Thursday, March 26, 2020

26/3/20

Setahun ini, teman cerita saya adalah dokter saya.
Pertama dokter rehab, kalau sama beliau saya gak bisa curhat hanya bisa konsultasi.
Kedua, psikiater. Saya gak tau apakah beliau lama-lama pusing punya pasien kaya saya yang kalau lagi kenapa-kenapa bisa nge email tiap hari bahkan sehari lebih dari sekali. Semoga saja tidak.

Singkat cerita setelah drama abusif 2017, depresi 2018, syaraf kejepit 2019, dan mulai memulai hidup baru di 2020 yang ternyata mulai kacau acak2an lagi tapi berusaha terus diperbaiki dan survive.

2019.
Awalnya cidera betis berantem berakhir ketahuan syaraf kejepit. Saat itu keadaan diri super burn out iya, depresi iya, kacau sekali. Saya gak akan mau mengingat hal-hal tidak enaknya di masa-masa itu yang banyak sekali, yang mau diceritain hal-hal yang baiknya saja. Di moment itu, dokter rehab sempet menyemangati dan secara pribadi saya banyak kebantu dari segi psikis meski banyak juga traumanya sama beliau. Lalu pengobatan berlanjut ke dokter spesialis kejiwaan, karena ada dugaan anxiety. Diawal psikiater saya ini nyebelin sebenernya, saat itu saya merasa dia agak menstigma dan kurang ramah. Seiring waktu, psikiater banyak banget nolong sampai di maret 2020 ini.

Bayangin deh, kalau kita lagi sakit, pas kambuh, bingung harus apa, minum obat apa, trs gimana, dll, wajar sekali nanya ke dokter konsultasi, sekalipun urusannya cuma fisik yg gak jauh2 dari "kompres", "coba streching", "obat nyerinya ganti panadol 2 biji".

Lha ini psikolog, udah acak2 mental, pas diri lagi kambuh gmn2, no responding, padahal urusan mereka sama psikis orang yang potensi destruktifnya lebih besar dari keadaan fisik saya saat itu. Untungnya, psikiater saya baik. Gak sebatas konsul, tebus obat, bayar, trs udah. Tapi mau membimbing, terbuka untuk konsultasi, responsif. Sebentar lagi saat diri sudah mulai bisa mengolah emosi, ngontrol diri, belajar semua yg pernah diskusikan dan diaplikasikan dengan baik, udah gak butuh ke dokter dan minum obat lagi.

Terus jadi sedih...
Ke dokter rehab sih udah cut dr tengah tahun lalu karena bbrp kejadian yg super bikin upset selain ngerugiin banyak materi dan waktu karena ketidaktelitiannya. Cuma tetep sedih gt, soalnya ada momen dimana dokter ini pernah berhasil memperbaiki self image.
Ke psikiater juga sedih, kemarin-kemarin sempet panik nanti cerita-ceritanya kesiapa ya kalau udah gak ada urusan lagi sama dokter ini. 

cuma ya pada akhirnya, mungkin takdir jalan hidup gw jg ya, ya orang datang dan pergi. Kalau urusan profesional ya memang begitu. Tapi di urusan personal, belum pernah mengalami ada orang yang bener-bener stay, jadi ada trauma dan trust issue tersendiri sih sebenernya. Sekarang lagi belajar menerima realita mungkin jalan hidup gw memang gt, kalau gak jadi jembatan orang, ya begini. Kadang sedih juga sih. Kayaknya enak gt punya temen cerita yang bener2 bisa cerita nyambung dr jaman kapan tau sampe kedepan, dr segala tahap kehidupan yg up and down. 



Wednesday, March 25, 2020

25/3/20

Depresi gw kambuh lg ini.
Ditambah keadaan social distancing yg jd self isolation jatohnya.
Tidur udh gak bener sehari cuma 2-3 jam.
Kerjanya nangis2.
Energi berasa drop gak ada tenaga.
Gak ada hasrat2 ambisi ini itu.

Monday, March 23, 2020

Jogja

Pindah Jogja hidup bahagia banget.
Ada ruang aktualisasi diri,
Teman2nya baik,
Lingkungan sosialnya baik,
Tinggal sendirian di tengah sawah,

Bahagia banget lah merasa disayang padahal hidup sendirian tanpa keluarga di kota asing.

Sampe tiba-tiba WFH, semua online....
langsung frustasi berat, kesepian krn di rmh terus gak ada interaksi sosial.

-----

Ada 2 tempat yang selalu berhasil bikin bahagia sekalipun pergi sendirian, gak ada kerabat, gak kenal siapa2. yaitu Flores dan Jogja. 

Flores tuh dahysat bgt, selalu berlimpah cinta setiap kesana. berasa kaya tuan puteri. ada aja yg nemenin, ada aja yg nolong, ada aja yg ngejagain, ada aja yg ngelayanin, full of love and abudance.

Kalau jogja, suka sama kehidupan bermsyarakatnya. Terus sunyi, enak deh pokonya.


Rindu

Kadang aku rindu.
Entah rindu dengan orangnya atau moment nya.
Entah rindu dengan  atau rindu perasaan sendiri di saat itu.

Kadang aku rindu.
Entah ini sebuah kerinduan atau hanya fantasi diri.
Entah ini sebuah kerinduan atau hanya pelarian.

Kadang aku rindu.
Entah kerinduan atas dasar cinta atau obsesi.
Entah kerinduan atas dasar cinta atau hasrat.

Kadang aku rindu.
Entah perasaan satu arah atau orang itu pun merasakan hal yang sama.
Entah perasaan sementara atau justru terus menumpuk tak terbendung.

Kadang aku rindu.
Rindu untuk bertemu meski selalu lari saat bertemu.

Friday, March 20, 2020

20/3/2020

Ada perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan.
Tenggelam dalam rasa yang semakin dalam.

Wednesday, February 26, 2020

Its You

Its You

Lagu yang berhasil mengingatkan pada seseorang.
Kalau denger lagu ini, suka jadi inget.
Kalau lagi tiba-tiba keingetan/ kangen, suka dengerin lagu ini.

Sebelum menyimak liriknya, nadanya sangat mengambarkan seseorang itu.
Kadang diri sulit menjelaskan dan mendeskripsikan sesuatu, dan lagu ini berhasil dengan tepat mendeskripsikan orang itu dengans egala sifat alamnya.

Wednesday, January 22, 2020

22/1/20

Hidup dalam budaya penuh hirarki dan otoritas, tidaklah mudah.
Banyak hal dinilai dari "siapa kamu" baru orang mau dengar. 
Begitupun dalam keluarga, otoritas ini tetap teraplikasikan.
Hubungan antara orang tua dan anak yang satu arah.
Orang tua bicara, anak mendengarkan.

Tak ada ruang bagi sang anak untuk berbicara atau sekedar mengeskpresikan menyampaikan perasaan, hasrat, pikira, dan aspirasinya. Jika anak berbicara maka dianggap gak sopan. Jika anak asertif menyatakan kesetidaksetujuannya, dianggap melawan. Jika anak mengingatkan, dianggap menggurui.


Apresiasi

Tadi siang makan di Aglioo Jogja. Terus lanjut makan eskrim di tempo gelato.
Ya seperti biasa, sendirian.

Lagi asik makan es krim penuh fokus, ada cewek di sebelah nyapa
"Halo kak, rambutnya bagus. di cat pake apa? keren banget"
"Haii, pake xxx, makasih ya".

Apresiasi.
Ditengah kehidupan penuh kritik dan judgment, masih ada orang - orang yang dengan mudah mengungkapkan kesukaan sesuatu terhadap orang laing dan mengapresiasi. Nice.

Sudahkah kalian mengapresiasi diri sendiri dan seseorang hari ini?
Mari menebarkan cinta :D

Tuesday, January 21, 2020

21/1/20

2014
"Kamu disayang susah ya"
"dulu aku punya mantan dari keluarga broken home, cara ia memandang cinta beda. Pisah ranjang jg termasuk broken home. Ortu gw sampe detik ini setua ini masih suka pelukan dan sayang2an".

2017
"apa itu namanya cinta? jika mengungkit apa yang dilakukan?"
"apa itu cinta ika berharap sesuatu?"

2019
"menurutmu cinta itu apa sih?"
"pengertian cinta menurutmu apa?"

---------

2020.
Aku bertanya dalam hati,
Apakah selama ini aku dicintai?
Apakah selama ini aku pantas dicintai?
Cinta itu apa?

Bagaimana ku sanggup menerima cinta jika diri pun tak cinta pada diri sendiri?
Bagaimana ku mampu mencintai diri jika rasa cinta pun tak pernah kurasakan?


Sunday, January 19, 2020

Tahun Lalu

"Kamu tau dir kamu kan?
Kalau kamu tau diri kamu,
Omongan orang gak usah di denger".
- Baridah

Monday, January 13, 2020

Dogma Yang Terlepas

Aku dibesarkan dengan dogma "siapa yang mau temenan sama kamu?", "siapa yang manu nerima kamu?", "kalau keluarga gak bisa nerima kamu apalagi orang lain". "jadi orang bisanya cuma merusak" saat ku membuat kesalahan kecil. Saat sifatku bertentangan dengan lingkungan tumbuh, pasti aku yang dianggap anomali. Saat hal-hal yang tak sesuai keinginan dan harapan ortu, jadi aku yang disalahkan, dianggap cacat. Saat lingkungan terkecil tak bisa menerima, ibu ku mendogma dengan pikiran hitam putih seolah-olah keluarga itu pusat duniaku dimana menjadi tolak ukur keberhargaanku sebagai manusia. 

Dogma itu terus tumbuh dalam jiwa dan pikiranku selama puluhan tahun hingga menjadi core belief bahwa aku buruk, aku salah, aku tak berharga, aku tak mampu apapun.

Saat ku tumbuh dewasa, bergaul dengan beragam jenis orang, berada di lingkungan baru, dogma itu perlahan luntur oleh realita. Realitanya, banyak yang bisa menerima diri apa adanya, banyak yang sayang, banyak yang mau temenan, dan hidup tak sehitam putih dogma ibu.

Wajar manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan. Wajar manusia membuat kesalahan. Wajar manusai ada yang suka dan tidak suka. Wajar manusia tidak cocok di suatu lingkungan. Dan itu semua bukan berarti dunia hancur karena diri buruk seutuhnya. 

Terimakasih ibu, engkau telah mengasuh ku dengan dogma penghancur keberhagaan diri.
telah erawat ku penuh rasa bersalah dan ketidaklayakan. Terimakasih telah memproyeksikan luka batinmu terhadap anak perempuanmu. Terimakasih telah membuatku rusak puluhan tahun hidup tersesat tanpa arah diliputi rasa tak berharga dan inferior.

Dan Teriamakasih semesta, telah membuat ku sadar dan bebenah diri, agar perusakan generasi ini tidak berlanut ke generasi selanjutnya.

Tuesday, January 7, 2020

7/1/20

Thank you for caring me
Thank you for being kind
Thank you for cheering me up
Thank you for your emphaty
Thank you for listening me
Thank your for your lesson.

I love you without your knowing
Its time to cut this soul tie.

Wednesday, December 25, 2019

24/12/19

Banyak anak2 dari keluarga menengah-menengah kebawah yang “cacat mental” karena pola asuh yg buruk. Tidak jauh dari masalah finansial, ortunya meledak muntah ke anak saat frustasi, anak nangis sikit di bentak, anak gak nurut dikit di abuse. Frustasi gak bs menghadle masalahnya sendiri. Apalagi kalau istrinya kesel sama suami yg nafkahnya kurang “bapak kamu tuh blabla”, anaknya jd pelampiasan jg. Apalagi kalau istrinya lbh gede gajinya lalu suami merasa jatuh harga diri, meledaknya ke anak. 

Banyak pula anak2 dari keluarga menengah-menengah ke atas yg “cacat mental”. Terabaikan. Karena ortunya pada sibuk kerja bahkan sibuk dgn selingkuhannya masing2. 

Mau kaya mau miskin mau nenengah, kalau seseorang blm matang secara mental, dewasa secara pikiran, dan baik secara agama, anak jd korban. Pdhl anak itu titipan. Logikanya, kalau kamu dititipin barang sama orang, yg kamu lakuin apa? Orang2 beriman baik akan amanah menjaga dengan baik. Orang yg miskin tanpa iman akan ngejual/ dipake sendiri. Orang kaya tanpa iman akan diabaikan tuh barang krn merasa bs beli lg. 

Urusan anak gak sepele (in my opinion). Bakal dimintai pertanggung jawaban dunia akhirat poh itu. Maka ganjarannya si anak harus nurut krn tanggung jawab sebagai orang tua besar (jika dijalanin dengan baik maka anak gak bs ngebales apapun). Realitanya hal itu hanya dipake sebagai bentuk kekuasaan untuk mengontrol anak. “Surga itu di telapak kaki ibu, jgn ngebantah ya” (saat anak aserif). “Jd anak jg ngelawan. Dosa. Masuk neraka” (saat anak gak mau jd PNS/ gak mau nikah sama pilihan ortunya/ saat beda pendapat). 

Susah jd anak. Kaya boneka. Ya boneka ketidakpuasaan ortu akan dirinya, boneka samsak pelampiasan emosi ortu, boneka ngurusin akhirat ortunya. Ini hanya terjadi dengan keluarga disfungsi yg ortu nya pda gak “waras”. Sayangnya banyaaaak. Krn orang berkeluarga gila hirarki macem di kantor, landasannya mendapat hormat dgn anak nurut dan mendapat kebanggaan atas pencapaian anak jd banyak tuntutan, bukan landasan unconditional love dan nurtuner sesuai nature anak masing2. 

Aku blm pny anak, hanya memposisikan sebagai pengamat dan sebagai anak dr ortu disfungsi. Semoga saat jd orang tua bs jd orang dewasa yg bertanggung jawab secara fisik, finansial, mental, psikis, spiritual. Dan ini dimulai dgn membenahi value dan pola pikir ttg pernikahan. Untuk apa nikah? Kenapa mau nikah? Kenapa harus nikah? Untuk apa? Lalu kenapa harus punya anak? Untuj apa anak? Dan untun apa kita hidup?

Apakah hidup sebagai rutinitas menjalakan aturan society kah? Lahir-sekolah-kerja-nikah-beranak-sibuk kerja- pensiun sibuk pengajian-mati-lalu berulang pd generasi2 selanjutnya tanpa benar2 tau apa yg diinginkan dlm hidupnya. Jika untuk beribadah, ibadah seperti apa? Dr jalur mana yg ingin dikejar? Sekolah pun masuk ibadah kalau tujuannya memanfaatkan kecerdasan yg Tuhan kasih dan ilmunya di aplikasiin bantuk banyak orang. Jd IRT pun ibadah, bekerja pun ibadah. Jalur ibadah banyak bs dr mana2, nah ini dipilih berdasarkan kesadaran diri kah? Atau hanya mengikuti pola atas2nya saja? Termasuk saat menikah, beneran buat ibadah? Tp kok jaga amanah Tuhan (anak) aja arogan dan abusif?

Tuesday, November 26, 2019

26/11/2019

Apa itu namanya keluarga, jika peduli dan baik pilih-pilih?
Pilih -pilih berdasarkan kedekatan, kesamaan nasib, dan kenyamanan?

Apa itu namanya keluarga, jika interaksi jika dirinya sedang butuh bantuan?
dan mendekat jika diri ini sedang berada di puncak?

Apa itunamanya keluarga, jika banyak menghakimi dan mengatur seolah-olah paling tahu yang terbaik?

Apa itu namanya keluarga, jika tak ada support di kala sulit dan penerimaan terhadap diri?

Apa itu namanya keluarga, jika hadir di acara keluarga lain atas dasar tidak enak?

Apa itu namanya keluarga, jika baik atas dasar timbal balik atau karena ada tujuan tertentu?

Apa itu namanya keluarga, jika memberi angpao di hari raya kepada keponakan berdasarkan keadaan finansial orang tuanya seperti santunan fakir miskin? bukan atas dasar sayang dan kasih terhadap keponakannya.

Apa itu namanya keluarga, jika cari aman dengan jaga jarak saat sodaranya sedang bermasalah?

Apa itu namanya keluarga, jika senang membicarakan kekurangan saudaranya lain secara massal dengan keluarga lainnya?

Apa itu namanya keluarga, jika tak ada apresiasi terhadap pencapaian saudara lainnya?

Apa itu namanya keluarga, jika sakit hati terhadap saudaranya yang lain, langsung membuat kubu dan menarik masa untuk ikutan memusuhi?

Apa itu namanya keluarga?
Apakah darah selalu lebih kental daripada air, membuat semua pembenaran terhadap hal-hal yang sudah tidak sehat dan merusak?
Apakah hubungan darah, membuat ikatan untuk terus bersama meski mengerorogoti jiwa diri?

--------------------------

Monday, November 25, 2019

25/11/19

Sebentar lagi 2019 mau selesai.
Terimakasih untuk waktu yang masih bisa dirasakan,
Terimakasih untuk segala ujian yang masih dipercayakan,
Terimakasih untuk segala pembelajaran yang hadir,
Terimakasih untuk segala pertemuan yang terjadi,
Terimakasih untuk segala pertolongan yang datang,
Terimakasih untuk bisa berterimakasih.

Saturday, November 16, 2019

16/11/19

Ku cuma manusia biasa yang punya kekurangan dan berdosa juga. Hanya ingin mengutarakan apa yg ada di pikiran.


Jaman sekarang banyaaak banget yang berhubungan badan (zina) tanpa ikatan pernikahan. Yang penting suka sama suka, selesai. Dan pernikahan hanya sebatas kertas. Bahkan banyak yg bilang “lebih bermoral hidup bersama secara damai tanpa pernikahan daripada hidup bersama dlm pernikahan lalu berpisah”. 



Bahkan salah satu dokter gw pernah bilang “sexual intercourse itu gak perlu nikah. Yg penting suka sama suka. Nikah hanya untuk tertib administrasi”. 



Ya gak salah. Kalau diliat dr sudut pandang mereka ya benar. 



Karena ada pola pikir seperti itu, maka banyak jg orang yg nikah krn ngebet pengen sex. Atau krn banyak orang nikah untuk halal secara sex makanya pola pikir sex tanpa pernikahan itu muncul ya?



In my opinion,
Gatau kenapa di dasar hati terdalam, gw sangat menjauhi zina. Ketemu orang pernah zina aja suka mual (pdhl awalnya blm tau dia suka zina), ada perasaan jijik gt meski cm mild.  Zina memang gak ada urusannya sama moral. Zina haram, sesuatu yg di larang oleh Allah, berarti dampaknya besar. Yang analisa efeknya mungkin gak terjangkau oleh akal manusia. Buat saya, agama diciptakan untuk “mengatur”, dan memberi “petunjuk”. 



Gw lepas jilbab, dosa? Iya. Dosa gak ngikutin aturan agama. Tp gak ada yg berubah sama diri gw selain penutup kepala. Orang ttp respect, gak ada yg macem2. Sampe mikir, respect itu di dapet dr menjaga kesucian bukan sebatas penampilan (in my opinion). Nanti ada aura yg bikin orang respect aja. Sama kaya orang yg blm pernah zina merasa mual di sekitar penzina. Kayaknya secara natural ada reaksi2 seperti itu, gatau kenapa. Coba perhatiin dan rasain sendiri deh...



Tp kalau masturbasi gw setuju. Selama GAK MEMBAYANGKAN/ BERFANTASI APAPUN alias fokus sama badan sendiri semacam garuk tangan krn digigit nyamuk. Masturbasi yg bener2 self love dan explorasi untuk mengenal badan sendiri. Dan dilakukan secara sadar krn diri butuh tp terbatas fisik (gak bs olahraga berat misalnya), jgn krn terstimuli film2 porno (big2 no bgt ini gak bagus buat otak). Gmn ya jelasinnya, intinya masturbasi jg butuh awareness yg baik biar sampe ke titik bukan sekedar carnal desire doang. 


Tuesday, November 12, 2019

12/11/19

Kalau semua orang berbuat baik atas dasar
- tuntutan profesi
- aturan sosial
- tata krama
- takut dosa
- biar dapet pahala
- biar gak dibenci
- biar gak keliatan buruk
- biar image dan reputasinya terjaga
- biar orang balik baik
- biar urusan jd mudah
- dsb

Ku jadi bertanya2, 
Apakah orang baik murni karena hatinya sayang sama makhluk hidup lainnya itu beneran ada?

Giliran ada yg murni baik karena hatinya sayang thdp semua makhluk, hidupnya abis dimanfaatin dan dijadiin keset orang.