Wednesday, August 4, 2021

3/8/21

Bagaimana jika tidak ada yang salah dengan diri?
Bagaimana jika diri memang berbeda dengan lingkungan sekitar?

Masalah muncul saat orang tak mengenal diri, tak mau mengenal, tak mampu melihat potensi diri, dan merasa diri dan hidupnya benar sehingga melihat diri yang berbeda dianggap salah dan bermasalah.

Contoh:
Seseorang lahir dengan bakat menjadi single fighter dan nyaman dengan dirinya sendiri meski dalam kesendirian. Lalu saat lahir, ia diajarkan untuk melakukan sesuatu bersama orang lain, untuk selalu punya teman. Ia mengikuti apa yang diperintahkan care givernya, hingga banyak masalah muncul, ia tak fit in dengan sekitarnya karena berbeda, dirinya yang disalahkan. Ia nyaman sendirian, dianggap aneh dan seolah-olah tidak ada yang mau berteman dengan dirinya, judgment mulai berdatangan mengikis identitas asli hingga diri menjalani hidup berdasarkan identitas yang ditanamkan sekitarnya bukan berdasarkan jati dirinya sendiri.

Lambat laun, ia semakin terpuruk karena sepanjang perjalanan hidupnya, ia selalu sendirian, mengurusi semua hal sendirian, dan semakin merasa cacat tak berdaya karena merasa seharunya ia memiliki support system, akhirnya fokus masalah berada bagaimana ia mampu punya kehidupan seperti orang lain yang akrab dengan keluarga, punya support system, punya teman, ada teman perjalanan, mampu bergantung dengan orang lain, dll.

Munculah pertanyaan:
"Mengapa diri selalu berada dalam kesendirian?"

Bagaimana jika diri terlahir sebagai single fighter yang sebenarnya sangat mandiri dan tidak bermasalah sendirian. Semesta sudah kasih petunjuk untuk kembali ke jati diri, untuk mengenali power diri, dengan memberikan masalah dan membuat orang sekitar meningalkan diri dalam kesendirian. Dengan diri mampu bertahan hidup sampai sekarang dengan segala masalah dan kesendirian, tandanya diri mampu. Aknowledge dan terima kalau diri kuat, mandiri, mampu, dan sebagai single fighter.

Contoh lain:
Mayoritas orang menerima informasi (nge-sense) melalui 5 panca indra nya dna diolah berdasarkan nalar logika. Saat seseorang lahir dengan kekuatan batin yang tinggi, intuisi yang tinggi, mampu nge sense dan menerima informasi dengan cepat sebelum ke sense panca indra (terbukti), maka dianggap aneh, diragukan, diremehkan, dianggap tidak valid, dianggap suudzon, dianggap ini itu. Hingga ia merasa dirinya salah, gak bener, bingung sendiri, tidak mempercaya dirinya sendiri, yang berakhir jadi kacau. Dipaksan untuk nge sense lewat panca indra, diakala ia punya antena yang jauh lebh cepat dan tajam untuk menerima dan mencari informasi. 

Ia diperlakukan seperti itu, hanya karena ia berbeda dengan mayoritas dan mayotitas tidak mampu memahami cara kerja otak, sistem ia menerima informasi, bahkan nalarnya tak mampu memahami apa yang dialami dan dimiliki oleh orang tersebut. 

Butuh waktu lama dan perjalanan yang tak mudah untuk kembali ke jati dirinya, untuk get in tpuch dengan ability nya dalam nge sense sesuatu, apalagi kalau dalam prosesnya ketemu/ di bimbing sama orang yang mirip dengan mayoritas yang telah merusak dirinya. Alih-alih kembali ke jati diri asli, malah semakin rusak, bingung, dan jauh dari nature nya.

Monday, August 2, 2021

Ada yang berubah #1

Waktu kecil, aku menganggap semua hal itu harus diusahakan dan keberhasilan sebanding dengan kerja keras. Prinsip itu aku pegang dan lakukan dari tahun ke tahun. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dan usahakan. Semua aku catat dan semua berjalan lancar sesuai jadwal dan target. Hal ini membuatku semakin yakin dengan konsep keadilan sebuah usaha dan hasil. 

Hingga suatu ketika, ada kejadian diluar nalar dan kebiasaan. Aku tak mendapatkan apa yang diusahakan, rencana hidupku berantakan tidak sesuai jadwal yang dibuat. Sempat frustasi hingga depresi, kesal dengan diri sendiri, menyalahkan diri sendiri. Hingga semakin terpuruk dengan keadaan itu sampai kehilangan tujuan hidup dan merasa semua hancur berantakan.

Lambat laun, aku mulai belajar melepaskan kegagalan yang terjadi, mulai menerima ada hal-hal diluar kontrol manusia, mulai belajar menikmati setiap momen dan proses hidup. Di saat itu pun, aku mulai belajar menyayangi diri sendiri, memaafkan diri, menurunkan ego, menurunkan fungsi otak logikaku, lebih ikhlas menjalani hidup sebagai mahluk Tuhan yang sejatinya semua hal yang terjadi di dunia adalah atas izinNnya dan menyakini semua yang terjadi adalah hal terbaik untuk saat itu.

Untuk orang-orang yang terbiasa hidup rapih, penuh tujuan, pekerja keras, disiplin, berambisi, bukanlah hal mudah hidup dalam ketidakpastian dan membutuhkan fleksibilitas yang tinggi. Pada akhirnya, pembelajaran yang diambil adalah tentang bagaimana menikmati hidup. 

Tuesday, July 27, 2021

Bagaimana Jika

Bagaimana jika Tuhan sudah mengabulkan semua doa diri lewat semesta?
Bagaimana jika semesta telah menghadirkan semua yang diri perlukan?
Bagaimana jika sebenarnya diri sudah mendapatkan yang dibutuhkan?

Bagaimana jika sebenarnya dirilah yang tak peka dengan petanda?

27/7/21

Bagaimana jika zona amanmu adalah keadaan yang chaos?
Bagaimana jika zona amanmu adalah berputar-putar pada hal yang sama?
Bagaimana jika zona amanmu adalah hidup stagnant dan stuck?
Bagaimana jika zona amanmu adalah menciptakan masalah?

Bagaimana jika kedamaian, ketenangan, keberlimpahan sudah mebghampiri, hanya karena sesuatu diluar "kenyamanan dan keamaan" dalam alam bawah sadarmu, maka hal-hal itu kamu tolak?

Dear universe, please show me how to get off from my comfort zone

26/7/21

Se toxic dan se disfungsinya orang tua,
Semerusaknya orang tua terhadap anak
Mereka masih mengusahakan untuk kebahagian anak.

Saturday, July 10, 2021

10/7/21

Terima kasih atas angin yang berhembus dari tadi pagi
Terimakasih atas pencernaan yang sehat dan lancar
Terimakasih atas makanan yang menyenangkan
Terimakasih atas hangatnya matahari

Terimakasih untuk hati yang tentram

Monday, July 5, 2021

5/7/21

Semakin hari, semakin banyak orang yang terinfeksi virus corona.
Obat-obatan semakin mahal, tabung oksigen langka, semua berebut untuk kepentingan dirinya masing-masing. Entah untuk pengobatan mandiri di rumah, atau menimbung mencari keuntungan.
Rumah sakit penuh, pilih-pilih pasien mulai di lakukan.

Semoga dalam masa sekarang yang dihadapkan berbegai pilihan, termasuk memilah-milah pasien, bisa dilakukan dengan tepat dan bijaksana. Semoga para dokter dan pihak terkait tidak melakukan kedzoliman. Bahkan psikiater (tdk di semua rmh sakit) pun sudah mulai memilah-milah pasien, hanya menerima pasien lama. Lalu bagimana nasibnya pasien-pasien baru?

Para profesional mulai memilah prioritas dan mana yang akan dibantu dan dikerjakan. Kadang berdasarkan urgensi keadaannya, kadang berdasarkan judgmentnya, kadang berdasarkan kedekatan. Banyak orang yang menderita corona membutuhkan pendampingan psikolog. Menunggu jadwal hingga berminggu-minggu hingga depresi bahkan bunuh diri. Lain halnya jika sudah kenal, bisa minta 3 hari sekali ataupun setiap hari sekalipun pasiennya memiliki support systme lain.

Banyak ketidakadilan.
dan itulah dunia.

Saturday, July 3, 2021

Klakson

Tadi sore buka youtube, di home nemu video tentang orang yang marah-marah sampe nodong pistol ke supir truk. Barusan pas mau tidur, liat youtube, ada lanjutan video dari kejadian itu. 


Dari video pertama, diceritakan kalau ada mobil pajero ngambil jalan orang, terus supir truck itu kasih klakson. Mobil pajero ini berhenti, langsung mecahin kaca depan truck dan nyerang supir sampe nodong pistol. Di video kedua, pelacakan sopir pajero. Garis besar kejadiannya berdasarkan berita di video seperti itu.

Yang mau gw bahas adalah.....
Kalau kalian dalam keadaan tenang, damai, gak punya asosiasi atas klakson, dalam kejadian kalian ngambil jalan orang, pas di klaksonin kendaraan lain di belakang, reaksi kalian gmn?
Kalu gw jujur, woles. Karena gak ada yang di rugikan (gak nabrak, gak bikin orang celaka, dll), di klakson wajar, bisa jadi kendaraan di belakang kaget atau sebel jalannya gw ambil. Klakson itu kan cuma bunyi untuk warning sesuatu/ berkomunikasi antar mobil, gak ada definisi apapun lg kalo di gw.

Lain halnya dengan beberapa orang, ada yang kalo di klakson gak suka, marah, kesal, karena merasa harga dirinya direndahkan, jatuh, dianggap salah, ego nya kesonggol, kesinggung, yang berujung reaktif. Dari mulai kesel yang di pendam sendiri, marah-marah sendiri. Kalau posisi yg kasih klakson  sebagai tanda mau nyalip biar kita gak tiba2 pindah jalur, itu ada aja loh yg tiba-tiba jadi ngebut dan bales kasih klakson membabi buta.

Ada juga seperti pedagang, becak, pendorong gerobak, pejalan kaki, orang yang naik sepeda, dll, yang saat di jalan dapat klakson, mereka kesinggung. Ada yg diam, ada yg bergesture merendahkan, ada yang marah2, ada yg anarkis. Bisa jadi, kendaraan yang kasih klakson lg ngasih tau untuk "berhenti dulu" karena takut dia nyenggol dagangan/barang orang. Bisa jadi juga buat kasih tanda hati-hati ke pejalan kaki untuk lebih aware ada mobil alias takut ketabrak. 

Realitanya, dalam masyarakat kita, klakson sering dianggap sebagai bentuk arogansi. Jadi penasaran deh gimana sejarah dan prosesnya sampe si klakson ini bisa di persepsi sebagai sesuatu yang arogan dan kalau di klakson, diri jadi merasa "rendah". Kalau lagi jalan kaki, di klaksonin kaget jg sih emang. Dan tidak di pungkiri, memang ada aja mobil yang bentar-bentar klakson karena "arogan".

Buat yang tersinggung saat dapat klakson, bisa ditanyakan ke diri sendiri:
Sejak kapan dan dari mana kamu belajar kalau di klakson itu petanda diri salah dan harga diri jatuh?
*for gaining awareness. 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Btw, bahas dikit tentang kasus pajero ya,
Kalau orang lagi tenang, santai, gak ada kejadian senggol menyenggol kendaraan, di klakson ya woles. Nah pertanyaannya kenapa supir pajero ini bisa sangat agresif dan reaktif? 

ini opini pribadi ya, bukan sebuah fakta.kebenaran (krn blm tervalidasi), kalo gw melihatnya psikis dia gak sehat. Bisa jadi dia lagi stress, banyak masalah, dan punya gangguan kepribadian, dimana klakson menjadi trigger traumanya (mungkin perasaan dilecehkan/ di blamming, tergantung persepsinya), pas kesengol lewat kejadian itu, langsung reaktif dan agresif nyerang pelaku (klakson). Aapalagi kalau di tambah dia lagi stress yang udah mau meledak, ada kejadian itu, ya abis supir truck nya jadi bahan pelampiasan. 

Saran, kalau ada kejadian-kejadian yang "anomali" semacam orang menganiaya orang lain (yang gak dikenal) cuma dari perkara sepele (di klaksonin), di cek dulu kesehatan mental dan jiwa nya. Kalau ternyata gak sehat, apakah adil mendapatkan hukuman yang sama dengan orang yang sehat secara mental? Kecuali kalau karakternya memang begitu alias gak punya gangguan kepribadian dan jiwa.

Orang yang sakit secara mental/jiwa (termasuk yang punya gangguan kepribadian), saat melakukan sesuatu yang melanggar hukum, di penjara. Apa jadi bikin sembuh, membaik, perilakunya berubah, dan jadi jera? Atau malah memperparah keadaannya? Bukannya yang kaya gitu harusnya di kasih terapi dan minum obat psikiater (dalam kasus2 tertentu)? Sama kaya kasus narkoba, bingung gw sampe skrg, knp pecandu harus di penjara? Apakah dengan di penjara bikin jadi berhenti dari narkoba? Bukannya harusnya di bawa ke panti rehabilitasi ya? Dia kan pemakai bukan pengedar. 

Dari sistem yang diterapkan dalam keseharian dari kita kecil, banyak yang menerapkan hukuman sebagai bentuk untuk mengontrol. Hukuman penjara, untuk mengontrol angka kejahatan, dengan harapan bikin jera. Hukuman ortu untuk mengontrol anak agar nurut. Hukuman di sekolah, untuk mengontrol pelajar agar mengikuti aturan. Lalu muncul pertanyaan, apakah mengontrol itu harus dengan menghukum? apakah hukuman satu2nya cara untuk mengontrol sesuatu? Kalo jawabannya iya, ya gak heran banyak orang-orang manipulatif muncul atau bahkan terbentuk. Karena hukuman dasarnya memanfaatkan rasa takut manusia. Ada orang yang saat takut/ merasa terancam diam, ngikut, sampe dirinya merasa aman. Ada yang berontak frontal dan berakhir konflik. Banyak yang menyelamatkan dirinya dengan manipulasi. 

Ok, sekian dulu, bahasannya jadi nyambung kemana2.
Semoga dapat insightnya ya.

Saturday, June 26, 2021

Sempurna

Dulu gatau kenapa nyokap sering banget ngomong "siapa yang mau nerima kamu" dan seolah-olah gw hrs perfect banget. Kalo skrg udah tau knp nyokap bs ngomong gt dan dinamikanya knp.

Nah, saat ibu ngomong gt, untuk urusan lawan jenis, gak pernah ada insecurity apapun (mungkin krn gw pny relasi emosional yg baik dengan ayah), jadi ibu ngomong kaya gt terkait pasangan hidup, gak mempan.

Dalam realitanya, emang bener ada.
Kalo diinget2, kelakuan gw minus aja, bisa ada yang suka dan ngajak nikah. Bahkan pernah gw kerjanya marah-marah mulu dan temperamental, itu ada aja loh yang naksir dan ngajak serius. Dari banyak kejadian-kejadian kaya gt, gw belajar kalau setiap orang punya pasarnya masing-masing dan pasti ada aja yang akan nerima diri. Jd yaudah aja. Gak perlu nge push diri harus sempurna, ngikutin standard sempurna sosial, dan akhirnya jd insecure.

Buat yang suka dapet kata-kata "siapa yang mau nerima kamu", 
Inget, kalo kamu sendiri harus mau dan bisa nerima diri kamu sendiri. 

Kalo skrg diomongin "siapa yang mau nerima kamu", 
gw akan jawab "aku. aku yang mau nerima diriku sendiri".

Eh belok dikit bahasannya haha...
Inti yang mau disampaikan, 
kalau tiap orang punya segmennya masing-masing dan pasti ada aja kok yang mau nerima.

26/6/21

Barusan abis nonton obrolan uus dan arap beserta istri-istrinya di youtube. Ada bahasan kalau uus berantem sama istrinya, udah gak fokus ke kata-kata (yang bs dianggap kasar) tapi ke masalah.

Tiba-tiba berasa dapat pencerahan karena dalam kehidupan sekarang, sering banget ribut karena orang mempermasalahkan reaksi bukan tentang kenapanya dan apa masalahnya. Termasuk tentang kata-kata makian, kebanyakan orang akan fokus "kok ngomong kasar", "gak boleh kaya gt", "itu namanya dosa", blabla, tidak ada ruang untuk emosi keluar. Banyak orang yang seneng untuk fix other tanpa melihat masalahnya.

Sedikit yang bisa melihat mana orang marah-marah karena melepas emosinya, mana yang marah karena untuk nyerang, marah untuk dapat kontrol, marah untuk menunjukan diri, marah untuk melindungi diri. Begitupun saat ada masalah, gak semua orang bisa membedakan mana luapan emosi dan mana masalahnya. 

Contoh:
"Dasar lo anjing blabla"
a: "yaudah masalahnya gini, jd mau gmn?" (fokus ke masalah)
b: "kok lo ngatain gw anjing, blabla, emang lo gak anjing blabla" (fokus ke reaksi dan ekspresi orang)

Duh gw ngantuk bgt, segini dulu.

Thursday, June 17, 2021

Covid

Kenapa sih covid harus diperangi?
mereka kan cuma virus yang cara hidupnya begitu.

Apakah segala sesuatu yang dianggap menganggu manusia berserta rutinitasnya, 
dianggap musuh? harus diberantas?

Kenapa respon spontan pada ketidaknyamanan dan sesuatu yang dianggap mengancam adalah dengan memeranginya?

Pernah gak dalam situasi yang dianggap mengancam, menyusahkan, dll, kita bertanya pada diri sendiri "apa ya kontribusi hal ini untuk diri? untuk dunia? untuk bumi? untuk masa depan?"
"apa ya yg bisa sy lakukan dalam keadaan seperti ini yang membuat potensi sy lebih keluar?"
"apa ya yang ingin covid fasilitasi untuk perubahan?"

Sunday, May 30, 2021

Kurang Ajar

Anak mukul ortu --> kurang ajar, gak sopan, durhaka.
Ortu mukul anak --> sah, boleh, mendidik.

Suara anak lebih keras dari ortu --> kurang ajar, gak sopan, durhaka.
Ortu teriak and yelling ke anak --> sah, boleh, mendidik

Anak speak up their mind --> kurang ajar, gak sopan, durhaka.
Ortu jejelin dogma dan proyeksiin luka batinnya --> sah, boleh, mendidik.

Anak gak mau denger ortu --> kurang ajar, gak sopan, durhaka.
Ortu gak mau denger anak --> sah, boleh, mendidik.

Anak gak mau respect sama ortu --> kurang ajar, gak sopan, durhaka.
Ortu gak mau respect sama anak --> sah, boleh, mendidik.

karyawan/org lbh muda/murid blak2an ke atasan --> kurang ajar, gak sopan.
Bos/guru/atasan maki2 bawahan di depan umum --> sah, boleh, pantas.

Sebenernya sopan santun itu apa?
definisi kurang ajar itu apa?

kalo diamati, hal-hal tersebut berakar dari hirarki.
Dan konsep hirarki siapa yg bikin?
Tujuannya apa selain untuk mengontrol?
apakah based on respect to each other?
apakah masih relevan?
Apakh adil?

Wednesday, May 19, 2021

19/5/21

If only you could see the tears in the world you left behind
If only you could heal my heart just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace

Soledad
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
Soledad

Walking down the streets of Nothingville
Where our love was young and free
Can't believe just what an empty place
It has come to be
I would give my life away
If it could only be the same
'Cause I can't still the voice inside of me
That is calling out your name

Soledad
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me
Soledad

Time will never change the things you've told me
After all we're meant to be love will bring us back to you and me
If only you could see

Soledad
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me

Soledad
It's a keeping for the lonely
Since the day that you were gone
Why did you leave me
Soledad
In my heart you were the only
And your memory lives on
Why did you leave me

Soledad

Sunday, May 16, 2021

16/5/21

disclaimer: opini pribadi.

Agama tidak memaksa, tidak jahat, tidak membuat hidup lebih susah dan menderita.

Kadang orang menolak agama atau mengimani sesuatu, bukan karena agamanya itu sendiri, melainkan cara penyampaian dan orang yang menyampaikannya. Mungkin disini  pentingnya adab.

Adab bukan tentang penyampaian sopan santun menurut "aturan", tapi bagaimana kita mampu melihat situasi, kondisi, berempati, menyesuaikan diri, berkomunikasi, dan lain sebagainya hingga akhirnya yang ingin disampaikan tersebut mampu diterima orang tanpa melukai hati, crossing their boundaries,  judgment, atau triggering. Mungkin disini seni nya, alias pintar2 berkomunikasi dan menyampaikan. Dan itu semua tidak bermodalkan logika saja, butuh kecerdasan emosional, kepekaan, sensitifitas, intuisi, dan awareness.

Misal, salah satu ajaran agama yang saya imani, mengajarkan cara menasehati dengan berahasia tidak di depan umum. Itu caranya, dan apakah pernah mempertanyakan WHY nya? kenapa harus begitu caranya? atau hanya sekedar mengikuti saja? Kalau direnungkan, saat menasehati secara rahasia, kita menjaga privasi orang tersebut, menjaga dignity nya, menjaga hal yg dianggap sebagai suatu kesalahan (hingga butuh dinasehati), agar bisa lebih terkoneksi dari hati ke hati. Esensi WHY nya yang kita gunakan. Melihat moment yang tepat, membuat orang tersebut merasa nyaman dahulu, membuat orang tersebut secure dan trust, baru angkat pembahasan terkait yang ingin disampaikan untuk membantu dia memperbaiki hidupnya, tahu kapan harus ngomong dan tahu kapan harus stop.

Dalam masyarakat pada umumnya, kadang orang yang ingin menasehati atau menyampaikan hal yang dianggap benar, seringnya berapi-api, terus nyerocos tanpa evaluasi, bahkan memaksakan pandangannya untuk dapat diterima yang berakhir pada judgment dirinya benar dengan berlindung dibawah kitab suci Tuhan dan orang lain salah butuh diluruskan. Lupa pada hakikat bahwa dirinya hanya menyampaikan bukan yang punya kendali untuk meluruskan orang, ujung-ujungnya jadi obsesi, ekspetasi, proyeksi, dan prejudice.

Sesuatu dari hati akan sampai ke hati. 
Hati menangkap frekuensi, tidak bisa ditipu dengan ucapan, logika berfikir, apalagi di manipulasi. 

16/5/21

Terimakasih bagi Tuhan Semesta Alam.

atas segala kesempatan tumbuh yang diberikan

atas segala pertolongan yang di datangkan

atas segala kedamaian batin yang hadir

atas segala ilmu yang dipahami.

Wednesday, May 12, 2021

Malam Takbir 2021

 Bismillahirramhanirrahim

Diri tidak bertanggung jawab terhadap siapapun.
Diri hanya bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan Sang Pencipta.
Saat diri membebaskan dari segala keterikatan dan hanya terhubung pada the ultimate divine of love (Tuhan Semesta Alam) maka dimanapun diri berada tidak ada rasa kesepian; dimanapun diri tinggal, itulah rumahnya.

Semoga kita menjadi manusia yang bebas, tak terikat apapun selain dengan yang menciptakan kita.
Semoga kita menjadi manusia yang mampu hidup dengan sebenar-benarnya hidup.

Sunday, May 2, 2021

Receive

Pada dasarnya, kita ingin hidup baik-baik saja, tidak suka gangguan, ketidaknyamanan, bahkan mungkin perubahan sekalipun dimana itu semua mampu membuat kita lebih expand, lebih maju, lebih kuat, lebih sukses. 

Kebayang gak kalo kita pengen punya badan six pax tapi gak mau capek, gak mau sakit-sakit badan, gak mau diet, gak mau tidur keganggu, gak mau waktu terambil buat workout, gak mau merubah kebiasaan makan makanan berlemak tinggi kalori dan gula, tidak mau melakukan perubahan apapun tapi pengen six pax? apakah keinginan itu bisa tercapai?

Atau contoh lainnya, seseorang yang ingin menuju pulau sebrang tapi gak berani berlayar sendiri dikala di pulau itu dia cuma sendirina, takut ombak, takut kena angin, takut basah, takut ini itu segala macam. Aapakh akhirnya ia mampu  memutuskan untuk taking action dengan segala resikonya berlayar menuju pulau sebrang? 

Kadang ketidaknyamanan, kesulitan, trigger, hambatan, gangguan, usikan, bukanlah hal negatif yang perlu dijauhin, dihindari. Bisa jadi itu peluan-peluang untuk membuat diri tumbuh lebih kuat dan melejit melebihi keadaan saat ini. Hal yang perlu dilakukan hanya receive alias menerima. Menerima semua kejadian, orang, ketidaknyamanan yang semesta berikan, lewati, ambil semua pelajarannya, dapatkan insight nya, sampai akhirnya kita terbiasa dengan kesulitan-kesulitan itu dan zona nyaman kita pun menjadi lebih luas. Misal, dulu kita keganggu banget sama keluarga nyinyir sampai gak nyaman untuk datang ke acar keluarga, ya jangan dihindari, terus aja datang tapiiiii diri kita yang diubah untuk lebih expand dalam menghadapi sesuatu hingga akhirnya nyinyiran yang menganggu kita sebelumnya menjadi hal yang tidak menimbulkan reaksi atau trigger apapun.

Duh kan jadi gatel pengen cerita kisah sendiri wkwk.
2017 ada kejadian berat banget sampai hampir gilak dan pengen ngebuang penganggu itu untuk kembali hidup nyaman. Proses yang berat dan panjang banget. Sampe akhirnya aku dapatkan maksud kenapa mengalami kejadian itu dan ketemu bangsat itu. Karena dari kejadian dan pertemuan itu, aku mulai mengenal dirku sendiri. Jadi tau punya trauma apa aja, unresolved issue apa, tau apa yang menghambatku selama ini, memahami dinamika diri sampe ke dinamika keluarga dan leluhur, kembali terhubung dengan diri sendiri, hingga akhirnya bangkit menuju purpose of life yang terbengkalai belasan tahun.  Pada akhirnya saat kita mampu melewati segala badai dan merasakan manafaatnya minimal diri jadi lebih kuat, ketidaknyamana dan gangguan tersebut jadi hal yang disyukuri. 

Kemarin, gw sempet ngamuk dan super upset banget sama salah satu dokter gw. Pengen marah mukulin orang sampe mati, terus pengen nangis dan semua hal jadi keingetan, terus blamming sana sini termasuk blamming diri sendiri, jadi depresi lg, sampai akhirnya berkontemplasi "kejadian ini itu apa? mau kasih kontribusi apa terhadap diriku?". Yang biasanya kalo udah sebel sama orang apalagi sampe wellbeing rusak dan fisik kena dampaknya, pasti gw cut. Tapi kali ini nggak, gw tetap belajar dan kontak orang ini lagi dan di kasih pesan "belajar receive". Langsung kena banget pesannya. Terus jadi merenung banyak hal, berapa banyak peluan yang Tuhan kasih untuk aku bisa berkembang dan tumbuh besar kuat yang akhirnya aku sia-siakan dan buang? Abis itu berdoa minta kemudahan dan minta dikuatkan, lalu Tuhan berikan lagi peluan untuk aku tumbuh, aku tolak, terus berdoa lagi, muter-muter aja disitu sampai waktu abis banyak dan langkah kaki masih di tempat yang sama. 

Ada pepatah, pelaut unggul (kalau gak salah) tidak lahir dari ombak yang tenang.
Kita cuma butuh membuka diri, menerima yang semsat berikan tanpa ada judgment dan kesimpulan. Biarkan diri menerima, berproses, dan tumbuh hingga ke tempat seharusnya dan potensi keluar semua secara maksimal. 

Segini dulu ceritanya, kapan-kapan dilanjut.