Wednesday, June 19, 2024

Tidak Penting

Ternyata banyak sekali hal tidak penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ternyata semakin peduli dengan diri, mengharga diri, mengenal diri, mengetahui (dan memiliki) tujuan hidup, semakin mudah untuk mengetahui hal-hal tidak penting dan mengembalikan fokus ke hal-hal penting. Dan itu terjadi secara alami.

Saturday, June 15, 2024

Relationship and Communicate

If someone want to be in your life and still have good healthy relationship with you,
She/He will communicate her/his boundaries to you.

If someone tell his/her boundaries to you, 
it means she/he want you still in his/her life and have good healthy relationship. 

If you want she/ he still in your life with healthy relationship, 
you will respect his/her boundaries. It means, the relationship is mutual. 

If someone just cut you off without any explanation, so you don't know what's going on/ something wrong/ what boundaries you have been crossed. Just let it go. People who respect and want you in their life, never makes you wonder, be confused, question about what happened. If they come back, it means they gone is their needs of space. If they never comeback/ never be same again, see is for what it is. 

Friday, June 14, 2024

I used to

I used to often isolate myself in difficult moments when I actually needed help and others the most.
I used to always sever connections with anyone, anything, including myself, at the time when connection was most needed.
I used to always bear all burdens and problems on my own shoulders, resolving them without anyone's help, when my mind and body were barely strong enough to endure it.
I used to often reject feelings of love and affection when I needed them the most.
I used to often reject success, ease, and opportunities when I was capable of soaring high very quickly with all of that.
I used to often beg for love, chase after those who rejected me, cling to things that didn't appreciate me, when there were so much love, kindness, and good opportunities present that I actually turned away.
I unconsciously often neglected and sabotaged myself from all the ease, happiness, success, abundance, and wealth. Yes, that was then. Now, I choose differently.

Thursday, June 13, 2024

Gratitude

Kadang terlalu bersyukur dengan apa yang terjadi yang sumbernya dari luar: orang, kejadian, tempat, barang, kebaikan, dll. Mungkin menjadi lupa untuk berterimakasih dan bersyukur pada diri sendiri. Karena semua hal hadir dalam hidup, adalah diri sendiri yang menarik itu semua dan mengizinkannya untuk terjadi.

Begitupun saat hal tidak menyenangkan, buruk, kerusakan, pelecehan, exploitasi, penderitaan terjadi pada diri, tanpa sadar meras diri korban dan menjadi tak berdaya. Padahal itu semua diri sendiri yang mengundang, menarik, dan mengizinkan itu semua hadir dalam hidup dan memberi dampak pada diri sendiri. Tidak ada yang bisa masuk dan memberi dampak jika diri tak mengizinkan. Kalau ada orang melecehkan, memaki, merusak, memanfaatkan, jika diri tidak mengizinkan itu semua, ya tidak akan berdampak apalagi hingga membuat diri menderita dan rusak. 

Mungkin dari ilustrasi diatas, bisa memberi kesadaran bahwa kita adalah sumber, memiliki pilihan, dan kuasa akan diri sendiri. 

Semakin fokus pada diri sendiri, berkesadaran dengan apa yang dipilih, termasuk tau tujuan diri dan apa yang di hasratkan, semakin mudah merubah hal-hal diluar diri yang hadir. Sesederhana memilih untuk memberi dampak pada diri atau hanya lewat dan tak berarti.

Choose

Hari ini, ada berita menyenangkan dan tidak.
Hingga ada momen menyadari sesuatu, kalau diri punya kendali besar atas apa yang ingin diciptakan dan memilih fokus kemana. 

Pagi hari ada perasaan tak nyaman dan berita tidak membahagiakan. Sempat terbawa suasana dan ketidakbahagian itu malah semakin besar dan menarik energy-energy sejenis untuk di perceive. Akhirnya diri stop itu semua dengan being present dan menyibukan diri secara fisik. Sore hari, tiba-tiba mendapatkan berita baik, saking menyenangkan, maka diri fokus di sensasi happy hingga energy itu bertumbuh, membesar, dan menarik keberuntungan lain. 

Disitu mendadak sadar, 
OMG, I can choose what I want to feel, to focus, to create, to bloom. 
I can create my own reality, apapun yang terjadi dan hadir. I can control what I want to consume.
I can control and create my life for what I desire when I place myself as a source. 

Saturday, June 8, 2024

Relationship

Relasi layaknya cermin untuk melihat kedalam diri.

Melihat apa yang diri suka dan tidak, apa yang bisa diterima dan tidak, apa yang menganggu dan nyaman, apa yang sebenarnya diri butuhkan dan inginkan, mengenali batasan diri, bagaimana relasi dengan diri sendiri, sejauh apa toleransi terhadap sesuatu, sejauh apa diri mengizinkan untuk dilecehkan maupun disiksa, sejauh apa diri mampu menerima hal-hal baik tanpa ada rasa hutang budi, sejauh apa ke ikhlasan diri memberi tanpa ada rasa pamrih, sejauh apa diri mampu menjaga diri, sejauh apa efektitas dan kualitas berkomunikasi dengan orang lain, sejauh apa mampu jujur pada diri sendiri, sejauh apa mampu menghargai dan menghormati diri sendiri, bagaimana diri memandang diri sendiri, punya trauma apa aja, ada issue apa saja di diri, mengenali value diri, sejauh apa tingkat kepercayaan pada orang lain dan diri sendiri, sejauh apa diri mampu tegas saat sesuatu sudah sangat merugikan dan menyakiti. Termasuk mengenali apa yang sebanar-benarnya diri butuhkan, inginkan, dan tujuan hidup. 

Relasi pun mengajarkan untuk menerima segala kontribusi.
Kontribusi like a shit, like goddess, for good and bad. 
Termasuk menyadari bahwa diri adalah gift.

---------

From relationship (family, friendship, romance, colleague), 
I learned how to respect myself more and know myself better day by day. 
I acknowledge my fear, my issue, my trauma, my power, my potency, my gift to others.
I know my limit, set my boundaries, and nourish myself with mutual and meaningfull relationship.

Friday, June 7, 2024

Work on Self

I have always been someone who puts in a great deal of effort to maintain relationships, even when they seem one-sided, often neglecting my own needs in the process. However, through experiencing mutually rewarding relationships that are effortless and enjoyable, I have learned the importance of nurturing my relationship with myself. This includes being kinder to myself, loving myself more, and trusting myself. I prioritize my own well-being, listen to my intuition and body, set healthy boundaries, and recognize when it's time to let go. I proactively seek support or connections before reaching my limits, relinquish the need to control everything, embrace life's flow, and remain open to unpredictability and change.

Surprisingly, 
the more I lost my controlling tendency, the more ease my life and my relationship.
the more I comfortable with my own companion, the more people come to me. 
the more I released judgement to myself and others, the more joy my life. 
the more I focused to important things, the more efficient my life.
the more I am myself, the more everything falls into their place. 

Inside to Outside

Bagaimana jika semua relasi yang hadir (pertemanan, persahabatan, pekerjaan, keluarga, romansa) adalah cerminan relasi diri dengan diri sendiri?

Bagaimana jika  semua relasi yang hadir adalah cerminan self worth diri?
Semakin mampu menghargai diri dengan baik, maka yang hadir dalam hidup pun, orang-orang yang memnghargai diri kita dengan baik. Semakin baik dengan diri sendiri, maka yang ahdir pun orang-orang yang baik dengan diri. Begitupun sebaliknya, saat sering menyakiti, melecehkan, mengabaikan diri, maka orang-orang yang hadir pun memperlakukan diri sebagaimana diri memperlakukan diri sendiri.

Bagaimana jika merubah keadaan, lingkungan, dan kualitas relasi, dimulai dengan memperbaiki relasi dengan diri sendiri terlebih dahulu? termasuk memperbaiki self worth, self esteem, self respect, self love. 

Tuesday, May 28, 2024

Concealing

Concealing what one is doing, accomplishing, life goals, desires, aspirations, and plans is an essential skill to possess for one's own success. Keeping things secret from anyone and anything, including those closest to you whose prayers you trust, is important.

To desire in silence, to have goals in silence, to plan in silence, to work in silence, to achieve in silence.

Because when plans being made emerge through conversation, even if only superficially and in passing, the energy of others can influence them. Unbeknownst, there are those who judge, who pass judgment, harbor distrust, project their failures, raise expectations, reject, disagree, suddenly become demanding and pressuring, give unsolicited and unnecessary advice, raise hopes—whatever it may be, that's energy that weighs down and can destroy what's being built. Even if it's already finished, let there be a pause to breathe, to feel the success of what's been accomplished, and to explore other opportunities first, before it's finally announced and moved on to another project or goal.

The ability to keep plans secret and quietly work to achieve them is one of the most advantageous life skills one can possess.

Saturday, May 18, 2024

Self-Worth


Btw, value and self-worth come from within oneself. Just like the $20,000 bill, no matter how much insult it is subjected to—whether stepped on, crumpled, or even burned—its value remains unchanged. 
If people doesn't respect you, its not about you are unworthy. It's about them. Nothing effect to you except you allow it to damage your worth and your life.

Menghargai Diri

 
Menghargai diri sendiri baru dapat dilakukan, saat sudah mulai mampu menyayangi diri.

Menghargai diri, sesederhana tahu kapan harus meninggalkan suatu relasi (pertemanan, pekerjaan, romansa); tahu kapan perlu meninggalkan suatu tempat (komunitas, tempat tinggal, tempat kerja, tempat lainnya); termasuk mengenal kapasitas diri, menjalani hidup yang membuat bahagia, mengejar yang diri inginkan; berbuat baik pada diri dengan makan sehat, olahraga, tidur cukup, mempergunakan waktu diri dengan baik untuk kebermanfaatan dan keuntungan diri. 

Menghargai diri ternyata bagian dari menyayangi diri sendiri.
Dan dalam prosesnya, bukan berarti sejua berjalan mulus. 

Bisa jadi orang menolak diri, bukan karena diri tak layak, namun memang pilihannya untuk tidak memilih diri, dimana tidak ada hubungannya dengan diri, murni keputusannya.

Bisa jadi orang menolak diri, bukan karena diri kurang, namun ketidakmampuan ia menerima kapasitas diri dalam mencintai dan memberi. Atau sesederhaan "energi" diri terlalu besar dan intense untuk sebagian orang, memberikan sensasi tidak nyaman untuk mereka.

Bisa jadi orang menolak diri saat diri meledak dan mengkomunikasikan semua ganjalan di dada tanpa filter, karena mereka tidak mampu melewati barrier emosi diri, alias ya sudah dilepas saja, "bukan orang-orang kita". Karena orang yang mampu melewati itu tanpa ada asumsi, judgement, dan penolakan, tandanya mereka mampu menerima diri dan bisa melewati barrier emosi diri tanpa taking personally. 

Menghargai diri, tahu nilai diri.
Tahu kemampuan diri, kelebihan diri, kekurangan diri, kebutuhan diri, keinginan diri, hasrat diri, kelemahan diri, potensi diri, kapasitas diri, batasan diri. Termasuk percaya dengan diri sendiri (percaya intuisi diri, awareness, insting), dan menghargai segala ketidaknyamanan yang hadir, dibiarkan saja, di proses, dilepaskan, di dengarkan. Kadang ketidaknyamanan yang hadir, bisa jadi reaksi tubuh dan insting untuk menginformasikan sesuatu (kurang tidur, berhenti makan blabla, jauhi orang, jangan tantda tangan kontrak, dll). 

Menghargai diri, menghargai pilihan orang lain juga.
Jika orang/ suatu tempat/lingkungan tidak bisa menerima diri kita, ya lepaskan.
Jika orang/ suatu tempat/ lingkungan tidak bisa menghargai diri kita, ya jangan dikejar-kejar lagi
Jika orang/ suatu tempat/ lingkungan tidak bisa menerima kontribusi kita, ya tinggalkan
Jika orang/ suatu tempat/ lingkungan tidak bisa menerima ksaih sayang dan cinta tulus kita, ya tinggalkan dan cari orang/ sesuatu yang memang mampu menerima itu bahkan saling memunculkan rasa syukur. 

Menghargai diri, 
Baik secara fisik, waktu, jiwa, pikiran, spiritual, energi, dan lainnya.
Termasuk kemampuan memprioritaskan diri sendiri dengan perasaan layak tanpa ada perasaan bersalah apalagi bertanggung jawab atas kebahagian dan kehidupan roang lain dengan membuat diri berkorban, sulit, dan menderita berkepanjangan. menjadi prioritas diatas apapun. 

Terimakasih asshole-asshole, orang-orang/ perusahaan/ lingkungan self centered, manipulator, orang-orang harming abusif, orang-orang egois tanpa pernah memikirkan dampaknya apda orang lain, karena kalian telah mengingatkan dan mengajarkanku untuk menghargai diri sendiri. 

Terimakasih orang-orang/ perusahaan/ lingkungan yang menghargaiku (seen, heard, nurtured, empathy, open communicated, made a deal with respect each others, etc), kalian telah mengenalkan rasanya dihargai dan tanpa sadar mengajarkanku untuk menghargai diri sendiri. 

Tuesday, May 14, 2024

Flashback

Since the age of 3, I've been busy with school. After graduating from college and having my own money, I became busy with traveling. Whenever I had a little free time, I traveled. To the extent that a friend commented, "Every time I look at a map, I immediately imagine your face. You must have been here and there." Every time I met someone, they asked, "Where are you off to now?" During the pandemic, they commented, "Can't travel, huh?" There are moments in people's memories where I am associated with traveling, even though I'm not traveling anymore. It turned out that the root of my desire to travel was ancestral trauma, generations before me. When that was addressed, my desire to travel vanished. Gone.

Then, my energy flowed into sports: Muay Thai, gym. Intense physical activity triggered adrenaline, full of energy. It turned out that there was a herniated nucleus pulposus (estimated to have occurred 10 years ago during an examination). I shifted to meditation, healing, busy discarding "garbage," addressing trauma, etc. When many were healed, I started to open up, daring to express myself, partying from one place to another, socializing, feeling happy and joyful. And it couldn't be separated from physical activities (releasing excess energy, cardio). My social capacity increased, experiences directed towards self-love manifested in healthy relationships with myself, starting to establish healthy boundaries, becoming aware of many things, starting to include nurturing and nourishing people in my life; leaving behind things and people that were harming, abusive, destructive; starting to get comfortable with ease, abundance, love, respect, trust, vulnerability, taking care of myself, honoring myself, receiving kindness from others, asking for help, setting priorities, etc. Until a point where, whatever was chosen, there was something similar.

Everything led to the journey of spiritual self, to the process of maturity, wisdom, self-maturity, returning to the original self. More than just activities, there were so many experiences, observations, realizations, gratitude, that transformed oneself into a deeper and more conscious state.

Who knows what lies ahead (the future), from the journey until now, everything has brought about positive impacts and continuous self-development that continues to grow and expand.

Purpose

Saat kita memiliki tujuan, seperti memiliki maps, compas, dan arah tujuan.
Tau apa yang dicari, apa yang dituju, apa yang dibutuhkan, apa yang diprioritaskan, apa yang perlu diabaikan, apa yang perlu diurus, apa yang perlu dihindari, termasuk tau kemana arah energy mengalir. 

Saat ada tujuan, akan mudah untuk cocok dengan semua orang karena fokus pada tujuan. Termasuk memiliki boundaries yang sehat, tidak terseret drama orang lain atau di tempat berada, jeli melihat intention orang, memunculkan perasaan konten sehingga sulit dimasuki hal-hal yang merusak dan merugikan diri, tidak meributkan hal-hal yang tak menunjang sampai pada tujuan, tidak membuang-buang energy pada hal-hal yang tak relevant, jauh dari depresi dan ketidakbahagian, selalu ada semangat setiap bangun tidur dan mudah untuk tidur pada malam harinya. 

Secara tak langsung, tujuan memberikan manfaat pada jiwa, raga, mental, psikis, spiritual, dan kehidupan sehari-hari. Termasuk melindungi diri dari hal-hal yang berpotensi menyakiti dan merugikan diri beserta kehidupan. Tujuan pun membuat orang mengenali diri lebih mudah dan menarik orang-orang dan hal-hal yang memang diri butuhkan untuk sampai ke tujuan.

Tujuan, 
sebuah hal mendasar yang mengerakan seluruh kehidupan dari bangun tidur hingga hari-hari berikutnya sepanjang hidup. 

Bayangkan, jika kita tak memiliki tujuan, bingung dengan hidup, tidak tahu apa yang dimau dan dilakukan. Hidup hanya menjalani sebatas mengisi waktu atau lari dari ketidaknyamanan, memebenamkan diri dalam rutinitas dan kesibukan. Tak jarang akan mudah ketarik sana sini, ketarik drama orang, ketarik masalah orang, gampang kena manipulasi dan abuse, gampang dimanfaatin, gampang linglung dan dijadikan korban orang-orang yang ingin mengeksploitasi hingga diri struggle "mati"; tidak memiliki shield sehingga gampang goyang, terganggu, dan "dirampok", dll. Lalu waktu terus berjalan, penyesalan muncul, kebingungan bertambah, hasrta hidup berkurang, frustasi bertambah, masuk dalam depresi tak berujung, penyesalan melanda, penghakiman diri bertambah, hidup bagaikan tak hidup. Kosong. Hanya dijadikan keset, pijakan, tools, bahkan tumbal orang yang sibuk memajukan dirinya mencapai tujuan. Dan tak semua orang memiliki moral dan integritas yang baik dalam mencapai tujuan, sehingga saat tak memiliki tujuan lalu bertemu orang seperti itu, habis sudah. 

Tujuan,
Hanya diri sendiri yang bisa tau dan menemukannya, tidak bisa dibantu oleh siapapun. 
Karena tujuan memang personal setiap orang yang tergerak dari dalam batinnya masing-masing.
Sehingga ada api yang terus menyala untuk mencapainya, meski tak ada satupun yang "mendukung" dan "membantu" dan ada alasan untuk terus "hidup". 

Tujuan,
Tujuan mungkin berbeda dengan goal. 
Murni dari dalam jiwa, dalam jangka panjang.

Monday, May 13, 2024

Lonely

Loneliness isn't about quantity but quality. Upon closer examination, many factors contribute to loneliness. It's the absence of bonding, connection, feeling loved, feeling wanted, a sense of belonging, being misunderstood, rejection, bullying, and feeling secure. This can stem from external environments (even if just one person is capable of accepting, caring, being sincere, trusting, and nurturing) as well as from within oneself (acceptance, comfort, security, and unity with oneself).

Many super genius individuals feel lonely because there's no one who can truly understand them. They end up feeling alone, alienated, and often judged as strange, not okay, unstable, and rejected because of their brilliant minds. Similarly, intense individuals with high energy levels find that not everyone can handle or accept their energy (speaking passionately is seen as anger, being attentive is seen as having ulterior motives, genuine love is seen as too overwhelming, deep feelings are seen as overdramatic, deep thinking is seen as overthinking, being critical is seen as complaining, offering help is seen as wanting to take advantage, sincerity is seen as having hidden agendas, thinking about others is seen as selfishness, visionaries are belittled simply because others cannot see what they see far ahead, etc.).

Little things matter

Perhaps when we respond to people, They feel seen, heard, worthy.
As simple as liking a post they tag us in, liking their greetings/ congratulatory messages/ achievements.
Or just saying "hi" when we meet, smiling during eye contact. These small effortless gestures can mean something big and have a positive impact on others.

Perhaps picking up the phone for a moment to say "I'm in a meeting" 
and then hanging up can save the life of someone on the brink of suicide.

Perhaps asking "how are you?", "how's your life?" 
can make someone's life brighter, more optimistic, and raise great awareness in their lives.

There are so many small things that don't cost much effort,
but can be meaningful and have a big impact on others.

Contributing to others doesn't have to be limited to those we know and are close to,
everyone deserves the little things that matter.

Saturday, May 4, 2024

Just Wondering,

Just wondering,
Do men marry truly out of love for their partner, or is it merely for their personal needs? (the need for a field of worship, the need for biological intimacy and sexual relations, the need and desire to marry and have children)?

Is the woman they marry truly the one they love wholeheartedly? Or is she someone considered suitable to take care of him, according to his financial budget, capable of accompanying his vision, capable of fulfilling his needs (biological/financial/social/etc.)?

For women married to someone they love and sleep with, is it the same person and only one? Or can they marry without any feelings, sleep together without any feelings, have a household only as a social duty, and still have other secret lovers who are never revealed and never married?

Do men marry purely out of love, wanting to nurture and care? Or is it all actually done for themselves? to avoid loneliness, to have someone to care for and watch over them again?

Is the love given, the affection poured out, purely for others? Or is it merely to fulfill their own need to love and care for others?

If everything is a choice, merely for fulfilling needs, and done for self-interest. Then what kind of woman is truly worthy and capable of accompanying without ever feeling hurt, betrayed, unbound, and still clear-minded?

3/5/24

Resentment festers when our own needs go unfulfilled, while we tirelessly cater to the demands of others. Yearning for recognition, validation, affection, and belonging, we grapple with our inability to appreciate ourselves, unsure of when to draw the line or fight for what we deserve.

Only when we learn to cherish our own worth and acknowledge our needs can we break free. Shedding the shackles of toxic relationships and self-neglect, we reclaim our power, leaving behind those who diminish us and embracing a life of self-respect and fulfillment.