Tuesday, May 26, 2015

Apa lagi?


Akhir- akhir ini gak berhentinya bersyukur, bentar-bentar nangis, jadi cengeng bgt.
Keluarga yang baik, berkecukupan, teman-teman yang peduli, orang-orang yang sayang, kemudahan-kemudahan yang datang, bantuan-bantuan dari arah yang gak disangka-sangka.
Lalu hati bertanya pada dirinya "apa lagi?".
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?".

Balancing

Setahun ini, dimasa hectic thesis, saya malah memasuki sebuah lingkungan baru dengan orang-orang baru. Awalnya (bahkan sampai sekarang) saya cenderung terlihat diam namun memperhatikan setiap hal yang saya tangkap, tentang suatu sistem, pola, karakter, kepribadian, sikap, motivasi orang, cara orang memecahkan masalah, cara orang menampilkan dirinya, cara mereka bersosialisasi, hingga sampai pola sol sepatu dan jarum jam tangan yang dipakai. Dari pengalaman bertatahun-tahun mengamati hal ini dalam lingkungan berbeda, cara kerja suatu sistem memang relatif sama, selalu banyak tipe penurut pencari aman, sedikit yang memberontak mempertanyakan "kenapa begini, kenapa begitu, kok bisa begini, blabla..." terlepas dari pengamatan sistem dan pola yang hanya akan saya sharing melalui komunikasi verbal, ada suatu yang menarik menurut saya untuk di sharing, yaitu tentang balancing.

Tidak semua yang kita tangkap itu hanya sebatas indrawi panca indra, entahlah knp intuisi itu bisa  mengarahkan pada sesuatu yang belum terlihat secara nyata, merasakan sesuatu yang tak terlihat dan belum terbukti. Jadi ada satu orang, dari banyaknya orang, yang saya perhatikan, dia sangat-sangat sopan, tingkat empatinya tinggi, low profile, dan merangkul "anak baru". Dari orang ini, saya belajar bagaimana untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap keberadaan orang lain, bagaimana cara memperlakukan kolega tidak hanya sebatas profesionalitas pada sebuah sistem, namum memperlakukan sebagau human. Orang ini menurut intuisi saya, tipe orang jujur yang memang dari hati, bukan yang manis di permukaan untuk memenuhi sopan santun dan mengejar image. Disaat banyak orang baik dalam sebuah sistem akan terlihat buruk karena memberontak sistem dan dimanfaatkan, sehingga banyak orang-orang yang akhirnya melakukan sesuatu karena keharusan dan ketundukan pada sebuah sistem. Orang ini mampu berada dalam garis batas antara tetap survive dalam sebuah sistem namun tetap memperlihatkan diri aslinya tanpa dimanfaatkan orang lain. Cara dia menyapa para kolega, hanya sekian detik untuk say hai, cara dia membuat win-win solution berdasarkan logika namun tetap melibatkan feeling. Disaat banyak orang yang lebih ke task oriented, orang seperti ini luar biasa tingkat survive dan adaptasinya, dia bisa menjaga ritme produktif bekerja dan tetap membangun hubungan dengan para kolega baik secara profesional maupun personal. 

Karena setiap pertemuan selalu ada maksud, 
sebuah ladang pembelajaran hal nyata dan kasat mata.

Sunday, May 24, 2015

Secuil Analisa

Seorang teman semasa sma dan sekampus, mengirimkan pesan:
b: "kok gw ngerasa makin kesini, temen makin dikit ya. 
orang2 ngehubungin cm kalo ada perlunya doang. 
kalo ga ada perlu, ga ada tuh sapa2."
b: "sekian. lanjut tesis lo lg".

saya hanya diam membaca tulisan ini tanpa membalasnya. Dalam hati, hal ini pun sudah saya rasakan beberapa tahun terakhir kalau makin kesini makin ngerasa ga punya tmn. ternyata tmn saya ini , laki-laki, berfikiran hal yang sama. Setelah merenung dan menganalisa selama dua tahun terakhir, akhirnya saya mendapati kesimpulan, kemudian saya tulis analisa singkat saya tentang pertanyaan si B bulan lalu dan mengirimkannya.

-------------------
u: "waktu kita sd, smp, sma, kita aman secara finasial masih dibiayai, dekat keluarga, dan kita sedang berada di fase berkembang secara sosial. kita saling membuka diri. makanya teman-teman dimasa ini bisa jd teman-teman long lasting, karena mengenal dan menerima diri kita apa adanya jd maklum2 aja.
u: waktu kuliah, kita berada di fase self development, jd kita fokus sama diri kita sendiri. fase ini temen itu sebagai partner dlm menguatkan diri dalam berkembang.
u: selepas kuliah, kita udh dituntut mandiri, kita berada dlm fase survival. makanya di fase ini org2 datang cuma sebatas kebutuhan, byk pencitraan dan kita pun jd ga menampilkan diri apa adanya.
u: nah krn lo mengenal tmn2 lo yg itu tuh di fase selepas kuliah, fase survival. ya emang gt aturan mainnya."
-------------------

Banyak orang yang saat tau jeleknya kita langsung nge judge ini itu, ngomongin di belakang, terus ninggalin. Banyak juga orang yg tau jeleknya kita, langsung ngomong jujur, tp ttp ngerangkul. Kadang mikir, kalau beneran temen gak perlu penjelasan, gak perlu konfirmasi, gak perlu tuntutan. "kok si ini gt, harusnya dia blg, harusnya dia jelasin, blabla". Karena orang yang kenal dan menerima kita bakal tau sifat dan sikap kita, sehingga mereka bakal lebih bisa memahami dan memaklumi daripada bertanya kenapa dan menuntut sesuai pikirannya. Semoga selalu dikasih orang2 baik sama Allah yang sama-sama memiliki kepentingan mencapai Surga-Nya. 

Sunday, May 17, 2015

Hingga

Aku berdiri tegap menghadap langit,
hingga lupa cara menunduk.

Aku bergerak cepat mengejar terdepan,
hingga lupa menikmati.

Aku melihat terlalu lama,
hingga lupa waktu berlalu.

Aku berfikir terlalu dalam,
hingga lupa raga.

Aku sibuk mencari,
hingga lupa syukur.


(Utie. kosan,17/5/2015)

Sunday, April 19, 2015

Akan Selalu Ada

Akan selalu ada
orang yang memperjuangkan kita,
orang yang rela berkorban bahkan nyawa sekalipun,
orang yang mendoakan dalam-dalam,
orang yang diam-diam mewujudkan keinginan kita,
orang yang sayang sangat,
orang yang menjadikan kita prioritas utamanya,
orang yang selalu menerima kita apa adanya,
orang yang akan tetap ada dikala kita dibawah,
orang yang akan tersenyum dikala kita sukses,
orang yang mencintai tanpa pamrih,
orang yang merawat dan menjaga kita,

yaitu orang tua. ibu ibu ibu ayah.

Segala doa terbaik untuk mereka di dunia dan akhirat. 

Wednesday, March 25, 2015

Lelaki Tua dan Dinas Sosial

Minggu, tanggal merah dan libur, begitulah aturan bagi sebagian besar para pekerja dan pelajar.
Angin berhirup santai, diiringin rintik hujan yang kadang kala turun tak terduga dan berhenti secepat kilat. Matahari sayup bersembunyi dibalik awan yang membiaskan cahaya dan meredam teriknya. Burung-burung berlalu lalang entah pergi kemana, menari di udara membentuk kumpulan. 

Sebuah gedung dua lantai, jauh dari jalan raya ramai, terletak di belakang, terdapat ruang-ruang dengan halaman ditengah layaknya sekolahan negeri yang lebih mengingatkan seperti bangunan penjara pembataian di Kamboja. dingin, sepi, asing. Dinas sosial di sebuah kota yang terkenal dengan industrinya. tak ada kegiatan apapun disini, hanya ada seorang penjaga piket yang memberitakan sedang menunggu ambulance untuk seseorang gelandangan. Hati sesak, panas, meluap menjadi bulir-bulir air yang tertahan di mata. 

Seorang pria tua tanpa nama, alamat, kolega, sebatang kara, sedang sakit, diantar oleh polisi dua hari yang lalu ketempat ini, tempat dengan sadangan kata sosial, entah urutan keberapa urusan sosial ini diperhitungkan dalam negeri ini. Ambulance baru datang dua hari kemudian setelah melewati berbagai prosedur pemerintahan dan batasan dana. Siang hingga sore saya diam disitu, kalau orang main ke mall di hari libur, hari itu saya main ke dinas sosial. Ada suara mengerang seiring datangnya ambulance. Sang tua dipindahkan ke kasur dorong sambil diangkut ke ambulance. Sehelai kain menutup hingga ke wajahnya, saya diam, pilu rasanya. kakinya tersingkap, yang kanan terlihat lebih bengkak dari satunya. kalau ambulance lebih banyak mengangkut orang yang sudah tak bernyawa, untuk apa ada sirine?? sedangkan orang sekarat didiamkan menunggu berlama-lama tanpa ada percepatan apapun.

Percakapan terjadi antara saya dan orang dinas sosial. "ya, kalau mati begitu ya dikubur saja di sebuah lahan untuk mr.x, tanpa doa, tanpa nama, tanpa prosedur keagamaan apapun, karena kita gak tau agamanya apa dan siapa sanak saudaranya. Dan kita yang ngegali kuburannya. sebelum meninggal, dia berantakan, kita mandiin dan suapin makanan.". Sesak dengarnya. seorang manusia diperlakukan seperti manusia dalam batas makhluk hidup, bernyawa tanpa jiwa dan perasaan, tanpa identitas, agama, keluarga. Beruntunglah orang-orang yang masih punya identitas dan kolega, yang masih dikeliling anak cucu dikala sekarat, dibacakan ayat suci, ditemani, dibimbing saat sakaratul maut, diberi nama pada batu nisannya, di doakan setiap hari, setiap tahun. 

Disisi lain, ada yang saya pelajari, kalau Tuhan gak pernah ngebiarin hambanya sendirian, selalu ada saja yang membantu, polisi yang mengantarkan ke dinas sosial, pekerja dinas yang memandikan dan nyuapin, kepala bidang dengan hirarki diatas yang rela berpeluh keringat menggali kuburan orang tak dikenal. Sekilas terlihat seperti sebuah tanggung jawab mereka untuk melakukannya, meski sebenarnya mereka punya option lain untuk tidak peduli atau menyuruh orang lain, dll. Tapi ada sang Maha Penguasa hati, mengerakan hati manusia untuk condong membantu, atau membiarkan berlalu berharap ada orang lain yang membantu.

wuallahualam bishawab.

Wednesday, February 25, 2015

Teras


"kamu mau masuk atau ngga?"
"aku di teras aja"
"yaudah, aku tutup pintunya ya"
"aku gak bakal kemana-mana, mungkin sesekali kamu bisa nengokin aku diteras".

Kamu tau, betapa menganggunya orang yang terus diam di teras, masuk ga mau, pergi ga mau?
aku bisa saja menutup pintu dan jendela tapi tidak dengan pikiranku. apa enaknya mengabaikan orang yang ada di depan rumah tanpa mempersilahkan masuk, dan apa enaknya juga terus menemani di teras dan membuka pintu tanpa ada yg masuk. cuma bikin berantakan rumah dengan angin, debu dan badan basah dari cipratan hujan. Hanya bikin gusar hati tak enak ada yang diam di depan. cukupkanlah keegoisanmu sampai sini. Jika tidak mau masuk, ya silahkan pergi. Tidak ada teras untuk orang yang berdiam lama.
-------------------------------

Pesan ku kirim lewat selular yang kadang macet di udara sana menembus barisan beton dan air yang sesekali turun di malam itu. Dia membuka ceritaku. "iya kakak" jawabnya. Komunikasi aneh, hanya berkabar sebatas text, suara, dan video. Tak ada aura dan panas tubuh yang terasa satu sama lain, tak ada tatapan mata yang menceritakan banyak hal. "maaf kakak aku gak asik orangnya kalo via hp, kita ldr sih". baru saja aku berifikir aku pun seperti itu. Kami melajutkan. "Kalau buat kakak, pintu aku terbuka lebaaaar". Hahaha kami tertawa. Terimakasih. Disitu sadar, banyak orang yang hanya mau diam di teras atau hanya mengintip dari balik jalanan. Disisi lain, ada orang-orang yang membukakan pintunya lebar dan masuk ke dalam rumah. Sudah saatnya meninggalkan apa yang tak perlu, menggusir hal menganggu, membuka pintu bagi yang mau masuk lalu menutupnya hingga ada ketokan sopan lain. Namun tetap menjaga agar rumah tidak terlalu penuh, agar masih bisa bergerak bebas,  berpakain bebas,  tertawa lepas. 


Thursday, February 19, 2015

Terimakasih

Angin berdesir melewati jendela, menyapa helai-helai rambut tipis dipermukaan kulit dengan perlahan menyelami lebih dalam, memberikan rasa dingin. Hujan turun meredam obrolan bising di sebrang bawah yang menggoar sedari senja, memberikan kesunyian. Mata yang setia pada layar cahaya senada dengan hentikan jari menekan huruf. Terus dan terus hingga bulan semakin terang dan gelap semakin pekat. Tenggelam dalam peleburan ketakutan mengejar ketertinggalan. Hanya asa yang memberikan hidup, membakar realita.

Hasrat hati menengok kebelakang, sebuah busa berbalut kain berwarna hijau lime. Sang kotak kecil tipis hitam mengeluarkan bunyi, sigap meraih dan membuka. Play, alunan gitar dengan suara yang berusaha mendendangkan lagu, air mata menetes tanpa sadar. Bukan karena lagunya, bukan karena indahnya suara gitar, bukan karena pesannya. Tapi karena dia. Orang yang dikenal tanpa rencana, hanya 3 malam bersama dalam sebuah ruang dengan interaksi sekian jam tiap malamnya. Terimakasih, balasku. Kotak hitam kecil itu pun menjadi ramai dengan bunyi-bunyi yang memberikan selamat di tengah malam lewat mendekati fajr. Kurengkuh diri masuk dalam dunia tak sadar, berusaha mematikan pikiran sejenak. Panggilan Tuhan berkumandang, berat sekali membuka, panas rasanya bola mata ini perih. Terhenyak dengan kilatan text yang tertangkap sekelibet, penasaran, suara tak asing berceloteh dalam satu menit dua puluh detik berhasil mengelak tawa, membayangkan ekspresi sang pengirim. Kuulangi sekali lagi sebelum akhirnya kutinggalkan membasuh diri dengan dinginnya air. Celotehan yang lagi-lagi berhasil menghasilkan air yang keluar dari ujung mata. Sampai ketemu di bulan Mei. Terimakasih.

Matahari malu memunculkan diri namun tetap memberikan cahayanya, membuat si oren terlihat dengan jelas. Kusapa dia sambil membuka pagar, menjalani aktivitas, melunasi hutang-hutang waktu. Sepi sekali jalanan hari itu, dalam tiga jam selesai sudah urusanku ke empat tempat. Kebutuhan biologis menderu-deru, kumasuki sebuah tempat yang barusan menggirim pesan ada menu gratis. Makan sendirian, tepat setahun yang lalu di tempat yang sama. sang kotak hitam tipis itu minta diperhatikan untuk diangkat, Hallo, mulutku berkata, seruan untuk bertemu disebuah tempat, tiba-tiba. Kumasuki lewat pintu kedalam ruangan yang membawa diri berimajinasi berada di puluhan tahun yang lalu, kursi tua, bau yang khas, melewati muka-muka bijak yang kerutnya menandakan telah mengalami dinamika hidup, mencari seseorang tercinta. Duduk sendiri melihat menu dengan serius, kusapa dengan hangat, sebuah tiramissu kesukaan hadir di depan mata. Dia, yang menempuh 4 jam untuk pertemuan yang tak lebih dari 18 menit, kemudian kembali pulang. Terimakasih. 

Kotak-kotak berlapis kertas berwarna-warni tergeletak di hamparan kilap lantai, kotak-kotak yang datang tanpa pengirimnya, menyambung rasa sayang.

Pulang untuk akhirnya pergi kembali. Seseorang mengirimkan pesan, menanyakn pulang jam berapa, ada yang nyariin, begitu katanya. Kuselesaikan urusan dengan segera, menembus malam sunyi ditemani rintik hujan dan deru halus si oren. Seseorang masuk ke kamar, bercerita dengan wajah sumringah yang entahlah seperti ada yang disembunyikan. Kotak besar berisi makanan dengan cahaya yang muncul dari api diatas benda meleleh masuk kedalam kamar diiring dua orang yang sudah sudah kuanggap dekat meski baru kenal 4 bulan. Berusaha menghabiskan namun berakhir setengah dalam toples-toples di kulkas. 

Kotak hitam tipis itu kembali berkedip, menyampaikan pesan - pesan yang diterima pemancar. Ada satu pesan yang cukup menghantam. Kamu tahu, tanyaku pada diriku sendiri. Sekarang saatnya membersihkan semua hal tak perlu, semua hal tak guna, semua hal menyakitkan, semua hal yang tak menginginkan. Kamu tahu, ada banyak asing yang mendekat, ada banyak lama yang menjaga, ada banyak cinta yang diberi. Cukup buka ruang untuk menerima baik buruknya. Karena pada akhirnya akan terlihat siapa yang akan tetap tinggal. Waktu membantu.


Kosan, 19/02/2015, 02:34 am.

Sunday, February 15, 2015

22:58

Baru sadar, kenapa dosen pembimbing pengen saya ma bimbingan dia yang satu lagi kalo apa-apa barengan. Ya, biar terstruktur, biar rapi, dan secara psikologis pun biar bisa saling terpacu dan saling menyelesaikan.

Kerasa banget, semua teman-teman sepermainan s2 saya udah pada kelar semua, tanpa komunikasi apalagi semangat, semua hidup dalam hidupnya masing. Keadaan ini ditambah saya yang gak punya temen deket seorang pun, berhasil membuat saya yang moody nan menunda2 menjadi semakin terlena. Satu-satunya yang ngegampar gw buat sadar itu cuma ibu-ibu TU yang suka nelepon nyuruh bimbingan karena disuruh dosbing (hoki deh pny pembimbing yg peduli). Kedua yang tetap membuat gw sadar itu, teman-teman diluar lingkup sosial gw (teman yg baru kenal secara ga sengaja mksdnya) yang suka nanya2 kabar tesis dan ngingetin.

Disini saya sadar, kenapa perlu punya satu teman dekat. Teman yang peduli dan tau apa yang sedang saya perjuangkan, saya takutkan. ya. untuk menjaga. Mungkin teman-teman yang saya anggap yang gak kerasa kehadirannya yang terlihat masing-masing, sbenernya mereka gak sendirian, mereka punya ortu yang rewel ma studynya, pny pacar yg ngontrol dan nyemangatin, pny tmn di tmpt lain yg ngegampar untuk sadar, dan tentunya punya kesadaran diri untuk memiliki satu tmn dekat.

Disela-sela ke stressan dan deadline, gw bersyukur banget kalo Tuhan masih ngasih orang-orang yang bikin gw on the track. AAAAARGH PUSIIIING.

Monday, January 26, 2015

Pulang


Ada masa dimana diri menyadari betapa egois dan tidak peduli. Terus mengejar cita, terus mengasih makan ego, terus mencari jawaban, terus mengejar waktu menggulung asa rasa. Meninggalkan yang tak pernah disadari, meninggalkan sedih di lain hati, meninggalkan harapan di lain tempat, dan meninggalkan bakti. Seperempat abad lewat sudah. 

Ya, nanti pulang
Ya, akan pulang
setelah semua selesai atau bahkan setelah menganggap semua ini telah selesai.
semoga masih ada waktu, menembus. 

Wednesday, January 21, 2015

Bang!

Sebuah meja kayu lengkap dengan dua kursi berhadapan melingkarkan kakinya di kaki meja. Segerombolan menghisap sebuah batang yang katanya dari tumbuhan dalam-dalam lalu menghembuskannya menjadi gumpalan udara yang berwarna layaknya awan yang terlihat dari jendela pesawat di ketinggian tiga ribu kaki. Diam menikmati detik waktu, berbincang diiringi tatapan intimidasi, canda tawa, dan rintik hujan. Lo kan punya dua kepribadian celetukan disebelah berhasil membuat sunyi yang memeras otak berfikir dan hati diam. 
--------------

penuh perhitungan namun boros
selalu butuh interaksi, suka sendirian
selalu butuh banyak teman, individualis
pengen disayang, susah disayang
cerewet, pendiam
ekspresif, pemalu
Bisa jahat, ga tegaan

Friday, December 19, 2014

Jiwa

Air jatuh berirama membasahi setiap pohon, tanah, dan bus yang saya tumpangi. Bus yang entah akan membawa saya kemana, bertemu dengan siapa, belajar apa, dan apa- apa lainnya. 2 jam menerawang kegelapan bias cahaya lewat jendela dengan segudang pertanyaan. Bus pun berhenti di sebuah tempat, tempat training 4 hari, training yang saya pun tak tahu ngapain dan tak tahu kenapa bisa ikut. Seseorang berbicara dengan suara memecah gemericik air hujan deras, memberitakan tentang pembagian kamar. saya pun dengan spontan ikut saja rombongan entah siapa, masuk ke kamar paling pojok, sebuah ruangan dengan 10 kasur, 5 kasur diatas, 5 kasur dibawah dengan 10 orang yang asing. Saya memilih kasur di bawah tanpa memilih-milih sebelah siapa.

Kami bersepuluh meski sekamar, dalam kesehariannya hanya berinteraksi saat malam, selepas acara selesai, dari jam 10 malam hingga jam 1-2 pagi, kemudian tidur lalu bangun jam 5 subuh bersiap-siap untuk kegiatan yang diawali dengan mandi air dingin di lembang musim hujan. Ada teman sekamar yang posisi kasurnya disebelah kasur saya, dia menjadi orang pertama yang saya liat saat bangun dan saya liat menjelang tidur, selama 3 malam, ada momen dimana kita bertatapan lalu ketawa, ketawa untuk hal yang belum kita komunikasikan namun sama-sama dipahami. Ya mungkin itu namanya chemistry dan satu frekuensi. 

Seiring berjalannya waktu, di malam terakhir, saya menyadari kalau orang-orang yang ada dikamar ini, 9 orang ini cerminan diri saya sendiri. si A yang rusuh, si B yang hahahihi, si C yang kritis dan mempertanyakan eksistensi Tuhan, si D yg sedikit seombong, si E yang pemalu, si F yang berantakan, dan yang lainnya. Malam terakhir itu menjadi puncak perbincangan diskusi, bukan diskusi tentang training hari itu, melainkan diskusi tentang apa yang dirasakan, dipikirkan, beban masa lalu, harapan masa depan, dan saya mengungkapkan apa yang saya rasakan pada penghuni kamar ini, tentang kesamaan frekuensi, satu pemikiran. Teman sebelah kasur saya tiba-tiba ngomong "Tuhan mempertemukan orang sesuai kelompok roh nya, jadi kita ini diciptakan dalam kelompok-kelompok, yang sejenis akan dipertemukan". Definisi satu frekuensi versi dia. Cuma 3 malem, gatau kenapa sayang sama 9 orang ini, meski interaksi kita hanya dikala malam. 

Sebulan berlalu, komunikasi tidak se-intens sebelumnya dikarenakan kesibukan masing masing di kota masing-masing. Saya pun iseng stalking dan bacain tumblr dan blog satu satu hahaha... lalu terkejut. Ternyata bukan satu frekuensi saat itu saja, bahkan si ini si itu ternyata satu pola pikir, satu visi, cita-cita yang serupa, selain perilaku yang seperti cermin, pola pikir, perspektifnya pun setipe Meski dengan background yang berbeda (ada psikolog, guru, ekonom, entertainer, anak informatika, manajemen, dari jawa, sumatera dan makssar).  Teringat perkataan Tan Malaka bahwa air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya. sama seperti salah satu hadist yang saya temukan tentang jiwa, "Jiwa-Jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibariskan. yang saling mengenal diantara mereka akan saling melembut dan menyatu. Yang saling tidak mengenal diantara mereka akan saling berbeda dan berpisah" (H.R.Bukhari). Dari situ saya menyadari dan berfikir tentang orang-orang yang datang dan pergi, tentang orang-orang yang bisa ditoleransi dan tidak, tentang pertemuan-pertemuan yang bikin bersyukur, tentang baiknya Tuhan yang selalu memberi teman disetiap perjalanan hidup, tentang ketentraman, kasih sayang, tentang kekuatan,  tentang kesendirian, tentang banyak hal.

Tuesday, December 2, 2014

Gentong

Tadi pagi sebelum memulai aktivitas, saya lari di sabuga sendirian, ternyata pagi itu banyak opah-opah, dan ada sekelompok opah-opah yang jadi lari bersebelahan dengan saya. Terus mereka ngobrol (bukan nguping cm kedengeran hehe) ada satu obrolan yang bikin saya mikir:

"maneh teh dikasih berkat ku Tuhan aya takaranna, ibaratna gentong maneh geus penuh, lamun teu aya nu dikaluarkeun, nya teu aya deui anu bisa katampi masuk ka gentong...."
translate:
"kamu itu dikasih berkat/ anugrah dari Tuhan ada takarannya, ibaratnya gentong kamu udah penuh, kalo gak ada yang dikeluarin, ya gak ada lagi yg bisa keterima/masuk ke gentong itu...."

Saya jadi mikir dan punya pemahaman: ya segala berkah yg udah dikasih Tuhan emang harus ada yang dikeluarin, dalam bentuk waktu untuk berbagi, kasih sayang, kepedulian, ilmu yg disalurkan, rejeki yg di-infaq-kan, dll. Biar "gentong" kita ini selalu punya ruang untuk terisi dan gak luber tanpa manfaat. Karena isinya selalu kita bagikan ke orang lain jadi gentongnya gak penuh-penuh dan bisa diisi  lagi bahkan terisi dengan yang baru pula.

02/12/2014
00:25

Saturday, November 29, 2014

Serpihan Takdir

Telepon berdering memberi kabar sesuatu yang tak pernah kubayangkan, kupikirkan, kusiapkan, apalagi kuperjuangkan. Aku hanya diam menolak hal itu. Namun takdir berkata lain, 2 minggu kemudian aku sudah berada di sebuah pesawat besar dalam perjalanan belasan jam, diam sepanjang jalan ingin pulang dengan hati yang entahlah aku pun tak tahu. Sampai di sebuah bandara penuh dengan segala ras manusia dari seluruh penjuru dunia. Aku masih terdiam, mempersiapkan apa yang harus dilakukan, mengambil niat, lalu masuk bus terisak nangis sepanjang jalan mengingat dosa-dosa dengan segala ketakutan. Bus sampai di tempat yang dirindukan banyak orang. sebuah tempat dengan kotak hitam di tengahnya yang tak henti-henti nya dikelilingi ribuan bahkan jutaan sambil memanjatkan doa. aku berada diantara mereka, memanjatkan doa terdalam dan air mata pun menetes entah bagaimana. 

Doa, ya sebuah harapan, sesuatu terdalam dalam diri tentang banyak hal untuk dunia, akhirat, untuk diri sendiri, keluarga, dan banyak orang. 2,5 tahun berlalu tak terasa, menengok ke belakang untuk menambah syukur atas semua yang telah terjadi, di lalui, dan di dapat saat ini. Aku menyadari sesuatu, bahwa satu persatu doa terkabul, salah satu nya ini, ya ini, tentang pertemuan dengan orang-orang sefrekuensi yang mengampar untuk maju, yang menyangi, yang peduli, dengan segala banyak bonus lainnya yang Maha-Segalanya berikan. 

29/11/2014
23:06

Thursday, November 20, 2014

Sejajar

Hujan turun membasahi setiap pucuk daun yang berderet rapi sepanjang jalan ditopang oleh batang masing-masing, diliputi langit gelap seiring naiknya bulan. Sebuah atap ber-dinding transparant dengan kursi kayu tanpa sandaran menjadi tempat saya dan dia bertukar rasa dan pikiran. ada sebuah dialog yang muncul, tentang nilai, diri, sejajar.

u: lo tuh kuat tau sebenernya, keren banget malahan.
p: tapi gw anaknya gak suka show off
u: iya gw juga, lebih baik dibilang bodoh/buruk tp tau segala hal/baik, daripada dibilang pintar/baik tapi biasa aja.
p: nah itu dia, kita gak boleh kaya gitu. gimana caranya orang bisa ngasih kesempatan untuk kita membuktikan diri kalau mereka pun menilai kita rendah? gimana caranya kita bisa membuktikan diri kita kuat/pinter/keren/baik kalau kita gak punya kesempatan untuk menampilkan?
u: iya ya... gw jadi belajar deh, ibarat sebuah angka 0-10. gw selalu menampilkan diri dengan nilai 4 padahal nilai asli gw 9, misalnya. gw lebih seneng orang menilai rendah padahal aslinya gw keren. Berarti harusnya kalau nilai kita 8 ya kita harusnya bisa ngebuktiin kita itu 8 dan orang tau kita 8 ya?
p: iya. kita harus belajar menghargai diri sendiri dan membuktikan nilai asli kita ke orang lain, biar yg dilihat dan aslinya punya nilai yang sejajar.

-------------------------------------------------------------
Setiap orang punya masa lalu yang membentuk dirinya, bagaimana ia menghargai diri sendiri dan bagaimana ia memandang orang lain. Entah itu terbentuk dari banyaknya cacian terhadap dirinya, cap buruk yang menempel didirinya dari orang lain, menjadi kambing hitam untuk segala hal, pencapaian yang tak pernah di apresiasi apalagi di hargai, yang menjadikannya rendah diri dan tak percaya diri, ataupun, pujian yang terlalu berlebih yang menjadikannya terlalu angkuh dan percaya diri.

Kadang menenggok ke atas, memandang tinggi orang lain dan memandang rendah diri sendiri sungguh sangat menyesakan diri. Begitupun sebaliknya memandang kebawah, memandang bahwa diri lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain sunguh bikin pegal. Apapun yang terjadi dulu biarlah ia menjadi miliknya masa lalu. Sekarang, berdirilah sejajar dalam memandang diri sendiri sesuai porsinya dan memandang orang lain.

Tuesday, November 18, 2014

Peran Seorang Ayah (1)

Asal ibu nya baik, anaknya pasti baik. Pemahaman saya itu ternyata salah. Dari hasil diskusi dengan oknum B seorang psikolog yg punya empati besar, semalem, ternyata peran seorang ayah sangat besar dalam membentuk anak, bahkan hingga 80%. Pembentukan anak bukan hanya pada masa golden age saja, melainkan dimulai dari fase pembuahan, kualitas sperma (baik/kurang, tua/bagus, dll) yang mempengaruhi kecerdasan, fisik, mental, dan kalau laki2nya pengguna zat apa gt (lupa), itu mempengaruhi emosional anaknya kelak. Terus dalam masa kehamilan, kurangnya kasih sayang, perhatian, dan adanya kesedihan istrinya, menghasilkan anak yang sangat sensitif. Belum lagi saat masa kanak2, ada 4 fase menurut Freud seorang pakar psikoanalisis, Jika fase phallic (ttg genital) terlewat, anak bisa mengalami oedipus complex. Belum lagi pertengakaran rumah tangga, perilaku kasar fisik yang diterima seorang anak, kata-kata yang bisa jatuh sangat dalam di dalam diri anak yang mempengaruhi keadaan psikis nya hingga entah kapan. Kalau yg ini contohnya sudah banyak. Seperti remaja yang tega membunuh sekeluarga.

Oknum B pernah melakukan penelitian tentang seorang remaja 15 tahun yang tega membunuh tanpa rasa bersalah. Ia dihamili pacarnya, lalu disuruh aborsi. Ia merampok dan membunuh pemilik uang tersebut dengan membunuh menggunakan gunting. Lalu uangnya belum cukup, alhasil ke dukun beranak, sang jabang bayi dikeluarkan paksa menggunakan batang daun singkong, entah seberapa besar rasa sakitnya, hingga pendarahan dan rahimnya harus di angkat. dan ia tidak merasa bersalah dan sedih sama sekali, biasa aja. Setelah ditelusuri, ternyata hal tersbut merupakan hasil dari perilaku di keluarganya yang sering berantem dan ini itu.

Dari hasil diskusi kami semalam, saya belajar dan menyadari betapa pentingnya peran seorang ayah dan betapa besarnya dampak keluarga terhadap seorang anak. Bukan hanya masalah agama, finansial, pendidikan, ada hal2 psikis yang terlewat untuk di perhatikan. buat si X dipukul itu hal yg besok akan lupa, namun hatinya yg sensitif membut ia gampang tersakiti dan bisa berbekas bertahun2 mempengaruhi perilakunya jadi rendah diri. Beda lagi dengan si Y buat dia kata2 hanya sebuah kata-kata yang lewat, namun saat dia mengalami kekerasan fisik, dampaknya hingga 20 tahun kemudian masih terasa. Saya baru sadar ternyata seorang ayah lah yang memiliki peran sangat besar dalam pembentukan seorang anak.

Thursday, November 6, 2014

JAGA

Dalam sebuah perjalanan, terpikirkan sesuatu:

Kita cukup menjaga diri kita sendiri, 
maka Tuhan akan menjaga diri Jodoh kita. 
.selesai.

Sebagai seseorang yang pernah jadian namun tak pernah pacaran, gak kontak fisik dan berduaan  bersama pacar. Gak pernah dan gak mau aja. Tapi pernah kontak fisik sama teman lawan jenis saat naik gunung, pernah tidur sebelahan rame-rame tanpa melihat jenis kelamin dalam satu tenda, pernah pergi berdua bareng lawan jenis untuk survey material dan ke proyek. Lho kok gitu? Kenapa? Ya, karena kalau sama seseorang lawan jenis yang kita punya perasaan pasti rasanya bakal beda sama lawan jenis, teman, yang gak punya perasaan apa2. Saya menghindari hal-hal kontak fisik, berduaan bareng pacar, dan sejenisnya untuk menjaga diri dari hal-hal yang mungkin bisa berkembang menjadi hal yang kurang baik, kalo sama temen yang sama-sama gak punya "rasa" mah ya bodo amat, lagian kalo bareng ma temen lawan jenis itu karena ada suatu tujuan atau urusan. kelar.

Berdasarkan hal tersebut, saya punya prinsip dalam setiap melakukan perjalanan.
1. gak akan mau pergi sama orang yang saya punya rasa.
2. gak akan mau pergi sama orang yang punya rasa ke saya.
3. gak akan mau pergi sama orang, dimana saya dan dia berpotensi untuk timbul "rasa".
Jadi, orang-orang yang saya (pilih) melakukan perjalanan bareng, tandanya bukan orang yang disuka dan tidak berpotensi saling suka.

Singkatnya, saya melakukan perjalana sekian hari bersama teman dan ternyata cuma berdua (krn tmn sy gak jd ikut, sodaranya dia jg gak jd pergi), beda jenis kelamin. Karena teman ini udah masuk ke 3 point prinsip saya diatas, maka biasa aja, cuma dia nya aja yang lebay berjarak, sangat kaku dan berhasil membuat saya sangat tidak nyaman secara psikis. Di perjalanan itu, saya banyak belajar bagaimana beradaptasi dengan model orang kaya gitu, menjaga emosi, dan meng-enjoy-kan diri sendiri. Dari banyak kejadian yang saya anggap aneh bahkan "tai bgt sih nih orang", ada hal yang disadari, saya, seperti dijelaskan pada paragraf pertama, termasuk orang yang berusaha menjaga diri, ternyata ma Tuhan dikasih partner nge-trip yang menjaga diri juga, jadi saling menjaga diri sendiri. makanya munculah pemikiran, gak usah takut, santai aja sama siapa jodoh kita, saat kita menjaga diri sendiri, maka di tempat lain, jodoh kita lagi di jaga sama Tuhan. Dengan ia berada di lingkungan yang baik, dipertemukan dengan orang-orang baik, dsb. Intinya sih itu, ya mungkin terlalu abstrak kalau dijelaskan dalam sebuah tulisan singkat.