Sunday, December 26, 2021

26/12/21

If Adam and Hawa (eve) were the first human that God created, 
so, all the people in this universe are family, isn't it?

If so, why people do separation to each other based on nationality, religion, 
ethnic, politic, social, education, financial, desire, purpose, etc?
 

in Between

Having same blood, doesn't mean we are family
Having same ancestor, doesn't mean we are family

People kind to you, doesn't mean they are kind
People mean to you, doesn't mean they are mean

People hate you, doesn't mean your are bad
People love you, doesn't mean you are good.

26/12/21

When i was child, one of my parents said:
"Don't tell anything to anyone, because people will against you, will talk bad of you, will blabla. 
You have to keep everything inside on you".

As adult, i see that sentence is one of form of controlling behavior. To control other people perspective.
In the deepest down inside, its one of sign about insecurity to feel accepted, good, and worthy.

After many experience over the years, i learned to keep millions of things inside on me.
Because not everyone (even family) deserved my honesty, my journey, my thought, my feeling. 

Monday, November 15, 2021

Guru

Ada pepatah yang bilang kalau guru akan datang saat murid siap.

Guru ini gak selalu hadir dalam bentuk sopan, penuh santun, bersinar cahaya, lemah lembut, dan membimbing diri dengan baik. Ada guru yang nge-abused yang bikin diri sadar punya power, ada guru yang nge drag down, yang bikin diri sadar akan potensi asli. Ada guru yang maksain value dan cara hidupnya, yang bikin sadar atas realita diri sendiri. Ada juga guru yang ngabisin semua jiwa raga dan segala kehidupan duniawi diri, untuk menyadarkan banyak hal dalam diri. Ada yang men trigger sampe mental berantakan yang bikin sadar akan trauma-trauma diri dan unresolved issue, yang kemudian healing diri sendiri.

Ada juga guru yang datang dalam bentuk cahaya dengan meng-guide dalam jalan terang, encourage, memotivasi, membuat diri semakin percaya sama diri sendiri dan terus penasaran dengan potensi diri, yang bikin inget to be being me. Apresiasi, reminder, hadir dalam masa-masa sulit, bikin diri expand. Nah saat bertemu yang seperti ini, jangan terlalu melekat pada 1 guru, tetaplah membuka diri pada siapapun yang ingin mmebantu, menolong, memfasilitasi, dan berkontribusi. Di momen itu akan melihat betapa beragamnya manusia dan akan sangat memperluas cakrawala diri dari berbagai sudut pandang dan semakin tinggi.

Guru manusia biasa juga yang memiliki masalah, sudut pandang, trauma, issue dalam dirinya. Penting untuk tidak meng internalisasikan semua omongannya, percaya semua yang dikatakannya, apalagi sampai jadi copy cat nya. Tetaplah percaya pada diri sendiri, dengarkan intuisi diri, dan paling penting jangan ada expetasi apapun. 

Terimakasih buat semua guru dalam kehidupanku.
Terimakasih kepada Tuhan Semesta Alam atas segala Rahmat Nya, para Leluhur yang telah menjaga, dan semua orang baik diluaran sana atas guiding, coaching, facilitating, and accompany me. Love.

Saturday, November 6, 2021

5/11/21

Aku selalu iri dengan orang2 yang punya keluarga super supportif, deket, hadir. Selalu iri juga dengan orang2 yg punya temen, circle, sepupuh yang deket, dan punya orang2 yg dapat diandalkan dalam hidupnya terutama di momen2 kritis dan urgent.

Aku iri, karena dari kecil sesendirian, terasing, di reject sana sini, beda sendiri, nobody gets me. Gak punya support system, gak punya temen diskusi, apalagi teman beraktivitas bersama. Sendirian, no emotional support, kesepian, salah satu faktor depresi dari kecil sampe segede ini.

Anehnya, dalam keadaan sendirian gak punya siapa2, setiap lagi susah, ada aja yang bantu/nolong. Dan orang-orang itu ilang pergi sendiri saat aku sudah melewati fase sulit itu. Waktu smp, ada sahabat pena. SMA, kenal anak kembar dari salah nomer hp yang berujung baik banget mrk menemani kehidupan sma ku dan support encourage. Kuliah, gak punya temen, sabahat, sesendirian, gak deket sama siapaun, gak masuk ke circle manapun, tapi ada yang nemenin selama masa2 kuliah termasuk ada yang bantuin pas tugas akhir. 

Rasanya gak enak hidup sesendirian, gak masuk ke kelompok manapun termasuk dalam keluarga (ada geng2), gak punya temen deket, gak ada satupun yang bener2 kenal aku, gak ada orang terdekat yang bisa diandalkan dan dimintai tolong gesit, being misunderstood, being black sheep. Dari yang mulai stress, frustasi, jadi drop depresi. Karena ternyata hidup makin tua makin banyak anginnya, dan support system penting banget. 

Sampe di momen merenung, apa hidupku emang ditakdirkan sendirian? Berjalan sendirian? Hidup terasing? Kesepian? Menjadi single fighter terus2an? Lalu aku bersedia untuk sesendirian sendirian dan membuka diri untuk di support semesta. Gatau diluaran sana, ada yang kaya aku jg ga? kalo aku pribadi, gak memilih jd single fighter. Aku hanya memilih menjadi diri ku sendiri.


Wednesday, October 27, 2021

26/10/21

Waktu jaman S2, 2013-2015, yang benci sama aku banyaaaak banget. Jadi public enemy, gak punya temen, di sindir, dan buruk banget diri kesannya cm karena i am honestly blunt dan orang gak suka. Dulu sempet sampe depresi bener2 sendirian banget, kalo inget2 ya gt deh kelam gelap banget.

Anehnya, pas wisuda, yang dateng dan kasih bunga banyaaaak banget. hampir 2 ember. Aku dapet bunga paling banyak di angkatan. Banyak banget dan temen2 jauh pada dateng. 

Yang aku sadari saat itu, kok aku bs sangat disayang orang dan dibenci orang ya. Aneh aja. Termasuk di keluarga besar, aku di reject, gak disukai, gak ada satupun yg get me dan kenal. Tapi di luaran banyak orang yang paham dan nerima. 


Dari kejadian2 itu, ada hal disadari.
Seberapa banyak dari kita yang diajarkan orang tua untuk harus mampu diterima?
Seberapa banyak dari kita yang diajarkan lingkungan untuk selalu jadi orang yang menyenangkan orang lain sehingga orang happy sama kita?
Seberapa banyak dari kita yang dikondisikan bahwa saat ada yang tidak suka dengan kita, tandanya ada yang salah dengan diri?
Seberapa banyak dari kita yang di didik untuk berbuat baik dengan tujuan mengontrol orang lain agar bersikap baik juga terhadap diri?
Seberapa banyak dari kita yang ditanamkan kalau ada yang benci sama kita, tandanya kita buruk?

Aku termasuk orang yang diajarkan hal2 diatas, di jejelin dogma kalau ada yg gak suka tandanya kita buruk, kalau banyak yg gak suka tandanya kita salah, sampe di titik jadi sering nyalahin diri sendiri dan frustasi. Lalu muncul berbagai kesadaran. 

Aku bisa tau siapa aja yang gak suka dengan diriku, judgment mrk thdp ku, kelakuan mrk ngomongin apa dan narik masa kaya gmn. Kalau dulu jd kesel sendirim kalo skrg netral liatnya. Dan aku ask ke diri sendiri: "Apakah orang-orang itu relevant untuk hidup saat ini dan masa depan yang ingin aku ciptakan?"
Jika jawabannya tidak, maka aku terima, lepaskan, dan move on. Jika jawabannya ya, maka aku ask lagi "Apa yang perlu aku lakukan untuk membuat semuanya ease?"

So far, jawabannya banyak yang yang tidak relevan untuk kehidupanku saat ini dan kedepannya. Jadi aku terima aja dan bye2. Sekalipun itu keluarga besar. Dan dari sini, ada kesadaran lain yang muncul, tentang ingin diterima, diakui, di pahami. Ya, kebutuhan dasar manusia. Dan ada sebuah peluang besar juga untuk menerima hal besar lainnya saat diri mampu say goodbye.

Pepatah lama ini, benar adanya.
Kalau orang benci sama kita, mau diri ngapain pun sebaik sebagus apa, tetep aja jelek keliatannya. Begitupun sebaliknya, kalau dimata orang2 diri udh di cap baik, mau buat kesalahan apapun, orang suka nutup mata dan memaklumi semua keburukan yang dilakukan. 

Dulu aku konflik sama temen, trs aku cabut. Saat itu cabutnya sakit hati banget sampe ke titik gak mau inget apapun. 5 tahun kemudian, orang ini dateng cerita mimpi aku dan dia minta maaf, dia sampaikan jg telah memaafkanku untuk hal2 yg dia anggap menyakitinya. Dan saat itu aku cm baca trs udah. Gak ada perasaan apapun lg, dan gak mau bertemen lg jg, tp bukan krn benci, krn merasa cukup sampe kmrn aja relasinya, hmmm gmn ya jelasinnya, ya gitu lah. Dari situ, insight yang aku dapat, kadang orang bs ngerti sendiri motivasi dan keadaan saat itu, mungkin dulu cm fokus pada caraku (baju luarnya), dan diri gak perlu menjelaskan apapun. Saat dia datang minta maaf, itu bukan tentang benar salah dan memuaskan ego, dia minta maaf untuk dirinya sendiri. Saat aku memutuskan untuk tidak merespon, tidak mau berteman lagi, namun tetap care dan netral, itu pun sebuah keputusan sadar yang aku pilih. Di momen ini, aku melihat sebuah kedewasaan, dimana masing-masing individu mengakui, membuat keputusan, dan saling menghargai pilihan masing2.

Saat ada yg benci, kesel sama ku, dll. Lalu mereka tetap pada pandangannya, atau malah mengumoulan massa menghasut orang cari teman untuk punya pandangan yang sama, atau labeling, dll. Itu pun pilihannya. Dan aku tidak bertanggung jawab untuk menjelaskan, apalagi ngemis2 penerimaan dan pengertian mereka. Rasanya jelas gak enak lah ya di reject secara sosial. Dulu hal ini sangat ganggu sampe bikin diri depresi dan minum obat2an psikiatri. Sekarang, ada perasaan gak enak, yang munculnya itu perasaan being misunderstood. Cm udah bs lebih santai krn aku sudah bs menerima diriku sendiri, saat ada yang gak suka, benci, disalahpahami, di judge, dll. Aku melihatnya ya see what it is. 

Thursday, October 7, 2021

7/10/21

I started to respect myself when I learned to stop.
Stop fixing people
Stop chasing people
Stop staying in a one-way relationship
Stop using everything that didn't work for me and is no longer relevant
Stop neglecting myself.

 I got a new hello when I started to say goodbye and trusting myself.

Dear myself, 
Please forgive me, Thank you.

Wednesday, September 15, 2021

14/9/21

Ada keluarga jauh datang hanya untuk silahturahmi.
Mereka jual barang atau pinjam uang untuk membeli bensi, hanya untuk datang silahturahmi.
Mereka menggorbankan agenda pribadinya, hanya untuk datang silaturahmu.
Mereka meninggalkan anaknya yang sedang sakit untuk menemui keluarganya.

Namun apa yang di dapat?
Tak ada jamuan, tak ada tempat tinggal, tak ada tanya kabar, tak ada suka cita.
Hanya diisi gosip, ngomongin orang lain, nyinyir, info-info tak penting, bahkan omongan basa basi yang ternyata menyakitkan atau malah memperburuk keadaan orang yang sedang tidak baik-baik saja.

Seberapa sering, diri menyadari saat ada yang silahturahmi, malah di rusak oleh sikap dan perkataan yang dapat menyinggung dan menyakiti? Dikala yang datang silahturahmi sudah sangat berusaha semaksimal mungkin penuh perjuangan hanya untuk datang ke suatu acara tersebut?

Tuesday, September 7, 2021

7/9/21

"kalo di Indonesia, om tante suka ngomongin, tapi kalo kita ada masalah, mereka bantu".
"kalo di amerika, gak ada yang ngusik, tapi kalo susah ya gak ada yang bantu"

Realitanya:
Ngomongin iya, ikut campur iya, pas lagi susah pada kabur pura-pura gak tau apa2.
Mungkin di lingkungan ini, orang merasa tau apa yang terbaik untuk orang lain, tau apa yang dibutuhkan orang lain, tau ngurusin orang lain, tau semuanya. Selah-olah cara pandang, cara hidupnya adalah yang terbaik. Seolah-olah anak muda pasti selalu membutuhkan nasihat dimana orang tua merasa paling berpengalaman, bijaksana, dan tau semuanya. Lagi-lagi tentang hirarki.

Anak gak nurut di cap sebagai anak nakal. Lalu diperlakukan kasar, penuh labeling negatif, bahkan cacian. Bahkan mereka pun tak bisa membedakan mana anak melawan karena tidak sopan, nakal, gak suka otoritas, kebutuhannya tidak terpenuhi alias bentuk komunikasi, lagi struggle sama emosinya sendiri butuh bantuan, neurotic nya bermasalah, ada inherited emotion yang nempel, kurang kasih sayang, lagi cari perhatian, atau sedang overwhelmed karena saking sensitifinya. Apa orang tua atau orang pada umumnya bisa membedakan dan notice anak berlaku yang dianggap nakal itu karena apa?

Lagi-lagi kegoblokan, ignorant, dan stupidity mendominasi. Orang malas untuk melihat the real motivasi, observasi, bellajar, dan mencari tau kenapanya, apanya, dan bagaimana. Pada akhirnya semua dinilai dan diperlakukan sama. Berakhir misstreatment. Alih-alih mendidik agar lebih baik malah merusak jiwa raga anak jangka panjang. 

Apa bedanya manusia dan binatang kalau tidak mau berfikir lebih, belajar, dan mencari tau?

Monday, September 6, 2021

Peduli

Orang tua yang sayang sama anak dan melakukan hal terbaik untuk anaknya pun masih bisa menyakiti dengan sengaja. Apalagi orang lain.

Hal itu menjadi salah satu alasan, kenapa kita perlu baik sama diri sendiri.

Saat semua orang hanya peduli dengan dirinya sendiri, dengan circle intinya masing-masing, dan saat diri terbuang dari kumpulan, menjadi single fighter, tak ada yang peduli, maka hanya diri sendiri yang mampu peduli terhadap diri sendiri.


Saturday, August 21, 2021

21/8/21

Dari satu lingkungan ke lingkungan lain, dari satu tempat ke tempat lain.

Dari banyaknya lingkungan yang pernah ku temui, singgah, dan hidup bersama, mulai dari keluarga, akademik, pekerjaan, komunitas, traveling, sosial, dan segala macamnya, ada hal yang sama dari yg kuamati, yaitu: orang hanya peduli dengan dirinya sendiri dan circle nya.

Saat berada di komunitas suatu modalities, (misal) tentang awareness, mereka hanya peduli pada pengembangan dirinya masing-masing dan orang terdekat dalam komunitas yang merupakan circle nya. Mereka tidak concern bahkan tidak peduli dengan issue kesehatan mental, pendidikan, sosial, atau hal-hal di luar ketertarikan, pemahaman, dan circle nya. 

Untuk lingkungan satu darah, atau yang biasa di sebut keluarga pun konsep dan sistemnya sama. Orang lebih mementingkan keluarga inti daripada keluarga besar, orang terdekat lebih di bela dan di bantu meski sama-sama keluarga besar. Dalam keluarga inti pun, orang lebih peduli dengan kenyamanan dan keamanan dirinya sendiri. 

Pengamatan sejauh ini, orang cuma peduli dengan dirinya masing-masing. Bahkan orang berbuat baik pun untuk kebaikan dan kepentingan dirinya sendiri. Agar dirinya dapat pahala, agar dirinya dapat karma baik, agar disukai orang, agar urusan duniawinya mudah, agar merasa diri berharga karena bantu orang lain, orang minta maaf agar terhindar dari masalah dan mengurangi perasaan guilty nya, semuanya berlabuh untuk dirinya sendiri. Apakah itu yang dinamakan kepedulian dan cinta terhadap sesama? 


Why people just concern about themself and their circle?
Why do people cant love each other sincerely?

Saturday, August 7, 2021

7/8/21

 *Disclaimer: Postingan ini adalah opini pribadi, berbagi perspektif, tiak ada tujuan dan niat untuk mejatuhkan suatu profesi atau tentang salah benar. Semoga bs mendapat insight dan di pahami dengan hati.

Sudah satu setengah tahun lebih kita berdampingan dan berbagi hidup dengan covid. Tahun 2020 banyak tenaga kesehatan yang meninggal dalam menanggani pasien covid dan terpapar. Beribu-ribu orang menyampaikan simpatinya, mengangkat derajat para pekerja medis dalam sosial setara seorang pahlawan. Masyarakat bahu membahu membantu dengan menyuarakan himbauan, bantuan APD, hingga memberikan dukungan secara emosional dan moral. Dari fenomena itu, ada hal yang terlihat, yaitu tentang bagaimana suatu profesi di apresiasi sangat oleh banyak orang.

Dari jaman dulu, profesi dokter dan tenaga medis ya mengurus dan merawat pasien. Tidak ada yang berbeda dengan tugas dan kewajibannya di masa lalu dan masa sekarang. Perbedaan yang terjadi saat ini adalah jumlah pasien yang perlu dirawat dan resiko dari kasus penyakit yang ditangani. just it.

Tidak semua tenaga kesehatan itu pahlawan, karena tujuan bekerjanya pun beda-beda. Ada yang karena tugas, kewajiiban, tuntutan profesi, pekerjaan untuk mendapatkan gaji demi keberlangsungan hidupnya, ada yang karena terikat sumpah profesi, ada yang karena terikat ikatan dinas, ada yang memang jiwa sosial dan kemanusiaannya tinggi. Dan dimasa pandemi covid saat ini yang menyerang fisik manusia, tenaga kesehatan menjadi menonjol dan diangung-agungkan. Termasuk profesi di kesehatan mental, seperti psikolog yang mulai terkenal dan membuat banyak masyarakat melek atas kesehatan mental.

Dalam fenomena ini pun, ada sebagian masyarakat yang menyindir para tenaga medis, dan di balas oleh para dokter spesialis terkait butuh waktu berapa lama untuk menghasilkan 1 dokter, dengan kata lain nyawa seorang dokter itu penting krn tugasnya menyelamatkan orang lain. Saat melihat komentar dan respon itu, yang pertama kali disadari adalah tentang arogansi. Kalau mau terbuka dan melihat objektif, semua profesi itu berharga dan tidak mudah. Seorang bankir, desainer, seniman, pengacara, dll, mereka melewati masa studi, praktek, mengerakan kemampuan dan mengembangkan dirinya untuk menjadi seorang ahli di bidangnya. Setiap profesi punya effort nya masing-masing, dan setiap nyawa manusia itu berharga.

Kembali ke bahasan, 
Tenaga medis menjadi naik daun karena keadaan saat ini yang banyak terkait dengan dunia medis. Coba kalau dulu saat tidak ada pandemi, mana ada sanjungan-sanjungan penuh simpati sana sini terhadap tenaga medis, bahkan tidak ada perayaan yang masuk ke dalam libur nasional sebagai peringatan profesinya seperti hari guru. Bahkan guru (profesi) yang dianggap pahlawan pun belum tentu semuanya pahlawan, banyak juga yang jadi guru karena tuntutan ekonomi, ada juga guru yang melecehkan siswanya dan tak bermoral, ada juga yang matre, jadi guru yang disebut pahlawan itu profesinya atau jiwanya? karena ada juga orang yang punya profesi lain, tapi jiwanya "guru", dia mencerahkan, memberikan ilmu, dan menuntun orang untuk berkembang dan menjadi versi terbaik dirinya. 

Ya, saat suatu keadaan membuat seseorang/suatu profesi/kelompok bekerja keras untuk menyelamatkan manusia lain, maka profesi/ orang/ kelompok itu dianggap pahlawan. Jika tidak, maka tak ada apresiasi, simpati, dan empati. Semacam musisi, dianggap biasa saja, tapi kalo ada yang berhasil go internasional dan jadi idola di berbagai negara, orang-orang mulai mengidolakan, memberikan slogan positif, bangga, dan numpang nama. Kalau desainer bisa menciptakan produk yang bisa membantu banyak orang dan meningkatkan perekonomian negara dengan tersebar ke seluruh dunia, mungkin profesi desainer akan dilirik sebagai jurusan yang menguntungkan dan di momen itu pun akan sangat dibangga-banggakan oleh masyarakat. Kalau pemerintah gak punya hutang, tak ada korupsi, pamor PNS pun naik sebagai profesi yang bermartabat dan wah karena menyelamatkan masyarakat dengan menjadi pegawai pemerintahan dimana tugasnya mengurusi negara dari pusat hingga daerah. 

Kadang sesuatu dinilai terlalu kontras, di puja banget atau dihina banget. Dan setiap profesi seperti ada label-label tersendiri dalam benak masyarakat meski tidak semuanya begitu.

Wednesday, August 4, 2021

3/8/21

Bagaimana jika tidak ada yang salah dengan diri?
Bagaimana jika diri memang berbeda dengan lingkungan sekitar?

Masalah muncul saat orang tak mengenal diri, tak mau mengenal, tak mampu melihat potensi diri, dan merasa diri dan hidupnya benar sehingga melihat diri yang berbeda dianggap salah dan bermasalah.

Contoh:
Seseorang lahir dengan bakat menjadi single fighter dan nyaman dengan dirinya sendiri meski dalam kesendirian. Lalu saat lahir, ia diajarkan untuk melakukan sesuatu bersama orang lain, untuk selalu punya teman. Ia mengikuti apa yang diperintahkan care givernya, hingga banyak masalah muncul, ia tak fit in dengan sekitarnya karena berbeda, dirinya yang disalahkan. Ia nyaman sendirian, dianggap aneh dan seolah-olah tidak ada yang mau berteman dengan dirinya, judgment mulai berdatangan mengikis identitas asli hingga diri menjalani hidup berdasarkan identitas yang ditanamkan sekitarnya bukan berdasarkan jati dirinya sendiri.

Lambat laun, ia semakin terpuruk karena sepanjang perjalanan hidupnya, ia selalu sendirian, mengurusi semua hal sendirian, dan semakin merasa cacat tak berdaya karena merasa seharunya ia memiliki support system, akhirnya fokus masalah berada bagaimana ia mampu punya kehidupan seperti orang lain yang akrab dengan keluarga, punya support system, punya teman, ada teman perjalanan, mampu bergantung dengan orang lain, dll.

Munculah pertanyaan:
"Mengapa diri selalu berada dalam kesendirian?"

Bagaimana jika diri terlahir sebagai single fighter yang sebenarnya sangat mandiri dan tidak bermasalah sendirian. Semesta sudah kasih petunjuk untuk kembali ke jati diri, untuk mengenali power diri, dengan memberikan masalah dan membuat orang sekitar meningalkan diri dalam kesendirian. Dengan diri mampu bertahan hidup sampai sekarang dengan segala masalah dan kesendirian, tandanya diri mampu. Aknowledge dan terima kalau diri kuat, mandiri, mampu, dan sebagai single fighter.

Contoh lain:
Mayoritas orang menerima informasi (nge-sense) melalui 5 panca indra nya dna diolah berdasarkan nalar logika. Saat seseorang lahir dengan kekuatan batin yang tinggi, intuisi yang tinggi, mampu nge sense dan menerima informasi dengan cepat sebelum ke sense panca indra (terbukti), maka dianggap aneh, diragukan, diremehkan, dianggap tidak valid, dianggap suudzon, dianggap ini itu. Hingga ia merasa dirinya salah, gak bener, bingung sendiri, tidak mempercaya dirinya sendiri, yang berakhir jadi kacau. Dipaksan untuk nge sense lewat panca indra, diakala ia punya antena yang jauh lebh cepat dan tajam untuk menerima dan mencari informasi. 

Ia diperlakukan seperti itu, hanya karena ia berbeda dengan mayoritas dan mayotitas tidak mampu memahami cara kerja otak, sistem ia menerima informasi, bahkan nalarnya tak mampu memahami apa yang dialami dan dimiliki oleh orang tersebut. 

Butuh waktu lama dan perjalanan yang tak mudah untuk kembali ke jati dirinya, untuk get in tpuch dengan ability nya dalam nge sense sesuatu, apalagi kalau dalam prosesnya ketemu/ di bimbing sama orang yang mirip dengan mayoritas yang telah merusak dirinya. Alih-alih kembali ke jati diri asli, malah semakin rusak, bingung, dan jauh dari nature nya.

Monday, August 2, 2021

Ada yang berubah #1

Waktu kecil, aku menganggap semua hal itu harus diusahakan dan keberhasilan sebanding dengan kerja keras. Prinsip itu aku pegang dan lakukan dari tahun ke tahun. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dan usahakan. Semua aku catat dan semua berjalan lancar sesuai jadwal dan target. Hal ini membuatku semakin yakin dengan konsep keadilan sebuah usaha dan hasil. 

Hingga suatu ketika, ada kejadian diluar nalar dan kebiasaan. Aku tak mendapatkan apa yang diusahakan, rencana hidupku berantakan tidak sesuai jadwal yang dibuat. Sempat frustasi hingga depresi, kesal dengan diri sendiri, menyalahkan diri sendiri. Hingga semakin terpuruk dengan keadaan itu sampai kehilangan tujuan hidup dan merasa semua hancur berantakan.

Lambat laun, aku mulai belajar melepaskan kegagalan yang terjadi, mulai menerima ada hal-hal diluar kontrol manusia, mulai belajar menikmati setiap momen dan proses hidup. Di saat itu pun, aku mulai belajar menyayangi diri sendiri, memaafkan diri, menurunkan ego, menurunkan fungsi otak logikaku, lebih ikhlas menjalani hidup sebagai mahluk Tuhan yang sejatinya semua hal yang terjadi di dunia adalah atas izinNnya dan menyakini semua yang terjadi adalah hal terbaik untuk saat itu.

Untuk orang-orang yang terbiasa hidup rapih, penuh tujuan, pekerja keras, disiplin, berambisi, bukanlah hal mudah hidup dalam ketidakpastian dan membutuhkan fleksibilitas yang tinggi. Pada akhirnya, pembelajaran yang diambil adalah tentang bagaimana menikmati hidup. 

Tuesday, July 27, 2021

Bagaimana Jika

Bagaimana jika Tuhan sudah mengabulkan semua doa diri lewat semesta?
Bagaimana jika semesta telah menghadirkan semua yang diri perlukan?
Bagaimana jika sebenarnya diri sudah mendapatkan yang dibutuhkan?

Bagaimana jika sebenarnya dirilah yang tak peka dengan petanda?

27/7/21

Bagaimana jika zona amanmu adalah keadaan yang chaos?
Bagaimana jika zona amanmu adalah berputar-putar pada hal yang sama?
Bagaimana jika zona amanmu adalah hidup stagnant dan stuck?
Bagaimana jika zona amanmu adalah menciptakan masalah?

Bagaimana jika kedamaian, ketenangan, keberlimpahan sudah mebghampiri, hanya karena sesuatu diluar "kenyamanan dan keamaan" dalam alam bawah sadarmu, maka hal-hal itu kamu tolak?

Dear universe, please show me how to get off from my comfort zone

26/7/21

Se toxic dan se disfungsinya orang tua,
Semerusaknya orang tua terhadap anak
Mereka masih mengusahakan untuk kebahagian anak.