Thursday, June 16, 2016

Ramadhan #11: Bukan Milikmu Saja

"karena hidup ku bukan miliku saja. milik orang tua dan calon anak-anaku nanti".

seorang teman dalam obrolan sore. merancang masa depan untuk kebahagian semua. rancangan masa depan yang membuat calon anak terdidik selamat dunia akhirat dan selesai pendidikan dikala usia masih produktif. membahagiakan orang tua dengan membuatnya "aman" kalau anaknya terjaga dari dosa dunia akhrat dengan menjaga dirinya melalui pernikahan.

Tuhan selalu punya cara tersendiri menyadarkan makhluknya dan mengarahkan kembali kepada hakikat jalan-Nya, salah satunya lewat hati seseorang yang tiba-tiba pengen ngobrol yang berujung keluar kalimat itu. kalimat biasa bagi dirinya, namun memberi pencerahan seperti gamparan untuk menyadarkan.
-----------------

seberapa jauh sudah jalan yang kau tempuh untuk memperjuangkan mimpi diri? 

seberapa lama sudah kau berjuang untuk berjalan jauh itu?

seberapa banyak sudah yg kau korbankan untuk itu semua?

seberapa banyak sudah yg kau tinggalkan untuk memperjuangkan diri?

seberapa cepat sudah kau sadar, kalau hidup bukan milikmu saja?

Ramadhan #11

Ramadhan #10: Tiba-Tiba

Hidup seperti rollercoaster. 
Kemarin semua diluar kendali, merapihkan kembali rencana hidup jauh kedepan, memulai dari awal dengan sabar step by step nya, mengakar, membangun jaring laba-laba. Tiba-tiba esoknya semua berputar cepat, merubah keadaan terbalik hinggak tak sempat berfikir. Tiba-tiba jadi tentram, tiba-tiba pintu dari segala mata angin terbuka, tiba-tiba semua selesai, tiba-tiba rencana hidup berubah kembali. 

Ya hanya langkah dan jalannya saja yang berubah. Tujuannya tetap sama. 
Jangan lupa punya tujuan, ya tujuan. Agar tau kemana harus mengarah dan tak tersesat dalam dinamika perjalanan dengan jalur yang berubah.

Selamat belajar, belajar menerima, belajar merubah jalur perjalanan dengan tujuan yang sama, selamat membuka diri dengan segala kejutan yang diberikan semesta. 

Ramadhan #10

Tuesday, June 14, 2016

Ramadhan #9: Menyesuaikan

Layaknya air yang menyesuaikan dengan tempat ia berada, namun tak merubah zatnya.
Dalam hidup, selain beradaptasi, perlu juga menyesuaikan baik dalam segala hal.

Dalam banyaknya Ramadhan yang telah dilalui, mengikuti tarawih di beberapa daerah. mulai dari masjid kampus, masjid perumahan, masjid kampung, masjid perkotaan, masjid pemerintah, dan masjid lainnya. Kalau diperhatikan secara detail, ada sebuah pola. yaitu tentang menyesuaikan. Bagaimana para pemberi ceramah menyesuaikan topiknya dengan para audience.

Isi cermah di mesjid kampus akan berbeda dengan isi ceramah di masjid perumahan, perkantoran, perkampungan, dan perkotaan besar. mengapa? karena salah satu tujuan ceramah selain membagi ilmu, juga sebagai media dakwah, yang artinya harus dapat di tangkap dengan pendengarnya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Misal, kalau di masjid perumahan yang kebanyakan audience nya adalah keluarga dengan beragam usia, maka bahasannya tentang keluarga. bagaimana cara menjaga keharmonisan keluarga, bagaimana mendidik anak, bagaimana sikap anak terhadap orang tua, bagaimana menghadapi hutang dan perselingkuhan, dsb. Lain halnya jika mengisi materi ceramah di kampus dimana isinya di dominasi oleh para civitas akademik dengan intelektual yang berbeda dengan misi yang jauh kedepan dalam sekala global, membangun bangsa angaplah. Isinya pun ilmu agama yang dikaitkan dengan keadaan sosial ekonomi dan teknologi,  materi yang ledih dalam dan holistik. tentang Islam Nusantara (its so last year ya haha) bagaimana itu membangun sebuah ideologi baru yang dapat blablabla. Materi pun akan berbeda jika diterapkan dalam lingkungan perdesaan dan perkotaan. Cara penyampaian dan penjabaran dikaitkan dengan keadaan masyarakat yang menjadi pendengar dan lingkungannya.

Saat masjid kampus yang didominasi oleh para mahasiswa atau orang-orang yang haus akan suatu hal baru dan butuh stimuli secara intektual, tiba-tiba membahas hal yang sangat biasa (maksudnya hal yang semua orang paham lah, seperti kenapa babi haram) seperti orang datang ke nikahan pakai piyama alias saltum. Kecuali materi itu dapat disampaikan secara holistik, dengan dikaitkan dengan science, komoditi, sistem ekonomi, persepsi yang dianalisa secara tajam. Kalau hanya menyampaikan babi haram terus muter-muter belibet menjelaskannya padahal intinya cuma itu, jadi dipertanyakan kembali tentang kapabilitas penceramah dan panitia masjid bersangkutan. Sebenarnya sah-sah saja, cuma kurang tepat sasaran saja, sayang waktu jadinya. ya anggaplah latihan sabar, dengerin sampai selesai. Contoh lainnya, saat masjid di desa terpencil yang didominasi suami istri dengan pekerjaan sebagai petani, tiba-tiba membahas tentang pentingnya iptek dalam pembangunan bangsa dan agama sebagai landasannya. ya gak nyambung. yang ceramahnya kasian, yang dengernya juga bingung karena gak familiar dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Ceramah, isi, dan tempat. Menjadi salah satu contoh kecil tentang menyesuaikan diri. 

Kalau pakaian saja perlu disesuaikan dengan acara dan tempat, begitupun dengan pemikiran, sikap, penyampaian, dan pembawaan. perlu disesuaikan dengan orang yang akan ditemui, tempat, acara, waktu, dan moment nya. Menyesuaikan ini penting, agar maksud dapat ditangkap sesuai, penting untuk membangun sebuah hubungan dengan lawan interaksi agar lebih seimbang dan orang lain merasa dihargai dan dimengerti, dsb.

*wualahualambishawab.
Ramadhan #9

Sunday, June 12, 2016

Ramadhan #7: Memilih Teman

Saat punya feeling "satu frekuensi nih orang" terbukti dengan penjabaran hasil dari aura + MBTI + intuisi. Hasilnya sama, jadi seneng. Akhirnya nemu juga orang-orang tulus yang match.

Kata hati memang tidak bisa dibohongi ataupun dipungkiri tentang seseorang se-frekuensi atau tidak. Selain itu, semua teruji seiring waktu, keterbukaan, kepercayaan. 
---------------------------------------------------------------------------------------

Q: Penting banget ya?
A: yup.
Saat sudah sering dikhianati, tersakiti, dan hancur berkali-kali, memilih jadi suatu hal penting dan harus. Karena salah satu bentuk bertahan hidup adalah dengan memilih koloni yang tepat, agar tetap positif, bahagia, berkembang, dan bermanfaat.

Bahasa sederhananya, seleksi alam. Hal ini dilakukan bukan karena mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Semua baik hanya cocok-cocokan. Seperti ikan dan daging sama baiknya tapi saat dimakan bersamaan malah nimbulin racun... perlu mencari komposisi yang seimbang :)

Q: temenan mah temenan aja kali.
A: no no no. 
Dalam Islam pun kita diajari untuk berbuat baik ke semua orang dan diajari pula untuk memilih teman. karena itu bukan urusan duniawi saja. Nanti di akhirat ada teman - teman yang dapat menarik kita ke neraka maupun surga. Ini hal jangka panjang urusannya sampe akhirat. Kalo mikirnya masih come and go ya itu namanya kenalan. kenalan yg mengajarkan sesuatu kepada kita atau kita pun mengajari sesuatu kepadanya.
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Hati dan iman.
2 hal yang cukup jadi syarat awal.

Kalau hatinya baik, maka baik semuanya. 
Kalau imannya baik maka bermanfaat dalam ranah kebaikan di dunia maupun akhirat.

*wuallahualam bishawab.
Ramadhan #7

Saturday, June 11, 2016

Ramadhan #6: Memudahkan

Banyak hal terjadi dalam kehidupan ini. kalau sedikit mengambil jeda memperhatikan, ada hal yang sering terjadi membentuk sebuah pola.

Misalnya,
- seseorang berkendaraan, ia bisa menuju lokasi satu ke satu dengan mudah. Kemudian janjian sama teman yang tak memiliki kendaraan di lokasi tak ada kendaraan umum. Apa susahnya menjemput/ nganterin pulang/ ubah lokasi? karena mudah bagimu, belum tentu mudah bagi orang lain.

- seseorang yang dalam perjalanan lintas provinsi, kemudian ada teman seperjalanannya tiba-tiba sekarat. alhasil segera mencari rumah sakit terdekat yang tanpa sengaja melewati marka jalan. ditilang karena salah. tapi proses tilangnya berbelit-belit sampai hilang satu nyawa. padahal ada kemungkinan hati nurani polisi untuk meloloskan atau menahan identitasnya dan diurus setelah ia sampai rumah sakit kan?

- seorang dosen yang hanya bisa ditemui setiap hari senin (jadi kalau tak sempat ketemu senin ini, harus menunggu minggu depan), meski mahasiswanya hampir DO dikala hitungan jam sangat berarti.   Antara memang super sibuk dengan ego beda tipis sih di kasus ini. apa susahnya meluangkan waktu sekian menit dalam perpindahan aktivitasnya? 

- seseorang yang sangat membutuhkan suatu benda, kemudian mencari pinjaman, karena banyak alasan dia meminjam (tidak punya uang untuk membeli/ toko-toko sudah tutup/ barangnya habis). Lalu seseorang yang dipinjami tak mau meminjamkan dikala barangnya sedang tak digunakan atau mirisnya dikala ia pun memiliki dua. 

Banyak contoh urusan memudahkan ini, dari hal super sepele kembalian 200 rupiah sampai urusan besar. Setiap dari kita memiliki benda, materi, pengetahuan, kekuasaan, dimana tak semua orang memiliki hal itu dalam takaran yang sama. Kita hidup dalam sebuah sistem keseimbangan lebih dan kurang. sehingga perlu keseimbangan dengan cara saling melengkapi lewat empati, menurunkan ego, dan ya doing good mah doing good aja lah :)

Mudah bagi kita belum tentu mudah bagi orang lain.
Alasan sederhana kenapa perlu memudahkan urusan orang lain.

*Wuallahualambishawab

Ramadhan #6

Friday, June 10, 2016

Ramadhan #8: Banyak

Banyak orang yang hatinya hancur berkali-kali. membuat dirinya menjadi jauh lebih sensitif dan sering dibilang lebay. mereka tumbuh menjadi orang-orang yang selalu menjaga orang lain untuk tetap bahagia. karena mereka tak ingin orang lain merasakan sakit yang sama.

Banyak orang yang menutupi kesedihan, insecurity, dan masalah hidupnya dengan menengelamkan diri dalam kesibukan, pekerjaan, achievement. Namun hatinya tetap hampa.

Banyak orang yang penuh semangat menggebu-gebu mengikuti hatinya. tampak tak jelas arah, namun ia tau kemana harus melangkah, apa goal hidupnya, dan berjuang demi kebahagian tanpa kepalsuan.

Banyak orang yang sibuk membuktikan diri, pembuktian dalam balas dendam. balas dendam karena dulu dihina, karena dulu miskin, karena dulu susah. kesuksesan untuk menunjukan kalau dirinya tak seperti dulu. memuaskan ego.

Banyak orang dalam diam diam-diam memperhatikan, bahkan menjaga dari kejauhan, dan mendoakan diam-diam.

Terlau banyak yang tak menjadi dirinya sendiri. perlombaan dunia dalam topeng. menjalin dalam aturan main yang diterima tanpa pernah dipertanyakan kebenarannya.

Ramadhan #8

Ramadhan #5: Moment A-HA!

Singkat cerita, guru musik bilang kalau setiap muridnya punya cara masing-masing dalam menemukan pola belajar untuk bisa. Pola yang didapat melalui eksplorasi sendiri sampai nemu moment AHA. Kalau sudah melewati moment itu, pola yang ditemukan muridnya akan bakal terus teringat sepanjang masa. Dia bilang kalau soal musik, itu soal perasaan, dan hanya perasaan diri sendiri yang benar, jadi setiap muridnya memang harus mencari AHA nya sendiri. Hal itu lebih "abadi" daripada mentransfer cara harus begini begitu.

Teringat oleh seorang pembimbing (karir), dia melihat bakat, lalu bilang: setiap manusia punya jalur rejekinya masing-masing yang gak bakal pernah bisa diambil orang lain, karena cuma dia sendiri yang bakal bisa "melihat" klik polanya. Untuk mencapai kesana memang dibutuhkan struggle sampai nemu titik AHA. Itu semua harus kamu yang jalanin sendiri, saya hanya membantu membimbing.

Pernah lihat orang yang setiap ikut lomba selalu menang? Ya, karena dia udah nemu kliknya dan mungkin itu jalur rejekinya. 

Pernah liat orang bisnis makanan selalu berhasil? Ya, dia udah nemuin celah dan polanya melalui moment AHA dan hal itu gak bisa dilihat orang lain karena itu jalur rejekinya. Maka sekuat apapun orang mau ngikutin, gak bakal bisa nyamain.

Moment A-HA ini menjadi penting banget. Berasa oase di padang pasir.

Permasalahannya, bagaimana menemukan momen A-HA ini?
(sharing aja ini mah, bukan hal mutlak/ generalisir ya) Setiap merenung, makin merasa kalau kalimat "berilah pentunjuk-Mu" itu besar sekali dalam menentukan langkah awal. Berdoa menjadi langkah paling awal dalam memulai. Lalu berusaha, mencoba, mencoba, sampai titik super struggle, hilang hasrat, berdoa, lalu menemukan A-HA moment yang tak terprediksi waktunya. Bisa sekian menit hingga belasan tahun. Berarti emang ahrua sabar. Sabar sebagai penolong itu bener banget. Soalnya kalo gak sabar, gak nemu-nemu moment A-HA, gak bakal wah bersinar stand out alias biasa - biA aja. Gak mau kan? Nggak. (Ngomong sambil ngaca).

Kadang kalau merhatiin dalam society, ada pesan tersembunyi, bahwa berdoa (meminta keberhasilan)  dengan bobot harapan besaaaaar sering dilakukan setelah berusaha, sebagai "pelengkap". Seolah-olah 0- 99% itu kendali dari kerja keras dan 1% itu doa yang melengkapi jadi 100% (gimana ya bahasanya biar gak salah ditangkap pembaca? ya dinalar aja deh ya). Nyatanya, yang dibutuhkan sebelum melangkah adalah arah, ridha, kekuatan (pikiran, batin, mental, fisik, dll). Berdoa di awal usaha penting bgt bgt. 

*wuallahualam bishawab

Sedikit sharing. Selamat berusaha, selamat menemukan A-HA moment, selamat sukses :D

Ramadhan #5

Thursday, June 9, 2016

Ramadhan #4: Takut

"sama siapa?"
"jangan jauh-jauh"
"jangan sendiri"
"ajak siapa gitu buat nemenin"

Sadar tak sadar, kalimat tersebut sering kita dengar dalam lingkungan kehidupan sehari-hari atau bahkan akrab di telinga yang bersumber dari lingkungan terkecil kita. Tanpa disadari, di bawah alam sadar kita, kalimat tersebut secara tak langsung mengajarkan untuk takut hidup sendiri, takut gak ada temen, takut gak bisa pergi karena tidak ada temen, takut pergi sendirian, takut ini itu, seolah-olah semuanya harus ada teman, aman, ke tempat yang dikenal, takut ini itu.

kalau sendirian kenapa?
kalau jauh kenapa?
kalau ke tempat asing kenapa?
kalau tak ada teman kenapa?
*diluar konteks kalau perempuan pergi harus ada mahramnya ya

ya, semua punya alasan yang masuk akal, sebuah runtutan pola pikir logika manusia yang dirancang dalam pikirannya sendiri tentang sebab akibat dalam ranah ke arah negatif. "takut kenapa-napa".

Kita lupa bahwa sejatinya, sekalipun kita sendirian, kita tak pernah sendirian.
Apakah kamu percaya Tuhan?
Apakah kamu percaya Dia selalu ada? selalu mengawasi? selalu menjaga?
Apakah kamu percaya Dia Sang Maha Penolong, Berkehendak, dan Berkuasa atas semua hal di alam semesta ini?

Lalu, kenapa perlu khawatir?
Kenapa perlu takut pergi tak ada teman? 
Selalu ada "keluarga baru" yang disiapkan oleh-nya di tempat lain, selalu ada pertolongan tak terduga dari Nya, selalu ada cinta yang mengisi hampa meski sendirian ke tempat asing.
Bumi Allah luas, apakah Tuhan di Indonesia dengan di Eropa berbeda? apakah takdir meninggal akan hilang dikala bersamaan dan akan hadir dikala sendirian? semua sudah memiliki ketetapannya masing-masing.
Hasbunallah wani'mal wakil Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.  (Al Imran: 173)
Yang perlu ditakutkan adalah, tujuan dan niat kita.
Apa niat kita? Apa tujuan kita?
Apa baik? apa buruk? apa pantas?

Btw, selalu ada orang-orang yang berani untuk berjalan sendirian menuju tujuannya, jadi bakal pasti ketemu orang-orang lain yang setujuan dalam setiap perjalanan kok. so, why so worry? 

Ramadhan #4

Wednesday, June 8, 2016

Ramadhan #3: Bumi dan Semesta

"The planet does not need more 'successful people'. The planet despreately needs more peacemarker, healers, restores, storyteller, and lovers of all kind." - unknown
Apa fungsi kita di planet ini?
Whats your function at this planet?
as a healer? as a peacemarker? as a storyteller? as a lover of all kind? as restore?

Semesta mengajarkan untuk berbagi.
Layaknya matahari yang membagikan hangat dan cahaya untuk kehidupan, bukan untuk dirinya.
Layaknya air yang membagikan manfaatnya untuk kehidupan agar tetap hidup, bukan untuk dirinya.
Layaknya tumbuhan yang membagi dirinya untuk dihirup oksigennya, dimakan, digunakan untuk banyak hal. Ia tak pernah tumbuh untuk dirinya.

Sampai kapan mengejar kedepan? 
Sampai kapan menunjukan eksistensi diri?
Sampai kapan berpusat pada diri sendiri?
Lalu saat melihat kebelakang, tak ada satupun yang mengikuti sebagai ilmu ataupun manusia bermanfaat.

Semesta dengan rendah hati mengajarkan banyak hal untuk kita, manusia.
Bumi diam - diam mengirimkan pesan kepada semesta tentang perasaannya.

Ramadhan #3

Tuesday, June 7, 2016

Ramadhan #2: Menjadi Kaya

Menjadi orang kaya dianggap menyenangkan, karena bisa beli ini itu, bisa kesana kesini,
punya ini itu. Terkesan tak terbatas, bebas, bahagia.

Coba bayangin deh, menjadi orang kaya raya. 
Setiap hari pusing mikirin bagaimana cara menjaga kekayaannya. 
Setiap hari mikirin nasib ratusan ribu karyawannya, puluhan perusahannya.
Setiap hari didatengin orang-orang palsu yang mendekat karena butuh uang darinya. 
Setiap hari diliputi segudang kecurigaan untuk mempercayai orang lain, karena semakin kaya,
semakin sulit mendapati orang kepercayaan, karena yang datang mendekat punya beragam motif.
Setiap hari jauh dari keluarga, sekalipun tinggal satu atap.
Setiap hari dikejar-kejar hutang investasi, mungkin.
Setiap hari sibuk membangun jejaring kesana kesini.
Setiap hari penuh dengan jadwal mengikat.
Setiap hari harus menjaga citra diri, hidup dalam kontrol sosial yang besar.
Setiap hari selalu ditemani bodyguard. susah punya waktu me time.

Hidup sederhana atau tak kaya secara materi,
yang dipikirkan keadaan saat ini, diri sendiri dan keluarga.
tentang pangan, sandang, papan, pendidikan.
Masih memiliki waktu bercengkrama dengan keluarga.
Masih memiliki kebebasan tanpa terlalu terikat citra sosial. Seperti ngupil di jalan, tertawa lepas
Masih bisa menikah dengan orang yang dicintai tanpa urusan bisnis.
Masih bisa bebas berekspresi tanpa takut citra diri jatuh.
Masih bisa tidur nyenyak tanpa bodyguard.
Masih bisa beribadah tanpa dikejar - kejar hal duniawi (telat meeting 10 menit).

Jika menjadi kaya raya membuat hidup lebih rumit daripada keadaan saat ini, apakah siap?
Jika menjadi kaya raya membuat jauh dari keluarga, apakah bahagia?
Jika menjadi kaya raya membuat diri jauh dari jati diri, tidakah hampa?

Setiap orang memiliki ujiannya. tak ada yang lebih senang ataupun lebih sengsara.
Semua memikul beban sesuai takarannya masing-masing. sama-sama berat pada porsinya.
Selamat berbahagia untuk apapun yang telah terjadi dan keadaan saat ini.

Ramadhan #2

Monday, June 6, 2016

Ramadhan #1: Perempuan Cantik

Coba bayangin deh menjadi perempuan yang dianggap cantik dalam suatu masyarakat. Pakai pakaian tertutup saja sudah dilirik. Apalagi pakai pakaian menarik, ah tentu saja sudah menjadi perhatian yang entah dapat menstimuli apa dalam pikiran "penonton", menyeramkan. Banyak digandrungi, didekati, dan banyak pula yang menyatakan cinta. Cinta pada pandangan mata yang lalu putus dengan alasan "tidak cocok", menyedihkan. Entah berapa persen persentasi cinta dan lust lawan jenisnya dalam sebuah hubungan dengannya. 

Mungkin lain halnya dengan perempuan yang memang ingin terlihat cantik agar mereasa percaya diri (bukan untuk pamer dan menarik lawan jenis). Setiap hari penuh perawatan, rutinitas membersihkan make up, jaga badan sampai kelaparan bukan untuk sehat melainkan untuk tetap langsing. Agak merepotkan memupuk kepedean dari hal fisik. Apalagi kalau niatnya memang untuk menarik lawan jenis, lalu bangga saat dididekati banyak pria yang jatuh cinta karena kecantikan fisiknya. kasian.

Dalam perspektif lain, justru perempuan yang dalam masyarakat dinilai kurang cantik ataupun kurang menarik secara fisik adalah perempuan yang beruntung. Karena secara alami memiliki potensi besar terlindungi dari pandangan. Saat ada seseorang yang jatuh cinta padanya, tandanya orang tersebut melihat hal terdalam dalam diri perempuan itu diluar batasan fisik. Inner beauty, entah dari wawasan, pemikiran, perilaku, karakter, kepribadian, bahkan keimanan. Beruntung pula saat ada lawan jenis yang mencoba berinteraksi dikala penampilan tak menarik, tandanya ada sesuatu di hatinya yang mendorongnya. dengan kata lain berarti lawan jenis memiliki sebuah intuisi yang baik atau bahkan dapat menangkap frekuensi dari inner beauty tersebut. Sebuah interaksi tanpa penilaian antribut permukaan.

Ramadhan #1

Sunday, June 5, 2016

5 Juni 2016

Menjelang Ramadhan 2016 diawali dengan perasaan fulfillment.
Entah apa yang terjadi seminggu ini, semua menghantarkan pada perasaan damai, tentram, dan ada letupan-letupan dalam hati yang berlomba keluar dalam kegembiraan yang tak tau berasal darimana.

Kalau perasaan dan hati adalah sesuatu yang tak dapat dibohongi dan dikenadlikan (ya, hanya punya kendali dalam merespon, menyembunyikan, dan memperlihatkan. Namun tak punya kendali terhadap perasaan yang singgah di hati baik dan buruk, sakit dan senang). 

Terimakasih untuk siapapun yang telah berbagi dan menerima cinta. Ibu, ayah, adik, teman, keluarga, bahkan strangers di pinggir jalan sekalipun (terimakasih telah menerima cinta saya lewat kesempatannya untuk berbagi cinta terhadap manusia as human). Saling mengasihi bukan karena lust ataupun kasihan, ya karena ada dorongan dalam hati yang bergerak secara spontan, ada yang mengerakannya. mengerakan untuk berbagi kasih, bergerak untuk menerima. Karena memberi dan menerima sama-sama membutuhkan kesiapan mental. 

Terimakasih kepada yang telah mengerakan hati, Sang Maha Pembolak Balik Hati Manusia. Terimakasih atas rasa bahagia dan kedamaian jiwa yang berhasil meneteskan air mata haru. Terimakasih atas segala hal yang terjadi di masa lalu, atas kesempatan saat ini, dan untuk harap masa depan penuh optimis yang berhasil membakar semangat.

Terimakasih untuk orang-orang yang tulus meluangkan waktunya, menerima diri (baik buruk), menolong, mendoakan, mendukung, dan menyayangi. Semoga selalu dalam lindungan-Nya, dilimpahkan kebaikan dunia dan akhirat. Gak perlu disebut siapanya lah ya, cukup diri sendiri yang tau untuk mengingat segala kebaikan orang-orang itu, yang pasti salah satunya di nomer satu ada Ibu.

Monjali, 5/6/16

Tuesday, May 24, 2016

Melihat Potensi

Paling seneng deh merhatiin orang lain, apalagi ngeliat perkembangannya. Saat dapat kesempatan jadi asisten dosen semasa kuliah, saya seneng banget liat ratusan mahasiswa dengan beragam karakter, kepribadian, dan potensinya. Diam-diam saya selalu memperhatikan secara detail dan mendalam, lalu mengklasifikasikan mereka dalam beberapa kelompok sesuai kerpibadian dan potensinya. Adapun beberapa orang yang saya "ramalkan" masa depannya. "si ini bagus nih orang, bakal sukses banget 5 tahun mendatang. si ini jg bagus cara pikirnya, bakal keren 7 tahun mendatang. si itu meski agak sembrono kuliahnya tp pny power luar biasa, bakal jadi org hebat 8 tahun lagi". Diam-diam pula saya terus memperhatikan perkembangannya dan semua hipotesa saat itu mulai memberikan hasilnya alias jadi kenyataan semua. si A yg sukses, si B yg hebat, si C yg keren. Rasanya seneng aja, bukan karena memenuhi ego krn suka merhatiin dan membuktikan "ramalan" bener. cuma gatau kenapa ssneng aja ngeliat perkembangan orang. ikut bahagia. Waktu jadi dosen di salah satu universitas swasta pun, kebiasaan itu tetap dilakukan, sayangnya gak pny kesempatan untuk taking care dan keep contact dengan mereka lbh lama lg.

Jadi inget waktu ikut tallents mapping, keliatan kemampuan diri. no 1-5 adalah potensi terbesar.
1. Ideation
2. Futuristic
3. Input (cari informasi krn rasa penasaran tinggi)
4. individualisation (berbeda)
5. intelection (perenungan).
Ya gak heran sih hasilnya gitu, udah sadar dari dulu. yang amaze adalah dari kemampuan dan potensi itu ada saran bidang pekerjaan, selain di dunia kreatif inovasi (gak salah jurusan ya berarti feeling wkt umur 9 tahun bener), salah satunya dibidang server (melayani), baru ngeh deh, pantesan seneng banget kalo jadi pengajar, jadi relawan, ngedengerin orang curhat lalu kasih dukungan mental beserta solusi, rasanya bahagia.

Sekarang alasan tetep pengen jadi dosen (satu-satunya rutinitas/ kantoran yang masih mau dilakukan) adalah karena sesuai value hidup. Itupun tak menjadikan dosen sebagai mata pencaharian, tp krn emang seneng aja. syukur-syukur bisa memenuhi kebutuhan yang glamour (baca:boros), kalo ngga bs pun, gpp, masih pny semangat dan tenaga besar untuk tetap menjadi desainer interior dan socialpreneurs (goal hidup).

Ada beberapa teman-teman yang umurnya dibawah saya, karena dulu sekampus, kenal pas acara relawan, kenal karena satu organisasi, kenal pas ikutan suatu training, kenal pas traveling. beberapa dari mereka tetap keep contact dan suka ngabari perkembangannya "kak aku ini, kak aku itu, kak aku blabla". huhuhu terharu deh, denger mereka yang dulu masih piyik berjuang kuliah, skrg udah mapan kerja, udh sukses, udh mandiri, udh berdampak bagi masyarakat luas, lanjut s2 ke luar negeri, menikah dengan pasangan luar biasa. Meski saya extrovert (cerewet, banyak ngomong), lbh milih jd pendengar kalau ketemu mereka. Ya, saya bukan siapa-siapa sih, cuma orang kepo yang seneng merhatiin dan taking care orang lain aja. Kalo mau konsultasi/ diskusi/ curhat sekalipun, sangat terbuka lebar loh... tp khusus orang-orang yg jiwanya baik dan arah tujuannya jelas (milih2 ya ini hahaha), ngga deng, siapa aja selama masih pny ambisi mengejar masa depan dan peduli sesama, saya selalu siap mendukung, mendengarkan, dan membantu.

Cheers!

Monday, May 23, 2016

Berlebihan

Ada yang cuek berlebih
Ada yang perhatian berlebih

pada akhirnya, menarik diri dalam sebuah jarak membantu untuk melihat lebih jelas, berharmoni dan memposisikan semua hal dalam takaran yg pas. tak lebih, tak kurang. seimbang.
-------

Berlebihan, sebuah istilah yang dapat diukur oleh satuan ukur yang telah disepakati secara universal. Namun, ada hal-hal yang ukurannya dirasakan oleh hati. abstrak, tak ada tolak ukur, dan anehnya dipahami secara universal.
-------

Alam semesta mengajarkan dunia pararel. sesuatu yang tak dapat diraba pancaindra namun dapat dirasakan dan dipahami dalam waktu bersamaan dengan sistem society yang bertolak ukur dalam takarannya. Semua bergerak overlap secara waktu namun dalam jalurnya masing-masing. Jalur analogi suatu linear, waktu analogi suatu pararel.
Mau nulis paragraf pertama, jadi keingetan hal lain, trs keiingetan hal lain lg. tiba2 jadi gak nyambung sama judul. hahaha. ya gitu lah :p
#kebiasan mikir ngerenung sebelum tidur

*wuallahualam bishawab

Bandung, 01:14, 23 Mei 2016

Saturday, May 21, 2016

Luruh

akad terlaksana. hidup mandiri, bertahan dalam rupiah receh yang terbagi untuk kontrakan, transport, dan makan. perih. semua disimpan dalam diam. menjalani hidup sebagai manusia dewasa berdiri diatas kaki sendiri.

Hujan, banjir, berdua bersama jabang bayi, menyapu hujan menembus atap membasahi seluruh ruang kontrakan tanpa sekat antara dapur dengan kasur. gelap. jauh dari sanak saudara. sang suami masih sibuk mencari nafkah di luar.

malam kelam, jeritan di ruang rumah sakit mengerang mempertahankan hidup mati dua nyawa. air mata jatuh seiring kumandang adzan di telingga jiwa baru. haru memancarkan harap.

segala kekhawatiran, segala hutang, segala sakit, segala badai rumah tangga, segala goresan batin, semua dipendam dalam diam, membangun benteng hati untuk bertahan hidup. berjuang demi yang dicinta hingga tak terbatas apapun.

mata. mata yang menceritakan semuanya. menyelami jiwa menembus waktu. semua rasa terasa. air mata terurai dalam isak tangis tertahan. meluruhkan semua rasa benci.

Bandung, 21 Mei 2016

Friday, May 20, 2016

Pernah ngeh nggak?

Pernah ngeh ngak? saat cerita achievement, mungkin lawan bicara sedang berada dlm fase terendahnya tp dia menutup rapat-rapat dirinya dan tetap merespon dengan antusias.

Pernah ngeh ngak? saat cerita kemajuan finansial, mungkin lawan bicara sedang dalam keadaan pas-pasan gak tau besok makan apa atau bahkan sedang terlilit hutang, tp dia simpan dalam-dalam kekhawatiran dirinya dan terus mendengarkan sambil merespon bahagia.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah cinta sepele, mungkin lawan bicara sedang patah hati hancur karena gagal nikah di h-3 nya tp dia menutup kesedihannya dgn sabar mendengarkan sambil berempati.

Pernah ngeh ngak? saat cerita masalah hidup, mungkin lawan bicara punya masalah yang jauh luar biasa ratusan kali lipat tp dia menahan diri membandingkan masalahnya dan tetap sabar mendengarkan dengan respon supportif.

Pernah ngeh ngak? saat cerita panjang lebar untuk hal remeh, sebenarnya lawan bicara sedang berada dalam deadline penting, hanya saja ia meluangkan waktunya untuk mengisi kesepianmu.
Pernah ngeh ngak?

Mungkin lawan bicara hanya sebatas pengisi kebutuhanmu yang tak pernah kamu pedulikan secara tulus waktu, perasaan, pengorbanannya. Ia pun sama memiliki masalah bahkan jauh lebih besar, hanya saja hatinya lebih lapang untuk mendahulukan kebahagian orang lain, memendam masalahnya sendiri, dan memendam egonya untuk acuh sambil berkata "masalah lo cuma gt doang, masalah gw lbh gede".


Pernah ngeh ngak?

Thursday, May 19, 2016

Habis

Semua bilang aku mapan, sempurna, bahagia. Banyak yang iri, entah apa yang patut mereka irikan dari diriku. Aku hanya seorang yang tak tau apa yang dilakukan meski namaku selalu terucap dalam perbincangan internasional sebagai narasumber dan tercetak pada majalah kesehatan sebagai idola, entah siapa yang mengidolakan. Justru aku iri dengan para pengamen yang masih bisa tertawa lepas. Aku iri pada anak kecil yang mengebu-gebu belajar piano lalu menujukannya di depan umum. Aku iri pada pengusaha muda yang jatuh bangun namun tetap berjuang karena passionnya. Jiwaku telah lama mati, entah kapan tepatnya. Aku tak dapat lagi merasakan kebahagian, semua dilakukan hanya sebatas rutinitas. Lalu apa yang perlu kamu iri kan dari ku?

pendidikan? kekayaan? keternaran? semua semu dengan jarak tak terasa pada jiwa, mengambang dalam rentang tak tersentuh, sekitar yang mendekat karena atribut duniawiku bukan karena jiwaku. 

Waktuku hampir habis, dunia terasa menjemukan, memuakan. Terlalu banyak asing yang datang hanya untuk menempelkan namaku untuk ketenarannya. Terlalu banyak asing yang mendekat untuk meminjam kekayaanku, entah siapa mereka, entah untuk apa. Aku bagaikan sebuah bongkahan emas yang menarik mata siapapun, mengikisnya hingga tak tersisa. Aku tak tahu siapa yang benar tulus atau bahkan tak ada kata tulus selama perjalanan ini. Kulirik dia, yang berjanji mendampingiku seumur hidup dibawah nama agama, telah pergi bersama pengusaha mapan tampan yang sedang naik daun. Aku lirik anak-anaku yang telah merantau entah kemana tanpa pernah mengunjungiku lagi semenjak bagi waris selesai. Seandainya aku menjaga jiwaku dengan mengikuti kata hati, melakukan sepenuh hati, hidup dengan sebenar-benarnya hidup untuk “hidup", mungkin aku tak sekaya sempurna kata orang-orang, tapi aku tau yang datang adalah orang-orang tulus dengan jiwa tersambung, menjagaku hingga tanah menutupku dengan sempurna.

*cerita fiksi hasil empati menyelami jiwa dalam imajinasi dibalut perenungan.