Tuesday, January 17, 2023

Paradox

Cheerful but sadness
Love everyone but hate people
Very logic but deep feeling
Light but deeply intense
Open but very secretive
Emotional but calm
Commit but free

Being Missunderstood

Baik, dianggap ada maunya
Giving, dianggap mau taking
Tulus, dianggap cari keuntungan
Sayang, dianggap flirting
Nolong, dianggap penganggu
Healing, dianggap menganggu
Being open, dianggap cari perhatian
Jujur peduli, dianggap perusak
Deep feeling, dianggap lebay
deep thought, dianggap byk mikir
Intense, dianggap marah

Ada apa dengan orang-orang? 
Apakah semua org melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri?
Apakah semua melakukan sesuatu dengan kalkulasi untung rugi?
Apakah semua orang hanya peduli dengan diri dan circle nya?

Hurting

Takut menyakiti malah menyakiti lebih dari yang ditakuti

Orang takut menyakiti orang lain, malah berakhir super nyakiti deep hurtful and paint the pain deeply. 

Kalau gak mau, bilang nggak
Kalau mau menyudahi, bilang
Kalau ada yang ganjel, bilang
Kalau ada yang ingin disampaikan, sampaikan.

Silent, berpura-pura, ngilang, apalagi sampe cuma nyeneng-nyenegin, cm semakin menyakiti apalagi saat orangnya sadar tentang semuanya, tentang truth nya. 

Ya sebenernya, orang-orang yang takut menyakiti dengan jadi pura-pura, cuma nyeneng2in, lip service, dll bukan bentuk empati tapi self centre. Ia melindungi dirinya sendiri dari guilty, tidak nyaman dengan reaksi kesedihan, upset, atau asumsi-asumsi lainnya.

Being Thrown Away

Seumur-umur dalam hidup, gak pernah ada org yg nge cut diri permanent. Biasanya ya ilang gt aja krn sibuk masing-masing, atau emang gak deket, atau ya gak ada urusan lg, atau emang lg ada ribut. Cm ya ttp baik2 aja, gak ada block2, gak ada delete2, dan saat muncul kembali meski belasan tahun gak ada interaksi, rasanya ttp sama dan ttp welcome even interaksi terakhirnya ribut/berantem. Gak ada org yg pernah nge cut gw dlm hidupnya, gak mau ada gw lg, dan bener2 dibuang gt aja, dilupain kaya debu yg menganggu. Dan saat ngalamin itu sempet shock, sedih, dll. Gak ada bahasa apapun, ga ada say goodbye, selesai gt aja, say thankyou be ignored, bbrp minggu kemudian langsung di delete dan di cut semuanya. Dan pd akhirnya yaudah aja. 

Ditinggalin dan dibuang itu ternyata dua hal berbeda. Ditinggalin, org pergi ninggalin tp msh inget, msh bs nengok, msh bs balik lg, kita msh bs nyusul, masih terhubung, hanya bentuk separasi dan ada jarak. Kalau dibuang, ya dibuang kaya sampah yang udh gak berguna lalu dilupain sampe bener-bener gak inget eksistensinya. Ya, kita kalo buang sampah inget gak apa aja yg kita sapu dan masuk tong sampah?  

Thursday, January 5, 2023

"Ada apa dengan Jogja?"

R: "Ada apa dengan Jogja?"
A: "Entahlah"
R: "Aku merasa Jogja dan kamu itu seperti tangan yang tergenggam erat"
R: "Ada proyek disana?"
A: "Nggak"
R: "Banyak orang2 kamu disana?"
A: "Gak punya temen"
R: "Di kota mana drama trauma dan healing kamu terbanyak?"

2010 Jogja merupaka tempat kaburku, tanpa teman, taman sanak saudara, tanpa kenal siapapun disana, aku selalu kabur dari segala ketidaknyamanan ke kota itu sendiri. 2016 aku kembali kesana, isolasi diri dari siapapun termasuk kurir makanan, dan menulis tiap harinya. Beberapa bulan kemudian di tahun itu, aku kembali lagi setelah mengalami suatu kejadian, dimana hari pertama tidur selama 22 jam. Rasanya asing sekali bisa tidur selama itu. 2020 kembali kesana membereskan sesuatu, 2021 kembali kesana ada yang beres sekaligus membuatku mati dan dari situ perubahan besar terjadi dengan cepat. 2022 kembali kesana dan banyak yang terjadi, pain, suffering, drama, healing.

Ada apa dengan Jogja?
Rasanya seperti ada apa dengan Flores yang membuatku seperti kembali ke rumah, merasakan bahagia, hingga isak tangis dalam sesak selalu terjadi setiap meninggalkan Flores. Tapi tidak dengan Jogja, aku tak pernah sedih setiap meninggalkan Jogja. Yang aku sadari, Jogja setahun kemarin seperti roller coasteer yang tak pernah berhenti, segala yang hadir, singgah, ataupun hanya lewat memberikan kesan tersendiri bahkan goresan luka yang aku tak ingin melihatnya lagi ataupun sekedar mengingatnya. Dan di  kota itu pula, aku merasakan cinta yang entah datang dari mana, selalu ada saja kasih yang hadir dan menyembuhkan dalam kesendirian hening tanpa siapapun yang dikenal. 

Tuesday, January 3, 2023

Sadness Things

Hal menyedihkan, saat diri sedang diperlakukan tidak baik oleh orang lain (being taken for granted, abandoned, abused, disrespected, harmed), dikala di tempat lain ada orang yang benar-benar sayang, menjaga, dan melakukan segala macam untuk diri lebih banyak bahagianya tanpa mengumbar dan menceritakannya pada siapapun.

Child

Seorang anak yang lahir penuh perjuangan dari sepasang suami istri yang menunggu 3 tahun, melakukan bayi tabung habis ratusan juta, gagal berkali-kali, ditunggu penuh kesabaran, harapan, doa, dengan segala keyakinan Tuhan akan membantu mengabulkan hadirnya seorang anak. Lalu tumbuhlah janin tersebut dalam perut sang istri dengan perawatan luar biasa dan rasa sakit tertahan hanya untuk menunggu bahagia 9 bulan kemudian. Suntikan demi suntikan disuntik di perut agar janin kuat, dokter demi dokter dikunjungi, tabungan habis untuk merawat sang janin. Segenap cinta dicurahkan setiap saat, setiap detik, tanpa batas dan pamrih.

Sang bayi lahir lewat operasi, merobek perut sang ibu, di taruh di inkubator untuk beberapa hari, diberikan beragam perawatan, dilakukan skin to skin oleh sang ayah. Bahkan sang ibu yang belum pulih dari sakitnya sayatan dan operasi, harus rela bergadang merawat sang bayi, menyusui, mengeendong, memberikan kenyamana, menemani, dengan segala turbulen hormonal yang terjadi berbulan-bulan. Sang suami penuh kasih dan sabar mendampingi istrinya dengan berbagi tugas, mendengarkan keluhannya, menyayangi sang anak dan istri dalam porsi yang sama.

Tahun demi tahun sang anak tumbuh, tidak sedikit biaya, kesabaran, waktu, cinta, dan pengorbanan sang orang tua dalam pengasuhannya. Dan suatu ketika di tempat umum, sang anak mendapatkan pelecehan dengan judgment dan sikap kasar orang lain, apakah orang tersebut tau dan sadar seberapa berharganya anak itu? seberapa mahalnya anak itu? seberapa berjuangnya sang anak dan orang tuanya sampai detik itu? Apa orang-orang yang jahat, harming, bahkan abusif tuh sadar manusia yang mereka perlakukan tidak baik itu seberapa berharag dan seberapa berjuangnya orang-orang terdekat dibalik hadirnya? 

Saat sang anak manusia menginjak usia dewasa, apakah orang-orang sadar seberapa besar cinta, kasih, dan pengorbanan orang tuanya untuk merawat anak tersebut? Seberapa besar usaha, perjuangan, dan suffering yang dilalui sang anak sejak di kandungan dan selama hidupnya? Apakah orang-orang sadar manusia seperti apa yang sedang mereka perlakukan dengan kasar, tidak baik, jahat, diabaikan, dilecehkan, diusik, harming, di abuse secara emosional/ fisik/ seksual. spiritual? Apakah orang-orang yang memperlakukan seperti itu sadar kalau manusia siapapun itu berharga dan mahal? apalagi untuk kasus-kasus tertentu yang penuh persiapan dan perjuangan. 

Tidak semua orang yang hadir di dunia ini, menjadi janin dengan mudah, lahir dengan mudah, melewati hidup dengan mudah, semuanya serba mudah lancar tanpa suffering, struggle, sacrifice, trauma, dan segala obstacle dalam hidupnya apalagi jika itu semua ia lewati sendirian. 

Mungkin banyak orang yang gak pernah tau atau gak mau tau bahkan tidak peduli keadaan orang lain apalagi perjalanan hidup dan prosesnya. Lalu apa manfaatnya dengan jahat, mencibir, memperlakukan dgn tidak baik, dan harming terhadap orang lain?

Apakah kalau diri tidak sayang, kalau orang itu bukan siapa-siapa, tidak ada kedekatan apapun, tandanya berhak untuk tidak diperlakukan dengan baik dan penuh kasih? You never know, apa yang orang lewati dalam hidupnya, kecuali kalau kamu empath yang benar-benar peduli dan masuk kedalam dunianya, mungkin tangisan sesak semalan tidak dapat mengambarkan perasaan dan keadaan seseorang. 

Sunday, January 1, 2023

Kids

Anak kecil pinter having fun and live the life full of joy, because they are not afraid to be judged by others. They enjoy themself and truly being themself freely. 

Kemarin ke ikea, ponakantidur-tiduran di karpet public space, ya dibiarin aja yg penting happy dan gak ganggu orang. Gak perlu dimarahin, panik "kotor", apalagi shaming "malu ih sama org", "tuh diliatin org", dsb. Kalo udh cukup baru "yuk, udahan. Kita jalan lg, liat yg lain, ada apa ya?" (dgn nada ajakan penuh excitement). Disitu jd ngajarin jg kalo sesuatu ada batas waktu untuk udahan dan move ke next chapter selanjutnya dgn energy penasaran dan optimis.

Closure

Penutupan.

Dalam sebuah relationship, ada kalanya satu pihak sudah berpaling, meninggalkan, bertemu orang baru, move on, dan hidup dalam kehidupan barumnya dengan bahagia, dikala salah satu pihak berada dalam kebingungan, ketidakberhargaan diri, dan stuck dalam menjalani hidup. Selesainya suatu hubungan bukan pada salah satu pihak yang merasa selesai, namun kedua belah pihak yang sama-sama merasakah kelegaan tanpa ganjelan dan harapan appun lagi. Closure diperlukan untuk pihak melanjutkan hidupnya dengan damai bahkan meng claim kembali keberhargaan dirinya yang hilang dalam ketidakpastian, ketidakjelasn, harapan palsu, bahkan dalam imajinasi fantasi delusinya tersendiri atas suatu hubungan yang jelas-jelas sudah kandas.

Sayangnya, tidak semua pihak mau dan mampu memberikan closure pada pihak lain. Entah merasa sudah tidak penting lagi bagi dirinya, kurangnya empati, malas, tidak peduli, atau sesederhana buat apa karena di dirinya sudah seelsai dan tak perlu berurusan lagi. Banyak orang yang relationshipnya sudah selesai dari belasan tahun lalu masih mencari closure dan pihak lainnya tak mau memberikan sesederhana bertemu, ada kontak fisik say hi, membicarakan semua yang masih menganjal, atau sesederhana angkat telepon maupun membalas pesan.

Disini ada dua hal, bagi pihak yang tidak mendapatkan closure, maka dibutuhkan self-closure yang memang mungkin banyak asumsi untuk menenangkan diri, seperti "oh dia tidak balas, tandanya sudah tidak peduli dan semua selesai", atau "aku berharga untuk melanjutkan hidupku meski urusan ini masih ganjal belum selesai". Pihak lain yang dikejar-kejar closure mungkin bisa lebih berempati pada keadaan pasangan lamanya, bisa lebih membuka hati sekedar menolong orang untuk melanjutkan hidupnya dengan damai. Dan hal tersebut bisa terjadi, jika pihak tersebut memiliki kedewasaan yang matang. Mampu menghampiri dan memberikan waktu untuk hal yang menurutnya tidak penting, mampu berada dalam situasi kondisi bahkan obrolan tak nyaman, mampu menerima apapun yang terjadi saat proses closure (ketidaknyamanan obrolan, umpoatan, makian, maupun pelukan hangat perpisahan). 

Kadang closure tidak membutuhkan kerumitan dan waktu lama. Bisa jadi hanya angkat telepon 10 detik sudah memberikan kedamaian dan penutupan permanent. Kadang pertemuan singkat hanya say hi, diam eye contact sekian detik lalu say goodbye, sudah memberikan closure. 

------------

Closure ini tidak hanya dalam hubungan romantis atau personal, dalam pekerjaan pun butuh sebuah clsoure. Mungkin perusahaan-perusahaan dewasa atau bos-bos dewasa, saat merekruit pekerja baru, ia akan memberikan pengumuman lanjut atau tidak. Jika calon pegawai tidak lanjut, maka akan diberikan clsoure bahwa ia tidak lanjut, bukan hanya didiamkan hingga muncul asumsi sendiri tidak lanjut. Bayangkan jika seorang pelamar sedang dalam struggle, apply sana sini, sedang tidak baik-baik saja, lalu semua perusahaan yang dia apply tidak ada kedewasaan dan profesionalitas untuk bilang tidak lanjut, ada kemungkinan orang ini akan menyalahkan dirinya sendiri, entah menganggap dirinya bodoh, buruk, tidak layak, mengikis kepercayaan diri dan keberhargaan dirinya. Meski kadanga alasan tidak lanjutnya tidak ada hubungan dengan kapasitas dan kepribadiannya, bisa jadi hanya sesederhana lokasi calon pegawainya yang dianggap jauh, atau sedang mencari pegawai dengan elemen dan zodiak tertentu. Untuk urusan pekerjaan saja bisa ada potensi sampai menggerus kesehatan dan kesejahteraan seseorang, apalagi dalam hubungan personal dan romatis dimana sebelumnya ada attachment dan connection. 

Kadang seseorang menyudahi atau meninggalkan, tidak ada hubungannya dengan diri. 

Sunday, December 25, 2022

25/12/2022

5 tahun lalu, mantan partner kerja "kita bakal balap-balapan kedepannya"
Saat itu, aku gak ngerti maksudnya. Sampai ketika 2 minggu lalu saat di Jogja, tiba-tiba teringat tentang dia, gak sengaja masuk ke dirinya, dan kaget wow, dia selevel ma aku skrg. Entahlah apa yang terjadi dalam hidupnya selama 5 tahun ini, karena buatku pribadi 5 tahun ini gilak bgt lah experiencenya, bener-bener ngebuang semua sampah diri dan banyak pengalaman pahit yang hadir sampe di titik hampir dying berkali-kali, dimana dari kepahitan itu mengeluarkan segala power potensi diri dan masuk ke fase done dengan diri sendiri, sibuk explore diri sendiri, siap memasuki orang lain kedalam hidup, dan ada perjalanan spiritual yang gak bisa diceritakan. 

Skrg lagi di Bandung, tiba-tiba keingetan dia lg. 
Ada hal menarik sih ini, mungkin orang-orang yang merasa asing, don't belong to anywhere, feeling loneliness in the deep down because nobody gets them, being misunderstood, being strange, saat ketemu orang sejenis, ada sensasi "home", rasanya seperti rumah menemukan orang yang dapat deep understanding, yang kenal diri to the core. Dan meskipun tidak ada interaksi sama sekali ataupun bertemu dalam waktu tahunan bahkan puluhan tahun, masih bisa saling tahu dan mengakses satu sama lain.

Thursday, December 15, 2022

Persiapan Pernikahan

2017 ada kejadian yang menjadi salah satu turning point perubahan dalam hidup.
2018 mulai ngubek ngubek diri lebih dalam, healing sana sini dengan segala trial error karena mengabaikan intuisi diri and nothing happened.
2019 rasanya gelap banget hidup gw, semua pintu ke tutup, stuck.
2020 munculnya titik terang dan mulai mengenal diri sendiri
2021 struggle, learn to trust myself, ada perubahan awal terjadi
2022 banyak sekali orang-orang yang hadir dalam hidup yang ngajarin banyak hal, yang nurturing, yang memberikan skema berbeda, perubahan besar terjadi, and I am fully healed

Persiapan pernikahan tidak hanya akademik, pekerjaan, finansial, kesehatan fisik, dan kedewasaan secara mental, emosional, spiritual saja. Menjadi diri yang bebas, mandiri, lepas dari segala attachment, nyaman dengan diri sendiri, selesai dengan diri sendiri, all the unresolved issue and trauma done and healed, secure, tau apa yang di mau, bersedia komitmen, juga sebuah upaya persiapan pernikahan. Diri sudah jejeg dan cukup untuk memasukan orang baru kedalam kehidupannya dengan harapan satu hingga akhir hayat. 

Gw udh siap nikah meski sampe detik ini, blm tau siapa jodoh gw. Entah ia telah selesai dengan dirinya dan sedang sibuk explore diri dengan segala kemungkinan untuk terus tumbuh, atau masih gelap dan pusing dengan dirinya sendiri. Apapun keadaannya, segera selesai dan bertemu deh. 

Dan saat menikah, mungkin ada orang-orang yang sedih, merasa ditinggalkan entah karena ada orang baru dalam hidup, pergi jauh, berubah peran, atau apapun itu. Yang pasti gw gak pernah ninggalin siapapun. 

Meninggalkan

Beberapa bulan lalu, ada sebuah obrolan dengan teman, "kok orang-orang ninggalin gw ya", yang ternyata realitanya, justru diri yang ninggalin, atau sesederhana sudah tidak berada dalam frekuensi yang sama. Hal ini terjadi juga di suatu hal, saat berdiskusi sesuatu dengan fasilitator, ia balik bertanya "Apakah kamu masih mau dengan hal itu?", pas gw cek energetically, ternyata gw nya yg udah gak mau. 

Mungkin tidak ada satupun yang pergi dari diri, hanya saja sudah selesai urusannya, cross path nya, berbeda frekuensi, atau justru diri sendiri yang menyudahi dan meninggalkan hal-hal tersebut (apapun itu). 

Buat gw yang super loyal, yang selalu menjaga semua hal secara long term, yang berusaha memasukan semua hal yang ditemui untuk terus bersama; melepaskan sesuatu atau sesederhana menerima realita sudah selesai, bukanlah hal mudah. Ada proses tersendiri sampai di titik menerima, melepaskan, dan next next move. Realitanya, banyak hal yang memang sudah tidak relevant.

"Bagaimana hidupku kedepannya jika aku melepaskan...?"
"Apa yang akan tercipta saat aku melepaskan..."
"What fun can i have today?"

Pertanyaan-pertanyaan saat diri menyadari hal-hal yang sudah tidak relevant dan memutuskan untuk melepaskannya. Terimakasih atas semua hal dan orang-orang yang telah bersinggungan.

Mood

Wednesday, December 14, 2022

Change The Pattern

In my opinion, gak ada yang namanya healthy or toxic relationship. Semua kembali pada self awareness masing-masing. Buat yang sehat dan secure dengan dirinya sendiri dan terbiasa hidup di lingkungan penuh respect, cinta, support, penerimaan, komunikasi baik, terbuka, ya ia akan menarik pasangan sejenis dan familiar dengan lingkungan tumbuh sehari-harinya. Buat orang yang biasa di abuse (emotionally/ fisik/ psikis/ spiritual), tidak dihargai, dilecehkan, diabaikan, dan memiliki relasi butuk terhadap diri sendiri, ya akan menarik orang-orang yang memperlakukan dia seperti itu dan mirip dengan lingkungan sehari-harinya.

Jadi, semua berawal dari diri sendiri. Saat sadar "eh kok gw nyangkut sama orang-orang abusif mulu ya, eh kok gw di harming mulu ya, kok gw di reject dmn2, kok gw ditipu mulu, kok gw gak pernah di hargai, kok gw stuck di toxic relationship mulu". Ya tandanya sudah waktunya melihat ke dalam diri, apa yang membuat diri menarik orang-orang dan peristiwa seperti itu? Abis itu benerin deh bebenah. Ya perubahan sering terasa tidak nyaman, sesederhana biasa diabaikan, saat ketemu orang responsif penuh hormat dan helping, ada rasa aneh untuk menerima kebaikan orang. Ya tidak apa-apa, dicoba dulu saja pelan-pelan menerima kebaikan orang, membuka diri pada orang-orang nurturing, hingga nanti terbiasa dengan energy nya dan diri jadi tau sehat itu seperti apa, bahagia itu seperti apa, di nuturing itu kaya gmn, di support itu rasanya bagaimana. Dari situ diri akan membentuk pola baru yang lebih memberdayakan dan mensejahterakan diri. 

Clarity

"Show me the clarity about that this blabla"

I became the person who pretended not to know anything even though I knew everything and the end of it from the beginning and after everything went wrong, I busied myself looking for clarity and answers. How stupid I was, I created suffering and wasted my life.

Body Proccess

Last week at 3.00 am, suddenly my intuition guided me to take 3 days body class (one of the core's access consciousness classes). This class so expensive (for me), I didn't have much money at that time, but I have chosen it. So, I started to call the facilitator to join, searched train's ticket for that morning (last minute), and attracted abundance of money to pay that class. 

I didn't have expectation about the class, what will I get, how the money will return, how my life will change, I just came and played. What it will create?

Sunday, December 11, 2022

Trust Self

Last year, someone said: 
"When the world says the salt is salty, but your tongue says it's sweet, just trust yourself". 

Many things happened in this year, and I am starting to trust myself. 
When people said to stay away from someone, I followed my intuition to get along longer with this person. It was turbulent experience that leads me to another enlightenment and maturity of any aspect.

When someone was so nice, helpful, kind, caring, and I ignored my intuition that whispered this person harming me, the tsunami came over on me that destroyed my life in a second. After that I had to rebuild my life and create many things to support it. It all consumed a lot of energy (mental, physical, psychic). 

The more I trust myself, the easier my life will be
The more I trust myself, the luckier I will be