Showing posts with label feel. Show all posts
Showing posts with label feel. Show all posts

Wednesday, November 23, 2016

Orang Tua

10 tahun merhatiin ayah dan sebuah lingkungan. Ayah yang sudah ditinggal eyang menjadi yatim piatu, menjadikannya sangat hormat, sayang, dan sangat perhatian terhadap mertuanya (nenek). Sesederhana nganterin kesana sini meski super capek baru menempuh kemacetan jalan luar kota. Sesederhana ngajak ke tempat kesukaan nenek di kubang, bukan untuk kepentingannya, karena tahu bahwa nenek senang kalau disana apalagi kalau ada yang mau melestarikannya sesederhana membangun tempat tinggal dan sering berkunjung. Hari demi hari, tahun demi tahun saya memperhatikan ayah ibu memperlakukan orang tua satu-satunya. 

Sampai asisten rumah yang suka bantu-bantu ngomong "bapak sama ibu kaya yang butuh bgt ya sama orang tua. Berarti nanti teteh sama aa juga gitu. Nanti juga teteh jadi berubah sebutuh itu". Sempet heran sih, ini bu agung (yg suka bantu di rumah) ternyata diem-diem merhatiin ya.

Kadang mikir, sedih banget deh pasti kalau orang tua udah gak ada dan gak sempet berbakti bener. Gak ada orang yang bisa dimintai doa super ampuh, gak ada lagi orang yg super sayang, gak ada lagi orang yg bisa disayangi sepenuh hati, dan semua penyesalan dan kesadaran untuk berbakti menjadi sia-sia dikala sudah tak bisa lagi karena sudah tak ada.

Semakin tua, sebagai anak perempuan yang nanti setelah menikah bakti utamanya tak lagi ke orang tua, rasanya moment hingga waktu menikah menjadi sangat berarti untuk lebih banyak bersama orang tua. Meski kayaknya ayah ibu stress bgt punya anak kaya saya yang terlalu pemberontak (ga sejalan pikirannya).

Kadang merasakan, kalau uang bukan segalanya, yang penting menjadi manusia mandiri yang bisa berdiri diatas kaki sendiri, kuat secara mental, pikiran, dan fisik. Tak perlu bergelimang harta dan tahta. Melihat anaknya bahagia dan mandiri sudah cukup membuat orang tua bahagia. Buat apa kaya harta berlimpah dengan tahta diatas jika rumah tangga berantakan, orang tua pun akan sedih. Buat apa sukses dunia kalau shalat ditinggalkan, orang tua pun bakal sedih akan nasib akhirat anaknya. Buat apa semua yang kita kejar dengan kerja keras mati-matian, usaha abis-abisan, kalau tak mendekatkan kepada kebahagian diri dan keluarga? 

Ada nasib hidup orang lain dalam setiap keputusan yang kita buat. Ada hati yang akan sangat terluka dan sedih disetiap kesedihan yang kita alami. Ada hati yang selalu tulus mendoakan kebahagian kita dindunia dan akhirat. Yaitu, ibu,ibu,ibu,ayah.

Ada hal yang disadari kenapa ada hal yg gak bisa diraih, saat direnungkan ya memang apa yang terjadi adalah yang terbaik. Saya tak bisa membayangkan kalau misalnya dapat sekolah ke benua lain pakai beassiwa, tak punya tabungan sepeser pun, sedang ujian, lalu ada kabar orang tua sudah tak ada, dan baru bisa pulang sebulan kemudian dikala air kuburan pun susah kering, tahlil 40 hari tinggal 10 hari, ada kata maaf yang tak pernah bisa disampaikan, ada penyesalan luar biasa yang tak akan pernah bisa selesai sampai benar ikhlas menerima bahwa semuanya takdir. Kadang mikir, luar biasa teman-teman yang tinggal sangat jauh dengan orang tua yang jaraknya tempuhnya lebih dari 8 jam via pesawat. Bakal sedih banget kalau ada apa-apa dengan orang tua gak bisa cepat menemui, membantu, dan menemani. Beruntung yang masih bisa tinggal satu atap sama ayah ibu setiap harinya.

#secuilobservasi #randomfeeling #pikiransebelumtidur

Friday, June 10, 2016

Ramadhan #8: Banyak

Banyak orang yang hatinya hancur berkali-kali. membuat dirinya menjadi jauh lebih sensitif dan sering dibilang lebay. mereka tumbuh menjadi orang-orang yang selalu menjaga orang lain untuk tetap bahagia. karena mereka tak ingin orang lain merasakan sakit yang sama.

Banyak orang yang menutupi kesedihan, insecurity, dan masalah hidupnya dengan menengelamkan diri dalam kesibukan, pekerjaan, achievement. Namun hatinya tetap hampa.

Banyak orang yang penuh semangat menggebu-gebu mengikuti hatinya. tampak tak jelas arah, namun ia tau kemana harus melangkah, apa goal hidupnya, dan berjuang demi kebahagian tanpa kepalsuan.

Banyak orang yang sibuk membuktikan diri, pembuktian dalam balas dendam. balas dendam karena dulu dihina, karena dulu miskin, karena dulu susah. kesuksesan untuk menunjukan kalau dirinya tak seperti dulu. memuaskan ego.

Banyak orang dalam diam diam-diam memperhatikan, bahkan menjaga dari kejauhan, dan mendoakan diam-diam.

Terlau banyak yang tak menjadi dirinya sendiri. perlombaan dunia dalam topeng. menjalin dalam aturan main yang diterima tanpa pernah dipertanyakan kebenarannya.

Ramadhan #8

Friday, May 20, 2016

Pernah ngeh nggak?

Pernah ngeh ngak? saat cerita achievement, mungkin lawan bicara sedang berada dlm fase terendahnya tp dia menutup rapat-rapat dirinya dan tetap merespon dengan antusias.

Pernah ngeh ngak? saat cerita kemajuan finansial, mungkin lawan bicara sedang dalam keadaan pas-pasan gak tau besok makan apa atau bahkan sedang terlilit hutang, tp dia simpan dalam-dalam kekhawatiran dirinya dan terus mendengarkan sambil merespon bahagia.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah cinta sepele, mungkin lawan bicara sedang patah hati hancur karena gagal nikah di h-3 nya tp dia menutup kesedihannya dgn sabar mendengarkan sambil berempati.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah hidup, mungkin lawan bicara punya masalah yang jauh luar biasa ratusan kali lipat tp dia menahan diri membandingkan masalahnya dan tetap sabar mendengarkan dengan respon supportif.

Pernah ngeh ngak? saat cerita panjang lebar untuk hal remeh, sebenarnya lawan bicara sedang berada dalam deadline penting, hanya saja ia meluangkan waktunya untuk mengisi kesepianmu.
Pernah ngeh ngak?

Mungkin lawan bicara hanya sebatas pengisi kebutuhanmu yang tak pernah kamu pedulikan secara tulus waktu, perasaan, pengorbanannya. Ia pun sama memiliki masalah bahkan jauh lebih besar, hanya saja hatinya lebih lapang untuk mendahulukan kebahagian orang lain, memendam masalahnya sendiri, dan memendam egonya untuk acuh sambil berkata "masalah lo cuma gt doang, masalah gw lbh gede".


Pernah ngeh ngak?

Wednesday, May 11, 2016

Aku

Aku berjalan tak tentu arah
berjuang sesuai hasrat diri
mengikuti hati yang bias oleh nafsu

Aku diam tak bergeming
menatap dalam diri bercermin
bertanya tentang semua hal

Aku berfikir dalam tawa
bergelut dalam pikiran kelut
memendam semua rasa

Aku berlari berlinang tangis
mengurai linu hati
berdoa dalam hening


Sleman, 11 Mei 2016

Kalian

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu mendukung dan mengiyakan semua perkataan dan perbuatan kalian.

Mungkin aku bukan orang yang akan selalu tunduk dalam aturan kalian. Aku seorang pembangkang yang tak terhalang untuk terus mencari kebenaran. bukan karena sok benar, justru karena merasa banyak yang salah. salah dengan diri, salah dengan kalian, salah dengan society rule.

Mungkin aku tak bermanis sopan didepan kalian, tapi aku tak pernah menipu sedikitpun dibelakang kalian.

Mungkin aku bertengkar dengan segala situasi dan manusia, termasuk kalian.

Mungkin kalian hampir gila dengan perjuangan kebebasanku yang tak bisa diikat maupun dikontrol.
Aku tak akan lantang bilang sayang, tapi aku akan selalu menjadi benteng pertama saat kalian kenapa-napa.

Salam hangat untuk keluarga dari sini.

Sunday, May 8, 2016

Menjaga Perasaan

apa yang kamu lakukan saat tahu sesuatu bakal menyakitkan hati temanmu? ya ada sebagian biasa aja, ada sebagian menjaga meski terkesan acuh pdhl peduli, dan banyak juga yang tak peduli.

acara pernikahan dimulai, satu persatu datang, haha hihi, saya hi, makan bareng, foto bareng, dan main bareng pulangnya. tiba-tiba suasana menjadi aneh, bergerombol bisik bisik, entah apa yang dibicarakannya. sekilas terdengar sayup "eh, si A bakal nyusul, tp sama pacarnya, gimana nih si X". terdengar oleh si X yg dia pun sudah tak peduli alias biasa saja. dalam hatinya "lebay banget sih nih temen2, cerita 6 tahun yg lalu masih dibahas2".

kemudian si A dateng bersama pasangannya, gesture mereka langsung pada aneh, diam, tp aneh, seolah-olah sangat menjaga perasaan si X, takut si X sedih. padahal si X nya biasa aja. aktivitas selesai, masing-masing pulang ke rumahnya, mereka masih saja ribet bersikap agak tidak menyakiti perasaan temannya.

sekilas kejadian itu terasa lebay bgt. padahal sejatinya, justru mereka-mereka adalah orang-orang yg peduli dan sangat menjaga perasaan orang lain. layaknya si B lulus dikala si C hampir DO, semua pada diam, tidak gembar gembor atau euforia berlebih, menjaga perasaan si C dalam perjuangan terakhirnya. bahkan menyembunyikan berita bahagia hanya karena takut temannya sedih mendengar mantannya menikah. "kok lo gak ngabari? biasanya kan lo ngabari ssmua info acara", pertanyaan tak dijawab, terkesan acuh, namun nyatanya ia lakukan untuk menjaga perasaan.

"eh, gak usah di upload, si f kan gak ikut, lg sakit doi, nanti dia sedih liatnya". "iya ya, yaudah gak ush di upload ya fotonya".

how care they are. but, life must go on. Dont hide anything, let it be true to make others grow up, realistic, and stronger.

awalnya berfikir seperti itu, namun saat berada diposisi terbalik, ternyata sama saja, melakukan hal yang sama seperti mereka.
b: eh kesini yuk
u: udah
b: sama siapa?
u: sama si r
b: kok dia ngajak lo?
u: gatau
b: padahal dulu gw deket bgt ma dia, sering blabla (kerasa perasaannya mulai sedih)
u: (lngsng byk boong untuk mengembirakan si b) random aja wkt itu, gak sengaja, mungkin mo ngajak lo takut lo lg repot blm dpt cuti
b: emang kpn ngajaknya?
u: bulan xx (terlalu jujur)
b: itu kan gw bs ngurus cuti
..... kemudian hening, bahas topik lain yg bs mengembirakan hatinya dan menjaga self esteem nya.

hal sepele, tapi bisa jadi triger besar buat org lain. kadang menjaga perasaan ini sedikit yg melakukannya. kalau ada yg melakukannya, worth it untuk dipertahankan sbg teman. karena mrk care, "are you okay?". sekilas terkesan seperti ngegosip. "eh si ini apa kabar? si ini sibuk apa? dll". tp mrk bertanya krn peduli bukan penasaran. terlihat dr action setelahnya. layaknya memberikan kail drpd ngasih ikannya lngsng, membantu tanpa membuat harga diri org jatuh dan ketergantungan.


Sleman, 8 Mei 2016

Sunday, February 28, 2016

Sepele - katanya

Okey, mau cerita, bukan nyinyir atau bermaksud ke suatu pihak. cerita dr pengalaman, pengamatan, merenungkan, memahami sesuatu.

cerita 1.
saya bertanya kepada seorang teman, "minta feedback dong, positif negatif". singkat cerita setelah kasih feedback via maya, kami bertemu. kemudian dia bilang gara2 saya nanya feedback ke dia, dia jd penasaran. penasaran krn blm kenal saya, jd pgn kenal. dia jg bilang kalo kepikiran. mksdnya kepikiran ttg pertanyaan feedback itu, bukan ttg saya.

respon saya cm diem sambil ketawa. ngerasa lebay aja respon dia pdhl pertanyaan saya biasa. lebay sampe serius bgt mikir, kepikiran. saya nya aja udh lupa.
--------------

Cerita 2.
saya pny teman sering traveling bareng. baik. tp cm sebatas di traveling aja. selepas dr itu yaudah biasa aja, sampe titik dimana semua pesan saya gak dibuka-buka dan kalaupun dibales itu bbrp bulan kemudian, itu juga kalo dia lg ada urusan sesuatu ke saya. sebenernya gak enak bgt sih digituin, kesannya jd gak menghargai keberadaan orang dan gak nganggep sbg tmn, jd kaya baik dan berinteraksi kalo ada perlunya aja. satu arah.

sampe di titik, kesel bgt bertahun2 dipendem. dan dia dgn blg "yaelah tie, lebay bgt". pdhl buat saya itu udh bener2 sampe di titik "meledak". menyepelekan dampak ke org lain dr sikapnya, tp saat org mulai berespon meledak, diremehin dan malah balik nyerang tp cm satu arah, trs udh aja tanpa penyelesaian. cuma ya org beda2. cukup tau aja, levelnya sy diposisikan dimana.
--------------

dari 2 cerita, saya sebagai subjek yg meremehkan respon orang dr sikap saya dan sebagai objek yg respon dan perasaan sy diremehkan orang lain atas sikapnya. bikin mikir, setelah direnungi. sepele buat kita belum tentu sepele buat orang lain, dan sebaliknya. dari pengalaman itu saya jadi belajar buat men treat orang lebih baik, lbh membuka diri thdp orang2 yg emang tulus pgn dekat sbg teman, lebih bs menghargai respon orang, dan belajar buat let it go orang2 yg meremehkan perasaan dan pikiran org lain. kalo kata konselor yg pernah diskusi, "brengseknya orang adalah, dia ngomong yg semenit kemudian lupa, padahal omongan itu bikin org lain hancur dlm jangka panjang". dan mulai saat ini, kalopun saya jadi org yg di brengsekin gt, saya gak mau jd org yg berengsek dgn nyepelein orang.

dunia ini luas, penuh dengan banyak hal. peluang, pembelajaran, ujian. dan orang-orang yg dihadirkan bertemu dengan kita blm tentu bs ngasih dampak baik atau netral bahkan sikap yg dianggapnya sepele justru bikin trauma org lain yg dr situ jd triger sikap dia kedepannya, who knows?. tapi, dunia ini jg dipenuhi banyak orang baik, yg hatinya sama2 pernah hancur terluka, yg akhirnya menjadi lbh sensitif, peka, dan lbh bs menyayangi orang lain dgn tulus dan terkesan agak lebay (lebay buat orang2 yg hatinya gak kesentuh, mungkin).

*wuallahualam bishawab.

Friday, October 30, 2015

Pak Ogah

Persimpangan jalan dalam terik matahari dan lalu lalang kendaraan, menjadi lahan mata pencaharian bagi sebagian orang. sebut saja pak ogah. begitulah istilahnya. 

Pertigaan antara jalan dago dan ganesha, ada satu orang pak ogah, ekspresi mukanya yang selalu datar, mulutnya yang terkunci dari mengeluh dari terik dan saat tidak diberi receh oleh kendaraan yang sudah dibantu disebrangkan. Sebagai mahasiswa, kadang kala membawa kendaraan ke kampus sebelum ke urusan lain, bertemu dengannya di persimpangan. Ia membantu. Bahkan saat tidak membawa kendaraan alias naik angkot, ia membantu menyebrangkan tanpa pamrih. Entahlah apa yang telah dialami dan sedang dialaminya, tidak pernah terasa emosi apapun dan ekspresi apapun. Entah dia sangat realistis dalam menjalani hidup pada detik ini, atau ia menjadi kebal terhadap rasa karena beban hidup dan masa lalunya. Saat berpapasan dan berada pada radius 0.5-3 meter, rasanya benar-benar netral, tidak ada emosi dia yang terpancarkan dalam resonasi frekuensi semesta terhadap orang lain. aneh. entah itu petanda positif, atau tanda dari kekosongan.

Suatu hari, teman saya cerita kalau di depan boromeus, mobilnya ditabrak orang, dan pak ogah di persimpangan itu membantunya dengan memberikan kesaksian tentang apa yang dilihatnya. sudah diduga, ia memang orang baik. disaat orang berlomba-lomba menyelamatkan diri dan mencari aman meskipun tahu kebenaran, dia bisa bersikap netral, berani, dan peduli.

3 tahun berlalu, saya sudah lulus, meningalkan Bandung untuk urusan lain. Suatu hari, saya melewati kembali jalan itu, melihat dia masih berkutat dalam terik riuh asap kendaraan di tengah jalanan. Ada 2 mobil lain di depan kendaraan saya, melihat dia dari kejauhan, merasakan perasaannya dari sorot mata dan gesture alaminya. Tiba-tiba hati jadi terenyuh. antara kasian dan sedih, gatau kenapa. Padahal ada 2 pak ogah disitu, tapi pak ogah yg ini berbeda. Tiba-tiba jadi pengen ngebantuin dan ngedoain. Semoga semuanya baik-baik saja ya pak.

Sepanjang jalan, saya mikir, dia asalnya dari mana ya? keluarganya dimana? apakah ia punya anak istri? penghasilan seharinya berapa? kalau satu mobil ngasih 500 rupiah dan ada 100 mobil yang lewat dari pagi hingga siang, berarti sehari dia dapat 50.000 rupiah, sebulan 1.5jt. apakah cukup untuk makan sekeluarga? apakah anaknya baik-baik saja? apakah anaknya sekolah? Tiba-tiba air mata jatuh. Disaat orang berjuang mati-matian untuk hidupnya, keluarganya, menghasilkan rupiah yang sangat berarti setiap keping 500 an nya, saya seenaknya keluar uang 20rb cuma buat beli minuman manis, seenaknya keluar uang 100rb buat beli sabun cuci muka. Disaat orang mengunci ekspresi dan emosinya dalam setiap guratan wajah yg tersembunyi dibalik sorot matanya, saya seenaknya berekspresi. Disaat orang berjuang untuk hari ini, menyembunyikan kekhawatirannya dalam setiap usahanya dan bertanya pada hatinya, apakah cukup untuk makan hari ini? . Saya malah suka stress dengan masa depan, apakah bisa kaya? apakah bisa ini itu? sehingga melupakan nikmat hidup hari ini, saat ini.


Jumat, 30 Oktober 2015
12:52, Bright Cafe Pom Bensin Dago.

Saturday, November 29, 2014

Serpihan Takdir

Telepon berdering memberi kabar sesuatu yang tak pernah kubayangkan, kupikirkan, kusiapkan, apalagi kuperjuangkan. Aku hanya diam menolak hal itu. Namun takdir berkata lain, 2 minggu kemudian aku sudah berada di sebuah pesawat besar dalam perjalanan belasan jam, diam sepanjang jalan ingin pulang dengan hati yang entahlah aku pun tak tahu. Sampai di sebuah bandara penuh dengan segala ras manusia dari seluruh penjuru dunia. Aku masih terdiam, mempersiapkan apa yang harus dilakukan, mengambil niat, lalu masuk bus terisak nangis sepanjang jalan mengingat dosa-dosa dengan segala ketakutan. Bus sampai di tempat yang dirindukan banyak orang. sebuah tempat dengan kotak hitam di tengahnya yang tak henti-henti nya dikelilingi ribuan bahkan jutaan sambil memanjatkan doa. aku berada diantara mereka, memanjatkan doa terdalam dan air mata pun menetes entah bagaimana. 

Doa, ya sebuah harapan, sesuatu terdalam dalam diri tentang banyak hal untuk dunia, akhirat, untuk diri sendiri, keluarga, dan banyak orang. 2,5 tahun berlalu tak terasa, menengok ke belakang untuk menambah syukur atas semua yang telah terjadi, di lalui, dan di dapat saat ini. Aku menyadari sesuatu, bahwa satu persatu doa terkabul, salah satu nya ini, ya ini, tentang pertemuan dengan orang-orang sefrekuensi yang mengampar untuk maju, yang menyangi, yang peduli, dengan segala banyak bonus lainnya yang Maha-Segalanya berikan. 

29/11/2014
23:06

Sunday, December 1, 2013

01:07 AM

Bandung, 01:07 am

Tiba-tiba datang masa dimana aku tak bisa menolak dengan kehadiran jiwa-jiwa yang merasuk kedalam tubuh, membuat jiwa ini merasakannya seolah-olah menjadi diri mereka, merasakan setiap rasa yang tak pernah aku pahami dan rasakan sebelumnya. Entah ini sebuah anugrah atau sebuah hal lainnya. Istighfar terucap dihati, menjaga jiwa tetap berpijak dalam kesadaran.

Dan jiwa yang sedang masuk atau aku yang sedang masuk ke jiwa-jiwa tersebut adalah jiwa orang terdekat. Rasa sayang teramat besar, rasa sayang yang teramat dalam. Dimana aku memahami seruan Tuhan untuk para anak bersikap pada ibu bapaknya. 

--------------------------------------------------------------------------------------------

Mereka tak pernah bisa memilih untuk memiliki anak seperti apa
Tetapi mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Aku tak bisa memilih untuk dilahirkan dan berada dalam keluarga seperti apa
dan aku sangat bersyukur memiliki mereka.

Semoga ibu ayah selalu disayang Allah,
Semoga ibu ayah selalu dilindungi Allah,
Semoga ibu ayah selalu diberikan kebahagian,
Semoga Allah menghapuskan segala dosa ibu ayah.

Tuesday, March 29, 2011

Indera yang terlupakan


Saat kecil di rumah maupun sekolah saya diajarkan untuk mengenal panca indera, sesuatu dlm tbh manusia yang menangkap stimulus dan memberikan reaksi. Mereka (orang tua, guru dan org2 yg memberitahu saya) menyebutkan ada 5 indera manusia, mata untuk menangkap stimulus cahaya sebagai indera penglihatan, lidah sbg indera pengecap, kulit untuk menangkap stimulus sentuhan dan udara dingin/panas, telingga untuk menangkap gelombang suara, dan hidung untuk membaui. Saya percaya akan semua itu hingga suatu saat saya berfikir, apakah semuanya benar, hanya 5indera dlm stiap manusia?

Sblmnya saya akan ambil fenomena saat ini, aktivasi otak tengah untuk usia anak2 sedang gencar dicari orang dan disosialisasikan. Yang salah satu goal nya adalah bisa melihat benda2 dibalik benda massive, sperti berjalan dgn mata tertutup/ melihat jumlah uang dlm dompet. Dr mana mrk bisa melihat tanpa menggunakan mata? Bukankah mata sbg alah penglihatan? Ya, dijelaskan ttg penangkapan gelombang2 oleh otak dan diterjemahkan. Berarti ada indera lain dong? Indera penangkap gelombang yg kasat mata dan bkn gelombang cahaya/suara? Haha, saya rasa iya.

Atau bagaimana seseorang dapat merasakan org lain suka/ tdk suka/ sedang berbohong? Bagaimana seseorang dapat merasakan yg bungkusan kue di kanan lbh baik drpd yang dikiri tanpa ia tahu sebabnya dan ternyata benar? Atau bisa disebut insting? Saya pernah baca artikel tentang penelitian gelombang yang dipancarkan seseorang akan perasaannya (disaat sdg berbohong/sdg kesal/dsb) dapat dirasakan oleh orang lain yg memiliki kepekaan yg tinggi walaupun si objek berusaha menutupi dan terlihat normal. Berarti ada indera yg dpt menangkap gelombang perasaan? Gelombang hal2 baik dan buruk?

Dari hal2 diatas, saya memiliki hipotesis, sebenarnya lbh yakin dr sekedar hipotesis sih haha, kalau manusia memiliki sabuah indera lain yg berfungsi menangkap gelombang selain gelombang cahaya dan suara, gelombang yg tdk bs ditangkap oleh 5indera yang telah kita kenal. Sayang sekali saat kita dicekoki pelajaran atau hal yg org tau tanpa keinginan untuk menggali lbh jauh sehingga kita melupakan salah satu indera kita yang justru lbh banyak menuntun dlm memberikan keputusan disaat kita tdk memiliki fakta atau penjelasan ilmiah krn blm (atau masih) diteliti. Dan indera itu saat ini orang bilang indera keenam. Apaplah stiap manusia memang memeliki 6indera? Saya rasa ya, hanya saja ada yg menjalankan 5indera saja, hingga 1 indera terlupakan dan ada orang2 yg tetap memelihara keaktifan 6indera nya.