenyataanya tidak. Saat ia mengalami sendiri, terjadi konflik, langsung stress karena tidak sesuai dengan persepsinya. Dan polanya terjadi di bidang2 lainnya. Dari segi pendidikan mislanya, orang sharing foto wisuda, yg like banyak. Pas lg misuh2 gak ada yg like krn dianggap negatif. Padahal 2 hal itu nyata, dialami semua orang dan sekolah memang tak hanya merasakan bahagia wisuda saja namun ada susah2nya juga. Namun kenyataannya, orang lebih senang dengan kabar gembira.

Yang buruk2, jelek, segala kegagalan, pengalaman pahit, trauma, semuanya di keep rapat karena dianggap aib. Padahal itu semua dengan komposisi info yg tepat, bisa di share sebagai ajang untuk saling belajar. Belajar tentang kehidupan dan belajar melihat truth bahwa hidup itu ada pahit buruknya juga. 

Giliran orang ngebuka segala truth, awareness, ditangkap sebagai hal2 yg berbau negatif alias dianggap bukan info/ kabar menyenangkan, orang sibuk tutup mata dan telingga. Gak mau menerima kalau itu hal nyata yg ada.

Lama2 gak paham, kenapa orang lebih senang hal baik, positif, berita gembira dikala mereka pun paham hidup tidak seringan itu dan hanya berisikan sisi2 terang saja. Bagaimana mungkin pohon bisa tumbuh tinggi menjulang ke langit, jika akarnya tidak terus menacap di tanah yang gelap. Sesusah itukah menerima kenyataan bahwa semua hal ada sisi terang dan gelapnya? Sesusah itu kah untuk mengedalikan hal2 terang untuk semakin silau hingga yang melihatnya malah kebakar jadi buta malah berakhir gak bisa liat gelap terang.

Monday, May 23, 2016

Berlebihan

Ada yang cuek berlebih
Ada yang perhatian berlebih

pada akhirnya, menarik diri dalam sebuah jarak membantu untuk melihat lebih jelas, berharmoni dan memposisikan semua hal dalam takaran yg pas. tak lebih, tak kurang. seimbang.
-------

Berlebihan, sebuah istilah yang dapat diukur oleh satuan ukur yang telah disepakati secara universal. Namun, ada hal-hal yang ukurannya dirasakan oleh hati. abstrak, tak ada tolak ukur, dan anehnya dipahami secara universal.
-------

Alam semesta mengajarkan dunia pararel. sesuatu yang tak dapat diraba pancaindra namun dapat dirasakan dan dipahami dalam waktu bersamaan dengan sistem society yang bertolak ukur dalam takarannya. Semua bergerak overlap secara waktu namun dalam jalurnya masing-masing. Jalur analogi suatu linear, waktu analogi suatu pararel.
Mau nulis paragraf pertama, jadi keingetan hal lain, trs keiingetan hal lain lg. tiba2 jadi gak nyambung sama judul. hahaha. ya gitu lah :p
#kebiasan mikir ngerenung sebelum tidur

*wuallahualam bishawab

Bandung, 01:14, 23 Mei 2016