Monday, September 7, 2020

Putusnya Attachment dan Cord

Dalam hidup, kita terikat secara emotional maupun pikiran terhadap manusia lain, material, maupun dogma. Ada yang disadari, ada yang tak disadari. Ada yang mudah untuk dilepaskan dan diterima, ada yang butuh waktu tahunan bahkan puluhan tahun untuk membebaskan diri dari hal tersebut.

Terikat secara emotional (baik krn cinta/ sakit hati/ dendam) dengan seseorang, saat terpisahkan dengan keadaan, jarak, waktu, bahkan dunia, apakah diri bisa dengan mudah melepaskan ingatan dan perasaan terhadap orang tersebut? 

Terikat dengan nilai-nilai budaya yang diyakini dan di junjung, saat melakukan suatu hal tanpa sengaja atau terpaksa yang bertentangan denga nilai budaya yang dipegang, apakah diri mampu melepaskan diri dari rasa bersalah dan berdosa dari hal tersebut?

Terikat dengan harta benda, saat  mengalami kebangkrutan atau kejadian yang menelan semua harta benda, apakah diri mampu melepaskan perasaan kehilangan atas kepemilikan tersebut dengan cepat?

Jawabannya, bisa iya, bisa tidak.


Saat diri mampu menerima dan melepaskan dari ikatan emosional thdp pasangan yg selingkuh, orang tua yang meninggal, teman yg menyakitkan, orang baik yg disayang, rasanya bagaimana?

Saat diri mampu melepaskan nilai budaya sebagai pemahaman bukan bagian identitas diri, apakah saat melakukan kesalahan yang bertentangan dengan nilai tersebut, diri mampu memaafkan diri lebih mudah?

Saat diri mampu memahami bahwa semua yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan Tuhan, melepaskan diri dari rasa memiliki, apakah saat diri kehilangan harta benda akan terasa berat dan membuat stress?


Memutuskan attachment dan cord, mampu membantu diri hidup lebih ringan, mampu membantu diri menikmati setiap momen dan proses, menghargai present moment, dan menyehatkan diri sendiri.


Beberapa tahun ini, menjelang tidur, aku menutup mata, membebaskan pikiran dan hati memilih ikatan yang muncul saat itu, lalu memvisualisasikan ada tali yang menghubungan ku dengan benda/dogma/ orang tersebut. Lalu memutus tali tersebut sekuat tenaga. Tali tipis butuh bbrp hari (di aku) untuk benar2 putus dan rasanya beban di diri berkurang. Pernah ada attachment bagaikan besi dengan diamter 2m menancap dari hati ke hati orang tersebut, butuh waktu setahun hingga akhirnya bisa memutuskan itu, capek banget prosesnya. Setelah keputus, rasanya lega banget, jiwa bebas dan wellbeing kembali sehat.

Monday, August 24, 2020

Perpanjangan

*ini cerita kisah, bukan ngomongin orang. Focus on value, moral, and insight ya.

Beberapa tahun lalu, di perjalanan pulang dari tempat kerja, ada berita uwa meninggal. Sontak rasa sedh melanda dan langsung menayakan alamat lengkap untuk langsung pergi ke rumahnya naik gocar. Setelah dipikir, lebih baik pulang ke rumah nenek dulu dan berangkat bareng dengan orang rumah. Nenek sudah berangkat duluan, dan di rumah masih banyak orang yang pergi masing-masing. 

Singkat cerita sampai lah di rumah uwa. Sanak saudara menanyakan kemana ibu, saya bilang sedang di Thailand dari kantornya. Lalu beberapa om dan uwa berkomentar "teteh disuruh ibu ya kesini", "teteh ngewakilin ibu ya", dan kalimat-kalimat sejenis. Sampai di titik, kenapa saya dilihat sebagai perpanjangan dan wakil orang tua? Kenapa mereka gak melihat saya sebagai keponakan yang memang datang atas keinginan sendiri karena kepedulian dan rasa kasih terhadap uwa? Kenapa saya dikait-kaitan dengan orang tua? Apa pentingnya jg ibu menyuruh saya mewakili dirinya, memang menghadiri kematian sanak saudara itu diabsen layaknya meeting kantor yang butuh perwakilan saat yang bertugas tak dapat hadir?

Selama di rumah tersebut, saya memperhatikan, setiap orang sibuk dengan orang-orang yang dianggap "penting", seperti para orang tua, saudara berumur, tetangga, rekan kerja. dan para sepupuh pun bareng sama keluarga intinya masing-masing. Disitu saya merasa sendirian banget, bener-bener sendirian. Kemudian, saat shalat jenazah, cuma satu saudara yang gak memetingkan keluarga intinya aja, dia menyapa "sini, disini aja shalatnya" sebelahnya, dikala saya tersisih hingga barisan terbelakang sesendirian. 

Hari semakin malam, bingung mau pulangnya gimana. Akhirnya saya pulang bersama istri om, nebeng gocar sepupuh. Itu pun turunnya di pinggir jalan terus lanjut nyebrang dan jalan kaki sampai rumah. Sampai rumah, saya merenung "gini ya saat datang ke acara keluarga tanpa orang tua alias sendirian, ya hasilnya sesendirian meski dikelilingin orang-orang satu darah. Mereka melihat saya sebagai anak ibu, bukan sebagai keponakan layak anaknya sendiri, bukan sebagai sepupuh yang dianggap kakak/adiknya sendiri". Dan realita kenyataan tersebut saya terima. 

Sebelumnya, ada beberapa kejadian sejenis. Kalau diperhatiin, kadang ada orang2 menolong/ nganterin/ nengok karena takut dianggap ini itu, dengan kata lain motivasi bukan dari gerak hati spontannya. Hal kedua yang diamati yang sering terjadi adalah kalau ada yang bermasalah pasti sekeluarga ikut-ikutan/ kebawa-bawa. Misal ortu bermasalah, anaknya ikut2an musuhin orang yang dianggap musuh ibunya. Anak bermasalah, ortunya belain dengan ikut2an musuhin orang yang dianggap menganggu wellbeing anaknya. 


Sunday, August 16, 2020

16/8/20

Kadang mikir,
Kalau kangen sama orang, orang itu kangen jg ga?

Sebenernya perasaan itu dua arah ga?

Pernah ada momen kangen bgt sama seseorang, bawaannya udh pgn cerita banyak kalo ketemu. Pas ketemu, orangnya senyum excited jg dan dengan happy siap mendengarkan. Disitu sadar, oh ternyata perasaan kita sama dan dua arah, secara natural connect. 

Pernah jg ketemu 2 orang temen. Sebut saja A dan B. Pas ngobrol2, si A ini menyudahi dan ngajak B pulang. Disitu gw ngerasa si B ini ada perasaan gak enak dan kaya tau aja gw msh pgn ngobrol. Trs jalan ke depan kita dan berpisah. Mereka ke kiri, gw ke kanan. Baru bbrp langkah, merasa ada yg ngeliatin, pas nengok, ternyata si B lg ngeliatin dgn tatapan yg bikin sedih (haru), trs jd pgn nangis dan berakhir balik badan lanjut jalan cepet. 

Disisi lain, pernah ada temen “gw abis ngobrol sama lo, kepikiran berhari2”. Trs gw bingung, emang wkt itu bahas apa ya. Dia kepikiran berhari2 di kala gw gak inget sama sekali. Berarti tandanya pikiran dan hati kita gak connect, gak dia arah. 

Dr bbrp kejadian kaya gt,
Jd bertanya2, apa petanda kalau kita berada dalam hubungan dua arah? Dmn satu sama lain saling bs merasakan hal yg sama? 

Tuesday, August 11, 2020

Hari Raya

Takbir menggema sepanjang malam

Aku terjaga dengan jam tidur berantakan.


Subuh berkumandang dilanjut takbir haru

Tak lama langkah para tetangga menuju masjid 

Dan aku pun mulai memasuki alam mimpi.

Sang merah sedang datang di bulannya.


Terbangun pukul 2 siang, sendirian, belum mandi, belum makan.

Hari raya terasa seperti hari-hari biasa, tak ada yang spesial.

Aku beranjak ke dapur mencari makanan di kulkas.

Adzan Ashar berkumandang, menelepon adik di luar kota.


Malam mulai mengantikan terangnya siang

Teman mengucapkan selamat hari raya,

Bertanya bangaimana lebaran di musim corona

Aku diam karena tak ada yang berubah.


Sudah lama tak menjadikan mudik sebagai keharusan.

Sudah beberapa tahun lebaran sesendirian tanpa bertemu siapapun.

Lalu apa bedanya lebaran saat corona dengan lebaran sebelumnya?

Hari Raya tetap menjadi Hari Raya dimanapun diri berada dan sekalipun sendirian.


Tak perlu memberatkan diri dengan segala budaya yang menjadi keharusan.

Harus mudik, harus bertemu ortu, harus bertemu sodara, harus kumpul,

harus beli baju baru, harus beli mukena baru, harus makan ketupat,

harus makan opor, harus bagi angpau, dan keharusan ini itu lainnya.


Tuesday, August 4, 2020

Trauma

Bagaimana jika trauma yang dialami telah berubah menjadi patologi?
Apakah dengan memaafkan akan terhapus dan hilang?

Layaknya lidah yang terpotong, 
Apakah dengan memaafkan akan mengembalikan fungsi lidah?

Bagaimana jika patologi yang muncul merusak kehidupan seumur hidup?
Apakah mendekatkan diri pada Tuhan mampu menyembuhkan?

-----------------------
Patologi,
Personality disorder, Mental illness, Substance abuse.

Orang punya gangguan kepribadian karena trauma menumpuk semasa pertumbuhan masa kecilnya,  lalu dikucilkan hingga ia dewasa bahkan seumur hidupnya. Menambah luka yang terus dalam dan banyak. Alih-alih kehidupan sosial menjadi area terapi, malah memperparah.

Orang yang punya mental illness, mendapat stigma. Ironinya stigma tersebut datang dari para tenaga medis dan terapis. Banyak pula disepelekan oleh orang-orang tak teredukasi tentang hal tersebut. alih-alih membaik, malah meningkatkan angka bunuh diri.

Orang terkena narkoba, eating binge, kecanduan sex, dihujat, dinilai rendah, dipaksa mendekatkan diri pada agama, tanpa diselesaikan akarnya. Trauma masa kecil, luka batin yang menjadikan false belief terus menguasai hati dan pikiran. 
------------------------

Orang dengan mudah berkata "maafkanlah", lalu berlalu.
Orang dengan mudah berteriak "kurang agama", lalu mencibir.
Orang dengan mudak berkomentar "kemasukan jin", lalu menghakimi.
Orang dengan mudah berkhotbah bagaimana seharusnya bersikap, menjalani hidup, dengan otak kosong tanpa mengetahui masalahnya apa dan proses seseorang menjadi begitu.

Orang-orang tanpa empati.
Mengandalkan keyakinan akan Tuhan tanpa usaha untuk teredukasi.
Mengandalkan logika atas kejadian saat ini tanpa melihat sejarahnya.
Mengandalkan pemahaman bak tetesan air dilaut tanpa analisa mendalam.
------------------------

Trauma.
Memaafkan mengurangi beban diri, namun banyak hal yang perlu dibenahi bahkan proyek seumur hidup. Bukan seperti penyakit patah tulang yang tinggal operasi.
Memaafkan menjauhkan dari dendam, sehingga diri mampu fokus untuk mengobati di masa sekarang demi masa depan yang lebih baik, namu tak menyembuhkan.
Memaafkan sebagai bentuk menyayangi dan menghargai diri sendiri, sehingga tak menambah luka-luka menjadi-jadi.
------------------------

5/8/20

Berjalan tak tentu arah, tersesat dalam hiruk pikuk perkotaan.
Riuh tanpa jeda, semua sibuk. Sibuk mengurusi diri masing-masing.

Berjalan sampai ke hutan, tak tau jalan keluar kemana.
Bertemu seseorang menjanjikan cahaya terang dalam kegelapan.
Tak disangka semakin tenggelam dalam kegelapan hutan.
Tersesat tanpa arah dan ditinggal sendirian.

Berjalan dalam kepincangan, menahan sakit dalam pacuan.
Semua berlari, kencang tak teralihkan, berlomba dalam kemenangan.

Tuesday, July 28, 2020

Kebebasan

Dari lahir, kita sudah diberikan identity oleh sekitar, identitas anak siapa, dari keluarga apa, agamanya apa, dan lain sebagainya.

Selama perjalanan, tak jarang, orang tua bahkan orang sekitar ikut campur terhadap urusan pribadi. Mengatur dengan siapa harus berteman, mengatur harus punya pasangan seperti apa, mengatur rutinitas ibadah, mengecek keimanan, memilihkan sekolah, memilihkan jurusan, mengatur jalan karir, mengatur pernikahan seperti apa, ikut campur tentang keputusan mamiliki ketrunan, cara mendidik anak, bahkan memberikan banyak nasehat yang tidak diminta.

Membimbing, mengarahkan, dan mengatur menjadi tipis batasannya.
Hirarki usia menjadi utama, berkeyakinan bahwa orang lebih tua pasti tau yang terbaik untuk orang yang usianya lebih muda. Realitanya belum tentu. Banyak orang berumur mentalnya masih kekana-kanakan, banyak orang mendapati pengalaman yang tidak dibarengi kemampuan berefleksi yang menghasilkan kurangnya kebijaksanaan, banyak jg orang berumur yang hidupnya hasil dari proyeksi trauma orang tuanya alias tidak menjadi diri sendiri bahkan tak mengenal dirinya dan menjalani hidup secara bebas.

Hidup di disini (ya tidak semuanya) serba diikut campuri, di doktrin, dijejeli dogma.
---------

Ada seorang muslimah baik sekali nan taat, ternyata orang tuanya beda keyakinan agama. Orang tua nya mampu merelakan anaknya untuk memilih keyakinannya sendiri. Ada juga yang menjadi agnostik dan keluarganya tetap baik. Kalau itu terjadi sama diri sendiri bagaimana? Bisa-bisa dimusuhi sekelurga, bahkan dicoret dari akte keluarga.

Tidak mudah bagi orang tua untuk memberikan anak kebebasan dalam memilih jalan spiritualnya sendiri. Tidak mudah bagi orang tua untuk menyadari bahwa anak bukanlah perpanjangan dirinya, namun individu yang memiliki kedaulatan penuh terhadap dirinya. Tidak mudah juga bagi orang sekitar untk tidak menjudge dari sudut pandang benar sala menurut belief nya dan menghargai keputusan seseorang.

Seberapa bebas kah seorang manusia untuk memilih?
- Memilih jalan spiritualitas
- Memilih orientasi seksual
- Memilih untuk menikah dan memiliki anak
- Memilih jalan karir
- Memilih bagaimana menjalani kehidupan
- Memilih kebahagiannya
- Memilih jalan hidupnya.

Apakah di umur sekarang yang dianggap dewasa dalam sudut pandang society, kita benar-benar menjadi individu yang independent? Independent menjadi diri sendiri, memilih jalan hidup sendiri dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Atau masih hidup dalam bayang-bayang orang tua, lingkungan sekitar, dan dogma-dogma?

Dan kenyataan yang perlu diterima,
Semakin diri menjadi diri sendiri, semakin sedikit orang yang mau dan bisa menerima.
Semakin nyaman dengan dikitnya penerimaan dan validasi, semakin independent diri.

Saturday, July 25, 2020

25/7/20

Apakah yang dilakukan saat ini adalah benar-benar yang diinginkan?
Atau hanya sekedar mengisi waktu, menghindari usikan sekitar?

Apakah yang diusahakan saat ini adalah benar-benar mendekatkan pada tujuan?
Atau hanya ledakan energi ke segala penjuru tanpa arah?

Apakah yang dikejar saat ini adalah benar-benar sesuai tujuan?
Atau hanya berputar dalam kegelapan tanpa cahaya?
------------

Apakah yang dilakukan saat ini adalah benar-benar yang diinginkan?
Apakah yang diusahakan saat ini adalah benar-benar mendekatkan pada tujuan?
Apakah yang dikejar saat ini adalah benar-benar sesuai tujuan?

Aku menutup mata, berharap esok pagi menemukan jawabannya.
Dan bangun dalam keadaan yang sama, pertanyaan yang sama.
Berlalu dari waku ke waktu, jawaban itu tak kunjung datang.

Kesibukan menenggelamkan perasaan diatas logika.
Kecepatan membiaskan diri mengenal keinginan.
Keriuhan menutup hati memberikan jawabannya.

Wednesday, July 8, 2020

Parasit

"/pa·ra·sit/ n 1 benalu; pasilan; 2 organisme yang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya" - KBII

Parasit ada dimana- mana, mungkin orang di sebelah kita, rekan sekantor, teman, bahkan pasangan sendiri. Ada orang-orang yang hidupnya senang mengambil untung dan manfaat bagi dirinya tanpa peduli dengan orang yang dirugikannya, semua berpusat pada kepuasan dan kepentingannya. 

Seseorang yang membantu orang lain untuk menaikan self esteem nya hingga membuat orang yang dibantunya merasa hutang bida dan bergantung padanya hingga ia merasa berkuasa dan bisa memaikan orang tersebut seperti boneka. Ada model begini.

Seseorang yang datang dengan menawan menawarkan kerjasama, lalu memanipulasi untuk rekannya bekerja penuh dan hasilnya di klaim sebagai hasilnya demi dapat penghargaan untuk menaikan self worth nya. Ada juga model kaya gitu.

Seseorang yang berkata bahwa dirinya hebat, mampu punya kendali hidup, menyebut dirinya guru, membolak balikan fakta untuk pembenaran dan gak berani melihat kebenaran untuk menutupi insecurity dirinya. Hingga orang-orang sekitarnya mempertanyakan kewarasan dirinya masing-masing atas realita yang terjadi. Model kaya gt ada.

Seseorang yang selalu butuh "victim"/ supply untuk memuja-muji dirinya sebagai kebutuhan untuk merasa dirinya berharga dan secure dengan membuat orang merasa terbantu padahal hanya dimanfaatkan, dimana saat sudah habis "energi" dari supply/ victim nya ya dibuang gt aja. Model gini jg ada.

Parasit. 
Bisa dalam bentuk materi/ uang, status, keberhargaan diri, sense of self, dimana semua yang ia cari didapatkannya dari sekitar dan orang lain dengan cara yang merugikan dan merusak orang lain.

Hanya orang-orang insecure dan lemah di dasar jiwa nya yang berakhir hidup sebagai parasit dengan segala teknik manipulasi nya. Karena orang secure dan kuat akan mampu berdiri sendiri, jika pun bersingungan dengan orang lain, akan memberikan keuntungan yang mutual, bahkan ia bisa memberi banyak ke sekitar tanpa mengambil apapun karena dirinya sudah utuh. 

8/7/20

Hidup akan lebih mudah saat diri merahasiakan masalah, rencana, dan keputusan.

Friday, July 3, 2020

3/7/20

Beberapa tahun kebelakang, rajin mantau instagram. Banyak influencer dan psikolog yang bahas tentang edukasi seksual. Suatu topik yang dianggap tabu. Lalu mereka jualan topik atas dasar ke-tabu-an nya. Dan yang bahas topik sex education atas dasar tabu lama2 jadi banyak, lama2 jd membosankan, lama2 udah gak bisa lagi deh jualan atas dasar tabu. Kalau diperhatiin, bukan topik sex education yg jd jualannya tapi tabu nya yg narik perhatian orang2. Pdhl kalo niat mau belajar, bisa baca2 buku, kamasutra, tantra, jurnal, artikel, nonton video edukasi di youtube, ngobrol sama orang2 yg udah sexual active, kalau ada biaya ya tinggal nanya2 ke psikolog/obgyn. Ya cuma orang banyak yang gak mau ribet/ susah2 belajar, pengennya yang instant dan gratisan. Alhasil ya jualan influencer yg sbenernya B aja topiknya bs jd heboh. Heboh bukan krn kualitasnya, justru heboh karena audience nya yg malas edukasi diri sendiri secara intense dengan baca dan nyari sendiri dengan telaten.

Beberapa tahun kebelakang, apalagi beberapa bulan kebelakang saat mulai corona, topik mental health booming bgt. Orang2 bergelar psikolog dan psikiater pada muncul, praktisi holistik healing jg muncul, dan biasanya gandeng influencer/artis. Dan perhatiin deh kedalaman kontennya, cuma gitu2 aja alias bisa research sendiri. Lagi2 ya menandakan banyak masyarakat kita yang awareness nya kurang, males baca dan research mandiri. Lagi2 perlu diajak, perlu di kasih poster dlu, perlu merasakan sendiri dulu (byk yg stress wfh dan dipecat) baru pada mulai melek ttg mental health. Nah abis itu, psikolog psikiater mulai rame deh di datengi orang2. Termasuk psikolog modal gelar doang alias baru lulus kuliah dan pengalaman masih minim, berbekal ilmu proses di kampus. Dan berakhir banyak yang malah jd stress abis ke psikolog krn byk di judge/di diagnosa/ psikolognya gak bs empati. Psikiater mulai kewalahan krn persentasi dokter spesialis kejiwaan masih kurang dgn persentasi jumlah pasien.

Pesan moral:
- Rajin-rajinlah kepo untuk belajar.
- Jangan males baca dan research.
- Kalau milih psikolog/psikiater hati2 jgn 

Wednesday, July 1, 2020

1/7/20

Dari perjalanan sejauh ini, merangkum 3 kunci utama untuk menjadi waras dan hidup sehat:
1. Dont try to change people
2. Built healthy boundaries
3. Practice self priority (self care, self compassion, self respect, self love).

Wednesday, June 24, 2020

24/6/20

Entah sejak kapan, jadi gak suka daging ayam.
Jaman eat clean sering makan dada ayam di grill. Dulu2 masih doyan opor, ayam goreng, soto ayam. Sekarang gak suka. Gatau kenapa. Malah jadi makanan yg jd pilihan terakhir kalau gak ada makanan lain. 

Thursday, June 11, 2020

11/6/20



11/6/20

“How you are going to be doing this is, from this moment onwards you become as though you were two people; one person will be the doer and the other person will watch the experience of what the “doer” is doing." - Sadhguru

Jadi, gw lagi ikutan inner engineering Sadhguru, baru 2 sesi dari 7.
Di sesi 2 ini bahas tentang desire dan banyak, lupa saking banyak dan diri gak fokus pas ikutan kelas. Terus di akhir kelas, ada kata-kata itu dan bikin inget sesuatu....

Diri kita ini kaya semesta, banyak sekali yang ada dan terjadi dan bisa di observasi.
Intinya sih belajar mindfullness.

Misal, kita lagi capek banget ngerjain sesuatu, terus ketemu orang stress yang ngamuk2 ke kita sampe kita jadi kebawa reaktif. Nah, amati deh, amati apa yang sedang terjadi, kejadiannya apa, lalu terima. Jadi gak perlu kebawa-bawa emosi. Contoh lainnya, diri lagi down banget, ya diamati aja perasaanya "oh lagi sedih" trs yaudah terima sebagai data kalau diri lagi sedih.

Tuesday, May 26, 2020

26/5/20

Kadang dalam hidup dipertemukan dengan orang-orang yang connect secara intelektual, emosional, dan spiritual. Sayangnya, cross path nya hanya sekejap.

Thursday, May 21, 2020

20/5/20

Mau niat nulis tiap hari selama Ramadhan, jreng2 lupa.
Tiba-tiba udah mau lebaran aja.

Tadi sore ngobrol sama temen. Sampe di obrolan,
"Kadang ikut sedih ti kalo lo lg nulis2 apa gt, pgn bantu tp gatau bantu apa"
"Hah sedih knp?"
"Ya gmn ya, kaya tmn disakitin gmn sih? kan pasti ada rasa pengen belain".

Nah sebelum tmn ini ngomong gt, gw sempet mikir negatif duluan kalo tmn ini mau negatif.
taunya malah bertolak belakang. Lalu sadar, knp diri bs mikir se negatif itu?
Karena dulu byk pengalaman-pengalaman negatif yg mungkin masih membekas di alam bawah sadar sehingga secara spontan hal yg keluar pikiran negatif.

Jadi inget deh, pernah nonton youtube salah satu artis indo
Dia nikah sama perempuan mantan pecandu narkoba.
Nah istrinya ini setiap diajak ke lingkungan baru suaminya, selalu merasa orang lain akan menilai dia negatif cm krn dia terbiasa mnedapati perlakuan negatif dr orang lain. Mungkin jatuhnya jadi paranoid ya. Sampe akhirnya dia melihat skema baru seperti temen2 suaminya baik, pola pikir negatifnya pelan-pelan berkurang dan berakhir jd "normal".