Monday, March 7, 2022

Jogja

Hari-hari terakhir di Jogja terasa syahdu.
Terimakasih atas semua penggalaman disini.
Terimakasih atas orang-orang baik yang hadir.
Terimakasih atas segala cinta kasih disini.
Terimakasih atas segala proses.




Tuesday, March 1, 2022

1/3/22

Mungkin tidak ada yang bisa atau mau menemani perjalanan dan proses diri.
Mungkin, kita hanya bisa mengandalkan dan meminta tolong pada diri sendiri.
Mungkin ada masa nya juga diri kehilangan diri tanpa mampu berteman baik.
Mungkin orang dan sekitar meningalkan di masa-masa kelam dalam kesendirian.

Namun, semesta selalu mendukung dengan caranya sendiri.
Tuhan selalu menemani dengan segala pertolongan dan kasihNya.

Tuesday, February 8, 2022

Little Things

Aku benci banget saat lagi ngobrol serius tentang the big deal, rekan bicara malah sibuk komentarin hal-hal kecil yang gak penting dan gak relevan dengan konten dan sikon. Misal, sedang ngobrolin karir yang super urgent, struggle, dan serius, rekan bicara komentarin "antingnya nambah ya", "jerawat yang di pipi udh kering ya", "wah bajunya baru ya". Itu rasanya kaya pengen makan orang itu dan lemparin meja. 

Lain hal nya dengan kasus lagi makan, tiba2 dibawain minuman kesukaan. Pas tanya "kok tau, aku cm bisa minum ini?", orang itu bilang "kan waktu di xx, kamu minumnya ini trs". Kalau kasus itu, pay attention to little things nya bikin orang merasa dihargai, disimak. 

Thursday, February 3, 2022

Perasaan Yang Sama

2013. 04.00, Bandara
Pesawatku ke Jakarta dipanggil dahulu, aku bergegas menuju pesawat. Ada tangisan yang tak tertahankan yang berusaha tak tumpah. Teman memanggil "mau kemana? nanti dulu aja". Aku berlala secepat kilat. Sampai pesawat dengan kursi dekat jendela, tangisanku tumpah. Perasaa sedih meninggalkan semua kehidupan 2 bulan di tempat itu dengan semua orang dan kenangannya. 

Esok paginya, aku hubungi teman, dia sudah sampai di tempat tinggalnya, di Bandung kemarin. "Hai, aku minta foto-foto disana doang". Teman membalas sekian jam kemudian "hai, aku baru bangun, aku pikir kita masih disana, balbla (panjang ttp perasaanya), ok, nanti gw kirim fotonya" dari pesan itu, aku tersadarkan kalau teman pun memiliki perasaan yang sama. Perasaan dan sensasi dari setiap memori pengalaman selama disana bertahan hingga setahun kedepan. 

2013. Mobil elf, Flores.
Teman di sebelah memberikan handphone nya kepadaku. Aku ambil, lihat, ada sebuah foto kiriman dari kenalansaat sailing bersama. Ada perasaan sedih, haru, campur aduk. Segera aku kembalikan handphone tersebuh, membalikan wajah menghadap jendela dan menangis. Lalu aku berkata "sedih ya". Dia berkata "namanya 5 malam 6 hari bareng sehidup semati selama di kapan", dan temanku pun merasakan kesedihan pisah yang sama. Kesedihan pisah dengan strangers yang pergi bersama selama 6 hari saat itu rasanya seperti putus dengan pacar. Selama disana ada happiness joy melimpah ruah dan bertahan di aku selama 5 tahun kemudian (Masih bisa me recall dan panggil joy selama 2 minggu flores saat itu).

2022. Jogja.
Sepulang dari main bersama teman-teman baru, rasanya joy banget sampe dibahas terus. Besoknya juga masih joy dan hari-hari esoknya pun masih kerasa joy nya. Saat mengobrol, ternyata mereka merasakan hal yang sama: joy. Saat itu light dan netral banget energy nya, dan mereka pun merasakan hal yang sama. Sampe ada temen cerita kalau dia masih bisa merasakan pengalaman selama main kemarin, anginnya, ombaknya. Di aku, perasaan itu hanya bertahan kurang dari seminggu, namu segudang insight yang di dapat selama perjalanan merubah banyak cara pandang dan kesadaranku.

Mungkin kita merasakan hal yang sama, 
Mungkin kita ingin mengungkapkan,
Mungkin kita ingin mengekspresikan,
Namun tak berani untuk dikeluarkan.

Wednesday, February 2, 2022

Clarity

Tanpa sadar, kita keseret kedalam realita orang lain. Untuk keluar dari itu, hal pertamanya adalah mengetahui realita kita sendiri. 

Realita disini maksudnya kehidupan, value, belief, cara pandang, cara hidup orang lain. Seperti saat diri mengikuti pattern sekolah, kerja, nikah, beranak. Apakah itu realita yang ingin kita ciptakan? Apakah itu realita diri asli kita? Apakah itu yang benar-benar kamu inginkan? Apakah kamu bahagia akan hal itu?

Jika tidak, artinya itu bukan realitamu.
Untuk menciptakan realitamu sendiri, hal pertama yang perlu dilakukan adalah clarity, clarity tentang siapa kamu, apa yang kamu inginkan, apa yang kamu kejar, apa yang kamu, apa yang bikin kamu happy, joy mu, kasarnya jadi punya kompas. Setelah itu sinkronisasikan keinginan, hasrat, keyakinanmu dengan energy mu. The, go ahead. 

Tuesday, February 1, 2022

1/2/22

Tidak semua orang mau membuka dirinya, mau berbagi kisah hidupnya, mau mengekspresikan perasaannya, mau menceritakan perjalanan dan insightnya. Saat ada yang melakukannya, alih-alih menilai, menjudge, berkomentar, menghujat, labeling, membandingkan, cobalah dengarkan dengan perasaan netral. Maka banyak sekali yang akan kamu dapatkan, kekayaan batin, intelektual, keluasan hati, kedewasaan, dan kebijaksanaan. 


Friday, January 28, 2022

28/1/22

Ada joy mengelora yang tak berani diekspresikan
Ada benci yang tak berani diungkapkan
Ada rindu yang tak berani disampaikan
Ada kekecewaan, kesedihan, kemarahan yang tak berani di tampilkan.

Mungkin kita merasakan hal yang sama, hanya terlalu banyak logika akan bagaimana orang akan mempersepsi, bagimana aturan society sosial, perasaan takut di tolak, segala asumsi berdasarkan hal pada umumnya dan pengalaman sebelumnya, akhirnya kita hanya diam, menyimpan semuanya sendiri tanpa pernah terekspresikan dan tersampaikan.

Thursday, January 27, 2022

Friday, January 7, 2022

7/1/22

Waktu tinggal di Bandung, orang2nya pada gaya, meski pake barang pinggir jalan atau brandend.

Waktu tinggal di jakarta, bergaul sama orang2 yg pakai baju bermerk dan secara taste enak diliat jg.

Pas di Jogja, yg aku sadari, banyak nemuin orang gak terlalu concern sama penampilan secara warna, material, fashion, model, dan merk. Seperti barusan, aku ketemu orang pakai baju krem ke arah coklat kuning dengan celana maroon. Secara visual, itu gak enak bgt diliatnya, secara konsep waran jg gak nyambung, tp orangnya pede tandanya ya antara dia gak aware ttg mix and match atau seleranya begitu, atau ya gak anggap hal penting.

Seru ya, di setiap kota punya lifestyle dan selera fashionnya masing-masing.



Sunday, December 26, 2021

26/12/21

If Adam and Hawa (eve) were the first human that God created, 
so, all the people in this universe are family, isn't it?

If so, why people do separation to each other based on nationality, religion, 
ethnic, politic, social, education, financial, desire, purpose, etc?
 

in Between

Having same blood, doesn't mean we are family
Having same ancestor, doesn't mean we are family

People kind to you, doesn't mean they are kind
People mean to you, doesn't mean they are mean

People hate you, doesn't mean your are bad
People love you, doesn't mean you are good.

26/12/21

When i was child, one of my parents said:
"Don't tell anything to anyone, because people will against you, will talk bad of you, will blabla. 
You have to keep everything inside on you".

As adult, i see that sentence is one of form of controlling behavior. To control other people perspective.
In the deepest down inside, its one of sign about insecurity to feel accepted, good, and worthy.

After many experience over the years, i learned to keep millions of things inside on me.
Because not everyone (even family) deserved my honesty, my journey, my thought, my feeling. 

Monday, November 15, 2021

Guru

Ada pepatah yang bilang kalau guru akan datang saat murid siap.

Guru ini gak selalu hadir dalam bentuk sopan, penuh santun, bersinar cahaya, lemah lembut, dan membimbing diri dengan baik. Ada guru yang nge-abused yang bikin diri sadar punya power, ada guru yang nge drag down, yang bikin diri sadar akan potensi asli. Ada guru yang maksain value dan cara hidupnya, yang bikin sadar atas realita diri sendiri. Ada juga guru yang ngabisin semua jiwa raga dan segala kehidupan duniawi diri, untuk menyadarkan banyak hal dalam diri. Ada yang men trigger sampe mental berantakan yang bikin sadar akan trauma-trauma diri dan unresolved issue, yang kemudian healing diri sendiri.

Ada juga guru yang datang dalam bentuk cahaya dengan meng-guide dalam jalan terang, encourage, memotivasi, membuat diri semakin percaya sama diri sendiri dan terus penasaran dengan potensi diri, yang bikin inget to be being me. Apresiasi, reminder, hadir dalam masa-masa sulit, bikin diri expand. Nah saat bertemu yang seperti ini, jangan terlalu melekat pada 1 guru, tetaplah membuka diri pada siapapun yang ingin mmebantu, menolong, memfasilitasi, dan berkontribusi. Di momen itu akan melihat betapa beragamnya manusia dan akan sangat memperluas cakrawala diri dari berbagai sudut pandang dan semakin tinggi.

Guru manusia biasa juga yang memiliki masalah, sudut pandang, trauma, issue dalam dirinya. Penting untuk tidak meng internalisasikan semua omongannya, percaya semua yang dikatakannya, apalagi sampai jadi copy cat nya. Tetaplah percaya pada diri sendiri, dengarkan intuisi diri, dan paling penting jangan ada expetasi apapun. 

Terimakasih buat semua guru dalam kehidupanku.
Terimakasih kepada Tuhan Semesta Alam atas segala Rahmat Nya, para Leluhur yang telah menjaga, dan semua orang baik diluaran sana atas guiding, coaching, facilitating, and accompany me. Love.

Saturday, November 6, 2021

5/11/21

Aku selalu iri dengan orang2 yang punya keluarga super supportif, deket, hadir. Selalu iri juga dengan orang2 yg punya temen, circle, sepupuh yang deket, dan punya orang2 yg dapat diandalkan dalam hidupnya terutama di momen2 kritis dan urgent.

Aku iri, karena dari kecil sesendirian, terasing, di reject sana sini, beda sendiri, nobody gets me. Gak punya support system, gak punya temen diskusi, apalagi teman beraktivitas bersama. Sendirian, no emotional support, kesepian, salah satu faktor depresi dari kecil sampe segede ini.

Anehnya, dalam keadaan sendirian gak punya siapa2, setiap lagi susah, ada aja yang bantu/nolong. Dan orang-orang itu ilang pergi sendiri saat aku sudah melewati fase sulit itu. Waktu smp, ada sahabat pena. SMA, kenal anak kembar dari salah nomer hp yang berujung baik banget mrk menemani kehidupan sma ku dan support encourage. Kuliah, gak punya temen, sabahat, sesendirian, gak deket sama siapaun, gak masuk ke circle manapun, tapi ada yang nemenin selama masa2 kuliah termasuk ada yang bantuin pas tugas akhir. 

Rasanya gak enak hidup sesendirian, gak masuk ke kelompok manapun termasuk dalam keluarga (ada geng2), gak punya temen deket, gak ada satupun yang bener2 kenal aku, gak ada orang terdekat yang bisa diandalkan dan dimintai tolong gesit, being misunderstood, being black sheep. Dari yang mulai stress, frustasi, jadi drop depresi. Karena ternyata hidup makin tua makin banyak anginnya, dan support system penting banget. 

Sampe di momen merenung, apa hidupku emang ditakdirkan sendirian? Berjalan sendirian? Hidup terasing? Kesepian? Menjadi single fighter terus2an? Lalu aku bersedia untuk sesendirian sendirian dan membuka diri untuk di support semesta. Gatau diluaran sana, ada yang kaya aku jg ga? kalo aku pribadi, gak memilih jd single fighter. Aku hanya memilih menjadi diri ku sendiri.


Wednesday, October 27, 2021

26/10/21

Waktu jaman S2, 2013-2015, yang benci sama aku banyaaaak banget. Jadi public enemy, gak punya temen, di sindir, dan buruk banget diri kesannya cm karena i am honestly blunt dan orang gak suka. Dulu sempet sampe depresi bener2 sendirian banget, kalo inget2 ya gt deh kelam gelap banget.

Anehnya, pas wisuda, yang dateng dan kasih bunga banyaaaak banget. hampir 2 ember. Aku dapet bunga paling banyak di angkatan. Banyak banget dan temen2 jauh pada dateng. 

Yang aku sadari saat itu, kok aku bs sangat disayang orang dan dibenci orang ya. Aneh aja. Termasuk di keluarga besar, aku di reject, gak disukai, gak ada satupun yg get me dan kenal. Tapi di luaran banyak orang yang paham dan nerima. 


Dari kejadian2 itu, ada hal disadari.
Seberapa banyak dari kita yang diajarkan orang tua untuk harus mampu diterima?
Seberapa banyak dari kita yang diajarkan lingkungan untuk selalu jadi orang yang menyenangkan orang lain sehingga orang happy sama kita?
Seberapa banyak dari kita yang dikondisikan bahwa saat ada yang tidak suka dengan kita, tandanya ada yang salah dengan diri?
Seberapa banyak dari kita yang di didik untuk berbuat baik dengan tujuan mengontrol orang lain agar bersikap baik juga terhadap diri?
Seberapa banyak dari kita yang ditanamkan kalau ada yang benci sama kita, tandanya kita buruk?

Aku termasuk orang yang diajarkan hal2 diatas, di jejelin dogma kalau ada yg gak suka tandanya kita buruk, kalau banyak yg gak suka tandanya kita salah, sampe di titik jadi sering nyalahin diri sendiri dan frustasi. Lalu muncul berbagai kesadaran. 

Aku bisa tau siapa aja yang gak suka dengan diriku, judgment mrk thdp ku, kelakuan mrk ngomongin apa dan narik masa kaya gmn. Kalau dulu jd kesel sendirim kalo skrg netral liatnya. Dan aku ask ke diri sendiri: "Apakah orang-orang itu relevant untuk hidup saat ini dan masa depan yang ingin aku ciptakan?"
Jika jawabannya tidak, maka aku terima, lepaskan, dan move on. Jika jawabannya ya, maka aku ask lagi "Apa yang perlu aku lakukan untuk membuat semuanya ease?"

So far, jawabannya banyak yang yang tidak relevan untuk kehidupanku saat ini dan kedepannya. Jadi aku terima aja dan bye2. Sekalipun itu keluarga besar. Dan dari sini, ada kesadaran lain yang muncul, tentang ingin diterima, diakui, di pahami. Ya, kebutuhan dasar manusia. Dan ada sebuah peluang besar juga untuk menerima hal besar lainnya saat diri mampu say goodbye.

Pepatah lama ini, benar adanya.
Kalau orang benci sama kita, mau diri ngapain pun sebaik sebagus apa, tetep aja jelek keliatannya. Begitupun sebaliknya, kalau dimata orang2 diri udh di cap baik, mau buat kesalahan apapun, orang suka nutup mata dan memaklumi semua keburukan yang dilakukan. 

Dulu aku konflik sama temen, trs aku cabut. Saat itu cabutnya sakit hati banget sampe ke titik gak mau inget apapun. 5 tahun kemudian, orang ini dateng cerita mimpi aku dan dia minta maaf, dia sampaikan jg telah memaafkanku untuk hal2 yg dia anggap menyakitinya. Dan saat itu aku cm baca trs udah. Gak ada perasaan apapun lg, dan gak mau bertemen lg jg, tp bukan krn benci, krn merasa cukup sampe kmrn aja relasinya, hmmm gmn ya jelasinnya, ya gitu lah. Dari situ, insight yang aku dapat, kadang orang bs ngerti sendiri motivasi dan keadaan saat itu, mungkin dulu cm fokus pada caraku (baju luarnya), dan diri gak perlu menjelaskan apapun. Saat dia datang minta maaf, itu bukan tentang benar salah dan memuaskan ego, dia minta maaf untuk dirinya sendiri. Saat aku memutuskan untuk tidak merespon, tidak mau berteman lagi, namun tetap care dan netral, itu pun sebuah keputusan sadar yang aku pilih. Di momen ini, aku melihat sebuah kedewasaan, dimana masing-masing individu mengakui, membuat keputusan, dan saling menghargai pilihan masing2.

Saat ada yg benci, kesel sama ku, dll. Lalu mereka tetap pada pandangannya, atau malah mengumoulan massa menghasut orang cari teman untuk punya pandangan yang sama, atau labeling, dll. Itu pun pilihannya. Dan aku tidak bertanggung jawab untuk menjelaskan, apalagi ngemis2 penerimaan dan pengertian mereka. Rasanya jelas gak enak lah ya di reject secara sosial. Dulu hal ini sangat ganggu sampe bikin diri depresi dan minum obat2an psikiatri. Sekarang, ada perasaan gak enak, yang munculnya itu perasaan being misunderstood. Cm udah bs lebih santai krn aku sudah bs menerima diriku sendiri, saat ada yang gak suka, benci, disalahpahami, di judge, dll. Aku melihatnya ya see what it is. 

Thursday, October 7, 2021

7/10/21

I started to respect myself when I learned to stop.
Stop fixing people
Stop chasing people
Stop staying in a one-way relationship
Stop using everything that didn't work for me and is no longer relevant
Stop neglecting myself.

 I got a new hello when I started to say goodbye and trusting myself.

Dear myself, 
Please forgive me, Thank you.

Wednesday, September 15, 2021

14/9/21

Ada keluarga jauh datang hanya untuk silahturahmi.
Mereka jual barang atau pinjam uang untuk membeli bensi, hanya untuk datang silahturahmi.
Mereka menggorbankan agenda pribadinya, hanya untuk datang silaturahmu.
Mereka meninggalkan anaknya yang sedang sakit untuk menemui keluarganya.

Namun apa yang di dapat?
Tak ada jamuan, tak ada tempat tinggal, tak ada tanya kabar, tak ada suka cita.
Hanya diisi gosip, ngomongin orang lain, nyinyir, info-info tak penting, bahkan omongan basa basi yang ternyata menyakitkan atau malah memperburuk keadaan orang yang sedang tidak baik-baik saja.

Seberapa sering, diri menyadari saat ada yang silahturahmi, malah di rusak oleh sikap dan perkataan yang dapat menyinggung dan menyakiti? Dikala yang datang silahturahmi sudah sangat berusaha semaksimal mungkin penuh perjuangan hanya untuk datang ke suatu acara tersebut?