Monday, February 8, 2021

8/2/21

Bismillahirrahmanirrahim.
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.


Diam-diam diri menolong,

Diam-diam diri ditolong.

Saturday, February 6, 2021

Dogmatif Normatif (2)

Pernah berada dan hidup penuh dogma norma puluhan tahun.
Ibu menuntut anak harus ini itu, gw sebagai anak balik nuntut ortu harus blabla.
Hidup dalam utopian tak berani hadapi realita.

Ortu menentukan standard anak perempuan harus bisa beres-beres, anak perempuan harus ini itu, saat anak perempuannya gak suka beres-beres maka di generalisisr gagal dan gak bagus. Tanpa melihat kelebihan-kelebihan lainnya. Alhasil fokus pada kelemahan bukan mengembangkan potensi.

Anak kembali menentukan standard terhadap orang tua. Orang tua harus pinter, harus bijaksana, ayah harus menafkahi, ibu harus perhatian, keharusan keharusan lainnya. Hingga sulit menerima kalau mereka manusia biasa bahkan penuh unresolved issue. 

Hidup dalam aturan sosial yang belum tentu baik, cocok, dan tepat untuk diri dan keluarga. Sibuk mengejar standard luar dengan mengabaikan kebahagian diri dan keluarga. Hidup dalam norma penuh dogmatif. Entah apa yang dikejar.

Hingga suatu waktu, Tuhan kasih jalan untuk membereskannya. Diseimbangkanlah masalah tersebut dan mulai mampu mencintai diri secara murni. Keluarga pun ikut diseimbangkan. Setelah itu, kerasa, tidak saling menuntut, mampu menerima satu sama lain, menghargai autonomy masing-masing, sikap manipulatif atas obsesif kompulsif satu sama lain menghilang. Lebih tenang aja hidup. Lebih secure, lebih pede, lebih baik thdp diri sendiri. 

Friday, February 5, 2021

Dogmatif Normatif (1)

Jadi Anak harus patuh

Jadi Anak harus banggain ortu

Jadi Anak harus nurut

Jadi Anak harus berbakti

Jadi Anak harus bahagian ortu

Jadi Anak harus ini itu.

Jadi Anak gak boleh membangkang

Jadi Anak gak boleh berbeda pendapat

Jadi Anak gak boleh malu2in keluarga

Jadi Anak gak boleh ini itu.

Lalu kapan si anak ini mengurusi diri dan memenuhi kebahagian dirinya? Lalu kapan si anak ini mempersiapkan masa depan untuk “memperbaiki” keturunan? Lalu kapan si anak ini menemukan dirinya jika semua serba diatur tanpa ada ruang explorasi dam penerimaan?

Keluarga dogmatif, masyarakat normatif. Ikut campur tanpa tanggung jawab. Menasehati tanpa diminta. Berkomentar tak tahu situasi. Ngejejelin dogma terus menerus hingga merusak jiwa seseorang. 

Biarlah orang menjadi dirinya sendiri. Melakukan kesalahan, belajar, memperbaiki hingga menjadi orang yang terus baik atas gerak hatinya sendiri tanpa beban tekanan keharusan-keharusan sosial yang memperburuk keadaan seseorang lalu saat meledak, dengan mudah disalahkan, di judging, di jauhi, di cap. Apa itu manusia dewasa? Apa itu yg disebut masyarakat dewasa?

Monday, February 1, 2021

Aib dan Kebohongan

Seseorang mengalami depresi karena tekanan keluarga dan keluarga bsar. Berantam heboh dengan orang tua hingga menciderai fisik. Dibawa ke UGD ditanya runtutan kejadian, lalu bingung, berbohong untuk menutupi kisah asli karena dianggap aib. Sang petugas medis kebingungan, analisa kasus pun tak lengkap, pengobatan pun tak tepat dan maksimal.

Jika jujur, maka orang ini selain dapar pengobatan medis seperti laser, operasi, fisioterapi, ia pun akan di rujuk ke psikiater dan psikolog. Jikapun dokternya jeli meraba masalah dan akhirnya di rujuk ke psikolog dan psikiater, dianggap aib karena malu dianggap gilak, hingga akhirnya menggurungkan diri, terjembab dalam penyakit yang terus bergerak kedalam putaran gelap. 

Jika akhirnya mau ke psikolog dan psikiater, bercerita pun dianggap aib karena menceritakan masalah keluarga, sifat buruk orang tua, kelakuan ana yang dianggap buruk dalam norma sosial. Berbohong hingga diagnosa tak tepat, pengobatan tak tepat sasaran, bahkan bisa menghasilkan trauma baru ataupun pengobatan terhenti dan meledak menjadi penyakit jiwa lainnya yang bercabang hingga di kemudian hari semakin kompleks, sulit dikenali akarnya dan dibereskan.

Demi menutup kisah yang dianggap aib, kebohongan dilakukan, yang berakhir mendzolimi diri sendiri ataupun anggota keluarga lainnya.

Contoh, 
  • Seorang istri dianiaya suami hingga babak belur, ke dokter bilang kepentok, luka fisik diobati, tapi depresi dan trauma batinnya tidak, lama kelamaan di suatu ketika saat kejadian penyiksaan terus berulang, sang istri meledak menjadi gilak atau bunuh diri atau membuniuh suaminya yang berakhir masuk penjara. 
  • Seorang anak menderita tekanan batin atas orang tua yang memiliki gangguan kepribadian, dimana suka meledak secara emosional dan berkata kasar maupun memukul. Si anak mengalami tekanan yang luar biasa hingga akhirnya tenggelam dalam narkoba. Dibawa ke terapis, di acam untuk tidak cerita, akhirnya hanya diobati ketrgantungan terhadap narkobanya tanpa membereskan akar permasalahannya (trauma abused ortu). Dimana saat akar tidak dibereskan, maka akan terus kembali ke narkoba atau pelarian addiction lainnya. 

*Wuallahualam bishawab

Aib dan Ketidakadilan

Sepasang manusia melakukan zina, membuahi indung telur dengan sperma, lalu jadilah janin. 
Menikah dalam keadaan sedang hamil.
Melahirkan dan menutup kisah karena dianggap aib.

Sang anak tumbuh besar, 
Jika perempuan, maka ia pun menjadi bukan muhrim dengan ayah biologisnya.
Jika menikah pun perlu ke pengadilan, karena statusnya sebagai anak di luar nikah. Hal ini berlaku juga terhadap anak laki-laki.
Secara waris, tidak ada tanggung jawab penyumbang sperma untuk menafkahi.
Nasab nya tidak jelas.

Realitanya dalam masyarakat kita saat ini,
Anak hamil, segera dinikahi, sekalipun dalam sudut pandang agama, nikah dalam keadaan hamil itu tidaklah sah. Setelah anaknya lahir dan melewati masa idah, tidak ada pernikahan sah yang dilakukan. Lalu hubungan suami istri yang dilakukan hanya bermodalkan buku nikah catatan sipil menjadi zina. Kisah bablas orang tua yang tidak diceritakan karena dianggap aib, menjadi ketidakadilan bagi anaknya karena anak tak mendapati waris yang jelas, hak wali nikah dari bapak dan keluarga bapak biologisnya. Sekalipun tinggal bersama bapak biologisnya dalam pernikahan sah secara negara, jika anaknya perempuan, maka menjadi bukan muhrim dengan bapak biologisnya. 

*wuallahualam bishawab.

Monday, January 18, 2021

Normatif

Anjing! bangsat! babi!! tai!
Dasar pelacir! bangke! setaaaaaan!!!

Kata-kata yang dianggap menghina, umpatan, gak baik, dosa, gak sopan, gak dapat diterima secara normatif. Dianggap menjudge, dll. "Jangan melabeli seseorang", "jangan diinget2 nanti kesel", "gak boleh ngomong gt", "jangan teriak", "dosa", "gak boleh", blabla.

Tanpa sadar, ada sebuah penilaian dan judgment terhadap seseorang yang mengeluarkan kata-kata itu saat ia sedang sanagat stress, sakit hati, stress, depresi, ataupun sakit hati. Kata-kata dan teriakan sebagai katarsis dari luka-luka yang ditekan terus menerus. Pada akhirnya, dimana manusia dapat diterima secara manusiawi? Sesederhana menerima saat seseorang sedang meluapkan emosinya, menerima kalau dadanya sedang sesak, menerima kalau spontanitas meledak terjadi karena jiwa sudah tak tahan? 

Jangkan menolong sesederhana membiarkan seseorang marah, teriak, menangis sampai selesai agar emosinya ke release. Masyarakat pada umumnya akan banyak aturan, melarang, menghamabt seseorang untuk menyehatkan jiwanya. Ujung-ujungnya disuruh ditahan ditahan ditahan tanpa solusi praktikal bagaimana cara merelease nya? semua serba di tekan-tekan. 

Saat kita sakit hati sama orang, dan setiap inget orang itu langsung muncul emosi intense, tandanya masalah sama dia blm selesai. Dan ini solusinya bukan dengan melupakan dan jangan diinget2, justru diselesaikan. Dengan cara apa? Release. Nulis semua sakit hati dan emosi yg ingin dikeluarkan, cari tempat aman untuk nangis ataupun teriak maki2, cari teman yg mampu memahami tanpa judgment (mendengarkan). Jika belum reda, sampaikan langsung ke orangnya. Indikasi trauma, sakit hati sembuh adalah saat diri mengingat kejadian dan orang tsb, emosi tetap netral. Tandanya masalah sudah selesai. Memaafkan butuh proses, Salah satu proses untuk sampai ke titik memaafkan ya dengan memahami whats going on, mengeluarkan semua emosi yang ketahan kependam biar jiwa lapang, menerima (ini butuh bantuan Tuhan bgt). Memaafkan beda dengan melupakan/ gak diinget2. Memaafkan terjadi ketika kita inget kejadian dan orangnya tp diri gak ada emosi apapun. 

Jika kita memaksakan untuk melupakan tp di alam bawah sadar blm mampu memaafkan atau menerima. Saat ingatan hal terkait muncul di kemudian hari, emosi yang ditekan-tekan bs meledak seketika hingga orang bingung "kok gt aja bs sampe se reaktif itu", "knp nih org stress dasar gilak", "gw gak pny masalah malah marah2". 

Intinya mau sharing.
1. Marah, nangis, kesal, itu hal wajar dan manusiawi.
2. Konfrotasi, menyampaikan, tanda kalau sesuatu masih jd masalah buat orang dan butuh closure atau sesederhana menyampaikan untuk akhirnya mampu memaafkan.
3. Teriakan, makian, luapan emosi yang keluar, sebuah katarsis dan proses healing orang membersihkan sampah2 dan luka batinnya. Dont take it personal, kecuali ya memang ada porang-orang maki2 karena ingin maki dan bales2an, itu beda cerita. 

Kadang merhatiin orang-orang yang taat beragama ibadah, tp pola pikirnya jd judgmental tentang benar salah, dosa pahala, malah jd kurang empati untuk memahami keadaan perasaan orang. Jadi saat seseorang dianggap kurang baik/salah/dosa, langsung di nasehatin itu salah dan dikasih tau yg bener apa. Tanpa memberikan ruang untuk orang tsb memahami keadaan, berkontemplasi, dan akhirnya mendapat insight tersendiri. Semua serba di cekokin salah benar, nasihat, solusi2 normati  harusnya harusnya, jangan begitu jangan begini, dll. Ya gak semuanya sih, ada jg yg beragama baik dan pny empati tinggi dan toleran.

Yang gak beres, kalau kesal sama si X tp muntahnya ke Z. Itu namanya gak fair. Atau kesal sama si X, ngomongin si X kemana2 cari masa, teman, dan dukungan, tp gak ngomong langsung ke si X dan menyelesaikan masalahnya. Ada juga orang-orang yang saat nyulut masalah, langsung kabur.

Ada istilah kalau ucapan cerminan hati. Kalau orang ngomong binatang dikala lg super meledak tertekan, apakah hatinya pasti buruk? Kalau orang bertata krama yang dianggap baik, santun, kata-kata halus, tp tukang tipu, suka selingkuh, licik, hatinya pasti baik hanya krn ucapannya baik? Orang yg ngomong kasar, konteks dan keadaannya beda2. Ada yg emang kebiasaan, lg kesal, hatinya buruk, dll. Tutur kata halus juga gak selalu mencerminkan kebaikan hatinya. Pandangan-pandangan benar salah, dan hitam putih seperti itu yang sebenarnya jadi judgment. 



Saturday, January 16, 2021

Cinta yang tak selesai (2)

Awan putih, langit biru, berganti senja.
Hari demi hari berganti, menanti yang tak kunjung datang.

Kerinduan menjadi amarah.
Ekspresi yang tak bisa diungkapkan.
Pertanyaan yang tak pernah mendapati jawaban.

Masalah yang tak selesai.
Cinta yang tak tersalurkan.
Mengerogoti kebahagian seiring waktu.

Tahun demi tahun berlalu.
Kesedihan semakin dalam hingga tak mampu terungkap.
Meninggalkan jiwa dalam kekosongan tak pasti.

Setengah jiwa hilang tak kembali.
tanpa kabar, tanpa kepastian.
Mengubur cinta yang tak selesai, yang terulang kembali.
Menambah luka yang belum sembuh, lagi dan lagi.

Tangis tak keluar.
Teriak tertahan.
Hati memendam.
Luka bertambah.

Tipisnya batas cinta dan luka
bahagia dan menderita
sembuh dan sakit
bebas dan terkekan.

Saturday, January 9, 2021

Hidup

Hidup seperti berada dalam sebuah permainan, dimana diri harus terus bergerak untuk sampai ke tujuan. Melewati level demi level hingga finish. Dalam setiap level, tantangan dan kesulitannya pun berbeda. Selalu ada hal-hal baru yang sebelumnya tidak dikenal dan belum pernah diatasi dan teratasi. Ada batas yang ditentukan yakni waktu dan "nyawa", saat habis batas waktu ataupun nyawa, diri perlu mengulang lagi dari awal. Adapun bantuan yang ditawarkan yang dihasilkan dari jumlah poin yang di dapat di level sebelumnya ataupun di sesi bonus time. Dimana bantuan tersebut bisa digunakan di hal-hal mendesak untuk akhirnya bisa diatasi dan naik level. 

Untuk melewati setiap level, dibutuhkan modality, strategi, tindakan yang tepat, skill, dan banyak hal lainnya. Ada level yang mudah, ada yag sulit. Ada level yang sebelumnya mudah, pas diulang jadi lebih sulit ataupun sebaliknya. Dalam sebuah permainan, kita tidak bisa memaksakan pemain lain untuk segera melewati suatu level dengan cepat, keculi jika kita yang mengantikan ia bermain. Karena kemampuan setidap orang berbeda, kita hanya bisa memberikan saran, masalah berhasil atau tidak tergantung kecakapan pemain itu sendiri.

Sama dengan hidup, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk cepat move on, untuk mendapatkan closure nya sendiri, untuk tidak banyak berfikir, untuk melepaskan traumanya, dan segala nasihat-nasihat yang sebatas omongan tanpa tindkan nyata seperti support, pemberian rasa aman, validasi, comforting, diskusi, membimbing, dan menemani secara konsisten. Bagi kita yang pernah mengalami marahnya patah hati dan butuh tahunan untuk merelease rasa sakit hati, pengkhianatan, kehilangan, mencari closure yang tak pernah diberikan, membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri, merapihkan self esteem, menerima keadaan, me-release segala emosi, melepaskan trauma, bukanlah hal mudah dan sesingkat bersin. Sekalipun solusinya adalah tentang penerimaan alias "menerima", realitanya butuh proses sampai ke tahap tersebut, dan proses setiap orang akan berbeda-beda. Tergantung dari ketahan dirinya, tingkat luka batinnya, histroy sebelumnya, luka-luka sebelumnya, lingkungannya, support systemnya, masalah-masalah lainnya yang sedang dihadapi, keadaannya, dll. Misal, ada orang putus cinta, dan level ketahanan mentalnya sama. Yang satu punya sahabat, keluarga, financial secure, kehidupan sosial sehat, fisik oke, prosesnya bisa lebih "smooth", sedangkan yang satu hidup sesendirian, gak punya temen dekat, gak ada keluarga, struggle sesendirian bahkan untuk cerita melepaskan perasaannya aja tidak ada orang yang bisa dan mau mendengarkannya, ditambah dia sedang ada masalah lain, misal secara finansial lagi sempit, jobless, fisik gak bisa jalan habis kecelakaan. Prosesnya akan berbeda. Yang sesendirian bisa lebih lama dari yang punya support system, bisa juga lebih cepat prosesnya karena masalah-masalah hidup lainnya jauh lebih ribet dan berat dari urusan hati, jadi groundingnya lebih cepat dan lebih mudah move on.

Saat diri berhasil menyelesaikan suatu level, maka akan naik ke level berikutnya. Indikasi naik level adalah ketika hal-hal yang dulu menjadi masalah menjadi hal yang netral biasa aja, tanpa trigger, tanpa lonjakan emosi, tanpa beban. Meski itu menjadi masalah, namun menjalaninya lebih ringan dan yaudah aja. Selain itu, salah satu indikasinya saat ada pemahaman yang di dapat dari proses sebelumnya. Saat sampai ke titikitu, maka bersiaplah untuk ujian selanjutnya, tentunya dengan masalah dan ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada ujian siapa yang lebih berat ataupun ringan, tidak bisa dibandingkan. Karena setiap orang memiliki ujian sesuai kemampuannya masing-masing dan dalam takaran yang adil menurut Tuhan. Misal, buat orang yang tidak punya trauma pengkhianatan, hubungan ortunya harmonis, saat di selingkuhi, dia bisa lebih mudah melewati, legowo dan yaudah putus, selesai. Buat orang yang sebelumnya ada insecurity dalam hubungan, beberapa kali dikhianati hingga trauma, tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dan ada kasus perselingkuhan, saat diselingkuhi, reaksinya akan lebih intense bahkan menghasilkan masalah baru lainnya, seperti depresi, psikosmatis, bolak balik opname, nambah trauma baru, dan ngembet kesana sini efeknya. Ujiannya sama: diselingkuhi, dampaknya bisa berbeda, karena history dan keadaan setiap orang berbeda. 

Ada orang yang stress gak kerja, stress karena punya insecurity finansial, ada yang stressnya karena kehilangan ruang aktualisasi diri, ada yang stress nya karena kehilangan kehidupan sosial, ada yang stressnya karena gengsi. Kasusnya gak kerja, reason stress nya berbeda-beda. Kalaupun reason stress nya sama, intensitas dan dinamika sebelumnya pasti beda.  

-------------

Ada hal-hal yang dulu menjadi sebuah masalah besar, sekarang hanya butiran debu yang tak diperhitungkan keberadaannya. Bukan masalahnya yang mengecil, namun jiwa dan wawasan yang menjadi lebih luas, sehingga yang sebelumnya terlihat besar menjadi kecil. 


9/1/21

Sang senja menghantarkan langit.

Biru berangsur jingga

Meredup berganti terang.


Isak tanggis dalam kesunyian

Melebur dalam diam

Hanya cinta yang tersisa.


Thursday, December 31, 2020

Catatan 2020

2016 - 2018 
Ke Abuse, depresi.

Tengah 2018 
Mulai healing yang malah nambah2 masalah dan trauma.

Awal 2019 
Syaraf kejepit. Hampir tiap hari ke rumah sakit, depresi malah membaik.

Tengah 2019 
Holistic healing. 

Akhir 2019 - 2020 
Capek bgt struggle. Banyak pergejolakan. 

Akhir 2020 
Mulai ada titik cerah. 
Ketemu orang-orang yang beneran ngebantu. Jin-jin santet dibuang, akar trauma di beresin, depresi membaik, get my real me back, beresin apa yang perlu dibereskan, busy on my goal, dan semoga detox energy segera selesai, sabar ya badan, i love you. Mulai menerima hidup bersama syaraf kejepit.

Mengantar Tuan Putri pulang (2)

Desember 2020

Setelah sebuan intensif healing di jogja di tengah2 ujian ini itu. Dikenalkan dengan terapis2 baru dengan cara2 baru yang ternyata cocok. Samapi di sebuah pemecahan teka-teki mengapa aku seperti tuan putri di flores dan orang2 lokal disana melayani, menjaga, dan merasa bertanggung jawab dengan keselamatan dan kebahagianku selama di flores. Ternyata.....

Ternyata memang ada tuan putri di diriku yang minta tolong dianterin pulang ke rumahnya. Setelah melakukan penerawangan (ternyata aku bs nerawang, selama ini mikirnya itu cuma visual2 biasa), rumahnya di kanawa, dibelakang tenda2, di hutan dekat bukit. Dan ternyata benar.

Akhirnya setelah urusan di jogja, pulang ke jkt dan lanjut ke flores. mendarat di labuan bajo dan sudah banyak berubah, menyedihkan. Tidak ada lagi pemandangan saat jalan kaki, tidak ada lagi kemudahan cari open trip, banyak tokok-toko tutup karena corona, banyak pembangunan sampai pasar, pelelangan ikan, dan night market seafood hilang terganti mall dan tempat parkir. Sedih sekali rasanya hingga tak ingin kembali ke tempat ini. Kalau alam bisa berbicara, mereka akan menangis. Pelabuhan pun berubah, air tak sejernih dahulu, kapal lokal berpindah tempat, speed biat dan phinisi semakin banyak. ok ini aku share di postingan lain (kalao mood dan inget).

Setelah cari-cari kapal untuk ke kanawa, akhirnya dapat PP labuan bajo-kanawa. Sehari sebelum ke kanawa, ikutan open trip dulu biar rada happy dikit mengobati kekecewaan dengan pembangunan dan keadaan labuan bajo saat ini. 

pulau padar, desember 2020

Samapi di pulau, banyak yang berubah. Perahu kuning yang tahun 2013, 2018 diam dekat dermaga, sekarang entah bergeser kemana. Pulau nya sepi, resort nya tutup. Tenda dan bale sudah tidak ada, bungalow pun kumuh rusak tak terurus, wc umum sudah hilang. Aku berjalan mengikuti intuisi, samapi di sebuah pohon, ku merasakan disini rumahnya. Lalu ku duduk bermeditasi. Tiba-tiba mual, muntah, lalu nangis. Di akhir proses, tiba-tiba ada sosok serem banget diikuti satu mahluk lg kurus serem, mereka marah2 dan menakuti. Spontan segera menyelsaikan kepulangan tuan putri, semoga happy di tempatnya, dan sama-sama hidup tenang. Aku segera beranjak pengen pulang, takut. Di tengah jalan, jadi ragu antara pengen cuek pulau atau nganterin 2 perompak serem ini yang minta dianterin ke tengah hutan di dalam bukit. Sempet jadi sebel marah-marah pengen ngamuk. Lalu aku telepon salah satu tim psikolog di jogja yang membantu nge healing traumaku. Dia menyuruhku untuk berdialog dengan 2 perompak itu dan bilang kalau kita sudah beda dimensi, aku tidak mampu membantu, aku hanya bisa mendoakan. Setelah berdialog dan berdoa, aku pun pergi. Sempat kesal-kesal yang entah rasa kesalku atau rasa kesal mereka yang masih ikutin aku atau kesedot olehku. Perahu pun meninggalkan pulau kanawa, dan tidak ada perasaan sedih sama sekali seperti yang dulu2 kalau ninggalin pulau itu sampe nanggis2 mendalam parah bgt sedihnya. Tandanya kami (saya dan tuan putri bersama pengawal2nya sudah berpisah). Bye kanawa, aku gak akan foto kamu, gak akan kembali lg ke sini, ini jadi pertemuan kita terakhir. 

2 jam kemudian, perahu sampai di sebuah pulau tempat meningginap, saat menutup mata, 2 perompak itu pun sudah tidak ada. Hari berganti, dan bener aja, hidupku lebih enteng setelah menghantarkan pulang tuan putri yang entah dari kapan ada di aku dan minta tolong cuma akunya gak ngeh. 

Ya Tuhan, jika memang banyak trauma leluhur yang minta di release lewatku, maka tolonglah aku untuk mampu memisahkan mana yang menjadi urusan tanggungjawabku dan mana yang bukan.
Ya Tuhan, jika ada mahluk yang minta tolong padaku, tolong mereka dan bentengi aku dari mahluk-mahluk yang berbeda dimensi.
Ya Tuhan, jika ada orang yang jahat dan dzolim, tolong lindungiku, keluargaku, dan keturnanku kelak.
Ya Tuhan, jika ada hal-hal yang perlu aku selesaikan, tolong berikan petunjukMu dan pertolonganMu.

Thursday, December 24, 2020

Mengantar Tuan Putri Pulang (1)

Akhir desember 2013
Kapal sampai di labuan bajo, tiket pulang belum dibeli, berakhir overland flores bersama beberapa teman satu kapal sailing lombok-labuan bajo. Saat itu bareng sinta, biko, aul, dewi, dan abi yang datang dari bali. Selesai overland selama seminggu, kami kembali ke labuan bajo, berniat naik fery ke lombok, malas, berakhir pergi dan menginap di sebuah resort di pulau kanawa. Bertemu kembali dengan aul dan dewi, sedangkan biko sudah pulang duluan ke jkt. Karena tiket pesawat esok pagi jam 8 maka kami bertiga (aku, sinta, abi) menyewa perahu untuk kembali ke labuan bajo dan lanjut ke bandara. Aku pulang ke jakarta, abi dan sinta ke bali. 

Saat di perahu meninggalkan flores, ada perasaan sedih mendalam. Sebuah perasaan seperti meninggalkan rumah "home", sedih sekali rasanya hingga air mata jatuh tak tertahan. Aku berusaha menyembunyikan sedih dan tanggis dari yang lain. 

Juli 2018
Aku kembali ke tanah flores, mendarat langsung di labuan bajo. Sendirian pergi sendiri. Di saat itu habis ada kejadian yang cukup menguncang jiwa dan butuh rehat, flores menjadi tempat terdamai dengan segala memory nya. Ternyata pergi sendirian sama bahagianya saat pergi bersama teman-teman. Bahkan banyak sekali kemudahan dan keberuntungan yang di dapat. Dari mulai dapat penginapan yg orang lain perlu booking bbrp bulan sebelumnya, aku dpt on the spot. Menginap di boatel la pirates tengah laut. Dan keberuntungan terus terjadi, entah mengapa semua orang lokal yang ditemui disana sangat melayani dan menjagaku. Mulai dari tukang ojeg yang ngejagain, bawain barang, fotoin, menuntun, mengikuti sampai ke dalam hutan 10km jalan kaki pulang pergi. Aku membayar lebih/ dia minta bayaran diluar transport? Tidak. Lalu pergi ke sebuat tempat 4 jam dari kota naik motor, melewati hutan, ternyta kmrn ada kejadian bule perancis diperkosa tukang ojegnya lalu di rampok, orang2 waswas melihat ku, puji Tuhan aku sampai dengan selamat. Ikut one day trip, dapat harga diskon, dibeliin makan sama ABK gratis, dan gatau knp guide berubah jd asisten pribadi cuma ngurusin aku dr satu tempat ke tempat lain. Sampe akhirnya di pulau kanawa, hanya sebentar, pas pulang, seiring senja diatas speed boat, air mata turun tak tertahan. Menangis dalam isakan penuh kesakitan dalam dada, kesedihan tak terbendung meninggalkan pulau kanawa, rasanya sama seperti 5 tahun lalu, seperti meninggalkan rumah dalam kesendirian. 

Sampai pelabuhan, makan bakso sambil duduk liat laut. Mengobrol dengan nelayan dan tukang perahu. Terbesit dalam hati ingin kembali ke kanawa. Berakhir sewa kapal dapat 1/7 harga. Esok pagi sebelum ke bandara, aku ke kanwa kembali sendirian ditemani kapten kapal dan anak laki-lakinya. Rasanya bahagia seperti mau pulang ke rumah setelah lama merantau. Sampai lokasi, duduk pinggir pantai, tiduran santai. Lalu berjalan ke arah hutan, ada sesuatu yang menggerakanku ke arah sana. Lalu langkah terhenti saat kapten kapal berteriak memanggil mengigatkan waktu agar aku tak tertinggal pesawat. Aku pun pergi meningalkan kanawa dengan berat hati. Dan lagi-lagi air mata berlinang sedih saat perahu mulai menjauh dari pulau kanawa. Perasaan sedih teramat dalam. Rasanya ingin kembali dan tinggal disana. 

Sampai pelabuhan, bingung ke bandara pakai apa. Ketemu mobil, tawar menawar dari harga 70rb, aku hanya bayar 20rb (1/3 harga normal). Sesampai bandara, aku menjadi orang terakhir dalam antrian, was-was tertinggal pesawat. Tiba-tiba counter di closed tepat 2 orang terakhir. Lalu kami (aku dan satu bapak2) dikasih tiket bisnis. Kami menunggu di louge khusus yang dilengkapi makanan prasmanan. Pesawat delay 4 jam karena cuaca, orang-orang mulai marah karena pada kelaparan (tempat makan di bandara saat itu sangat minim bahkan hampir tidak ada). Aku merasa beruntung sekali saat itu, apat kelas bisnis tanpa keluar uang sepeserpun, menunggu di lounge dengan makanan berlimpah dan sofa nyaman. Akhirnya pesawat datang, kami naik ke pesawat. Bapak-bapak yang bersamaku ternyata nomer kursi pesawatnya sebelahan. Dia orang lokal flores, dan anehnya, ia seperti orang-orang flores yang ku temui sebelumnya, ia melayani dan seolah2 merasa bertanggung jawab dengan ku. Aku gerak dikit, dia langsung sigap. Minuman datang, dia ambil minumanku dari pramugari dan menaruhnya. Saat sampai, ia pun menurunkan barangku dan mempersilahkanku turun duluan. 

12 malam sampai di bandara soekarno hatta. Sendirian, gak ada yang bantuin bawa barang, di tolak taxi-taxi, sudah capai sekali rasanya ingin pulang tp gak bisa pulang, kesal. Telepon ortu, mereka tidur. Akhirnya 2 jam kemudian dijemput. Hidupku berubah 180 derajat sampai Jakarta. di Flores ku merasa seperti tuan putri, semua melayani, baik, semua yg dimau di dapat, orang2 menjaga. Sampai rumah berubah ajdi "gelandangan" dan terabaikan. 

Saturday, December 12, 2020

Wednesday, December 9, 2020

Berkoloni

Datang ke sebuah tempat baru, yang dicari pertama adalah teman.
Berteman untuk mengisi kekosongan, memenuhi kebutuhan memberi dan diberi, memenuhi kebutuhan dalam proses bertahan hidup. Urusan selesai, kedekatan di masa itu hanya sebuah kenangan. Lalu hidup berlanjut dari satu tempat ke tempat baru, dari satu fase ke fase selanjutnya, dengan pola cara bertahan hidup yang sama, mencari teman. Begitupun saat sulit, yang dicari adalah teman senasib. Dimana saat nasibnya berbeda, tidak ada hasrat untuk memulai bertemanan. Berteman atas dasar kesamaan issue.

Hidup dalam koloni.
Menutup diri asli untuk dapat diterima, mengikuti aturan kelompok agar tidak terbuang, mengikuti arus agar tak dimusuhi. Hidup bahagia dalam kelompok, tidak dengan saat sendirian. Kelompok menjadi sebuah identitas diri, sebuah tempat kembali pulang, sebuah tempat singgah berteduh. Sebuah simbiolis mutualisme antar manusia-manusia yang tak aman dalam kesendiriannya, yang takut menjadi dirinya, yang takut dibenci, yang takut ditolak.

Hidup dalam koloni.
Menghadirkan kenyamana, keamanan, dan kehangatan. Zona aman yang nyaman untuk ditinggalkan. 

Orang-orang berkoloni akan bingung dengan jalan hidup seorang loner. Bahkan dianggap abnormal, mengancam, dan tidak nyaman hanya karena berbeda. Loner always say what they mean directly without sugarcoat dan menjadi diri aslinya tanpa takut untuk ditolak. Begitupun bagi seorang loner, akan sulit memahami bagaimana manusia bisa sampai dititik "mengemis" hanya untuk diterima secara sosial, bagaimana seorang manusia bis asangat berani hanya saat ada temannya, bagaimana manusia saling berkelompok hanya sebatas hubungan transaksional untuk kepentingan pemenuhan kebutuhannya masing-masing. 
--------

Kadang orang-orang berkelompok menjijikan.
Seorang pemuka agama yang bersekolah kembali, setinggi apapun pangkat dalam tempat ibadahnya, ternyata tetap sama saja dengan manusia lain yang hidup dalam ketakutan. Tetap membuat kelompok sebagai cara bertahan hidupnya sekalipun dalam proses berkelompoknya menyakitkan orang lain yang dia anggap tidak penting dan tidak menguntungkan untuk hidupnya. Seorang pemuka agama yang katanya pegabdi Tuhan, mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan, pada akhirnya sama saja dengan manusia-manusia yang ketakutan akan ketidak mampuannya bertahan hidup sendiri dan cari aman meski tidak adil bagi orang lain. Culas. Menjijikan.


9/12/20

Di tempat ini 4,5 tahun lalu.
Bergelut dalam kesepian, gejolak, kesedihan, kehilangan.

Tempat yang tenang, sunyi, namun banyak orang.
Tempat yang menghadirkan password wifi ajaib,

Sekarang kembali lagi kesini dalam keadaan diri yang berbeda.


-BlancoCoffeeShop.Jogja-

8/12/20

Hari ini saya belajar tentang pentingnya kata-kata: 

Say hallo

Say Thank You

Say Goodbye 

Sapaan sederhana yang bisa membuat keadaan seseorang lebih baik. 
Meningkatkan perasaan dihargai, dianggap ada, di apresiasi, diterima. 

Sunday, December 6, 2020

03:00

Aku berlari dalam ketakutan
Menjauhi kekosongan hati
Berputar dalam putaran kelam
Melawan sepi tak berujung. 
———————

Seorang anak kecil menangis
Sendiri dalam sepi
Terbuang terlupakan
Meronta ingin di sayang. 

Pergi membawa luka
Hidup dalam kesedihan
Meratapi dirinya hadir
Hadir untuk akhirnya hilang.