Pilates jam 11.00
Ikutin maps, ternyata membelah pasar padat di sabtu pagi, alhasil telat.
Langsung kontak admin tanya boleh pindah ke next session, ada slot di jam 13.00
Yaudah diambil. Sampe lokasi: taro barang di loker, gosok gigi, cuci muka, makan bekel yang sudah disiapkan (edamame) sambil laptopan ngetik ini di coffee shop sebelah tempat pilates (masih satu kesatuan) tanpa perlu pesen dan pakai wifinya.
Dulu aku tipe yang sangat strict dan super kaku dengan jadwal sampe doing everything untuk memenuhi jadwal, dimana sering mengorbankan diri sendiri. Saat jadwal gak kekejar, pihak lainnya kaku, aku frustasi, meledak, ngamuk, marah, lash out, endingnya diri sendiri rugi triple (mengorbankan banyak hal untuk tepati janji, rusak relasi, bahkan berpotensi merusak urusan di kemudian hari).
Hari ini aku bisa sangat flexible, tenang, dan bahagia, karena aku tidak mengorbankan apapun sebelumnya.
- Tidurku cukup baik meski masih ngantuk dan ga bisa tidur lagi karena sudah ada jadwal pilates, aku tidak menyesali karena aku memilih secara sadar untuk bangun dan terus lanjut jadwal.
- Aku melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan sebelum sesi: minum lemon, minum air putih, beberes apartment, rapih2 barang, merapihkan semuanya, prepare bekal (rebus edamame, angetin bola2 daging yang sudah dimasak hari sebelumnya).
- Semua kebutuhanku tsudah terpenuhi dengan baik (minum, pipis, beres2, pakai outfit yang dimau dan disuka, bikin dan bawa bekel)
- Selama diperjalanan, aku tidak memaksakan, mengejar, sampe bikin diri stress dengan ngebut, klakson2 orang, marah2 sama orang lelet, super ngejar waktu (yg dari awal pun akan telat), apalagi rusuh sampe merugikan diri (spion patah, kendaraan kebaret, atau jd kenap2). Aku berusaha semaksimal mungkin dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan kebaikan diri.
- Aku tidak mengorbankan apapun, semua aku lakukan karena aku mau dan tetap memprioritaskan diri sendiri sekalipun ada yang miss, masih tolerateble.
Saat rencana tidak berjalan lancar, seperti macet, telat, dll. Aku bisa tenang-tenang saja, karena dari awal tidak mengorbankan diri sendiri untuk mengejar sesuatu yang level worth it nya pun berbeda. Untungnya mbaknya pun flexible bisa geser jam (gak angus). Kalopun angus ya resiko ku, yasudah.
Pilates jam 13.00, selesai jam 14.00, mau lanjut mandi rapih2 di sini, makan bekel bola bola dagingnya, sampe apartment sore bobo istirahat. Abis maghrib makan, siap-siap buat ke acara.
------
Bandingkan dengan aku yang dulu:
Janjian ma orang di jakarta, hari X jam X.
Posisiku di Surabaya. semua sudah deal, aku pegang komitmenku. Padahal saat itu uangku sekarat tanpa tabungan, kerjaan overload lembur-lembur, secara batin sedang nelangsa ga bahagia, itu ku memaksakan diri memenuhi komitmen yang sudah disepakati, mengabaikan dan mengorbankan kebutuhan diri sendiri (tidur cukup, uang proper, kesehatan, kebutuhan emosional, istirahat, dll). Ya aku overcommitment (sampai sekarang masih, bedanya sekarang dibarengi self love). Sampai lokasi, orangnya ga ada, gak bisa dihubungi, ilang. Kesel? iya. Marah? iya. Dan kebencian terbesar justru bukan terhadap orang ingkat tersebut, tapi terhadap diri sendiri. Kesel kenapa gak memenuhi kebutuhan diri, kesel kenapa berkoban2 untuk diginiin orang, kesel sama diri sendir yang kalau sudah janji/komit se jor-joran ini, kesel gak bisa mentingin diri sendiri. Dan saat speak up kesel kenapa batal janji, mangkir, bahkan gak ngabari kalo ga jadi, dikala sebelumnya sudah deal, dimana diri juga gatau dia ada acara mendadak atau gimana. Terus orangnya malah defensif, balik marah, merasa diserang, numpahin semua burden dan masalah ke gw, irresponsible.
Dan itu sering terjadi dari janjian kecil, gede, dekat, jauh. Dan hal sepele buat kita belum tentu di orang itu sepele loh, dan sebaliknya, disini butuh saling menghargai. bukan defensif "urusan ini lbh penting", udah gak ngabari, defensif, nyerang, dan ngomong gt. Pdhl masalahnya di komunikasi dia yg ga sehat yg endingnya merugikan orang lain. Padahal sessederhana kabari aja kalo jadi/ ga jadi, bukan didiemin gt aja, pas orang nanya atau sudah di lokasi, anatara ghosting atau malah balik ngamuk. Aku dulu sangat overgiving and never receiving, jadi defisit terus.
Sampe di momen ketemu orang-orang waras, saat ada kejadian batal/ mundur, mereka mengabari "sorry ga jadi, ada urusan dadakan, sorry batal, boleh diundur soalnya blabla". kesel iya, tapi dengan orang itu kabari dan dia berani taking responsibility termasuk saat kita kesel dan tetap konsisten dengan cari solusi resekejul/ alternatif lain dan komit sama perubahannya (gak batalin sepihak lagi/ kabur/ mengulangi lg; disitu maturity dan integritasnya terlihat. Dari hal tersebut jd experience relasi sehat yang saling menghargai. Semenjak itu memutuskan hanya mau bergaul dengan orang-orang yang bertanggung jawab, konsisten, dan mutual (mutual effort, mutual commitment, mutual respect).
------
Aku bukan tipe orang insecure yang terus-terusan follow up.
Kalau udah bilang iya, tandanya iya.
Kalau gak mau ya akan bilang nggak mau.
Kalau belum pasti ya akan bilang belum tau (bukan nge reject tapi beneran belum tau)
Kalau bilang nanti dikabari, ya aku akan kabari.
I said what i really mean.
Jadi kalau komunikasi ma aku ya direct, langsung, jelas, ga usah belok belok, dan kalau ngomong ya atau janji ya tepati tanpa drama insecurity nanya-nanya lagi, follow up2. Itu malahan bikin pengen batal karena jadi beban aja pusing urusan ma orang yg insecure bentar2 mastiin dan follow up. I need space.
No comments:
Post a Comment