Tuesday, October 1, 2019

1/10/19

Gak kerasa 3 bulan lagi 2020.
Gak kerasa sudah setahun lebih bolak balik psikolog dan psikiater.
Gak kerasa umur terus berkurang dan bentar lagi ulang tahun lagi.
Gak kerasa syaraf kejepit belum sembuh-sembuh.
Gak kerasa sakitnya jadi ngembet di punggung atas.
Gak kerasa uang habis banyak untuk berobat.
Gak kerasa banyak yang sudah dipelajari, banyak "puzzle" yg selesai.
Gak kerasa diri semakin aware dan terus membaik.
Gak kerasa adik ipar sudah mau lahiran.
Gak kerasa sudah mulai melepaskan attachment2.
Gak kerasa warna rambut sudah hampir pudar.
Gak kerasa badan naik 6kg dalam 2 bulan.
--------

Hari ini akhirnya memutuskan kembali ke psikiater dan mulai mau minum obat tambahan. Depresi gak kelar-kelar. Kembali ke dokter Cecilia di rumah sakit kesayangan, Awal Bros. Tak disangka konsultasi ada terapinya. I feel better dan pikiran lebih bener dikit, banyak pencerahan. Obat mulai diminum malam ini, semoga efek sampingnya baik-baik saja.

Thursday, September 26, 2019

Baba

Sebuah ruang penuh manula menunggu giliran terapi dan dokter. Ada sebuah ruangan kecil di dalam ruangan itu, ruangan orang berkonsultasi dan diperiksa. 

Pintu ruangan terbuja dengan teriakan sang dokter memanggil pasiennya. 

Masuklah si Baba.
Baru membuka pintu, sang dokter penuh senyum dengan posisi duduk condong ke depan berkata “kenapa?” Dengan suara halus penuh kasih bagaikan seorang ayah yang menanyakan “kenapa” ketika anaknya nangis habis jatuh dari sepedah. 

Baba sadar apa yang dimaksud oleh dokternya. Ia sadar sang dokter bertanya tentang perasaanya, perasaan sedih yang ia ceritakan sebulan yg lalu lewat pesan tertulis. Ia mendadak sedih, ingin menangis. Sedih karena selama ini tak pernah dapat kasih sayang dan empati orang tua seperti itu. Namun, Baba menahan perasaannya, mengendalikan ekspresi wajahnya. Dan berkata “ini dok kaki saya sakit-sakit lagi”.

Sang dokter kembali berbicara “kemarin teman saya menelepon, katanya sedang sedih. Saya tanya kenapa, dia tak menjawab”. 

Lalu Baba kembali menarik pembicaraan pada sakit kakinya “dok, ini sakitnya dari pinggang”.

Sang dokter tak mengubris, kembali bercerita “teman saya itu punya trauma dari sd, sudah 35 tahun traumanya masih dibawa-bawa.”

“Dok, saya tidak diperiksa?” Ungkap Baba.

Sang dokter pun berhenti sekejap lalu berkata “ya boleh deh”. 

Lalu baba diperiksa. Setelah itu kembali duduk, sang dokter pun kembali bercerita. Namun keadaan semakin emosional. Baba memutuskan untuk cepat pergi dari ruangan tersebut sebelum air matanya tumpah. Dokternya paham, dan berkata “kamu kalau ada apa-apa, chat saya aja” sambil ikut meninggalkan ruangan tersebut. 

Semakin sedih lah hati Baba. Sudah dapat empati dengan pertanyaan “kenapa”, sudah dapat insight dari cerita dokter tentang temannya, ditawari kasih sayang juga. Dan kesedihan semakin mendalam ketika ia menyadari bahwa ia mendapat kasih sayang justru dari orang lain, orang yang dikenalnya di rumah sakit, tak ada hubungan darah, tak ada urusan personal apapun. Dikala ia tak pernah dapat empati tersebut dari orang tua nya sendiri, orang pertama yang ia temui saat lahir di dunia, orang yang ada hubungan darah. 

Sepanjang perjalanan pulang, Baba nangis. Padahal dokternya biasa saja, baik terhadap pasien, senang menolong. Namun untuk keadaan Baba, itu menjadi hal yang tak biasa, terlalu intense dan emosional. 
——

Semesta memang adil.
Selalu memberikan kebaikan.
Hanya kadang justru diri yang tak siap menerima kebaikan itu, entah karena merasa tak pantas, tak berharga, tak mampu, terbayang-bayang kata-kata negatif orang tua abusif “kalau keluarga tak mampu menerimamu, apalagi orang lain”.

Padahal kenyataannya, banyak orang yang sayang pada dirinya, banyak orang yang mau menerimanya, banyak orang yang peduli. 
——

Untuk siapapun yang merasa kamu tak pantas dicintai, tak pantas disayang, tak ada yang mau menerima, berhentilah percaya itu semua. 

Kamu pantas disayang, dicintai, dan diterima. 
Jika tak dapat dari orang tua dan keluarga, semesta luas sekali, akan banyak tempat dan manusia yang bisa cocok dan sayang padamu. 

26/9/19

Suami tukang selingkuh dan ngutang. Istri bertahan berharap suaminya akan berubah. Realitanya terjadi berulang dan makin memburuk. Dan istri tetap bertahan dengan harapan suatu kelak suaminya berubah. Hingga kerja keras menggumpulkan uang, membawa pergi haji dengan harapan pulang membawa perubahan pada suaminya. 

Lalu, suaminya berubah? 
Tidak.

Tetap hobby main, hobby ngutang, hobby foya2. 

Istri tak berhenti berusaha, terus berdoa dan berharap suaminya berubah. Dengan segala banyak penyangkalan suaminya buruk, dengan segala banyak pembenaran untuk bertahan, dengan segala citra keluarga baik yang terus di tampilkan di depan publik. 

Tanpa sadar puluhan tahun telah lewat, ia terjebak pikiran dan khayalannya sendiri untuk merubah suaminya hingga lupa untuk merawat anaknya dengan baik, bahkan menanamkan segala sifat delusi dan kondependesi terhadap anaknya. Anaknya menjadi seperti dirinya. Dan pola berulang. 

Berakhir sia2. Berharap manusia berubah dikala yang bermasalahnya pun tak sadar dirinya bermasalah ataupun mau berubah. 

——
Lalu memperjuangkan keluarga besarnya bagaiman dewa. Semua yang susah dibantu seolah-olah tanggung jawabnya. Empati terhadap keluarga besarnya tinggi sekali karena merasa ia sudah hidup puluhan tahun bersamanya. Sedangkan terhadap anaknya, acuh, tak ada empati, ataupun hubungan mendalam hati ke hati. Karena merasa “siapa kamu? Kamu gak lebih lama kenal dengan saya dibanding keluarga besar saya”.

Ibunya menelepon kesepian di kampung, langsung di datangi, meninggalkan anaknya yang sedang sakit sendirian.

Keluarganya lagi susah, di tolong, dikasihani, anaknya sedang berjuang keras dan kasepian diabaikan.

Hingga akhirnya ia melihat bahwa keluarganya hanya memanfaatkan, bahwa keluarganya hanya peduli dengan keluarga inti masing-masing, kalau keluarganya tak sebaik setulus imajinasinya, kalau keluarganya tidak seberusaha keras menjaga hubungan dan menolong seperti yang ia sering lakukan, bahwa hubunganya tak seimbang antar dua pihak. Dan penyangkalan pun terjadi, tak mampu melihat realita, tenggelam dalam kesedihan dan imajinasi kebaikan keluarganya yang biasa aja namun diagungkan. 

———
Sebagai manusia, perlu belajar melihat sesuatu sebagaimana sesuatu itu secara nyata, tak dibumbui harapan ataupun ilusi. Ada kalanya perlu diperjuangkan, ada kalanya tau kapan harus berhenti. Berhenti demi kehidupan yang lebih baik. Memperjuangkan orang yang tak mau berjuang hingga merusak banyak jiwa lain yang patutu diperjuangkan itu sebuah penganiayan, alangkah tidak bijaknya. 

Disini butuh batas. Batas kapan merasa cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan beracun. Setelah 3x di selingkuhi kah? Setelah 3x rumah di gadai suami tanpa izin hanya untuk foya2 kah? Setelah 3x dipukul kasar kah? 

Batas. 
Sebuah upaya untuk menjaga diri tetap waras. Sebua upaya untuk menghargai diri sendiri.
Sebuah upaya untuk menciptakan hubungan yanh sehat.

Manusia tidak bisa menyenangkan semua manusia. Ada kalanya dibenci, ada kalanya di tidak sukai, ada kalanya di caci, biasa saja. Selama tidak merusak orang lain dna merusak diri sendiri. Orang mau sepakat/tidak, senang/tidak, ya tak apa. 

——
Selama diri tau diri seperti apa, apa yang dimau, apa yang dikejar, apa yang dikerjakan. Yausudahlah orang mau berbicara apa.
Nilai diri tak ditentukan oleh komentar orang, karena diri dibenci di suatu tempat, bisa jadi di tempat lain malah disayang banyak orang. 

——
Seandainya kamu tahu seberapa rusaknya kamu, seberapa banyaknya luka batinmu, seberapa banyaknya issue masa lalu yg tak terselesaikan, seberapa besarnya kamu merusak hidup anakmu lewat kurangnya perhatian, empati, menghancurkan kepercayaan diri, keberhargaan diri, dan menanamkan perasaan tak pantas dicintai hanya dengan sibuk mengurusi orang lain hingga kurang memenuhi kebutuhan emosi anak dan menanamkan kata-kata baik hingga anak tumbuh dalam perasaan kosong, tak berharga, tak mampu, hingga dihinggapi banyak penyakit mental merusak jiwa dan pikirannyaa hingga rusak masa depannya dikala potensinya luas biasa. Mungkin mati pun tak akan menghilangkan rasa bersalahmu. 
——

Dan saat anaknya sadar apa yang terjadi, ingin berusaha menjadi normal dan hiduo bahagia. Biarkan. Berhenti menanamkan rasa bersalah, berhenti bermain peran sebagai korban, berhenti menjadi manusia paling menderita dengan mengngkapkan segala perjuangan dan harapan imbalan yang tak sesuai imajinasi, berhenti menularkan sakit jiwamu. Jadikan sebagai bahan renungan. Renungan untuk menjadi manusia yang terus belajar menjadi baik. 

Jika tak mampu memperbaiki, maka jarak hal terbaik yang dapat dilakukan. Demi memutus rantai dan pola beracun. 

Saturday, September 21, 2019

Untuk ibu dan perempuan.

Menikah, melayani suami, hamil, melahirkan, punya anak, di kasih makan, di kenalin agama, di sekolahin, di nikahkan. Selesai. 

Sebagai anak, saya belajar. Seorang perempuan tugasnya lebih dari sekedar itu (diatas), menurut saya. 

Menikah harus atas dasar suka sama suka dan penuh tanggung jawab. Semacam ditanya “dulu nikah knp?”, orang tanggung jawab akan jawab “karena sudah siap menikah untuk beribadah dan membangun peradaban”, jawaban orang lepas tanggung jawab “ya dulu disuruh nikah ya nikah aja lah”. Sexual intercourse kebutuhan bersama mutual bukan sekedar menggurkan kewajiban sebagai istri, hamil perlu perencanaan dilakukan dlm keadaan mental dan fisik terbaik (menyelesaikan trauma masing2, menyehatkan badan, dan bertanggung jawab dengan memberi makanan baik lewat perasaan positif, nutrisi baik, pikiran positif, lingkungan positif). Melahirkan pun butuh mental yg baik, dukungan dari suami, tak peduli teknisnya mau vaginal ataupun cesar. 

Anak lahir, ia punya kebutuhan 

  • fisik (makan,minum,tidur,olahraga, pakaian, tempat tinggal)
  • Emosional (perasaan dicintai, dipahami, diterima, disayang, di dukung, ditemani). Ini di dapat lewat komunikasi hati ke hati, dipahami, diterima baik buruknya tanpa selalu menyalahkan, membandingkan, me reject, menekan, menuntut. Sesederhana menanyakan “td di sekolah ngapain aja?”, “temen kamu skrg siapa?”, “kamu sedih kenapa?”. EMPATI.
  • Spiritual. Bukan sekedar disuruh solat, ngaji, pake hijab, puasa. Diberikan awareness iman yg baik, diajarkan untuk menjadi lbh tenang dan dewasa, diberikan wisdom2 kehidupan sebagai bekalnya nanti. 
  • Intelektual. Ini pentingnya perempuan harus cerdas dan punya mental belajar untuk terus belajar. Anak gak cukup disekolahin, harus mampu jadi teman diskusinya, teman menjawab pertanyaannya sampai tuntas secara holistic (scientific, humanitarian, dan agama). Diarahkan pola pikirnya ke hal2 konstruktif, menjadi mentor kehidupannya. 

Anak kan bukan binatang yg dikasih makan, di sekolahin, selesai urusan. Ia manusia butuh kehidupan sosial dgn interaksi, butuh emotional connection dgn komunikasi hati ke hati guna mengembangkan EQ nya dgn baik, butuh mentor yg mampu membimbing ke tujuan dan cita2nya sesuai jati diri dan fitrahnya. 

Bikin anak gak mudah, hamil gak mudah, melahirkan gak mudah, ngurus anak jg gak mudah. Gak sebatas modal agama dan uang, butuh ilmu jg, butuh kedewasaan jg, butuh mental yg baik. Ya kalau mau anaknya baik. 

Bayangin deh, kamu minta anak baik sama Allah dikasih kaca yg bs bernilai milyaran. Tapi kaca itu gak kamu bentuk dgn baik, alih2 jd sesuatu yg indah, malah rusak sebelum berproses. Kamu minta anak yg baik, sama Allah dikasih grade A, tapi semua kemampuannya terbuang percuma karena keterbatasan ilmu dalam me nurtuner, bahkan byk potensinya yg gak keluar karena sering dicekokin hal2 negatif “mana bisa kamu”, “mana ada yg mau sama kamu”, “kalo mimpi jgn ketinggian”, “jadi anak bisanya cuma nangis”, “nyusahin orang tua aja”. 

Jiwa itu sama kaya fisik. Kalo dijejelin hal2 negatif, jadinya negatif, ngerasa sampah, ngerasa gak berharga, ngerasa gak mampu. Karena udah di program puluhan tahun dari kecilnya begitu sama orang tua yg frustasi dan bermasalah. Krn orang2 yg udah sehat secara mental dan batin dgn menyelesaikan semua unresolved issue nya, krn dirinya sudah positif, maka ia akan ngasih hal2 positif ke anaknya “wah hebat kamu udh bs gambar”, “wah hebat kamu jualan apel di sekolah laku”, “wah baik sekali kamu tidur tepat waktu”, “pinter sekali kamu mampu ranking 1”. “Kalau sedih nanggis aja gpp, kalau kesel ya lari aja, its okay to feel that, semua manusia jg gt kok”. Ia akan terus apresiasi anak, nurtuner anaknya, memberi cinta dan naikin self esteem nya. Dan ini hal terpenting yg bs diberikan ortu untuk bekal hidup anaknya (bukan sekolah, bukan materi, bukan makanan). 

Ngejar agama nyuruh solat ngaji puasa blabla. Tp kebutuhan2 lainnya terabaikan. Gak ada interaksi sosial, gak ada komunikasi, kebutuhan emosionalnya gak terpenuhi, gak diberikan arahan hidup, selalu dibentak, dipukul, disalahkan, dibanding2kan, diabaikan kebutuhan bekal duniawinya. Ya abis lah cuma jd sampah. Padahal anak ini bakal dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. Kan titipan. 

Dalam pandangan gw, modal sayang aja gak cukup. Butuh ilmu, butuh finansial yg baik, butuh kedewasaan, butuh keimanan yg baik dan aplikasi agama yg baik (bukan sekedar rutinitas, pelarian dr masalah, tameng defense). Baik menurut kita blm tentu hasilnya baik jika tidak dibarengi ilmu. Semacam saking sayangnya sama ikan, kasian liat ikan di air terus, alhasil diangkat ke darat diselimutin. Yg ada ikannya mati. Semacam saking sayangnya jd overprotektif sampe anaknya gak pny kehidupan sosial gak pny temen, kesepian, jd stress, EQ jd rendah, ujung2nya banyak masalah2 lain muncul ps dewasa. Niat baik tanpa ilmu tuh kebodohan terdzolim. 

Tugas perempuan bukan sekedar nurut suami, melayani, tapi juga menjadi edukator, fasilitator, mentor, teman, dan role model buat anaknya. Penting perempuan menjadi cerdas. Kalau perempuannya berkualitas, maka ia pun akan menarik orang sejenis dan selevel dengan dirinya untuk menjadi suaminya. Kasarnya, lo level 2 ya narik cowok level 2, pas punya anak sama Allah dikasih level 10 tp krn kemampuan lo berdua mentok di level 2, ya anak lo cm bs sampe level 2 jg, sisanya (8) ilang percuma sia2 gak dikembangakn dan terpakai sesuai fitrahnya. Kasian anaknya. Dan kalo udah gini jangan nyalahin anaknya yg kepinteran, harusnya orang tua yang terus belajar, kalau gak bisa ngimbamgi secara intelektual, minimal kebutuhan emosionalnya terpenuhi (kan cm butuh cinta dan EMPATI). Kalo materi ya selama kebutuhan primernya terpenuhi ya baik, gak perlu sampe nyiapin mobil/rumah buat anak. 
————
Si ini anak siapa, lulusan apa, gelarnya apa, kerja dmn, tingginya brp, putih nggak, dll. Itu mah urusan sepele. Superficial. Yg penting level dirinya selevel dan tipe yg terus terus berusaha, belajar, berkembang. Krn nikah bukan tolak ukur pencapaian, apalagi 1/2 agama berarti ilmu yg harus dipersiapkannya lbh banyak, mental hrs lbh kuat, iman hrs lbh baik, tandanya apa? Ya harus terus belajar. Perkembangan dan pertumbuhan diri jgn mentok sampe di tahap nikah aja. 
————-
Lahiran via vagina atau cesar; asi atau sufor; bekerja di kantor orang atau di rumah; itu mah hal sepele gak perlu diributin. Perempuan tetap utuh meski gak ada selaput dara, meski lahiran cesar, meski asi nya gak keluar, meski kerja dari rumah. Selama sesuai value, punya prinsip hidup, punya vision dan tujuan yg jelas. Fokusnya ke yang penting2 aja gimana caranya jalanin amanah Allah lewat anak (kalau memutuskan punya anak) tumbuh sesuai nature dirinya, bisa mekar di waktunya (jangan sampe mati sebelum mekar), fokus ke masa depan yg berdampak pada peradaban (ya nurtuner anak dgn baik). 

Beneran deh, otak tuh penting bgt dipake! Bukan buat ngitung2 hal detail dan berkalkulasi aja, tp dipake buat bikin vision, melihat big picture, bikin konsep, dan ngejalanin step by step nya. Hati jg penting dipakai, minimal belajar EMPATI deh dna berkomunikasi dengan baik, membangun bonding. Agama ya kepake ke semua aspek (kalau agamanya baik, dewasa, bijaksana, dan mampu berintegritas). 

*wuallahualam bishawab

Monday, September 16, 2019

16/9/19

Hati selalu jujur akan perasaannya, akan frekuensi yang diterimanya,
Hati, panca indra kasat mata, menerima pesan tanpa perlu kata dan bukti.
Hati-hati dengan hatimu, karena orang lain mampu merasakannya.

16/9/19

Cinta,
Tak sesempit rasa terhadap pasangan lawan jenis,
Tak sesempit rasa peduli terhadap keluarga,
Tak sesempit untuk orang-orang terdekat.

Cinta,
Penerimaan, kebaikan, kasih sayang, perhatian, dukungan, merawat,

Dokter memberi cinta terhadap pasiennya lewat perhatian dan dukungan.
Teman memberi cinta terhadap teman, lewat segala kebaikan, perhatian, dukungan, dan penerimaan.
Orang tak dikenal memberi cinta terhadap manusia lainnya lewat senyuman dan kebaikannya.

Luas sekali makna cinta,
dan tak akan habis, semakin banyak di berikan, semakin banyak pula cinta itu datang.
Tak perlu berhitung dalam mencintai, asal tak kehilangan diri asli.

Hanya saja, dalam society, ada aturan-aturan tak tertuis yang membatasi ekpresi cinta terhadap sesama. Dokter harus mampu membatasi rasa cinta terhadap pasiennya, dikala ia bisa memberikan lebih dan menyembuhkan dalam level yang lebih dalam untuk psikis yang mempengaruhi fisiknya. Teman harus membatasi cinta terhadap temannya yang berbeda jenis kelamin untuk menjaga hati pasangan dan pandangan society. Sesederhana mengurungkan niat untuk mengunjungi dan menemi temannya yang lagi di opname di luar kota, sekalipun rasa sayangnya besar. Manusia lain pun harus membatasi cinta terhadap sesama, tak bisa kita bebas mengespresikan cinta lewat sentuhan ataupun pelulan, meski sang pemberi dan penerima saling paham itu bentuk kasih terhadap sesama tak lebih dari itu.

Cinta, sebuah hal baik,
Cinta, sebuah hal positif,
Dalam ekspresinya pun terkekang segala aturan tak kasat mata, tak bisa bebas dilakukan, padahal setiap manusia butuh untuk mencintai dan dicintai. 

--------------
Kenapa ada manusia yang merasa tak dicintai meski harta berlimpah, semua kebutuhan fisik dan materilnya terpenuhi, dan punya status sosial yang baik? Karena ia MERASA tak diterima, tak dipahami, tak di dukung, tak di rawat, tak di beri perhatian yang cukup. Mau sebanyak apapun orang memberinya cinta, jika orang tersebut tidak merasa dicintai, maka cinta nya kurang, kebutuhan cintanya tak terpenuhi. Karena cinta dirasakan oleh penerima bukan pemberi. Orang merasa dicintai saat dirinya MERASA di cintai dalam parameternya masing-masing. 

Ada orang secara materil pas-pasan, keluarganya biasa, tapi ia tumbuh kuat penuh cinta dan merasa dicintai hanya karena orang tuanya bisa menerima dirinya baik buruk tanpa pernah membandingkan, me labeli buruk, dan mengucilkan.

Asa orang secara materil terpenuhi, sekolah dibiayain, orang tuanya cuti menemani di rumah sakit saat opname, tapi gak merasa dicintai. karena apa? karena ia tak pernah di dukung, gak pernah di dengar, gak pernah di pahami, bahkan tak peranh di rawat penuh kasih sesederhana ingin pipis disuruh panggil suster karena ortunya kesel tidurnya ke ganggu. 

Cinta, 
tak perlu hal besar, tak perlu mahal, tak perlu merusak diri.
berikan dengan tulus penuh kasih.
Karena sesuatu dari hati akan sampai di hati.
Sesederhana sebuah tatapan penuh kasih, penerimaan, dan dukungan, tatapan yang seolah2 berkata  "i know u can do it, i trust you" dalam diam, orang akan bisa merasakan dan jadi kekuatan buat dirinya tumbuh dan beraksi.
--------------

Cinta,
apa yang kamu rasakan?



Saturday, September 7, 2019

7/9/19

Salat satu bentuk kebebasan adalah mampu mencintai tanpa adanya attachment/keterikatan.
Mencintai tanpa harus bertemu, tanpa harus berkabar, tanpa ada perasaan insecure, tanpa ada hasrat ingin memiliki, tanpa ada keinginan menguasai.

Kebebasan perasaan/emotional.

Setelah menjalani hidup sepanjang 31 tahun, akhirnya sampai pada titik pembelajaran ini.
Melepas emotional attachment. Baru 2 orang yang mampu dilepaskan, rasa jiwa sudah seringan ini.

Thank you, Allah, for helping me cut the cord and break the attachment.

-------
Menuju kebebasan finansial, perlu kerja keras bekerja, percaya diri, dan disiplin.
Menuju kebebasan perasaan, perlu kerja keras melepas segala beban masa lalu dan segala keterikatan emosi terhadap orang-orang yang telah hinggap di hati. Belajar memaafkan dan mencintai tanpa syarat.
Menuju kebebasan pikiran, hanya perlu menjadi diri sendiri, jujur terhadap diri, dan berani bersuara tanpa takut akan penilaian orang. 

Dear myself, 
Thank you for improving yourself
Thank you for helping yourself.
Thank you for being yourself.

Wednesday, September 4, 2019

4/9/19

Thank you for loving me,
Thank you for nurtuning me,
Thank you for staying.

Friday, August 23, 2019

23/8/2019

bounaries pertama diajarkan di keluarga.
contoh, tentang kepemilikan barang.

Lahir dari dua lingkungan yang berbeda.
yang satu sangat rapih dengan barang orang. jadi gak boleh pake barang orang tanpa ijin, lebih baik beli sendiri, minjem kalau udah super mepet, dan itupun dijaga dan dikembalikan secepatnya. gak boleh masuk kamar orang seenaknya, gak ikut campur urusan orang, gak mengomentari pilihan hidup orang, kalau makan bareng bayar masing-masing. Kesannya seperti masing-masing, tapi dari boundaris yang sehat ini, maka sedikit sekali masalah yang muncul, karena masing2 orang jadi belajar untuk bertanggung jawab dengan dirinya sendiri dan tidak melaggar batas seseorang (finansial, materi, mental, emosional) sehingga orang lain pun merasa nyaman. boundaries yang sehat pun bikin kepercayaan diri seseorang jadi sehat jg.

yang satu, mungkin konsepnya ririungan/kebersamaan tapi jadi gak punya boundaries. Mobil orang dipakai tanpa izin, sampai kotor, pas orangnya mau pake, bingung mobilnya kemana. Masuk kamar orang tanpa izin, minjem barang orang tanpa izin, makan makanan orang di kulkas tanpa izin, seolah-olah apa yang ada di rumah itu milik bersama termasuk masalah orang-orangnya, jadi hobby ikut campur, ngomongin, interupsi pilihan hidup orang. Hasilnya ya muncul banyak masalah, karena nge cross limit orang secara materi, mental, emosiona, bahkan spiritual. Sesederhana pergi bareng, gak bawa alat mandi, mengantungkan pada orang lain. Padahal orang tsb bawa alat mandi sudah disesuikan dgn kebutuhan hariannya. Nolak dikatain pelit dan jd bahan omongan, ngasih tiba2 abis sebelum waktunya terus repot harus beli lagi. Jadi rasa tanggung jawa hdp diri sendirinya kurang, ada sikap mengantungkan pada orang lain, nge cross limit orang yang berakhir beragam masalah muncul.

sayangnya, orang-orang dengan boundaries yang kurang ini, gak akan sadar ada yg salah dan masalah di dirinya. Ia akan sadar  jika bertemu beragam jenis orang dan lingkungan DAN akan menjadi lebih baik jika ia bs ambil pembelajaran dan mau belajar.

Keluarga, lingkungan pertama seseorang. Jika di keluarga gak diajarin boundaries, agak sulit mendapati boundaries yang sehat kelaknya, tapi ini bisa diperbaiki (menurut gw sih hehe) selama orangnya aware dan mau lebih baik. Kalau gak punya boundaries, hidup kita bisa kacau khususnya secara emosional. Apalagi kalau salah satu orang tua kita punya gangguan kepribadian, misal  salah satunya dulu waktu kecil pernah berantem ma sodara terus dijauhin, trs jadi sakit hati dan trauma yang menghasilkan dirinya jadi people pleaser sampe dia tua (krn traumanya gak disembuhin, bahkan sadar dirinya sakit aja nggak), alhasil pas punya anak, kalau keluarga besarnya kenapa2,pasti selalu mendahulukan keluarga besarnya karena takut dimusuhin, anaknya jd terabaikan secara emosional dan berakhirnya punya gangguan menta bahkan jadi ketularan jd people pleaser jg dan ya gak akan bahagia hidup orang2 yg selalu mendahulukan orang lain dengan mengerus dirinya sendiri. minimal jd muncul anxiety.

--------------
konsep keluarga yang salah, akan menghasilkan mindset yang kurang baik yg akan menghasilkan perilaku yang memicu masalah dan berakhir gangguan mental dan kepribadian. Bingung jelasnnya. Konsep keluarga adalah segalanya, adik kakak nemenin hidup lebih lama dari anak sendiri sehingga harus di dahulukan, itu kan salah. Nanti di akhirat yg bakal ditanya dan dimintai pertanggung jawaban tuh ttg Anak dulu baru keluarga besar, karena anak itu titipan, kalau keluarga besar takdir pertemuan (kita jd adek/ kakak, tanggung jawabnya sebagai sodara).

Contohnya, anak sakit, ibunya di luar kota ulang tahun. Anaknya gak bisa ikut ke luar kota karena lagi sakit, trs anaknya dipaksa ikut, masalahnya kalau ikut yg ada malah makin drop meski cuma duduk di mobil. Akhirnya gak ikut, terus mamahnya batal ke luar kota menemui ibunya karena nemenin anaknya yg sakit. Normal kan?

Nah masalah muncul, ketika mamahnya sedih gak bisa dateng ke ulang tahun ibunya, tapi gak bertanggung jawab dengan perasaan dan pilihannya, akhirnya jadi marah dan nyalahin anaknya "gara2 kamu, mamah jd gak bs datang ke ultah nenek". si anak lg sakit, digituin, jd muncul perasaan bersalah, jd sedih jg merasa dirinya gak berharga dan gak pantes dapet cinta dari ibunya (karena kejadian model gini sering). Karena hal ini, si anak tumbuh dgn self esteem dan self love yg rendah. merasa bertanggung jawab dgn perasaan orang lian tapi lupa untuk peduli sama perasaannya.

contoh lain, ortu buka dan ngecek handphone anaknya diam2, daftarin sekolah tanpa diskusi/ngasih tau anaknya bakal sekolah dmn, pake harta benda anaknya tanpa izin karena merasa dirinya orang tua, jual aset anak yg dititipn tanpa izin, dll.

Ini contoh orang tua nge cross boundaries anak secara mental, emosional, dan fisik.
Dan jangan kaget kalau nanti anaknya jd gak punya boundaries dan gaka bs menghargai boundaries orang lain termasuk orang tuanya. atau malah jadi stress ang lama2 bs meledak jadi gangguan jiwa.
----------------

boundaries itu limit.
dimulai dari mengenali diri, tidur jam brp, bs tidur kalau keadaannya gmn, makanan apa yg bs di toleransi perut, gak nyaman dalam obrolan apa, gak nyaman saat pergi sama siapa, stress kalo uang punya brp, spiritual keganggu kalo apa, capek kalo aktivitas seberat apa, happy kalo ngapain, dll.

Manusia punya batas. punya toleransinya masing-masing yang saling berbeda. baik secara fisik, materi, emosional, mental, maupun spiritual, dan boundaries ini ada untuk menjaga semuanya pada tempatnya sehingga menghasilkan individu yang sehat jiwa raga. boundaries setiap orang beda2, gak bs ada istilah "alah cuma gt doang nangis", ya berati daya tahan mentalnya segitu, atau ada bahasa "ya duit masih jutaan, gak mau minjemin", ya batas uang amannya segitu krn dia jg pny kebutuhan lain yg udah diperhitungkan, atau komentar "cemen amat makan cabe satu mencret seminggu", ya berarti limit fisiknya segitu gak bs makan pedes.

-----------
Kalau udah terlanjur rusak gt boundariesnya sampe jd punya banyak gangguan di psikis dan fisik, jangan pesimis, bisa kok berubah asal diri sadar dan mau. Gak ada yg gak bisa, kalo ada orang bilang "gak mungkin" selama diri terus berusaha, cuekin aja. Dan progress orang beda2, ada yang emang pelan2 keliatan progressnya, ada yg dr luar gak keliatan tp tiba2 melesat berubah di akhir. Jangan underestimate apalagi jd pesimis "gak akan bs berubah! buktinya gak ada perubahan apa2". omongan orang tai kaya gt, sekalipun psikolog yg ngomong ttp aja tai, karena gak bs menghargai pola dan ritme pace nya orang.

Thursday, August 15, 2019

15/8/19

Lahir dari lingkungan beragama tp judgmental penuh dogma. Benar salah, dosa pahala, semuanya jadi hitam putih. Sibuk beribadah untuk bekal di akhirat tp males explorasi ilmu, nambah wawasan, dan mengembangkan diri. Hasilnya? 

Ya banyak yg sakit jiwa tp pada gak sadar.
Pola asuh yg ngaco,
Lingkungan yg toxic,
Awareness yg rendah,
Ilmu yg minim,
Wawasan yg sempit.

Ujung2nya malah bikin keadaan makin parah dan orang sekitar makin rusak.

Buat apalah jilbab diributin tp masih suka gosip ngomongin orang sampe orangnya depresi.

Buat apalah tiap shalat ke mesjid, kalau tiap hari abis banyak rokok yg asapnya ngerusak paru2 manusia sekitarnya.

Buat apalah silahturahmi kalau hanya formalitas tanpa kehadiran hati yg utuh.

Buat apalah doa doa kalau hanya sebagai pelarian dari kemalasan menyelesaikan masalah. 

Buat apalah mengaji tiap hari, kalau tak ada ilmu yang membuat diri semakin bijaksana.

Buat apalah nasehat jika empati melihat keadaan orang pun tidak ada, jika melihat masalah pun tidak bisa. 

Buat apa agama, jika hanya membuat diri semakin egois? 

Buat apa agama, jika membuat diri semakin menutup mata dari segala ilmu pengetahuan dan informasi lain?

Buat apa agama, jika hati tidak terbuka dan sayang terhadap sesama?

Buat apa agama, jika hubungan sesama manusia tak baik? 

Bukankah agama itu aturan yg mempermudah manusia hidup di dunia dan petunjuk untuk mendapati pahala sebagai bekal di akhirat? 

Tapi kok banyak orang beragama di sekitar yang tidak mencerminkan kebaikan agamanya. Baik hanya pada orang yg baik thdp dirinya. Baik jika ada perlu. Baik krn mengharap pahala bukan krn sayang thdp makhluk. Ditambah kebodohan yang tak pernah dihilangkan, menghasilkan anak keturunan penuh gangguan jiwa atas pola asuh dan lingkungan. Lalu saat kambuh, pelariannya ke agama. Gak ada usaha untuk merenung, menganalisa, belajar, lalu berubah. Hmmm.

Dan saat bisa ngeliat semua bullshit itu, malah bikin frustasi. 

Orang mati, gatau dirinya mati, yg ngerasain sedih ya orang yg masih hidup. Sama kaya orang bodoh, gak sadar dirinya bodoh, yg kena dampak kebodohannya banyak. 



Saturday, August 10, 2019

10/8/19

Kadang, ada rasa sepi teramat dalam mengikis hati. Rasanya sepi sekali. 

I feel so lonely. 
Sometimes i dont feel belong there, belong here. I dont fit in everywhere. I cant get why people do what they do. I just want to go to home, but i dont know where my home. 




Thursday, July 11, 2019

Manusia #1

Sudah 6 bulan bolak balik di rumah sakit hampir setiap hari, merhatiin banyak hal.
sampe di momen,


Dokter pergi ke rumah sakit untuk kerja,
kerja untuk mendapati uang untuk nafkah keluarganya
kerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya secara pikiran, sosialisasi, aktualisasi
kerja untuk menolong orang demi memenuhi kebutuhan batinnya


Perawat pergi ke rumah sakit untuk kerja,
kerja sebagai rutinitas dalam kehidupan
kerja untuk mendapati uang untuk survive di dunia
kerja untuk menjalani tugasnya.


Resepsionis, satpam, farmasi, petugas bpjs, petugas kantin, penjaga parkir,
cleaning service, office girl/boy, semua datang untuk kerja.
kerja untuk memenuhi kebutuhan duniawi
tuntutan kebutuhan diri, keluarga, sosial
menjalani tugasnya tak lebih dari itu.


Pasien datang untuk berobat
berobat demin sembuh
berobat untuk bertahan hidup
berobat untuk memenuhi kebutuhan dirinya yang kesepian.

Setiap orang datang punya tujuannya masing-masing
dan ironisnya, tak lebih dari memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya.

Fokus menjalani hidup untuk bertahan hidup.

Apa mereka peduli dengan orang lain?
Saat menolong memberikan kebahagian untuk dirinya, 
Saat merawat memberikan rasa manfaat untuk dirinya merasa berharga,

Saat menyelesaikan tugas memberikan kelegaan bagi dirinya untuk merasa aman, aman dari penilaian negatif, aman dari tugas terbengkalan, aman dari peneguran, aman untuk dapat lanjut bekerja, aman untuk finansialnya, aman untuk dirinya.

lagi-lagi, semua dilakukan untuk dirinya.
bukan murni untuk pasien, bukan untuk perusahaan, bukan untuk kemanusian, bukan untuk cinta universal. Dilakukan secara transaksional, untung rugi, dan demi dirinya sendiri.
ini baru potrait di rumah sakit, memang tidak 100%nya seperti ini.


Lalu kuperhatikan, adakah yang benar-benar tulus? yang benar sayang terhadap sesama atas dasar cinta bukan kasihan? yang benar-benar merawat menolong atas dasar panggilan jiwanya demi orang lain yang tak dikenalnya? yang benar-benar mau hingga mengorbankan diri demi keselamatan orang lain?

Semua dilakukan atas dasar sistem, aturan main, yang dibungkus dalam kata hak dan kewajiban, untuk mejaga keseimbangan , hingga semua pihak MERASA tidak dirugikan. karena kebanyakan manusia ingin untung, ingin aman, ingin nyaman. Semua cari aman.

Kadang ku bertanya,
adakah dokter dan suster yang merawat pasiennya penuh kasih seperti ia menolong dan merawat dirinya sendiri?

Adakah petugas dan karyawan yang bekerja murni atas dedikasi dan loyalitas pada perusahannya?
atau banyak manusia pada umumnya memang berharap timbal balik dan menghitung-hitung untung rugi untuk dirinya?


Rumah sakit tak lebih dari sebuah bisnis dan semua yang ada di dalamnya tunduk pada sistem.
Kadang kalau merhatiin lebih dalam, suka sedih.  Sebenarnya, orang aware sama apa yang dilakukannya kah? sadar bahwa dirinya berada dalam sebuah sistem kah? sadar bahwa realita hidup membuat manusia hidup dalam comfort zone nya kah?


Kalau dalam sebuah jalanan, orang sibuk mengendarai kendaraan masing-masing, sibuk menyebrang, sibuk jalan, marah saat macet-macetan, semua hiruk pikuk dibawah sana. Tapi adakah orang yang mau keluar dari situ dan naik ke atas gedung tinggi untuk melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana? Dan saat bisa melihat dari sudut pandang lebih jauh, sudut pandang burung, ada pemahaman yang di dapat yang tidak akan pernah disadari jika terus-terusan berada di jalanan dan sibuk dengan tujuan dan kendaraan masing-masing, if you know what i mean.

Realitanya, banyak orang yang lebih senang tenggelam alam rutinitas dan zona nyamannya.
Sejauh ini, ketemu banyak orang, sedikit yang berani keluar dari rutinitas dan zona nyamannya untuk melihat lebih tinggi dan mendapati pemahaman yang lebih luas. Manusia terlalu takut untuk merasa tak nyaman, terlalu takut untuk keluar dari keteraturan, terlalu takut untuk berbeda, terlalu taku untuk mengambil resiko, terlalu takut untuk melihat kenyataan.

Saturday, July 6, 2019

Lari

Lari dari perasaan sendiri
Lari dari masalah
Lari dari ketidaknyamanan
Lari dari kenyataan
Lar dari kebenaran
Lari dari diri sendiri.

oh dear, how pathetic people.
Terjebak dalam ketakutan dan ilusi.
Hidup dalam sistem turun temurun.

Rumah

Rumah, tempat berlindung.
Rumah, tempat rasa aman ada.
Rumah, tempat merasa nyaman.
Rumah, tempat diri merasa diterima.
Rumah, tempat kembali saat diri hancur.
Rumah, tempat cinta ada dan hadir.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki rumah.
Tak merasa dipahami, disalahpahami, bahkan disalahkan.
Tak mendapati keamanan, bahkan kecemasan dan tekanan.
Tak diterima sebagaimaan diri aslinya, bahkan penuh penilaian dan tuntutan.
Tak dicintai tulus, semua cinta datang bersyarat.

Sayangnya, setiap manusia membutuhkan rumah dalam dunia ini.
Sayangnya, rumah yang dicari tak pernah ditemukan.
Sayangnya, kita terus hidup berumur panjang.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari realita hidup di dunia yang penuh ilusi.
Pada akhirnya, kita perlu menguatkan diri untuk terus mampu bertahan.
Pada akhirnya, hanya diri sendiri yang mampu memenuhi itu semua.

Membuat rumah untuk diri sendiri.
self love, self compassion.
i love you dear myself.
kamu aman, kamu dicintai, kamu diterima sebagaimana dirimu, kamu adalah tempat ternyaman dan aman untuk dirimu.
terimakasih telah berjuang selama ini, terimakasih untuk bertahan selama ini, terimakasih untuk terus merawat diri.

Sad

Dari kemarin rasanya sedih banget.
Sedih dan Kecewa.

Berasa anak kecil yang udah ngebayangin disneyland, nunggu berbulan-bulan penuh excitement, tiba2 batal.
Berasa seorang kasih yang menunggu kekasihnya bertahun-tahun taunya ditinggal pergi begitu saja.
Berasa seseorang naif yang dengan mudah percaya dan memberikan sepenuh jiwanya kepada orang yang peduli dengan dirinya pun tidak.

Kadang percaya sama orang yang cuma manfaatin.
Kadang mengorbankan diri, mendahulukan orang yang hanya menjadikan diri keset.
Kadang berjuang untuk orang yang peduli pun tidak.
Kadang mengangap orang sebagai keluarga, dikala ia hanya melihat diri sebagai kenalan.
Kadang mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu hanya satu arah.

Dan sampe sekarang masih sedih.
i feel so deep sadness inside.

Wednesday, July 3, 2019

Mungkin orang yang menyimak proses hidup seseorang dan bertoleransi atas keberagaman, dia gak akan pernah mempertanyakan hal yang menjadi keputusan seseorang. Karena di setiap keputusan, ada alasan tersendiri.

Kadang pertanyaan dilontarkan hanya untuk memenuhi rasa penasaran bukan kepedulian.
Kadang kita perlu belajar mana yang perlu dijawab, mana yang dibiarkan saja.

Monday, July 1, 2019

Memutus Rantai

Kita tak bisa memilih terbentuk dari sperma siapa, dalam keadaan seperti apa, mau dilahirkan dari rahim siapa, punya ayah ibu biologis seperti apa (sehat secara fisik kah? sehat secara mental kah? sehat secara psikis kah? sehat secara spiritual kah?).

Anak.
tak minta dibuat,
tak minta dikandung,
tak minta dilahirkan.


Saat sperma bertemu ovum, menjadi embrio, berkembang menjadi janin, lalu lahir sebagai bayi. Makhluk hidup baru ini tak tau apa2, ia lahir ke dunia baru, tak mengenal siapapun kecuali perasaan-perasaan ibunya, kecuali rekaman keadaan lingkungan saat ia di kandungan. Ia lahir dalam keadaan tak berdaya. Butuh cinta, butuh kasih, butuh pijakan, butuh bimbingan, butuh dibantu membuat pondasi yang kuat untuk kehidupannya kelak.

Sayangnya, tak semua orang membuat, mengandung, dan melahirkan anak dalam keadaan sehat dan penuh kesadaran. 

Banyak dalam realita, dua manusia yang sama-sama rapuh menikah atas dasar tuntutan sosial dan berharap bisa saling mengisi satu sama lain tanpa mau membereskan dirinya terlebih dahulu (membereskan trauma-traumanya, menyembuhkan luka batinnya, membenahi mindsetnya, mengedukasi dirinya). Lalu luka batin, insecurity, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, pikiran negatifnya ia tularkan ke anaknya tanpa sadar. Seperti seorang ayah yang waktu kecilnya suka dipukul, maka ia akan memukul anaknya saat ia frustasi, saat ego nya tersenggol, saat luka batinnya tersentuh. Ia akan menularkan itu, seperti pepatah hurting people hurt people. Begitupun seorang ibu yang dulunya merasa sedih, kesepian sesederhana pernah dimusuhin sodaranya waktu main saat masih kecil, ia akan memproyeksikan rasa sakitnya ke anak perempuannya (orang lebih muda memproyeksikan dirinya ke jenis kelamin yang sama) dengan membentuk anak perempuannya seperti dia, menjadi orang yang kesepian dan sendirian. Dengan mengabaikan kebutuhan emosional anaknya, gak memberikan empati, melarang anaknya bergaul, tidak boleh mengekspresikan emosi, sampai anaknya mirip dia, rusak dan rapuh.


Lalu sang anak rapuh penuh tularan luka batin orang tuanya, saat ia menjadi orang tua, ia pun akan menularkan luka batin tersebut terhadap anaknya, dan begitu terus dari generasi ke generasi.
Pertanyaannya,

Mau sampe kapan menularkan luka batin dan merusak anak keturunan?
itu anak cuma titipan loh, yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti (kalau kamu percaya adanya akhirat dan Tuhan). itu anak punya purpose of life dan karakternya masing-masing loh, kenapa dirusak dan menjadi tak seharusnya?


Lalu, gimana cara mutusin rantai tersebut?
1. Jadilah aware.
Sebelum aware, perlu bergaul dan berada di beragam lingkungan biar bisa melihat dunia dari sudut pandang lain, biar bisa melihat beragam jenis manusia lain, biar bisa sadar sama pola dan skema-skema lain. Jadilah aware, sadar sama keadaan diri, sadar mana sifat asli, mana projection dari orang tua dan lingkungan, sadar sama masalah-masalah diri. Luangkan waktu untuk merenung dan berefleksi.
2. Penerimaan
Menerima segala kelebihan kekurangan diri, terima segala luka yang telah berlalu sebagai bagian diri, terima punya orang tua yang begitu, terima kalau diri adalah produk dari orang tua dan lingkungan dengan segala cacat yang ada. Menerima, tidak menyalahkan siapapun termasuk tidak menyalahkan diri sendiri. Lalu benahi satu persatu. 
3. Self improvement.
Mulai lakukan apa yang menjadi kelebihan diri, jangan takut, jangan cemas. Mulai menjalani mimpi dan purpoe of life diri. Mulai hidup penuh kesadaran, mindfullness, dan  enjoyment.

--------------

Kalau ibumu cerai dengan ayahmu lalu menularkan traumanya dengan bilang laki-laki brengsek hingga kamu anak perempuannya takut menikah, berarti ibuu sedang menularkan luka batinnya padamu. Kamu mau hidup waras sesuai realita, kembali padamu.

Kalau ayahmu pernah gagal, takut dinilai buruk. Lalu semua mimpi dan mentalmu dijatuhkan dengan kata-kata gagal sebelum memulai dikala kamu sangat berkompenten dan mampu, maka ayahmu sedang memproyeksikan ketakutan dirinya atas kegagalan terhadapmu.

Kalau ibumu pernah dikatain tak berharga oleh suaminya, hingga slef worth nya jatuh dan membekas jadi trauma, lalu ia melampiaskan rasa sakitnya dengan bilang kamu gak berharga, maka ibu mu sedang menjadikanmu samsak sampah luka batinnya. Kebayang gak jika ini terjadi saat sang anak masih kecil? hanya ibunya yg ada, lalu di cekokin label-label negatif seperti "kamu tidka berharga", maka ia akan memandang dirinya tak layak, tak berharga, pantas ditindas, pantas dikasari, pantas dapat perlakuan buruk, dan tak pantas bahagia. Padahal anak ini brilian, punya bakat menjadi leader, punya potensi menjadi sociopreneurs yang sukses yang mampu membangun satu negara bahkan lebih. Lalu ia hidup seperti sampah, membuang waktunya, menyia-nyiakan potensinya, hanya karena tidak ada satupun yang sadar dan menyadarkan diri aslinya, dan memberikan feedback positif, lingkungan dan orang pertama yg ia lihat di dunia (orang tuanya) selalu melabeli dirinya sampah tak berharga. Satu manusia rusak, satu generasi rusak.
----------------

Menikah tidaklah mudah.
Jangan menikah hanya karena umur, hanya karena tuntutan sosial, hanya karena kesepian, hanya karena berharap ada yang mengisi lubang kosong dalam diri.

Bagaimana orang yang rusak menarik orang yang utuh?
Bagaimana orang yang rusak bisa membenahi orang yg rusak?

Orang menarik orang sesuai frekuensi dirinya. JIka ingin mendapat pasangan waras dan utuh, jadilah waras dan utuh terlebih dahulu.


Memiliki anak tidaklah mudah.
Bukan sebatas urusan bisa hamil, bisa melahirkan, bisa bayar persalinan, bisa menafkahi, menyekolahkan.

Apakah diri sudah sehat dan siap bertanggung jawab?
Apakah diri sudah punya ilmunya dan terus mau belajar?
Apakah diri sudah siap lahir, batin, mental, psikis, spiritual, untuk merawat titipan Tuhan sesuai jati diri aslinya?

----------------

Sudah cukup segala kebodohan dan ego dalam perusakan keturunan dan generasi.
Sudah cukup rantai terikat, perlu diputus demi melahirkan jiwa-jiwa baru yang sehat.
Sudah cukup segala ilusi society menutupi realita.
Sudah waktunya untuk sadar, bebenah demi kehidupan yang lebih baik.
Mau sampai kapan hidup dalam kotak hitam hanya karena takut keluar padahal diluar jauh lebih bebas, luas, sehat. 

Setiap pertumbuhan dan transformasi butuh ketidaknyamanan. Termasuk ketidaknyamanan saat melihat masa lalu, saat menerima segala luka diri, saat menerima kenyataan, saat berusaha tumbuh dengan sagala rintangan yang ada.

Jadilah manusia yang sadar.