Friday, December 19, 2014

Jiwa

Air jatuh berirama membasahi setiap pohon, tanah, dan bus yang saya tumpangi. Bus yang entah akan membawa saya kemana, bertemu dengan siapa, belajar apa, dan apa- apa lainnya. 2 jam menerawang kegelapan bias cahaya lewat jendela dengan segudang pertanyaan. Bus pun berhenti di sebuah tempat, tempat training 4 hari, training yang saya pun tak tahu ngapain dan tak tahu kenapa bisa ikut. Seseorang berbicara dengan suara memecah gemericik air hujan deras, memberitakan tentang pembagian kamar. saya pun dengan spontan ikut saja rombongan entah siapa, masuk ke kamar paling pojok, sebuah ruangan dengan 10 kasur, 5 kasur diatas, 5 kasur dibawah dengan 10 orang yang asing. Saya memilih kasur di bawah tanpa memilih-milih sebelah siapa.

Kami bersepuluh meski sekamar, dalam kesehariannya hanya berinteraksi saat malam, selepas acara selesai, dari jam 10 malam hingga jam 1-2 pagi, kemudian tidur lalu bangun jam 5 subuh bersiap-siap untuk kegiatan yang diawali dengan mandi air dingin di lembang musim hujan. Ada teman sekamar yang posisi kasurnya disebelah kasur saya, dia menjadi orang pertama yang saya liat saat bangun dan saya liat menjelang tidur, selama 3 malam, ada momen dimana kita bertatapan lalu ketawa, ketawa untuk hal yang belum kita komunikasikan namun sama-sama dipahami. Ya mungkin itu namanya chemistry dan satu frekuensi. 

Seiring berjalannya waktu, di malam terakhir, saya menyadari kalau orang-orang yang ada dikamar ini, 9 orang ini cerminan diri saya sendiri. si A yang rusuh, si B yang hahahihi, si C yang kritis dan mempertanyakan eksistensi Tuhan, si D yg sedikit seombong, si E yang pemalu, si F yang berantakan, dan yang lainnya. Malam terakhir itu menjadi puncak perbincangan diskusi, bukan diskusi tentang training hari itu, melainkan diskusi tentang apa yang dirasakan, dipikirkan, beban masa lalu, harapan masa depan, dan saya mengungkapkan apa yang saya rasakan pada penghuni kamar ini, tentang kesamaan frekuensi, satu pemikiran. Teman sebelah kasur saya tiba-tiba ngomong "Tuhan mempertemukan orang sesuai kelompok roh nya, jadi kita ini diciptakan dalam kelompok-kelompok, yang sejenis akan dipertemukan". Definisi satu frekuensi versi dia. Cuma 3 malem, gatau kenapa sayang sama 9 orang ini, meski interaksi kita hanya dikala malam. 

Sebulan berlalu, komunikasi tidak se-intens sebelumnya dikarenakan kesibukan masing masing di kota masing-masing. Saya pun iseng stalking dan bacain tumblr dan blog satu satu hahaha... lalu terkejut. Ternyata bukan satu frekuensi saat itu saja, bahkan si ini si itu ternyata satu pola pikir, satu visi, cita-cita yang serupa, selain perilaku yang seperti cermin, pola pikir, perspektifnya pun setipe Meski dengan background yang berbeda (ada psikolog, guru, ekonom, entertainer, anak informatika, manajemen, dari jawa, sumatera dan makssar).  Teringat perkataan Tan Malaka bahwa air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya. sama seperti salah satu hadist yang saya temukan tentang jiwa, "Jiwa-Jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibariskan. yang saling mengenal diantara mereka akan saling melembut dan menyatu. Yang saling tidak mengenal diantara mereka akan saling berbeda dan berpisah" (H.R.Bukhari). Dari situ saya menyadari dan berfikir tentang orang-orang yang datang dan pergi, tentang orang-orang yang bisa ditoleransi dan tidak, tentang pertemuan-pertemuan yang bikin bersyukur, tentang baiknya Tuhan yang selalu memberi teman disetiap perjalanan hidup, tentang ketentraman, kasih sayang, tentang kekuatan,  tentang kesendirian, tentang banyak hal.

Tuesday, December 2, 2014

Gentong

Tadi pagi sebelum memulai aktivitas, saya lari di sabuga sendirian, ternyata pagi itu banyak opah-opah, dan ada sekelompok opah-opah yang jadi lari bersebelahan dengan saya. Terus mereka ngobrol (bukan nguping cm kedengeran hehe) ada satu obrolan yang bikin saya mikir:

"maneh teh dikasih berkat ku Tuhan aya takaranna, ibaratna gentong maneh geus penuh, lamun teu aya nu dikaluarkeun, nya teu aya deui anu bisa katampi masuk ka gentong...."
translate:
"kamu itu dikasih berkat/ anugrah dari Tuhan ada takarannya, ibaratnya gentong kamu udah penuh, kalo gak ada yang dikeluarin, ya gak ada lagi yg bisa keterima/masuk ke gentong itu...."

Saya jadi mikir dan punya pemahaman: ya segala berkah yg udah dikasih Tuhan emang harus ada yang dikeluarin, dalam bentuk waktu untuk berbagi, kasih sayang, kepedulian, ilmu yg disalurkan, rejeki yg di-infaq-kan, dll. Biar "gentong" kita ini selalu punya ruang untuk terisi dan gak luber tanpa manfaat. Karena isinya selalu kita bagikan ke orang lain jadi gentongnya gak penuh-penuh dan bisa diisi  lagi bahkan terisi dengan yang baru pula.

02/12/2014
00:25

Saturday, November 29, 2014

Serpihan Takdir

Telepon berdering memberi kabar sesuatu yang tak pernah kubayangkan, kupikirkan, kusiapkan, apalagi kuperjuangkan. Aku hanya diam menolak hal itu. Namun takdir berkata lain, 2 minggu kemudian aku sudah berada di sebuah pesawat besar dalam perjalanan belasan jam, diam sepanjang jalan ingin pulang dengan hati yang entahlah aku pun tak tahu. Sampai di sebuah bandara penuh dengan segala ras manusia dari seluruh penjuru dunia. Aku masih terdiam, mempersiapkan apa yang harus dilakukan, mengambil niat, lalu masuk bus terisak nangis sepanjang jalan mengingat dosa-dosa dengan segala ketakutan. Bus sampai di tempat yang dirindukan banyak orang. sebuah tempat dengan kotak hitam di tengahnya yang tak henti-henti nya dikelilingi ribuan bahkan jutaan sambil memanjatkan doa. aku berada diantara mereka, memanjatkan doa terdalam dan air mata pun menetes entah bagaimana. 

Doa, ya sebuah harapan, sesuatu terdalam dalam diri tentang banyak hal untuk dunia, akhirat, untuk diri sendiri, keluarga, dan banyak orang. 2,5 tahun berlalu tak terasa, menengok ke belakang untuk menambah syukur atas semua yang telah terjadi, di lalui, dan di dapat saat ini. Aku menyadari sesuatu, bahwa satu persatu doa terkabul, salah satu nya ini, ya ini, tentang pertemuan dengan orang-orang sefrekuensi yang mengampar untuk maju, yang menyangi, yang peduli, dengan segala banyak bonus lainnya yang Maha-Segalanya berikan. 

29/11/2014
23:06

Thursday, November 20, 2014

Sejajar

Hujan turun membasahi setiap pucuk daun yang berderet rapi sepanjang jalan ditopang oleh batang masing-masing, diliputi langit gelap seiring naiknya bulan. Sebuah atap ber-dinding transparant dengan kursi kayu tanpa sandaran menjadi tempat saya dan dia bertukar rasa dan pikiran. ada sebuah dialog yang muncul, tentang nilai, diri, sejajar.

u: lo tuh kuat tau sebenernya, keren banget malahan.
p: tapi gw anaknya gak suka show off
u: iya gw juga, lebih baik dibilang bodoh/buruk tp tau segala hal/baik, daripada dibilang pintar/baik tapi biasa aja.
p: nah itu dia, kita gak boleh kaya gitu. gimana caranya orang bisa ngasih kesempatan untuk kita membuktikan diri kalau mereka pun menilai kita rendah? gimana caranya kita bisa membuktikan diri kita kuat/pinter/keren/baik kalau kita gak punya kesempatan untuk menampilkan?
u: iya ya... gw jadi belajar deh, ibarat sebuah angka 0-10. gw selalu menampilkan diri dengan nilai 4 padahal nilai asli gw 9, misalnya. gw lebih seneng orang menilai rendah padahal aslinya gw keren. Berarti harusnya kalau nilai kita 8 ya kita harusnya bisa ngebuktiin kita itu 8 dan orang tau kita 8 ya?
p: iya. kita harus belajar menghargai diri sendiri dan membuktikan nilai asli kita ke orang lain, biar yg dilihat dan aslinya punya nilai yang sejajar.

-------------------------------------------------------------
Setiap orang punya masa lalu yang membentuk dirinya, bagaimana ia menghargai diri sendiri dan bagaimana ia memandang orang lain. Entah itu terbentuk dari banyaknya cacian terhadap dirinya, cap buruk yang menempel didirinya dari orang lain, menjadi kambing hitam untuk segala hal, pencapaian yang tak pernah di apresiasi apalagi di hargai, yang menjadikannya rendah diri dan tak percaya diri, ataupun, pujian yang terlalu berlebih yang menjadikannya terlalu angkuh dan percaya diri.

Kadang menenggok ke atas, memandang tinggi orang lain dan memandang rendah diri sendiri sungguh sangat menyesakan diri. Begitupun sebaliknya memandang kebawah, memandang bahwa diri lebih baik dan lebih tinggi dari orang lain sunguh bikin pegal. Apapun yang terjadi dulu biarlah ia menjadi miliknya masa lalu. Sekarang, berdirilah sejajar dalam memandang diri sendiri sesuai porsinya dan memandang orang lain.

Tuesday, November 18, 2014

Peran Seorang Ayah (1)

Asal ibu nya baik, anaknya pasti baik. Pemahaman saya itu ternyata salah. Dari hasil diskusi dengan oknum B seorang psikolog yg punya empati besar, semalem, ternyata peran seorang ayah sangat besar dalam membentuk anak, bahkan hingga 80%. Pembentukan anak bukan hanya pada masa golden age saja, melainkan dimulai dari fase pembuahan, kualitas sperma (baik/kurang, tua/bagus, dll) yang mempengaruhi kecerdasan, fisik, mental, dan kalau laki2nya pengguna zat apa gt (lupa), itu mempengaruhi emosional anaknya kelak. Terus dalam masa kehamilan, kurangnya kasih sayang, perhatian, dan adanya kesedihan istrinya, menghasilkan anak yang sangat sensitif. Belum lagi saat masa kanak2, ada 4 fase menurut Freud seorang pakar psikoanalisis, Jika fase phallic (ttg genital) terlewat, anak bisa mengalami oedipus complex. Belum lagi pertengakaran rumah tangga, perilaku kasar fisik yang diterima seorang anak, kata-kata yang bisa jatuh sangat dalam di dalam diri anak yang mempengaruhi keadaan psikis nya hingga entah kapan. Kalau yg ini contohnya sudah banyak. Seperti remaja yang tega membunuh sekeluarga.

Oknum B pernah melakukan penelitian tentang seorang remaja 15 tahun yang tega membunuh tanpa rasa bersalah. Ia dihamili pacarnya, lalu disuruh aborsi. Ia merampok dan membunuh pemilik uang tersebut dengan membunuh menggunakan gunting. Lalu uangnya belum cukup, alhasil ke dukun beranak, sang jabang bayi dikeluarkan paksa menggunakan batang daun singkong, entah seberapa besar rasa sakitnya, hingga pendarahan dan rahimnya harus di angkat. dan ia tidak merasa bersalah dan sedih sama sekali, biasa aja. Setelah ditelusuri, ternyata hal tersbut merupakan hasil dari perilaku di keluarganya yang sering berantem dan ini itu.

Dari hasil diskusi kami semalam, saya belajar dan menyadari betapa pentingnya peran seorang ayah dan betapa besarnya dampak keluarga terhadap seorang anak. Bukan hanya masalah agama, finansial, pendidikan, ada hal2 psikis yang terlewat untuk di perhatikan. buat si X dipukul itu hal yg besok akan lupa, namun hatinya yg sensitif membut ia gampang tersakiti dan bisa berbekas bertahun2 mempengaruhi perilakunya jadi rendah diri. Beda lagi dengan si Y buat dia kata2 hanya sebuah kata-kata yang lewat, namun saat dia mengalami kekerasan fisik, dampaknya hingga 20 tahun kemudian masih terasa. Saya baru sadar ternyata seorang ayah lah yang memiliki peran sangat besar dalam pembentukan seorang anak.

Thursday, November 6, 2014

JAGA

Dalam sebuah perjalanan, terpikirkan sesuatu:

Kita cukup menjaga diri kita sendiri, 
maka Tuhan akan menjaga diri Jodoh kita. 
.selesai.

Sebagai seseorang yang pernah jadian namun tak pernah pacaran, gak kontak fisik dan berduaan  bersama pacar. Gak pernah dan gak mau aja. Tapi pernah kontak fisik sama teman lawan jenis saat naik gunung, pernah tidur sebelahan rame-rame tanpa melihat jenis kelamin dalam satu tenda, pernah pergi berdua bareng lawan jenis untuk survey material dan ke proyek. Lho kok gitu? Kenapa? Ya, karena kalau sama seseorang lawan jenis yang kita punya perasaan pasti rasanya bakal beda sama lawan jenis, teman, yang gak punya perasaan apa2. Saya menghindari hal-hal kontak fisik, berduaan bareng pacar, dan sejenisnya untuk menjaga diri dari hal-hal yang mungkin bisa berkembang menjadi hal yang kurang baik, kalo sama temen yang sama-sama gak punya "rasa" mah ya bodo amat, lagian kalo bareng ma temen lawan jenis itu karena ada suatu tujuan atau urusan. kelar.

Berdasarkan hal tersebut, saya punya prinsip dalam setiap melakukan perjalanan.
1. gak akan mau pergi sama orang yang saya punya rasa.
2. gak akan mau pergi sama orang yang punya rasa ke saya.
3. gak akan mau pergi sama orang, dimana saya dan dia berpotensi untuk timbul "rasa".
Jadi, orang-orang yang saya (pilih) melakukan perjalanan bareng, tandanya bukan orang yang disuka dan tidak berpotensi saling suka.

Singkatnya, saya melakukan perjalana sekian hari bersama teman dan ternyata cuma berdua (krn tmn sy gak jd ikut, sodaranya dia jg gak jd pergi), beda jenis kelamin. Karena teman ini udah masuk ke 3 point prinsip saya diatas, maka biasa aja, cuma dia nya aja yang lebay berjarak, sangat kaku dan berhasil membuat saya sangat tidak nyaman secara psikis. Di perjalanan itu, saya banyak belajar bagaimana beradaptasi dengan model orang kaya gitu, menjaga emosi, dan meng-enjoy-kan diri sendiri. Dari banyak kejadian yang saya anggap aneh bahkan "tai bgt sih nih orang", ada hal yang disadari, saya, seperti dijelaskan pada paragraf pertama, termasuk orang yang berusaha menjaga diri, ternyata ma Tuhan dikasih partner nge-trip yang menjaga diri juga, jadi saling menjaga diri sendiri. makanya munculah pemikiran, gak usah takut, santai aja sama siapa jodoh kita, saat kita menjaga diri sendiri, maka di tempat lain, jodoh kita lagi di jaga sama Tuhan. Dengan ia berada di lingkungan yang baik, dipertemukan dengan orang-orang baik, dsb. Intinya sih itu, ya mungkin terlalu abstrak kalau dijelaskan dalam sebuah tulisan singkat. 

Thursday, October 23, 2014

Nikah

Parade pernikahan pun dimulai, sebisa mungkin saya menghadiri pernikahan-pernikahan jika diundang, meskipun datang sendirian. Satu persatu teman yang terlihat single tiba-tiba bertemu jodohnya dan menikah. Ada rasa haru disetiap acara akad dan resepsi, apalagi kalau tau sejarah cinta mempelainya, bener-bener bikin merinding deh sama kuasa Tuhan yang bisa tiba-tiba mempertemukan jodoh, memberikan rasa dan keyakinan diantara keduanya, dan banyak lagi keajaiban yang bikin air di mata ini jatuh. Okey, mungkin ini terdengar lebay, namun itu yang bener-bener saya rasakan :p

Karena sering ke nikahan sendirian dan orang-orang seumuran saya sudah banyak yang menikah, sering juga ditanyai kapan nikah ma keluarga, bahkan lebay nya bokap agak drama pas saya pulang ke rumah (luar kota) sendirian,  bokap: "sama siapa teh?" dengan mata berbinar, padahal jelas-jelas saya keluar dari bangku sopir sendirian -___-". Terus om yang menanyakan sesuatu yang berujung pada obrolan "jadi teteh kapan?", dan banyak lagi moment-moment serta obrolan-obrolan kaya gitu yang bikin ngakak hahaha.... ya, memang untuk sebagian orang obrolan pernikahan adalah hal sensitif, tapi untuk saya its not a big deal.

Hal-hal diatas bikin saya pengen nikah, sering banget bilang nikah-nikah, sampe gatau kenapa banyak orang yang jadi sering memperkenalkan saya dengan temannya, sampe adik saya pun ikut-ikutan, huft. Sejujurnya, di hati terdalam, jangankan untuk nikah, untuk membangun sebuah hubungan yang dalam pun, saya mempunyai ketakutan yang luar biasa besarnya. Entah kapan waktunya, karena sekarang pun gaka da yang deket dan gak ada yang ditaksir, yang pasti saya bakal nikah sama orang yang tepat yang bisa menghilangkan segala ketakutan saya dan yakin, di waktu yang tepat :D

Monday, October 20, 2014

Kamu

ada rasa yang kita pendam dalam-dalam,
kita simpan rapat-rapat,
kita panjatkan doa diam-diam.
Sebuah rahasia dengan sang pencipta,
yaitu tentang kamu.

Sunday, October 12, 2014

TIPS PACKING



KACAMATA
- Kacamata cadangan
- kacamata renang minus

SKINCARE
- Susu pembersih, buat bersihin sunblock/ kalo lagi ga nemu air
- pelembab muka
- sunblcok
- lipbalm
- body butter
- sisir
- parfume
- bedak badan, kalo ga sempet mandi, abis pake tissue basah, taburin bedak deh.
- Kapas

ALAT ELETRONIK
- chargeran hp
- power bank + charge nya
- kamera + charge nya
- earphone
- hairdryer mini,
  kalo abis keramas keringin dulu sebelum pake jilbab biar gak pusing

ALAT MANDI
- Sabun
- Odol dan Sikat gigi
- Shampoo sachet
- Sabun cuci muka
- Deodorant

OBAT-OBATAN
- Tolak Angin
- Kayu Putih
- Footspray buat kaki pegel
- Conterpain
- Obat tetes mata
- Cotton bud
- Hansaplast
- Vitamin (ester C dan Enervon C), Antimo, Obat Tidur, Sangobion, Procold, Parasetamol, FG Troches, Obat batuk sachet.

Friday, October 3, 2014

Tertangkap dan Ditangkap

Ada hal yang orang lain tangkap dari kita tanpa sadar. Ada hal yang kita tangkap dari orang lain tanpa disadarinya. dan hal-hal itu menjadi cermin agar kita lebih berhati-hati, karena tidak tahu akan menjadi hal baik atau buruk, hal ringan atau dalam.

Suatu hari di atas kapal di tengah laut.
u: kykny enak bgt celana nya (celana ringan, waterproof, anti bacterial, mahal pasti)
s: lha bukannya lo pny? gw kan beli ini terinspirasi ma lo.
u: yg mana? gw ga pernah pny celana ky gt...
s: itu loh yg suka lo pake kalo trip, yg warna coklat
u: ooooh.... itu mah celana biasa.

Sepulang trip bersama teman lama.
r: jalan sama lo bikin gw pgn sekolah lg. jd nabung buat itu. fix.
u: (dalem hati: lha kok bs, pdhl slama trip kita ga pernah ngobrol), knp?
r: buat investasi diri, ngerti ga?
u: ya, paham.

Di sebuah pulau, sekasur sama temen yg super terawat. pulang2 dr trip, gw langsung mulai peduli untuk merawat diri dan memang memerlukan biaya ekstra ternyata.

Dalam 3 kejadian di atas (sebagai subjek dan objek), hal-hal yang tertangkap/ menjadi inspirasi buat orang lain masih dalam koridor "ringan" dan positif. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk hal negatif yang ditangkap tanpa kita sadari dampak jangka panjangnya, jadi perlu hati-hati dalam segala hal, karena kita gak pernah tau apa yang kita perbuat/ omongan/ kebiasaan/ barang2/ pola pikir / dsb  menjadi stimuli bagi orang lain untuk berbuat sesuatu atau tertanam dalam pikiran hatinya.  Karena kita tidak pernah tau apa yang ada di pikiran dan hati orang lain. 

Monday, September 22, 2014

relationship's observation

Banyak cerita relationship yang di dengar, tentang si A diselingkuhi, si B yang terlalu mendominasi, si C yang sangat egois, si E yang super brengsek, si G yang ditipu, si H yang dimanfaatkan, si J melakukan kekerasan fisik, dan cerita lainnya dari yang "sepele" sampe yang naudzubillah minzalik. Hal-hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, melainkan kaum wanita juga. Mungkin karena selama ini, saya dikelilingi orang-orang baik, cerita kaya gitu suka bikin kaget, ga abis pikir.

Dari cerita-cerita relationship mereka tersebut yang berujung putus/cerai. Saya jadi berfikir, kalau kita bakal dapet pasangan dengan kualitas yang sama, yang sebanding, dan pantas. Jadi kalo masih dapet yang "aneh2", ada dua kemungkinan, pertama tanda kalau kita belum sampe tujuan (pasangan sebenarnya), masih diperjalanan, kedua tanda kalau kualitas diri kita secara keseluruhan masih sama aja kaya pasangan kita saat itu, jadi perlu perbaikan diri.

Wednesday, September 17, 2014

Hardrock Fm Bandung :D



Jadi ceritanya H+3 lebaran idul fitri 2014, saya melakukan trip random Bandung - Bangkok - Siem Reap, Cambodia - Ho Chi Minh City, Vietnam - Phomn Penh - Bangkok - Jakarta. Perjalanan ke Indochina tersebut sebenernya rada nyiksa, karena gak ada temen sharing. hahaha.... Alhamdulillahnya, Selepas pulang, ada temen nawarin wawancara di hardrock fm untuk 4 minggu, dan ta daaaa.... jd tercurah juga deh hasrat sharing dan cerita yang terbendung selama 9 hari, lewat radio pula, terimakasih atas kesempatannya :D

Cerita lengkapnya, per- negara, kalo mood bakal saya tulis di blog ini hehe, mulai dari persiapan yang random, segala ke-implusif-an, tempat2 okey, tips n trick, segala rasa yang muncul, dan banyak lagiiii, see ya!


Si tosca teman seperjalanan :p

Wednesday, September 3, 2014

Lucky.

Barusan sepulang wawancara dari radio, saya masuk kamar teman kosan, ternyata dia lagi beres2.
dia: "duh tiii, gw pengen deh buang2 make up gw yang gak ada label halal nya”
sy : "knp emang?”
dia: "soalnya gw mikir, kita gak makan babi, kita gak minum alkohol, tapi pake make up non halal, apa bedanya ti?
sy : "knp emang?
dia: "gw pernah baca tentang kandungan make up, suka ada turunan-turunan dr babi gt, lipstik merah aja itu ada kandungan turunan dari serangga, nah itu aja kan gak boleh”.
sy : ......... (jreng2 jadi mikir).


Kemarin janjian ketemu ma temen,
kita kenal di stasiun pas mau ke acara waisak 2013, temenan deh ampe sekarang.
Ketemu, makan bareng, ngobrol, nonton. ternyata jadwal nontonnya bentrok sama shalat magrib, alhasil kita shalat dulu dan membiarkan film mulai duluan. Pas shalat, saya menyadari sesuatu, saya shalat masih pake mukena, sedangkan dia sudah bisa langsung shalat dengan pakaiannya, rok dengan jilbab menjuntai menutupi dada hingga pinggang. dalem hati "setahun yg lalu nih orang masih sama aja kayak saya, masih pake celana jeans, masih pake jilbab segi empat ataupun pashmina biasa, sekarang?? dia bener2 make hijab dgn benar." dan saya pun jd tersadarkan.


Pernah suatu malam ketika di sleeping bus lintas negara, dimana kegiatan di bus adalah tidur dan bus penuh. alhasil sebangku ma temen muslim lawan jenis.
dia: "aneh ga sih?”
sy : "sebangku? nggak. klo ngetrip jg biasa begini kan”
dia: "tapi sebelah lo cewek kan?
sy :"ya tergantung, kadang cewek kadang cowok, gw sih gak mikir apa2, tidur ya tidur aja.
dia: "kalo sebelah lo bule?
sy : "siapapun, selama gak ganggu dengan bau, ngorok dan melewati batas teritori, ya gw sih bodo amat."
seketika saya ngerasa orang sebelah saya super freak, nanya dan ngerasa kaya gitu di public transportation, apalagi selama perjalan belasan jam gak ada ngobrol2nya itu super nyiksa. Pas dipikir-pikir, justru dia tipe yang menghargai, menghormati perempuan, apalagi perempuan berjilbab. Soalnya dari pengalaman, biasanya travelers itu seru, terbuka, suka sharing dan open minded. Saking open minded nya, (seringnya) tingkat toleransi ma cewek berjilbabnya kurang.


Pernah nge-trip ke negara tetangga, saya sebagai outsider dari sebuah kelompok (blm saling kenal). Kita berprinsip "pergi sepagi mungkin, pulang semalam mungkin", alhasil kita pergi pagi, pulang subuh, tidur hanya sekian jam. Tapi selama perjalanan tersebut, semua orang di kelompok ini sangat inget shalat banget2. Lagi diatas, bela2in turun kebawah buat shalat dzuhur by foot (effort bgt ini). jam 3 subuh berenti di rest area (kita lintas negara sebelahnya lagi pake mobil), krn blm sempet shalat isya sebelumnya. Nyampe apartment langsung shalat subuh, sblm tumbang tidur kecapean. 


-----------------------------------------------------

Berasa beruntung deh ketemu mereka- mereka yang bikin mikir untuk jadi lebih baik dan bikin inget ma Tuhan. Thank’s. 

Friday, August 22, 2014

Selamat

Ada seorang teman, laki-laki, saya ketemu teman ini pertama kali pas naik gunung, baru sekali ketemu (dan blm pernah ketemu lg sampe skrg). Orangnya satu frekuensi dan tipe single happy yg belum mikir nikah, masih main sana sini. 

2.5 bulan kemudian dia mengabari akan menikah. sontak saya kaget, "hah?? nikah ma siapa? kok bisa? ketemu dmn? gimana ceritanya? bukannya kmrn2 lo masih hahahihi gt2 ya?" segala pertanyaan gak percaya nan kepo berlontaran.

Ceritanya, suatu hari ada seorang perempuan (yg sblmnya pernah ketemu) datang ke bali dalam rangka tugas kantor, teman saya yang sudah 2 tahun tinggal di bali dan bekerja sbg wiraswasta ini blm pernah ke pantai kuta, tiba2 main ke pantai tersebut. Lalu bertemu lah mereka, ngobrol.

tmn: "gw ga nyari pacar, gw nyari istri"
ce: "gw jg ga nyari pacar"
tmn: "nikah yuk"
ce: "yuk"
selesai.

saya sempat bertanya "yakin lo?", dia jawab: "gw jg gatau ti". 2 bulan kemudian si tmn ngasih undangan pernikahannya. dalem hati bergumam "kaya ftv tp nyata. mau lah kaya gini jg haha... jodoh emang jorok, gak disangka2 datengnya, gak disangka2 sama siapanya".

Selamat nikah, Yo.
----------------------------------

* ketemu orang2 random tanpa sengaja yang ternyata satu frekuensi, lalu mendapati berbagai cerita dari mereka yg bikin inget betapa besarnya kuasa tuhan mempertemukan orang satu dengan lainnya, menumbuhkan rasa (pertemanan/ kekeluargaan/ dll), buat saya itu salah satu yg sangat disyukuri. 

Happy Jumat Mubarak!

Saturday, August 9, 2014

Naluri Aurat

Aurat perempuan dalam salah satu agama menjadi sebuah aturan yang perlu dipatuhi, bukan untuk membatasi, justru melindungi perempuan tersebut.

Pengalaman saya yang sangat belum bener dalam menutup aurat, menutup aurat disaat traveling benar-benar memberikan rasa aman, orang lain tidak akan melirik karena tertarik fisik, gak menarik soalnya; kita akan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan diri sendiri maksudnya tidak akan dipegang maupun didekati sembarangan. thats why i love to be muslim :p

Dalam sebuah perjalanan bis malam dengan tipe "sleeping bus", bersama bule-bule dengan beberapa orang asia yang kulit paha dan dada bertebaran terlihat jelas. Ada bule pake tanktop belahan rendah pada saat tidur menghadap samping ke arah sirkulasi jalan, dimana belahan dadanya terlihat sekali, tiba-tiba ia menutup nya dengan selimut.

Lalu ada sepasang pasangan asia (kursi didepan saya) saat perempuannya tidur dengan posisi ngangkang, laki-laki disebelahnya dengan spontan langsung menutupi daerah pangkal paha temannya dengan selimut (maaf kalau bahasanya vulgar). Ada pula 2 org disebelah, saat tmn perempuannya tidur dengan paha terbuka sebatas pangkal, orang sebelahnya langsung menutupi paha temannya dengan selimut. 

Hal- hal tersebut membuat saya berfikir, apakah ternyata aurat itu sudah tertanam secara naluriah dalam diri setiap manusia, baik dari rasa malu, sudut pandang bilogis, maupun budaya ya?

Bahkan dalam keadaan bis yang super panas dimana 2 pria bule di kurai belakang melepas baju, sebagian perempuan bule melepas celana panjangnya dan beralih ke hot pants, tetapi gak ada satupun yang benar-benar membuka sampai batas pakaian dalam. 

secara tidak langsung, hal tersebut membuktikan bahwa naluri aurat berada dalam alam bawah sadar sebagai rasa malu, dan hasil sbuah norma budaya.

5 august 2014. perjalan bus malam ho chi min city - phonm penh. 

Wednesday, July 23, 2014

Malam 25 Ramadhan

"Tuhan aja bisa ngasih mukjizat ke Nabi, apalagi cuma ngasih kelulusan ke kamu."

kalimat salah seorang tmn diskusi tesis saya kemarin malam. ok, it is so logic.

Tuesday, July 22, 2014

Mencintai

aku mencintai kebebasan
layaknya mereka mencintai keteraturan.

aku mencintai kejutan
layaknya mereka mencintai kepastian.

aku mencintai perjalanan
layaknya mereka mencintai pekerjaan.

aku mencintai pencarian
layaknya mereka mencintai penemuan.

aku mencintai makna
layaknya mereka mencintai materi.

aku mencintai keramaian
layaknya mereka mencintai kesendirian.

aku mencintai rasa
layaknya mereka mencintai rupiah.


Bandung, 01.01 am