Saturday, July 18, 2015

Satu Frekuensi

Di umur seperempat abad ini, sanak sodara terutama orang tua sudah mulai gelisah lirik anak perempuannya yang masih single dan haha hihi. Mulailah obolan tentang kedewasaan yang berujung "mau sama anknya temen ayah ga? dokter loh dia...", "pinter nih udh s3...", "wuih nih orang agamanya baiik...". Dan selalu tersirat penolakan dari sang anak. sampai muncul pertanyaan ingin seperti apa.

Cuma pengen nyari yang satu frekuensi dan satu kufu biar tenang (memberikan ketenangan bagi jiwa dan perasaan).

yang bisa diajak ngobrol apa aja, mulai dari yang teraba sampai yang abstrak. dari yang gak penting sampai penting bgt. dari yang masa lampau sampai visoner. dari tentang kapitalis, kemanusiaan, sampe filosofi. dari satu sudut pandang sampe ribuan sudut pandang. Dan bisa memberikan ketentraman dari nyambungnya secara intelektual, pola pikir yang sejenis, dan visi yang sejalan.

Buat saya, pola pikir mencerminkan semua hal. tentang bagaimana ia melihat kehidupan, bagaimana ia menyikapi permasalahan, bagaimana ia menyiapkan masa depan, bagaimana landasan yang mendasari perilaku yang terjadi dan akan dilakukan, believe apa saja yang tertanam didirinya, dan bagaimana ia melihat dan memperlakukan orang lain dan dirinya sendiri, serta kecenderungan-kecenderungannya.

Dan, lagi-lagi semua itu gak bisa dimanipulasi, "diusahakan", dimunculkan tiba2. Semua berjalan dan terjadi dengan sendirinya. satu frekuensi tentunya bukanlah satu harmoni yg didasari adaptasi, tapi ya satu frekuensi aja. selesai.

Thursday, July 16, 2015

Memahami

Ada yang melihat untuk menilai,
Ada yang melihat untuk memahami.

Ada yang mendengar untuk mengibah,
Ada yang mendengar untuk memahami.

Ada yang merasakan untuk tujuan,
Ada yang merasakan untuk memahami.

Ada yang berbicara dengan logika,
Ada yang berbicara dengan empati.

----------------------------------------

Kalau diperhatikan, dirasakan, dan dianalisa,

Banyaknya miskom (miss communication) karena setiap individu mendengarkan untuk menjawab tanpa memahami. Parahnya, setiap individu hanya menunggu gilirannya untuk berbicara. 

Banyaknya sleg yang terjadi karena setiap pihak merasa berhak untuk menilai tanpa usaha memahami. Setiap pihak merasa benar dengan logikanya tanpa adanya empati.

----------------------------------------

Menilai:
si a sensitif ya blablabla
(tidak ada kebaikan untuk dirinya maupun orang lain. hanya sebatas bahan obrolan/ omongan).

Memahami: 
si a sensitif ya, berarti kalo ma dia harus blablabla 
(ada unsur kepedulian dan kebaikan untuk dirinya maupun orang lain).

Monday, June 29, 2015

Misal.

Masyarakat.
saat manusia satu menilai manusia satu lainnya hanya dari satu kejadian pada satu waktu dalam keadaan emosi situasi kondisi tertentu.

misal. seseorang yg menilai orang lain byk waktu luang hanya dari postingan yg membutuhkan waktu 1-2 menit. padahal mereka gak pernah tau ribuan menit lainnya dikali puluhan hari, orang itu mati-matian kerja keras bagai mesin.

misal. seseorang menilai orang lain berkecukupan hanya karena orang itu memberi kepada orang lain. padahal memberi bukan terletak pada kekayaan, tapi pada besarnya kepedulian dan lebih mementingkan orang lain. ada 3 jenis, analoginya, 
1. ada orang yg member 1.000 dikala ia memiliki uang 1.000
2. ada orang yg memberi 1.000 dikala ia memiliki uanh 2.000
3. ada orang yg memberi 1.000 dikala ia memiliki uang 30.000.000
bagi penerima, akan sama saja terlihat uang 1.000, tetapi bagi pemberi, uang itu memiliki arti yang berbeda-beda.

misal. seseorang menilai orang lain galak, dikala ia membentak tukang parkir lelet. Padahal orang lain tidak tahu kalau sebelumnya, orang ini habis menerima kabar buruk dikala ia sedang ujian, tiba2 dapat telepon dari ibu kos diusir, ditambah hormon-hormon saat pms.

misal. seseorang membicarakan hal2 sepele, kemudian di nilai berotak kosonh dan dangkal. Padahal gak tau aja, kalau org ini sangat cerdas dan saking byknya hal2 berat dalam pikirannya, ia mencoba melemaskan diri dengan topik ringan.

misal. ah banyak sekali.
Jangan sampai penilaian dari sensorik indrawi pada satu waktu, berhasil mengeneralisir seseorang. Gunakanlah hati untuk merasakan apa yang benar2 sedang terjadi, menjadi peka melihat apa yg tak terlihat.

Kadang berfikir, mana yg lebih banyak berprasangka? hati pikiran atau justru sensorik pancaindra dan logika? 

*wuallahualambishawab.
selamat Ramadhan ke-12

Monday, June 22, 2015

Traveling

Kehidupan ini seperti bola, banyak sisi yang tak terlihat utuh dalam satu sudut pandang. Untuk melihatnya, kita butuh bergeser tempat untuk melihat dari setiap sudut pandangnya - utie.

Traveling. 
Ada banyak pihak dan kepentingan. Sebagian merasa bahagia merasakan pengalaman baru, sebagian merasa bangga atas pengalamannya, sebagian merasa senang, sebagian menjadikannya rutinitas setiap libur setelah lelah bekerja, sebagian sebagai ajang kompetisi, sebagian menjadikannya pekerjaan "menjual" tempat dan pengalaman yg ditawarkan untuk mendapatkan lembar-lembar rupiah untuk ditukarkan dengan kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Friday, June 19, 2015

19 Juni 2015

Aku turun entah diturunkan dari sebuah bus yang tak akan pernah kembali lagi.
Diam menunggu dalam anggan meyakini kalau bus itu akan kembali, mengejar sesekali tak kekejar.
Waktu terus bergulir, bus-bus lain yang menawarkan tempat dan bisa membawa ke perjalanan yang lebih jauh terlewat begitu saja, cuma karena takut jika nanti diturunkan di jalan seperti lalu, adakalanya pula bercampur dengan rasa bahwa bus awal akan datang kembali.

Menjebak diri dalam masalah sendiri. mengharap sesuatu yang seharusnya "let it go" dan "menolak" sesuatu yang datang tulus.

Pensieve

(sumber gambar: google)

Pensieve bukan istilah asing bagi penggemar buku Harry Potter. Itu merupakan sebuah cawan berisi ingatan- ingatan, dan sering digunakan dumbledor. Ada unsur melepaskan, melepaskan memori kepada cawan ini; kemudian unsur kepercayaan, yaitu percaya bahwa memori tersebut akan terjaga dengan baik, termasuk dari segi kerahasiaan; ada unsur kembali, dimana memori bisa dilacak ulang dengan memasukan kepala kedalam cawan dan melihat kejadian masa lalu guna memperbaiki sesuatu kedepannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, disadari maupun tidak, pensieve ini merupakan kebutuhan dasar manusia. kenapa? manusia memiliki kadar pada setiap diri dan pikirannya, selalu masuk hal-hal baru dan butuh mengeluarkan demi menjaga "keseimbangan". Misal, kita butuh makan, kita makan guna mendapatkan tenaga yang terpakai untuk beraktivitas, kemudian makanan tersebut tidak semua baik dan tepakai, butuh pelepasan yaitu melalu fases yang kita keluarkan saat BAB, coba bayangkan kalau kita tak pernah melepaskan (BAB) atau BAB diluar durasi normal (sebulan sekali) tentu perut sakit, bahkan makanan tak berguna yang terus menumpuk tanpa dikeluarkan akan menjadi racun dan membentuk penyakit lain dalam tubuh. Itu salah satu contoh urusan fisik. Karena kita makhluk berakal yang memiliki akal pikiran jiwa, dimana semua kejadian dan informasi tersimpan di dalam memori yang membentuk pemikiran dan perilaku, hal melepaskan pun terjadi pada pikiran. Tidak semua informasi dan memori yang kita alami baik untuk keadaan sekarang dan kedepannya, perlu pelepasan, seperti melepaskan emosi, melepaskan beban, melepaskan trauma, melepaskan pikiran agar lebih lapang. Salah satunya dengan sharing.

Terlepas dari introvert maupun ekstrovert, setiap dari kita sebagai manusia atas dasar kebutuhan untuk melepaskan, butuh sharing. Sharing bisa berbentuk ide, cerita (kejadian diluar dirinya, kejadian yg terasa langsung, pemikiran, curhat), dan melepaskan emosi (nangis, marah). Hal itu membuat kita membutuhkan yang lain, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Kita butuh teman curhat, untuk melepaskan beban mental dan psikis, kadang untuk mencari solusi, dan seringnya hanya sebagai pelepasan. 
Mendengarkan curhat bisa menjadi ladang amal, karena secara tidak langsung kita membantu orang untuk melepaskan sesuatu sehingga terjadi keseimbangan dalam dirinya dan bisa lebih baik, setidaknya bisa bermanfaat sesama manusia dalam skala tak terukur (tergantu konten dan orangnya, bisa kecil atau menjadi tolak balik yang besar). selain itu, tidak akan menjadi beban pikiran untuk yang dicurhati, jika kita mendengarkan dengan hati melalu empati, hanya saja bisa menjadi beban amanah jika pelepasan itu beraifat aib dan rahasia.

Melepaskan merupakan kebutuhan manusia dalam hidupnya, agar tidak seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja karena tidak ada yang dilepaskan dengan kata lain semua hal disimpan sendiri. Ini merupakan cikal bakal terjadinya bunuh diri, membunuh, depresi, yang dampaknya tidak hanya kepada diri sendiri, namun ke lingkungan sekitar. Semua dari kita perlu teman, teman untuk saling sharing. Layaknya pensieve bagi dumbledore.

Saturday, June 13, 2015

CAP

Setiap orang memiliki persepsi terhadap org lain, dengan kata lain, tiap org punya label dr lingkungan yg membentuk dirinya. si a yg dicap e, si b yg di cap c, dst. mau org itu berubah menjadi lbh baik/ lbh buruk. label itu tetap ada didirinya pada lingkungan tersebut. 

Misal: 
Seseorang bekepribadian ramai tp pemalu, sehingga lingkungannya mencap dia pendiam, maka dia bakal mengurungkan dirinya, menaham pikiran dan ekspresinya dan menjadi diam; Seseorang memiliki pikiran luar biasa dan sangat2 mampu, tp lingkungannya men-cap org lain yg dianggap mampu, maka ia tidak pernah dapat kesempatan untuk menunjukan kemampuannya; Seseorang pernah ninggalin org dalam situasi tertentu dengan segala pertimbangan, lalu lingkungan tersebut mencap dia tak setia, sehingga saat dia berniat baik mengorbankan ini itu, tp keburu ada org nyeletuk negatif "ah dia mah blabla...." maka niat itupun terurungkan. Jaman sma mandi sejam, sudah 10 tahun mandi hanya 7menit, namun semua org yg kenal semasa sma tetap menjudge "lama si ini mah mandinya, blablabla" dan mempengaruhi ini itu lainnya (contoh sepelenya).

Hal itu tanpa disadari masuk kedalam alam bawah sadar kemudian mempengaruhi dan membentuk sikap, pemikiran, dan mental seseorang. Menjadi lebih tertutup, tidak percaya diri, menilai rendah diri, dll karena label2 manusia lain. Dimana lebel itu tebentuk cuma dari satu waktu dan satu sisi, dari suatu sikap pada keadaan emosi dan situasi tertentu yg di generalisir menjadi image seseorang secara keseluruhan. Tuhan saja yang tahu kita gak pernah gitu, masa kita manusia begitu? :p

Tanpa disadari, kita semua pernah menjadi subjek maupun objek dalam situasi seperti itu. Kalau jadi subjek, berusaha lebih percevier drpd judging, semua hal berubah berusahalah lebih objektif meski perlu subjektif (berperasaan) dalam menilai sesuatu sesuai situasi tertentu. Kalau jadi objek, ya cari lingkungan baru yang benar2 menilai diri kita secara objektif bebas dari label2 masa lampau, sehingga kita bisa mengekspresikan diri dan berkembang menjadi lebih baik tanpa ada "pagar2" dr cap lampau.

wuallahualam bishawab.

Monday, June 1, 2015

Sudahlah

Layar kaca dinyalakan, menyerukan pencuci otak bagi penikmatnya tahun demi tahun, masuk luruh kedalam jiwa baru dari generasi ke generasi.

Semua melantangkan nilai yang dianggap benar pada dirinya masing-masing, menyerukan label, perubahan, masa lalu.

Pakaian dinas seolah-olah berprofesi sama, Lantang suara penyeru sang koruptur berapi-api keluar dari mulut yang diiringi kebencian terpupuk waktu dan informasi. terdengar dari kotaknya hingga ke kotak lainnya. 

Teriakan buang2 duit rakyat, dinilai rendah serendah penjajak birahi, dibalik itu semua ada ribuan bahkan jutaan seragam coklat yang benar-benar mengabdi pada negaranya dengan upah tak jauh beda dengan buruh pabrik, dengan tangungan anak istri yang untuk makan pun sudah sangat bersyukur, bahkan ada yg lebih dalam dari itu semua, torehan luka rendah diri terhadap anak seorang pegawai rakyat yang profesi orang tuanya sering di cap buruk.

Pernahkah berfikir sejauh itu disaat mencaci seorang/ sekelompok dlm suatu wilayah tertentu? Sudahlah, suara-suara keras arogan yang merasa berhak mengeneralisir, seolah2 sudah pernah mencek semuanya tanpa terlewat satu pun.

satu jiwa lumpuh dalam setiap cacian. satu jiwa mati dalam setiap kebencian.
berapa jiwa telah kau hilangkan lewat kata? 

- 1 Juni 2015 - 

Tuesday, May 26, 2015

Apa lagi?


Akhir- akhir ini gak berhentinya bersyukur, bentar-bentar nangis, jadi cengeng bgt.
Keluarga yang baik, berkecukupan, teman-teman yang peduli, orang-orang yang sayang, kemudahan-kemudahan yang datang, bantuan-bantuan dari arah yang gak disangka-sangka.
Lalu hati bertanya pada dirinya "apa lagi?".
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?".

Balancing

Setahun ini, dimasa hectic thesis, saya malah memasuki sebuah lingkungan baru dengan orang-orang baru. Awalnya (bahkan sampai sekarang) saya cenderung terlihat diam namun memperhatikan setiap hal yang saya tangkap, tentang suatu sistem, pola, karakter, kepribadian, sikap, motivasi orang, cara orang memecahkan masalah, cara orang menampilkan dirinya, cara mereka bersosialisasi, hingga sampai pola sol sepatu dan jarum jam tangan yang dipakai. Dari pengalaman bertatahun-tahun mengamati hal ini dalam lingkungan berbeda, cara kerja suatu sistem memang relatif sama, selalu banyak tipe penurut pencari aman, sedikit yang memberontak mempertanyakan "kenapa begini, kenapa begitu, kok bisa begini, blabla..." terlepas dari pengamatan sistem dan pola yang hanya akan saya sharing melalui komunikasi verbal, ada suatu yang menarik menurut saya untuk di sharing, yaitu tentang balancing.

Tidak semua yang kita tangkap itu hanya sebatas indrawi panca indra, entahlah knp intuisi itu bisa  mengarahkan pada sesuatu yang belum terlihat secara nyata, merasakan sesuatu yang tak terlihat dan belum terbukti. Jadi ada satu orang, dari banyaknya orang, yang saya perhatikan, dia sangat-sangat sopan, tingkat empatinya tinggi, low profile, dan merangkul "anak baru". Dari orang ini, saya belajar bagaimana untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap keberadaan orang lain, bagaimana cara memperlakukan kolega tidak hanya sebatas profesionalitas pada sebuah sistem, namum memperlakukan sebagau human. Orang ini menurut intuisi saya, tipe orang jujur yang memang dari hati, bukan yang manis di permukaan untuk memenuhi sopan santun dan mengejar image. Disaat banyak orang baik dalam sebuah sistem akan terlihat buruk karena memberontak sistem dan dimanfaatkan, sehingga banyak orang-orang yang akhirnya melakukan sesuatu karena keharusan dan ketundukan pada sebuah sistem. Orang ini mampu berada dalam garis batas antara tetap survive dalam sebuah sistem namun tetap memperlihatkan diri aslinya tanpa dimanfaatkan orang lain. Cara dia menyapa para kolega, hanya sekian detik untuk say hai, cara dia membuat win-win solution berdasarkan logika namun tetap melibatkan feeling. Disaat banyak orang yang lebih ke task oriented, orang seperti ini luar biasa tingkat survive dan adaptasinya, dia bisa menjaga ritme produktif bekerja dan tetap membangun hubungan dengan para kolega baik secara profesional maupun personal. 

Karena setiap pertemuan selalu ada maksud, 
sebuah ladang pembelajaran hal nyata dan kasat mata.

Sunday, May 24, 2015

Secuil Analisa

Seorang teman semasa sma dan sekampus, mengirimkan pesan:
b: "kok gw ngerasa makin kesini, temen makin dikit ya. 
orang2 ngehubungin cm kalo ada perlunya doang. 
kalo ga ada perlu, ga ada tuh sapa2."
b: "sekian. lanjut tesis lo lg".

saya hanya diam membaca tulisan ini tanpa membalasnya. Dalam hati, hal ini pun sudah saya rasakan beberapa tahun terakhir kalau makin kesini makin ngerasa ga punya tmn. ternyata tmn saya ini , laki-laki, berfikiran hal yang sama. Setelah merenung dan menganalisa selama dua tahun terakhir, akhirnya saya mendapati kesimpulan, kemudian saya tulis analisa singkat saya tentang pertanyaan si B bulan lalu dan mengirimkannya.

-------------------
u: "waktu kita sd, smp, sma, kita aman secara finasial masih dibiayai, dekat keluarga, dan kita sedang berada di fase berkembang secara sosial. kita saling membuka diri. makanya teman-teman dimasa ini bisa jd teman-teman long lasting, karena mengenal dan menerima diri kita apa adanya jd maklum2 aja.
u: waktu kuliah, kita berada di fase self development, jd kita fokus sama diri kita sendiri. fase ini temen itu sebagai partner dlm menguatkan diri dalam berkembang.
u: selepas kuliah, kita udh dituntut mandiri, kita berada dlm fase survival. makanya di fase ini org2 datang cuma sebatas kebutuhan, byk pencitraan dan kita pun jd ga menampilkan diri apa adanya.
u: nah krn lo mengenal tmn2 lo yg itu tuh di fase selepas kuliah, fase survival. ya emang gt aturan mainnya."
-------------------

Banyak orang yang saat tau jeleknya kita langsung nge judge ini itu, ngomongin di belakang, terus ninggalin. Banyak juga orang yg tau jeleknya kita, langsung ngomong jujur, tp ttp ngerangkul. Kadang mikir, kalau beneran temen gak perlu penjelasan, gak perlu konfirmasi, gak perlu tuntutan. "kok si ini gt, harusnya dia blg, harusnya dia jelasin, blabla". Karena orang yang kenal dan menerima kita bakal tau sifat dan sikap kita, sehingga mereka bakal lebih bisa memahami dan memaklumi daripada bertanya kenapa dan menuntut sesuai pikirannya. Semoga selalu dikasih orang2 baik sama Allah yang sama-sama memiliki kepentingan mencapai Surga-Nya. 

Sunday, May 17, 2015

Hingga

Aku berdiri tegap menghadap langit,
hingga lupa cara menunduk.

Aku bergerak cepat mengejar terdepan,
hingga lupa menikmati.

Aku melihat terlalu lama,
hingga lupa waktu berlalu.

Aku berfikir terlalu dalam,
hingga lupa raga.

Aku sibuk mencari,
hingga lupa syukur.


(Utie. kosan,17/5/2015)

Sunday, April 19, 2015

Akan Selalu Ada

Akan selalu ada
orang yang memperjuangkan kita,
orang yang rela berkorban bahkan nyawa sekalipun,
orang yang mendoakan dalam-dalam,
orang yang diam-diam mewujudkan keinginan kita,
orang yang sayang sangat,
orang yang menjadikan kita prioritas utamanya,
orang yang selalu menerima kita apa adanya,
orang yang akan tetap ada dikala kita dibawah,
orang yang akan tersenyum dikala kita sukses,
orang yang mencintai tanpa pamrih,
orang yang merawat dan menjaga kita,

yaitu orang tua. ibu ibu ibu ayah.

Segala doa terbaik untuk mereka di dunia dan akhirat. 

Wednesday, March 25, 2015

Lelaki Tua dan Dinas Sosial

Minggu, tanggal merah dan libur, begitulah aturan bagi sebagian besar para pekerja dan pelajar.
Angin berhirup santai, diiringin rintik hujan yang kadang kala turun tak terduga dan berhenti secepat kilat. Matahari sayup bersembunyi dibalik awan yang membiaskan cahaya dan meredam teriknya. Burung-burung berlalu lalang entah pergi kemana, menari di udara membentuk kumpulan. 

Sebuah gedung dua lantai, jauh dari jalan raya ramai, terletak di belakang, terdapat ruang-ruang dengan halaman ditengah layaknya sekolahan negeri yang lebih mengingatkan seperti bangunan penjara pembataian di Kamboja. dingin, sepi, asing. Dinas sosial di sebuah kota yang terkenal dengan industrinya. tak ada kegiatan apapun disini, hanya ada seorang penjaga piket yang memberitakan sedang menunggu ambulance untuk seseorang gelandangan. Hati sesak, panas, meluap menjadi bulir-bulir air yang tertahan di mata. 

Seorang pria tua tanpa nama, alamat, kolega, sebatang kara, sedang sakit, diantar oleh polisi dua hari yang lalu ketempat ini, tempat dengan sadangan kata sosial, entah urutan keberapa urusan sosial ini diperhitungkan dalam negeri ini. Ambulance baru datang dua hari kemudian setelah melewati berbagai prosedur pemerintahan dan batasan dana. Siang hingga sore saya diam disitu, kalau orang main ke mall di hari libur, hari itu saya main ke dinas sosial. Ada suara mengerang seiring datangnya ambulance. Sang tua dipindahkan ke kasur dorong sambil diangkut ke ambulance. Sehelai kain menutup hingga ke wajahnya, saya diam, pilu rasanya. kakinya tersingkap, yang kanan terlihat lebih bengkak dari satunya. kalau ambulance lebih banyak mengangkut orang yang sudah tak bernyawa, untuk apa ada sirine?? sedangkan orang sekarat didiamkan menunggu berlama-lama tanpa ada percepatan apapun.

Percakapan terjadi antara saya dan orang dinas sosial. "ya, kalau mati begitu ya dikubur saja di sebuah lahan untuk mr.x, tanpa doa, tanpa nama, tanpa prosedur keagamaan apapun, karena kita gak tau agamanya apa dan siapa sanak saudaranya. Dan kita yang ngegali kuburannya. sebelum meninggal, dia berantakan, kita mandiin dan suapin makanan.". Sesak dengarnya. seorang manusia diperlakukan seperti manusia dalam batas makhluk hidup, bernyawa tanpa jiwa dan perasaan, tanpa identitas, agama, keluarga. Beruntunglah orang-orang yang masih punya identitas dan kolega, yang masih dikeliling anak cucu dikala sekarat, dibacakan ayat suci, ditemani, dibimbing saat sakaratul maut, diberi nama pada batu nisannya, di doakan setiap hari, setiap tahun. 

Disisi lain, ada yang saya pelajari, kalau Tuhan gak pernah ngebiarin hambanya sendirian, selalu ada saja yang membantu, polisi yang mengantarkan ke dinas sosial, pekerja dinas yang memandikan dan nyuapin, kepala bidang dengan hirarki diatas yang rela berpeluh keringat menggali kuburan orang tak dikenal. Sekilas terlihat seperti sebuah tanggung jawab mereka untuk melakukannya, meski sebenarnya mereka punya option lain untuk tidak peduli atau menyuruh orang lain, dll. Tapi ada sang Maha Penguasa hati, mengerakan hati manusia untuk condong membantu, atau membiarkan berlalu berharap ada orang lain yang membantu.

wuallahualam bishawab.

Wednesday, February 25, 2015

Teras


"kamu mau masuk atau ngga?"
"aku di teras aja"
"yaudah, aku tutup pintunya ya"
"aku gak bakal kemana-mana, mungkin sesekali kamu bisa nengokin aku diteras".

Kamu tau, betapa menganggunya orang yang terus diam di teras, masuk ga mau, pergi ga mau?
aku bisa saja menutup pintu dan jendela tapi tidak dengan pikiranku. apa enaknya mengabaikan orang yang ada di depan rumah tanpa mempersilahkan masuk, dan apa enaknya juga terus menemani di teras dan membuka pintu tanpa ada yg masuk. cuma bikin berantakan rumah dengan angin, debu dan badan basah dari cipratan hujan. Hanya bikin gusar hati tak enak ada yang diam di depan. cukupkanlah keegoisanmu sampai sini. Jika tidak mau masuk, ya silahkan pergi. Tidak ada teras untuk orang yang berdiam lama.
-------------------------------

Pesan ku kirim lewat selular yang kadang macet di udara sana menembus barisan beton dan air yang sesekali turun di malam itu. Dia membuka ceritaku. "iya kakak" jawabnya. Komunikasi aneh, hanya berkabar sebatas text, suara, dan video. Tak ada aura dan panas tubuh yang terasa satu sama lain, tak ada tatapan mata yang menceritakan banyak hal. "maaf kakak aku gak asik orangnya kalo via hp, kita ldr sih". baru saja aku berifikir aku pun seperti itu. Kami melajutkan. "Kalau buat kakak, pintu aku terbuka lebaaaar". Hahaha kami tertawa. Terimakasih. Disitu sadar, banyak orang yang hanya mau diam di teras atau hanya mengintip dari balik jalanan. Disisi lain, ada orang-orang yang membukakan pintunya lebar dan masuk ke dalam rumah. Sudah saatnya meninggalkan apa yang tak perlu, menggusir hal menganggu, membuka pintu bagi yang mau masuk lalu menutupnya hingga ada ketokan sopan lain. Namun tetap menjaga agar rumah tidak terlalu penuh, agar masih bisa bergerak bebas,  berpakain bebas,  tertawa lepas. 


Thursday, February 19, 2015

Terimakasih

Angin berdesir melewati jendela, menyapa helai-helai rambut tipis dipermukaan kulit dengan perlahan menyelami lebih dalam, memberikan rasa dingin. Hujan turun meredam obrolan bising di sebrang bawah yang menggoar sedari senja, memberikan kesunyian. Mata yang setia pada layar cahaya senada dengan hentikan jari menekan huruf. Terus dan terus hingga bulan semakin terang dan gelap semakin pekat. Tenggelam dalam peleburan ketakutan mengejar ketertinggalan. Hanya asa yang memberikan hidup, membakar realita.

Hasrat hati menengok kebelakang, sebuah busa berbalut kain berwarna hijau lime. Sang kotak kecil tipis hitam mengeluarkan bunyi, sigap meraih dan membuka. Play, alunan gitar dengan suara yang berusaha mendendangkan lagu, air mata menetes tanpa sadar. Bukan karena lagunya, bukan karena indahnya suara gitar, bukan karena pesannya. Tapi karena dia. Orang yang dikenal tanpa rencana, hanya 3 malam bersama dalam sebuah ruang dengan interaksi sekian jam tiap malamnya. Terimakasih, balasku. Kotak hitam kecil itu pun menjadi ramai dengan bunyi-bunyi yang memberikan selamat di tengah malam lewat mendekati fajr. Kurengkuh diri masuk dalam dunia tak sadar, berusaha mematikan pikiran sejenak. Panggilan Tuhan berkumandang, berat sekali membuka, panas rasanya bola mata ini perih. Terhenyak dengan kilatan text yang tertangkap sekelibet, penasaran, suara tak asing berceloteh dalam satu menit dua puluh detik berhasil mengelak tawa, membayangkan ekspresi sang pengirim. Kuulangi sekali lagi sebelum akhirnya kutinggalkan membasuh diri dengan dinginnya air. Celotehan yang lagi-lagi berhasil menghasilkan air yang keluar dari ujung mata. Sampai ketemu di bulan Mei. Terimakasih.

Matahari malu memunculkan diri namun tetap memberikan cahayanya, membuat si oren terlihat dengan jelas. Kusapa dia sambil membuka pagar, menjalani aktivitas, melunasi hutang-hutang waktu. Sepi sekali jalanan hari itu, dalam tiga jam selesai sudah urusanku ke empat tempat. Kebutuhan biologis menderu-deru, kumasuki sebuah tempat yang barusan menggirim pesan ada menu gratis. Makan sendirian, tepat setahun yang lalu di tempat yang sama. sang kotak hitam tipis itu minta diperhatikan untuk diangkat, Hallo, mulutku berkata, seruan untuk bertemu disebuah tempat, tiba-tiba. Kumasuki lewat pintu kedalam ruangan yang membawa diri berimajinasi berada di puluhan tahun yang lalu, kursi tua, bau yang khas, melewati muka-muka bijak yang kerutnya menandakan telah mengalami dinamika hidup, mencari seseorang tercinta. Duduk sendiri melihat menu dengan serius, kusapa dengan hangat, sebuah tiramissu kesukaan hadir di depan mata. Dia, yang menempuh 4 jam untuk pertemuan yang tak lebih dari 18 menit, kemudian kembali pulang. Terimakasih. 

Kotak-kotak berlapis kertas berwarna-warni tergeletak di hamparan kilap lantai, kotak-kotak yang datang tanpa pengirimnya, menyambung rasa sayang.

Pulang untuk akhirnya pergi kembali. Seseorang mengirimkan pesan, menanyakn pulang jam berapa, ada yang nyariin, begitu katanya. Kuselesaikan urusan dengan segera, menembus malam sunyi ditemani rintik hujan dan deru halus si oren. Seseorang masuk ke kamar, bercerita dengan wajah sumringah yang entahlah seperti ada yang disembunyikan. Kotak besar berisi makanan dengan cahaya yang muncul dari api diatas benda meleleh masuk kedalam kamar diiring dua orang yang sudah sudah kuanggap dekat meski baru kenal 4 bulan. Berusaha menghabiskan namun berakhir setengah dalam toples-toples di kulkas. 

Kotak hitam tipis itu kembali berkedip, menyampaikan pesan - pesan yang diterima pemancar. Ada satu pesan yang cukup menghantam. Kamu tahu, tanyaku pada diriku sendiri. Sekarang saatnya membersihkan semua hal tak perlu, semua hal tak guna, semua hal menyakitkan, semua hal yang tak menginginkan. Kamu tahu, ada banyak asing yang mendekat, ada banyak lama yang menjaga, ada banyak cinta yang diberi. Cukup buka ruang untuk menerima baik buruknya. Karena pada akhirnya akan terlihat siapa yang akan tetap tinggal. Waktu membantu.


Kosan, 19/02/2015, 02:34 am.

Sunday, February 15, 2015

22:58

Baru sadar, kenapa dosen pembimbing pengen saya ma bimbingan dia yang satu lagi kalo apa-apa barengan. Ya, biar terstruktur, biar rapi, dan secara psikologis pun biar bisa saling terpacu dan saling menyelesaikan.

Kerasa banget, semua teman-teman sepermainan s2 saya udah pada kelar semua, tanpa komunikasi apalagi semangat, semua hidup dalam hidupnya masing. Keadaan ini ditambah saya yang gak punya temen deket seorang pun, berhasil membuat saya yang moody nan menunda2 menjadi semakin terlena. Satu-satunya yang ngegampar gw buat sadar itu cuma ibu-ibu TU yang suka nelepon nyuruh bimbingan karena disuruh dosbing (hoki deh pny pembimbing yg peduli). Kedua yang tetap membuat gw sadar itu, teman-teman diluar lingkup sosial gw (teman yg baru kenal secara ga sengaja mksdnya) yang suka nanya2 kabar tesis dan ngingetin.

Disini saya sadar, kenapa perlu punya satu teman dekat. Teman yang peduli dan tau apa yang sedang saya perjuangkan, saya takutkan. ya. untuk menjaga. Mungkin teman-teman yang saya anggap yang gak kerasa kehadirannya yang terlihat masing-masing, sbenernya mereka gak sendirian, mereka punya ortu yang rewel ma studynya, pny pacar yg ngontrol dan nyemangatin, pny tmn di tmpt lain yg ngegampar untuk sadar, dan tentunya punya kesadaran diri untuk memiliki satu tmn dekat.

Disela-sela ke stressan dan deadline, gw bersyukur banget kalo Tuhan masih ngasih orang-orang yang bikin gw on the track. AAAAARGH PUSIIIING.