Setiap orang memiliki pengalaman, pikiran, perasaan, emosi, persepsi, dan energy nya tersendiri. Ekspresi adalah salah satu bentuk untuk mengalirkan energy agar jiwa, raga, pikiran bisa menjadi sehat, tenang, ringan, dabhkan mendapati inspirasi dalam prosesnya, bahkan uang. Ekspresi bisa dilakukan secara verbal langsung, tulisan, aktivitas, kreasi, pakaian, ataupun karya. Saat individu menahan ekspresi dalam dirinya, ada energy yang tertahan dan stuck, manifestasinya bisa ke emosi, trauma yang tak tersembuhkan, sakit fisik, wellbeing, hambatan dalam keuangan, dan lainnya.
Idealnya sesuatu di ekspesikan secara jujur, murni, langsung, tuntas, tanpa beban. Namun kenyataannya, banyak sekali yang perli dipikirkan agar apa yang ingin di ekspresikan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari yang merugikan diri. Sehingga banyak sekali yang di pikirkan, dipertimbangkan, dipedulikan, yaitu: norma sosial norma agama, norma tempat kita tinggal, pikirna orang lain, perasaan orang lain, ego orang lain, dll. Sampai akhirnya itu semua menjadi beban tersendiri dan menimbulkan ketakutan. Ketakutan tidak diterima, tidak dicintai, ditolak, dihakimi, dinilai buruk, kehilangan pekerjaan, dikucilkan, dll. Alhasil mungkin banyak yang memilih diam, cari aman, menekan perasaan, emosi, ambisi, ide, hasrat, pikirannya sendiri bahkan menekan kedalam.
Saat seseornag mengekspresikan sesuatu, ya itu tentang dirinya. Tentang apa yang terjadi di dalamnya, pikirannya, jiwanya, perasaannya, tubuhnya. Tentang kepedulian akan sesuatu, kemarahan, rasa syukur, kebahagian, kesedihan, dll. Jadi, saat muncul judgement, reaksi atas ekspresi orang, bisa jadi masalahnya ada di diri. Misal, ada orang mengekspresikan kekecewaannya dengan teriak anjing, even bukan ke kita terus kita nge judge negatif, ga sopan, buruk karena mengkaitkan dengan norma, ya bisa jadi in deep down diri juga pengen teriak kasar tapi gak berani, malu, ketahan super ego, jadi men judge orang lain seperti itu. Atau mendadak reaktif karena ekspresi orang tersebut mentrigger luka lama yang suka di maki-maki orang tua dengan kata anjing (misal).
Yang ingin dishare di tulisan ini adalah....
Apapun yang orang lain lakukan tuh tidak ada hubungan dengan diri sendiri, sebgitupun komentar orang lain pun tidak ada relevansinya dengan diri. Semua itu hanya cerminan apa yang terjadi di dalam dan apa yang tertahan oleh super ego.
1. Jadi kalau mau berekspresi ya lakukan aja, jangan takut dihakimi, dinilai buruk, tidak di cintai, ditolak.
2. Kalau ada orang berekspresi abc, ya itu tentang dirinya. Stop taking personally dan jadiin masalah
Masalahnya settingan sosial yang mementingkan "apa kata orang", "image sosial", "image perusahaan", "image keluarga", dan mengkaitkan ke banyak hal, ini yang membuat sedikti orang mampu benar-beanr menjadi dirinya sendiri dan jujur. Everyone wants to be loved, accepted. Fakta lainnya, judgement itu akan selalu ada, penolakan pun akan ada saja, kita tidak bisa mengontrol dunia luar kecuali punya uang segunung as power yang bisa shut people off di depan kita, jadi ya pilihan ada di tangan masing-masing sejuah apa memendam diri dan being people pleasing at this society, dan seberapa jauh berani jujur menjadi diri sendiri termasuk berekspresi. Dan itu bukan hal putih, kita bisa memilih presentasinya.
No comments:
Post a Comment