Wednesday, September 30, 2020
Tuesday, September 29, 2020
Leluhur
Leluhur yang melakukan syirik, anak keturunan yang kena petakanya.
Leluhur yang berhutang sana sini, anak keturunan yang melunasinya.
Leluhur yang mempunyai luka batin tak terobati, anak keturunan yang suffering.
Leluhur yang berbuat baik, anak keturunan terkena berkahnya.
Dan kita semua akan menjadi leluhur dari anak keturunan selanjutnya.
Bijak-bijaklah melangkah, berbuat, memutuskan, agar tak merusak jiwa-jiwa baru.
Punya trauma, selesaikan.
Punya hutang, lunasi.
Punya perjanjian jin, putuskan.
Orang-orang yang suffering dan struggle bebenah diri untuk memutus rantai trauma, rantai ketidakberesan, rantai pola toxic, sesungguhnya mereka sedang berbuat baik bagi keturunannya. Karena warisan bukan hanya harta benda, tapi kesehatan jiwa jg.
Saturday, September 26, 2020
26/9/20
- Sleeping proper
- Feeling content
- Feeling whole
- Comfortable with myself
- Mentally strong
- Having purpose
- Feeling secure.
are the best thing(s) I grateful for in life.
I wish i could feel that forever.
Live in present, accepted the past, trust the future.
Living with rollercoaster emotion its not easy.
Sunday, September 13, 2020
Struggle
Terimakasih untuk para ayah yang struggle bekerja keras demi keluarga.
Terimakasih untuk para ibu yang struggle maninggalkan anak demi memenuhi kebutuhan hidip.
Terimakasih untuk para bayi dan anak yang struggle kesepian bersama pembantu.
Terimakasih untuk para pembantu yang struggle meninggalkan keluarga demi untuk bertahan hidup.
Terimakasih. Semoga Tuhan selalu melimpahkan kasih sayang-Nya.
Jika bisa memilih, para ayah tak akan rela istrinya ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Jika bisa memilih, para ibu diam di rumah menemani anaknya dengan cinta yang hadir utuh bersama fisik.
Jika bisa memilih, para anak ingin bersama ayah ibunya, ibu hadir dlm kesehariannya dan ayah yang hadir sebelum dirinya terlelap tidur malam.
Jika bisa memilih, para pembantu tak akan merantau jauh meninggalkan keluarga demi bertahan hidup.
Kadang ada hal-hal yang tak bisa dipilih, diri hanya menjalani sebaik mungkin keputusan terbaik dari keadaan saat itu.
Dan dari setiap keputusan selalu ada yang dikorbankan sekalipun pengorbanan yang dilakukan untuk tujuan yang baik. Semua pihak struggle dalam setiap perannya.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesulitan hidup.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap kesedihan mendalam.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam kesepian jiwa.
Terimakasih untuk yang terus bertahan dalam setiap perjuangan.
Tuesday, September 8, 2020
Value
Setiap orang, normalnya memiliki value-value dalam hidupnya.
Value yang membuat diri tau arah tujuan, batasan, dan menghargai diri sendiri. Saat value yang dipilih dalam hidup untuk jadi pegangan, di junjung tinggi penuh disiplin, maka apapun yang orang katakan tidak akan membuat diri goyah. Karena diri tau dimana diri berdiri.
Value mampu membuat self esteem dan sense of self terjaga, misal: diri tau siapa Tuhannya, punya konsep spiritual yang ia pahami dan yakin dari dasar hati bukan atas dogma. Saat ada orang bilang munafik, bisa bodo amat. Gak peduli dan terpengaruh dengan label-label sosial, karena yg diri pegang dr sebuah agama adalah esensi spiritual bukan identitas, dan ada nilai yang dijunjung tinggi.
Memegang value, salah satu yang membentuk integritas diri. Misal punya value kejujuran dan bermain adil. Dan value ini teraplikasikan dari hal sesederhana ujian bikin SIM meski gagal berkali-kali cm krn hal sepele dan ditawari jalur belakang sama petugas, diri menolak dan tetap pada prinsip yg dipegang hingga ia berhasil mendapatkan SIM dengan cara jujur.
Pada akhirnya, value atau bahasa lainnya dikenal sebagai prinsip, membentuk karakter diri dan sense of self. Saat karakter kuat, orang gak akan "sembarangan" memperlakukan diri karena diri sudah mampu menghargai diri sendiri.
So, pilihlah 5 value penting dalam hidup yang dijunjung tinggi dan menjadi patokan standard dari semua hal yang dilakukan dan di pilih.
Value ini gak bisa nyontek orang lain, harus diri sendiri yang nyari dan bikin.
Monday, September 7, 2020
Putusnya Attachment dan Cord
Dalam hidup, kita terikat secara emotional maupun pikiran terhadap manusia lain, material, maupun dogma. Ada yang disadari, ada yang tak disadari. Ada yang mudah untuk dilepaskan dan diterima, ada yang butuh waktu tahunan bahkan puluhan tahun untuk membebaskan diri dari hal tersebut.
Terikat secara emotional (baik krn cinta/ sakit hati/ dendam) dengan seseorang, saat terpisahkan dengan keadaan, jarak, waktu, bahkan dunia, apakah diri bisa dengan mudah melepaskan ingatan dan perasaan terhadap orang tersebut?
Terikat dengan nilai-nilai budaya yang diyakini dan di junjung, saat melakukan suatu hal tanpa sengaja atau terpaksa yang bertentangan denga nilai budaya yang dipegang, apakah diri mampu melepaskan diri dari rasa bersalah dan berdosa dari hal tersebut?
Terikat dengan harta benda, saat mengalami kebangkrutan atau kejadian yang menelan semua harta benda, apakah diri mampu melepaskan perasaan kehilangan atas kepemilikan tersebut dengan cepat?
Jawabannya, bisa iya, bisa tidak.
Saat diri mampu menerima dan melepaskan dari ikatan emosional thdp pasangan yg selingkuh, orang tua yang meninggal, teman yg menyakitkan, orang baik yg disayang, rasanya bagaimana?
Saat diri mampu melepaskan nilai budaya sebagai pemahaman bukan bagian identitas diri, apakah saat melakukan kesalahan yang bertentangan dengan nilai tersebut, diri mampu memaafkan diri lebih mudah?
Saat diri mampu memahami bahwa semua yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan Tuhan, melepaskan diri dari rasa memiliki, apakah saat diri kehilangan harta benda akan terasa berat dan membuat stress?
Memutuskan attachment dan cord, mampu membantu diri hidup lebih ringan, mampu membantu diri menikmati setiap momen dan proses, menghargai present moment, dan menyehatkan diri sendiri.
Beberapa tahun ini, menjelang tidur, aku menutup mata, membebaskan pikiran dan hati memilih ikatan yang muncul saat itu, lalu memvisualisasikan ada tali yang menghubungan ku dengan benda/dogma/ orang tersebut. Lalu memutus tali tersebut sekuat tenaga. Tali tipis butuh bbrp hari (di aku) untuk benar2 putus dan rasanya beban di diri berkurang. Pernah ada attachment bagaikan besi dengan diamter 2m menancap dari hati ke hati orang tersebut, butuh waktu setahun hingga akhirnya bisa memutuskan itu, capek banget prosesnya. Setelah keputus, rasanya lega banget, jiwa bebas dan wellbeing kembali sehat.
Monday, August 24, 2020
Perpanjangan
*ini cerita kisah, bukan ngomongin orang. Focus on value, moral, and insight ya.
Beberapa tahun lalu, di perjalanan pulang dari tempat kerja, ada berita uwa meninggal. Sontak rasa sedh melanda dan langsung menayakan alamat lengkap untuk langsung pergi ke rumahnya naik gocar. Setelah dipikir, lebih baik pulang ke rumah nenek dulu dan berangkat bareng dengan orang rumah. Nenek sudah berangkat duluan, dan di rumah masih banyak orang yang pergi masing-masing.
Singkat cerita sampai lah di rumah uwa. Sanak saudara menanyakan kemana ibu, saya bilang sedang di Thailand dari kantornya. Lalu beberapa om dan uwa berkomentar "teteh disuruh ibu ya kesini", "teteh ngewakilin ibu ya", dan kalimat-kalimat sejenis. Sampai di titik, kenapa saya dilihat sebagai perpanjangan dan wakil orang tua? Kenapa mereka gak melihat saya sebagai keponakan yang memang datang atas keinginan sendiri karena kepedulian dan rasa kasih terhadap uwa? Kenapa saya dikait-kaitan dengan orang tua? Apa pentingnya jg ibu menyuruh saya mewakili dirinya, memang menghadiri kematian sanak saudara itu diabsen layaknya meeting kantor yang butuh perwakilan saat yang bertugas tak dapat hadir?
Selama di rumah tersebut, saya memperhatikan, setiap orang sibuk dengan orang-orang yang dianggap "penting", seperti para orang tua, saudara berumur, tetangga, rekan kerja. dan para sepupuh pun bareng sama keluarga intinya masing-masing. Disitu saya merasa sendirian banget, bener-bener sendirian. Kemudian, saat shalat jenazah, cuma satu saudara yang gak memetingkan keluarga intinya aja, dia menyapa "sini, disini aja shalatnya" sebelahnya, dikala saya tersisih hingga barisan terbelakang sesendirian.
Hari semakin malam, bingung mau pulangnya gimana. Akhirnya saya pulang bersama istri om, nebeng gocar sepupuh. Itu pun turunnya di pinggir jalan terus lanjut nyebrang dan jalan kaki sampai rumah. Sampai rumah, saya merenung "gini ya saat datang ke acara keluarga tanpa orang tua alias sendirian, ya hasilnya sesendirian meski dikelilingin orang-orang satu darah. Mereka melihat saya sebagai anak ibu, bukan sebagai keponakan layak anaknya sendiri, bukan sebagai sepupuh yang dianggap kakak/adiknya sendiri". Dan realita kenyataan tersebut saya terima.
Sebelumnya, ada beberapa kejadian sejenis. Kalau diperhatiin, kadang ada orang2 menolong/ nganterin/ nengok karena takut dianggap ini itu, dengan kata lain motivasi bukan dari gerak hati spontannya. Hal kedua yang diamati yang sering terjadi adalah kalau ada yang bermasalah pasti sekeluarga ikut-ikutan/ kebawa-bawa. Misal ortu bermasalah, anaknya ikut2an musuhin orang yang dianggap musuh ibunya. Anak bermasalah, ortunya belain dengan ikut2an musuhin orang yang dianggap menganggu wellbeing anaknya.
Sunday, August 16, 2020
16/8/20
Tuesday, August 11, 2020
Hari Raya
Takbir menggema sepanjang malam
Aku terjaga dengan jam tidur berantakan.
Subuh berkumandang dilanjut takbir haru
Tak lama langkah para tetangga menuju masjid
Dan aku pun mulai memasuki alam mimpi.
Sang merah sedang datang di bulannya.
Terbangun pukul 2 siang, sendirian, belum mandi, belum makan.
Hari raya terasa seperti hari-hari biasa, tak ada yang spesial.
Aku beranjak ke dapur mencari makanan di kulkas.
Adzan Ashar berkumandang, menelepon adik di luar kota.
Malam mulai mengantikan terangnya siang
Teman mengucapkan selamat hari raya,
Bertanya bangaimana lebaran di musim corona
Aku diam karena tak ada yang berubah.
Sudah lama tak menjadikan mudik sebagai keharusan.
Sudah beberapa tahun lebaran sesendirian tanpa bertemu siapapun.
Lalu apa bedanya lebaran saat corona dengan lebaran sebelumnya?
Hari Raya tetap menjadi Hari Raya dimanapun diri berada dan sekalipun sendirian.
Tak perlu memberatkan diri dengan segala budaya yang menjadi keharusan.
Harus mudik, harus bertemu ortu, harus bertemu sodara, harus kumpul,
harus beli baju baru, harus beli mukena baru, harus makan ketupat,
harus makan opor, harus bagi angpau, dan keharusan ini itu lainnya.