Showing posts with label kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi. Show all posts

Friday, May 22, 2026

Luka

Luka tidak pernah sembuh dan hilang jika tidak di proses dan disemnuhkan.
Ia hanya masuk ke lapisan bawah, diam, terkubur, menumpuk, hingga muncul ke permukaan, meledak saat adatersenggol hal jenis dan terpicu aktivasinya. 
Hal yang dianggap sepele untuk orang lain, bisa menjadi hal besar yang membuat seseorang meledak, bunuh diri, ataupun membunuh orang. Karena ada luka yang teraktivasi sekalipun logikanya bisa berfikir jernih; sistem tubuh, sistem syarat, dan sistem otaknya bereaksi langsung dan diluar nalar.

Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disembuhkan
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak di proses
Luka tidak akan pernah sembuh jika tidak disadari dan di akui. 
Luka tidak akan hadir ke permukaan tanpa trigger maupun ruang tenang.
Luka tidak akan bisa di proses dan sembuh tanpa rasa aman, bahwa diri dan tubuhnya aman.

Orang toxic, abusif, lack of empathy, apapun itu siapapin itu bisa memicu luka dalam diri sekalipun di lapisan terdalam yang tak pernah tersentuh puluhan tahun. Tapi penyembuhan tetap butuh ruang tenang dan aman. Lingkungan dan orang-orang yang sehat, aman, mature.

-----

Bagaimana jika salah satu sumber pahala adalah saat mampu taking care diri, menjadi ruang aman bagi orang lain, dan memberikan warisan baik (nervous system yg sehat, system otak yang baik, sistem hormon yang seimbang, trauma-trauma yang healed, mental blok yang terlepas, rasa takut yang hilang,  energy joy dan mature grounded ygang tercipta, mindset yg sehat dan bertumbuh,  boundarie syg sehat, dll) untuk keturunan yang merubakan bagian dari peradaban. 

Tuesday, March 18, 2025

Ramadhan #18

Apakan orang tua mengajarkan  diri untuk mengasihi dan menerima diri. Menanamkan diri layak dicintai, dikasihi, diberi, di provide tanpa merasa tak enak dan harus berhutang? 

Atau orang tua sibuk menuntut anaknya agar mampu diterima, menyenangkan semua orang, menginvalidasi semua perasaan dan pengalamannya, penuh dengan kritik dan labeling segala keburukan, beban, not good enough? 

Pendidikan bukanlah kasih makan, mengekolahkan, memberi materi, segala teori nasihat, dan aturan. Namun program apa saja yang ditanamkan di alam bawah sadar sang anak?  Mindset apa saja yang dibentuk?

Love Self First

Mampu mencintai diri tanpa syarat  dan  menerima diri sepenuhnya terlebih dahulu, sebelum memulai percintaan bahkan berkomitmen dengan orang lain dalam sebuah relasi. 

Sehingga saat ada hal-hal tak nyaman, menyakitkan, kita tak akan pernah merasa diri korban, mengasihani diri sendiri, apalagi memiliki banyak trauma tak berujung hingga hayat selesai. 

---------

Seberapa banyak orang-orang  yang cinta dengan tulus, yg diri tolak? 
Hanya karena merasa tak layak dicintai dan tak mampu dicintai?

Seberapa banyak orang-orang baik yang hadir yang diri tolak, 
hanya karena terbiasa dengan hal-hal menyakitkan dan belum mampu mencintai diri?

Seberapa banyak kasih yang hadir yang mau dan mampu memberikan kehidupan duniawi yang jauh lebih dari cukup dan berlimpah menyenangkan yang diri tolak? Hanya karena perasaan tak layak dan blm mampu mencintai diri?

Berapa banyak orang-orang seperti diatas yang diri takut untuk temui, kenalan, berinteraksi,
 hanya karena belim mampu menerima diri sendiri sehingga takut orang lain tak mampu menerima?

Thursday, April 18, 2024

18/4/24

Perhaps as we grow older, we realize that not all feelings, situations, or conditions need to be conveyed or explained. There are things, or many things, that ultimately we keep to ourselves even if misunderstood, abused, judged poorly, ridiculed, demeaned, ignored, considered insignificant, etc. Allowing people to form their own understanding and judgment without communicating anything, explaining, or disclosing the truth. Allowing people the space to grow, learn, and understand on their own at some point in the future.

Perhaps when those people suddenly become aware of an event, situation, behavior, and its effects on others (including ourselves), we no longer have the capacity to recall it and are busy building a new life after struggling tirelessly with all the things that happened in the past, sometimes impacting others cruelly.

Perhaps as we mature, we realize that there are losses and life difficulties that actually become opportunities for spiritual growth and self-wisdom. We will be able to understand many things from various much broader perspectives; we can open our hearts much wider; we can forgive ourselves for everything that happened, including allowing ourselves to be in bad situations and allowing others to mistreat us; including being able to accept all that has come and gone in life without any judgment (neutral).

Sometimes there are things that don't need to be expressed,
Sometimes there are things that are understood enough on their own,
Sometimes there are things that don't need to be explained,
Sometimes there are things that are left to pass,
Sometimes there are things that only oneself and
the Owner of this heart know.

Until eventually, awareness and truth will emerge on their own.

Sunday, March 18, 2018

Khutbah Nikah #1 - Tanggung Jawab


"Kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, suami. Begitupun sebaliknya, kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, dan istri. Kalian hanya punya tanggung jawab terhadap Allah." - Khutbah Nikah di akad tadi pagi.

Lalu ku nangis. Udah mah setiap akad nikah selalu bikin haru, ditambah khutbahnya yang bikin mikir dan menyadari banyak hal.

Jadi mikir, seorang ayah bertanggung jawab terhadap keluarga dengan memberi nafkah serta menjalani fungsinya, semata-mata untuk mempertanggungjawabkan hidupnya terhadap yang menciptakannya. Begitupun dengan anak yang berbakri, istri yang solehah, tentannga yang baik, teman yang soleh, semuanya tidak memiliki tanggung jawab terhadap manusia lain. Masing-masing manusia hanya punya tanggung jawab terhadap Tuhannya dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Semua manusia yang pernah hadir dan bersinggungan dalam hidup, hanya sebagai ujian, cobaan, tempat belajar, mengajari, dan media dalam mempertanggungjawabkan diri terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, kita akan kembali dalam kesendirian, sendiri. Sendiri dalam kubur, sendiri dalam mempertanggungjawabkan semuanya tanpa siapapun.


Bandung, 17 Maret 2018

Khutbah Nikah #2

Masih blm bs move on dr khutbah nikah td pagi. Singkat tp deep. Bagus bgt.
Sering denger bahasan hubungan anak terhadap orang tua. Nah td bahas hubungan seseorang terhadap adik/kakak (jarang bgt denger bahasan ini). Intinya, saat mau nikah, selain sama ayah ibu, perlu minta restu sama adik/kakak juga. Dan itu sama2 penting. Dan jangan jadikan kehidupan setelah menikah sebagai perlombaan.

Terus kepikiran banyak hal.
1. Perhatiin deh, berapa banyak orang ngebet nikah yang gak mikirin perasaan saudaranya sendiri? Alias cm minta izin ke ortu trs udah aja harus terlaksana secepat mungkin. Gak mikirin keadaan adik/kakaknya lg gimana, gak mikirin apa saudara kandungnya sudah ridho? Ya namanya sodara kandung pasti seneng saudaranya nikah, cm dlm situasi tertentu hal itu jadi menyedihkan apalagi kalo landasannya hanya mementingkan kebahagian diri sendiri. Yg diamati sejauh ini, biasanya laki2 kalo udah pengen nikah, gak bisa ditawar apapun alias harus terlaksana as soon as possible. Beda sama perempuan, lebih banyak pertimbangan dan mikirin orang lain (mikirin apakah ayah ibu nya sudah ikhlas melepas?, apakah adik/kakaknya sudah ikhlas melepas dan jadi “sendirian”?, apakah semuanya telah ridho? dll. Karena ikhlas dan ridho pun butuh prosss dan waktu. Gak bisa maksain diri “ya kalian ridho lah” di detik itu.

Ada yg dilangkahi adiknya nikah. Adiknya baru lulus SMA tp ngebet nikah. Sampe kakaknya ngomong “lo jangan nikah kalo cuma pengen pacaran islami!”. Sedih pasti tiba2 ditinggal saudara nikah apalagi dengan alasan yg belum terlalu matang.
Ada jg yg dilangkahi adiknya tanpa warning apapun, tiba2 mau nikah aja, ga liat keadaan (psikis, fisik, dan materi) ortunya, ga liat keadaan saudaranya lg gmn. Yg dipikirinnya cuma hajat dirinya aja dengan alasan “niat baik jangan ditunda”. Gak mikir, apa ortunya ada biaya? Krn yg namanya ortu pasti pengen berpartisipasi saat anaknya nikah. Gak bs asal jawab “ya nikah di KUA aja dulu”. Pd akhirnya setelah nikah belum2 punya anak pdhl subur, mungkin disitu ada ridho adik/kakak nya yg belum didapat alias masih ketahan. Atau ketahan ridho nya justru sama orang lain, orang yg pernah sakit hati.
Jadi mikir aja, berarti saat nikah minta ridho orang tua, adik/kakak, saudara, dsb nya itu penting. Penting untuk kelancaran hari H dan setelahnya. (*jd notes buat diri sendiri jg).

2. Suka merhatiin orang2 yg berumah tangga dan punya anak ga? Berapa banyak orang yang suka pamer kebahagiaan saat hamil? Berapa banyak ibu2/bapak2 yg suka banggain anaknya sampe seolah2 berlomba2 anaknya yg terbaik? Berapa sering ngeliat orang lagi ngebangain cara mendidik anak? 
Kadang mikir, ini mereka beneran lagi sharing kebahagian dan pengalaman mendidik, atau emang lagi pamer ya? Pamer “gw lebih bener ngedidik dan anak2 gw lebih berhasil”.

3. Perhatiin deh perbedaan keluarga kecil (2 anak) dengan keluarga besar (yg anaknya diatas 10). Keluarga besar cenderung kompetitif dengan siapa lebih baik, siapa lebih berhasil, siapa lebih ini itu lainnya. Entah apa fungsinya dan entah apa dasarnya sampai terbentuk mindset dan sikap seperti itu. Tapi mereka semeng banget mgebangain anaknya masing2, ngebangain cara mendidik anaknya, ngebangain kehatmobisan keluarganya, dsb nya. 
Beda sama keluarga kecil yg cm 2 anak. Anak2nya cenderung saling melindungi, menguatkan, gak ada istilah berkompetisi antar sodara. 
Kalo merhatiin dan ngeliat gakta2 yg terjadi, suka mikir, kenapa ya? Kenapa bs gt? Knp keluarga yg anaknya lebih dikit cenderung lebih solid?

Bandung, 17 Maret 2018

Friday, May 20, 2016

Pernah ngeh nggak?

Pernah ngeh ngak? saat cerita achievement, mungkin lawan bicara sedang berada dlm fase terendahnya tp dia menutup rapat-rapat dirinya dan tetap merespon dengan antusias.

Pernah ngeh ngak? saat cerita kemajuan finansial, mungkin lawan bicara sedang dalam keadaan pas-pasan gak tau besok makan apa atau bahkan sedang terlilit hutang, tp dia simpan dalam-dalam kekhawatiran dirinya dan terus mendengarkan sambil merespon bahagia.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah cinta sepele, mungkin lawan bicara sedang patah hati hancur karena gagal nikah di h-3 nya tp dia menutup kesedihannya dgn sabar mendengarkan sambil berempati.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah hidup, mungkin lawan bicara punya masalah yang jauh luar biasa ratusan kali lipat tp dia menahan diri membandingkan masalahnya dan tetap sabar mendengarkan dengan respon supportif.

Pernah ngeh ngak? saat cerita panjang lebar untuk hal remeh, sebenarnya lawan bicara sedang berada dalam deadline penting, hanya saja ia meluangkan waktunya untuk mengisi kesepianmu.
Pernah ngeh ngak?

Mungkin lawan bicara hanya sebatas pengisi kebutuhanmu yang tak pernah kamu pedulikan secara tulus waktu, perasaan, pengorbanannya. Ia pun sama memiliki masalah bahkan jauh lebih besar, hanya saja hatinya lebih lapang untuk mendahulukan kebahagian orang lain, memendam masalahnya sendiri, dan memendam egonya untuk acuh sambil berkata "masalah lo cuma gt doang, masalah gw lbh gede".


Pernah ngeh ngak?

Wednesday, May 11, 2016

Aku

Aku berjalan tak tentu arah
berjuang sesuai hasrat diri
mengikuti hati yang bias oleh nafsu

Aku diam tak bergeming
menatap dalam diri bercermin
bertanya tentang semua hal

Aku berfikir dalam tawa
bergelut dalam pikiran kelut
memendam semua rasa

Aku berlari berlinang tangis
mengurai linu hati
berdoa dalam hening


Sleman, 11 Mei 2016

Kamu

Kamu tau, apa yang membuatku percaya? percaya untuk membuka diri terhadapmu? karena kamu telah membuka pintu penerimaan sebelum aku mengetuk.

Kamu tau, apa yang membuatku mau melepaskan sedikit kebebasanku untuk belajar bergantung padamu? karena kamu telah menyiapkan tangan untuk menopang sebelum aku terjatuh.

Kamu tau, apa yang membuatku belajar menahan segala gejolak meledak dalam diri? karena pelan - pelan pancaran kasihmu berhasil menghancurkan gejolak itu.

Kamu tau, apa yang membuatku berani untuk dicintai? dicintai lebih sulit dari mencintai bukan? karena kamu memberikan ruang sabar tak berbatas untuk aku belajar dicintai.

Kamu ingat, kapan pertama kali kita bertemu? saat kita tanpa sadar sudah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. seperti katamu. kita bertemu di waktu yang tepat dikala diri sudah bisa menerima diri dan dikala doa-doa orang tua kita diijabah dalam waktu bersamaan.

Sleman, 11 Mei 2016

Kalian

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu mendukung dan mengiyakan semua perkataan dan perbuatan kalian.

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu tunduk dalam aturan kalian. Aku seorang pembangkang yang tak terhalang untuk terus mencari kebenaran. bukan karena sok benar, justru karena merasa banyak yang salah. salah dengan diri, salah dengan kalian, salah dengan society rule.

Mungkin aku tak bermanis sopan didepan kalian, tapi aku tak pernah menipu sedikitpun dibelakang kalian.

Mungkin aku bertengkar dengan segala situasi dan manusia, termasuk kalian.

Mungkin kalian hampir gila dengan perjuangan kebebasanku yang tak bisa diikat maupun dikontrol.
Aku tak akan lantang bilang sayang, tapi aku akan selalu menjadi benteng pertama saat kalian kenapa-napa.

Salam hangat untuk keluarga dari sini.