Wednesday, August 26, 2026

Human needs

Setiap orang punya kebutuhan akan rasa aman, koneksi, bonding, sense of belonging, feeling seen, feeling heard, diterima apa adanya, dicintai, dipahami, diperhatikan, dipedulikan, dihargai as human being. Itu semua kebutuhan dasar manusia, bukan sesuatu yang berlebihan apalagi needy. Ada orang yang lahir di lingkungan dan keluarga yang memenuhi kebutuhannya, ada yang terpenuhi sebagian, ada pula yang sampai defisit.

Hal-hal yang kurang dan lack of akan hal tersebut, akan terus dicari hingga dewasa bahkan di usia senja. Ada yang mencari dan mengisinya dengan makanan, belanja, pencapaian, being people pleaser, selalu harus punya pasangan. Ada pula yang jadi sibuk ngurusin dan menyelamatkan orang dengan mengabaikan diri, berharap kebutuhan akan cinta, bonding, koneksi, dan sense of belonginya terpenuhi. Sayangnya, banyak manusia yang hanya peduli dengan dirinya dan ingin menerima/ menerima untuk mendapatkan sesuatu. Saat yang memberi hingga dirinya lebih defisit dari sebelumnya, bertemu dengan orang yang hanya ingin menggambil tanpa memberi balik, ya akan muncul resentment, ledakan emosi, bahkan membuat dirinya sendiri semakin menderita.

Selama masih manusia dan hidup di dunia, kebutuhan itu akan ada. 
Ada bahkan banyak hal yang membuat kebutuhan itu tidak terpenuhi dan orang gak mau kasih. Hal ini akan memberikan masalah baru yang berlapis-lapis dan berdampak domino. Saat kecil diabaika, care giver sibuk bekerja dan ngurusin orang, sata dewasa setiap orang sudha punya circle nya masing-masing, semakin tua semakin sulit. Apalagi orang-orang yang hidupnya sudha baik, sangat baik, semua kebutuhannya terpenuhi sejak kecil, punya circle, keluarga, pasangan; mereka males masukin orang baru ke dalam circlenya apalagi to care karena kebutuhannya sudha terpenuhi semua dan tidak ada kepentingan appaun terhadap orang baru tersebut.

---------
Kenapa dunia berfungsi seperti ini?
Knp kita ga bisa saling mengasihi siapapun yang memang membutuhkan?
Knp untuk memberi cinta sekedar tanya kabar, validasi, apresiasi saja pelit?
Knp perlu alasan "siapa" dan level kedekatan untuk perlu dipedulikan?

Ada yang baik dan menolong karena baik, ada yang baik karena ingin dapat pengakuan dan merasa berharga, ada yang baik ya sekedar baik aja karena sedang luang/iseng/cari pahala. Tapi saat orang yang ditolongnya mulai dekat, mendekat, terbuka, atau agak nempel; orang menjauh dan me-reject dengan alasan boundaries yg tak pernah dikomunikasikan dengan baik. Kebayang ga itu perasaan orang gimana? Kaya dikasih cinta yang tak pernah ia dapatkan puluhan tahun, terus dibuang. 

Apakah saat membantu orang, itu dari gelas yang penuh atau gelas kosong?
Apakah saat berbuat baik, murni tulus atau ada hidden agenda?
Apakah boundaries yang dibuat itu benar-benar boundaries untuk menghargai diri sendiri atau atas dasar takut? takut ditempelin, takut diribetin, takut direpotin, takut ini itu dimana ada asumsi dan judgement (bukan berdasarkan data fakta dan kejadian kedepannya).

Setiap manusia bisa merasakan, levelnya saja yang berbeda.
Orang bisa merasakan mana boundaries dan mana rejection. Begitupun dapat merasakan saat dirinya di judge (judgement itu sesuatu yang belum tentu benar, berbeda dengan awareness - kesadasaran dan  intuisi yang memang membawa info dari "masa depan"). Misal: "wah dia lg struggle hidupnya, kalo gw bantu nanti dia jd nempel, yaudah ga usah dibantu deh". Padahal belum tentu. Atau saat dibantu, taunya dia nempel, yaudah abaikan dna reject ah. Realitanya bisa jadi 2-3x stabil direspon, kebutuhan orang ini sudha terpenuhi dan never nempel2. Termasuk judgement-judgement personal dan projection.

---------
Kembali ke kebutuhan emosi yang tak terpenuhi.
Saat seseorang melakukan dan memilih sesuatu dengan hidden agenda to fill their needs yang sudha lama kosong, kecenderungan bereaksinya tinggi. Misal: Ia menikah dengan tujuann ingin dicintai dna dibahagiakan. Saat pasangannya selingkuh dan tidak mencintai sesuai harapannya, ia akan sedih dan merasa dirinya korban. Antara jadi demanding, marah-marah, cari pelampiasan, menyiksa pasangannya, atau merasa dirinya korban. Berbeda saat ia menikah dalam keadaan sudah penuh, mencintai dirinya sendiri, tidak ada hidden agenda apapun. Saat suaminya ini itu berulah macem-macem dan hilang cintanya, ia akan tenang meski ada sedih yang hadir. Ia bisa berkomunikasi dengan baik dan menyudahi pernikahannya atas dasar menghargai dirinya sendiri. Dan saat berpisah, ia masih bisa sayang, peduli, memberi kasih pada mantan pasangannya. Karena dari awal ia tidak ada niat untuk "menggambil", Ia sudah utuh, penuh, dan memberi apa yang bisa dikontribusika dengan tetap menghargai dan mencintai dirinya sendiri. 

---------
Buat yang sedang sendirian, yang kebutuhan dasar as humannya tidak terpenuhi dan lack of dalam waktu lama, ya pertolongan pertama: Inget Allah sayang kita, inget nabi Muhammad doain kita dari sebelum kita lahir di dunia; inget ada kok manusia yang mau peduli, terkoneksi, saling memenuhi, cuma mungkin belum ketemu aja. Karena memang akan sulit memberikan diri sendiri hal-hal yang tak pernah didapatkan, gak ngerti dan gatau gimana sih rasanya dicintai, disayang, diterima, di support, dipeduliin. Ga familiar rasanya, jadi akan sulit juga ngasih ke diri sendiri dan sellau mengandalkan diri 100%. Kita manusia, bukan Tuhan. Wajar kalau butuh manusia lain, itu bukan aib, bukan hal berlebihan, buka kelemahan. Kalau pun ada manusia yang sebenarnya bisa memenuhi tapi gak mau kasih, lalu blamming dan labeling "kamu gak mandiri", "kamu needy", "ngandelin tuh diri sendiri", "kamu ga butuh orang", dll alias invalidasi, minimize, gaslighting. Respon-respon yang bikin diri semakin meyalahkan diri, mengecilkan diri, shaming, jadi ikutan invalidasi diri, dan bikin diri konstel, itu jauhin aja. Mereka melakukan itu karena tidak mampu berkomunikasi secara terbuka, jujur "aku gak bisa kasih yang kamu butuhkan, karena aku tidka peduli dan tidak ada kepentingan apapun denganmu" dan menerima resiko dari kejujurannya. Jadi semua beban dilimpahkan seolah-olah orang lain yang beban dan bermasalah.

Monday, August 24, 2026

24/8/26

Terimakasih untuk mataku,
Aku bisa melihat indahnya cahaya lampu pesta, bisa melihat bola tennis saat latihan, bisa melihat makanan cantik, melihat orang-orang menarik, bisa melihat mata orang lain dan terkoneksi, bisa melihat indahnya warna dan bentuk, bisa melihat tubuhku sendiri dan mensyukuri setiap bagian dari tubuhku. 

Terimakasih untuk telingga,
Aku bisa menikmati setiap musik yang terdengar, suara yang indah, mendapati informasi, suara alam, termasuk menerima pujian yang mengingatkanku untuk mensyukuri diri sendiri.

Terimakasih badanku, semua anggota badan dan kesehatan yang terjaga,
Aku bisa makan enak, bisa merasakan semua rasa tanpa pengecualian, bisa mengigit, bisa berjalan, tidur dengan baik, bersosialisasi dengan manusia lain, bergaul, bekerja, berpindah tempat, bergerak, menikmati setiap sentuhan dan suhu, membukan kulkas, makan enak, mandiri, tidak bergantung sehingga memiliki ruang gerak sendiri tanpa batas sempit, 

I love you dear my body,
Terimakasih telah hadir lengkap dalam hidupku,
Terimakasih telah berfungsi sangat baik dan terjaga
Terimakasih

Friday, August 7, 2026

June

Juni cukup seru *late post


1. Tennis



2. Community Anniversary


3. Art moment


4. Profession - Interior speaker at Pekanbaru

 

5. MC at pre event of 2 decade reunion ITB 2006



Friendship

2012
Lagi ngobrol, temen komen "emang kalo suami lo sakit, lo mau ngurusin?"
Disitu aku bingung, karena ya kenapa gak mau ngurusin? Namanya manusia wajar kalau sakit dan bukan masalah juga untuk taking care, nemenin, dan support saat pasangan sakit. Jangankan suami/pacar, temen aja aku mau nemenin dan merawat kalau memang aku bisa, apalagi kalau temennya sendirian ga ada sanak sodara dan kerabat. 

2010-2015
Sempet kesel-kesel sama satu temen yang sering traveling bareng. Dia baik saat traveling tapi langsung nge reject dna nge cut kalau tripnya sudah selesai. Lama-lama kesel berasa diperlakukan kaya baju yang dipakai kalau lagi butuh aja. Apalagi selama trip ketemu banyak orang-orang baru, mereka oepn-oepn aja loh bahkan setelah selesai trip, masih interaksi, ngobrol, kadang ketemuan lagi, dan ada beberapa orang support pas lagi masa sulit, dateng ke wisudaan S2 ku dari luar kota, mau dicurhatin. Disitu otak jadi mikir "berarti temen trip yg aku suka kesel-kesel dan ga enak bgt batin rasanya tuh emang unkind ya. dia ga anggap aku temen" dan semua perasaan tervalidasi sendiri. 

2023-2024
Ada orang sksd di acara sosial, jadi temenan. Hampir tiap weekend kita ketemu, kadang makan bareng, main bareng, pergi bareng. Orangnya baik, santun, sopan, empatinya normal, kadang bs curhat. Sampe di momen mengamati, ini orang pelit, itung-itungan ma duit, selalu ngajak ke tempat-tempat mahal standardnya dia, tempat janjian sellau dekat sekitar apartemennya (dimana jauh banget dari tempat tinggalku). Pas ajak ke DWP, dia cuma mau tiket vvip, jadi kalo aku beli reguler ya gak bareng karena dia gak mau. Disitu mulai sadar, ini orang cuma cari companionship, bukan friendship. Ada momen diri lagi super struggle banget, butuh ketemu orang, lagi require support, ajak ketemu. Waktu itu emanga da becandaan "mau nikah". Singkat cerita ketemu, dia sedang haid, aku lagi banyak curhat. Terus dia pulang nai grab di tengah hujan, aku naik gojeg ujan-ujanan. Tapi dia bilang aku egois, bilang gak nanyain kabar dia udh sampe atau belum, aku blabla, langsung bikin benteng bernama boundaries, nge ignore, dan nge reject. Awal-awal pas ketemu lagi, dia lewat kaya orang gak kenal, aku masih merendahkan hati dan ego dengan nyapa, di respon basa basi. Setahun kemudian ketemu lagi, dia pura-pura gak kenal, menjauh, nyuekin, disitu akhirnya aku sadar dan tidak menyapa/ merangkul papun lagi. 

Tiap orang punya boundariesnya masing-masih dalam berterman, tapi saat gak nyaman sekali aja, langsung nge cut, ngebuang, cari temen lain. Dikala sebelumnya dia sangat mendominasi, gw ngalah, gw byk kompromi, dan banyak gak enaknya juga cuma karena anggap temen jadi yaudalah, toleran. Ternyata aslinya seperti itu.

Untungnya di momen yang sama, temenan sama orang lain, yang relasinya mudah, mutual, adil. Kalau ketemuan tuh saling nanya dulu "ok ga disini?", trs kadang gantian dia yang ke dekat tempatku, kadang kalo dia lg repot, aku nawarin ketemu deket-deket tempat dia, dan dia masih respon "kamunya gpp kesini?". Toleransi, kompromi, ngalah, "bekorbannya" seimbang, adil. Bahkan di masa-masa sulit pun, teman ini gak ninggalin, gak maksa aku harus ikutin standard dan aturannya dia terus. 

Temen kita tuh manusia, punya nasib dan kehidupannya tersendiri. Kadang kita selevel, kadang level kita diatas, dia lagi dibawah, ataupun sebaliknya. Saat kita menuntut punya temen yang selalu selevel dalam gaya hidup, materi, dan standard luxury yang sama; sangat mustahil akan terus berteman kecuali dua2nya terus kaya raya dna gak pernah susah. Buat ku berterman itu hal tulus aja, saling memebri, saling menerima, saling memahami. Dulu aku suka nahan-nahan diri kalau kesinggung, diperlakukan ga adil, ga enak, dikhianati, sampe akhirnya meledak. Pas meledak, orang gak terima dan ninggalin. Tapi dengan teman yang tepat, saat kita meledak, ia akan respon "apa lagi yg lo kesel dari gw?", ada ruang release tanpa penghakiman, ada ruang ngobrol hati ke hati pas reda, ada ruang untuk saling memahami, menghargai, dan sama-sama berusaha membuat pertemanannya lebih baik. 

Mungkin banyak orang yang berteman cuma untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Kebutuhan ditemani, kebutuhan emosional, connection, ngilangin kesepian, support sosial, memenuhi kehidupan sosialnya, ada partner aktivitas bersama, support wellbeing nya, dll. Saat kebutuhannya tidak terpenuhi bahkan posisinya jadi dia yang memberi, orang pergi. Banyak yang cuma mau menerima bahkan taking. Disini jadi belajar untuk punya batasan dan berelasi dengan yang mutual aja. Mutual respect, mutual effort, mutual interest, syukur-syukur ketemu orang yag value pertemananya sama dna longterm no matter what will happen. 

2026
Ngecek dan nge test beberapa teman lama, mengamati response nya. Banyak data yang terkumpul dan bikin sadar banyak hal. Disamping itu, banyak juga kejadian-kejadian baru yang bikin sadar kalau  relasi itu sesuatuyang effortless. Dua-duanya sama-sama saling berusaha, menyambut, merespon, berinisiatif,  menjaga, ya mudah aja semuanya. Kalau cuma diri sendiri yang nge reach out, yang insiatif, yg menjaga, yg membuka diri, yg kontak duluan, yg selalu berkompromi. Tapi pihak sananya tidak pernah menjadi yang pertama kontak, menjaga, apalagi berempati, saat susah di reject dengan benteng boundaries tinggi/ di ignore/ di diemin tanpa support apapun setelahnya (even cuma "gmn perasaanya sekarang" atau "aku baca ya, tapi ga komen" atau hal-hal nurturing dan supportif), ya yaudah dilepas aja. 

Now, I only choose people who choose me.

---- 

Kembali ke bahasan awal di tahun 2012-2026

I observe: Many people are not truly looking for friendship or a meaningful relationship. They are simply looking for companionship. They want to receive and to take without being willing to give. Even when they do give, it is often driven by a hidden agenda to gain something in return (personal benefit include pahala). Their interactions are ultimately centered on fulfilling their own needs

Monday, August 3, 2026

Janjian - Janji

Orang beda-beda, cara mereka melihat, mempeersepsi, menilai, berfikir, berasumsi, bersikap, dll.
Contoh: janjian.

Aku tipe orang yang serius, sesepele apapun janji (menurut orang lain), pasti akan ditepati. Kalau bilang iya artinya iya, kalau bilang belum tau ya belum tau, kalau bilang nggak ya artinya nggak. Kadang ada momen-momen dadakan yang bikin diri gak bisa tepati janji, itu stressnya minta ampun meski secara logika janjinnya gak penting. Itupun pasti aku kabari, gak tiba-tiba ngilang atau diem gitu aja. 

Ternyata orang berbeda (yaiyalah ya namanya manusia beragam).
Ada orang-orang yang gampang menggumbar janji manis, bilang iya padahal udah niat nggak, yang cuma iya iya aja terus lupa, yang sengaja mangkir, yang egois mentingin dirinya sendiri tanpa ada komunikasi dna menghargai orang. Terus aku ngamuk dikala diri udh tepati janji, komitmen, mengorbankan urusan-urusan lain karena udah keburu janji, pas hari H tiba-tiba orangnya ngilang, pas ditanya "dmn" tiba-tiba dikabari batal karena ada tanding basket lah, ketemu temen lah, dll. Lha kenapa ga ngabari kalau batal? Kan kalo ga dikabari aku gatau. Pas giliran kesel tidak ada komunikasi dan dihargai, ada orang yang defensif jadi balik marah dan merasa urusannya lebih penting; ada yang say sorry ga atau kalo aku tipe yg disiplin, ada yg say sorry dan resekejul terus tidak mengulangi lg, ada yg ilang gitu aja.

Efeknya beragam, dari mulai rugi secara waktu, tenaga, energy, ilang kesempatan lain, mengorbankan diri; ada yang sampe bikin diri merasa gak berharga, emosi, stress, anxiety, feeling betrayed, muncul trust issue, trauma, dll. 

Sampai di momen, itu semua dijadiin data.
Dan aku hanya membuka diri sama orang-orang yang amanah dan mutual respect.
Kalau ada urusan mendadak, mereka komunikasikan batal/ resekejul dan di tepati. Kalau mereka ga mau dna ga bisa ya mereka bilang nggak. Kalau mereka sudha bilang oke ya ditepati. Intinya ya dikomunikasi, kejujuran, dan komitmen sekecil apapun janjinya, janji adalah janji. 

Itu baru urusan tentang janji, belum lagi hal-hal lain. 
Manusia benar-benar beragam.

Saturday, August 1, 2026

Progress #2

Dulu ada teman kuliah yang sering traveling bareng. Aku anggap dia teman, karena sejurusan dan sekelas juga. Tapi tiaap traveling dia selalu membuat boundaries yang terasa seperti benteng yang tinggi. Tidak ada percakapan selain hal teknis, tidak ada cerita-cerita hati ke hati, tidak ada bonding, banyak judgement yang bikin tidak bisa bebas jadi diri sendiri. Setelah traveling, selesai seperti relasi pilot dengan penumpangnya, penjual dengan pembelinya, psk dengan kliennya. Saat traveling dia cukup baik meski banyak sekali benteng yang terasa, setelah traveling hilang begitu saja. Tidak bisa cerita keseruan trip kemarin, ngobrol-ngobrol, atau sekedar meet up bareng. Dari awal rasanya sudah tidka enak, tapi diri simpan sendiri.

Waktu berlalu, tahun berganti. Samapi di momen tiba-tiba ketemu banyak strangers sata traveling dan kita beneran temenan. Setelah traveling masih suka ngobrol, kalau ke kotanya terbuka untuk bertemu dan main ke tempatnya, ada yang nikah pun diundang, tidak menolak saat diri curhat, hadir di momen senang dan saat sulit. Disitu akhirnya sadar kalau perasaan selama ini dengan teman kuliah itu valid. Karena normlanya dengan orang lain yang pure intention ya tetap berinteraksi dan terbuka beterman, tidak hanya sata travelingnya saja. Lalu terjadilah ledakan, dia nge cut, aku masih ngejar untuk berteman. Ya, itu dulu.

Banyak sekali kejadian seperti itu, 
One sided realtionship/friendship, relasi yang tidak seimbang, mutual, setujuan, sama effort dan respect, pengkhianatan, dll. Dulu masih sabar nahan-nahan diri digituin orang, masih ngejar-ngejar pula saat sudah ditolak dikala awalnya dia yang harming, masih sedih-sedih kok orang begini begitu meski logika bisa mikir jernih. 

Sekarang, semua berubah.
Aku tidak pernah mengejar lagi orang-orang yang menolak, jahat, dan memperlakukan diri dengan buruk; sudah tidak sibuk menjelaskan dan memperbaiki relasi yang cuma diri sendiri yg berusaha; tidak memilih orang-orang yang tidak memilihku lagi. Aku sudah bisa melepaskan hal-hal yang sudah tidak baik, tidak relevant, dan selesai. Kmempuan "melihat"ku menjadi lebih tajam nan jernih; mampu melihat see is what is it, mampu menerima kenyataan meski pahit dna tidak sesuai dengan "ilusi" harusnya begini begitu; keputusan yang dibuat pun selaras dengan logika, tubuh, dan jiwa. 

-----

Dari banyaknya pengalaman hidup yang hadir dengan sangat beragam dan tak terduga; banyak sekali pembelajaran dan kesadaran yang di dapat. Begitupun tubuh experience dan belajar hal baru. 

I feel so grateful.