Tuesday, August 11, 2015

Bagaimana bisa

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa-apa setelah:

1. setiap daging yang tumbuh dalam badan merupakan hasil kerja keras orang tua

2. setiap helai benang dalam baju  sekolah dari tk hingga kuliah merupakan hasil kerja keras orang tua

3. setiap lembar kerta dalam buku-buku merupakan hasil kerja keras orang tua

4. setiap kemudahan dan keberuntungan merupakan hasil doa-doa orang tua, terutama doa seorang ibu.

5. setiap nafas merupakan harapan orang tua.

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa2 setelah apa yang telah orang tua lakukan? setiap detiknya, keringatnya, pikirannya, kerja kerasnya, nafasnya, ada harapan untuk anaknya. Apalagi jika itu semua dilakukan oleh seorang ibu. seorang perempuan yang seharusnya mengurus dan memiliki sensitifitas yang tinggi, bertambah peran ganda, menjadi seorang tulang pungung keluarga, pencari nafkah, membangun benteng diri demi bertaham dalam kejamnya dunia kerja meski harus mengikis rasa sensitifnya yang tanpa disadari membuat gap dan memudarkan ikatan emosional antara anaknya.

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa2 setelah apa yang telah dilakukan seorang ibu yang berperan ganda dan menafkahi?

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak berbakti sebakti-baktinya?

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi tiket emas ke surga untuk orang tua kita?

#renungan #selfreminder

Monday, August 10, 2015

aku dan hilang

peran berganti
tanpa tersubsitusi

waktu bergulir
tanpa kembali

hampa menekan
tanpa rasa

semua berteriak
tanpa mendengar

semua mengecam
tanpa ruang

aku disini
tanpa siapapun

berdiri tegak
tanpa tulang

menatap dalam
tanpa daya

Thursday, July 30, 2015

Solo Traveling. Bangkok Part #1

Lebaran dirayakan besar di Indonesia, namun tidak semuanya merayakan kebersamaan. Daripada sepi, mending pergi. Nambah pengalaman, mengisi batin dan mengisi ulang “batre". Saya memutuskan melakukan perjalanan Indochina sendirian berbekal ittin teman. Perjalanan dimulai pada dini hari di Hari ketiga lebaran. Tiket PP Jakarta - Bangkok - Jakarta dibeli h-5 keberangkatan (h-2 lebaran) dengan total harga, pajak, dll, yaitu  2jt, menggunakan uang hasil desain apartment yang baru turun. hahaha alhamdulillah. (mungkin kalo beli jauh2 hari bisa dapet promo dan jauh lebih murah).

02.00 off to Soekarno Hatta dari Bandung
05.00 Bording
06.00 Pesawat berangkat
10.00 Sampai Bandara Don Mueang Bangkok.
Pas keluar pesawat, di cek2, dan bakal disuruh isi formulir tentang nama, passport, dan bakal tidur dimana. Nah karena masih random belum tau nginep dimana, maka saya isi asal aja "blabla hotel". Kemudian turun ke lantai 1, ngambil tas ransel 40 L, ngantri taxi. (Sebenernya, pas nanya2 org di bandara, bisa aja naik tramp, krn udah pegel2 cape ngantuk smaleman gak tidur alhasil ambil jalan pintas naik taxi haha).

Di taxi ini, abislah ditipu, diajak muter2 bangkok lewat tol, meski udah dibilang mau ke "Grand Palace", supirnya tetep aja loh gatau, dan dia akting (suudzonnya saya) nelepon temennya nanya jalan sampe saya disuruh ngomong ma temennya via telepon dimana dia gak bisa bahasa inggris. Akhirnya saya kasih liat peta lokasi grand palace, dia tetep gak tau. wtf. Berdasarkan insting, saya memutuskan turun setelah sejam naik taxi menghabiskan 250 bath + 5 bath (for toll). Turun, liat ada banyak bus gede, nanya2 lah grand palace dmn, ternyata hampir sampai dengan jarak 1km jalan kaki. 

Museum National (ketemu temen lama)
Tiket masuk Wat Pho 100 bath
Makan nasih + ayam super gede + minum di pasar deket terminal sungai 90 Bath
Tiket masuk grand palace 500 bath

awalnya pengen foto dgn latar belakang ini... tp gak ada yg motoin, alhasil motoin orang yg lagi motoin orang. gak tau siapa deh itu.


Dikawasan grand palace, saya nemuin sekolahan, lucu deh... kaya sekola tk di film-film korea. Kemudian jadi berfikir, kawasan ini banyak patung budha yang merupakan tempat peribadatan suatu kaum beragama, kemudian menjadi tempat kebudayaan yang menarik para pelancong sehingga memiliki fungsi ekonomi komersi, dan memiliki fungsi pendidikan baik secara nyata dengan dan tak nyata, baik untuk pelancong melalui guide, maupun untuk warga sekitar dengan adanya sekolahan. Adapun unsur pendidikan lain pada kawasan ini, tak kasat mata, namu bisa dijadikan bahan observasi pada perilaku sosial, desain, sistem ekonomi, pola sirkulasi, fashion, tata krama, kebudayaan, cara komunikasi, dan banyak lainnya. jadi pusing sendiri mikirinnya. hahaha. 

Sekolahan di dalam kawasan grand palace. Kalo diperhatiin, siswi ini gak pake alas kaki di dalam kelasnya, hanya pakai kaus kaki. Budaya ini tentunya berbeda dengan di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta misalnya, alas kaki menjadi hal yang bias,a bukan hal besar yang perlu dilepas saat memasuki sekolah. 

Pasar tempat makan siang. banyak bgt jenis makanan dan jajanan disini. dna jangan lupa makan ketan mangga, duh.
17.00 Return to Tha Tien Pier and by ticket at Pier No. 13 (flag orange) to Phra Arthit Pier (N13) or Rambuttri village/Khao San Road.  Tertulis dalam itinerary saya. kenyataannya.... Nyasar. lupa harus turun dimana dan berakhir turun di pemberhentian terakhir. Berbicara tentang moda transportasi lintas sungai ini yang murah dan penuh layaknya kopaja, harusnya ish Indonesia punya ginian... hehe... yang nagihin uangnya galak super, bikin gak berani gerak pas dia mulai ngatur mepet padatkan. Tiketnya seharga 10 bath.


Ternyata itu di daerah Siom, syahdu banget ujannya, di dalam taxi (140 bath for 1 hour driving) setelah jalan kaki gak nemu transportasi umum, supirnya kakek2 yang ramah dan talkactive hehehe... 

Suasana di daerah siom saat gerimis dari balik kaca taxi. Saat pedestrian berubah menjadi lahan komersil. Saat manusia berjuang untuk hidupnya dijalanan dengan cara kerja keras. Hal biasa bagi pelaku, entah sebagai aktivitas survival atau justru sebuah tangisan dalam batin akan beban. Sebuah batas tanpa batas.

Akhirnya Magrib menjelang Isya sampe juga di daerah Khaosan Road. Cari penginapan, dapet Rainbow Hotel 250 bath/ malam/ kamar. Kamarnya kayak kosan cuma ada kasur doang plus kipas angin, ga ada ventilasi (bikin parno abis nafas), dan kamar mandinya (bagus bersih) di luar. Mandi, ganti baju, lanjut jalan-jalan ke Khaosan Road nya.

19.30 Khaosan Road, ramai riuh seperti seminyak Bali, isinya bule semua dengan pedangan lokal, makanan minuman, pakaian, cinderamata, musik hinggar binggar, dan makanan serangga yang kalau mau foto bayar 10 bath (karena saya pelit, jadi saya gak mau foto, cukup dilihat).
minum 15+10 bath + pancake 80 bath + Pad thai 25 bath.


22.30 Nyampe penginapan, sebelumnya mampir sevel beli munuman seharga 6 bath (3000 rupiah) dan sabun cuci muka yang ketinggalan. Nyampe penginapan mandi lagi, beberes buat besok subuh.

suasana 200 meter dari kahosan road. sepi sunyi. berbanding terbalik dengan riuh gempitanya khaosand road. saat pulang memberi makna yang berbeda pada setiap individu. Suasana yang sama dengan gang-gang di Indonesia, di Bandung, namun entah mengapa berada di tempat berbeda memberi fokus dan sensitivitas berlebih pada pancaindra. Saat hal-hal biasa tak tak terlihat pada hal biasa.
00.00 Tidur

Tips and Trick :
  1. mending tuker uang ke dolar aja semuanya, terus tuker bathnya langsung di bangkok (lbh murah). saya tuker bath di bandung 1 bath = 400 rupiah.
  2. Jangan mau naik taxi dari bandara!
  3. Pakai sendal/ flat shoes/ sepatu slip on biar gak ribet keluar masuk wat wat nya.
  4. Kalo mau beli celana santai di khaosan road, beli lah, selain krn harganya murmer juga biar gak bakal kepikiran sampe pulang kalo ternyata gak beli.
  5. Lebih jeli cari penginapan, krn byk yg lbh murah dan lbh bagus.
  6. Menyelusup dalam rombongan bule/ turis lain yang pake guide, jadi sekalian tau sejarah dan ceritanya dengan gratis (gatau deh ini halal/ haram, tp saya melakukannya).
  7. Bawa botol minum / simpan botol minum yg kosong buat diisi ulang sama air gratis di dalam wat wat dan grand palace. Lumayaaan~ hemat.
  8. Bawa tongsiiiiis! biar gak repot minta tolong fotoin orang.

Saturday, July 18, 2015

Satu Frekuensi

Di umur seperempat abad ini, sanak sodara terutama orang tua sudah mulai gelisah lirik anak perempuannya yang masih single dan haha hihi. Mulailah obolan tentang kedewasaan yang berujung "mau sama anknya temen ayah ga? dokter loh dia...", "pinter nih udh s3...", "wuih nih orang agamanya baiik...". Dan selalu tersirat penolakan dari sang anak. sampai muncul pertanyaan ingin seperti apa.

Cuma pengen nyari yang satu frekuensi dan satu kufu biar tenang (memberikan ketenangan bagi jiwa dan perasaan).

yang bisa diajak ngobrol apa aja, mulai dari yang teraba sampai yang abstrak. dari yang gak penting sampai penting bgt. dari yang masa lampau sampai visoner. dari tentang kapitalis, kemanusiaan, sampe filosofi. dari satu sudut pandang sampe ribuan sudut pandang. Dan bisa memberikan ketentraman dari nyambungnya secara intelektual, pola pikir yang sejenis, dan visi yang sejalan.

Buat saya, pola pikir mencerminkan semua hal. tentang bagaimana ia melihat kehidupan, bagaimana ia menyikapi permasalahan, bagaimana ia menyiapkan masa depan, bagaimana landasan yang mendasari perilaku yang terjadi dan akan dilakukan, believe apa saja yang tertanam didirinya, dan bagaimana ia melihat dan memperlakukan orang lain dan dirinya sendiri, serta kecenderungan-kecenderungannya.

Dan, lagi-lagi semua itu gak bisa dimanipulasi, "diusahakan", dimunculkan tiba2. Semua berjalan dan terjadi dengan sendirinya. satu frekuensi tentunya bukanlah satu harmoni yg didasari adaptasi, tapi ya satu frekuensi aja. selesai.

Thursday, July 16, 2015

Memahami

Ada yang melihat untuk menilai,
Ada yang melihat untuk memahami.

Ada yang mendengar untuk mengibah,
Ada yang mendengar untuk memahami.

Ada yang merasakan untuk tujuan,
Ada yang merasakan untuk memahami.

Ada yang berbicara dengan logika,
Ada yang berbicara dengan empati.

----------------------------------------

Kalau diperhatikan, dirasakan, dan dianalisa,

Banyaknya miskom (miss communication) karena setiap individu mendengarkan untuk menjawab tanpa memahami. Parahnya, setiap individu hanya menunggu gilirannya untuk berbicara. 

Banyaknya sleg yang terjadi karena setiap pihak merasa berhak untuk menilai tanpa usaha memahami. Setiap pihak merasa benar dengan logikanya tanpa adanya empati.

----------------------------------------

Menilai:
si a sensitif ya blablabla
(tidak ada kebaikan untuk dirinya maupun orang lain. hanya sebatas bahan obrolan/ omongan).

Memahami: 
si a sensitif ya, berarti kalo ma dia harus blablabla 
(ada unsur kepedulian dan kebaikan untuk dirinya maupun orang lain).

Monday, June 29, 2015

Misal.

Masyarakat.
saat manusia satu menilai manusia satu lainnya hanya dari satu kejadian pada satu waktu dalam keadaan emosi situasi kondisi tertentu.

misal. seseorang yg menilai orang lain byk waktu luang hanya dari postingan yg membutuhkan waktu 1-2 menit. padahal mereka gak pernah tau ribuan menit lainnya dikali puluhan hari, orang itu mati-matian kerja keras bagai mesin.

misal. seseorang menilai orang lain berkecukupan hanya karena orang itu memberi kepada orang lain. padahal memberi bukan terletak pada kekayaan, tapi pada besarnya kepedulian dan lebih mementingkan orang lain. ada 3 jenis, analoginya, 
1. ada orang yg member 1.000 dikala ia memiliki uang 1.000
2. ada orang yg memberi 1.000 dikala ia memiliki uanh 2.000
3. ada orang yg memberi 1.000 dikala ia memiliki uang 30.000.000
bagi penerima, akan sama saja terlihat uang 1.000, tetapi bagi pemberi, uang itu memiliki arti yang berbeda-beda.

misal. seseorang menilai orang lain galak, dikala ia membentak tukang parkir lelet. Padahal orang lain tidak tahu kalau sebelumnya, orang ini habis menerima kabar buruk dikala ia sedang ujian, tiba2 dapat telepon dari ibu kos diusir, ditambah hormon-hormon saat pms.

misal. seseorang membicarakan hal2 sepele, kemudian di nilai berotak kosonh dan dangkal. Padahal gak tau aja, kalau org ini sangat cerdas dan saking byknya hal2 berat dalam pikirannya, ia mencoba melemaskan diri dengan topik ringan.

misal. ah banyak sekali.
Jangan sampai penilaian dari sensorik indrawi pada satu waktu, berhasil mengeneralisir seseorang. Gunakanlah hati untuk merasakan apa yang benar2 sedang terjadi, menjadi peka melihat apa yg tak terlihat.

Kadang berfikir, mana yg lebih banyak berprasangka? hati pikiran atau justru sensorik pancaindra dan logika? 

*wuallahualambishawab.
selamat Ramadhan ke-12

Monday, June 22, 2015

Traveling

Kehidupan ini seperti bola, banyak sisi yang tak terlihat utuh dalam satu sudut pandang. Untuk melihatnya, kita butuh bergeser tempat untuk melihat dari setiap sudut pandangnya - utie.

Traveling. 
Ada banyak pihak dan kepentingan. Sebagian merasa bahagia merasakan pengalaman baru, sebagian merasa bangga atas pengalamannya, sebagian merasa senang, sebagian menjadikannya rutinitas setiap libur setelah lelah bekerja, sebagian sebagai ajang kompetisi, sebagian menjadikannya pekerjaan "menjual" tempat dan pengalaman yg ditawarkan untuk mendapatkan lembar-lembar rupiah untuk ditukarkan dengan kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Friday, June 19, 2015

19 Juni 2015

Aku turun entah diturunkan dari sebuah bus yang tak akan pernah kembali lagi.
Diam menunggu dalam anggan meyakini kalau bus itu akan kembali, mengejar sesekali tak kekejar.
Waktu terus bergulir, bus-bus lain yang menawarkan tempat dan bisa membawa ke perjalanan yang lebih jauh terlewat begitu saja, cuma karena takut jika nanti diturunkan di jalan seperti lalu, adakalanya pula bercampur dengan rasa bahwa bus awal akan datang kembali.

Menjebak diri dalam masalah sendiri. mengharap sesuatu yang seharusnya "let it go" dan "menolak" sesuatu yang datang tulus.

Pensieve

(sumber gambar: google)

Pensieve bukan istilah asing bagi penggemar buku Harry Potter. Itu merupakan sebuah cawan berisi ingatan- ingatan, dan sering digunakan dumbledor. Ada unsur melepaskan, melepaskan memori kepada cawan ini; kemudian unsur kepercayaan, yaitu percaya bahwa memori tersebut akan terjaga dengan baik, termasuk dari segi kerahasiaan; ada unsur kembali, dimana memori bisa dilacak ulang dengan memasukan kepala kedalam cawan dan melihat kejadian masa lalu guna memperbaiki sesuatu kedepannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, disadari maupun tidak, pensieve ini merupakan kebutuhan dasar manusia. kenapa? manusia memiliki kadar pada setiap diri dan pikirannya, selalu masuk hal-hal baru dan butuh mengeluarkan demi menjaga "keseimbangan". Misal, kita butuh makan, kita makan guna mendapatkan tenaga yang terpakai untuk beraktivitas, kemudian makanan tersebut tidak semua baik dan tepakai, butuh pelepasan yaitu melalu fases yang kita keluarkan saat BAB, coba bayangkan kalau kita tak pernah melepaskan (BAB) atau BAB diluar durasi normal (sebulan sekali) tentu perut sakit, bahkan makanan tak berguna yang terus menumpuk tanpa dikeluarkan akan menjadi racun dan membentuk penyakit lain dalam tubuh. Itu salah satu contoh urusan fisik. Karena kita makhluk berakal yang memiliki akal pikiran jiwa, dimana semua kejadian dan informasi tersimpan di dalam memori yang membentuk pemikiran dan perilaku, hal melepaskan pun terjadi pada pikiran. Tidak semua informasi dan memori yang kita alami baik untuk keadaan sekarang dan kedepannya, perlu pelepasan, seperti melepaskan emosi, melepaskan beban, melepaskan trauma, melepaskan pikiran agar lebih lapang. Salah satunya dengan sharing.

Terlepas dari introvert maupun ekstrovert, setiap dari kita sebagai manusia atas dasar kebutuhan untuk melepaskan, butuh sharing. Sharing bisa berbentuk ide, cerita (kejadian diluar dirinya, kejadian yg terasa langsung, pemikiran, curhat), dan melepaskan emosi (nangis, marah). Hal itu membuat kita membutuhkan yang lain, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Kita butuh teman curhat, untuk melepaskan beban mental dan psikis, kadang untuk mencari solusi, dan seringnya hanya sebagai pelepasan. 
Mendengarkan curhat bisa menjadi ladang amal, karena secara tidak langsung kita membantu orang untuk melepaskan sesuatu sehingga terjadi keseimbangan dalam dirinya dan bisa lebih baik, setidaknya bisa bermanfaat sesama manusia dalam skala tak terukur (tergantu konten dan orangnya, bisa kecil atau menjadi tolak balik yang besar). selain itu, tidak akan menjadi beban pikiran untuk yang dicurhati, jika kita mendengarkan dengan hati melalu empati, hanya saja bisa menjadi beban amanah jika pelepasan itu beraifat aib dan rahasia.

Melepaskan merupakan kebutuhan manusia dalam hidupnya, agar tidak seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja karena tidak ada yang dilepaskan dengan kata lain semua hal disimpan sendiri. Ini merupakan cikal bakal terjadinya bunuh diri, membunuh, depresi, yang dampaknya tidak hanya kepada diri sendiri, namun ke lingkungan sekitar. Semua dari kita perlu teman, teman untuk saling sharing. Layaknya pensieve bagi dumbledore.

Saturday, June 13, 2015

CAP

Setiap orang memiliki persepsi terhadap org lain, dengan kata lain, tiap org punya label dr lingkungan yg membentuk dirinya. si a yg dicap e, si b yg di cap c, dst. mau org itu berubah menjadi lbh baik/ lbh buruk. label itu tetap ada didirinya pada lingkungan tersebut. 

Misal: 
Seseorang bekepribadian ramai tp pemalu, sehingga lingkungannya mencap dia pendiam, maka dia bakal mengurungkan dirinya, menaham pikiran dan ekspresinya dan menjadi diam; Seseorang memiliki pikiran luar biasa dan sangat2 mampu, tp lingkungannya men-cap org lain yg dianggap mampu, maka ia tidak pernah dapat kesempatan untuk menunjukan kemampuannya; Seseorang pernah ninggalin org dalam situasi tertentu dengan segala pertimbangan, lalu lingkungan tersebut mencap dia tak setia, sehingga saat dia berniat baik mengorbankan ini itu, tp keburu ada org nyeletuk negatif "ah dia mah blabla...." maka niat itupun terurungkan. Jaman sma mandi sejam, sudah 10 tahun mandi hanya 7menit, namun semua org yg kenal semasa sma tetap menjudge "lama si ini mah mandinya, blablabla" dan mempengaruhi ini itu lainnya (contoh sepelenya).

Hal itu tanpa disadari masuk kedalam alam bawah sadar kemudian mempengaruhi dan membentuk sikap, pemikiran, dan mental seseorang. Menjadi lebih tertutup, tidak percaya diri, menilai rendah diri, dll karena label2 manusia lain. Dimana lebel itu tebentuk cuma dari satu waktu dan satu sisi, dari suatu sikap pada keadaan emosi dan situasi tertentu yg di generalisir menjadi image seseorang secara keseluruhan. Tuhan saja yang tahu kita gak pernah gitu, masa kita manusia begitu? :p

Tanpa disadari, kita semua pernah menjadi subjek maupun objek dalam situasi seperti itu. Kalau jadi subjek, berusaha lebih percevier drpd judging, semua hal berubah berusahalah lebih objektif meski perlu subjektif (berperasaan) dalam menilai sesuatu sesuai situasi tertentu. Kalau jadi objek, ya cari lingkungan baru yang benar2 menilai diri kita secara objektif bebas dari label2 masa lampau, sehingga kita bisa mengekspresikan diri dan berkembang menjadi lebih baik tanpa ada "pagar2" dr cap lampau.

wuallahualam bishawab.

Monday, June 1, 2015

Sudahlah

Layar kaca dinyalakan, menyerukan pencuci otak bagi penikmatnya tahun demi tahun, masuk luruh kedalam jiwa baru dari generasi ke generasi.

Semua melantangkan nilai yang dianggap benar pada dirinya masing-masing, menyerukan label, perubahan, masa lalu.

Pakaian dinas seolah-olah berprofesi sama, Lantang suara penyeru sang koruptur berapi-api keluar dari mulut yang diiringi kebencian terpupuk waktu dan informasi. terdengar dari kotaknya hingga ke kotak lainnya. 

Teriakan buang2 duit rakyat, dinilai rendah serendah penjajak birahi, dibalik itu semua ada ribuan bahkan jutaan seragam coklat yang benar-benar mengabdi pada negaranya dengan upah tak jauh beda dengan buruh pabrik, dengan tangungan anak istri yang untuk makan pun sudah sangat bersyukur, bahkan ada yg lebih dalam dari itu semua, torehan luka rendah diri terhadap anak seorang pegawai rakyat yang profesi orang tuanya sering di cap buruk.

Pernahkah berfikir sejauh itu disaat mencaci seorang/ sekelompok dlm suatu wilayah tertentu? Sudahlah, suara-suara keras arogan yang merasa berhak mengeneralisir, seolah2 sudah pernah mencek semuanya tanpa terlewat satu pun.

satu jiwa lumpuh dalam setiap cacian. satu jiwa mati dalam setiap kebencian.
berapa jiwa telah kau hilangkan lewat kata? 

- 1 Juni 2015 - 

Tuesday, May 26, 2015

Apa lagi?


Akhir- akhir ini gak berhentinya bersyukur, bentar-bentar nangis, jadi cengeng bgt.
Keluarga yang baik, berkecukupan, teman-teman yang peduli, orang-orang yang sayang, kemudahan-kemudahan yang datang, bantuan-bantuan dari arah yang gak disangka-sangka.
Lalu hati bertanya pada dirinya "apa lagi?".
"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?".

Balancing

Setahun ini, dimasa hectic thesis, saya malah memasuki sebuah lingkungan baru dengan orang-orang baru. Awalnya (bahkan sampai sekarang) saya cenderung terlihat diam namun memperhatikan setiap hal yang saya tangkap, tentang suatu sistem, pola, karakter, kepribadian, sikap, motivasi orang, cara orang memecahkan masalah, cara orang menampilkan dirinya, cara mereka bersosialisasi, hingga sampai pola sol sepatu dan jarum jam tangan yang dipakai. Dari pengalaman bertatahun-tahun mengamati hal ini dalam lingkungan berbeda, cara kerja suatu sistem memang relatif sama, selalu banyak tipe penurut pencari aman, sedikit yang memberontak mempertanyakan "kenapa begini, kenapa begitu, kok bisa begini, blabla..." terlepas dari pengamatan sistem dan pola yang hanya akan saya sharing melalui komunikasi verbal, ada suatu yang menarik menurut saya untuk di sharing, yaitu tentang balancing.

Tidak semua yang kita tangkap itu hanya sebatas indrawi panca indra, entahlah knp intuisi itu bisa  mengarahkan pada sesuatu yang belum terlihat secara nyata, merasakan sesuatu yang tak terlihat dan belum terbukti. Jadi ada satu orang, dari banyaknya orang, yang saya perhatikan, dia sangat-sangat sopan, tingkat empatinya tinggi, low profile, dan merangkul "anak baru". Dari orang ini, saya belajar bagaimana untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap keberadaan orang lain, bagaimana cara memperlakukan kolega tidak hanya sebatas profesionalitas pada sebuah sistem, namum memperlakukan sebagau human. Orang ini menurut intuisi saya, tipe orang jujur yang memang dari hati, bukan yang manis di permukaan untuk memenuhi sopan santun dan mengejar image. Disaat banyak orang baik dalam sebuah sistem akan terlihat buruk karena memberontak sistem dan dimanfaatkan, sehingga banyak orang-orang yang akhirnya melakukan sesuatu karena keharusan dan ketundukan pada sebuah sistem. Orang ini mampu berada dalam garis batas antara tetap survive dalam sebuah sistem namun tetap memperlihatkan diri aslinya tanpa dimanfaatkan orang lain. Cara dia menyapa para kolega, hanya sekian detik untuk say hai, cara dia membuat win-win solution berdasarkan logika namun tetap melibatkan feeling. Disaat banyak orang yang lebih ke task oriented, orang seperti ini luar biasa tingkat survive dan adaptasinya, dia bisa menjaga ritme produktif bekerja dan tetap membangun hubungan dengan para kolega baik secara profesional maupun personal. 

Karena setiap pertemuan selalu ada maksud, 
sebuah ladang pembelajaran hal nyata dan kasat mata.

Sunday, May 24, 2015

Secuil Analisa

Seorang teman semasa sma dan sekampus, mengirimkan pesan:
b: "kok gw ngerasa makin kesini, temen makin dikit ya. 
orang2 ngehubungin cm kalo ada perlunya doang. 
kalo ga ada perlu, ga ada tuh sapa2."
b: "sekian. lanjut tesis lo lg".

saya hanya diam membaca tulisan ini tanpa membalasnya. Dalam hati, hal ini pun sudah saya rasakan beberapa tahun terakhir kalau makin kesini makin ngerasa ga punya tmn. ternyata tmn saya ini , laki-laki, berfikiran hal yang sama. Setelah merenung dan menganalisa selama dua tahun terakhir, akhirnya saya mendapati kesimpulan, kemudian saya tulis analisa singkat saya tentang pertanyaan si B bulan lalu dan mengirimkannya.

-------------------
u: "waktu kita sd, smp, sma, kita aman secara finasial masih dibiayai, dekat keluarga, dan kita sedang berada di fase berkembang secara sosial. kita saling membuka diri. makanya teman-teman dimasa ini bisa jd teman-teman long lasting, karena mengenal dan menerima diri kita apa adanya jd maklum2 aja.
u: waktu kuliah, kita berada di fase self development, jd kita fokus sama diri kita sendiri. fase ini temen itu sebagai partner dlm menguatkan diri dalam berkembang.
u: selepas kuliah, kita udh dituntut mandiri, kita berada dlm fase survival. makanya di fase ini org2 datang cuma sebatas kebutuhan, byk pencitraan dan kita pun jd ga menampilkan diri apa adanya.
u: nah krn lo mengenal tmn2 lo yg itu tuh di fase selepas kuliah, fase survival. ya emang gt aturan mainnya."
-------------------

Banyak orang yang saat tau jeleknya kita langsung nge judge ini itu, ngomongin di belakang, terus ninggalin. Banyak juga orang yg tau jeleknya kita, langsung ngomong jujur, tp ttp ngerangkul. Kadang mikir, kalau beneran temen gak perlu penjelasan, gak perlu konfirmasi, gak perlu tuntutan. "kok si ini gt, harusnya dia blg, harusnya dia jelasin, blabla". Karena orang yang kenal dan menerima kita bakal tau sifat dan sikap kita, sehingga mereka bakal lebih bisa memahami dan memaklumi daripada bertanya kenapa dan menuntut sesuai pikirannya. Semoga selalu dikasih orang2 baik sama Allah yang sama-sama memiliki kepentingan mencapai Surga-Nya. 

Sunday, May 17, 2015

Hingga

Aku berdiri tegap menghadap langit,
hingga lupa cara menunduk.

Aku bergerak cepat mengejar terdepan,
hingga lupa menikmati.

Aku melihat terlalu lama,
hingga lupa waktu berlalu.

Aku berfikir terlalu dalam,
hingga lupa raga.

Aku sibuk mencari,
hingga lupa syukur.


(Utie. kosan,17/5/2015)

Sunday, April 19, 2015

Akan Selalu Ada

Akan selalu ada
orang yang memperjuangkan kita,
orang yang rela berkorban bahkan nyawa sekalipun,
orang yang mendoakan dalam-dalam,
orang yang diam-diam mewujudkan keinginan kita,
orang yang sayang sangat,
orang yang menjadikan kita prioritas utamanya,
orang yang selalu menerima kita apa adanya,
orang yang akan tetap ada dikala kita dibawah,
orang yang akan tersenyum dikala kita sukses,
orang yang mencintai tanpa pamrih,
orang yang merawat dan menjaga kita,

yaitu orang tua. ibu ibu ibu ayah.

Segala doa terbaik untuk mereka di dunia dan akhirat. 

Wednesday, March 25, 2015

Lelaki Tua dan Dinas Sosial

Minggu, tanggal merah dan libur, begitulah aturan bagi sebagian besar para pekerja dan pelajar.
Angin berhirup santai, diiringin rintik hujan yang kadang kala turun tak terduga dan berhenti secepat kilat. Matahari sayup bersembunyi dibalik awan yang membiaskan cahaya dan meredam teriknya. Burung-burung berlalu lalang entah pergi kemana, menari di udara membentuk kumpulan. 

Sebuah gedung dua lantai, jauh dari jalan raya ramai, terletak di belakang, terdapat ruang-ruang dengan halaman ditengah layaknya sekolahan negeri yang lebih mengingatkan seperti bangunan penjara pembataian di Kamboja. dingin, sepi, asing. Dinas sosial di sebuah kota yang terkenal dengan industrinya. tak ada kegiatan apapun disini, hanya ada seorang penjaga piket yang memberitakan sedang menunggu ambulance untuk seseorang gelandangan. Hati sesak, panas, meluap menjadi bulir-bulir air yang tertahan di mata. 

Seorang pria tua tanpa nama, alamat, kolega, sebatang kara, sedang sakit, diantar oleh polisi dua hari yang lalu ketempat ini, tempat dengan sadangan kata sosial, entah urutan keberapa urusan sosial ini diperhitungkan dalam negeri ini. Ambulance baru datang dua hari kemudian setelah melewati berbagai prosedur pemerintahan dan batasan dana. Siang hingga sore saya diam disitu, kalau orang main ke mall di hari libur, hari itu saya main ke dinas sosial. Ada suara mengerang seiring datangnya ambulance. Sang tua dipindahkan ke kasur dorong sambil diangkut ke ambulance. Sehelai kain menutup hingga ke wajahnya, saya diam, pilu rasanya. kakinya tersingkap, yang kanan terlihat lebih bengkak dari satunya. kalau ambulance lebih banyak mengangkut orang yang sudah tak bernyawa, untuk apa ada sirine?? sedangkan orang sekarat didiamkan menunggu berlama-lama tanpa ada percepatan apapun.

Percakapan terjadi antara saya dan orang dinas sosial. "ya, kalau mati begitu ya dikubur saja di sebuah lahan untuk mr.x, tanpa doa, tanpa nama, tanpa prosedur keagamaan apapun, karena kita gak tau agamanya apa dan siapa sanak saudaranya. Dan kita yang ngegali kuburannya. sebelum meninggal, dia berantakan, kita mandiin dan suapin makanan.". Sesak dengarnya. seorang manusia diperlakukan seperti manusia dalam batas makhluk hidup, bernyawa tanpa jiwa dan perasaan, tanpa identitas, agama, keluarga. Beruntunglah orang-orang yang masih punya identitas dan kolega, yang masih dikeliling anak cucu dikala sekarat, dibacakan ayat suci, ditemani, dibimbing saat sakaratul maut, diberi nama pada batu nisannya, di doakan setiap hari, setiap tahun. 

Disisi lain, ada yang saya pelajari, kalau Tuhan gak pernah ngebiarin hambanya sendirian, selalu ada saja yang membantu, polisi yang mengantarkan ke dinas sosial, pekerja dinas yang memandikan dan nyuapin, kepala bidang dengan hirarki diatas yang rela berpeluh keringat menggali kuburan orang tak dikenal. Sekilas terlihat seperti sebuah tanggung jawab mereka untuk melakukannya, meski sebenarnya mereka punya option lain untuk tidak peduli atau menyuruh orang lain, dll. Tapi ada sang Maha Penguasa hati, mengerakan hati manusia untuk condong membantu, atau membiarkan berlalu berharap ada orang lain yang membantu.

wuallahualam bishawab.