Tadi siang makan di Aglioo Jogja. Terus lanjut makan eskrim di tempo gelato.
Ya seperti biasa, sendirian.
Lagi asik makan es krim penuh fokus, ada cewek di sebelah nyapa
"Halo kak, rambutnya bagus. di cat pake apa? keren banget"
"Haii, pake xxx, makasih ya".
Apresiasi.
Ditengah kehidupan penuh kritik dan judgment, masih ada orang - orang yang dengan mudah mengungkapkan kesukaan sesuatu terhadap orang laing dan mengapresiasi. Nice.
Sudahkah kalian mengapresiasi diri sendiri dan seseorang hari ini?
Mari menebarkan cinta :D
Wednesday, January 22, 2020
Tuesday, January 21, 2020
21/1/20
2014
"Kamu disayang susah ya"
"dulu aku punya mantan dari keluarga broken home, cara ia memandang cinta beda. Pisah ranjang jg termasuk broken home. Ortu gw sampe detik ini setua ini masih suka pelukan dan sayang2an".
2017
"apa itu namanya cinta? jika mengungkit apa yang dilakukan?"
"apa itu cinta ika berharap sesuatu?"
2019
"menurutmu cinta itu apa sih?"
"pengertian cinta menurutmu apa?"
---------
2020.
Aku bertanya dalam hati,
Apakah selama ini aku dicintai?
Apakah selama ini aku pantas dicintai?
Cinta itu apa?
Bagaimana ku sanggup menerima cinta jika diri pun tak cinta pada diri sendiri?
Bagaimana ku mampu mencintai diri jika rasa cinta pun tak pernah kurasakan?
"Kamu disayang susah ya"
"dulu aku punya mantan dari keluarga broken home, cara ia memandang cinta beda. Pisah ranjang jg termasuk broken home. Ortu gw sampe detik ini setua ini masih suka pelukan dan sayang2an".
2017
"apa itu namanya cinta? jika mengungkit apa yang dilakukan?"
"apa itu cinta ika berharap sesuatu?"
2019
"menurutmu cinta itu apa sih?"
"pengertian cinta menurutmu apa?"
---------
2020.
Aku bertanya dalam hati,
Apakah selama ini aku dicintai?
Apakah selama ini aku pantas dicintai?
Cinta itu apa?
Bagaimana ku sanggup menerima cinta jika diri pun tak cinta pada diri sendiri?
Bagaimana ku mampu mencintai diri jika rasa cinta pun tak pernah kurasakan?
Sunday, January 19, 2020
Tahun Lalu
"Kamu tau dir kamu kan?
Kalau kamu tau diri kamu,
Omongan orang gak usah di denger".
- Baridah
Kalau kamu tau diri kamu,
Omongan orang gak usah di denger".
- Baridah
Monday, January 13, 2020
Dogma Yang Terlepas
Aku dibesarkan dengan dogma "siapa yang mau temenan sama kamu?", "siapa yang manu nerima kamu?", "kalau keluarga gak bisa nerima kamu apalagi orang lain". "jadi orang bisanya cuma merusak" saat ku membuat kesalahan kecil. Saat sifatku bertentangan dengan lingkungan tumbuh, pasti aku yang dianggap anomali. Saat hal-hal yang tak sesuai keinginan dan harapan ortu, jadi aku yang disalahkan, dianggap cacat. Saat lingkungan terkecil tak bisa menerima, ibu ku mendogma dengan pikiran hitam putih seolah-olah keluarga itu pusat duniaku dimana menjadi tolak ukur keberhargaanku sebagai manusia.
Dogma itu terus tumbuh dalam jiwa dan pikiranku selama puluhan tahun hingga menjadi core belief bahwa aku buruk, aku salah, aku tak berharga, aku tak mampu apapun.
Saat ku tumbuh dewasa, bergaul dengan beragam jenis orang, berada di lingkungan baru, dogma itu perlahan luntur oleh realita. Realitanya, banyak yang bisa menerima diri apa adanya, banyak yang sayang, banyak yang mau temenan, dan hidup tak sehitam putih dogma ibu.
Wajar manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan. Wajar manusia membuat kesalahan. Wajar manusai ada yang suka dan tidak suka. Wajar manusia tidak cocok di suatu lingkungan. Dan itu semua bukan berarti dunia hancur karena diri buruk seutuhnya.
Terimakasih ibu, engkau telah mengasuh ku dengan dogma penghancur keberhagaan diri.
telah erawat ku penuh rasa bersalah dan ketidaklayakan. Terimakasih telah memproyeksikan luka batinmu terhadap anak perempuanmu. Terimakasih telah membuatku rusak puluhan tahun hidup tersesat tanpa arah diliputi rasa tak berharga dan inferior.
Dan Teriamakasih semesta, telah membuat ku sadar dan bebenah diri, agar perusakan generasi ini tidak berlanut ke generasi selanjutnya.
Tuesday, January 7, 2020
7/1/20
Thank you for caring me
Thank you for being kind
Thank you for cheering me up
Thank you for your emphaty
Thank you for listening me
Thank your for your lesson.
I love you without your knowing
Its time to cut this soul tie.
Wednesday, December 25, 2019
24/12/19
Banyak anak2 dari keluarga menengah-menengah kebawah yang “cacat mental” karena pola asuh yg buruk. Tidak jauh dari masalah finansial, ortunya meledak muntah ke anak saat frustasi, anak nangis sikit di bentak, anak gak nurut dikit di abuse. Frustasi gak bs menghadle masalahnya sendiri. Apalagi kalau istrinya kesel sama suami yg nafkahnya kurang “bapak kamu tuh blabla”, anaknya jd pelampiasan jg. Apalagi kalau istrinya lbh gede gajinya lalu suami merasa jatuh harga diri, meledaknya ke anak.
Banyak pula anak2 dari keluarga menengah-menengah ke atas yg “cacat mental”. Terabaikan. Karena ortunya pada sibuk kerja bahkan sibuk dgn selingkuhannya masing2.
Mau kaya mau miskin mau nenengah, kalau seseorang blm matang secara mental, dewasa secara pikiran, dan baik secara agama, anak jd korban. Pdhl anak itu titipan. Logikanya, kalau kamu dititipin barang sama orang, yg kamu lakuin apa? Orang2 beriman baik akan amanah menjaga dengan baik. Orang yg miskin tanpa iman akan ngejual/ dipake sendiri. Orang kaya tanpa iman akan diabaikan tuh barang krn merasa bs beli lg.
Urusan anak gak sepele (in my opinion). Bakal dimintai pertanggung jawaban dunia akhirat poh itu. Maka ganjarannya si anak harus nurut krn tanggung jawab sebagai orang tua besar (jika dijalanin dengan baik maka anak gak bs ngebales apapun). Realitanya hal itu hanya dipake sebagai bentuk kekuasaan untuk mengontrol anak. “Surga itu di telapak kaki ibu, jgn ngebantah ya” (saat anak aserif). “Jd anak jg ngelawan. Dosa. Masuk neraka” (saat anak gak mau jd PNS/ gak mau nikah sama pilihan ortunya/ saat beda pendapat).
Susah jd anak. Kaya boneka. Ya boneka ketidakpuasaan ortu akan dirinya, boneka samsak pelampiasan emosi ortu, boneka ngurusin akhirat ortunya. Ini hanya terjadi dengan keluarga disfungsi yg ortu nya pda gak “waras”. Sayangnya banyaaaak. Krn orang berkeluarga gila hirarki macem di kantor, landasannya mendapat hormat dgn anak nurut dan mendapat kebanggaan atas pencapaian anak jd banyak tuntutan, bukan landasan unconditional love dan nurtuner sesuai nature anak masing2.
Aku blm pny anak, hanya memposisikan sebagai pengamat dan sebagai anak dr ortu disfungsi. Semoga saat jd orang tua bs jd orang dewasa yg bertanggung jawab secara fisik, finansial, mental, psikis, spiritual. Dan ini dimulai dgn membenahi value dan pola pikir ttg pernikahan. Untuk apa nikah? Kenapa mau nikah? Kenapa harus nikah? Untuk apa? Lalu kenapa harus punya anak? Untuj apa anak? Dan untun apa kita hidup?
Apakah hidup sebagai rutinitas menjalakan aturan society kah? Lahir-sekolah-kerja-nikah-beranak-sibuk kerja- pensiun sibuk pengajian-mati-lalu berulang pd generasi2 selanjutnya tanpa benar2 tau apa yg diinginkan dlm hidupnya. Jika untuk beribadah, ibadah seperti apa? Dr jalur mana yg ingin dikejar? Sekolah pun masuk ibadah kalau tujuannya memanfaatkan kecerdasan yg Tuhan kasih dan ilmunya di aplikasiin bantuk banyak orang. Jd IRT pun ibadah, bekerja pun ibadah. Jalur ibadah banyak bs dr mana2, nah ini dipilih berdasarkan kesadaran diri kah? Atau hanya mengikuti pola atas2nya saja? Termasuk saat menikah, beneran buat ibadah? Tp kok jaga amanah Tuhan (anak) aja arogan dan abusif?
Tuesday, November 26, 2019
26/11/2019
Apa itu namanya keluarga, jika peduli dan baik pilih-pilih?
Pilih -pilih berdasarkan kedekatan, kesamaan nasib, dan kenyamanan?
Apa itu namanya keluarga, jika interaksi jika dirinya sedang butuh bantuan?
dan mendekat jika diri ini sedang berada di puncak?
Apa itunamanya keluarga, jika banyak menghakimi dan mengatur seolah-olah paling tahu yang terbaik?
Apa itu namanya keluarga, jika tak ada support di kala sulit dan penerimaan terhadap diri?
Apa itu namanya keluarga, jika hadir di acara keluarga lain atas dasar tidak enak?
Apa itu namanya keluarga, jika baik atas dasar timbal balik atau karena ada tujuan tertentu?
Apa itu namanya keluarga, jika memberi angpao di hari raya kepada keponakan berdasarkan keadaan finansial orang tuanya seperti santunan fakir miskin? bukan atas dasar sayang dan kasih terhadap keponakannya.
Apa itu namanya keluarga, jika cari aman dengan jaga jarak saat sodaranya sedang bermasalah?
Apa itu namanya keluarga, jika senang membicarakan kekurangan saudaranya lain secara massal dengan keluarga lainnya?
Apa itu namanya keluarga, jika tak ada apresiasi terhadap pencapaian saudara lainnya?
Apa itu namanya keluarga, jika sakit hati terhadap saudaranya yang lain, langsung membuat kubu dan menarik masa untuk ikutan memusuhi?
Apa itu namanya keluarga?
Apakah darah selalu lebih kental daripada air, membuat semua pembenaran terhadap hal-hal yang sudah tidak sehat dan merusak?
Apakah hubungan darah, membuat ikatan untuk terus bersama meski mengerorogoti jiwa diri?
--------------------------
Monday, November 25, 2019
25/11/19
Sebentar lagi 2019 mau selesai.
Terimakasih untuk waktu yang masih bisa dirasakan,
Terimakasih untuk segala ujian yang masih dipercayakan,
Terimakasih untuk segala pembelajaran yang hadir,
Terimakasih untuk segala pertemuan yang terjadi,
Terimakasih untuk segala pertolongan yang datang,
Terimakasih untuk bisa berterimakasih.
Terimakasih untuk waktu yang masih bisa dirasakan,
Terimakasih untuk segala ujian yang masih dipercayakan,
Terimakasih untuk segala pembelajaran yang hadir,
Terimakasih untuk segala pertemuan yang terjadi,
Terimakasih untuk segala pertolongan yang datang,
Terimakasih untuk bisa berterimakasih.
Saturday, November 16, 2019
16/11/19
Ku cuma manusia biasa yang punya kekurangan dan berdosa juga. Hanya ingin mengutarakan apa yg ada di pikiran.
Jaman sekarang banyaaak banget yang berhubungan badan (zina) tanpa ikatan pernikahan. Yang penting suka sama suka, selesai. Dan pernikahan hanya sebatas kertas. Bahkan banyak yg bilang “lebih bermoral hidup bersama secara damai tanpa pernikahan daripada hidup bersama dlm pernikahan lalu berpisah”.
Bahkan salah satu dokter gw pernah bilang “sexual intercourse itu gak perlu nikah. Yg penting suka sama suka. Nikah hanya untuk tertib administrasi”.
Ya gak salah. Kalau diliat dr sudut pandang mereka ya benar.
Karena ada pola pikir seperti itu, maka banyak jg orang yg nikah krn ngebet pengen sex. Atau krn banyak orang nikah untuk halal secara sex makanya pola pikir sex tanpa pernikahan itu muncul ya?
In my opinion,
Gatau kenapa di dasar hati terdalam, gw sangat menjauhi zina. Ketemu orang pernah zina aja suka mual (pdhl awalnya blm tau dia suka zina), ada perasaan jijik gt meski cm mild. Zina memang gak ada urusannya sama moral. Zina haram, sesuatu yg di larang oleh Allah, berarti dampaknya besar. Yang analisa efeknya mungkin gak terjangkau oleh akal manusia. Buat saya, agama diciptakan untuk “mengatur”, dan memberi “petunjuk”.
Gw lepas jilbab, dosa? Iya. Dosa gak ngikutin aturan agama. Tp gak ada yg berubah sama diri gw selain penutup kepala. Orang ttp respect, gak ada yg macem2. Sampe mikir, respect itu di dapet dr menjaga kesucian bukan sebatas penampilan (in my opinion). Nanti ada aura yg bikin orang respect aja. Sama kaya orang yg blm pernah zina merasa mual di sekitar penzina. Kayaknya secara natural ada reaksi2 seperti itu, gatau kenapa. Coba perhatiin dan rasain sendiri deh...
Tp kalau masturbasi gw setuju. Selama GAK MEMBAYANGKAN/ BERFANTASI APAPUN alias fokus sama badan sendiri semacam garuk tangan krn digigit nyamuk. Masturbasi yg bener2 self love dan explorasi untuk mengenal badan sendiri. Dan dilakukan secara sadar krn diri butuh tp terbatas fisik (gak bs olahraga berat misalnya), jgn krn terstimuli film2 porno (big2 no bgt ini gak bagus buat otak). Gmn ya jelasinnya, intinya masturbasi jg butuh awareness yg baik biar sampe ke titik bukan sekedar carnal desire doang.
Tuesday, November 12, 2019
12/11/19
Kalau semua orang berbuat baik atas dasar
- tuntutan profesi
- aturan sosial
- tata krama
- takut dosa
- biar dapet pahala
- biar gak dibenci
- biar gak keliatan buruk
- biar image dan reputasinya terjaga
- biar orang balik baik
- biar urusan jd mudah
- dsb
Ku jadi bertanya2,
Apakah orang baik murni karena hatinya sayang sama makhluk hidup lainnya itu beneran ada?
Giliran ada yg murni baik karena hatinya sayang thdp semua makhluk, hidupnya abis dimanfaatin dan dijadiin keset orang.
Sunday, November 10, 2019
6/10/19
What Is.
Melihat realita merah sebagai merah, biru sebagai biru, kotak sebagai kotak.
Tidak semua orang baik ingin berteman. Ada yang karena sopan santun, tata krama, basa basi sosial, menjaga hubungan (agar tak punya musuh), adapula karena kepentingan.
Tidak semua orang cuek jahat. Ada yang karena bertoleransi, ada yang karena sibuk dengan dirinya, ada yang karena sedang punya issue, ada yang memang tak peduli.
Pergi ke sebuah pulau, mengajak teman bertemu, ia menolak. Tak bertanya, tak mau diajak bertemu, menolak kontak, dan tak berusaha bertemu. Ya berarti memang begitu. Tidak ingin bertemu dan mungkin tidak menganggap diri sebagai temannya juga.
Ada yang tau di pula, langsung bertanya lokasi diri dimana, mengunjungi, bersilahturahmi, bahkan menawarkan diri untuk menemani jika masih di sana. Ya berarti menganggap teman, karena usahanya mutual. Sama-sama bertemu, berusaha, dan mengapresiasi.
Untuk sebagian orang, melihat dan menerima realita adalah hal mudah. Untuk sebagian lainnya, mungkin sulit. Terbayang-bayang "what if" dan terjebak ilusi positif pikiran sendiri meski jelas-jelas sudah beracun atau hubungan hanya satu arah (pertemanan/ pekerjaan/romatisme), hanya satu pihak yang berjuang.
Perlu belajar melihat kenyataan sebagaimana nyatanya sesuai fakta. Setelah itu butuh kemampuan menerima realita tersebut dengan netral (mindfulness).
Semenjak yoga dan meditasi, kemampuan melihat dan menerima realita meningkat.
Thank you diri sudah belajar.
16/10/19
Bulan ini, ada yang dipelajari.
Menjadi dewasa adalah ketika diri tak perlu menjelaskan sesuatu, menjustifikasi, berusaha mengontrol orang dan keadaan, dan menerima saat diri disalahpahami.
Orang akan menangkap sesuai kemampuan dan pemahamannya masing-masing. Hal itu bukan tanggung jawab diri untuk membuat orang mengerti sesuai dari apa yang dimaksud dan dari perspektif diri.
Membiarkan orang memiliki ruang berfikirnya sendiri. "Nanti juga ngerti sendiri". Dan saat kebaika ataupun kebenaran disalahpahami, hal yang perlu diingat: kebenaran tetaplah kebenaran sekalipun tak diungkapkan. Kebaikan tetaplah kebaikan yang akan dibalas adil oleh semesta, tak perlu menjelaskan maksud diri.
10/11/19
Banyak masa sulit datang silih berganti,
Orang yang dianggap dekat, dianggap keluarga, dianggap teman, hilang.
Sulit dalam keadaan sendiri, orang-orang itu hanya ada dikala diri mereka sedang sulit dna butuh orang sebagai pendengar dan tempat sampahnya. Giliran diri lagi super susah melebihi kesulitan-kesulitannya, mereka byebye.
Bukan hidup namanya jika tidak adil, karena semesta adil, Tuhan maha baik.
Ia datangkan orang-orang tak di duga dari arah yang tak disangka-sangka untuk memberikan oencerahana, membantu, bahkan ada yang menemai dalam setiap (sejauh ini) masa sulit. Dan dikala kesulitan itu telah terlewati, orang-orang ini hilang dengan sendirinya, namu tetap ku ingat dalam hati dan mendoakan diam-diam semoga kehidupan mereka selalu diberkati dan dipermudah.
Wednesday, November 6, 2019
6/11/19
20:20
I am so Happy.
Semalem tidur malem jam 11an, terus jam 4 pagi pas subuh bangun, tidur lagi. Bangun jam 8an masih super ngantuk, lemes, tiduran di kasur sampe perut bunyi-bunyi. Akahirnya jam 10 paksain diri keluar kamar dan beli makan (gak go food), biar badan gerak dan kena matahari. Pulang dari makan bubur, minum arcalion (vitamin otak dan biar gak lemes), tetep aja lemes. Tidur seharian, males banget keluar. Banyak yang pengen dikerjain tapi fisik gak mendukung.
Sore. tiba-tiba tante kosan ketok kamar, ingetin bayar kosan. Sebenernya bayar besok gak apa-apa. Akhirnya abis maghrib maksain diri keluar rumah, belanja buat stock makanan dan ke atm. Udah pilih go car, tiba-tibe feeling gak enak, akhirnya ganti gojeg. Gojeg datang, baru keluar jalan gede langsung macet gak gerak, gataua da apa, macet dari segala arah gak gerak sama sekali tuh mobil-mobil. Disitu aku happy, happy ngikutin insting yang ternyata membawa pada kebaikan (naik gojeg dan gak kena macet lama-lama), happy percaya sama insting sendiri, happy bikin keputusan yang tepat. Terimakasih diri telah belajar untuk kembali percaya pada insting diri sendiri. I am so happy.
Terus pulang, langsung seger badan, ON gw malem kayaknya nih otak dan fisik. Langsung food preparation dengan bersihin, potong2, masukin wadah dan taro kulkas. Terus beres-beres kamar, makan cemilan lumpia semarang (akhirnya kesampan) yang di beli di supermarket tadi, asin sih ya yaudahlah hehe. Terus sekarang lagi nulis blog.
Udah mau cerita itu aja. intinya happy percaya sama insting sendiri dan bikin keputusan yang tepat.
Saturday, October 12, 2019
Penerimaan
Stasiun padat berisi, hilir mudik orang memenuhi ruang dengan gema pengeras suara bercapur teriakan manusia satu sama lain memanggil dan mencari.
Aku duduk dalam diam memperhatiakn orang yang berlalu lalang, mencari seorang sosok temannya teman yang akan pergi bersama. Tiba-tiba ada mata yang saling bertemu, ada perasaan sepertinya ini orang yang dicari, ternyata benar. Namanya Vilda, teman satu kampusnya Ratih. Ratih adalah seorang yang mengantikan ku di kantor setelah resign.
Kami bertiga masuk ke dalam kereta. kereta bisnis yang seperti kereta ekonomi. Dengkul saling bertabrakan antar penumpang di depan. 8 jam berlalu, sampai di sebuah stasiun pagi buta dengan udara dingin nan lembab. Kota yang terkenal dengan makanan gudeg nya. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah bude nya Ratih.
Sampai rumah, kami bebersih, lalu bersiap tidur mengganti waktu tidur yang hilang sepanjang perjalanan yang habis dipakai mendengarkan seorang bapak di depan kami bercerita panjang dan menahan rasa tak nyaman badan duduk berjam-jam.
Mata baru terpenjam, alarm telepon genggam milik Vilda berbunyi. Aku yang sangat lelah dan baru hampir tertidur mendadak kesal, satu bantal terlempar keras menuju Vilda oleh tanganku. Vilda dengan gesit mematikan alarmnya. Lalu kami bertiga tidur.
Bangun tidur, bersiap-siap untuk jalan-jalan. Vilda tak membahas soal bantal melayang dengan kasar atas perbuatanku. Kami tak membahas dan tak mempermasalahkan. Lalu teringat, jika kejadian itu terjadi pada orang lain, mungkin orang akan marah, akan membalas, akan bermusuhan, namun tidak dengan Vilda. Ia menerima dan bertoleransi terhadap sikapku yang memang tidak baik. Disitu ada sebuah penerimaan, penerimaan terhadap keburukan orang lain, penerimaan terhadap keadaan seseorang, sebuah toleransi dan empati.
Thursday, October 10, 2019
New Life #1
Hari kedua memulai kehidupan baru.
Semalem gak bisa tidur karena ada suara mesin air berirama, bikin stress dengernya.
Sehabis adzan subuh sempet ketiduran sejam, bangun-bangun mendadak insecure. Terus panik, terus cerita ke temen, terus idiingetin tujuan awal dan jalanin step by step. Jadi tenang lagi hahaha.
Semalem gak bisa tidur karena ada suara mesin air berirama, bikin stress dengernya.
Sehabis adzan subuh sempet ketiduran sejam, bangun-bangun mendadak insecure. Terus panik, terus cerita ke temen, terus idiingetin tujuan awal dan jalanin step by step. Jadi tenang lagi hahaha.
Tuesday, October 1, 2019
1/10/19
Gak kerasa 3 bulan lagi 2020.
Gak kerasa sudah setahun lebih bolak balik psikolog dan psikiater.
Gak kerasa umur terus berkurang dan bentar lagi ulang tahun lagi.
Gak kerasa syaraf kejepit belum sembuh-sembuh.
Gak kerasa sakitnya jadi ngembet di punggung atas.
Gak kerasa uang habis banyak untuk berobat.
Gak kerasa banyak yang sudah dipelajari, banyak "puzzle" yg selesai.
Gak kerasa diri semakin aware dan terus membaik.
Gak kerasa adik ipar sudah mau lahiran.
Gak kerasa sudah mulai melepaskan attachment2.
Gak kerasa warna rambut sudah hampir pudar.
Gak kerasa badan naik 6kg dalam 2 bulan.
--------
Hari ini akhirnya memutuskan kembali ke psikiater dan mulai mau minum obat tambahan. Depresi gak kelar-kelar. Kembali ke dokter Cecilia di rumah sakit kesayangan, Awal Bros. Tak disangka konsultasi ada terapinya. I feel better dan pikiran lebih bener dikit, banyak pencerahan. Obat mulai diminum malam ini, semoga efek sampingnya baik-baik saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)