Friday, May 31, 2019

Dogma

Dari kecil, taunya cuma rumah-sekolah. Itupun di sekolah tidak banyak interaksi. Jadi banyak interaksinya sama keluarga dan keluarga besar. Dengan kata lain berada di lingkungan itu-itu aja. Hasilnya apa? ya jadi sama kaya lingkungan dan dogmatis banget gw dulu.

Liat orang gak berhijab, udah buruk.
Liat orang clubbing, buruk.
Liat orang pake dress tanpa lengan, buruk.
Liat orang pake celana pendek, buruk.
Liat orang lulusan S3, wah.
Liat orang kerja dimana, wah.

Mindset dan perspektif gw sempiiiit banget. Liat sesuatu jadi sehitam putih baik buruk.
Dan hal ini mempengaruhi keputusan pilihan hidup jadi sempit juga dan berdasarkan ego.

Hingga akhirnya ngikutin insting yang meronta-ronta pengen traveling, pengen gabung kegiatan dan komunitas, berakhir ketemu banyak jenis orang baru, ke tempat-tempat baru, nambah wawasan, pengalaman, dan lama kelamaan perspektif gw pun meluas, banyak dogma yang luntur, dan less judgment. Berubah. Cara melihat sesuatu pun jadi gak sehitam putih dulu.

Yang mau di sharing,
manusia gak bisa milih mau dilahirkan dari rahim siapa, bawa gen apa, tumbuh di lingkungan seperti apa. Tapi seiring usia, manusia bisa pindah. Bisa terus mengedukasi diri, bisa terus tumbuh dan berkembang. Kalau memang mau.

Dear Allah

Dear, Allah

Terimakasih atas semua rasa yang telah hadir
Terimakasih atas semua orang yang telah hadir
Terimakasih atas semua orang yang telah pergi
Terimakasih atas semua hal yang terjadi
Terimakasih atas hari yang berlalu
Terimakasih atas kegelisahan yang datang
Terimakasih atas kedamaian yang hinggap

Terimakasih telah sangat baik.


Dear Utie












Halo Utie, 

Terimakasih telah berjuang selama ini
Terimakasih telah bertahan selama ini
Terimakasih telah sabar selama ini
Terimakasih telah sayang selama ini
Terimakasih telah menjadi diri sendiri.

Saturday, May 11, 2019

Rehabilitasi Medik

Akhirnya nulis juga tentang ini setelah 3.5 bulan “ngantor” ke rehab hampir tiap hari.

3.5 bulan ini, kerjaan gw bolak balik rumah sakit mulu. Ada aja yg diurus dan perlu dibenahi. Awalnya stress, lama-lama malah bikin depresi gw sembuh karena tiap hari ketemu dan interaksi sama banyak orang kayaknya. Orang-orang yang ditemui di RS jg baik-baik, ya 80%nya sih, karena ada aja yang annoying dan bikin emosi. 

Rehabilitasi Medik ini lama-lama kaya rumah kedua. Meski isinya manula yang abis stroke, hnp, ku bahagia aja berada diantara mereka. Cuma gak bahagia di duit aja yang makin jebol dan syaraf kejepit yang entah sembuh kapan. Alhamdulillahnya sih masih bisa aktivitas normal, jalan kaki, cuma ya terbatas (gak bisa muaythai lagi, kalau nyetir jd ribet, ya intinya jd belajar slow living). Its okay.

Di Rehab ini banyaaak sekali hal menarik dalam pengamatan selama ini. Dari mulai jenis karakter pasien-pasiennya, lucu-lucu gitu nenek2, kakek2. Lama-lama saling kenal, sering dicurhatiin sampe jadi tau kisah hidup dan masalah2nya. Lama-lama berasa antara jadincucu dan konselor haha. 

Kalau dokter ya biasa aja kaya dokter pada umumnya. Kebetulan gw dapet dokter yang kadang baik bgt, kadang nyebelin, overall gw suka karena banyak ngasih insight dan mau dengerin curhat. 

Suster dan terapisnya juga baik2, sabar2, gak semuanya care banget, tapi ada yang benrran care. Dari mulai ngasih tips n trick, teknis angkat beban, inisiatif kasih latihan, sampe anterin ke lobby (jaman awal2 susah jalan). 

Intinya, ku bersyukur, dibalik sakit kemarin, jadi dipertemukan orang2 baik, jadi masuk ke lingkungan baru, jadi happy, jadi nambah pengalaman hidup, jadi banyak belajar. 

Panjang nih kalau mau diceritain detail tiap hari fisio dibikin jurnal, bisa jadi satu buku hehe. 

Parsial.

2 tahun ini merhatiin sesuatu. 
Followers instagram.

Semenjak buku Mind Traveler launching, dan entah mention dari siapa, followers instagram bertambah pesat. 

Dari awal semua sosmed gw isinya to express. Jd bebas2 aja mau sharing curhatan, jd journal pas depresi, sharing keseharian, makanan, pengalaman cat rambut, termasuk misuh2. 

Lalu ku perhatikan, banyak yg unfollow. 
Tiap cerita yg orang nganggep negatif/ gak gamblang ngasih pembelajaran, mereka unfollow. Semudah itu lah orang follow dan unfollow. Semudah menghakimi dan berkomentar sembarangan jg tanpa mengenal dan tau situasi kondisi secara keseluruhan.

Dan thats life in the real life.
Jadi mikir, orang cuma mau yang enak2 aja buat dirinya sendiri. Cuma mau hal2 yg dianggap positif dalam kacamatanya. Cuma mau pembelajaran2 explisit yang gamblang. 

Awal2 sedih di unfollow banyak orang, lama2 bodo amat. Karena secara gak langsung jadi seleksi alam. Dan IG di private. Jd kalau udh unfollow cm krn postingan2 yg gak disukai mereka, mereka pun gak akan bisa lagi liat postingan2 lain yg dianggap baik. Kosekuensinya gitu. 

Dari fenomena ini, mulai paham kenapa banyak influencer hobby mengedukasi orang, ternyata banyak juga ya orang yg melihat sesuatu hanya dari sudut pandang yg sempit, hitam putih, dan penuh dogmatis salah benar, dosa pahala, dan mudah untuk menghakimi. Lagi-lagi seleksi alam, cocok2an. Bakal ada yg stay dan pergi. 

Kadang suka iseng jg kalau lagi tenang damai, sharing unek2, trs merhatiin brp byk yg unfollow. Banyak. Makin menguatkan asumsi dan data observasi. 

Kalau cuma mau hal-hal positif, hal-hal baik, dengar dan baca yang bagus-bagus. Maka ilmu dan insight yg di dapat ya segitu-segitu aja. Karena hidup ini dualisme positif negatif, baik buruk, gelap cerah. Semakin mau menerima ujung spektrum lainnya (buruk, jelek, negatif), makin luas juga perspektif yanh dimiliki, makin bs melihat secara keseluruhan,  dan mendapati banyak pemahaman serta insight yang berguna tidak untuk diri sendiri namun sekitar. Nangkep ga? Hehe

Tuesday, April 23, 2019

Identitas

Membentuk identitas dalam society penuh prejudice sangatlah mudah.
Hanya mengunakan sesuatu yang dianggap simbol sesuatu, maka masyarakat telah memiliki asumsi identitas sesuatu terhadap orang tersebut.

Misalnya,
Nama kamu ada siti/ muhammad, orang sudah bisa tau kamu muslim. 
dari identitas muslim itu, maka orang bisa berasumsi banyak hal tentang muslim.

Kamu pakai hijab, orang sudah bisa tau kamu muslim, dan tidak memungkiri adanya asumsi bahwa perempuan berhijab itu agamanya baik, shalatnya baik, ibadahnya baik, akhlaknya baik, mengikuti ajaran agama penuh taat dan kebaikan. Realitanya? Belum tentu kan?

Jika namamu muhamad (nama identitas muslim), tangan penuh tattoo, rambut diwarnai merah, (identitas nakal), maka masyarakat pun akan punya pandangan dan asumsi lain sekalipun hatimu sebaik mother Theresa.

Kamu pakai sarung, peci, berjanggut, maka asumsi orang pun akan menganggap orang baik, karena membawa identitas alim ustadz. Di awal, mungkin orang tak akan mengira bahwa dia pedofil (contohnya) atau penipu ulung yang tak takut dosa.

Kamu pakai baju gombrang casual berbahan linen, rambut diwarnai hijau gradasi biru, pakai tas ransel neon, pembawaan penuh kegembiraan ceria. Mungkin orang tak akan mengira bahwa kamu lulusan S3, punya otak briliant, pekerja keras nan serius, seorang muslim, taat ibadah meski tak berhijab.

Coba perhatikan atau tanya ke dirimu sendiri, seberapa sering kamu berasumsi terhadap seseorang atau sesederhana menebak identitasnya hanya dari penampilan dan pembawaannya?

Semakin sering berasumsi hanya dari apa yang dilihat, di dengar, di rasa, semakin mudah di tipu. Karena hal-hal yang sifatnya visual dan terekam panca indra itu bisa diciptakan. Semudah menentukan/ mengunakan suatu identitas untuk menciptakan persepsi dan asumsi tertentu.

Hidup dalam society bagaikan hidup dalam ilusi.
Orang saling menciptakan indentitas-identitas dan terikat oleh aturan-aturan tak baku yang kebenarannya pun masih dipertanyakan, lalu sibuk berasumsi dan menyakini bahwa itu sebuah realita yang pasti benar. Begitu terus polanya turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga nilai kebenaran menjadi abu-abu, pikiran menjadi dangkal untuk melihat lebih dalam dan menjadi kritis, orang serba instan menilai dan begitu mudah dalam meyakini sesuatu tanpa dicari tau kebenarannya.

Thursday, April 4, 2019

Dear Me

Dear me,

I love you.

Terimakasih telah bertahan sejauh ini.


Monday, April 1, 2019

Kata

Kata.
Bisa menyembuhkan.
Bisa pula menyakitkan.

Kata.
Bisa memperbaiki.
Bisa pula memusnahkan.

Kata.
Bisa menolong.
Bisa pula menjatuhkan.

Saturday, February 2, 2019

Muaythai

Padding session

Udah 7 bulan ikutan muaythai, belum kenal siapa-siapa dooong, bingung gw juga. cuma kenal pelatih-pelatihnya aja sama orang2nya yang sering latihan bareng. Jaman manic, disuruh sit up 150x, push 100x, padding 17 menit nonstop, angkat beban, circuit, itu kuat-kuat aja bahkan energi masih bejibun. Giliran lagi depresi, pernah disuruh pukul, gw yg mukul eh gw yg jatoh, kacau abis. 

Karena tujuan muaythai buat ngebuang energi berlebih saat manic dan naikin kewarasan diri saat depresi, jadi ya fokus gw disitu. Bukan buat ngejar badan berorot apalagi jadi atlet. Tapi pelatihnya lama-lama kesel deh sama gw yg gak pinter-pinter.

Latihan muaythai juga sebagai latihan untuk ngontrol emosi dan kestabilan. Kerasa banget loh kalo diri lg tenang dan stabil, itu ritme latihannya stabil dan gak gampang cape, power juga ada, emosi gak kebaca. Tapi kalo lagi emosian dan menggebu, wah jadi gak tenang terlalu semangat dan emosi jd kebaca dna itu bukan hal bagus. Kalau lagi low, latihan, duh kaya mau mati rasanya tapi berusaha bertahan demi latihan konsistensi.

Intinya cuma mau sharing, kalau olahraga bisa membantu dalam kesehatan mental dan sarana untuk self improvement selain untuk kesehatan fisik.

Melihat Lebih Dalam

Pernah kah saat ada sesuatu, berusaha melihat lebih dalam ke akarnya?
Memahami sebab akibatnya?Mengidetifikaai motivasi aslinya?Dan menemukan masalahnya? 

Pernahkah menyadari, dibalik kemarahan orang, mungkin ada kesedihan/ ketakutan mendalam yg menjadi akar perilaku emosionalnya?


Pernahkah menyadari, dibalik sifat superiority seseorang dan perasaan menjadi pahlawan, ada perasaan insecure dan inferiority yg mengakar yg tak pernah mampu ia terima sebagai bagian dirinya?


Pernahkah menyadari, dibalik keceriaan seseorang, ada kesedihan dan kesepian yang ia tutup rapat?


Pernahkah menyadari, dibalik diam dan tenangnya seseorang, ada kemarahan dan rasa sakit mengunung yang siap untuk tiba2 meledak?


Pernahkah menyadari, dibalik ketusnya seseorang, ada perasaan takut akan penolakan? 


Pernahkah menyadari, dibalik keramahan seseorang, hanya sebatas basa basi keramahan sosial alias tak peduli?


Pernahkah menyadari, dibalik sifat baiknya seseorang, ada sebuah perasaan hutang budi yang ia ciptakan? dan ia menolong atas dasar untuk kepentingan dirinya?


Pernakah menyadari, apa yang terlihat di permukaan itu hanya ilusi, topeng, baju luar, bukan keadaan aslinya? 


Pernahkah bertanya atau menelusuri tentang kenapa orang bisa begini begitu? Berusaha memahami? Atau hanya sibuk menilai hanya dari apa yg ditampilkan dan di proyeksikannya saja? 


Pernahkah merasakan hati orang dan semua yg sedang dirasakannya kerasa sampe kamu jadi nangis dan ikut2an sakit? 


Pernahkah menyadari motivasi asli orang?
Bisa jadi orang yang baik itu sedang investasi pertemanan agar suatu saat ia minta tolong bisa dibantu. Bisa jadi orang jahat itu sebenarnya lagi pengen ngajarin kamu sesuatu dan aslinya dia baik. Bisa jadi orang cuek itu ngasihruang buat kamu nyelesein masalah sendiri sehingga self esteem dan pede mu tumbuh. Bisa jadi orang nolong itu justru ingin mengotrol hidupmu dengan datang sebagai penolong dan membuatmu bergantung. Bisa jadi apa yang terlihat baik ternyata buruk, apa yang dirasa buruk ternyata baik.

 
Banyak hal yang tak terlihat di permukaan, tak diproyeksikan dengan tepat oleh orang bersangkutan, tak dimunculkan. Rasanya tak adil, jika menilai orang dari hanya baju terluarnya, dari lapisan terluarnya. Tak adil untuk orang tersebut, tak adil juga untuk diri sendiri. Terlalu terlena dengan apa yang ditampilkan dan melihat lapisan luarnya, bisa membuat diri mudah ditipu dan terjebak pula.


Wednesday, October 31, 2018

Percaya

Semakin besar, Semakin sulit cari orang kepercayaan.
Kadang membuang orang tulus, memasukan bangkai dalam hidup.
Kadang memilih racun, mencampakan nutrisi penting.
Kadang meninggalkan apa yang disebut rumah, untuk pergi terhadap yang tak peduli.

Siapa yang kamu percaya, selain dirimu sendiri?
atau bahkan terhadap dirimua sendiri pun kau tak percaya?
Lalu siapa yang akan benar-benar bisa kau percaya jika semua orang adalah pengkhianat?

Mind Traveler, cetakan kedua.


Halloooo
Mind Traveler cetak lagi!
Bedanya, ini softcover, jadi harganya lebih hemat, yeay! Rp.68.000
Yang kemarin kehabiasan dan yang masih penasaran, 
bisa langsung pesan ke @langitlangit.yk via Instagram
atau langsung hubungi 0857 7272 4343




Tuesday, October 23, 2018

Sosialis dan Individuality.

"sama siapa?"
"jangan sendirian"
"gak boleh gitu, nanti orang gak suka"
"harus ini itu biar banyak temennya"
"harus baik biar orang baik"
"nanti apa kata orang??"
"jangan sendirian nanti kenapa-napa"
"ajak temennya"
"jangan main sama si itu, si itu blabla"
"besok bareng ya"
"beraninya lo ganggu dia! lo musuhan sama dia, berarti lo musuh kita juga"
"siapa yang berani ganggu salah satu dari kita, bakal kita hajar"
"satu sakit, sakit semua. satu susah, susah semua. satu senang, senang semua"/

Seberapa sering kalian mendengar kalimat yang "mengharuskan" kalian pergi / beraktivitas/ melakukan sesuatu secara bersamaan?
Seberapa sering kalian mendengar kalimat yang "mengharuskan" kalian mengatur sikap agar dapat diterima oleh orang lain?
Seberapa sering kalian memikirikan pandangan orang lain/ mengantungkan hidup terhadap orang lain?
Seberapa sering di alam bawah sadar kalian untuk berani mengemukakan pendapat dan keinginan tanpa takut dibenci/ tidak disukai oleh orang lain?
Seberapa sering kalian berani untuk berbeda menjadi diri sendiri hingga akhirnya dibenci dan diasingkan kelompok?
Seberapa sering kalian berjalan sendiri sendirian dalam "perjalanan" hidup?
Seberapa sering kalian mengenal, menerima, dan nyaman dengan diri sendiri?

Tanpa sadar, secara turun temurun di ajarkan untuk hidup berkelompok, bersikap agar dapat diterima kelompok, berperilaku agar menyenangkan orang lain agar tidak dibenci, bahkan diajarkan memiliki dan menggunakan topeng sesuai kebutuhan sedang berada di  kelompok mana. 

Tanpa sadar, menjadi terlalu asyik menyelami kehidupan berkelompok hingga lupa warna asli diri, hingga lupa "siapa saya", bahkan lupa untuk mengenal dan menerima diri seutuhnya.

Tanpa sadar, mengantungkan keberhargaan diri terhadap seberapa banyak yang menyukai diri, seberapa banyak yang benci, bagaimana pandangan orang (manusia lain), dan bagaimana orang memperlakukan dan mengakui diri ini.

Tanpa sadar, mengantungkan harapan pada manusia lain dalam kelompok, mengantungkan harapan untuk di dukung, dibantu, di bela. Kebersamaan yang pada akhirnya menghasilkan ketidakmandirian dan jiwa-jiwa yang rapuh.

Tanpa sadar, punya kecenderungan cari teman. Baru berani komentar, jika ada orang yang punya komentar yang sama. Baru berani ngomong kalau ada orang yang senasib. Baru berani bergerak saat sudah dapat teman seperjuangan. Semua hal dipendam dalam ketakutan dan baru berani jika ada temannya bahkan mencari teman senasib demi membuat diri kuat.

Tanpa sadar, menjadikan itu semua sebagai strategi untuk survive dalam kehidupan. Baik agar orang baik, menolong agar ditolong, mensuport agar disuport, berteman agar urusan kedepannya mudah. Investasi waktu, tenagam attitude dalam pertemanan, hubungan baik keluarga dan kolega, semata-mata agar dirinya mendapat kemudahan kedepannya (ada yang bantu, ada yang menolong, ada yang bisa diutangin, ada yang backup, dan ini itu lainnya).
--------------------

Karena pola society banyak yang menerapkan konsep hidup seperti itu, maka orang-orang yang tingkat individualitynya tinggi dan menjadi seorang loner, akan dipandang aneh, bahkan menjadi public enemy. Karena yang dianggap tidak sama dan mengacaukan pola yang sudah ada.

Misal, 
Orang pada umumnya makan di luar cari/bareng temen. Saat ada orang makan di restaurat mewah sendirian, pasti dianggap aneh, kasian, gak ada temen, lagi galau, dan segala stigma lainnya. Padahal reality nya, ya dia lagi pengen makan disitu saat itu. kalau ajak orang lain bakal lama lagi. Termasuk saat aktivitas olahraga, kerja, kegiatan sosial, kongkow, dll.

Orang pada umumnya kalau gak suka sama orang lain, diem. Kalaupun berbicara, ya dibelakangnya. gosip sana gosip sini, membangun perspektif orang sesuai keinginannya, menghasut. Saat ada orang yang blak-blak an to the point mengutarakan pendapat dan ketidaksukaannya, maka dianggap nyeleneh, nyebelin, dan berujung dijauhi tidak disukai. 

Orang pada umumnya, menjalin hubungan untuk mempermudah hidupnya, ada tujuan. Saat ada orang asing datang tukus, akan dipertanyakan "maksudnya apa ya? tujuannya apa?" padahal orang dateng ya baik karena baik tulus, gak ada maksud apapun. Jadi terlalu caution (hati-hati) sama orang di luar kelompoknya. Ya bisa bagus bisa buruk sih tergantung sikon.

Seseorang dengan individuality yang tinggi, nyaman menjadi dirinya sendiri dan kadang terkesan egois karena terlalu asertif dan mendahulukan dirinya. Yang justru jadi masalah adalah ketika seseorang memilih menjadi loner, karena banyak orang yang tidak memahami jalan hidup seorang loner, sehingga sering "berbeturan" atau bahkan loner nya yang akhirnya menarik diri.

Tidak ada salah benar, setiap orang memiliki pilihannya masing-masing dengan segala konsekuensinya. Tulisan ini hanya berbagi perspektif dalam observasi.


Friday, July 20, 2018

Identity

Dari lahir, seorang bayi sudah penuh dengan identity. Identity apa agamanya, apa bangsanya, siapa keluarganya, keturunan siapa, siapa namanya, apa harapan terhadapnya, apa budaya nya, apa suku nya, apa zodiaknya, apa birthchartnya, apa streotype dr setiap identity yg melekat termasuk apa jenis kelaminnya dan persepsi society thdp jenis kelaminnya (semacam perempuan. Berarti pink, lemah lembut, lemah, dll). 

Saat tumbuh, identity pada seorang manusia semakin bertambah. Identity sekolah dimana, alumni mana, jurusan sma nya, kuliahnya, gelar nya, ip nya, siapa teman2nya, siapa pasangannya, apa pekerjaannya, dan identity2 yang tertanam secara sosial, pandangan society, yang ditanamkam oleh orang lain, apa idealismenya, termasuk yang dicari dan di tambahkan sendiri. 


Permasalahannya, apakah identity2 yg melekat itu sesuai dengan realita? Apakah identity2 yg melekat itu membuat diri lebih ringan dan terbang bebas atau malah memperberat langkah dan jauh dari kenyataan yg hanya membuat diri tak berkembang sebagaimana mestinya? 


Semakin tumbuh, semakin banyak lingkungan yg disinggahi, semakin banyak jenis orang yg ditemui, semakin banyak realita hidup yg dialami, sadar tak sadar membentuk ulang identity. Ada identity2 yg akhirnya dilepas, ada yg akhirnya dicari dan ditemukan. Sampai akhirnya menemukan identity yang paling mendekati dengan realita aslinya. 


Cara sederhana mendapat identity asli ya dengan menantang/nge push diri sendiri sampai batas limit, nanti bakal nemuin “ternyata gw bisa, lha ternyata gw gagal”, cek ulang tuh identity nya sesuai gak dgn realita, kalo gak sesuai ya ganti. Misal, awalnya mengidentified diri lemah, pas nyobain sampe limit mau mati taunya diri bisa, berarti identity lemah di ganti dengan identity baru, yaitu kuat. Cara lainnya dengan pergi jauh ke tempat asing yg berbeda dr lingkungan sehari2, observasi, lalu merenung, biasanya jd bs melihat secara clear. Contoh, di lingkungan sehari2 nikah itu umur 24-28. Kalo diatas 28 dianggap tua. Di lingkungan baru, gak ada budaya ttg target umur nikah. Trs direnungi knp bs beda, jd sbenernya esensi nikah itu apa, dasarnya krn apa, untuk apa, sampai akhirnya menemukan identity ttg pernikahan itu sendiri yg cocok dengan realita bukan yg cocok dgn pandangan budaya. Cara lainnya dengan mengenali dan meng explore diri sendiri. Misal, perempuan identik dgn lemah lembut, gak olahraga tinju. Realitanya diri punya energi berlebih dan butuh aktivitas fisik untuk me manage emosi, yg akhirnya perlu disalurkan lewat aktivitas fisik tinju krn paling efisien. Nah identity perempuan tidak main tinju ini jd terpatahkan, karena realitanya ya kata siapa perempuan gak boleh main tinju?Sama2 punya fisik, badan, dan bbrp punya level energi yg berlebih. Dan knp tinju identik dgn laki2? Kalo mau dihubungkan dgn identity lain (identity agama misalnya) ya ajuin pertanyaan memang latihan tinju dilarang? Ya intinya diulik2 sampe jd nemuin sendiri dalam level awareness yg lebih baik. 


Semakin banyak identity yg dipegang, semakin banyak pula terikat dgn banyak aturan, norma, kelompok, nilai, dan segala hal nya. Ya gak ada yg salah, hanya kadang ada identity yg gak sesuai dengan realita alias sudah tidak relevan. Semacam saat SD punya identity berkarya agar bisa beli mainan. Lalu terbawa hingga usia 30. Pdhl secara kemampuan, sudah bs lebih dari sekedar bisa beli mainan, alias bs di improve dan mencari identity baru. Misalnya identity sebagai creativepreneurs. Atau identity muslim wajib berjihad lalu gak dikaji ulang dengan realita asli (bentuk jihad nya) tiba2 jd nge bom bunuh diri dgn alasan jihad. Realita kan jihad gak hrs nge bom kan?


Semakin banyak identity yg lepas dan di lepas, semakin ringan jg langkah diri, lebih dinamis, bisa berubah2 dan beradaptasi dgn mudah. Semudah bergaul dgn orang solat ya solat, bergaul dgn pembunuh ya jd pembunuh, identity nya dilepas dan diubah2 menyesuaikan keadaan yg menguntungkan dirinya untuk survive di suatu lingkungan. Ini cerdas namun bahaya. Kenapa bahaya? Karena tidak terikat apapun dan ujung2nya merugikan orang2 sekitar. Saat tidak punya identity yg sesuai realita, sebenarnya orang sedang hidup dalam dunia nya sendiri dan lost. Dan tanpa sadar (atau sadar) ia mengidentified orang lain sebagai identity nya. 



Thursday, April 12, 2018

Sosial Media

Sosial media.
Orang sibuk menampilkan segala hal-hal baik dalam hidupnya. Yang entah benaran sebahagia itu atau memang ikut2an share hal2 yang dianggap positif. Semua tampak serupa, sejenis, dan membosankan (dan tulisan2 ini, mungkin untuk sebagian orang pun membosankan).

Di FB,
Yang jualan sibuk jualan, yang pamer kehidupan sehari2 layaknya artis pun sibuk sendiri, yang ceramah sibuk ceramah meski yang paham akan biasa aja dan yang sudah nyinyir duluan tetap akan nyinyir. yang monolog macem gw pun monolog aja tanpa peduli ada yg baca/tidak. Juat share dan gak peduli respon orang banyak yg suka/tidak. Meski pada dunia nyatanya, banyak orang yang akhirnya mempersepsi secara parsial hanya dari postingan dan menutup hati dan pikirannya untuk benaran kenal, dan ini malah jadi filter tersendiri, karena kapasitas orang jadi keliatan.

Dan postingan2 orang direspon oleh orang2 yg meresponnya, jadi semacam saling merespon yang terlihat saja circle di dunia maya nya siapa saja, di dunia nyatanya belum tentu benaran berteman/ se akrab itu. Like jadi tolak ukur dirinya banyak disukai, diapresiasi, didukung. Kenyataannya, banyak alasan. Entah orang benaran suka, kasian, ada kepentingan lain, atau ikut2an karena banyak yang like. 

Di IG,
Sama aja kaya fb cuma lebih private dan yg di sharing lebih detail. Gak jauh dari daily life, reportase liburan, kesibukan kerja, dan postingan2 yang sudah sangat difilter dan disadari akan membentuk image dirinya di mata viewers seperti apa. Semua serba dikurasi, di filiter. Lagi2 lama2 sangat membosankan.

Kadang banyak pula yang norak (maaf dengan pilihan katanya). 
Saking ingin dinilai baik, keren, wah, semua dogma sosial digunakan. Semacam ada yang pergi ke luar negeri, tetangganya/ keluarganya ikutan sharing. Padahal yg pergi bukan dirinya, mungkin terlalu bangga jadi begitu. Dipikir2, apa pentingnya ya mengumumkan kenalannya lagi jalan2 ke luar negeri/ orang hebat/ sedang melakukan hal yg dianggap wah. Dogma orang sukses adalah yan ini itu, maka ini itu yang ditampilkan. Bahkan banyak pula yang insecure belum menikah dan menjadikan sosial medianya sebagai media promosi dengan menampilakn "kualitas" dirinya. Dengan tampilan mapan, cantik/ganteng, jago masak, jago merawat fisik, dll.

Sosial media, dunia maya lambat laun sangat membosankan. Semua isinya seragam, sejenis. Orang2 banyak yang sangat aware bagaimana orang akan menilai dirinya lewat sosial media, sehingga semua tampilan ditampilkan sebaik mungkin. Sayangnya, ada orang2 yg bisa melihat motivasi orang yang sebenarnya, orang2 yg extreamly observant, sensitif, dan tau aja motivasi asli orang. 

Sosial media (banyak digunakan) sebagai proyeksi sisi postif kehidupan, karena yang ditampilakan hanya yg baik2 saja. Sehingga orang hanya mengkonsumsi hal2 baik. Kebayang gak dampaknya apa? Orang jadi terbiasa melihat sesuatu/ segala hal secara parsial (dari sudut pandang positifinya saja). Dan hal itu malah berakhir kurang baik. Semacam orang nikah yg di share kemesraan menikah. Orang akan mempersepsi bahwa nikah itu bahagia. Padahal kenyataanya tidak. Saat ia mengalami sendiri, terjadi konflik, langsung stress karena tidak sesuai dengan persepsinya. Dan polanya terjadi di bidang2 lainnya. Dari segi pendidikan mislanya, orang sharing foto wisuda, yg like banyak. Pas lg misuh2 gak ada yg like krn dianggap negatif. Padahal 2 hal itu nyata, dialami semua orang dan sekolah memang tak hanya merasakan bahagia wisuda saja namun ada susah2nya juga. Namun kenyataannya, orang lebih senang dengan kabar gembira.

Yang buruk2, jelek, segala kegagalan, pengalaman pahit, trauma, semuanya di keep rapat karena dianggap aib. Padahal itu semua dengan komposisi info yg tepat, bisa di share sebagai ajang untuk saling belajar. Belajar tentang kehidupan dan belajar melihat truth bahwa hidup itu ada pahit buruknya juga. 

Giliran orang ngebuka segala truth, awareness, ditangkap sebagai hal2 yg berbau negatif alias dianggap bukan info/ kabar menyenangkan, orang sibuk tutup mata dan telingga. Gak mau menerima kalau itu hal nyata yg ada.

Lama2 gak paham, kenapa orang lebih senang hal baik, positif, berita gembira dikala mereka pun paham hidup tidak seringan itu dan hanya berisikan sisi2 terang saja. Bagaimana mungkin pohon bisa tumbuh tinggi menjulang ke langit, jika akarnya tidak terus menacap di tanah yang gelap. Sesusah itukah menerima kenyataan bahwa semua hal ada sisi terang dan gelapnya? Sesusah itu kah untuk mengedalikan hal2 terang untuk semakin silau hingga yang melihatnya malah kebakar jadi buta malah berakhir gak bisa liat gelap terang.

Sunday, March 18, 2018

Khutbah Nikah #1 - Tanggung Jawab


"Kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, suami. Begitupun sebaliknya, kamu gak punya tanggung jawab terhadap ayah, ibu, mertua, dan istri. Kalian hanya punya tanggung jawab terhadap Allah." - Khutbah Nikah di akad tadi pagi.

Lalu ku nangis. Udah mah setiap akad nikah selalu bikin haru, ditambah khutbahnya yang bikin mikir dan menyadari banyak hal.

Jadi mikir, seorang ayah bertanggung jawab terhadap keluarga dengan memberi nafkah serta menjalani fungsinya, semata-mata untuk mempertanggungjawabkan hidupnya terhadap yang menciptakannya. Begitupun dengan anak yang berbakri, istri yang solehah, tentannga yang baik, teman yang soleh, semuanya tidak memiliki tanggung jawab terhadap manusia lain. Masing-masing manusia hanya punya tanggung jawab terhadap Tuhannya dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.

Semua manusia yang pernah hadir dan bersinggungan dalam hidup, hanya sebagai ujian, cobaan, tempat belajar, mengajari, dan media dalam mempertanggungjawabkan diri terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, kita akan kembali dalam kesendirian, sendiri. Sendiri dalam kubur, sendiri dalam mempertanggungjawabkan semuanya tanpa siapapun.


Bandung, 17 Maret 2018

Khutbah Nikah #2

Masih blm bs move on dr khutbah nikah td pagi. Singkat tp deep. Bagus bgt.
Sering denger bahasan hubungan anak terhadap orang tua. Nah td bahas hubungan seseorang terhadap adik/kakak (jarang bgt denger bahasan ini). Intinya, saat mau nikah, selain sama ayah ibu, perlu minta restu sama adik/kakak juga. Dan itu sama2 penting. Dan jangan jadikan kehidupan setelah menikah sebagai perlombaan.

Terus kepikiran banyak hal.
1. Perhatiin deh, berapa banyak orang ngebet nikah yang gak mikirin perasaan saudaranya sendiri? Alias cm minta izin ke ortu trs udah aja harus terlaksana secepat mungkin. Gak mikirin keadaan adik/kakaknya lg gimana, gak mikirin apa saudara kandungnya sudah ridho? Ya namanya sodara kandung pasti seneng saudaranya nikah, cm dlm situasi tertentu hal itu jadi menyedihkan apalagi kalo landasannya hanya mementingkan kebahagian diri sendiri. Yg diamati sejauh ini, biasanya laki2 kalo udah pengen nikah, gak bisa ditawar apapun alias harus terlaksana as soon as possible. Beda sama perempuan, lebih banyak pertimbangan dan mikirin orang lain (mikirin apakah ayah ibu nya sudah ikhlas melepas?, apakah adik/kakaknya sudah ikhlas melepas dan jadi “sendirian”?, apakah semuanya telah ridho? dll. Karena ikhlas dan ridho pun butuh prosss dan waktu. Gak bisa maksain diri “ya kalian ridho lah” di detik itu.

Ada yg dilangkahi adiknya nikah. Adiknya baru lulus SMA tp ngebet nikah. Sampe kakaknya ngomong “lo jangan nikah kalo cuma pengen pacaran islami!”. Sedih pasti tiba2 ditinggal saudara nikah apalagi dengan alasan yg belum terlalu matang.
Ada jg yg dilangkahi adiknya tanpa warning apapun, tiba2 mau nikah aja, ga liat keadaan (psikis, fisik, dan materi) ortunya, ga liat keadaan saudaranya lg gmn. Yg dipikirinnya cuma hajat dirinya aja dengan alasan “niat baik jangan ditunda”. Gak mikir, apa ortunya ada biaya? Krn yg namanya ortu pasti pengen berpartisipasi saat anaknya nikah. Gak bs asal jawab “ya nikah di KUA aja dulu”. Pd akhirnya setelah nikah belum2 punya anak pdhl subur, mungkin disitu ada ridho adik/kakak nya yg belum didapat alias masih ketahan. Atau ketahan ridho nya justru sama orang lain, orang yg pernah sakit hati.
Jadi mikir aja, berarti saat nikah minta ridho orang tua, adik/kakak, saudara, dsb nya itu penting. Penting untuk kelancaran hari H dan setelahnya. (*jd notes buat diri sendiri jg).

2. Suka merhatiin orang2 yg berumah tangga dan punya anak ga? Berapa banyak orang yang suka pamer kebahagiaan saat hamil? Berapa banyak ibu2/bapak2 yg suka banggain anaknya sampe seolah2 berlomba2 anaknya yg terbaik? Berapa sering ngeliat orang lagi ngebangain cara mendidik anak? 
Kadang mikir, ini mereka beneran lagi sharing kebahagian dan pengalaman mendidik, atau emang lagi pamer ya? Pamer “gw lebih bener ngedidik dan anak2 gw lebih berhasil”.

3. Perhatiin deh perbedaan keluarga kecil (2 anak) dengan keluarga besar (yg anaknya diatas 10). Keluarga besar cenderung kompetitif dengan siapa lebih baik, siapa lebih berhasil, siapa lebih ini itu lainnya. Entah apa fungsinya dan entah apa dasarnya sampai terbentuk mindset dan sikap seperti itu. Tapi mereka semeng banget mgebangain anaknya masing2, ngebangain cara mendidik anaknya, ngebangain kehatmobisan keluarganya, dsb nya. 
Beda sama keluarga kecil yg cm 2 anak. Anak2nya cenderung saling melindungi, menguatkan, gak ada istilah berkompetisi antar sodara. 
Kalo merhatiin dan ngeliat gakta2 yg terjadi, suka mikir, kenapa ya? Kenapa bs gt? Knp keluarga yg anaknya lebih dikit cenderung lebih solid?

Bandung, 17 Maret 2018