Tuesday, March 2, 2021

Batas

Bukan hidupku yang terbatas
Bukan juga kemampuanku yang terbatas
Apalagi keadaan yang membatasi.
Karena sejatinya, justru aku sendiri yang membatasi diri.

Batas berkembang
Batas bertumbuh
Batas mengeksplorasi
Batas-batas untuk melindungi diri dari ketakutan yang hanya ilusi pikiran semata. 

Support

Ada dukungan yang lebih besar dari keluarga, teman, dan kolega, yaitu dukungan dari semesta.
Ada pertolongan yang tak terbatas, yaitu dari Tuhan yang membolak balikan hati makhluk-Nya.

Kadang diri terbatas mencari dukungan dari keluarga, teman, dan kolega.

Saat keluarga tak mampu memahami dan memberikan dukungan, saat teman tak ada yang mampu dan tak mau mendukung, saat kolega tak peduli, diri jatuh dalam kesepian, dan depresi yang semakin gelap dan mendalam. Mengkerdilkan diri sendiri, lupa jika jagat raya ini luas. Semesta senantiasa memberikan dukungannya, melalui peluang yang datang, cuaca yang menyelamatkan, intuisi yang menangkap sinyal dari semesta, dan energy yang bersinergi.

Saat tak ada satupun manusia yang mampu menolong bahkan tidak mau menolong, sesuangguhnya pertolongan Tuhan amatlah dekat dan tak terbatas. Ia hadirkan prang-orang yang hatinya tergerak untuk membantu, Ia hadirkan ketenangan dalam jiwa, Ia hadirkan kejernihan dalam berfikir, Ia hadirkan pencerahan dalam pemahaman, Ia hadirkan jalanNya. 

Sejatinya manusia tidak sendirian sekalipun hidup sebatang kara atau terasing dari kumpulannya. Ada semesta yang mendukung, ada Tuhan yang menolong.

Wednesday, February 24, 2021

Aquarium



2 Tahun punya aquarium. Blackghost, koi, koki, sapu2, neon, yg merah kecil, tiger fish, guphy, 
yang kuning, ikan layar, ikan kaya ikan sepat biru, cupang. 


Tuesday, February 23, 2021

Lovebird

Ada 4 pasang lovebird.

Pasangan 1 (putih dan kuning hijau). 
Telurnya sudah menetas, sayangnya kaki anaknya cacat gak bs berdiri 
(gatau keinjek sama mak bapaknya, gatau glodok licin tanpa alas 
jd cidera dan patah kakinya). Sedih bgt.

Pasangan 2 (putih biru muda dan kuning hijau) 
Bertelur gak netas2, lagi bertengger eh bertelur lalu jatoh pecah. Sedih.

Pasangan 3 (Hitam dan biru tua)
Adem ayem, pas di cek, ada 2 telur.
Dan hari ini mereka berdua kabur, telurnya cuma 1, 1 lagi ancur.

Pasangan 4 (pale yellow dan tosca)
Yang kuning muda sakit, tidur terus. Trs dikasih vitamin, 
eh tumpah kena matanya trs jd buta sebelah. Huhuhu sedih banget ya ampun.


Thursday, February 18, 2021

Gratitude Birthday

Ulang tahun pada tahun ini cukup membahagiakan. 
Karena banyak improvement yang dilakukan diri.

1. Two of deep traumas healed
2. Reconnect to myself
3. More awareness
4. More consciousness
5. More self regulated
6. Take my autonomy back
7. More kindness to myself
8. More Mindfullness
9. More being.

Thank you Utie, I Love You.


Thursday, February 11, 2021

Melihat masalah

Ada anak tidak mau sekolah karena minder. 
Minder karena nilainya jelek. 
Nilainya jelek karena tidak mampu mengikuti KBM.
tidak mampu mengikuti, karena IQ nya rendah.
IQ nya rendah karena di kandungan pernah mengalami dampak KDRT.

Setiap pagi, sang ibu, berteriak:
"mau jadi apa kalo gak sekolah"
"bisanya nyusahin orang tua aja"
"kamu gak tau diri, orang tua susah kerja, kamu malah begini"
"coba liat si ini si itu blabla"

Saat anak meledak tak kuat menahan rasa frustasi, di hantam dengan omelan, pukulan, dan hukuman.

Apa yg terjadi?

Apakah sang anak akan mau masuk sekolah?
Apakah sang anak akan sadar bahwa orang tuanya susah payah dan dia harus membahagiakan orang tuanya dikala dirinya pun stress dan insecure dalam akademik?
Apakah sang anak akan menjadi pintar dengan masuk sekolah dikala akar masalahnya di kemampuan IQ yg kurang (yang tidak diterima oleh orang tuanya)?
Apakah sang anak akan menurut dan berakhir bahagia?

Jika mampu berjeda sedikit dari norma yang berlaku, menurunkan ego, amati masalah hingga ke akarnya, diterima, maka solusinya akan tepat.
Permasalahan:
Anak minder tidak mau sekolah karena tidak mampu secara IQ.
Solusi:
1. Terima anak apa adanya, hingga dia merasa aman secara emosional dan didukung.
2. Ajak bicara baik-baik dari hati ke hati, biarkan anak berbicara bebas tanpa sanggahan ataupun dikte.
3. Konsultasi ke ahlinya, cari metode pendidikan yang tepat.
4. Biarkan anak tumbuh sesuai jati diri dan kemampuannya secara maksimal.

Membandingkan hanya membuat seseorang yang sedang drop dan minder semakin drop dan kehilangan self esteem nya.
Memanipulasi dengan mengungkit perjuangan ortu, hanya membuat anak terkikis self worth nya.
Memarahi hanya membuat anak merasa tidak dipahami dan semakin drop.
Menghukum hanya membuat anak semakin berontak desktruktif atau tenggelam dalam kegelapan.

11/2/21

Its a long journey,
Walking alone in the darkness.
Ups and down, and keep going.

Sometimes feeling lonely, 
Sometimes feeling tired,
Sometimes crying all the night, hope to be home.

Its not my home, i dont feel belongs here.
I just want to be home.


Dear Universe, Please bring me to my soul family
Dear, Universe, Let my soul family found me.
Nobody can understand you deeply, until you meet your soul family.

Tuesday, February 9, 2021

9/2/21

Its time to heal yourself by yourself.
Listen to your intuition, follow your spirit guide to find answer and the best solution. 

You are higher than you think
You are bigger than you feel
You are powerfull than you reliaze.

Take a deep breath. See your body, your soul, your internal body, your energy, your spirit. 
Breating slowly, scan yourself by yourself.
Finding the problem, ask question 
what do you feel?why you like that?
Heal your body with divine love, 
Heal your soul
Heal your spirit.

All of my energy please comeback to me. Now!
All of my others energy, please go back to your place. 

Dear spirits, i cant help you. 
Please find your place by yourself.
Dear evil spirit, get out of my body and soul! Go away! Dont come back again! I dont need you and you cant stay at me. Get out!!!

Dear mother guard, please shield my energy.
Dear universe, please take care of my energy.
Dear myself, thank you. 

Monday, February 8, 2021

8/2/21

Bismillahirrahmanirrahim.
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.


Diam-diam diri menolong,

Diam-diam diri ditolong.

Saturday, February 6, 2021

Dogmatif Normatif (2)

Pernah berada dan hidup penuh dogma norma puluhan tahun.
Ibu menuntut anak harus ini itu, gw sebagai anak balik nuntut ortu harus blabla.
Hidup dalam utopian tak berani hadapi realita.

Ortu menentukan standard anak perempuan harus bisa beres-beres, anak perempuan harus ini itu, saat anak perempuannya gak suka beres-beres maka di generalisisr gagal dan gak bagus. Tanpa melihat kelebihan-kelebihan lainnya. Alhasil fokus pada kelemahan bukan mengembangkan potensi.

Anak kembali menentukan standard terhadap orang tua. Orang tua harus pinter, harus bijaksana, ayah harus menafkahi, ibu harus perhatian, keharusan keharusan lainnya. Hingga sulit menerima kalau mereka manusia biasa bahkan penuh unresolved issue. 

Hidup dalam aturan sosial yang belum tentu baik, cocok, dan tepat untuk diri dan keluarga. Sibuk mengejar standard luar dengan mengabaikan kebahagian diri dan keluarga. Hidup dalam norma penuh dogmatif. Entah apa yang dikejar.

Hingga suatu waktu, Tuhan kasih jalan untuk membereskannya. Diseimbangkanlah masalah tersebut dan mulai mampu mencintai diri secara murni. Keluarga pun ikut diseimbangkan. Setelah itu, kerasa, tidak saling menuntut, mampu menerima satu sama lain, menghargai autonomy masing-masing, sikap manipulatif atas obsesif kompulsif satu sama lain menghilang. Lebih tenang aja hidup. Lebih secure, lebih pede, lebih baik thdp diri sendiri. 

Friday, February 5, 2021

Dogmatif Normatif (1)

Jadi Anak harus patuh

Jadi Anak harus banggain ortu

Jadi Anak harus nurut

Jadi Anak harus berbakti

Jadi Anak harus bahagian ortu

Jadi Anak harus ini itu.

Jadi Anak gak boleh membangkang

Jadi Anak gak boleh berbeda pendapat

Jadi Anak gak boleh malu2in keluarga

Jadi Anak gak boleh ini itu.

Lalu kapan si anak ini mengurusi diri dan memenuhi kebahagian dirinya? Lalu kapan si anak ini mempersiapkan masa depan untuk “memperbaiki” keturunan? Lalu kapan si anak ini menemukan dirinya jika semua serba diatur tanpa ada ruang explorasi dam penerimaan?

Keluarga dogmatif, masyarakat normatif. Ikut campur tanpa tanggung jawab. Menasehati tanpa diminta. Berkomentar tak tahu situasi. Ngejejelin dogma terus menerus hingga merusak jiwa seseorang. 

Biarlah orang menjadi dirinya sendiri. Melakukan kesalahan, belajar, memperbaiki hingga menjadi orang yang terus baik atas gerak hatinya sendiri tanpa beban tekanan keharusan-keharusan sosial yang memperburuk keadaan seseorang lalu saat meledak, dengan mudah disalahkan, di judging, di jauhi, di cap. Apa itu manusia dewasa? Apa itu yg disebut masyarakat dewasa?

Monday, February 1, 2021

Aib dan Kebohongan

Seseorang mengalami depresi karena tekanan keluarga dan keluarga bsar. Berantam heboh dengan orang tua hingga menciderai fisik. Dibawa ke UGD ditanya runtutan kejadian, lalu bingung, berbohong untuk menutupi kisah asli karena dianggap aib. Sang petugas medis kebingungan, analisa kasus pun tak lengkap, pengobatan pun tak tepat dan maksimal.

Jika jujur, maka orang ini selain dapar pengobatan medis seperti laser, operasi, fisioterapi, ia pun akan di rujuk ke psikiater dan psikolog. Jikapun dokternya jeli meraba masalah dan akhirnya di rujuk ke psikolog dan psikiater, dianggap aib karena malu dianggap gilak, hingga akhirnya menggurungkan diri, terjembab dalam penyakit yang terus bergerak kedalam putaran gelap. 

Jika akhirnya mau ke psikolog dan psikiater, bercerita pun dianggap aib karena menceritakan masalah keluarga, sifat buruk orang tua, kelakuan ana yang dianggap buruk dalam norma sosial. Berbohong hingga diagnosa tak tepat, pengobatan tak tepat sasaran, bahkan bisa menghasilkan trauma baru ataupun pengobatan terhenti dan meledak menjadi penyakit jiwa lainnya yang bercabang hingga di kemudian hari semakin kompleks, sulit dikenali akarnya dan dibereskan.

Demi menutup kisah yang dianggap aib, kebohongan dilakukan, yang berakhir mendzolimi diri sendiri ataupun anggota keluarga lainnya.

Contoh, 
  • Seorang istri dianiaya suami hingga babak belur, ke dokter bilang kepentok, luka fisik diobati, tapi depresi dan trauma batinnya tidak, lama kelamaan di suatu ketika saat kejadian penyiksaan terus berulang, sang istri meledak menjadi gilak atau bunuh diri atau membuniuh suaminya yang berakhir masuk penjara. 
  • Seorang anak menderita tekanan batin atas orang tua yang memiliki gangguan kepribadian, dimana suka meledak secara emosional dan berkata kasar maupun memukul. Si anak mengalami tekanan yang luar biasa hingga akhirnya tenggelam dalam narkoba. Dibawa ke terapis, di acam untuk tidak cerita, akhirnya hanya diobati ketrgantungan terhadap narkobanya tanpa membereskan akar permasalahannya (trauma abused ortu). Dimana saat akar tidak dibereskan, maka akan terus kembali ke narkoba atau pelarian addiction lainnya. 

*Wuallahualam bishawab

Aib dan Ketidakadilan

Sepasang manusia melakukan zina, membuahi indung telur dengan sperma, lalu jadilah janin. 
Menikah dalam keadaan sedang hamil.
Melahirkan dan menutup kisah karena dianggap aib.

Sang anak tumbuh besar, 
Jika perempuan, maka ia pun menjadi bukan muhrim dengan ayah biologisnya.
Jika menikah pun perlu ke pengadilan, karena statusnya sebagai anak di luar nikah. Hal ini berlaku juga terhadap anak laki-laki.
Secara waris, tidak ada tanggung jawab penyumbang sperma untuk menafkahi.
Nasab nya tidak jelas.

Realitanya dalam masyarakat kita saat ini,
Anak hamil, segera dinikahi, sekalipun dalam sudut pandang agama, nikah dalam keadaan hamil itu tidaklah sah. Setelah anaknya lahir dan melewati masa idah, tidak ada pernikahan sah yang dilakukan. Lalu hubungan suami istri yang dilakukan hanya bermodalkan buku nikah catatan sipil menjadi zina. Kisah bablas orang tua yang tidak diceritakan karena dianggap aib, menjadi ketidakadilan bagi anaknya karena anak tak mendapati waris yang jelas, hak wali nikah dari bapak dan keluarga bapak biologisnya. Sekalipun tinggal bersama bapak biologisnya dalam pernikahan sah secara negara, jika anaknya perempuan, maka menjadi bukan muhrim dengan bapak biologisnya. 

*wuallahualam bishawab.

Monday, January 18, 2021

Normatif

Anjing! bangsat! babi!! tai!
Dasar pelacir! bangke! setaaaaaan!!!

Kata-kata yang dianggap menghina, umpatan, gak baik, dosa, gak sopan, gak dapat diterima secara normatif. Dianggap menjudge, dll. "Jangan melabeli seseorang", "jangan diinget2 nanti kesel", "gak boleh ngomong gt", "jangan teriak", "dosa", "gak boleh", blabla.

Tanpa sadar, ada sebuah penilaian dan judgment terhadap seseorang yang mengeluarkan kata-kata itu saat ia sedang sanagat stress, sakit hati, stress, depresi, ataupun sakit hati. Kata-kata dan teriakan sebagai katarsis dari luka-luka yang ditekan terus menerus. Pada akhirnya, dimana manusia dapat diterima secara manusiawi? Sesederhana menerima saat seseorang sedang meluapkan emosinya, menerima kalau dadanya sedang sesak, menerima kalau spontanitas meledak terjadi karena jiwa sudah tak tahan? 

Jangkan menolong sesederhana membiarkan seseorang marah, teriak, menangis sampai selesai agar emosinya ke release. Masyarakat pada umumnya akan banyak aturan, melarang, menghamabt seseorang untuk menyehatkan jiwanya. Ujung-ujungnya disuruh ditahan ditahan ditahan tanpa solusi praktikal bagaimana cara merelease nya? semua serba di tekan-tekan. 

Saat kita sakit hati sama orang, dan setiap inget orang itu langsung muncul emosi intense, tandanya masalah sama dia blm selesai. Dan ini solusinya bukan dengan melupakan dan jangan diinget2, justru diselesaikan. Dengan cara apa? Release. Nulis semua sakit hati dan emosi yg ingin dikeluarkan, cari tempat aman untuk nangis ataupun teriak maki2, cari teman yg mampu memahami tanpa judgment (mendengarkan). Jika belum reda, sampaikan langsung ke orangnya. Indikasi trauma, sakit hati sembuh adalah saat diri mengingat kejadian dan orang tsb, emosi tetap netral. Tandanya masalah sudah selesai. Memaafkan butuh proses, Salah satu proses untuk sampai ke titik memaafkan ya dengan memahami whats going on, mengeluarkan semua emosi yang ketahan kependam biar jiwa lapang, menerima (ini butuh bantuan Tuhan bgt). Memaafkan beda dengan melupakan/ gak diinget2. Memaafkan terjadi ketika kita inget kejadian dan orangnya tp diri gak ada emosi apapun. 

Jika kita memaksakan untuk melupakan tp di alam bawah sadar blm mampu memaafkan atau menerima. Saat ingatan hal terkait muncul di kemudian hari, emosi yang ditekan-tekan bs meledak seketika hingga orang bingung "kok gt aja bs sampe se reaktif itu", "knp nih org stress dasar gilak", "gw gak pny masalah malah marah2". 

Intinya mau sharing.
1. Marah, nangis, kesal, itu hal wajar dan manusiawi.
2. Konfrotasi, menyampaikan, tanda kalau sesuatu masih jd masalah buat orang dan butuh closure atau sesederhana menyampaikan untuk akhirnya mampu memaafkan.
3. Teriakan, makian, luapan emosi yang keluar, sebuah katarsis dan proses healing orang membersihkan sampah2 dan luka batinnya. Dont take it personal, kecuali ya memang ada porang-orang maki2 karena ingin maki dan bales2an, itu beda cerita. 

Kadang merhatiin orang-orang yang taat beragama ibadah, tp pola pikirnya jd judgmental tentang benar salah, dosa pahala, malah jd kurang empati untuk memahami keadaan perasaan orang. Jadi saat seseorang dianggap kurang baik/salah/dosa, langsung di nasehatin itu salah dan dikasih tau yg bener apa. Tanpa memberikan ruang untuk orang tsb memahami keadaan, berkontemplasi, dan akhirnya mendapat insight tersendiri. Semua serba di cekokin salah benar, nasihat, solusi2 normati  harusnya harusnya, jangan begitu jangan begini, dll. Ya gak semuanya sih, ada jg yg beragama baik dan pny empati tinggi dan toleran.

Yang gak beres, kalau kesal sama si X tp muntahnya ke Z. Itu namanya gak fair. Atau kesal sama si X, ngomongin si X kemana2 cari masa, teman, dan dukungan, tp gak ngomong langsung ke si X dan menyelesaikan masalahnya. Ada juga orang-orang yang saat nyulut masalah, langsung kabur.

Ada istilah kalau ucapan cerminan hati. Kalau orang ngomong binatang dikala lg super meledak tertekan, apakah hatinya pasti buruk? Kalau orang bertata krama yang dianggap baik, santun, kata-kata halus, tp tukang tipu, suka selingkuh, licik, hatinya pasti baik hanya krn ucapannya baik? Orang yg ngomong kasar, konteks dan keadaannya beda2. Ada yg emang kebiasaan, lg kesal, hatinya buruk, dll. Tutur kata halus juga gak selalu mencerminkan kebaikan hatinya. Pandangan-pandangan benar salah, dan hitam putih seperti itu yang sebenarnya jadi judgment. 



Saturday, January 16, 2021

Cinta yang tak selesai (2)

Awan putih, langit biru, berganti senja.
Hari demi hari berganti, menanti yang tak kunjung datang.

Kerinduan menjadi amarah.
Ekspresi yang tak bisa diungkapkan.
Pertanyaan yang tak pernah mendapati jawaban.

Masalah yang tak selesai.
Cinta yang tak tersalurkan.
Mengerogoti kebahagian seiring waktu.

Tahun demi tahun berlalu.
Kesedihan semakin dalam hingga tak mampu terungkap.
Meninggalkan jiwa dalam kekosongan tak pasti.

Setengah jiwa hilang tak kembali.
tanpa kabar, tanpa kepastian.
Mengubur cinta yang tak selesai, yang terulang kembali.
Menambah luka yang belum sembuh, lagi dan lagi.

Tangis tak keluar.
Teriak tertahan.
Hati memendam.
Luka bertambah.

Tipisnya batas cinta dan luka
bahagia dan menderita
sembuh dan sakit
bebas dan terkekan.

Saturday, January 9, 2021

Hidup

Hidup seperti berada dalam sebuah permainan, dimana diri harus terus bergerak untuk sampai ke tujuan. Melewati level demi level hingga finish. Dalam setiap level, tantangan dan kesulitannya pun berbeda. Selalu ada hal-hal baru yang sebelumnya tidak dikenal dan belum pernah diatasi dan teratasi. Ada batas yang ditentukan yakni waktu dan "nyawa", saat habis batas waktu ataupun nyawa, diri perlu mengulang lagi dari awal. Adapun bantuan yang ditawarkan yang dihasilkan dari jumlah poin yang di dapat di level sebelumnya ataupun di sesi bonus time. Dimana bantuan tersebut bisa digunakan di hal-hal mendesak untuk akhirnya bisa diatasi dan naik level. 

Untuk melewati setiap level, dibutuhkan modality, strategi, tindakan yang tepat, skill, dan banyak hal lainnya. Ada level yang mudah, ada yag sulit. Ada level yang sebelumnya mudah, pas diulang jadi lebih sulit ataupun sebaliknya. Dalam sebuah permainan, kita tidak bisa memaksakan pemain lain untuk segera melewati suatu level dengan cepat, keculi jika kita yang mengantikan ia bermain. Karena kemampuan setidap orang berbeda, kita hanya bisa memberikan saran, masalah berhasil atau tidak tergantung kecakapan pemain itu sendiri.

Sama dengan hidup, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk cepat move on, untuk mendapatkan closure nya sendiri, untuk tidak banyak berfikir, untuk melepaskan traumanya, dan segala nasihat-nasihat yang sebatas omongan tanpa tindkan nyata seperti support, pemberian rasa aman, validasi, comforting, diskusi, membimbing, dan menemani secara konsisten. Bagi kita yang pernah mengalami marahnya patah hati dan butuh tahunan untuk merelease rasa sakit hati, pengkhianatan, kehilangan, mencari closure yang tak pernah diberikan, membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri, merapihkan self esteem, menerima keadaan, me-release segala emosi, melepaskan trauma, bukanlah hal mudah dan sesingkat bersin. Sekalipun solusinya adalah tentang penerimaan alias "menerima", realitanya butuh proses sampai ke tahap tersebut, dan proses setiap orang akan berbeda-beda. Tergantung dari ketahan dirinya, tingkat luka batinnya, histroy sebelumnya, luka-luka sebelumnya, lingkungannya, support systemnya, masalah-masalah lainnya yang sedang dihadapi, keadaannya, dll. Misal, ada orang putus cinta, dan level ketahanan mentalnya sama. Yang satu punya sahabat, keluarga, financial secure, kehidupan sosial sehat, fisik oke, prosesnya bisa lebih "smooth", sedangkan yang satu hidup sesendirian, gak punya temen dekat, gak ada keluarga, struggle sesendirian bahkan untuk cerita melepaskan perasaannya aja tidak ada orang yang bisa dan mau mendengarkannya, ditambah dia sedang ada masalah lain, misal secara finansial lagi sempit, jobless, fisik gak bisa jalan habis kecelakaan. Prosesnya akan berbeda. Yang sesendirian bisa lebih lama dari yang punya support system, bisa juga lebih cepat prosesnya karena masalah-masalah hidup lainnya jauh lebih ribet dan berat dari urusan hati, jadi groundingnya lebih cepat dan lebih mudah move on.

Saat diri berhasil menyelesaikan suatu level, maka akan naik ke level berikutnya. Indikasi naik level adalah ketika hal-hal yang dulu menjadi masalah menjadi hal yang netral biasa aja, tanpa trigger, tanpa lonjakan emosi, tanpa beban. Meski itu menjadi masalah, namun menjalaninya lebih ringan dan yaudah aja. Selain itu, salah satu indikasinya saat ada pemahaman yang di dapat dari proses sebelumnya. Saat sampai ke titikitu, maka bersiaplah untuk ujian selanjutnya, tentunya dengan masalah dan ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada ujian siapa yang lebih berat ataupun ringan, tidak bisa dibandingkan. Karena setiap orang memiliki ujian sesuai kemampuannya masing-masing dan dalam takaran yang adil menurut Tuhan. Misal, buat orang yang tidak punya trauma pengkhianatan, hubungan ortunya harmonis, saat di selingkuhi, dia bisa lebih mudah melewati, legowo dan yaudah putus, selesai. Buat orang yang sebelumnya ada insecurity dalam hubungan, beberapa kali dikhianati hingga trauma, tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dan ada kasus perselingkuhan, saat diselingkuhi, reaksinya akan lebih intense bahkan menghasilkan masalah baru lainnya, seperti depresi, psikosmatis, bolak balik opname, nambah trauma baru, dan ngembet kesana sini efeknya. Ujiannya sama: diselingkuhi, dampaknya bisa berbeda, karena history dan keadaan setiap orang berbeda. 

Ada orang yang stress gak kerja, stress karena punya insecurity finansial, ada yang stressnya karena kehilangan ruang aktualisasi diri, ada yang stress nya karena kehilangan kehidupan sosial, ada yang stressnya karena gengsi. Kasusnya gak kerja, reason stress nya berbeda-beda. Kalaupun reason stress nya sama, intensitas dan dinamika sebelumnya pasti beda.  

-------------

Ada hal-hal yang dulu menjadi sebuah masalah besar, sekarang hanya butiran debu yang tak diperhitungkan keberadaannya. Bukan masalahnya yang mengecil, namun jiwa dan wawasan yang menjadi lebih luas, sehingga yang sebelumnya terlihat besar menjadi kecil. 


9/1/21

Sang senja menghantarkan langit.

Biru berangsur jingga

Meredup berganti terang.


Isak tanggis dalam kesunyian

Melebur dalam diam

Hanya cinta yang tersisa.