Thursday, March 21, 2024

Ramadhan #8

Mungkin ada kalanya, kita butuh orang lain, kejadian-kejadian, dan hal-hal di luar diri, untuk bercermin, mengenali diri sendiri, dan mengakui diri. 

Saat kita sering kesal dengan orang-orang ingkar janji, lambat, membatalkan sesuatu seenaknya, tidak bisa di pegang omongannya, tak mampu berkomitmen. Bisa jadi semesta ingin memberitahu hal yang ada di diri. Hingga diri mampu menyadari dan mengakui bahwa diri sangat berkomitmen, tak membuat janji yang tak mampu dipenuhi, dan menghargai orang lain. Setelah sadar dan mengakui itu, maka diri pun akan berhenti untuk memproyeksikan hal tersebut kepada orang lain (orang harusnya komit, gak boleh batalin janji seenaknya, gak mikirin orang sudha mati-matian berusaha demi memeuhi kesepakatan bersama, dll) sehingga rasa kesal pun berkurang. Jikapun terjadi lagi bertemu orang-orang seperti itu, maka hal itu dijadikan data fakta yang diarsipkan untuk kedepannya. Sehingga kita tahu, apakah orang-orang seperti itu layak untuk diajak kerjasama, diberikan tanggung jawab besar, atau sesederhana untuk bergaul dan dijadikan teman. 

Saat kita merasa diabaikan, tidak dihargai, dianiaya, bisa jadi sebagai pengingat apakah kita melakukan itu juga terhadap diri sendiri, hingga kita menarik, mengizinkan, dan menerima perlakuan aniaya; pelecehan baik secara fisik, psikis, emosi; tidak dihargai, tidak dilihat, di dengar, diabaikan, dianggap tak ada. Saat kita sadar, memperbaiki relasi dengan diri sendiri hingga mampu menghargai diri, berbuat baik pada diri, menjaga diri, maka orang-orang seperti itu akan berhenti sendiri memperlakukan diri buruk. Bahkan mereka akan hilang sendiri dalam kehidupan kita. Lalu orang-orang baik yang mampu menghargai dan baik terhadap diri akan mulai bermunculan, bisa jadi orang baru, bisa jadi orang lama yang akhirnya baru mampu kita terima kebaikannya. 

Saat kita sering dimanfaatkan orang lain, baik secara waktu, tenaga, kemampuan diri, materi, energi, emosional, dan lain sebagainya bahkan di ekploitasi tanpa pernah memikirkan dampaknya termasuk kerusakan akut pada kita atas perbuatannya. Bisa jadi hal itu terjadi, karena kita belum bersedia dan mampu memanfaatkan diri sendiri untuk kepentingan diri. 

Semua hal yang terjadi pada diri karena kita mengizinkan itu terjadi dan mempengaruhi diri, secara sadar dan tak sadar. Saat sadar, kita akan sangat bersyukur telah diberikan kesadaraan sehingga bisa mengubah itu semua sesuai yang diri inginkan. Dan ini pun perlu selaras dengan perasaan layak. Layak dihargai, layak diperlakukan baik, layak mendapatkan hal baik, layak memiliki kehidupan yang lebih baik, layak disayang penuh ketulusan, dll. Kelayakan yang memang sejatinya diri layak menerima itu semua. 

Ramadhan #7

Ternyata banyak orang berelasi hanya sebatas kepentingan dan kebutuhan.
Dimana saat kebutuhannya sudah terpenuhi, maka hal-hal yang dianggap sudah tak penting akan dilupakannya begitu saja. Begitupun saat kebutuhannya tidak bertemu, maka ia akan mencari yang lain yang mampu memenuhinya. Sekalipun dalam relasinya (pekerjaan, teman, pasangan, kolega, teman main, geng) ada keterlibatan emosi, akan berlalu seiiring jalan. Dan pola ini berlanjut hingga akhir hayat, orang hanya datang dan pergi dalam hidupnya, menikmati setiap momennya dalam pemenuhan kebutuhan dan untuk bertahan hidup.  Saat urusan sudah selesai, maka relasi itu pun hanya sebatas masa lalu yang tak perlu dikenang, bahkan sudah tak relevan, yang akan sesekali dikunjungi jika ada kebutuhan atau hal bersinggungan.

Apakah aturan main tak terlulis memang seperti itu? sehingga orang jarang memunculkan jati dirinya, karena untuk apa terlalu terbuka dikala ia tahu tak semua orang mampu menerimanya, tak semua dirinya adalah baik dan menyenangkan, dan menjadi diri sendiri semurni-murninya kadang tak menguntungkan dirinya dalam konstruk sosial. Sehingga relasi terjaga dengan adanya sopan santun, tata krama, basa basi, menjaga situasi kondisi, tidak menyakit orang lain, mengontrol diri untuk tidak terlalu intense dan meledak, semuanya itu dilakukan untuk dirinya sendiri. Agar diri tetap dapat diterima dan mendapatkan manfaat dari setiap relasi yang dimilikinya. Jika pun ada keterbukaan, membuka sisi rapuh, memperlihatkan sisi buruk, mengekspresikan diri di momen sangat sulit dan sempit, mencurahkan emosi intense (termasuk deeply loving maupun intense anger), apakah orang akan paham? apakah orang akan menerima atau malah di judge dan dikucilkan? apakah respon orang akan baik atau malah menyakiti? apakah hidupnya semakin mudah atau menjadi senjata untuk orang lain menyerang dan memanfaatkan? apakah akan membuat kehidupannya menjadi lebih terang atau semakin gelap?

Lalu muncul perenungan, untuk apa terlalu berinvestasi mencurahkan waktu, tenaga, energi, kepedulian, kasih, ketulusan, materi usaha, pada suatu relasi jika nilai yang dianut berbeda. Untuk apa melakukan itu semua jika orang hanya datang dan pergi apalagi jika hanya ingin menggambil manfaat dan hanya satu belah pihak yang berusaha, menjaga, menganggap, mencurahkan. 

Mungkin memang tak semua orang mampu menangani energi diri termasuk menerima diri. 
Mungkin value relasi, terutama di pertemanan yang jujur, terbuka, adil, setia, penuh kasih, tulus, saling menjaga, mendukung, merawat, menghargai, memberi ruang, mendalam, mutual, menerima, ada rasa syukur, berjangka panjang, bukan value dan relasi yang dicari oleh sebagian orang bahkan mungkin terasa terlalu intense dan "mengikat".

Ramadhan #6

Mungkin orang tidak akan pernah memahami sesuatu yang belum atau tidak pernah mereka alami.
Kecuali empath dan orang-orang yang mampu merasakan perasaan orang hingga ke inti dan      menyelami jiwa manusia. 

Monday, March 18, 2024

Ramadhan #5

Mungkin kita bukanlah siapa-siapa untuk orang yang kita angap penting dalam hidup. 
Mungkin kita adalah nyawa bagi orang-orang yang tak pernah kita lihat, anggap, atau hargai. 
Mungkin kita adalah sampah bagi orang yang kita perlakukan seeprti emas tak tersentuh. 
Mungkin kita adalah debu tak berarti bagi orang yang kita berikan segalanya hingga diri suffering.

Mungkin kita adalah jiwa terbelenggu bagi yang tak mampu mencintai dan memperbudak kita.
Mungkin kita adalah burung yang terbang tinggi lepas bebas bagi yang mencintai kita.
Mungkin kita adalah tissue yang dibuang dan dilupakan bagi orang telah menemukan pengganti kita.
Mungkin kita adalah berlian bagi yang mampu melihat kemampuan dan kekuatan diri yang tak disadari.

Mungkin kita adalah penganggu bagi yang tak mampu melewati segala intensitas dan kemurnian diri.
Mungkin kita adalah cahaya penyelamat bagi yang mampu menerima segala lontaran pencerahaan. 
Mungkin kita adalah keset bagi yang hanya ingin singgah, menggunakan, lalu pergi tanpa syukur.
Mungkin kita adalah intel paling muktakhir bagi yang mampu melihat kecerdasan diri.

Mungkin kita adalah bolu kukus pasar bagi yang melihat diri hal biasa dan murah.
Mungkin kita adalah penjahat terjahat di muka bumi bagi yang mengalami rasa sakit terdalam yang tak hilang oleh waktu.
Mungkin kita adalah obat terlangka dan hadiah terbaik dari semesta bagi yang mampu bersyukur atas segala kontribus diri.
Mungkin kita adalah benang emas sangat rapuh bagi yang menghargai pekanya perasaan diri.

Mungkin kita adalah benteng baja terkuat bagi yang merasakan kekuatan diri saat keluar.
Mungkin kita adalah cinta yang dirindukan banyak orang, ataupun banjir yang dibenci banyak orang.
Mungkin kita adalah hitam, putih, dan semua warna yang dipersepsi berbeda di setiap mahluk dan tempat.
Mungkin kita adalah angin yang disyukuri, ditunggu, maupun dimaki.

Mungkin kita adalah molekul yang senantiasa berubah dan tak terdefinisikan.

Ramahdan #4

Kita ga akan sedih saat break up/ divorce, jika kebutuhan emosional dan lainnya sudah terpenuhi atau tergantikan yang lain. Selama belum ada pengantinya, belum terpenuhi, besar kemungkinan untuk masih terngiang, teringat, atau bahkan memunculkan rindu sekalipun sudah tidak ada ikatan, attachment, dan komunikasi apapun. 

Hal yang paling menyedihkan, jika kita satu-satunya yang masih berada dalam situasi seperti itu (belum menemukan penganti dan belum terpenuhi kebutuhan rulung jiwa dan raga yang dahulu pernah terisi dengan sangat intim dan menyatu). Dikala yang pernah jadi pasangan kita sudah menemukan orang baru, hidup dengan bahagia, sudah melupakan hingga tak ingat apapun tentang kita bahkan eksistensi kita pun sudah dianggap tak ada dalam kehidupan ini. 

Saat semua sudah selesai, saat semua sudah bersih, saat semua sudah bergerak maju ke hal lain, melanjutkan hidup, rasa yang pernah terisi yang belum tergantikan itu akan terus muncul untuk diisi. Memberikan sinyal alarm untuk diisi dengan memunculkan ingatan akan pasangan sebelumnya, dan ini sudah bukan tentang dia nya lagi, tapi memori tentang meyayangi, menerima sayang, mencintai, dicintai, ikatan, kebersamaan, intimasi, bonding, accompany, sense of belonging, termasuk rasa menyatu dan bersama dalam perasaan dan tujuan yang sama. Hal yang dirindukan oleh jiwa, raga, dan pikiran. 

Semoga pikiran, perasaan, jiwa, raga kita senantiasa terlindungi, terjaga untuk selalu hadir utuh di masa kita, untuk selalu sehat, jernih, berfungsi optimal, dan fokus pada hal-hal penting. Semoga ruang kosong yang terbuka karena penghuninya hilang pergi meninggalkan, tergantikan dengan penghuni baru yang jauh lebih baik. Semoga hal ini mengingatkan diri untuk tidak memberikan ruang diri yang terlalu besar pada hal-hal di luar diri, agar kekosongan itu tak terlalu terasa dan mengambil perhatian yang besar dalam waktu lama. 

Sunday, March 17, 2024

Ramadhan #3

Menjalani realita orang lain.
Saat seseorang lahir ke dunia, mungkin ia belum mengenal realita dirinya. Tentang apa yang disukai, apa yang di hasratkan, apa yang membuatnya merasa terus hidup, apa yang membuatnya bergairah, apa yang membuatnya tumbuh, di bidang apa yang dirinya mampu tumbuh besar dengan cepat, apa saja kemampuan dan potensinya, memiliki kekuatan apa saja, bagaimana sesuatu datang padanya.

Lalu diberikan segala macam perspektif, dogma, aturan, ajaran, yang tanpa sadar menjauhkan diri dari fitrahnya dan tak mengenal realitanya sendiri. Sesederhana bersekolah di sekolahan yang orang tuanya mau, menjadi profesi yang dianggap mapan oleh society, menikahi pasangan yang dianggap bagus menurut orang lain, menjalani hidup yang dianggap sukses oleh kebanyakan orang. Namun tak ada kebahagian sejati yang hadir dan dirasakan. Detik demi detik hanya terasa sebagai rutinitas dan pengumpulan pencapaian yang itu pun bukan sepenuhnya keinginan diri, menjalani hidup berdasarkan konstruk yang disepakati banyak orang yang belum tentu oleh dirinya. 

Bagaimana ia akan mengenal diri dan realitanya sendiri, jika tak pernah ada jeda untuk melihat kedalam dirinya sendiri secara jujur. Jika hidupnya sibuk untuk menjalani segala macem rutinitas dan realita orang lain?

Realita, sesederhana buat kebanyakan orang belajar itu sulit, mungkin buatmu mudah.
Buat sebagaian orang, menikah itu mengikat, mungkin buat mu tempat aman dan bebas.
Buat sebagian orang uang itu sulit, mungkin realitamu kamu mampu menarik uang datang padamu tanpa susah payah. Namun hal-hal ini tak mampu disadari jika kita tak sepenuhnya terkoneksi dengan diri sendiri dan masih tertutp dengan segala konstruk, nilai, dogma, dan segala hal diluar dirinya yang ia izinkan utnuk masuk dan mempengaruhi kehidupannya. 

Thursday, March 14, 2024

Ramadhan #2


Tidak semua hal dan orang layak mendapatkan perhatian, waktu, energi, ruang, dan kehadiran diri.
Orang yang paling layak mendapatkan itu semua ya diri sendiri.

Ramadhan #1

Semakin bertambah umur, semakin bertumbuh secara biologis, semakin besar tuntutan sosial untuk menjadi dewasa. Namun apakah itu semua selaras dengan pertumbuhan menjadi pribadi yang bijaksana?

Menjadi bijaksana bukan tentang kemampuan melihat salah benar, baik buruk, untung rugi, cari aman, dan berpusat pada diri sendiri hanya untuk keuntungan diri. Bisa jadi menjadi bijaksana, sesederhana tau kapan perlu bersuara, kapan perlu diam; sesederhana membiarkan orang menjalani kehidupannya, memberikan ruang untuk bertumbuh dan belajar sendiri, sekalipun tau itu salah; sesederhana mampu merendahkan ego tentang kebenaran, menjadi menang; sesederhana mampu melihat sesuatu tidak hanya dari sudut pandang sendiri, namun secara holistik dari segala aspek dan perspektif. 

Menjadi bijaksana sesederhana berkomunikasi dengan tubuh tentang apa yang tubuh butuhkan saat berbuka puasa. Apakah butuh minum air putih, jus, teh; butuh makan cemilan manis, makanan berat, jajanan berminyak; butuh makan sehabis shalat atau sebelumnya. Memasukan sesuatu kedalam tubuh yang tak berdasrkan ego dan nafsu, namun berdasarkan kebutuhan dan kebaikan untuk tubuh saat itu dan kedepannya.

Thursday, February 29, 2024

Never Wait, Always Create

One form of self-respect is to never wait and always create.
Because we realize that our (soul, body, energy, time) are valuable.

Never wait for opportunity, create it.
Never wait for people, reach out.
Never wait for money, make it.
Never wait for connection, build it.
Never wait for timing, choose it.
Never wait for love, love self-first.
Never wait for perfection, finish it.
Never wait for closure, do it.

Never wait for anything or anyone. 
Let everything and everyone that worthy for us, come by itself.

Friday, February 23, 2024

Happy Birthday

 Happy Birthday to my dearest myself.

Thank you for effort that I made to myself to take care, to heal, to move, to love, to be joy, to be expand, to be grateful, to be more consciousness, to be being me, to trust self, to standup for myself, to care, to see what it is, to always explore, to be strong willed, to know self-better, to build boundaries, to stay fit, what else? I am so grateful for my life, my self, and all the people (and everything) that love me. 

23/2/24

From many conversations with various people, I unconsciously reflected on what I likes and dislikes, what's acceptable and what's not, until I realized something:
  • I can't get close to more than one person even if we just met or are getting to know each other. 
  • If I'm not initially interested, no matter how hard someone tries, it won't change anything.
  • If a relationship ends, done is done. There's no going back, no playing/ dating/ having intimate with exes, no reconciliation (back together).
  • I'm not the type to be overly infatuated, especially to the point of not using my brain.
  • I can't do casual sex or undefined dating with multiple people when men do the same with multiple women. 
  • I've already decided something from the beginning (as friends or partners) and it won't change.
  • I have to be the one who likes first before anything happens.
  • I am very committed and loyal. 

Actually, from the beginning, when you meet someone, you can already see how they are, including their future, even sensing their sexual vibes, etc. So there's no need for the language of "getting to know each other first," "trying it out first," because I already know. Why bother if the ending is already known and doesn't align with personal goals (serious relationship, commitment, etc.) ? 
Anyway, so far, my intuition has been right, proven.

On the other hand, such a mindset discards the opportunity to enjoy and have fun in the midst of it (the process). Like from the beginning, knowing I won't marry that person, it could open up other things during the closeness process (in the middle) that benefit oneself (insight, pleasure, networking, etc.). Hmmm...

Then comes contemplation again, how and where to meet like-minded people with similar values and rules? Because many people (almost everyone) I meet, and the majority in society, are the type who want security, don't want to lose, and avoid risks. Such as getting close to several opposite-sex individuals during approach, dating multiple people simultaneously, being able to have casual sex without feelings, and even while in a relationship, still open to finding someone else considered better; never settling down, always searching, and keeping options open. The same applies to marriage, with the potential for divorce when needs are unmet and marrying someone who can better fulfill those needs (financially, sexually, emotionally, intellectually, spiritually).

Human and Society

Are all people only loyal to their own needs and benefits? 
Everyone I've met throughout my life, even those who seem innocent in their stories, behavior, action, and mindset, appear to be like that. Is commitment truly only to one's own happiness?

When their needs are not met or their happiness decreases, they tend to go look for something or someone else that can fulfill their needs and make them happy (friends, jobs, colleagues, partners, etc.). Is this the reason why people divorce, break up, stop being friends, resign, get fired, fire others, cheat, betray, manipulate, and even do harm just to fulfill their own needs and happiness?

Tuesday, February 20, 2024

Black and White

It turns out that kind people are limited to maintaining relationships, for marketing purposes, and just answering questions like when we ask a parking attendant for directions. They may be good only to that extent, and many may even have hidden agendas for their personal interests. So why be too grateful, especially to the point of indebting oneself and sacrificing a lot?

Similarly, when there are people who seem unpleasant, in reality, they sacrifice a lot, give much of themselves, care deeply, but may not be skilled in communicating in a pleasant way and expressing their affection in a manner that others desire and can accept.

Many things are not black and white.

Monday, February 12, 2024

Learn

I learn how to detached with everything and everyone.
I learn how to be care and love others without abused myself.
I learn how to allowance others and stand up for myself.
I learn how to receive without guilty, shame, and feel have to give back.
I learn to unlearn program, dogma, everything that irrelevant anymore.
I learn how to prioritize myself and commit to my own happiness.
I learn how to speak up, communicate my needs and fulfill it.
I learn how to know my limit and boundaries.
I learn how to put "things" on the right place. 
I learn how to see people for who they are. 
I learn to respect and honor myself. 
I learn how to see is what it is. 
I learn to let go when my needs didn't meet 
and move to others that fulfill it as soon as possible.
I learn to open with every possibility without expectation. 
I learn how to take care and protect myself. 

I learn to trust myself. 

Wednesday, February 7, 2024

Being Kind

Being kind to self are...
Letting go all heaviness,
Letting go of unkind and unpleasant moment,
Walking away from harmed and abused people,
Letting go of one-sided relationship,
Letting go of everything that doesn't work,
Letting go of everything that irrelevant anymore,
Let the emotion flowing without resistant,
Let kind, sincere people in,
Receive love, help, care.

Being kind to self are...
Having commitment to choose happiness whatever happens.
Stand up for self, pursue what desire,
Always choose self. 

Sunday, February 4, 2024

Back to own reality.

In one moment of contemplation, 
I asked myself:
What life do I really desire and lust for?
What kind of people do I desire in my life?
What kind of environment do I desire?
What kind of job do I really desire?
What do I really require, desire, lust for?
Who and what do I require to add to my life for a much better life, 
full of abundance, wealth, luxury, joy, greater, full of convenience?
Who and what do I require to let go of from my life?
What is my really truth reality?

Who am I?
What are my powers, potential, abilities, capacities?
and wwit to use it all for my own benefits and advantages?
Show me clarity and guidance~

Create

I create my own life
for good, for bad
for pain, for pleasure
for suffering, for abundance
for wealth, for broke
for health, for sick
for joy, for sadness
for content, for emptiness
for success, for failure
for shinning, for darkness
for outstanding, for looser
for being respected, for being doormat
For being spotlight, for being ignored

I create my own life,
No one can damage, harm, abuse, ruin, and destroy 
my body, my soul, my life, and my future without my permission.

It took decades to realize it all 
and take action for what I really want and deserve.

I am the creator for my own self and my life.
Celebrate for owning self and being self.