Saturday, November 28, 2015

Menjadi Dewasa

Semakin dewasa, memang bakal semakin introvert ya....
mengontrol emosi (senang/ kesal/ marah/ sedih), mereduksi masalah dalam diam sendirian sebelum diurai lalu diselesaikan sendiri, semakin selektif dalam bergaul, semakin bijak dalam menggunakan waktu untuk apa, semakin tertutup, tau kapan membuka dan menutup gerbang, memilih mana yg perlu direspon dan tidak, mana kebutuhan dan keinginan; memperbaiki rem biar pakem tp nyaman - tau menempatkan diri mksdnya - kapan bs bablas, kapan harus lbh pelan dan kapan harus berhenti; punya tanggung jawab yg lbh besar thdp diri sendiri dr segi nafkah dll, maupun kasih dan bakti thdp keluarga, dan thdp masyarakat melalui pengabdian/ karya intelektual.
Kalau udah gak tahan sama semua hal yg dirasa dan ga bs diredam lg, tp blm pny org terdekat alias sendirian (bener2 sendiri tanpa tmn dan keluarga), ga bs langsung dikeluarkan. butuh diem dan mikir dulu, lalu energinya (+/-) dikeluarkan dalam bentuk lain (karya/ lukisan/ prosa rasa/ musik/ tulisan mikir)

Satu Terang

ada yg tiba2 datang, menghantam, menjatuhkan, lalu pergi.
ada yg diam dalam jauh memperhatikan, lalu datang, mentatih perlahan.

ada yg mencaci penuh benci mendalam.
ada yg bersyukur penuh kasih dalam hening.

ada yg berbisik nyaring menusuk.
ada yg lantang bilang itu prinsip.

meski ada seribu menyerang, selalu ada satu terang menolong.
utie - 28/11/2015

Observasi dan Analisa MBTI

Observasi.
makin kesini, makin gampang tau tipe org dr sekali liat. tipe E/I, N/S, F/T, P/J; golongan NF /NT /SF /ST.

NF itu tipe visioner, leader, bs melihat sesuatu yg gak keliatan (salah satunya potensi, org/ pasar/hubungan, dsb).
NT itu tipe intelektual, konseptor. logis, intuitif, pandai menganalisa dan menilai sesuatu secara tepat.
ST itu tipe pekerja. logis, sistematis. intinya klo kerjaan dikasih ke jenis org ini, pasti kelar.
SF itu tipe creator, penghangat, pengembira, perawat.

dr itu ada kombinasi 4 geng lg.
geng Intuitif ( ENFP, ENTP, INTJ, INFJ)
geng perasa (ISFP, INFP, ENFJ, ESFP)
geng pemikir (INTP, ENTJ, ISTP, ESTP)
geng sensing, yg dominan liat bukti fakta, mendapatkan info2 dr panca indra (ESFJ, ISFJ, ISTJ, ESTJ)

toleransi paling rendah itu org2 NF. cm bs cocok sama org2 NF lg. yaiyalah, udah intuitif, feeling pula. susah nyambung dan cocok ma org, tp bs "ngeliat" org. Yang paling tinggi toleransinya itu ENTP, cocok ma semua jenis org krn ektrovert, flexible, intuitif tp ttp logis;  dan ISFP krn plg perasa jd gampang empati. kebayang kan kalo pny kepribadian ENFP (susah cocok ma org), tp kalo bs merubah F nya jd T (ENTP) Langsung kontras, bs cocok ma semua org.
dari spektrum ekstrovert introvert ini, yg posisinya ditengah2 itu: ENFP ekstrovert paling introvert dan INFJ introvert paling ekstrovert.
dan org2 S itu tipe berstrategi.
org2 N tipe idealis.

tp meski tipe nya sama, misal sama2 ENFP, bisa beda, tergantung persentasi tiap angkanya, jd bs menghasilkan jutaan konfigurasi dr satu tipe, kalo diteliti lbh detailnya lg, ya emang gak bakal ada org yg sama. ibarat bikin sayur asem, meski resepnya sama, beda org pasti beda rasa ngebikin dan kesan rasa yg dihasilkan lidahnya.
sekian, rangkuman observasi dan analisa 4 tahun. sebenernya seumur hidup kerjaan saya emang hobby observasi dan analisa orang, sistem, semuanya bahkan, meski ga ada hubungannya ma saya. tp br bbrp tahun ini concern di mbti.
-------------------------------- Contoh aplikasi dalam pekerjaan/ organisasi
orang ENFP. kalo kerja, butuh tipe NT dan ST.
orang NT dibutuhkan krn sama fungsi N nya (intuisi) jd nyambung bahas ide, konsep, gagasan, dan hal2 abstrak lainnya. N dan T, maka dia bs merumuskan menjadi hal lbh detail dan logis, sebelum dikasih ke org ST.
Orang ST dibutuhkan krn kemampuan dia dlm mencari fakta, realistis, detail, alias hidup di masa skrg dgn panca indra nya, sehingga ide org NF yg sudah di konsepkan org NT bs dikerjakan oleh org ST yang pasti bakal kelar.
jd butuh:
1 orang ENTP (krn dia fungsi NT dan bs cocok ma semua tipe) - jd konseptor/ Project manager
1 orang ESTP (krn fungsi ST - pekerja dan tipe mechanic) - jd produksi, bagian di lapangan
1 orang ISTJ (krn ST, dan fungsi I bikin dia lbh konsen kerja dan fungsi istj yg cenderung cerdas dlm bekerja dan kelar) - jd produksi, bagian internal.
1 orang ESFJ (krn tipe org care dan bs mengikuti sesuatu sampe selesai, dan sbg perekat) - jadi marketing.
---------------------- udah deh, perusahaan jalan dengan 5 orang.

kalau dlm satu bisnis/ konsultan/ kelompok, isinya org NF NT semua, ya abis. gak bakal jd apa2, gak ada yg mau kerja, cm sibuk sampe mikir aja. ibarat bs bkn inovasi, sehingga nasi 3rb jd 40rb, tp ga ada yg mau kerja bikin nasi nya.
kalau isinya org ST SF jg ya abis. jadi sesuatu tp ga ada value lebih nya. ibarat nasi dijual nasi. 3rb ya ttp jd 3rb lbh dikit. a diterjemahkan a, b diterjemahkan b, realistis. analogi sederhana ekstrimnya gt.....
*wuallahualambishawab

Monday, November 23, 2015

Magnet and Purpose of Life

sebenernya diri kita sendiri itu magnet ya...
menarik semua hal yg pny frekuensi yg sama. baik dan buruk nya.

kadang mikir, kalo mau tau dimana posisi kita saat ini, ya liat sekitar kita, orang2 disekitar, lingkungan sekitar, peluang. Itu semua mencerminkan diri dan tmpt kita berada. saat tujuan untuk senang2, ya dipertemukan dgn org2 dgn tujuan yg sama. saat tujuannya ingin berkembang, ya dikasih lingkungan struggle yg pahit berbuah manis. begitupun dgn niat dan tujuan yg lain, seperti magnet yg menarik hal serupa.

tapi ini hidup, semua bergerak, melakukan perubahan posisi dalam tiap satuan waktunya. detak jantung, bergerak tanpa disuruh. pikiran pun bergerak butuh kendali. hati pun bergerak dalam kecondongan tertentu. semua bergerak melakukan perubahan atau yg disebut hijrah. hal itu yg bikin kita gak bakal ada dlm lingkungan/ situasi yg sama terus dan dgn org2 yg sama. masalahnya perubahan itu menghasilkan kecepatan, nah gimana merubah kecepatan menjadi percepatan, berarti butuh variabel lain, selain perpindahaan dan waktu. nah ini yg msh saya cari.

pada akhirnya ini semua perjalanan menuju akhirat yg kekal. dan selama perjalanan itu ya kita bakal ketemu sama hal2 yg satu tujuan.

----------------
saya bertanya pada diri sendiri, apa yg buat bahagia? uang apa cinta? saya renungkan dan jawabannya ya dua2nya. Saat direnungkan kembali, saya pengen kaya. tapi org2 sekitar saya saat ini adalah org2 penuh cinta, baik2, pny kemampuan spritual yg baik (spiritual beda dgn agamis). berarti tujuan terdalam saya sebenernya adalah cinta dong (tulisan sblmnya ttg magnet, mencari posisi diri dr cerminan lingkungan sekitar. krn skrg dikelilingi org2 penuh cinta, berarti tujuan saya sebenarnya adalah cinta), mencari dan membagi cinta, hidup dalam kedamaian. kaya cuma salah satu alat aja salah satu bentuk cinta kpd ortu dgn menjadi mandiri dan kuat, dan semua org kaya, saya yakin mrk pny hasrat buat ngebantu bukan untuk mupuk/nimbun. "foya2" traveling pun salah satu bentuk pembelajaran, recharge jiwa, berbagi kebahagian dlm bentuk lain, 2 arah, bahkan 3 arah, saya, mereka, semesta.

kaya jd penting bgt bgt buat langkah kedepannya. menurut saya, kalo hati itu pondasi vertikal yg nancep di dalam tanah, kaya ini rangka2 pondasi horizontal untuk membangun bangunan secara vertikal. Karena baiknya hati saja tidak cukup (sebagai pondasi vertikal, penting tp gak cukup buat menjadikan satu kesatuan bangunan), butuh kekayaan (untuk pondasi horizontal), butuh ilmu dan kerja keras (sebagai bangunan), butuh silahturahmi (sebagai perekat layaknya semen), butuh kerendahan hati (sebagai atap), butuh berbagi (layaknya jendela pada bangunan, untuk menjaga isinya ttp sehat).

Monday, November 9, 2015

Biru Ruby

Matahari masih malu muncul, bangun krn kepala berputar, berhasil mengeluarkan semua isi perut hari kemarin lewat mulut berkali2. hasil mabuk di ombak malam menguncang dgn semangatnya. Sailing musim hujan.

Selesai sudah, menahan diri untuk tidak keluar isi perut. diam di deck memperhatikan burung2 berterbangan. sendirian. semua masih dalam mimpinya, tertidur diatas riak air yg masih menyisakan gemuruhnya. seseorang datang dgn sebatang rokok, berdiri disebelah. "udh pny pacar tie?". hah?? the random question i ever heard from stranger. " hahaha belom." dan kembali diam dlm kompleksnya pikiran masing2.

detik dmn menyadari match, sblmnya pertamakali sadar pas pertama liat dan di kota sebelumnya.
Kapal sampai di darat 4 hari kemudian, ada ragu terbesit untuk lanjut dgn org2 saat itu. rasanya pgn pergi aja sendiri ikut mas2 bertato gahar yg ternyata super cheerful dan suka lumba2. Niat urung, krn tak enak dgn teman. alasan klasik. Org itu seperti bs membaca perasaan  dan pikiran meski sy berakting everything going well. "yakin mo pergi ma mrk tie?". sy cm diem aja. ternyata keraguan terjawab dgn adanya seseorang yg berbuat curang. ya sudahlah. msh dlm batas toleransi dlm hati.

--------- tahun demi tahun berlalu

tapi sampe detik ini, msh merasa tertarik dgn org itu, kaya ada sesuatu, ngerasa ada yg match aja tp gatau apa. sampe suatu waktu dia blg rejeki sy bagus, yg saya sadar cm kalo ibu selalu blg: " ibu mah aneh, knp semua yg kamu mau, selalu dapet meski kalo dipikir2 kaya gak mungkin.", Seandainya semua keinginan adalah kebutuhan.

Barusan siang random, nanya org itu, dan terjawab. why i feel match with her. krn kita sama2 biru.
jd inget celotehan tmn sekamar: jiwa2 itu pny kelompoknya masing2, yg sama bakal melembut dan mendekat, yg berbeda akan mengeras dan menjauh dgn sendirinya.

Friday, October 30, 2015

Pak Ogah

Persimpangan jalan dalam terik matahari dan lalu lalang kendaraan, menjadi lahan mata pencaharian bagi sebagian orang. sebut saja pak ogah. begitulah istilahnya. 

Pertigaan antara jalan dago dan ganesha, ada satu orang pak ogah, ekspresi mukanya yang selalu datar, mulutnya yang terkunci dari mengeluh dari terik dan saat tidak diberi receh oleh kendaraan yang sudah dibantu disebrangkan. Sebagai mahasiswa, kadang kala membawa kendaraan ke kampus sebelum ke urusan lain, bertemu dengannya di persimpangan. Ia membantu. Bahkan saat tidak membawa kendaraan alias naik angkot, ia membantu menyebrangkan tanpa pamrih. Entahlah apa yang telah dialami dan sedang dialaminya, tidak pernah terasa emosi apapun dan ekspresi apapun. Entah dia sangat realistis dalam menjalani hidup pada detik ini, atau ia menjadi kebal terhadap rasa karena beban hidup dan masa lalunya. Saat berpapasan dan berada pada radius 0.5-3 meter, rasanya benar-benar netral, tidak ada emosi dia yang terpancarkan dalam resonasi frekuensi semesta terhadap orang lain. aneh. entah itu petanda positif, atau tanda dari kekosongan.

Suatu hari, teman saya cerita kalau di depan boromeus, mobilnya ditabrak orang, dan pak ogah di persimpangan itu membantunya dengan memberikan kesaksian tentang apa yang dilihatnya. sudah diduga, ia memang orang baik. disaat orang berlomba-lomba menyelamatkan diri dan mencari aman meskipun tahu kebenaran, dia bisa bersikap netral, berani, dan peduli.

3 tahun berlalu, saya sudah lulus, meningalkan Bandung untuk urusan lain. Suatu hari, saya melewati kembali jalan itu, melihat dia masih berkutat dalam terik riuh asap kendaraan di tengah jalanan. Ada 2 mobil lain di depan kendaraan saya, melihat dia dari kejauhan, merasakan perasaannya dari sorot mata dan gesture alaminya. Tiba-tiba hati jadi terenyuh. antara kasian dan sedih, gatau kenapa. Padahal ada 2 pak ogah disitu, tapi pak ogah yg ini berbeda. Tiba-tiba jadi pengen ngebantuin dan ngedoain. Semoga semuanya baik-baik saja ya pak.

Sepanjang jalan, saya mikir, dia asalnya dari mana ya? keluarganya dimana? apakah ia punya anak istri? penghasilan seharinya berapa? kalau satu mobil ngasih 500 rupiah dan ada 100 mobil yang lewat dari pagi hingga siang, berarti sehari dia dapat 50.000 rupiah, sebulan 1.5jt. apakah cukup untuk makan sekeluarga? apakah anaknya baik-baik saja? apakah anaknya sekolah? Tiba-tiba air mata jatuh. Disaat orang berjuang mati-matian untuk hidupnya, keluarganya, menghasilkan rupiah yang sangat berarti setiap keping 500 an nya, saya seenaknya keluar uang 20rb cuma buat beli minuman manis, seenaknya keluar uang 100rb buat beli sabun cuci muka. Disaat orang mengunci ekspresi dan emosinya dalam setiap guratan wajah yg tersembunyi dibalik sorot matanya, saya seenaknya berekspresi. Disaat orang berjuang untuk hari ini, menyembunyikan kekhawatirannya dalam setiap usahanya dan bertanya pada hatinya, apakah cukup untuk makan hari ini? . Saya malah suka stress dengan masa depan, apakah bisa kaya? apakah bisa ini itu? sehingga melupakan nikmat hidup hari ini, saat ini.


Jumat, 30 Oktober 2015
12:52, Bright Cafe Pom Bensin Dago.

Thursday, October 29, 2015

Jodoh Pernikahan

ayah saya rajin banget nawarin kenalannya, mulai dari doktor, anak kyai, org yg tinggal di eropa, yg kaya nan mapan, yg suka traveling jg, dll. sampai ayah nanya: mau yg kaya apa sih?
saya cm jawab: yg bikin saya yakin.

--------------------
ada teman nanya: kamu sukanya yg gmn tie? selain sefrekuensi, contohnya siapa?
saya cm jawab: ga punya kriteria. yg bs bikin saya yakin aja. udah. jd pas ketemu, saya yakin "nih dia, sy mau nikah ma dia". belum ketemu, jd ga pny contohnya siapa
--------------------

Karena saat udh yakin, yaudah.
tandanya saya suka ma org itu dan smua kriteria satu kufu udh masuk kedalamnya. *satu kufu itu: sefrekuensi, bisa mengimbangi, "selevel" baik dr segi agama, keyakinan, pendidikan, latar belakang, sosial, pola pikir, visi, mental, dll. nah level ini bukan berarti sama, tp kalau ditotal keseluruhan, kualitas saya ma dia sama nilainya. Kalo tentang yakin ga yakin, kayaknya cm Allah yg tau dgn menghubungkan hati saya dgn dia dan ngasih petunjukNya. Rasa suka dan kecocokan itu ajaib, gatau muncul dan tumbuhnya gmn, semuanya ajaib aja termasuk "keyakinan". Sebenernya, jodoh, sesuatu yg paling gak bikin khawatir. krn itu urusan 2 pihak. gatau deh normal apa nggak pola pikir ini. saya lbh khawatir sama kesuksesan, kerjaan, karir, sejenisnya. krn ngerasa berhasil/gagalnya itu tergantung diri sendiri. kalo jodoh mah ya hal natural. (Menurut saya) usaha dlm jodoh adalah dgn menjaga diri pd jalan yg benar, baik, dan berdoa. Gak suka pendekatan kaya pdkt, lebih suka yg to the point. trs berdoa bener apa ngak jodohnya, trs minta jodoh yg baik, trs jaga diri dr dosa2, dan mempersiapkan (mental, fisik, materi, visi, dll).

Sempet punya bayangan kalo dr awal ketemu jodoh sampe nikah itu cuma 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama, langsung ada perasaan, trs saling berdoa minta petunjuk, berdoa ttg kebaikan, dan mempersiapkan diri. Pertemuan kedua, saat ia melamar. Pertemuan ketiga, ya dipernikahan. Kayanya indah aja, unpredictable dan ajaib. hahaha

kadang mikir, buat apa pacaran? buang2 waktu dan energi. gak bikin jodoh makin dekat, gak bikin bener2 kenal yg menjamin bakal match dan saling tau. Perasaan yg tumbuh dan diiring pacaran - penjajakan, menurut saya ya itu sesuatu yg dilandasi kesenangan dan nafsu. jadi buat apa? karena kalo orang bener2 serius nan beriman, ya dia bakal menjaga dirinya agar tetap dalam koridornya lalu berdoa minta petunjuk, kemudahan, dan kebaikan untuknya untuk masa depannya di dunia dan akhirat, dan saat jawaban Allah datang dgn tumbuhnya keyakinan yg kuat dan kemudahan yg terbuka, ya dia (laki2) langsung datang ke ortu perempuan untuk nawarin diri jadi imam putrinya. kelar deh. kalo jodoh ya tandanya dua insan ini punya perasaan yg sama, usaha (doa, jaga diri, persiapan diri) yg sama, dan keyakinan yg sama.  berada pada frekuensi yg sama. Kalo bukan jodoh, ya salah satunya beda "frekuensi" entah dr segi perasaan/ keyakinan/ usaha.

*wuallahualam bishawab

Saturday, October 17, 2015

Buka Tutup Gerbang

Gerbang selalu terbuka, kaca jendela transparant sepanjang dinding. Terlihat dengan mudah meski dr sebrang jalan. Mengundang dan diundang. Orang bisa keluar masuk seenaknya, rumah penuh, ramai, riuh, namun mematikan. Rumah penuh dengan orang-orang yang tak peduli, menjadikannya berantakan penuh caci, kotor tanpa etika, sesak, tak dapat 'istirahat'. chaos se cahos chaosnya. 
-------------------------------------------------------------
Bertahun-tahun lamanya, menjadikan rumah dan pemiliknya semakin memprihatinkan.
--------------------------------------------------------------

Rumah itu mulai dirapihkan, dengan mengeluarkan semua orang di dalamnya beserta benda-benda tak perlu, dan sang pemilik sendiri merapihkannya sendirian. Gerbang tertutup, tak ada yg bs masuk dan sekedar melihat dari sisi jalan. Perlahan menutup dari pandangan siapapun. Ada yang mengetuk, sang pemilik diam, lalu tersadar, merapihkan sendiri entah selesai kapan. Sang pemilik mulai membuka gerbang pada orang yang benar-benar ingin masuk, kenal, peduli, dan memberi kesempatan untuk dibantu.

Ia belajar untuk membuka dan menutup gerbang, untuk menjaga rumah tetap rapih dengan sedikit orang di dalamnya; menjaga rumahnya tetap bersih, dan aman. Ia mulai paham berapa maksimal orang yang bisa diajak kedalam rumahnya, kapan orang bisa melihat dan masuk, dimana orang-orang tersebut duduk dan area mana saja yg boleh dijamah. Ia mulai sadar, buka tutup gerbang menjaga kebaikan kestabilan rumah dan pemiliknya. Ia dapat tidur dengan tenang tanpa terusik, dapat membersihkan tanpa halangan dalam sunyi, bisa 'hidup' dengan adanya orang saat gerbang dibuka, bisa sepi untuk merenung mengenal dirinya saat pintu tertutup.
Buka tutup gerbang ini berhasil menguras batin pemilik. Tentang kepercayaan, pengendalian, keyakinan.

Bandung, 17 Oktober 2015

Saturday, October 3, 2015

Waktu

"menunggu adalah hal yg paling membosankan dan buang2 waktu". denger kalimat itu dr byk org termasuk diri sendiri kala dulu.

Menunggu berhubungan dengan waktu. dan waktu sejatinya milik-Nya, kita hanya menjalani sebaik2nya sang massa. Saat merasa waktu telah hilang dikarenakan byk hal, salah satunya menunggu. sejatinya kita tidak benar2 kehilangan. ada sesuatu lain yg waktu berikan, entah kesabaran, membelokan ke jalan lain yg byk memberi warna dan memperkaya hati pikiran, memberi petunjuk untuk sesuatu itu baik/tidak, memberi ruang pada diri sendiri untuk memahami tentang diri, sekitan dan byk hal lainnya.

in my opnion, waiting isn't a wasting time, waiting is the another space to get one better in different way.

Friday, October 2, 2015

Hijrah #2. Tumbuh

2 tahun terakhir saya menjadi sangat-sangat selektif. mulai dari memilih teman, mana yg saya pertahankan dan dilepas. dr mulai pergaulan, mana yg perlu di keep dan mana yg harus ditingalkan (udh males bgt kalo cm sekedar nongkrong2 atau ketemu tp obrolannya hanya sebatas permukaan dan hal2 umum lainnya).

Gatau kenapa, fokus saya skrg lbh ke arah intimate drpd achievement dlm bidang pendidikan dan karir. meski gt untuk urusan sekolah dan kerjaan ttp saya lakukan se the best mungkin. Nah fokus intimate ini lebih ke arah pengen punya hubungan yg dalem sama orang, mencari org2 yg bs menerima baik buruknya saya, bersama-sama mencapai puncak tujuan masing2, dan beriorientasi akhirat menuju surga-Nya. Nah bentuknya masih dlm pertemanan, bukan untuk menikah. Mulai deh saya list smua tmn yg ada di saat saya down, yg ttp jujur nge gampar saat saya salah, yg mengulurkan tangan sblm diminta, yg satu frekuensi, yg tulus mendukung, yg tetap stay saat tau kejelekan saya, yg ngingetin kpd hal2 non-duniawi, yg terkoneksi secara mental dan intelektual. alhasil: tenyata ga ada satupun temen versi saya yg saya punya, sempet sedih. abis itu tiba2 Allah memberikan kasih sayang -Nya lewat makhluk-Nya yaitu orang2 lama yg tiba2 muncul dan orang2 baru yg dlm pertemuan singkat sudah merasa klik. Banyak bgt ya syarat standard tmn versi saya, knp?
1. pgn pny hubungan yg deep, long lasting dan pny orientasi akhirat
2. sy tau kualitas diri saya saat mulaibuka pintu ke org lain untuk masuk kedalam "rumah". bisa berkorban abis2an (ya cukup yg kenal aja yg tau).
3. saya melindungi diri dr semua trauma masa lalu dan dr rasa sakit hati dgn menjadi lbh selektif. 

orang2 yg saya keep tidak selalu sama dan membenarkan. meskipun satu frekuensi, kami berdiri pada prinsip dan goal hidup masing2. banyak perbedaan yg malah memperkaya perspektif. sedikit waktu bersama namun kualitasnya tinggi dan deep. jd secara waktu sangat efisien.

mungkin ini memang sebuah fase perkembangan yg memang bakal dilewati setiap orang. Entah saya telat atau kecepetan.

Friday, September 25, 2015

Belitung



jadi mikir, kalo kita dateng ke suatu daerah dalam rangka pariwisata apakah benar2 membantu warga setempat? kalo saya perhatiin kemarin pas ke belitung, hotel dll yg punya org2 kaya kapitalis di kota besar, ini itunya pun. warga setempat hanya sebagai pegawai. ya, pariwisata maju, fasilitas menjamur, membuka lapangan pekerjaan. secara ga langsung membantu. Tapi....

selama perjalanan disana byk pikiran diotak, banyak pertanyaan yg muncul, banyak perasaan yg kerasa. Ujung2 nya nih yg untung tetep para investor dan pengusaha yg bukan penduduk sana. gatau kenapa jadi sedih bgt. Ada 3 mata pencaharian utama warga setempat, yakni: berkebun, nelayan, tambang. "bahkan banyak aparat yg lbh memilih pekerjaan di tambang makanya kantor polisi sepi" (rizal, tour guide). jadi gemeees. gemes sama para investor yg berhasil membuat pribumi berlomba2 bekerja untuknya, jadi gemes sama para pengusaha yg melihat sesuatu potensial lalu membangun yg secara gak langsung membuat orang untuk konsumtif pelan2. 

konsumtif ini kerasa bgt. sebagai penghuni kota besar, saya sejujurnya iri dgn gaya hidup sederhana masyarakat belitung bahkan sempet terbesit doa semoga org2 disana terus sederhana dan dijauhkan dr segala penjajahan kapitalis. Waktu pulang naik pesawat, ada bocah abg diinfus memakan 6 bangku pesawat (abis brp biaya kan~) katanya kecelakaan. entah abg yg merengek minta motor ke ortunya yg cm nelayan/petani kebun, lalu ugal2an dan jegeeer kacelakaan sampe patah tulang dan ujung2nya ortu yg repot. kasian deh liat mata bapaknya. seketika kesel "pasti gara2 acara tv nih! bikin persepsi abg gaya dgn motor jd panjang urusan secara psikis ekonomi dst" (suudzon saya dlm hati).

andrea hinata ini keren, dia berhasil berstategi untuk memajukan belitung barat hingga timur dengan cerita laskar pelanginya, dimana pantai adanya di belitunh timur lalu sekolahan ada di belitung barat. secara gak langsung byk org yg penasaran ke dua tmpt itu dgn melewati barat-timur, dan sepanjang jalan itu menjadi "hidup" dan sangat "bertumbuh". " dulu tanah gak afa harganya, semenjak laskar pelangi langsung deh jadi M M an" (ungkap penduduk asli belitung). senenh dengernya, good job bang andrea hinata, salut buat prestasi thdp kampung halaman. tapi disisi lain jd sedih, karena hal itu tidak seiiring dengan pola pikir panjanh yg mandiri masyarakatnya, byk warga yg jual tanah2 mereka thdp investor yg mereka pun gak tau bakal dipake apa, apakah kedepannya bakal tetap berharmoni atau justru menyengsarakan mereka sendiri. 
*sekilas seupil pemikiran selama perjalanan dibelitung. terimakasih oby liburan gratis 4 harinya, semoga rejeki makin luas.


Done. Thank you Universe!

hampir 2 bulan yg lalu saya sidang. single fighter? ya. pusing ditelen sndiri, sedih ditahan sndiri, stress dipikir sendiri. Ternyata Tuhan pny caranya sendiri untuk mengabulkan doa ibu saya, yaitu dgn adanya rejeki dr arah yg ga disangka2, rejeki ini bentuknya dukungan selama proses thesis yg memudahkan langkah krn diyakinkan dan dilapangkan. dimana byk org/tmn yg ilang dan meninggalkan, namun ada pula yg masih tetap stay mendukung dgn sabar sampe akhir:
  • keluarga, uwa, tante, mulai dari ngedoain sampe ngurusin pas sakit 5minggu typus.
  • renny, the smart girl who has many perspective. baik bgt mau dengerin mulai dr misuh2 rungsing sampe pemikiran serius ttg byk hal meski udah jam 1pagi. bahkan pas sidang, pagi2nya dia kekampus buat mastiin saya udh dateng. pdhl dia jg lg berjuang dgn urusannya.
  • qodir, teman sekantor dulu, guru terbaik, berhasil membantu saya berfikir lbh sistematis dan percaya diri.
  • sufty dan ninis atas bantuannya dan bikin sadar ttg byk hal.
  • bella, psikolog cantik yg bangunin jam 3 subuh buat tahajud, selalu nyemangatin. pitong yg bela2in dateng jauh2 naik motor gerimis2 cm buat dengerin saya nangis kesel. 
  • bene, tmn sma yg bikin saya ngerasa masih pny tmn di saat lg drop.
  • pak agus, pembimbing yg masih mau bales wa kepusingan saya tengah malem dan nyemangatin.
  • pak bagus, reader yg mau di interupsi buat asistensi pas saya lg ilang arah dan stres. nelepon h-1 sidang ngasih wejangan dan nyemangatin.
  • faisol, temen satu bimbingan yang bikin sadar kalo masih punya temen di kampus. kemampuan menyelamatkan diri yg tinggi berhasil bikin lulus duluan, meski begitu ya cukup suportif sebagai teman.

cuma diri sendiri yg bs merubah nasib diri, namun semandiri dan sekuat apapun ternyata tetep butuh disemangatin dan diyakinkan. dan ada faktor x lain, yakni doa ibu.

sekolah ya emang gt2 aja, bukan masalah ilmu dan lulusnya. ilmu dr kuliah paling cm 5%nya, tp ilmu selama proses sekolahnya ini byk bgt. proses tiap org beda2, ada yg teratur stabil, ada yg penuh dukungan, ada yg hrs berjuang dlm kesendirian, ada yg dipermudah, ada yg dipersulit, ada yg balapan dgn waktu studi dikala byk hal lain yg sedang diurus, ada yg tinggal menjalani rencana, ada jg yg masih nyari2 topik di ujung waktu, dll.

 
tesis yang udah di revisi selama 1.5 bulan dan persyaratan wisuda lainnya di dalam map di tas. 
Alhamdulillah satu urusan kelar.

dr proses thesis saya belajar how to deal with conflict, how to respon the problem, how to survive, how to manage (task, time, stress, feeling, bored, etc), how to enjoy ourself alone, how to communicate, how to make decision, how to balance feeling and thinking, how to react the unpredictable situation, how to accept, how to learn to learn, how to be "selfish". aaaah terimakasih semuanya, terimakasih semesta 

Tuesday, August 18, 2015

Hijrah

"jangan takut dibenci disini, karena di tempat lain bakal banyak yg suka". - Qodir mengulang perkataan bapaknya.

seorang tmn kantor berbagi pemikiran dan pengalamannya. Menstimuli saya untuk berfikir, ada sebuah hubungan kalimat dia dgn anjuran hijrah - berpindah. Mungkin disini, di tempat saya atau kita berpijak, sebuah lingkungan yang menghisap diri layaknya pasir yg lama kelamaan menghabisi diri sendiri. kita bukan pohon, kita bisa pindah dan bergerak  untuk melakukan perubahan, termasuk untuk diri sendiri, kita memiliki hak untuk memilih lingkungan dimana kita berdiri untuk berkembang dan menjadi lebih positif.

Saat berada di suatu tempat, ada hal-hal yang berubah menjadi subjektif. seorang pecandu narkoba yg pernah membunuh yg akan sangat terlihat keburukannya terus menerus dan hilang segala kebaikannya termasuk potensi baik didirinya menjadi pudar dgn segala cap manusia-manusia penilai layaknya Tuhan. Seorang alim ulama yg sangat terlihat segala kebaikannya, dan tertutup segala keburukannya, meskipun keburukan atas perasaan riya misalnya. Semua hal memang subjektif, banyak yang mendengarkan/ membaca sesuatu dari SIAPA bukan pada APA kontennya. Entahlah. saya pernah berinteraksi sejenak dgn seorang tukang becak yg secara pendidikan, ekonomi, sosial jauh dibawah sang motivator terkenal, tp omongannya benar. ada yg berkata "kalo dia pny pikiran ky gt, knp hidupnya ky gt?" saya cm bs jawab, krn dia mendapati pemikiran itu dr pengalaman, dia belajar setelah semuanya terjadi, jd dia mendapat ilmu namun sudah terlambat untuk merubah. yg dia bs lakukan skrg ya bersyukur dan berbagi ilmu dr pengalamannya agar kita tidak terjerumus kesalahan yg sama, jd sebuah keuntungan lah buat kita, dapet ilmu tanpa harus cape2 mengalami dan menembus dgn waktu.

Subjektifitas-subjektifitas yang terjadi tanpa disadari merubah seseorang. Keburukan yg telah ada di diri dari cap suatu lingkungan tidak akan hilang dan celakanya hal itu bs memakan diri sendiri, sehingga perlu hijrah, ke tempat baru, lingkungan baru, bertemu orang2 baru, dimana saya/kita menjadi pribadi yg dinilai secara objektif sehingga dapat sangat berkembang tanpa adanya beban subjektifitas, potensi kebaikan pun bs keluar tanpa ada sumbatan. Hijrah membuat lebih baik. menemukan diri yang baru, menemukan keluarga yg baru, menemukan kesempatan yg baru. Dan siapa sangka, dibenci di sini, bisa sangat disukai di tempat lain. dicibir disini, bisa bertemu org2 yg bs menerima apa adaya di tempat lain.

analoginya, dalam suatu lingkungan, misalnya memiliki sudut pandang dr sisi kanan dan kiri, jd saat saya atau kita melakukan kesalahan yg terus menerus dr sisi kanan dan kiri, maka saya atau kita, akan di cap super buruk. Tapi mereka tidak akan pernah tau apa yg kita lakukan dan kebaikan apa saja yg ada di sisi atas, bawah, depan, belakang diri kita. Nah, saat kita hijrah ke lingkungan baru, kita akan dinilai objektif, apalagi jika lingkungan baru in memiliki perspektif yg berbeda, melihat dr sisi atas dan bawah yg kebetulan menjadi sisi baik kita, ya maka mereka akan suka dan keburukan di sisi kiri dan kanan kita pun terabaikan, bahkan pelan2 menghilang, krn kita mendapati energi positif yg fokus pd sisi atas dan bawah yg ngeluarin potensi kebaikan.

Seorang teman traveling berkata: "manusia itu kaya bola, 3 dimensi. saat kita ngeliat dr sisi sini, belum tentu kita bs liat dr sisi lainnya, hatus diputer 360derajat secara 360derajat". 

Setiap manusia pasti punya penilaian terhadap segala hal, mulai dr bungkus permen, rasa garam, sampai ke sesuatu yg abstrak pada makhluk hidup yg kompleks. Yang jadi masalahnya adalah apakah peniliaian itu tetap atau berubah? apakah lingkungan/ orang2 ini menilai yg menjelma menjadi sebuah cap yg mengurungkan, atau penilaian yg bisa berubah seiring waktu dan mau flexible melihat dr segala sisi? 


*wuallahualambishawab.

Wednesday, August 12, 2015

Tips Packing dan Traveling (Bagi Muslimah)

Judulnya luas banget yaaaaa...
okey, mari saya sempitkan, yang akan dibahas adalah tips-tips:
1. Efisiensi Barang Bawaan
2. Efisiensi Waktu dan Tempat
3. Adaptasi dalan kondisi

Kita (jilbabers) tidak selamanya tidur sendiri atau dengan orang-orang berjenis kelamin yang sama dalam satu ruangan. Kita tidak selamanya memiliki tempat yang luas untuk menyimpan membawa semua kebutuhan dan keperluan. Kita tidak selamanya sebelahan dan tidur dengan orang-orang yang kita sukai dan inginkan. Kita tidak selamanya memiliki waktu yang cukup untuk melakukan semua kebiasaan-kebiasaan. Kita tidak selamanya tidur dalam ruang tertutup. Kita tidak selamanya memiliki sekat yang massive untuk berganti baju.

1. Efisiensi Barang Bawaan
Bawalah barang bawaan yang sangat diperlukan, dapat saling mensubsitusi dan dipakai berulang. Dalam perjalanan 2 minggu, saya membawa:
  • 2 piyama (dengan syarat: hanya dipakai untuk kegiatan tidur dalam keadaan badan bersih - meskipun gak mandi, minimal di lap pakai tissue basah antiseptic dan dibalur talc)
  • 2 celana panjang yang ringan dan gampang kering. satu celana untk satu minggu, kalau keujanan, ya dicuci saja atau dijemur. (celana yg dipakai pergi, disimpen untuk pulangnya)
  • 4 kaos panjang katun tipis tp gak menerawang. (sehari sekali, bisa di cuci lalu dikeringkan dengan diangin2kan saat malam pas tidur, atau dijemur pas siang bolong di deck pinishi/ jendela mobil elf/ dsb)
  • 1 jaket/ cardigan, 1 jas hujan, 4 kemeja santai, 2 tanktop/lengan pendek tipis ala bali, 1 baju renang, 5 bra yang dicuci saat traveling, 1 bra untuk tidur, 14 celana dalam sekali pakai, paintyliners.
  • 1 mukena ringan tipis warna gelap (ungu tua, rose, hitam, dll), 4 jilbab katun paris biar cepet kering, 1 pashmina biasa, 2 pashmina berbahan seperti kassa cepet kering bgt,  selimut (sejenis pasmina berukuran sprei single 100 cm x 200 cm, kebetulan saya punya dikasih teman dari pakistan, sudah 5 tahun dipakai awet)
  • Alat mandi, tissue kering, tissue basah atiseptic, sisir (optional), ikat rambut, peniti, haidryer, silicon cap (untuk aktivitas laut/air biar rambutnya gak basah jadi gak pusing pas ditutup jilbab), Obat-obatan.
sumber: dokumen pribadi

sumber: dokumen pribadi, garis pada setiap level tas menandakan space yang digunakan untuk setiap item nya.

2. Efisiensi Waktu dan Tempat
Waktu berhubungan erat dengan rute, maka pilihlah rute yang sejalur. 
Misal: bangkok- phonm penh - siem reap - ho chi minh. Maka beli lah tiket dari bangkok, dan tiket pulang dari ho chi minh. Atau bali - lombok - sailing komodo - labuan bajo - moni - ende - maumere - alor - kupang. Maka beli lah tiket pergi ke bali, dan tiket pulang dari kupang. Jangan pernah beli tiket PP di tempat yang sama jika berniat overland/ go show, karena bakal abis waktu buat balik ke tempat asal. wasting time! seperti beli tiket PP bangkok padahal niatnya ke bangkok- phonm penh - siem reap - ho chi min. maka harus balik lagi ke bangkok via darat, ngabisin waktu. Ini sepele, namun sering terjadi.

Jika melakukan perjalanan panjang, maka pilihlah waktu malam, agar hemat waktu. dapat melakukan dua aktivitas (perjalanan dan istirahat) dalam satu waktu dan tempat - bus/ train - sehingga hemat biaya penginapan. Tempat destinasi bisa menerapkan konsep sejalur tadi, tempat istirahat pilih saja yang paling murah, tidak terlalu sepi (tidak terletak di gang jauh kedalam - seperti yang saya lakukan waktu di vietnam, big2 no, serem banget kalo udah malem, gak kejangkau angkutan umum dan jauh jalan kakinya sepi). Keuntungan bagi yang menggunakan jilbab saat di tempat sepi dan waktu malam hari, yaitu orang-orang malas melirik dan berbuat jahat, the power of 'tidak menarik'. hahaha

3. Adaptasi dalan kondisi
a. Tidur Bercampur dan di ruang terbuka
tidur pakai mukena.

b. Tidur di Sleeping bus
tidur pakai mukena.

c. Ganti pakaian di area publik
Gunakan mukena bagian bawah untuk menganti celana. Saya pernah melakukannya waktu perjalanan kamboja- bangkok pas lagi transit nunggu elf, 

d. Kehabisan baju
Ada tiga cara jika kehabisan baju: pertama, membeli baju di lokasi kita berada; kedua, mencuci baju sebelumnya; ketiga, menggunakan baju lebih dari sekali. Mencuci baju dilakukan malam hari sebelum beristirahat, bisa menggunakan sabun mandi atau sabun cuci cair kemudian jemur di luar di tempat yang bisa dikaitkan baju, jika tidak ada, maka bisa memasang tali jemuran portable. Menggunakan baju dua kali, ada beberapa cara: pertama, hari ini pakai baju a, besok pakai baju a; kedua, hari ini pakai baju a, malam pake piayama (sambil baju a disimpan dalam posisi terentang agar terangin2 dan keringetnya kering), lalu besok pagi nya sebelum memakai baju a kembali, balurkan bedak dahulu agar lebih fresh dan gak lengket; ketiga, hari ini pakai baju a, besok pakai baju b, lusa pakai baju a, hari berikutnya pakai baju b, selang-seling. Jangan langsung memasukan baju bekas/ kotor dalam posisi terlipat dan di dalam tas, simpan di ruang terbuka/ angin2kan dahulu, agar tidak bau apek. Kalau sudah habis baju bangeeet, bisa pake mukena! hahaha... bawahannya sebagai rok, atasannya sebagai jilbab.

e. Sailing (pernah saya bahas disini)

f. Musim Hujan
bawa jas ujan atas bawah plus rain cover untuk ransel, jauh lebih aman dan nyaman daripada pake payung yg ribet buka tutupnya dan tetep aja basah kena air terbawa angin, belum lagi menghambat pergerakan karena asatu tanggan digunakan untuk memegang payung. Pakai sendal gunung (model rapih, bukan jepit) biar ga licin, gak masalah kalo kena air, nyaman.

e. Lagi Haid
Haid tidak masalah jika berada di lokasi yang memungkinkan berganti. Ini akan bermasalah jika dalam perjalanan di kendaraan umum yang memakan waktu lebih dari 8 jam dan tidak ada toilet dan waktu singgah. Waktu perjalanan pakai sleeping bus tanpa wc tanpa singgah, berangkat jam 7 malem, nyampe jam 9 pagi, pakai pembalu wings 42cm pas malem mau berangkat, pas nyampe langsung ganti, pakai celana kertas sekali pakai, pakai celana katun berawarna gelap atau rame sekalian penuh warna dan motif yang gampang dicuci jika tembus.

Tuesday, August 11, 2015

Laut dan Mata Minus

Laut, pantai, menjadi salah satu tujuan pelepas lelah dan mencari penggalaman.
salah satu kegiatannya adalah berenang, snorkeling, maupun diving. Kegiatan ini sangat menyenangkan, khususnya bagi yang memiliki mata normal. Namun tak usah sedih bagi penderita mata minus ataupun plus. Saya memiliki mata minus 7. saat ke derawana, karena tidka mau rugi, alias harus bisa menikmati keindahan bawah laut, maka saya mulai mencari mask untuk mata minus. alhasil dapat, dengan lensa diganti lensa minus dengan perhitungan 20-25% dikurangi dari ukuran asli, dikarenakan jika di dalam air semua objek menjadi lebih jelas dan besar, kalau lensa mask ini sama dengan lensa minus di darat, dikhawatirkan akan menyebabkan pusing.

sumber: koleksi pribadi
Namun, mask berlensa minus ini belum menjadi solusi, dikala naik ke darat, maka saya tetap mempertahankan menggunakan mask dengan bernafas lewat mulut, dikarenakan repot melepas mask, lalu memasang kacamata, lalu melepas kacamata, dan memakai mask kembali. Belum lagi dalam kegiatan sailing, dimana kita diturunin di tengah laut, kemudian berenang sampai pantai, lalu berjalan kaki masuk hutan ataupun jalan biasa menuju danau, air terjun. Permasalahan muncul pada saat perjalanan menuju air terjun, danau tersebut, jalanan lumpur hutan atau jalanan biasa memerlukan penglihatan yang jelas, maka yang saya lakukan adalah memakai mask dan nafas lewat mulut. 

sumber: dokumen pribadi. Lokasi: dompu, Flores
sumber: dokumen pribadi. Lokasi: teluk Lampung.
Dari pengalaman-pengalaman berjelajah di alam dan kota, sebagai penderita minus 7, ada beberapa yang saya lakukan:
1. Membawa diving/ snorkeling mask sendiri yang berlensa minus
2. Membawa kacamata renang (dengan tali lebar agar bisa di cantolin snorkel), agar pas di darat bisa bernafas lega tanpa tertutup silicon pada area hidung. (idealnya sih gitu... kenyataannya belum nemu kacamata renang berlensa minus yang talinya gede biar bisa dicantolin snorkel).
3. Membawa kacamata cadangan saat berpergian, dan yang dibawa ke laut mending kacamata berlensa plastik agar ringan dan ada talinya biar aman.

Adapun teman yang lebih memilih menggunakan lensa kontak, lebih efisien, ringan, hemat tempat. Namun bagi pengguna sembrono seperti saya, lebih baik nggak. Kenapa? takut kena air laut jadi perih, takut tiba2 lepas jadi repot nyari2 di laut dan di pasir, takut iritasi, takut ketiduran cape di kapal terus lensa kontaknya muter ada di mata bagian belakang, dll.

khusus aktivitas air, laut, dan kegiatan outdoor, saya sangat mengarapkan adanya alat bantu mata: 
1. Diving/snorkeling mask berlensa minus yang bagian hidungnya bisa dibuka tutup secara flexible dan rapat. Jadi pas nyampe darat tetep bisa melihat dan bernafas lega lewat hidung.
2. Mask digital yang tingkat minus lensanya dapat diatur, sehingga cukup dibeli sekali seumur hidup  (jaga2 kalau minus mata nambah) dan bisa dipakai oleh orang lain jadi hemat. hahahaha.... Cocok buat disewain di dive resort, travel, ataupun dimiliki secara personal.
3. Frame dan lensa oudoor. Jadi frame kacamatanya super ringan, tahan air, tahan panas, flexible gak mudah patah. Kemudian lensanya bagi penderita minus >5 bisa ditipiskan setipis-tipisnya, ringan, tahan gores, mundah dibersihkan, anti minyak, bisa berubah warna saat kena matahari terik, melindungi dari sinar uv.

Bagaimana bisa

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa-apa setelah:

1. setiap daging yang tumbuh dalam badan merupakan hasil kerja keras orang tua

2. setiap helai benang dalam baju  sekolah dari tk hingga kuliah merupakan hasil kerja keras orang tua

3. setiap lembar kerta dalam buku-buku merupakan hasil kerja keras orang tua

4. setiap kemudahan dan keberuntungan merupakan hasil doa-doa orang tua, terutama doa seorang ibu.

5. setiap nafas merupakan harapan orang tua.

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa2 setelah apa yang telah orang tua lakukan? setiap detiknya, keringatnya, pikirannya, kerja kerasnya, nafasnya, ada harapan untuk anaknya. Apalagi jika itu semua dilakukan oleh seorang ibu. seorang perempuan yang seharusnya mengurus dan memiliki sensitifitas yang tinggi, bertambah peran ganda, menjadi seorang tulang pungung keluarga, pencari nafkah, membangun benteng diri demi bertaham dalam kejamnya dunia kerja meski harus mengikis rasa sensitifnya yang tanpa disadari membuat gap dan memudarkan ikatan emosional antara anaknya.

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi apa2 setelah apa yang telah dilakukan seorang ibu yang berperan ganda dan menafkahi?

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak berbakti sebakti-baktinya?

Bagaimana bisa, saya, kita, tidak menjadi tiket emas ke surga untuk orang tua kita?

#renungan #selfreminder

Monday, August 10, 2015

aku dan hilang

peran berganti
tanpa tersubsitusi

waktu bergulir
tanpa kembali

hampa menekan
tanpa rasa

semua berteriak
tanpa mendengar

semua mengecam
tanpa ruang

aku disini
tanpa siapapun

berdiri tegak
tanpa tulang

menatap dalam
tanpa daya