Friday, July 29, 2016

Cerpen: Sekejut Mati


Bagaiamana rasanya, jika hari ini kamu tengah asik mengerjakan pekerjaan, mengejar karir, diselingi tawa lepas dikala malam ngobrol dengan teman-teman, sudah menyiapkan tiket traveling sendirian ke tempat yang diidam-idamkan dengan uang hasil kerja yang ditabung intens selama setahun belakang. Hidupmu berat penuh kerja keras, tapi kamu selalu tahu cara untuk bersenang-senang. Begitulah kamu menjalani waktu.

Lalu, seminggu kemudian, ada seorang laki-laki yang tak pernah kamu dengar sebelumnya, tak pernah bersingungan, tak pernah terpikirkan, tak pernah bertinteraksi selain berpapasan sekilas disebuah acara, datang ke rumahmu, berbicara dengan orang tua mu untuk meminangmu? Laki - laki sempurna untuk mu. Satu kufu, satu frekuensi, satu iman, satu visi, menetramkan. Anehnya, orang tua mu meneteskan air mata haru  dan anehnya lagi kamu langsung mengiyakan. Semua terjadi begitu saja, sekejut mati yang tak diduga dan tak dapat dihindari.

Dua bulan kemudian, yang harusnya menjadi moment terindahmu di tengah salju memakai jaket bulu angsa broken white, sepatu ankle boots warna khaki, pashmina, kupluk, dan sarung tangan kulit dusty pink, dengan lipstik wrna fuschia. Berdiri menatap indahnya senja di Barat, berubah menjadi moment yang jauh lebih indah tak terbayangkan sebelumnya. Karena ada laki-laki yang dua bulan lalu melamarmu telah menikahimu seminggu yang lalu kini ikut bersamamu ke tempat yang kamu idam-idamkan. Lalu, nikmat mana yang kau dustakan? 

Semua terjadi begitu saja. 
Hati yang terbolak balik, waktu yang mengejutkan, rejeki yang tak terduga, kasih yang saling terpaut.


Bandung, 29/7/2016

Monday, July 18, 2016

REM. Keep and Pause.

Dikala banyak yang mem feedback tanpa diminta, ada seorang teman, dia selalu menutup diri untuk mem feedback (kritik) seseorang. "Gak bagus sering-sering minta feedback. Gak bagus juga bentar-bentar ngasih feedback."

Setelah direnungkan, keputusannya  bijak. Dalam kehidupan yang heterogen ini, banyak sekali jenis manusia dengan segala keragaman perspektifnya. Jangan sampai feedback yang terlontar malah memberikan dampak negatif dan kurang baik bagi seseorang. Padahal feedback itu hanya sebuah perspektif seseorang, dengan kata lain subjektif.

Ada kalanya, perlu belajar me-rem tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan tentang orang lain. Memberinya ruang penerimaan agar merasa diterima dan bisa menyelesaikan tujuannya. Ibarat seseorang membuat sebuah lukisan, ditengah jalan "jelek banget, kok gitu, alah sampah, dll." Padahal yang dilihat hanya sebagian di waktu itu. Dan dampak terburuknya, orang tersebut bisa berhenti melanjutkan sesuatu yg sebenarnya akan menghasilkan lukisan bagus atau bahkan dia akan berhenti tak mau melukis lagi dikala punya kemampuan luar bisa. Dunia ini tak selalu dipenuhi orang-orang percaya diri yang bisa cuek dan terus maju. Banyak yang gampang terpengaruh/ percaya pandangan orang lain karena latar belakang yang tak pernah diketahui siapapun.

Feedback penting untuk mengukur perspektif diri dan perspektif orang lain terhadap diri sendiri. Masalahnya adalah, tidak semua orang bisa melihat diri orang lain secara utuh dalam rentang waktu yang utuh, tidak semua orang bisa untuk memilah-milah feedback, dan tidak semua orang dapat menyikapinya secara asertif ataupun cuek.

Sedikit yang dapat "melihat" potensi dan real people, banyak yang melihat dari aksi reaksi yang teraba indra (sensorik). Level tiap orang memperlihatkan dirinya pun berbeda-beda, sama hal nya dengan level orang melihat orang lain pun berbeda-beda. Semakin deep, semakin dapat menembus layer-layer, semakin dapat melihat aslinya. Be wise to "judge" (feedback).

Jogja, Juli 2016

Wednesday, July 13, 2016

Jogja, 13 Juli 2016

Karena banyak komplain tentang kosan terkait mas2 yang suka main masuk kamar, kamar diberesin tanpa ijin, dll. Diajak ngobrol sama bapak kosannya (berasa disidang, krn udah tau diri duluan terlalu blak2an dan sempet marah kesel).

Ternyata... Mas2 itu adalah anak bapak kosan yg autis. Ibu2 itu kakaknya yg pernah stress krn dulu ortunya berpisah, dll. Ya Allah, sedih banget deh dibalik uang puluhan juta yang ia terima tiap bulannya dr usaha kos2an, ada ujian lain yang sama beratnya. Jadi diingatkan untuk bersyukur dikasih mental yg sehat, pikiran yg cerdas, fisik yg sempurna, jiwa yang tenang. Karena banyak orang diluaran sana yang berjuang mati-matian untuk orang2 tersanyangnya dimana perjuangan mereka hanya bisa mentok sampai bantuan financial, tak merubah mental, pikiran, jiwa, dan pikiran seseorang menjadi lebih baik. 

Bapak kosan resign, nutup perusahannya, bangun kosan, hijrah ke tempat baru. Biar bisa ngontrol anaknya yg autis, biar bs punya peningalan bagi dia dikala dirinya meninggal. Ya. Orang tua dimana-mana sama, selalu ingin yg terbaik untuk anaknya. Kalau ibu ayah selalu bilang cuma bisa investasi ke anak lewat pendidikan dan menyekolahkan kami. Di luaran sana banyak yang harus berinvestasi dari harta karena tau anaknya kurang bisa mandiri untuk menopang kakinya sendiri krn beragam kekurangan dalam dirinya (kekurangan mental, jiwa, inteletual). 

Pagi ini, berasa digampar realita untuk merendahkan hati dan lebih peka pada sekitar. Kalau ada orang pintar, pasti ada orang bodoh. Orang bodoh sebagai ladang ibadah orang pintar, sama-sama saling menolong. Kalau ada orang gundah, pasti ada orang dengan kemampuan healing yg luar bisa. Yg satu tersembuhkan, yang satu bahagia bisa menolong orang. Pada akhirnya jadi bertanya kembali, apa kelebihan kita? Kenapa kita diciptkana seperti ini? Untuk apa? Untuk apa kelebihan itu ada didiri kita? Untuk apa kelemahan itu ada didiri kita? 

Orang-orang yang crosspath dengan kita selalu menjadi ladang ibadah untuk kita maupun mereka. Selalu ada peran pembelajar dan mengajari; menolong dan ditolong; memberi dan diberi; menyembuhkan dan disembuhkan. 

Wuallahualambishawab.
Jogja, 13 Juli 2016

Ibunya

Sesedih - sedihnya seseorang,
ada yang paling sedih, yaitu Ibunya.

Secuek - cuek nya seorang terhadap pandangan orang lain,
ibunya yang paling stress memikirkannya.

Sejatuh - jatuhnya seseorang sampai babak belur dengan kuat terus bangkit,
hati ibunya menangis menyaksikannya. 

Senakal - nakalnya seseorang,
ibunya yang paling sedih memikirkan nasib akhirat anaknya.

Sehancur - hancurnya seseorang, 
hati ibunya yang paling hancur melihatnya.

Semakin dewasa, banyak hal yang tak sepaham, banyak hal terjadi diluar kendali. Semakin ke tengah lautan dalam, ombak pun semakin dasyat, biarlah diri menyimpannya dengan rapih. 

Kalau ada yang bertanya: kok anak dan orang tua gak tau apa2? Emang gak saling komunikasi?

Maaf, kami diajarkan untuk menyelesaikan urusan sendiri dan seiring waktu kami belajar untuk tak menambah kesedihan di hati orang tua yang sudah sering tersakiti tak sengaja.

Tuesday, July 5, 2016

Ramadhan #30: Beruntunglah

Beruntunglah yang masih memiliki ibu. Atas doa-doanya telah menjadikan kita seperti ini. Penuh keberuntungan, terselamatkan dari bahaya, terselesaikan segala urusan dengan baik dan lancar, terlindungi dari keburukan dunia, terjaga. 

Beruntunglah yang masih memiliki ibu.
Atas air matanya dalam rintigan sepertiga malam, semua cita-cita kita menemukan jalannya, hati yang keras berangsur melunak, pikiran buntu menemukan cahaya, kegundahan jiwa perlahan mereda.

Beruntunglah yang masih memiliki ibu.
Memberikan peluang bagi kita untuk meraih pahala melaluinya, berbakti, menjaga hatinya, menyayanginya. Meski itu semua tak akan sebanding dengan segala perjuangan dan pengorbanannya terhadap kita.

Beruntunglah anak gadis yang masih memiliki ayah. Masih dapat dinikahkan oleh orang yang paling menyayangi dengan tulus semenjak masih di kandungan. Atas segala doanya, menghantarkan pada jodoh baik yang terbaik. 

Beruntunglah yang masih memiliki ibu dan ayah, masih banyak pintu yang akan terbuka untuk keberhasilan kita di dunia dan akhirat melalui doa-doanya.

Beruntunglah yang masih bisa bertemu dengan keduanya tiap tahun, tiap bulan, atau bahkan tiap hari. Karena di luaran sana, banyak jiwa yang saling menahan rindu bahkan saling mencari.

Ramadhan #30

Monday, July 4, 2016

Ramadhan #29: Society



1. kita harus berbuat baik biar orang baik juga sama kita.

2. kita harus menolong orang, biar kalau susah ada yang nolongin.
3. berbagi itu perlu biar bermanfaat dan dapat pahala.
4. kalau gak punya uang nanti sedih gak bisa bantu orang.
5. apa kata orang?
6. nanti orang mikirnya gimana?
7. sama siapa? Jangan sendirian
8. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma pengen ngurus anak dan rumah tangga?
9. Gak boleh nanti dosa. dst.

Pernah denger ga poin 1-9?
Kalau saya sering denger dari kecil karena berada dalam lingkungan seperti itu. Semenjak kecil pula selalu merasa ada yg aneh dan berontak tentang hal itu.

1-3. Kok kesannya pamrih. Doing good mah ya doing good aja, kok jd ngarepin balasan termasuk balasan pahala.

4. Emangnya bantu org hanya lewat materi? Kita dikasih Allah fisik, pikiran, waktu. Bisa bantu lewat pemikiran, leqat fisik misalnya ngangkut-ngangkut, bahkan senyum pun sudah sodaqoh dan bantu orang berada dalam kompas positif.

5-6. Apa urusannya pikiran pandangan dan penilaian orang terhadap kita? Mereka siapa? Tuhan? Bukan. Pandangan orang ya itu urusan mereka. Kalo selalu mikirin apa kata orang, nanti hidupnya gak bahagia, gak menjadi diri sendiri. Karena orang lain punya perspektif masing-masing dan blm tentu benar karena hanya melihat beberapa chapter diri kita dari ribuan chapter. 

7. Ini poin yang sempet nuruni self esteem pas ga ada yg bs nemenin dan bikin jadi takut ngapa2in kalo ga ada temennya. Konyol. Seiring waktu jd belajar kalau ada kalanya kita harus berdiri diatas kaki sendiri, berjalan sendiri, belajar nyaman dengan diri sendiri. Its okay to walk alone, asal jangan jadi loner aja.

8. Ini paling aneh yg pernah didengar. 
Kok kesannya pendidikan itu sebagai alat timbal balik yang harus balik modal secara materi. Kok semua dinilai dari materi? Kok mengurus anak dan rumah tangga dinilai rendah daripada menjadi "pegawai'? Agak kurang seimbang.

9. Kalau ini setuju. Meski kadang mikir, agak aneh untuk beberapa kasus. Misalnya: jangan nebang hutan nanti dosa. Bener sih. Cuma kok kok gak diajari dengan pandangan lain ya? Pandangan gak boleh karena dampaknya bisa buruk thdp lingkungan, kasian pohonnya (diajarin sayang sama tumbuhan), diberi alasan yg lebih ilmiah thdp proses, dsb.

Subjektif bgt ya ini tulisan, kalau jeli bisa dapet pemahaman lain yg InshaAllah bermanfaat, tergantung dr daya tangkap dan tingkat pemahaman pembaca :)

Intinya mau sharing: its okay to be different. its okay to think, to analyze, to ask, and to find another reason personally. Semoga apa yang kita lakukan jauh dari segala logika pamrih (baik biar dibaikin lg, baik biar dpt pahala, baik biar gak diomongin manusia, dll).

Ramadhan #29

Ramadhan #28: Membangun Peradaban

Pernah kenal satu orang dengan mimpi segudang. Saat lulus dia bekerja demi membantu orang tuanya. Keluarga sederhana. Lalu bapaknya bilang "kalau kamu masih ingin menjadi (cita2nya) kejar mimpi kamu, urusan biaya adik-adik biar bapak yang urus". Mengharukan. Banyak di dunia nyata menemui orang tua yang menginginkan anaknya cepat-cepat bekerja agar bebanya cepat-cepat berkurang dan bisa memberi ini itu thdpnya dikala orangtuanya masih produktif. Sedih. Padahal hidup orang tak selalu linear, tak selalu memiliki pola yang sama, tak selalu punya tujuan dan goal hidup yang sama. Banyak sekali orang-orang dengan visi jauh kedepan, dengan mimpi yang jauh lebih holistik, yg memikirkan banyak orang diluar keluarganya.

Kalau ada pola dlm keluarga yang turun temurun sama. Sekolah-kerja-nikah orientasinya hanya sebatas untuk diri sendiri dan innercircle tanpa mimpi holistik bayg luas dan terintegrasi. Maka harus menjadi pemberontak untuk merubah semua sistem dan pola. Ada satu generasi yang akan sangat berkorban dan sangat bekerja keras demi membentuk pola baru yang akan merubah masa depan generasi-generasi dibawahnya. 

Hal terkecil yang harus diubah adalah diri sendiri. Dengan menjadi lebih baik, lebih lapang, lebih luas jiwanya, lebih kaya pengalaman dan wawasanya, lebih dan lebih terus haus akan hal baru dan berkembang dengan hati yang sensitif untuk merasakan sekitar dengan jiwa sosial yang tinggi atau purpose lainnya. Setelah itu, cari pasangan dengan vision dan purpose yang sama. Barulah mulai membangun peradaban lewat berumahtangga dan anak-anak yang nanti akan Tuhan titipkan. Ini alasan mengapa mengembangkan diri dan mencari pasangan bukan hal sederhana dan sedijalani. Butuh persiapan matang, waktu yang tak dikit, kesabaran yang tak terbaras. Karena tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri dan untuk orang2 saat ini. Tapi untu masa depan yang lebih holistik, untuk calon anak cucu, dan generasi - generasi selanjutnya.

Ramadhan #28

Sunday, July 3, 2016

Ramadhan #27: Dibalik Orang Hebat

Habibie emang keren banget. Selain dirinya yang super keren. Orangtuanya keren banget, mrk ngajarin bahasa asing sejak anak-anaknya masih kecil, mengakomodasi kehausan dan keingintahuan si anak dengan filosofi, ilmu pengetahuan, dan wejangan - wejangan bijak. 

Hipotesa awal: orang-orang hebat terlahir dari keluarga susah/ keluarga cerdas/ keluarga penuh disiplin/ bahkan terlahir dr lingkungan yg mengasingkannya seperti einstein dan para tokoh hebat lainnya yg terkenal setelah meninggal, tp perjuangan hidupnya sangat perih, bukan masalah miskin gak bisa makan, namun secara mental dan psikis mereka "dipaksa" hidup sendiri menjadi "single fighter". Ada yg keluarganya membuangnya, ditinggal istrinya, dicemooh lingkungan, diolok-olok, dikatain bodoh, pendidikan gak selesai, dll.

Mereka hidup untuk menghidupi keyakinannya dan pada akhirnya berhasil menghidupi omongannya sendiri dgn kerja keras dan sabar. 

Tuhan Maha Adil. Gak ada manusia sempurna, selalu ada yang dikurangi saat ada satu bagian hidup kita yg dilebihkan-Nya. Selalu ada yg dilebihkan-Nya saat ada bagian hidup kita ada yg kurang. Semua berada dalam neraca porsi yang pas menurutNya.

Ramadhan #27

Friday, July 1, 2016

Ramadhan #26: Atribut

x: kerja dimana?
x: dulu kuliah dmn?
x: ambil jurusan apa?
x: kegiatannya apa aja sekarang?
x: rumahnya dmn?
x: orangtua dmn? kerja dmn?

Pernah tidak dapat pertanyaan sejenis itu? atau mungkin menanyakan hal itu?
pertanyaan yang sering muncul dalam sebuah proses mengenal orang baru termasuk saat mengenal orang lama yang dulu hanya sekedar tau nama. Biasa saja sih, tidak ada yang aneh. Ada sebagian orang dari pertanyaan tersebut akan berlogika dalam menilai seseorang. "kalau kuliah disitu, berarti dia kaya ya, pinter. kalau orang tuanya kerja disana, tandanya kaya. kalau kerja disitu tandanya mandiri dan bisa menafkahi diri sendiri dikala menikah, kalau rajin solat berarti soleh ya bisa membimbing (padahal manusia naik turun imannya, kedepannay tak ada yang tau, tak seideal yang dilogikakan)kalau kalau kalau lainnya" sebuah pikiran logis sebab akibat yang direka-reka oleh logika sendiri. Ya, itupun tak salah, hanya akan menjadi ironi dikala saat memilih pasangan atau menikahinnya karena atribut duniawi dan atribut logika.

Semakin dewasa, penilaian terhadap atribut ini semakin besar dan sering terjadi. Semakin sulit pula mengenal seseorang secara utuh, secara "telanjang". kenapa? dari pertanyaan tersebut, pasti ada saja yang merasa terintimidasi, tidak nyaman, ataupun minder yang berakhir diam, tidak menceritakan, atau bahkan berbohong. Ya tak ada yang salah juga dengan pertanyaan tersebut, karena setiap orang memilki cara tersendiri dalam mencari informasi.

"hallo, saya x, saya alumni xxx, sekarang bekerja di yyy, kegiatan saya zzz."
adapula cara orang mengenalkan dirinya dengan membawa atributnya. Padahal siapa yang nanya dia kuliah dimana? kerja dimana? sekaya apa? dll. "halo, saya y temannya z (org yg kita kenal), salam kenal". Terasa lebih manusia, memeprkenalkan diri sebagai manusia dan relasi.

a: kamu mau nikah sama dia ga? anaknya kiyai loh
a: dia kerja di xx, udah pasti mapan, ganteng pula, blabla
a: dia lulusan yy, udah doktor, blabla

so? emang kenapa kalau anak kyai? bakal soleh juga? kalau soleh bakal nyambung ga pas ngobrol? bakal beneran tulus ga? | kalo kaya mapan terus kenapa? bisa ngajak ke surga? gak bakal kasar? bakal nyambung secara prinsip dan value hidup? | kalo doktor knp? beneran cerdas atau jago berstrategi? penelitiannya beneran wah atau cari aman? punya jiwa sosial yg tinggi atau cuma mikirin diri dan circlenya saja? Sebagian orang akan bertanya-tanya dengan segala atribut seseorang, namun banyak orang yang akan tergiur dengan segala atribut yang ditawarkan. Lalu saat berhubungan lebih lanjut, saat semua sifat aslinya keluar, saat semua keburukannya muncul, saat dinamika hidup bergelombang jatuh dan bangun, yakin semua sesuai logika? yakin bisa menerima? 

Atribut, sesuatu yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang akan ditanggalkan ketika di "rumah". Jangan sampai matah hati dibutakan oleh atribut seseorang yang merangsang logika dalam memutuskan suatu keputusan penting dalam hubungan dengan manusia sebagai partner hidup. Kadang, pergi ke tempat asing, meinggalkan atribut, lalu bertemu dengan seseorang asing yang tak membawa/ memunculkan atributnya, maka interaksi yang terjadi adalah interaksi asli, nyata, melihat seseorang dari hati, pola pikir, dan potensinya. bukan dari atributnya, tapi dari hatinya yang terpancar lewat sikap, pola pikir, dan perilaku. 

Selamat meninggalkan atribut sejenak, 
Selamat menemukan dan ditemukan oleh seseorang yang terpikat oleh kecantikan/ kebaikan hati bukan dari atribut.

Ramadhan #26

Ramadhan #25

Wednesday, June 29, 2016

Ramadhan #24: Sederhana

Sebulan ini, bertemu dengan orang-orang penuh kesederhanaan, semua dalam komposisi yang pas. Bergaul dan bertemu dengan orang-orang seperti itu memberi ketentraman tersendiri. Saya pun termasuk orang yang tak sederhana, baik dari segi konsumsi benda, makanan, berfikir, bertindak, bergerak, memutuskan. Ribet. Anehnya selalu dipertemukan dengan orang-orang sederhana yang menyadarkan dan mengingatkan. Mungkin ini yang namanya keseimbangan hidup. hahaha
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kadang berfikir, apa yang membuat sesuatu menjadi rumit? Padahal hidup sesederhana lahir - hidup - meninggal. Selesai. Lalu selama proses hidup pun tak ada yang menuntut harus kaya, harus pintar, harus keren, harus sempurna, harus bisa ini itu, harus dan harus lainnya. Kalau kembali ke dasar, selama proses hidup kita cuma disuruh buat beribadah. udah. kelar.

Kesederhanaan pun terlihat dari pemikiran dan tindakan seseorang dalam memutuskan. Sesederhana, lapar? ya makan, selesai. Batal pergi? yaudah refund tiket, kelar. 

Pernah melihat rumah gerobak? yang sekeluarga (terdiri dari bapak, ibu, dan beberapa anaknya) tinggal di gerobak? Luar biasa ya mereka bisa sangat sederhana menjalani hidup tanpa banyak tanda tanya dan kecemasan. Keren. Padahal mereka belum tahu hari ini makan apa, tidur dimana, bakal hujan apa tidak, kalau mau buang air besar di tengah jalan gimana, nanti anaknya disekolahin dimana, kalau gak sekolah nanti anaknya gimana kedepannya, bakal mandi dimana, hari ini ke jalan mana. Yang lebih hebatnya adalah, mereka sebuah keluarga, berarti ada seprang perempuan dan laki-laki yang menikah lalu memiliki anak yang dikandung dan dilahirkan. Gimana ya moment dimana saat orangtuanya bisa mengijinkan anak perempuannya menikah dengan laki-laki yang tak menetap (tempat tinggal maupun pkerjaan). bagaimana mereka bisa setuju dan melepaskan tanpa tahu anak perempuannya dikasih makan apa, bakal tinggal dimana.  Lalu saat hamil, dikala pada umumnya orang hamil kontrol ke dokter, mereka santai saja. dikala orang hamil ribet ngatur makan dan olahraga serta perawatan ini itu, mereka bisa santai dan semua baik-baik saja. Kadang penasaran, saat melahirkan bagaimana ya? melahirkan sendiri? dibantu oleh siapa? atau bagaimana?

Dan... mereka menjalani hidup dengan sederhana, termasuk berfikir sederhana, menjalani hari ini sebagai hari ini, hari esok ya urusan esok. Ada kekuatan besar yang tumbuh dibalik kederhanaan. kekuatan keyakinan, kekuatan menghemat energi, kekuatan fokus, kekuatan menjaga diri dari stress, kekuatan menyelesaikan sesuatu lebih cepat, dll.

Ramadhan #24

Tuesday, June 28, 2016

Ramadhan #23: Proses

Proses, butuh waktu, makan waktu. 

Seseorang yang berhasil dapat beasiswa ke salah satu universitas di Eropa, melewati proses panjang yang hanya dirinya yang tahu. 12 tahun sekolah formal, 4 tahun kuliah, 6 tahun belajar bahasa, 2 tahun persiapan, 16 tahun memupuk kesabaran dan semangat. 

Seseorang kaya raya pun berproses dalam setia inci kemajuannya, jatuh bangun, dari yang yakin hingga hilang keyakinan, dari punya rumah sampai tidur di jalanan, dari yang banyak teman hingga seorang diri dalam kegagalan. Gak ada yang instant atau kilat. Cepat lambat keberhasilan pun tak semata-mata kerja keras, ada takdir waktu diluar kendali manusia.

Kita memiliki banyak toples dalam kehidupan. Saat toples yg satu masih kosong, ada toples lain yang terisi penuh tanpa sadar. Isi dan level kepenuhan toples-toples ini berbeda satu sama lainnya. Ada yang sukses karir, namun hatinya sepi. Ada yang gagal terus, namun kaya atas kebijaksanaan. Ada yang belum keliatan bunga mekarnya, namun akarnya sudah sangat kuat siap untuk menjaga agar tak goyah ditiup angin saat pohonnya tumbuh besar nanti. Ada ini itu banyak sekali. 

Selama memiliki tujuan, semuanya berproses, bergerak, berkembang, bertumbuh. Sabar kunci utama, sabar dalam kerja keras maupun sabar menghalau lingkungan negatif yang dapat merusak keberhasilan proses tersebut. Seperti uji coba kimia, dalam proses pun pasti ada gangguan secara internal maupun eksternal. Masalahnya bagaimana gangguan eksternal itu justru datang dari lingkungan internal? 

Sesuatu yang cepat datang, akan cepat pergi. Tak ada kualitas baik tumbuh dalam waktu singkat. Seperti makanan, gak ada ceritanya fast food/ makanan instan lebih baik dr makanan organik. Semakin baik kualitas, semakin lama waktu yang dibutuhkan dalam prosesnya. Seperti masak soto dengan bumbu instan yang siap cemplung dengan bumbu alami yang perlu persiapan. Dari rasa sudah beda, dari gizi sudah beda (yang satu telah mengalami proses kimiawi yang tak memungkiri adanya pengawet) yg satu masih alami dari alam. Sama halnya dalam persiapan proses sesuatu. Seperti seorang pesilat yang perlu belajar kuda-kudaan diawal lama hingga kuat, baru mulai berjurus. Bedanya dengan yang langsung belajar jurus dikala kuda-kuda blm siap adalah saat tanding.... Akan kelihatan mana yang lebih kokoh dan stabil. Seperti mendesain, setengag waktu deadline digunakan untuk research, seperempat untuk brainstorming, sisanya mendesain teknis. Hasilnya akan beda dengan yang langsung mendesain tanpa reaearch mendalam. Proses, sebuah urutan penting dalam sebuah kualitas.

Ramadhan #23

Ramadhan #22: Kepercayaan

Singkat cerita, saya melakukan perjalanan panjang mengunakan mobil pribadi, kalau kata maps sih 10 jam. Alhasil, minta tolong seorang teman untuk nyupirin si rushy (nama mobil saya). Teman yang baik ini akhirnya mau, dengan syarat, setelah mengantar sampai tujuan, dia minta dibayarin tiket pesawat pulang. Kami pun sepakat. 

Obrolan selanjutnya, 
a: "eh, tapi lo percaya ma gw ga tie?"
u: "nggak"
a: "yah susah kalo gitu"
u: "yaudah sampe ketemu besok ya, perjalanan malem aja kita"
a: "okey"

*Pada akhirnya saya pergi sendirian dengan waktu tempuh 13 jam, capek gilak cuy. luar biasa dah supir-supir lintas provinsi yang tiap hari nyetir jauh.

Dialog singkat, bikin mikir tentang betapa pentingnya sebuah kepercayaan.
Misal, ada orang nyetir, ada yang percaya di setirin dia, ada yang gak percaya. Hasilnya pun berbeda, orang yang percaya, mampu memberikan aura positif yang bikin supir nyaman dan jadi lebih berhati-hati. Nah yang gak percaya, tanpa disadari ngasih aura negatif idmana tiba-tiba banyak komentar gak jelas, bikin panik selama perjalanan, yang berujung memperbesar potensi kenapa-kenapa, malah bahaya. Bukan perkara supirnya jago atau tidak, justru kepercayaan penumpang jauh lebih mengendalikan keadaan supir dalam kenyataannya. Cobain deh, nyetir di tempat macet misalnya,
Sikon A dapat penumpang sabar, menyenangkan, percaya. 
Apa yang kamu rasakan? apa yang akan kamu lakukan? 
Sikon B dapet penumpang bawel, suudzon gak percaya ma kita, dan panikan gak jelas. 
Apa yang kamu rasakan? apa yang akan kamu lakukan?
Kualitas nyetir kamu baik, dari 2 sikon tersebut, respons dan hasilnya bakal sama ga?

Analogi naik mobil dari satu tempat ke suatu tujuan dengan melewati perjalanan, sama halnya dalam kehidupan. Kehidupan pekerjaan, percintaan, relasi. Kalau tidak adanya kepercayaan, ya susah, susah jalan dengan baik. Masalah kualitas dan hasil, kadang jadi hal kesekian, karena kepercayaan justru bisa merubah itu semua. Merubah keadaan baik jadi buruk, merubah kualitas biasa jadi luar bisa, dan sebaliknya.

Ada pengalaman, pergi sama orang dimana dia gak percaya dan punya persepsi saya bakal ninggalin. Dia gak bilang, tapi apa yang terjadi? yang awalnya loyal gak kepikiran ninggalin, jadi tiba-tiba ningalin. Ada juga teman yang gak percaya nitipin tiket bus karena takut hilang, alhasil setelah dikasih ke saya, dia ambil lagi, pas mau naik bus, tiketnya ilang sama dia sendiri. Pas ngobrol-ngobrol, akhirnya cerita kalau dia gak percaya. Ya gak apa-apa sih, hak setiap orang untuk percaya atau tidak, dan kita pun gak punya kewajiban untuk meyakinkan orang kan? Dari kejadian itu, jadi mikir kalau pikiran punya kekuatan merealisasikan sesuatu, baik atau buruk. sekalipun cuma diri sendiri yang tau. Hati-hati dengan pikiran. (ngomong sama diri sendiri juga).

Kamu Percaya?
Kamu Yakin?
ok.

Ramadhan #22

Ramadhan #21: Dikejar Rejeki


* Karena ada urusan pekerjaan beberapa hari di luar kota yang cukup intens, jadi telat nulis satu tulisan tiap hari selama Ramadhan. Bakal dibayar hutang komitmen menulis secepatnya hehe.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pernah gak kalian ngindarin sesuatu tapi hal itu terus datang?
menghindari kesempatan, pekerjaan, teman, atau benda?

Misal, ada seorang teman tiba-tiba ingin memberi sebuah boneka buat kalian, tapi kalian nolak karena takut merepotkan, alahasil teman itu tak jadi memberi. Lalu sesampainya dirumah, tiba-tiba ada sebuah bingkisan besar yang berisi bonek yang sama dengan yang teman tawarkan, namun boneka tersebut berasal dari pemberian ayah dimana ayah dapat dari koleganya. Berarti boneka itu memang rejeki kamu, mau menghindar bagaimanapun bakal tetap mendatangi.

Ada juga contoh lain tentang pekerjaan misalnya. Ada tawaran pekerjaan, tapi lagi males ngurusin hal duniawi, alhasil ditolak. Tapi berkali-kali ditolak dan ngasih rekomendasi orang lain, epekrjaan itu balik lagi ke kamu terus. Sampai titik akhirnya kamu mengerjakan. Tandanya si pekerjaan itu memang untuk mu, rejekimu.

Atau contoh lainnya, kamu udah hemat-hemat uang biar bis apunya bekal cukup saat traveling, dijalan uang itu hilang. ya itupun rejekimu. Rejeki bukan selalu sesuatu yang bertambah dan baik kan ya? tapi suatu kadar. baik dan buruk.Tandanya rejeki mu ya diluar uang yang ditabung. Mau menghidari bagaimanapun, akan tetap datang mengejar.

Teringat kalimat: "Tidak akan mati anak adam, hingga semua rekeinya telah datang padanya". Seinget saya begitu kalimatnya, cmiiw yak kalo salah

Kemarin, ada beberapa kejadian yang bikin makin yakin dengan hal tersebut. Semua datang pada waktu yang tepat, dan rejeki datang sendiri. Jadi ceritanya, ada sesuatu yang sedang diusahakan, kerja keras mati-matian tapi lepas dan ilang terus. Sempet sedikit hopeless dan ilang kepercayaan pada diri, apa yang salah. Tidak lama kemudian, ada hal yang tak pernah diusahakan sama sekali tiba-tiba menghampiri dan malah jauh lebih besar. Ada pula yang diatang, meski ditolak berkali-kali, tetap menghampiri. aneh ya? Ya intinya itu, mau sharing, dont so worry, everything will be okay. Semua udah diatur di lauhmahfuzh jauh sebelum bumi diciptakan, kita hanya berusaha sebagai ibadah, karena rejeki sudah ada kadarnya masing-masing.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz).” (QS. Huud: 6).

Ramadhan #21

Saturday, June 25, 2016

Ramadhan #20: Kehilangan Diri

Kalau mau sedikit berjeda dan mengambil jarak untuk merenung, memperhatikan, dan merasakan sekitar. Banyak sekali jiwa-jiwa hampa yang kehilangan dirinya. Banyak sekali yang berusaha fit in society dengan melakukan apa yang kebanyakan orang lakukan dengan landasan "apa kata orang" yang tanpa sadar telah menghilangkan diri aslinya sendiri. Tenggelam dalam nilai society. Sebuah nilai dan perspektif yang disepakati oleh mayoritas, ya nilai kesepakatan bukan nilai mutlak kebenaran. Nilai dan perspektif yang akan berbeda nilainya jika diterapkan di tempat lain. 

Berapa banyak yang benar-benar muncul menjadi dirinya sendiri? Sebanyak yang berani menjalani kata hatinya, berani mengungkapkan pikirannya, dan berani dibenci oleh sebagian. Untuk menjadi asli, pasti akan selalu ada yang suka dan ada yang benci. Layaknya sebuah penelitian, ada tesis dan antitesis. Begitulah hukum keseimbangan alam. Semakin asli, semakin berbeda. Semakin berbeda, semakin susah cocok dengan society. Semakin gak peduli apa kata orang, semakin bahagia (pada sisi lain). Bahagia karena menjadi diri sendiri, tak ada beban yang dipendam, tak ada rasa yang dimanipulasi diri, tak ada hasrat tertahan.

Kadang, keaslian akan bersingungan dengan kata pembangkang. Namun tetap dalam koridor sebagai manusia dewasa, dengan kata lain berani bertanggung jawab, menerima segala kosekuensinya. Its okay to be real you. Its okay to be different. Because Its your life, your journey, your soul. Its You.

Selamat menjadi diri sendiri, selamat bahagia, selamat bebas :D

Ramadhan #20

Friday, June 24, 2016

Ramadhan #19: Keep Swimming

Masih terinspirasi dari film Finding Dory.
Dalam pencarian orang tuanya, Dorry ditemani si Gurita (lupa namanya) menuju suatu area. Sebelum sampai ke area tersebut, mereka terjebak di kolam dimana anak-anak bebas menyentuh semua yang ada di kolam, termasuk para binatang. Kolam dimana si gurita merasakan trauma besar terhadap manusia, khususnya tangan anak-anak. Saat masuk ke kolam, suasana histeris dan menakutkan menyelimuti aura temoat itu, semua binatang berteriak dan mencari tempat persembunyian menghindari sentuhan kasar tangan jahil, tak ada yang bergerak dari tempat perlindungan, termasuk sang gurita yang masih heboh cari tempat aman. Bagaimana bisa sampai ke tujuan, kalau di tempat itu tak bisa keluar karena terlalu sibuk berlindung tak bergerak? lalu Dory berkata "keep swimming". Si gurita pun mulai bergerak dengan rasa takut yang semkain menjadi-jadi, hingga ada tangan kecil menyentuhnya, seketika kolam hitam dengan tinta yang dikeluarkannya dikala terancam. Anak-anak pun berhamburan, lalu mereka keluar dari kolam tersebut dan sampai ke area yang dituju.

keep swimming = keep moving = bergerak.

Dari film Dory, jadi mikir, salah satu bentuk perlindungan diri terbesar adalah dengan terus bergerak. Seperti main catur, putih ditakdirkan agresif untuk menyerang, dengan adanya aturan main ia jalan duluan. Sedangkan hitam, ditakdirkan untuk berlindung. Hitam berlindung tak serta merta dengan berdiam diri atau berjalan mundur, tapi dengan terus maju kearah lawan, hitam mempertahankan dirinya dengan terus maju, terus bergerak. Sekalipun ia tahu akan kala dimakan kuda misalnya, ia tetap maju sambil menyiapkan strategi dibelakangnya. Bergerak memiliki makna ganda, berlindung dan menyerang, dua-duanya sama-sama untuk mempertahankan diri dan mencapai tujuan.

Jadi teringat ada teman sma pernah bilang "kamu tau gak kenapa shalat itu gak sebatas niat? kenapa ada gerakan-gerakan solat? ya itu salah satu bentuk seruan bagi kita untuk bergerak tak sebatas niat."
*wuallahualambishawab

Ramadhan #19

Ramadhan #18: Insight Dibalik Bencana

Bagi yang sudah menonton film Finding Dorry diawal cerita, ada bumper yang cukup menarik.
Menceritakan seekor anak burung yang mulai dilepaskan mandiri mencari makan oleh induknya. Ia tak lagi disuapi, sang induk menyuruhnya mencari makan sendiri dengan mencontohkan: berjalan ke pesisir pantai, ambil kerang, lalu lari saat ombak datang, dan seteerusnya. Awalnya sang anak tak mau, takut, jangankan berstrategi, gesit, dan jeli, untuk jalan pun masih jatuh-jatuh. Pertama kali ia melakukannya, ia terguyur ombak, keduakalinya pun sama, sampai titik mulai merasa ketakutan dan trauma untuk melakukannya lagi, namu perut berkata lain, ahirnya dengan hasrat untuk bertahan hidup, ia melakukannya lagi (mencari kerang di pinggir pantai). Diperjalanan ia bertemu dengan keluarga kumbang, sang anak kumbang nasibnya mirip dengan dirinya hanya saja anak kumbang lebih berani, cuek, dan tahan banting.

Mereka bedua berjalan ke pinggir pantai, dan kejadian serupa terjadi kembali, berhasil diterjang ombak sampai titik terendam air lau susah nafas. Hampir hilang harapan, sampai sang anak kumbang mematuk paruhnya untuk memberitahu apa yang sedang terjadi. Ternyata dikala sang anak  burung sedang menderita hampir habis nafas oleh ombak. Dikala itu pula ada fenomena yang terjadi, bahwa saat ombak datang ke pantai, kerang-kerang justru muncul di permukaan, dan banyak sekali. seketika mereka bahagia karena bisa tau kalau di dalam pasir terdapat kerang sebanyak itu dan posisinya dimana saja. Setelah ombak pergi, mereka langsung semangat menggali pasir (karena sudah tau posisi kerangnya dimana saja) dan berakhir kekenyangan.

Dari bumper film yang hanya sekian menit, berhasil menstimuli untuk berfikir.
Adakalanya dalam proses kemandirian, kita akan mengalami ketakutan. apakah mampu? apakah bisa? apakah kuat? apakah akan selamat? Namun hasrat dasar makhluk hidup untuk bertahan hidup, mendasari tidakan untuk terus maju, demi mempertahankan hidup. Saat proses perjuangan tersebut, kita akan dihadapi banyak rintangan, rintangan terasa berat karena pertamakali kita hadapi. Layaknya anak SD yang stress UN misalnya, bagi yang sudah melewati bakal anggap itu hal biasa karena sudah mengalami dan berhasil, namun bagi orang yang baru pertama kali? Ini salah satu alasan menurut saya tidak boleh menyepelekan proses hidup orang lain, bukan mereka lebay, hanya saja kita sudah pernah melewati dan mengalami hal-hal yang jauh lebih berat. Fase ini membutuhkan kepercayaan diri yang kuat, bahwa diri mampu, mampu untuk melawan ketakutan, mampu untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja, mampu untuk terus mencoba lagi dan lagi, mampu menghilangkan trauma. Dari situ, ada ujiaan-ujian yang awalnya berat akan terasa biasa saja, bukan karena ujiannya yang menjadi ringan, namun diri kita yang menjadi kuat tanpa disadari.

Fase tersebut akan terus terulang selama apa yang kita tuju belum di dapat. Dalam perjalanannya akan ada masa dimana semua menajdi lebih buruk, lebih berat, dan kita kehilangan harap, seolah-olah semua hancur dan berakhir, sampai di titik struggle yang benar-benar suffering hampir "mati" dimana air mata sudah tak dapat lagi keluar. Justru disini poin emasnya, kalau sudah sampai tahap tersebut berarti sudah mendekati dengan tujuan dan sesuatu yang sedang diperjuangkan. Bakal ada moment tiba-tiba insight muncul dan apa yang kita cari kita temukan, hanya selangkah lagi untuk mencapainya. Insight Dibalik Bencana. lagi-lagi memang sabar menjadi penolong. Sabar dalam perjuangan, sabar menjaga keyakinan, sabar menunggu kesempatan, sabat menjaga diri untuk terus berhasrat.

Dalam fase tersbut pula, ada masa moment merasa sendirian, kesepian, dan tak kuat untuk berjalan sendirian. bukan karena tidka mandiri, namun memang ada hal yang tak bisa dilakukan sendiri. Lalu Tuhan memberikan bantuan petunjuknya dengan mempertemukan kita dengan orang, tempat, atau kejadian yang membuat kita berfikir, yang membuat kita untuk terus maju. Kalau dalam bumper finding dorry, itu scene pas si anak burung ketemu anak kumbang, dimana anak kumbang menunjukan dan memberitahukan sesuatu yang mendekatkannya kepada tujuannya. Akan ada orang-orang yang dipertemukan dalam perjalanan untuk tujuan yang sama dan mereka justru akan saling bahu membantu untuk sama-sama sampai tujuan. so why so worry? Tuhan menjamin kehidupan kita di dunia, menjamin rejeki kita, menjamin semuanya berada dalam kadar terbaik (ngomong ke diri sendiri). 

Kalau disederhanakan dari cerita bumper finding dorry yang telah dianalisa, ada 4 fase.
1. Fase Persiapan
2. Fase Penerimaan
3. Fase Kerja keras
4. Fase Berhasil.

Kenapa fasepenerimaan diurutan kedua?
karena dalam fase persiapan, keluar hasil baik buruk, lebih kurang, dengan segala dinamika yang terjadi di dalam dan diluar diri. Sebelum lanjut melangkah, ada hal yang perlu kita terima, menerima keadaan, menerima diri, menerima kesalahan, menerima kalau itu tak mudah. Baru bisa beranjak ke fase kerja keras, karena hati sudah tentram, pikiran kembali fokus. Baru deh berhasil. 

Nonton film kartun aja mikir ya? hahaha... gimana dong, emang ilmu ada dimana-mana dan gak tau datengnya kapan, terus pengen sharing. Semoga bermanfaat yaa :D

Ramadhan #18