Thursday, February 19, 2026

Jodoh

Banyak sekali utas perempuan maupun laki-laki tentang relasi. Perempuan yang ingin hidup mewah secara instant, laki-laki yang pemalas tanpa usaha, perempuan yang meminta sesuatu yang dianggap terlalu tinggi oleh laki-laki. Tentang harta, nafkah, perawan, value yang dinilai sebagai alat tukar dalam relasi. Menariknya tanpa sadar polanya jadi saling menuntut, membandingkan, untung rugi, dan menilai, tanpa ada ruang kontemplatif ke dalam diri sendiri tanpa berisik. 

In deep down, I believe jodoh itu cerminan diri. Cerminan luka yang sama-sama belum sembuh, cerminan fragile ego, cerminan fixed mindset, cerminan pattern, cerminan vibrasi diri, cerminan apa yang terjadi di dalam diri. Saat kita tau kualitas diri, kita tidak akan berisik mengumumkan value diri dan pasangan seperti apa yang pantas, alais cukup disimpan di diri snediri dan dilakukan. Saat ada yang hadir yang secara logika tidak memenuhi ego; justru itu jadi ajang refleksi evaluasi diri to improve. Karena saat vibrasinya sudah berbeda, akan terpisah sendiri. Misal ketemu pasangan yang suka abuse, bohong, mengkhianati diri, mengabaikan; bisa jadi kita melakukan itu juga ke diri sendiri sehingga menarik pasangan seperti itu. Saat diri sadar, ambil pelajarannya, dan evolve dengan belajar mencintai diri, percaya terhdap diri sendiri, prioritasin diri, taking care diri dengan baik. Maka orang yang hadir dalam hidup pun berubah, termasuk pasangan. Datang orang-orang yang sangat menghargai, nurturing, taking care kita dengan baik. 

Untuk waktu, bisa jadi sudah ada ketetapannya.
Yang bisa kita lakukan antara menjalani, menerima, dan berusaha akselerasi.

Personally, I dont have any insecurity about jodoh. 
Bisa jadi ada faktor sudha kenal diri sendiri, anteng sama diri sendiri, relasi yang baik dengan laki-laki disekitar sejak kecil (ayah, adik, kakek, om, pakde, sepupuh).

Untuk perempuan, yang mungkin stress atau ada insecurity ttg jodoh, bisa digali relasi dengan ayah dari kecil sampai dewasa bagaimana? apakah dekat secara emosi, apakah akrab, apakah dapat empati dr ayah, apakah ayah hadir dalam hidup dan kehidupanmu, dll. Biasanya kalau relasi dengan ayah baik, perempuan itu kehidupan sekolah, pekerjaannya baik. Termasuk rasa aman dengan lawan jenis. 

Wednesday, January 28, 2026

Ekspresi (2)

Ekspresi itu sesederhana hari ini mau pakai baju apa hari ini. Kita udah pilih baju yang soapn sesuai normal sosial, tapi kita pengen warna neon misal. Itu akan ada saja yang menghakimi "norak", "cari perharian", "jelek", atau penghakiman positif "ih lucu", "bagus", "keren banget kamu", "wah berani". Dan komentar-komentar orang itu gak ada hubungannya sama diri sendiri. Itu cuma proyeksi apa yang ada di dalam dirinya. Selama kita masih mengikuti aturan (pakaian tidak terbuka, terlalu pendek, dna tidak ada aturan tentang warna pakaian, ya tidak jadi masalah).

Ada pun expresi dalam berkomunikasi jujur. Being vulnerable bilang "aku sedih banget waktu ditinggalin sendiri", "akugak suka di kontak weekend kalau tidak urgent", itu semua kan hak orang loh. Anehnya, banyak masyarakat yang anggap kejujuran, being direct, komunikasikan boundaries, expresikan perasaan, itu dianggap serangan, ngajak ribut, ngajak berantem, nyalahin, menabuh genderang permusuhan. Alhasil yang diributkan ego mereka sendiri tapi blamming orang lain yang immature, arogan, 

Adapun ekspresi dalam berkarya, misal nulis buku di judge "gak akan laku", "ngapain", blabla. Ekspresi dengan masak, bikin kue, jualin karena suka dan prosesnya fun, ada aja penghakiman "lulusan S2 cm jualan kue", "ngapain dokter masak2, gabut", "udha kaya, jualan, nutup rejeki orang gak mampu".

Ekspresi emosi pun akan ada aja penghakimannya. Sedih, nangis, dianggap lebay cengeng, di suruh berhenti berisik. Kesal, menyampaikan kesal, dianggap nyari ribut. Saat olahraga dianggap gilak olahraga, dan kadang malah menyiksa diri sendiri. Kecewa di nilai banyak harapan padahal orang yang gak amanah dan memang abusif. Banyak sekali judgement, gaslighting, manipulatif, rejection. Alhasil banyak orang sakit-sakitan dari memendam segala macam emosi karena tidak ada ruang ekspresi yang aman. 

Kalau orang ekpresiin diri dengan pakai parfum terasi menyengat, ya wajar orang terganggu karena yang terdampak panca indra langsung - tubuh. Tapi kalau ekspresi orang tidak menganggu fisik kita, masih muncul judgement dan memicu masalah, ya tandanya sudah tidak objektif karena sudah ada penilaian yang muncul hasil dari persepsi, ego, pov, dll. Padahal semua hal itu netral just information, just color, just shape, just words, just tone, as simple as that. 

Ekspresi (1)

Setiap orang memiliki pengalaman, pikiran, perasaan, emosi, persepsi, dan energy nya tersendiri. Ekspresi adalah salah satu bentuk untuk mengalirkan energy agar jiwa, raga, pikiran bisa menjadi sehat, tenang, ringan, dabhkan mendapati inspirasi dalam prosesnya, bahkan uang. Ekspresi bisa dilakukan secara verbal langsung, tulisan, aktivitas, kreasi, pakaian, ataupun karya. Saat individu menahan ekspresi dalam dirinya, ada energy yang tertahan dan stuck, manifestasinya bisa ke emosi, trauma yang tak tersembuhkan, sakit fisik, wellbeing, hambatan dalam keuangan, dan lainnya.

Idealnya sesuatu di ekspesikan secara jujur, murni, langsung, tuntas, tanpa beban. Namun kenyataannya, banyak sekali yang perli dipikirkan agar apa yang ingin di ekspresikan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari yang merugikan diri. Sehingga banyak sekali yang di pikirkan, dipertimbangkan, dipedulikan, yaitu: norma sosial norma agama, norma tempat kita tinggal, pikirna orang lain, perasaan orang lain, ego orang lain, dll. Sampai akhirnya itu semua menjadi beban tersendiri dan menimbulkan ketakutan. Ketakutan tidak diterima, tidak dicintai, ditolak, dihakimi, dinilai buruk, kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dll. Alhasil mungkin banyak yang memilih diam, cari aman, menekan perasaan, emosi, ambisi, ide, hasrat, pikirannya sendiri bahkan menekan kedalam. 

Saat seseornag mengekspresikan sesuatu, ya itu tentang dirinya. Tentang apa yang terjadi di dalamnya, pikirannya, jiwanya, perasaannya, tubuhnya. Tentang kepedulian akan sesuatu, kemarahan, rasa syukur, kebahagian, kesedihan, dll. Jadi, saat muncul judgement, reaksi atas ekspresi orang, bisa jadi masalahnya ada di diri. Misal, ada orang mengekspresikan kekecewaannya dengan teriak anjing, even bukan ke kita terus kita nge judge negatif, ga sopan, buruk karena mengkaitkan dengan norma, ya bisa jadi in deep down diri juga pengen teriak kasar tapi gak berani, malu, ketahan super ego, jadi men judge orang lain seperti itu. Atau mendadak reaktif karena ekspresi orang tersebut mentrigger luka lama yang suka di maki-maki orang tua dengan kata anjing (misal). 

Yang ingin dishare di tulisan ini adalah....
Apapun yang orang lain lakukan tuh tidak ada hubungan dengan diri sendiri, sebgitupun komentar orang lain pun tidak ada relevansinya dengan diri. Semua itu hanya cerminan apa yang terjadi di dalam dan apa yang tertahan oleh super ego. 
1. Jadi kalau mau berekspresi ya lakukan aja, jangan takut dihakimi, dinilai buruk, tidak di cintai, ditolak. 
2. Kalau ada orang berekspresi abc, ya itu tentang dirinya. Stop taking personally dan jadiin masalah

Masalahnya settingan sosial yang mementingkan "apa kata orang", "image sosial", "image perusahaan", "image keluarga", dan mengkaitkan ke banyak hal, ini yang membuat sedikti orang mampu benar-beanr menjadi dirinya sendiri dan jujur. Everyone wants to be loved, accepted. Fakta lainnya, judgement itu akan selalu ada, penolakan pun akan ada saja, kita tidak bisa mengontrol dunia luar kecuali punya uang segunung as power yang bisa shut people off di depan kita, jadi ya pilihan ada di tangan masing-masing sejuah apa memendam diri dan being people pleasing at this society, dan seberapa jauh berani jujur menjadi diri sendiri termasuk berekspresi. Dan itu bukan hal putih, kita bisa memilih presentasinya. 

Monday, January 5, 2026

Rasa Takut

1 January 2026 pagi aku check out dari penginapan menuju bandara untuk pulang. Sebelum ke bandara, aku mampir ke toko oleh-oleh. Lalu pesan gojeg agar perjalanan lebih cepat dan murah. Selama perjalanan, drivernya cerita kalau jalana sepi, driver-driver tepar semalaman kerja sampe subuh, akan sulit dapat ojeg maupun taxi online. Dia pun menawarkan untuk ditungguin di te,pat oleh-oleh dan mengantarkan ke bandara. Seketika aku sempat merasa panik dan takut untuk susah dapat driver karena sedang buru-buru dan waktunya mepet. Saat diri lebih tenang, lebih jernih, akhirnya kembali ke keinginan diri untuk pakau mobil ke bandaranya (bukan ojeg-motor), akhirnya aku tolak "nggak deh mas, makasih, saya sampe sini aja gak usah ditungguin". Setelah berbelanja, saya pesan taxi online dan langsung dapat dengan cepat nan mudah.

Dari kejadian itu tiba-tiba muncul kesadaran tentang "ketakutan". Emosi adalah barang dagang paling laku apalagi rasa takut. Mulai dari asuransi, kecantikan, sekolah, dan bayak hal lainnya yang memanfaatkan rasa takut manusia untuk mendapatkan keuntungan. Banyak manusia yang takut jelek, takut ditinggalin, takut kesepian, takut diabaikan, takut gak pasti, takut susah, takut gak dapet dan telat, takut tidak berguna, takut miskin, dan keytakutan-ketakutan lain dimana itu lahan basah untuk bisnis, Ya, memanfaatkan rasa takut dengan menjual ilusi rasa aman lewat suatu produk. Hal keculnya seperti yang dilakukan driver ojeg dengan mengkaitkan fenomena tahun baru yang ramai dan banyakk gojeg yang tepat, lalu memanfaatkan kepanikan saya ngejar pesawat, dan menjual rasa takut dengan menawarkan rasa aman dengan nungguin saya untuk lanjut ke bandara. 

Ya, tidak ada yang salah dengan rasa takut amupun pihak lain yang memanfaatkan rasa takut diri untuk keuntungannya. Yang perlu disadari adalah adanya emosi takut tersebut, menerima ketakutan diri, dan berfikir jernih, makan kita akan bisa membuat pilihan yang memang align dengan keinginan diri, tujuan, dan jiwa.