Saturday, July 6, 2019

Lari

Lari dari perasaan sendiri
Lari dari masalah
Lari dari ketidaknyamanan
Lari dari kenyataan
Lar dari kebenaran
Lari dari diri sendiri.

oh dear, how pathetic people.
Terjebak dalam ketakutan dan ilusi.
Hidup dalam sistem turun temurun.

Rumah

Rumah, tempat berlindung.
Rumah, tempat rasa aman ada.
Rumah, tempat merasa nyaman.
Rumah, tempat diri merasa diterima.
Rumah, tempat kembali saat diri hancur.
Rumah, tempat cinta ada dan hadir.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki rumah.
Tak merasa dipahami, disalahpahami, bahkan disalahkan.
Tak mendapati keamanan, bahkan kecemasan dan tekanan.
Tak diterima sebagaimaan diri aslinya, bahkan penuh penilaian dan tuntutan.
Tak dicintai tulus, semua cinta datang bersyarat.

Sayangnya, setiap manusia membutuhkan rumah dalam dunia ini.
Sayangnya, rumah yang dicari tak pernah ditemukan.
Sayangnya, kita terus hidup berumur panjang.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari realita hidup di dunia yang penuh ilusi.
Pada akhirnya, kita perlu menguatkan diri untuk terus mampu bertahan.
Pada akhirnya, hanya diri sendiri yang mampu memenuhi itu semua.

Membuat rumah untuk diri sendiri.
self love, self compassion.
i love you dear myself.
kamu aman, kamu dicintai, kamu diterima sebagaimana dirimu, kamu adalah tempat ternyaman dan aman untuk dirimu.
terimakasih telah berjuang selama ini, terimakasih untuk bertahan selama ini, terimakasih untuk terus merawat diri.

Sad

Dari kemarin rasanya sedih banget.
Sedih dan Kecewa.

Berasa anak kecil yang udah ngebayangin disneyland, nunggu berbulan-bulan penuh excitement, tiba2 batal.
Berasa seorang kasih yang menunggu kekasihnya bertahun-tahun taunya ditinggal pergi begitu saja.
Berasa seseorang naif yang dengan mudah percaya dan memberikan sepenuh jiwanya kepada orang yang peduli dengan dirinya pun tidak.

Kadang percaya sama orang yang cuma manfaatin.
Kadang mengorbankan diri, mendahulukan orang yang hanya menjadikan diri keset.
Kadang berjuang untuk orang yang peduli pun tidak.
Kadang mengangap orang sebagai keluarga, dikala ia hanya melihat diri sebagai kenalan.
Kadang mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu hanya satu arah.

Dan sampe sekarang masih sedih.
i feel so deep sadness inside.

Wednesday, July 3, 2019

Mungkin orang yang menyimak proses hidup seseorang dan bertoleransi atas keberagaman, dia gak akan pernah mempertanyakan hal yang menjadi keputusan seseorang. Karena di setiap keputusan, ada alasan tersendiri.

Kadang pertanyaan dilontarkan hanya untuk memenuhi rasa penasaran bukan kepedulian.
Kadang kita perlu belajar mana yang perlu dijawab, mana yang dibiarkan saja.

Monday, July 1, 2019

Memutus Rantai

Kita tak bisa memilih terbentuk dari sperma siapa, dalam keadaan seperti apa, mau dilahirkan dari rahim siapa, punya ayah ibu biologis seperti apa (sehat secara fisik kah? sehat secara mental kah? sehat secara psikis kah? sehat secara spiritual kah?).

Anak.
tak minta dibuat,
tak minta dikandung,
tak minta dilahirkan.


Saat sperma bertemu ovum, menjadi embrio, berkembang menjadi janin, lalu lahir sebagai bayi. Makhluk hidup baru ini tak tau apa2, ia lahir ke dunia baru, tak mengenal siapapun kecuali perasaan-perasaan ibunya, kecuali rekaman keadaan lingkungan saat ia di kandungan. Ia lahir dalam keadaan tak berdaya. Butuh cinta, butuh kasih, butuh pijakan, butuh bimbingan, butuh dibantu membuat pondasi yang kuat untuk kehidupannya kelak.

Sayangnya, tak semua orang membuat, mengandung, dan melahirkan anak dalam keadaan sehat dan penuh kesadaran. 

Banyak dalam realita, dua manusia yang sama-sama rapuh menikah atas dasar tuntutan sosial dan berharap bisa saling mengisi satu sama lain tanpa mau membereskan dirinya terlebih dahulu (membereskan trauma-traumanya, menyembuhkan luka batinnya, membenahi mindsetnya, mengedukasi dirinya). Lalu luka batin, insecurity, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, pikiran negatifnya ia tularkan ke anaknya tanpa sadar. Seperti seorang ayah yang waktu kecilnya suka dipukul, maka ia akan memukul anaknya saat ia frustasi, saat ego nya tersenggol, saat luka batinnya tersentuh. Ia akan menularkan itu, seperti pepatah hurting people hurt people. Begitupun seorang ibu yang dulunya merasa sedih, kesepian sesederhana pernah dimusuhin sodaranya waktu main saat masih kecil, ia akan memproyeksikan rasa sakitnya ke anak perempuannya (orang lebih muda memproyeksikan dirinya ke jenis kelamin yang sama) dengan membentuk anak perempuannya seperti dia, menjadi orang yang kesepian dan sendirian. Dengan mengabaikan kebutuhan emosional anaknya, gak memberikan empati, melarang anaknya bergaul, tidak boleh mengekspresikan emosi, sampai anaknya mirip dia, rusak dan rapuh.


Lalu sang anak rapuh penuh tularan luka batin orang tuanya, saat ia menjadi orang tua, ia pun akan menularkan luka batin tersebut terhadap anaknya, dan begitu terus dari generasi ke generasi.
Pertanyaannya,

Mau sampe kapan menularkan luka batin dan merusak anak keturunan?
itu anak cuma titipan loh, yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti (kalau kamu percaya adanya akhirat dan Tuhan). itu anak punya purpose of life dan karakternya masing-masing loh, kenapa dirusak dan menjadi tak seharusnya?


Lalu, gimana cara mutusin rantai tersebut?
1. Jadilah aware.
Sebelum aware, perlu bergaul dan berada di beragam lingkungan biar bisa melihat dunia dari sudut pandang lain, biar bisa melihat beragam jenis manusia lain, biar bisa sadar sama pola dan skema-skema lain. Jadilah aware, sadar sama keadaan diri, sadar mana sifat asli, mana projection dari orang tua dan lingkungan, sadar sama masalah-masalah diri. Luangkan waktu untuk merenung dan berefleksi.
2. Penerimaan
Menerima segala kelebihan kekurangan diri, terima segala luka yang telah berlalu sebagai bagian diri, terima punya orang tua yang begitu, terima kalau diri adalah produk dari orang tua dan lingkungan dengan segala cacat yang ada. Menerima, tidak menyalahkan siapapun termasuk tidak menyalahkan diri sendiri. Lalu benahi satu persatu. 
3. Self improvement.
Mulai lakukan apa yang menjadi kelebihan diri, jangan takut, jangan cemas. Mulai menjalani mimpi dan purpoe of life diri. Mulai hidup penuh kesadaran, mindfullness, dan  enjoyment.

--------------

Kalau ibumu cerai dengan ayahmu lalu menularkan traumanya dengan bilang laki-laki brengsek hingga kamu anak perempuannya takut menikah, berarti ibuu sedang menularkan luka batinnya padamu. Kamu mau hidup waras sesuai realita, kembali padamu.

Kalau ayahmu pernah gagal, takut dinilai buruk. Lalu semua mimpi dan mentalmu dijatuhkan dengan kata-kata gagal sebelum memulai dikala kamu sangat berkompenten dan mampu, maka ayahmu sedang memproyeksikan ketakutan dirinya atas kegagalan terhadapmu.

Kalau ibumu pernah dikatain tak berharga oleh suaminya, hingga slef worth nya jatuh dan membekas jadi trauma, lalu ia melampiaskan rasa sakitnya dengan bilang kamu gak berharga, maka ibu mu sedang menjadikanmu samsak sampah luka batinnya. Kebayang gak jika ini terjadi saat sang anak masih kecil? hanya ibunya yg ada, lalu di cekokin label-label negatif seperti "kamu tidka berharga", maka ia akan memandang dirinya tak layak, tak berharga, pantas ditindas, pantas dikasari, pantas dapat perlakuan buruk, dan tak pantas bahagia. Padahal anak ini brilian, punya bakat menjadi leader, punya potensi menjadi sociopreneurs yang sukses yang mampu membangun satu negara bahkan lebih. Lalu ia hidup seperti sampah, membuang waktunya, menyia-nyiakan potensinya, hanya karena tidak ada satupun yang sadar dan menyadarkan diri aslinya, dan memberikan feedback positif, lingkungan dan orang pertama yg ia lihat di dunia (orang tuanya) selalu melabeli dirinya sampah tak berharga. Satu manusia rusak, satu generasi rusak.
----------------

Menikah tidaklah mudah.
Jangan menikah hanya karena umur, hanya karena tuntutan sosial, hanya karena kesepian, hanya karena berharap ada yang mengisi lubang kosong dalam diri.

Bagaimana orang yang rusak menarik orang yang utuh?
Bagaimana orang yang rusak bisa membenahi orang yg rusak?

Orang menarik orang sesuai frekuensi dirinya. JIka ingin mendapat pasangan waras dan utuh, jadilah waras dan utuh terlebih dahulu.


Memiliki anak tidaklah mudah.
Bukan sebatas urusan bisa hamil, bisa melahirkan, bisa bayar persalinan, bisa menafkahi, menyekolahkan.

Apakah diri sudah sehat dan siap bertanggung jawab?
Apakah diri sudah punya ilmunya dan terus mau belajar?
Apakah diri sudah siap lahir, batin, mental, psikis, spiritual, untuk merawat titipan Tuhan sesuai jati diri aslinya?

----------------

Sudah cukup segala kebodohan dan ego dalam perusakan keturunan dan generasi.
Sudah cukup rantai terikat, perlu diputus demi melahirkan jiwa-jiwa baru yang sehat.
Sudah cukup segala ilusi society menutupi realita.
Sudah waktunya untuk sadar, bebenah demi kehidupan yang lebih baik.
Mau sampai kapan hidup dalam kotak hitam hanya karena takut keluar padahal diluar jauh lebih bebas, luas, sehat. 

Setiap pertumbuhan dan transformasi butuh ketidaknyamanan. Termasuk ketidaknyamanan saat melihat masa lalu, saat menerima segala luka diri, saat menerima kenyataan, saat berusaha tumbuh dengan sagala rintangan yang ada.

Jadilah manusia yang sadar.

Thursday, June 20, 2019

Menjadi Dewasa

Menjadi dewasa tidaklah mudah namun perlu dilakukan jika diri ingin terus tumbuh dan mampu survive.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menerima hal-hal diluar kontrol diri.
Menjadi dewasa adalah saat bisa menghasilkan sebuah keputusan besar dalam hidup dan bertanggung jawab terhadap resikonya.
Menjadi dewasa adalah saat diri fokus untuk terus tumbuh dan mampu belajar untuk memberi manfaat terhadap sekitar.
Menjadi dewasa adalah saat bisa berdamai dengan diri sendiri, masa lalu, dan hidup tenang penuh kedamaian.
Menjadi dewasa adalah saat bisa melepaskan hal-hal yang tak baik dan sudah tak relevan.

Itu defisini menjadi dewasa (menurutku).

Banyak manusia berumur, telah mampu menghasilkan banyak uang dan karir mapan, berkeluarga, Tapi membuat keputusan saja masih diikut campuri oleh orang lain, masih menyalahkan orang saat hal tak menyenangkan datang, masih belum bisa menerima keburukan diri, masih memegang masa lalu dengan penuh attachment, masih belum punya goal hidup selain hanya hidup berutinitas.
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Butuh kesadaran dan keinginan untuk berproses.

Bukan pula hal menyenangkan. Namun dari situ, kita bisa naik ke level hidup selanjutnya,
menjadi manusia yang bebas, damai, dan paripurna.

selamat berproses :)

Korban dan Raja

Manusia diciptakan tak terlepas dari emosi.
Merasakan beragam emosi. nah dari emosi-emosi yang hadir, seringnya memposisikan diri sebagai korban atau raja?

Misal, kamu diselingkuhi, pada umumnya orang merasa kecewa, sedih, bahkan bisa sampe depesi. Nah dari emosi yang hadir, kamu merasa diri sebagai korban dan berlarut dalam kesedihan atau berusaha menjadi raja dari emosi kamu dengan berusaha mengedalikan perasaan yang muncul dan mengalirkannya ke hal-hal konsruktif. Apa yang biasa kamu lakukan? Menjadi korban atau Raja?


Seorang ibu memiliki anak yang sulit sekali dia kendalikan. Lalu merasa dirinya adalah korban dan satu-satunya yang diuji. Kerjanya meratapi, marah-marah, merasa diri tak berharga, hingga merasa berhak memarahi anaknya karena memposisikan dirinya yang paling menderita. Ia lupa kalau anak pun diuji, anak pun punya struggle nya, anak pun punya masalah. Jika sang ibu bermental raja, saat mendapati anak yang kurang compatible hingga sulit ia kendalikan, maka ia akan melihat itu sebagai tantangan, sebagai peluang untuk membuatnya tumbuh dan menjadi orang yg lebih bijak. Maka ia kana menerima, mengobservasi, belajar, beradaptasi, dan memperbaiki keadaan lewat perbaikan mindset dan mentalnya, maka tanpa sadar ia telah menjadi raja dari emosinya sendiri dan telah memberi contoh yang baik untuk anaknya.

Seorang anak sakit karena dirinya kurang menjaga kesehatan, lalu sedih karena harus opname di rumah sakit. Lalu keluarganya bilang "sabar ya sedang diuji". Pertama, si anak sakit karen kesalahannya, harusnya diajarkan taking responsibility dengan "ini kamu sakit karena kurang jaga kesehatan", lalu biar ia berfikir sendiri. Kedua, respon "sabar sedang diuji" tanpa sadar mengajarkan anak memposisikan diri sebagai korban dan orang tak berdaya. coba bandingin sama respon "wuih enak sakit, bisa istirahat badan dan pikirannya", maka ia kana melihat sakit sebagai suatu peluang positif untuk kebaikan dirinya, bahkan bisa menstimuli perasaan superior sehingga ia bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Maksudnya, ia jadi bisa merasa punya kendali terhadap keadaan dan dirinya.

Nah, dalam lingkungan kita sehari-hari, lebih sering ketemu orang bermental korban atau bermental raja?

Kalau lingkungan utama dan pertama kita (keluarga) banyak yang bermental korban, playing small, playing victim, maka tanpa sadar kita pun terbawa polanya dan mirip mereka. Untuk bisa keluar dari "turunan" seperti itu, cara pertama adalah cari lingkungan baru, bergaul sama banyak jenis orang yang beragam, reflektif instropeksi, self educate (edukasi diri), dan mulai pela-pela merubah diri.


Kadang untuk tumbuh lebih sehat dan waras, demi perbaikan diri untuk keturunan yang lebih berkualitas, kita perlu meninggalkan lingkungan yang tidak baik untuk menjaga diri dari kontaminasi hingga diri benar-benar telah sehat dan kebal terhadap kontaminasi tersebut. Pergi jauh dari keluarga bukanlah hal jahat. Jika memang lebih banyak mudharatnya, kenapa tidak? 

Mindset, mental, dan perilaku terjadi turun temurun. Gimana kita bisa sadar berada di lingkungan toxic dan diri punya banya "penyakit" kalau kita belum pernah melihat apa itu lingkungan sehat dan orang-orang waras? Bagaimana kita bisa tumbuh sehat dan memperbaiki diri jika berada dilingunga negatif yang menarik diri untuk terus sama seperti mereka? Gimana bisa memutuskan rantai tidak baik demi generasi yang lebih baik, jika kita tidak bisa memperbaiki diri?


Menjadi korban dan raja dari emosi sendiri adalah contoh kecil dalam proses perbaikan diri. Contoh kecil bagaimana mindset raja dan korban tertanam dalam diri seseorang lewat interaksi pertamanya dan lingkungan terdekatnya.

Yoga dan Meditasi

10 hari pergi ke suatu tempat, tiap hari yoga dan meditasi.
Kelas yang diikuti:
- Pranayama
- Qi Gong
- Yin yoga healing
- Yin and Myofiscial Release
- Kundalini Tantra Yoga
- Shamanic Breathworks
- Higher Self Meditation
- Active consciousness Meditation
- Healing Meditation
- Mindfulness Meditation
- Peacefull Meditation
- Yoga Meditation

Sehari bisa 2-3 kali ikutan kelas. 
Ikut dalam keadaan lepas obat, lagi manic irritable, PMS. Mood lagi super sengol bacok bawaannya pengen gebukin orang, terus berubah jadi super melodramatic nangis2, pokonya kaya rollercoaster dan intense. Entah kenapa tiba2 jadi agak reda, bisa ngendaliin perilaku dan emosi, bisa tidur proper, dan kebukti banget deh yoga dan meditasi bekerja dengan baik buat fisik, jiwa, dan batin gw. Bahkan syaraf kejepit dan lagi sakit2 badan mendadak enakan gt badannya. Kayaknya bakal gw praktekin tiap hari. Nah masalahnya, sekarang gw lupa detail teknisnya. Hahaha.

Intinya dari yoga dan meditasi, gw belajar untuk hadir pada masa sekarang, dengerin badan secara intuitif, connect sama diri sendiri, dan nge release tension. Pengen bahas satu-satu cuma gak janji hehe.

Wednesday, June 5, 2019

Attachment

Keterikatan.

Pernah gak punya suatu barang, pas ilang ngerasa kehilangan dan kesel banget?
Pernah gak saat ada saudara/ orang tua meninggal, ngerasa kehilangan dan sedih?
Pernah gak sedih saat gak bisa mudik dan ketemu keluarga?
Pernah gak sedih saat kehilangan uang banyak?
Pernah gak merasa keluarga harus baik dan nolong?
Pernah gak merasa pacar/ pasangan harus bisa menyenangkan diri?
Pernah gak dateng ke suatu tempat mendadak syahdu?
Pernah gak merasa cemburu?

Kalau pernah atau sering, berarti diri punya attachment sama hal-hal tersebut (harta, orang, tempat, kejadian, barang). Ada keterikatan atau punya ego kepemilikan terhadap hal-hal tersebut. Jadi saat kehilangan, ada perasaan sedih, marah, kesal.

Kalau dipikir-pikir, manusia punya apa sih?
Harta dan barang hanya titipan, orang tua/anak pun bukan milik pribadi, tempat hanya tempat, kejadian hanya kejadian. 

Kadang manusia merepotkan dirinya sendiri oleh attachment yang dibuatnya sendiri. 
Misal, baru bisa ketem keluarga di hari kedua lebaran, terus sepanjang perjalanan macet 10 jam nangis karena merasa jauh dari keluarga dan gak bisa dateng di hari pertama. Padahal hari kedua pun bisa ketemu, bahkan kalau niat silahturahmi, bisa dilakukan kapan saja saat luang tidak harus saat lebaran. Dan apa gunanya juga nangis meratapi dikala tidak merubah keadaan apapun, malah bikin makin ribet.

Contoh lainnya, saat ada kerabat/ keluarga/ anak/ oarng tua meninggal, kenapa perlu nangis? kenapa perlu merasa kehilangan? mereka hanya manusia yag Tuhan ciptakan dan takdirkan bertemu yang pasti akan ada batas waktunya berpisah. Mereka bukan milik diri, hanya titipan, hanya takdir. Lalu kenapa perlu menangis? karena ada bonding? karena telah banyak kenangan yang dijalani bersama? atau hanya karena ada attachment yang kuat?

Attachment bisa menguntungkan, membuat manusia merasa bertanggung jawab, ada sense of belonging, mengembangkan hasrat me-nurtuner sesuatu/ orang/ momen. Disisi lain, banyak merepotkan dan menyusahkan diri sendiri dengan segala pemikiran-pemikiran yang berkembang dari akar attachment. Seperti lebaran harus mudik, kalau gak mudik jadi sedih. Semacam orang tua/anak harus menolong, kalau gak ditolong langsung merasa gak berharga. Semacam harta adalah miliknya yang membuat diri secure, saat mendadak ilang banyak, langsung merasa miskin. Lupa kalau semua hal hanyalah titipan dan sesuatu yang tak kekal.

Semakin tinggi attachment diri terhadap orang/harta/mmen/tempat, semakin berkembang juga belief dan dogma, semakin tinggi juga keribetan dibuat diri sendiri, semakin tinggi tingkat stress dan kekecewaan yang dihasilkan saat seseorang/sesuatu itu hilang.

Shalat atau meditasi, (menurut analisa gw) membantu manusia melepas attachment-attachment itu, sehingga diri lebih bisa menerima, belajar ikhlas, legowo, dan hidup dengan perasaan ringan nan jiwa bebas. 

Berapa banyak attachment yang kamu tanamkan?

Berapa banyak attachment yang telah kamu lepas?


Friday, May 31, 2019

Dogma

Dari kecil, taunya cuma rumah-sekolah. Itupun di sekolah tidak banyak interaksi. Jadi banyak interaksinya sama keluarga dan keluarga besar. Dengan kata lain berada di lingkungan itu-itu aja. Hasilnya apa? ya jadi sama kaya lingkungan dan dogmatis banget gw dulu.

Liat orang gak berhijab, udah buruk.
Liat orang clubbing, buruk.
Liat orang pake dress tanpa lengan, buruk.
Liat orang pake celana pendek, buruk.
Liat orang lulusan S3, wah.
Liat orang kerja dimana, wah.

Mindset dan perspektif gw sempiiiit banget. Liat sesuatu jadi sehitam putih baik buruk.
Dan hal ini mempengaruhi keputusan pilihan hidup jadi sempit juga dan berdasarkan ego.

Hingga akhirnya ngikutin insting yang meronta-ronta pengen traveling, pengen gabung kegiatan dan komunitas, berakhir ketemu banyak jenis orang baru, ke tempat-tempat baru, nambah wawasan, pengalaman, dan lama kelamaan perspektif gw pun meluas, banyak dogma yang luntur, dan less judgment. Berubah. Cara melihat sesuatu pun jadi gak sehitam putih dulu.

Yang mau di sharing,
manusia gak bisa milih mau dilahirkan dari rahim siapa, bawa gen apa, tumbuh di lingkungan seperti apa. Tapi seiring usia, manusia bisa pindah. Bisa terus mengedukasi diri, bisa terus tumbuh dan berkembang. Kalau memang mau.

Dear Allah

Dear, Allah

Terimakasih atas semua rasa yang telah hadir
Terimakasih atas semua orang yang telah hadir
Terimakasih atas semua orang yang telah pergi
Terimakasih atas semua hal yang terjadi
Terimakasih atas hari yang berlalu
Terimakasih atas kegelisahan yang datang
Terimakasih atas kedamaian yang hinggap

Terimakasih telah sangat baik.


Dear Utie












Halo Utie, 

Terimakasih telah berjuang selama ini
Terimakasih telah bertahan selama ini
Terimakasih telah sabar selama ini
Terimakasih telah sayang selama ini
Terimakasih telah menjadi diri sendiri.

Saturday, May 11, 2019

Rehabilitasi Medik

Akhirnya nulis juga tentang ini setelah 3.5 bulan “ngantor” ke rehab hampir tiap hari.

3.5 bulan ini, kerjaan gw bolak balik rumah sakit mulu. Ada aja yg diurus dan perlu dibenahi. Awalnya stress, lama-lama malah bikin depresi gw sembuh karena tiap hari ketemu dan interaksi sama banyak orang kayaknya. Orang-orang yang ditemui di RS jg baik-baik, ya 80%nya sih, karena ada aja yang annoying dan bikin emosi. 

Rehabilitasi Medik ini lama-lama kaya rumah kedua. Meski isinya manula yang abis stroke, hnp, ku bahagia aja berada diantara mereka. Cuma gak bahagia di duit aja yang makin jebol dan syaraf kejepit yang entah sembuh kapan. Alhamdulillahnya sih masih bisa aktivitas normal, jalan kaki, cuma ya terbatas (gak bisa muaythai lagi, kalau nyetir jd ribet, ya intinya jd belajar slow living). Its okay.

Di Rehab ini banyaaak sekali hal menarik dalam pengamatan selama ini. Dari mulai jenis karakter pasien-pasiennya, lucu-lucu gitu nenek2, kakek2. Lama-lama saling kenal, sering dicurhatiin sampe jadi tau kisah hidup dan masalah2nya. Lama-lama berasa antara jadincucu dan konselor haha. 

Kalau dokter ya biasa aja kaya dokter pada umumnya. Kebetulan gw dapet dokter yang kadang baik bgt, kadang nyebelin, overall gw suka karena banyak ngasih insight dan mau dengerin curhat. 

Suster dan terapisnya juga baik2, sabar2, gak semuanya care banget, tapi ada yang benrran care. Dari mulai ngasih tips n trick, teknis angkat beban, inisiatif kasih latihan, sampe anterin ke lobby (jaman awal2 susah jalan). 

Intinya, ku bersyukur, dibalik sakit kemarin, jadi dipertemukan orang2 baik, jadi masuk ke lingkungan baru, jadi happy, jadi nambah pengalaman hidup, jadi banyak belajar. 

Panjang nih kalau mau diceritain detail tiap hari fisio dibikin jurnal, bisa jadi satu buku hehe. 

Parsial.

2 tahun ini merhatiin sesuatu. 
Followers instagram.

Semenjak buku Mind Traveler launching, dan entah mention dari siapa, followers instagram bertambah pesat. 

Dari awal semua sosmed gw isinya to express. Jd bebas2 aja mau sharing curhatan, jd journal pas depresi, sharing keseharian, makanan, pengalaman cat rambut, termasuk misuh2. 

Lalu ku perhatikan, banyak yg unfollow. 
Tiap cerita yg orang nganggep negatif/ gak gamblang ngasih pembelajaran, mereka unfollow. Semudah itu lah orang follow dan unfollow. Semudah menghakimi dan berkomentar sembarangan jg tanpa mengenal dan tau situasi kondisi secara keseluruhan.

Dan thats life in the real life.
Jadi mikir, orang cuma mau yang enak2 aja buat dirinya sendiri. Cuma mau hal2 yg dianggap positif dalam kacamatanya. Cuma mau pembelajaran2 explisit yang gamblang. 

Awal2 sedih di unfollow banyak orang, lama2 bodo amat. Karena secara gak langsung jadi seleksi alam. Dan IG di private. Jd kalau udh unfollow cm krn postingan2 yg gak disukai mereka, mereka pun gak akan bisa lagi liat postingan2 lain yg dianggap baik. Kosekuensinya gitu. 

Dari fenomena ini, mulai paham kenapa banyak influencer hobby mengedukasi orang, ternyata banyak juga ya orang yg melihat sesuatu hanya dari sudut pandang yg sempit, hitam putih, dan penuh dogmatis salah benar, dosa pahala, dan mudah untuk menghakimi. Lagi-lagi seleksi alam, cocok2an. Bakal ada yg stay dan pergi. 

Kadang suka iseng jg kalau lagi tenang damai, sharing unek2, trs merhatiin brp byk yg unfollow. Banyak. Makin menguatkan asumsi dan data observasi. 

Kalau cuma mau hal-hal positif, hal-hal baik, dengar dan baca yang bagus-bagus. Maka ilmu dan insight yg di dapat ya segitu-segitu aja. Karena hidup ini dualisme positif negatif, baik buruk, gelap cerah. Semakin mau menerima ujung spektrum lainnya (buruk, jelek, negatif), makin luas juga perspektif yanh dimiliki, makin bs melihat secara keseluruhan,  dan mendapati banyak pemahaman serta insight yang berguna tidak untuk diri sendiri namun sekitar. Nangkep ga? Hehe

Tuesday, April 23, 2019

Identitas

Membentuk identitas dalam society penuh prejudice sangatlah mudah.
Hanya mengunakan sesuatu yang dianggap simbol sesuatu, maka masyarakat telah memiliki asumsi identitas sesuatu terhadap orang tersebut.

Misalnya,
Nama kamu ada siti/ muhammad, orang sudah bisa tau kamu muslim. 
dari identitas muslim itu, maka orang bisa berasumsi banyak hal tentang muslim.

Kamu pakai hijab, orang sudah bisa tau kamu muslim, dan tidak memungkiri adanya asumsi bahwa perempuan berhijab itu agamanya baik, shalatnya baik, ibadahnya baik, akhlaknya baik, mengikuti ajaran agama penuh taat dan kebaikan. Realitanya? Belum tentu kan?

Jika namamu muhamad (nama identitas muslim), tangan penuh tattoo, rambut diwarnai merah, (identitas nakal), maka masyarakat pun akan punya pandangan dan asumsi lain sekalipun hatimu sebaik mother Theresa.

Kamu pakai sarung, peci, berjanggut, maka asumsi orang pun akan menganggap orang baik, karena membawa identitas alim ustadz. Di awal, mungkin orang tak akan mengira bahwa dia pedofil (contohnya) atau penipu ulung yang tak takut dosa.

Kamu pakai baju gombrang casual berbahan linen, rambut diwarnai hijau gradasi biru, pakai tas ransel neon, pembawaan penuh kegembiraan ceria. Mungkin orang tak akan mengira bahwa kamu lulusan S3, punya otak briliant, pekerja keras nan serius, seorang muslim, taat ibadah meski tak berhijab.

Coba perhatikan atau tanya ke dirimu sendiri, seberapa sering kamu berasumsi terhadap seseorang atau sesederhana menebak identitasnya hanya dari penampilan dan pembawaannya?

Semakin sering berasumsi hanya dari apa yang dilihat, di dengar, di rasa, semakin mudah di tipu. Karena hal-hal yang sifatnya visual dan terekam panca indra itu bisa diciptakan. Semudah menentukan/ mengunakan suatu identitas untuk menciptakan persepsi dan asumsi tertentu.

Hidup dalam society bagaikan hidup dalam ilusi.
Orang saling menciptakan indentitas-identitas dan terikat oleh aturan-aturan tak baku yang kebenarannya pun masih dipertanyakan, lalu sibuk berasumsi dan menyakini bahwa itu sebuah realita yang pasti benar. Begitu terus polanya turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga nilai kebenaran menjadi abu-abu, pikiran menjadi dangkal untuk melihat lebih dalam dan menjadi kritis, orang serba instan menilai dan begitu mudah dalam meyakini sesuatu tanpa dicari tau kebenarannya.

Thursday, April 4, 2019

Dear Me

Dear me,

I love you.

Terimakasih telah bertahan sejauh ini.


Monday, April 1, 2019

Kata

Kata.
Bisa menyembuhkan.
Bisa pula menyakitkan.

Kata.
Bisa memperbaiki.
Bisa pula memusnahkan.

Kata.
Bisa menolong.
Bisa pula menjatuhkan.