Monday, October 30, 2023

Mencintai Diri

 Menyayangi diri sendiri, sesederhana:
- Tidur cukup
- Makan sehat
- Olahraga
- Tidak merespon makian orang
- Tidak masukan ke hati omongan orang
- Melepaskan hal-hal yang tak nyaman
- Memiliki kehidupan sosial yang nurturning
- Memiliki perkejaan dan penghasilan
- Mandi, pakai skincare.
- Menggunakan pakaian yang diri happy 
- Bersenang-senang tanpa merugikan orang lain
- Memiliki teman yang mutual
- Memiliki pasangan dan intimasi.
- Memiliki hobby
- Menghargai boundaries diri dan orang lain
- Bercerita
- Membangun hubungan emosional
- Berbagi
- Bermain
- Becanda
- Memelihara hewa peliharaan
- Mencintai orang dengan tulus
- Berbuat baik pada diri sendiri
- Memvalidasi diri
- Menghargai diri sendiri
- Mengasuh diri
- Beramal
- Membuka hati
- Menerima rasa cinta dan bantuan orang lain
- Meninggalkan orang-orang yak tak memilih diri ini
- Melepaskan hal-hal yang sudah tidak baik untuk diri
- Menerima diri secara utuh penuh kasih dan toleransi
- Merasakan seluruh emosi yang hadir dan melepaskannya
- Meencintai orang lain dan menerima cinta
- Berpetualang
- Beraktualisasi diri
- Menikah

Thursday, October 26, 2023

Make Me Greater

Well, Lately I often ask about "going to the xx make me greater?", "meeting with xx make me greater?", "doing xx make me greater?" every time I want to do something, meet someone, or just communicate with someone. I f my awareness say no, I don't do that. If my awareness say yes, so be it. In the past, it was not uncommon to ignore and betray my own awareness, and the result was terrible things and heaviness. 

Pernah mau pergi ke suatu acara yang secara logika hal baik, aktivitas menguntungkan untuk diri, orang-orang yang gak aneh-aneh. Di tenag jalan, pop up "gak bikin greater" dan "disuruh" pulang. Lalu logika mikir "kok bisa gak bikin greater", di ignore dan di terobos lah tuh awareness. Sampai lokasi, semua berjalan baik, dan diakhir ada kejadian yang bikin jiwa gak enak, dan not kind for me efeknya. Diistu, aku berjanji untuk tidak betrayed myself lagi apapun itu. Dimana sebelumnya sering kejadian hal seperti itu. Aku berjanji untuk trust my awareness more dan berlatih untuk tidak terlalu banyak menggunakan logika atau bahkan sesekali di off in dulu. 

Kemabli ke bahasan "make me greater", pernah datang ke suatu acara, sebelumnya cek "datang ke acar ini make me greater?" dapatnya ya. Padahal saat itu keadaanya sedang gak logis lah untuk datang kesana. Akhirnya terobos segala pikiran logika, sampai lokasi nothing special. Endingnya, ada kejadian yang bikin diri expand dan gratitude.

Mungkin asking question disetiap langkah yang diambil, salah satu mengakses keasadaran.
Kesadaran itu netral, guiding and protecting us. 
 

Semakin Kesini

Semakin kesini, semakin aku menggenal diriku sendiri.
Menggenal diriku, kebutuhanku, hasratku, kemampuanku, power potency ku, batasanku, apa yang aku suka, apa yang bikin aku happy, apa yang badanku butuhkan, apa yang kurang baik untuku, apa yang aku cari dalam setiap halnya, luka dan trigger ku, pola-pola diri, termasuk mengenal mana energy ku dan bukan. 

Semakin kesini, semakin aku bersyukur pada diriku sendiri setiap waktunya.
Bersyukur telah sadar, menyembuhkan diri, bertransformasi, menarik hal-hal yang diri require, belajar mencintai diri, mulai memilih diri sendiri, merawat diri, mengasuh diri, memberi nutrisi baik, menerima diri, terus berkembang, membereskan masalah-masalah diri, menyudahi hal-hal yang tidak baik, meninggalkan hal-hal yang sudah tak relevant, banyak sekali yang sudah berubah dan disadari yang diri ini syukuri. 

Semakin kesini, semakin aku tau apa yang aku butuhkan.
Apa yang ku butuhkan dalam setiap relasi, pekerjaan, mengasuh diri, dan lainnya.

Semakin kesini, semakin aku yakin dengan diriku sendiri.
Yakin akan kemampuanku, keterampilanku, intuisiku, instingku, awarenessku, termasuk yakin bahwa semesta on my back (I am alwnever alone, I am never lack of, everything will be ok and greater). 

Semakin kesini, semakin aku utuh dengan diriku sendiri.

Monday, October 23, 2023

Membantu

Ada orang-orang yang dibantu dikit aja, rasa syukurnya tak terhingga bahkan hingga merasa berhutang budi dan rela melakukan apapun untuk orang yang membantunya. Dikala orang yang membantunya pun tak sadar bahkan dilakukan secara effortless

Ada pula orang-orang yang dibantu abis-abisan, diberesin semuanya, disembuhkan permanent, diangkat hidupnya sampe benar-benar berubah drastis. Dan Ia taken for granted untuk itu semua bahkan jahat, dzalim, dan "membunuh" orang yang membantunya. Dikala orang membantunya hingga sangat suffering jiwa raga dan kehilangan kehidupannya. 

Ada orang-orang yang membantu dan mengharapkan balasan. Balasan untuk diakui, diterimakasih, untuk diperlakukan baik, dan jika yang dibantu melakukan hal-hal tak berkenan, maka bantuannya itu akan diungkit-ungkit, hingga mungkin keluar kata-kata "sudah dibantu juga blabla". 

-----

Bagaimana jika ada orang yang membantu, itu karena memang jatah kita?
Bagaimana jika kita di dzolimin orang yang kita dibantu, adalah jalan pintas untuk doa terkabul?
Bagaimana jika kita membantu dan dianggap sampah, debu, bahkan tai tak bernilai, 
adalah ajang kita untuk belajar ikhlas dan menerima (receiving)?
Bagaimana jika bantuan yang kita lakukan tanpa sadar, adalah tabungan untuk diri kita sendiri?
Bagaimana jika bantuan yang kita berikan kepada orang hingga membuat diri suffering, 
adalah pengingat untuk berbuat baik pada diri dan memprioritaskan diri sendiri diatas siapapun?

Sunday, October 22, 2023

Menjadikan diri sumber

Apa yang menjadi miliki diri, akan kembali pada diri, tak ada yang bisa menghalangi 
sekalipun sudah dirampas dan dirampok hingga abis.

Apapun yang memang milik diri, akan bisa dipanggil pulang kembali pada pemiliknya, 
tak tertinggal sedikitpun.

Apapun yang diri ciptakan, bisa diri musnahkan dan hancurkan kapanpun dan dimanapun.

Apapun yang diri bangun, bisa diri rusak, rawat, kembangkan, diamkan, 
berikan, nikmati, banyak kemungkinan.

--------

Saat diri menjadikan diri sebagai sumber, 
Tak perlu mengemis, memanipulasi, memanfaatkan orang lain. 
Tak perlu juga melakukan sesuatu timbal balik untuk memenuhi kebutuhan.

Saat diri menjadikan diri sebagai sumber,
Tak perlu iri, berkompetisi, jahat, saling menjatuhkan, hanya untuk dipilih. 
Tak perlu benci, takut, dan melakukan semua cara untuk mengisi diri dari dunia luar.

Saat diri menjadikan diri sebagai sumber,
Tak perlu menjadi palsu hanya untuk mengumpulkan kekuatan mencapai tujuan. 
Tak perlu mencari dukungan sana sini untuk kesejahteraan hidup.

Saat diri menjadikan diri sebagai sumber,
Seluruh tanggung jawab ada di diri, seluruh kontrol ada di diri. 
Kontrol untuk merespon, mengabaikan, membuang, termasuk kontrol untuk tidak mengontrol. 

Saat diri menjadikan diri sebagai sumber,
Apapun yang orang lain rampas, bisa diri ambil kembali kapanpun untuk pulang ke tempat asalnya, diri.
Apapun yang orang lain ambil dan hancurkan, selalu ada kemampuan untuk mencabut semua izin itu.

Tak ada satupun yang bisa mengambil apa yang bukan miliknya,
Semua akan kembali pada pemilknya. 

Friday, October 20, 2023

1

Langit cerah, suasana tenang, angin sejuk, koper dan semua barang yang sudah masuk ke dalam bagasi, siap untuk berpindah ke provinsi lain. Kabar baik pun terdengar dengan tiba-tiba ada orang yang keluar dari tempat yang aku inginkan, sehingga ada kamar kosong yang bisa langsung aku tempati sesampai disana. Semua berjalan sangat indah. Audy, teman kuliahku yang aku anggap seperti adik, laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab menanyakan teknis pertemuan. Akhirnya ia datang ke kosanku di jakal 12 bersama seorang teman lainnya, Hamidah. Kami mengobrol sebentar, lalu audy masuk kursi kemudi, aku duduk di sebelahnya, dan Hamidah pulang dengan motornya.

Perjalanan dimulai, ada sedikit rasa syahdu dan bersyukur. Audy menanyakan tentang tol, lalu kita mengisi bensin dan tol. 5 jam perjalanan tak banyak obrolan, hanya diam diiringi playlist dari iphone nya temanku. Sempat berhenti di rest area saat siang, untuk mengisi perut dan shalat. Lalu kami melanjutkan perjalanan, saat papan jalan "Surabaya" terlihat, terasa ringan diiring excited dan happiness. "I am on the right path" gumamku. Jarak demi jarak di tempuh hingga samapi di sebuah bangunan 3 lantai berisi 60 kamar seperti hotel namun disii para mahasiswa dan pekerja yang dibayar bulanan. Kami turun, meminta tolong penjaga disana untuk dibawakan barang ke lantai 3. Hampir saja temanku turut membantu membawakan barang0barang, tapi kubilang tak usah, aku takut merepotkannya, dan rasanya bantuan ia padaku sudah cukup besar.

Tak lama, Audy menghubungi temannya minta dijemput, menginap untuk kembali ke Jogja esok hari. Aku berterimakasih padanya. Saat temannya sampai, Ia pun segera meninggalkan kosanku diiringi penjaga kosan, Pak Mo melindunginya dari air hujan menggunakan payung. Entahlah apa yang membuat penjaga kosanku sangat baik sekali pada teman laki-laki ku, dikala terhadapku yang jelas-jelas penghuni tempat itu, agak sedikit ketus saat itu dan mengira aku satu geng dengan salah satu penghuni disana. Tak aku ambil pusing hal itu. Aku bersama sebentar, lalu masuk ke kamarku.

Aku buka bingkisan dari Hamidah, berisi sebuah surat yang berhasil membuat air mata jatuh tak tertahan, tulisan yang indah nan tulus. Lalu kulihat ada sekotak coklat ferrero rocher merk coklat kesukaanku sejak kecil. Entah sebuah kebetulan atau bagaimana, ia memberikan itu tanpa tahu bahwa itu coklat kesukaanku. Ku buka satu demi satu, memakannya perlahan penuh kebahagian sambil terisak. Aku membuat telepon selularku, mengucapkan terimakasih padanya. Lalu ia menanyakan perjalananku. Kami mengobrol sebentar. Dan keesokan harinya, aku mendapat kabar Audy telah sampai dengan baik di Jogja di jemput oleh Hamidah. Semoga kebaikan selalu menyertain kalian ya.

Thursday, October 19, 2023

Fantasi

Dunia Dalam Imajinasi, Menjual Mimpi, Meraup Untung.

Buku, film, serial, sinetron, cerita, sebuah komoditas bisnis dalam ranah menjual mimpi, mengisi kekosangan, kabur dari ketakutan, menutup mata dari realita diri. Dari kisah yang dibagikan, dikonsumsi, para penikmat (pembaca, penonton, pendengar) bebas mengembangkan imajinasinya masing-masing berdasarkan ekspetasi, proyeksi, hasrat, kebutuhan, fantasi, ilusi, delusi, dan kecanduannya. Sinetron orang susah mendadak kaya raya, menjual mimpi hasrat orang-orang yang ingin hidupnya berubah drastis. Adengan film yang memperlihatkan keluarga ideal, paras indah, harta berlimpah, mobil bagus, pasangan sempuran, menjual utopian ideal akan kehidupan yang bisa jadi tidak ada di dunia nyata ini. Cerita buku yang mengambarkan persahabatan abadi yang penuh kasih dan kesetiaan, memberika pandangan akan sebuah persahabatan seperti itu. Sekelipun di dunia nyata, banyak kemungkinan yang bisa terjadi atau bahkan terjadi, seperti pengkhianatan, manipulasi, dibohongi, dimanfaatkan, bahkan hanya digunakan sebagai kebutuhan untuk menaikan status sosial, pendukung karir dan bisnis. Tak sedikit yang berinvestasi pertemanan untuk kemudahan bisnis yang orientasinya keuntungan secara finansial. Kisah audio tentang kesedihan, tanpa sadar bisa membangkitkan imajinasi, adanya orang senasib, yang memahami, mengerti, atau malah mendramatisir keadaan nyata yang terjadi. Jika tidak berada dalam kondisi hadir utuh saat ini, menyadari mana dunia nyata dan bukan, hal tersebut bisa menyeret seseorang masuk ke dalam fantasi, ilusi, delusi, hingga obsesi. 

Selain komoditas diatas, perkembangn teknologi memberikan ruang kreasi yang lebih luas dalam ranah penjualan imajinasi. Dari mulai jasa VCS (video call sex), phonesex, teman curhat, teman ngobrol, teman bincang sebelum tidur, hingga jasa menemani sebagai pacar virtual dalam bentuk chat maupun telepon hanya dengan beberapa sentuhaan klik. Untuk jasa yang produknya berbentuk suara dan wajah, para pekerja tetap merasa aman akan indentitasnya sehingga tidak mempengaruhi kehidupan sehari-harinya dan orang-orang terdekatnya. 

Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan manusia lain, rasa keterhubungan, dan intimasi. Tak lain salah satu antisipasi dari kesepian dan depresi, atau justru cara untuk keluar dari itu semua. Manusia memiliki kebutuhan untuk di dengar, berbicara, mendengar, bercerita, hubungan berkelanjutan, ditemani, menemani, dipahami, diterima, dan ruang berekspresi. Termasuk kebutuhan akan keterhubungan satu sama lain secara emosi, pikiran, fisik, spiritual. 

Untuk phonesex dan VCS (Video Call Sex), selain untuk membantu dalam penyaluran birahi lewat mastrubasi ditemani orang secara nyata lewat suara nyata maupun visual untuk membangkitkan imajinasi kesenangan. Jika dipikir, untuk apa VCS? bisa saja ditemani video porno atau film semi, namun jasa ini masih sangat marak. Bisa jadi orang ingin adanya hal nyata di waktu yang sama dengan orang yang memang benaran melakukan itu di tempat lain yang terhubung lewat video call, dengan kata lain orangnya benar ada. Selain itu mungkin bisa dipilih sesuai selera, sesuai permintaan, preferensi, dan hal lainnya yang lebih memuaskan. Tarifnya pun ternyata sangat terjangkau dibanding menggunakan jasa nyata secara fisik yang saling bertemu. Dari 2 jenis layanan yang menjajakan pemenuhan kebutuhan biologis sebagai pelepas birahi, stress, ataupun sebuah kecanduan, yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri hanay dengan menggunakan imajinasi tanpa perlu stimuli dari orang lain dan membayar. Hal ini memperlihatkan adanya bergama faktor, entah kemampuan imajinasi orang yang berbeda-beda atau hal lainnya: ada yang kuat dan mampu sendiri; ada yang butuh di stimuli langsung secara visual, suara, ataupun keduanya; ada yang butuh ditemani secara nyata selama prosesnya, ketakutan zina jika dilakukan langsung, masalah biaya, rasa kesepian yang begitu pekat, dan perhitungan lainnya. Itu semua yang dijual adalah imajinasi, fantasi, ilusi, delusi. Karena pembeli jasa tak kenal apapun secara nyata dengan memberikan jasa. Mereka bebas membangun kisah, imajinasi, cerita yang saling dikembangkan untuk tujuan kepuasan diri. Dari mata dan telingga, di proses di kepala, terealisasikan lewat tubuh dan genital. 

Untuk teman ngobrol, teman bicara, teman curhat. Sekilas terkesan miris, masa iya ada orang yang sesedih itu, se kesepian itu, sesendirian itu. Realitanya ada, dan banyak. Jikapun ada yang memiliki teman, belum tentu temannya bisa diajak ngobrol, curhat, bicara di momen yang sangat dibutuhkan. Jikapun ada, belum tentu bisa menemani sesuai kebutuhan, karena teman memiliki prioritas dan urusan lainnya. Apalagi saat usia sudah 20 tahun ke atas, dimana secara psikososial dalam tahap membangun intimasi, merantau sendirian ke tempat asing, teman-temas sudah berpasangan, waktu dan biaya bersosialisasi kurang, tahapan psikososial tersebut menjadi sangat berat. Sehingga kebutuhan akan layanan ini pun semakin meningkat, apalagi bayar, setidaknya orang yang dibayar punya tujuan memuaskan dan menyenangkan pembeli. Kalau ngobrol dengan orang lain secara nyata, mereka tidak ada tanggung jawab itu, mereka bisa respon susak hatinya, dan belum tentu responnya baik, bisa jadi malah jadi debat, konflik, atau pengalaman tak menyenangkan hati. Ya teman ngobrol ini sebenarnya sudah ada dari lama. Di tahun 90an ada sahabat pena, lewat internert ada MIRC, kemudian 2000an ada yahoo messanger yang populer. Orang bisa terhubung dengan siapa aja, mengobrol, bercerita, curhat, dan dua arah. Bedanya kita terhubung secara alami karena tidak ada yang dibayar dan membayar. 

Jasa-jasa tersebut dianggap aman, jika dibandingkan dengan aplikasi kencan. 

Tuesday, October 17, 2023

Perubahan

Awalnya, aku sangat terbuka. Bercerita di blog, soscial media dibuat public. Sampai di momen, menjadi jujur dan terbuka dalam era teknologi seperti sekarang menjadi ancaman tersendiri bagi diri sendiri. Ditahun 2011 aku mulai menghapus social mediaku secara permanent satu persatu hingga hanya menyisakan satu sosial media dan ini. 2017 aku mulai membuat akun sosmed private. Sekalipun approve orang-orang baru, setidaknya orang yang pernah aku temui secara langsung meski sekali (entah di acara, pesta, atau apapun itu). Di beberapa tahun sempat malah menulis, berbagi, dan membuka diri di blog. 

Ada 2 aplikasi komunikasi yang digunakan. Whatsapp dan telegram, Itu pun aku baru tahu ternyata banyak yang mengunakan telegram untuk hal-hal tak senonoh. Dikala aku tau telegram gara-gara jaman pandemi banyak ikutan webinar, seminar, kelas-kelas, yang materinya di share di telegram. Bagiku telegram isinya kaya aplikasi sekolah, banyak materi dan ajang belajar bersama. Dan menariknya, semua data yang disimpan di telegram itu benaran tersimpan dengan baik dan rapih. 

Yang aku amati, banyak sekali orang-orang yang kenal di dunia nyata namun sebenarnya tak mengenal diri, yang mencari informasi lewat sosial media. Lalu mereka membentuk asumsi, menyimpulakan, dan memiliki judgement tersendiri dari hasil proyeksi pikirannya sendiri. Yang sebenarnya untuk apa? jika yang ingin diketahui adalah kabar orang, ya tinggal tanya langsung "apa kabar? dmn skrg? sibuk apa?",. rasanya lebih manusiawi dan beradab. Apalagi jika itu dilakukan oleh kerabat. Lain halnya saat strangers yang kepoin, ya buat apa juga sih sebenernya, ya urusan orang deh.

Sudah lama pula ku tak penasaran dengan kehidupan orang lain. Tak bergeming dengan yang di lakukan orang lain. Tak menghasilkan iri atau kesedihan dari postingan2 orang. Ya intinya, orang yang benar-benar bahagia dengan hidupnya, ia akan sibuk menikmati tanpa kepikiran untuk share atau posting. Dan saat kita menggunakan media sebagai ajang eskpresi diri, gak akan ada cerita kesinggung, kesenggol, jikapun ada yang jahat, ya dibiarkan saja seperti anjing menggongong. Point of view ku saat ini sih itu. 

Fake Account

Mungkin dalam dunia yang serba instant dan bisa diakses dari mana saja, apalagi semua tersedia daam layar melalui jaringan internet, banyak sekali yang menggunakannya secara tidak bertaanggung jawab. Mungkin hal tersebut terjadi karena banyak orang yang muak akan hidupnya, tidak bahagia, memiliki hasrat-hasrat yang dinilai butuk dalam society, mememnuhi kebutuhannya akan uang dan lainnya dengan cepat, dimana itu semua ingin mereka keluarkan dengan cara aman tanpa merusak kredibilitasnya di dunia nyata. 

Misal, date app, kadang heran aja ngapain orang pake foto palsu, nama palsu, identitas palsu. Rasanya kalau intentionnya baik, benar, dia akan bertanggung jawab atas segala perbuatan, sikap, perkataannya sesederhana menggunakan nama dan foto asli yang bisa di googling, bisa diketahui dan terbuka akan latar belakangnya sesederhana pekerjaannya, kantornya, lulusan mana, tingga dimana. Anehnya lagi, jika ditanya kerja dmn dan kuliah dimana, banyak yang tersinggung dan nge cut atau bahkan jadi kasar, padahal itu pertanyaan standard dan biasa. Ada juga yang pakai foto orang lain (mempermaikan imajinasi orang lain), pakai nama palsu dan memberikan nomer handphone yang memang khusus untuk main-main irresponsible. Itu baru dari date app, dimana tidak ada mutual friends sama sekali, jadi orang bebas berbuat apapun tanpa perlu bertanggung jawab. Begitupun di platform yang jelas-jelas orang yang kenal, ada mutual friendsnya, atau bahkan hanya strangers, banyak yang tutur kata, komentar, sikap, perilakunnya tidak baik, tidak jarang pula mencibir dengan nama anonim (tidak berani menyebutkan nama asli/ emailnya). 

Menarik, seberapa banyak orang yang sebenarnya bermental pengecut, cari aman, berantakan di dalamnya, self centered, penuh kebencian, memiliki dark side yang sangat merugikan orang lain yang bertebaran dan terbentuk di masa sekarang?

Kalau kembali ke tahun 90an, jaman sahabat pena. Sesungguhnya aku lupa bagaimana awal sahabat pena ini dimulai. Setidaknya, kita benar-benar bisa tahu alamat rumah orang yang kita interaksi meski belum pernah atau tak bertemu secara langsung. Bahkan jaman dulu, semasa telepon rumah masih aktif, kita bisa mencari di buku kuning tentang pemilik nomer itu dan alamat rumahnya. Jaman sekarang, kita tidak bisa melacak identitas (lokasi, alamat) orang-orang yang memiliki nomer handphone sekalipun saat registrasi wajib memasukan no ktp dan kk. 

Semua telah berubah, entah for good or bad, yang pasti dari semua itu, kembali untuk menjaga diri dengan lebih ketat, lebih waspada, lebih hati-hati. Dimana ini semua bisa melahirkan trust issue satu sama lain. Dan kadang saking tidak percaya dengan orang-orang baru, dunia luar, kita menaruh kepercayaan lebih pada orang-orang yang sudah dikenal lama, satu sekolah, satu komunitas, satu tempat tinggal, satu naungan, dimana kita juga tidak pernah tahu apakah mereka memang benar-benar baik dan bisa dipercaya, atau hanya menggunakan topeng, manipulatif, dan ya begitu saja. 

Beruntung

Suatu sore sampai di sebuah tempat para satu darah berkumpul. Baru saja ku langkahkan kaki ini masuk, terdengar suara sebaya "kamu beruntung". Entah apa yang sedang mereka para lintas generasi bicarakan tentangku sebelumnya. Saat itu, hanya muncul reaksi spontan "enak saja hidupku sebatas beruntung, aku bekerja kerasa untuk semuanya". Ternyata ada perasaan ingin dilihat, dihargai, diakui, di validasi, di puja. 

Sepulang perjalanan panjang keliling Asean, bertemu seorang kenalan di sebuah tempat makan. Ia bercerita banyak hal, tanpa sadar aku jadi bercerita tentang pengalaman perjalanan kemarin. Lalu ia berkomentar "wah beruntung banget kamu, biasa bareng orang yang se menjaga itu". Padahal saat itu aku sedang meluapkan kekesalan dengan teman jalanku. 

Ada suatu kejadian besar dalam hidup, terpontang panting tahunan dalam lumbang kegelapan, kesempitan, penderitaan, kesulitan, dan kegundahan hati tak berharga nan sedih yang tak kunjung selesai. Hingga akhirnya muncul sebuah clarity yang langsung aku lakukan untuk menyelesaikan itu semua. Semua orang yang aku require saat itu datang semua membantu. Hingga keluar "ya ampun, semesta sayang banget sama lo. ini maps nya aja jadi ngarahin ke arah rumah lo" saat teman sudah frustasi berjam-jam di jalanan macet dan arah rumahnya bertolak belakang denganku. 

Bercerita pada seorang kolega, direspon "kamu sadar tidak, kalau kamu itu beruntung?"
Tiba-tiba semua memory muncul dan menyadari banyak hal. Hal lampau yang sering orang sampaikan padaku, yang aku kesal mendengarnya, yang netah dari mana mereka melihat itu sebagai suatu keberuntungan, ternyata banyak sekali keberuntungan yang tidak aku sadari dan mungkin lupa disyukuri. 

17/10/23

Hujatan, hinaan, judgement, rejection, humiliation, abuse, betrayal, abandonment, sihir, rasa benci, tak jarang kudapati itu semua. Begitupun dengan rasa sayang, bantuan, kebaikan, ketulusan, pertolongan. Kadang bertanya-tanya, aku ini apa? siapa? bagaimana bisa banyak orang yang tak suka dan banyak pula yang senang. Hingga di momen menyadari, orang suka dan tak suka, baik dan jahat, sayang dan benci, apapun yang mereka lakukan padaku meski dalam level energy (di pikiran, batin, perasaan) bisa jadi murni keputusan dan pilihan mereka masing-masing. 

Working on Self

Rasanya sangat terlambat sekali baru menyadari ini semua di usia sekarang.
Apa yang tercipta jika sejak usia 3 tahun semua intuisi, awareness, willingness diberi ruang untuk direalisasikan secara maksimal dan mendapati semua yang diri require seperti tanaman yang cukup cahaya, air, udara, pupuk, dan disayang.

Banyak hal terjadi, saat kembali ke memory itu, rasanya seperti keajaiban bisa bertahan dan melewatinya. Banyak sekali orang-orang asing dari arah tak disangka-sangka yang hadir menemani, membantu, dan membukakan pintu selanjutnya. Sayangnya, saat itu banyak sekali hal yang masih konslet di diri, rejection ku terhadap orang-orang yang kind for me besar, dan sabotase diri akan keberhasilan tinggi sekali dan sering dilakukan tanpa sadar bahkan sadar.

Waktu terus berlalu, kesadaran bermunculan, rasa bersalah semakin besar.
Hingga akhirnya ada jalan lain yang terbuka. Melepaskan segala rasa bersalah.
I am working on myself now. 

Sunday, October 15, 2023

Clubbing

Entah ada stigma dan judgement apa saja yang beredar dalam society ini tentang clubbing dan partying. Ada sebagian yang sangat melarang, ada yang membolehkan, ada yang takut, ada yang santai, ada yang apatis, ada yang biasa saja, ada pula yang tak peduli bahkan tak tahu. 

Dictionary.com defines “clubbing” as the activity of going to nightclubs, especially to dance to popular music, drink, and socialize.

Sebagai yang tumbuh di lingkungan penuh norma, dogma, religius, clubbing dianggap hal buruk, negatif, haram, sesuatu yang perlu dijauhi. Tak ada pengalaman partying dan clubbing di masa remaja. Selain dogma, ajaran, serta larangan; ada faktor internal seperti malu, tidak berani menari, tidak berani mengekspresikan diri, belum percaya diri, dan lain sebagainya.

Hingga suatu saat, saat energy sedang tinggi, hasrat untuk bergerak melonjak, butuh kanal untuk mengalirkan energy tersebut dalam bentuk gerak fisik yang biasanya dilakukan lewat traveling yang aktif secara fisik. Akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah club dan clubbing. Saat itu, tidak tahu harus apa, kemana, pakai baju apa, ada aturan apa saja, belum berani sendirian karena minim informasi dan ketakutan atas segala rumor beredar tentang dunia malam. Singkat cerita, ada seorang kenalan di sosial media (stranger) yang menemani, pertamakalinya aku pergi bersama orang asing di pertemuan pertama. Kenalan ini cukup expert di dunia seeprti itu. Singkat cerita kami janjian bertemu di depan club yang telah disepakati. 

Club pertama yang dikunjungi tergolong club menengah yang mayoritas isinya anak muda selebgram. Tempatnya kecil, penuh, banyak orang merokok, berdesakan, padat. Dan disitu pertamakalinya aku mengerakan badan mengikuti irama tanpa ada rasa malu apapun, tanpa perlu tipsi dahulu. Rasanya benar-benar bahagia 2 jam nonstop, bahkan ingin lanjut ke tempat lain karena masih banyak energi. 

Dalam keadaan being present, mindfull dengan beat berat dan connect dengan badan sendiri lewat gerak, disitu awarenessku malah meningkat. Aku jeli mengamati sekitar, merasakan yang terjadi di sekeliling tanpa berdampak padaku. Ternyata di club itu banyak sekali orang yang tak percaya diri, yang tak berani sendiri, yang merasa keren karen pergi rame-rame dan bagian dari kelompoknya, banyak yang tak berani gerak kecuali telah tipsi, ada yang takut, dan lainnya. Begitupun dengan hidden agendanya, beragam. Ada yang kesepian, pelarian, bingung, tak tau tujuan hidup, mengisi waktu, ikut-ikutan, takut tidak punya teman, jualan, cari mangsa, dll. Bagaimana aku bisa tau? ketika kamu sensitif, highly aware, or empath, you will know that effortless. Kalau tidak percaya dengan informasi yang hadir, ya tinggal make sure aja ajak ngobrol orang random atau tanya-tanya santai.

Kembali ke topik, 
Sepulangnya clubbing perdanaku, aku bahagia sekali. Benar-benar merasa bebas, semakin nyaman dengan diri sendiri, semakin terkoneksi dengan tubuh sendiri, rasanya bahagia sekali. Bahagia karena memenuhi apa yang tubuh butuhkan sebenarnya. Dari pengalaman itu, banyak sekali hal yang dipelajari dan membuat sadar. Diantaranya: belajar fokus pada diri sendiri apapun yang terjadi di dunia luar dan di luar diri. Saat clubbing, aku benar-benar aware semua hal tanpa terdistraksi sama sekali. Wow. Bagaimana jika attitude itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apa yang akan tercipta?

Sebagai yang sering melakukan olah fisik, mulai dari beres-beres rumah, jogging, jalan kaki, nge gym, yoga, renang, muaythai, backpakeran, clubbing menjadi salah satu kanal mengalirkan energy dan olahraga dan meditasi paling efisien untukku. Fisik bergerak dan ada kehidupan sosial sekalipun datang sendiri. Sempat ada pikiran "dari dulu, body ku udh aware require ini tapi gak pernah kesampean dan gak diikutin, coba kalau tahu sejak awal, semenjak sma atau kuliah misal, bisa nge boost area kehidupan lainnya seberapa jauh ya?", Sampai di momen, yang sudah ya sudalah, nikmati saja segala possibilities yang hadir dan keadaan saat ini. 

Oke, mungkin aku akan me review beberapa club yang pernah di kunjungi terkait desain, interior, lighting, sirkulasi, flow activity, hingga observasi human behaviour dan lainnya. Btw, sehabis pengalam pertamaku ditemani stranger expert itu, aku pergi clubbing sendirian benar-benar sendiri dan totally everything okay baik secara personal (secure, pede, nyaman, aman, happy) maupun internal (hal2 selama clubbing, di lokasi, dll nya). 

Tips: punya tujuan yang jelas dan tau apa yg dimau. 
Misal, aku clubbing karena dengerin apa yang badan butuhkan (gerak, mindful, bersosialisasi), dari situ cek apa yang diri mau, mau club kaya apa, yang isi orang-orangnya seperti apa, yang music nya bagaimana, aksesnya, lokasi, dll. Setelah diputuskan, saat di lokasi yang lakukan hal-hal sesuai tujuan: dancing. Jadi gaka da cerita mabuk, gak ada cerita dibungkus, ga ada cerita bingung mau ngapain. Karena saat kita sudah jelas dengan tujuan dan tau apa yang dicari, ada boundaries yang otomatis berjalan dan seperti ada pancaran energy dalam diri yang ditangkap orang sekitar, alias gak ada orang yang berani macem-macem (di aku sih gitu ya), malahan sejauh ini sering ketemu orang2 yg baik, bantu sesuatu, dan menyenangkan. 

Instropeksi

Aku berada dan tumbuh dalam lingkungan yang melihat semua dari kacamata penilaian, benar salah, harus menjelaskan, harus dikasih tau, harus ini itu lainnya. Tak jarang saat dua orang atau lebih bermasalah, mereka saling berteriak menyuruh "instropeksi". Dan aku menangkap instropeksi itu sebagai bentuk blamming, kabur dari masalah, merasa dirinya benar dan orang lain yang disuruh instropeksi yang salah. Dan tak jarang, sering sekali aku disalahkan. Hingga sering ke trigger saat disuruh isntropeksi. Sampai di momen sadar, instropkesi itu bentuk mengevaluasi diri untuk perkembangan yang lebih baik, bukan untuk mencari apa yang salah apda diri dan memperbaiki. Namu untuk melihat semuanya secara objekti dari kacamata orang ketiga, mengamati diri sendiri, hingga menghasilkan kesadaran akan sesuatu termasuk tentang pola. 

Misal, saat berada dalam relasi tak sehat yang beracun. Lalu di suruh instropeksi dalam konteks mencari kesalahan diri untuk di perbaiki, hasilnya malah memperparah keadaan. Saat menganti definisi instropkesi untuk kebaikan diri, saat dilakukan, maka akan sadar ternyata diri berharga, ternyata diri terlalu baik, ternyata diri terlalu percaya dan melihat semua hal dari sisi baik, hingga mudah meaafkan orang, mudah masuk ke relasi beracun, sulit keluar dari relasi tak sehat. Dari situ muncul kesadaran akan diri sendiri, tentang apa yang layak untuk diri, dan dengan mudah merubah pola. Pola yangs ering memilih relasi satu arah , tak sehat, abusif, ke relasi yang penuh respect, mutual, dan sehat.

In my perosnal opinion, aku lebih memilih kata "kontemplasi" daripada "instropeksi". Entahlah masih memiliki judgement apa terhadap kata "instropksi", dia aku masih menyisakan energy untuk menacri kesalah diri, memeprbaiki, dan menyalahkan diri sendiri. Bagaimana jika tidak ada yang salah? hanya belum sadar saja. Bagaimana jikam tidak ada yang rusak? hanya tak sempurna saja. Kalau kotemplasi, buat ku sebagai ajang me review semua hal yg terjadi, mengamati secara objekti, membuka ruang kesadaran, dan memilih hal berbeda. 

Rejection

Banyak sekali orang yaang menolaku. Entah apa yang mereka tolak.

Saat aku masih menaruh keberhargan diri pada penerimaan orang, 
Saat masih ingin seperti orang lain yang kaya akan penerimaan dan kawan,
Saat masih terdoktrin segala dogma harus menjadi orang yang disukai,
Saat masih setuju dengan pikiran bahwa ditolak itu buruk, ada yang salah dengan diri, diri buruk, diri tak layak, diri tak menarik, diri tak layak dicintai, diri tak berharga, dan lainnya,

Penolakan-penolakan yang orang lakukan apdaku baik secara halus, kasar, dibuang, diabaikan, dikucilkan, di jauhi, dipermalukan, di aniaya secara psikis, di sakit, di sisihkan, rasanya sangat menyakiti, membuat diri semakin merasa buruk, terasing, mengisolasi diri, dan tak jarang masuk ke dalam lembah depresi.

Hingga akhirnya aku sadar,
apapun yang dilakukan orang, tak ada hubungannya dengan diri.
Mereka menolaku karena mereka tidak dapat menerimaku, entah apa alasannya, itu urusannya.
Mereka menolaku karena tidak kuat dengan energy ku yang kadang terlalu besar ataupun intense. 
Karena ternyata, untuk orang-orang yang mampu melewati barrier emosiku, yang kuat dengan intensitas ku, yang energy nya sebanding bahkan lebih, mereka mampu menerimaku, bahkan nurturing and guiding.

Juni 2022

A: aku merasa terabaikan saat kamu tak membalas pesanku hingga hitungan hari, minggu, bahkan tak pernah ada respon, balasan, dan kejelasan apapun. Dan ternyata itu semua mempengaruhi self worth ku. Aku merasa tak berharga saat kamu mengabaikan ku berkali-kali, terus menerus. 

Pesan yang entah dibuka, dibaca, tak terbaca, atau di abaikan.

Seminggu kemudian,
X: aku gak pernah mengabaikan kamu. aku selalu excited tiap kamu kontak dan respon. Cuma aku bingung. Aku gak kaya kamu, aku ngomongnya emang dikit.

Lalu diabaikan kembali, tanpa pernah ada percakapan tektok responsif dan ending tuntas.
Esoknya, nomerku dhapus dengan hilangnya foto dirinya. 

"Tentang Kita"

A: (bercerita tentang harinya penuh emosi)
mendadak terpotong
H: tentang kita, kita tidak ada hubungan apa-apa kan?
H: kita tidak akan ada hubungan apa-apa kan ke depannya?
A: (diam seketika) aku tidak pernah ada pikiran apa-apa, tidak ada perasan apa-apa, bahkan tidak menganggap ini semua, apa yang terjadi diantara kita, semua relasi dan hubungan emosi yang ada sebagai sesuatu yang lebih. Aku tak ada pikiran apapun. Aku kira kita dari dulu hingga nanti akan begini.

Dan esoknya ia memblokir nomerku, entah apa yang ada dipikirannya. Krena buatku semuanya seperti teman baik yang saling peduli, mendukung, dan menyayangi.

Tak ada rasa kesal, benci, marah, atau hal lainnya. Tak ada perasaan ditolak, dibuang, ataupun dijauhi. Bagiku semuanya terasa sama. Karena aku tak pernah menaruh attachment apapun padanya.

Tak ada perasaan ingin menghubunginya, menjalin interaksi kembali, atau apapun. Buatku tak pernah ada masalah diantara kita, tak pernah ada hal-hal yang perlu dibatasi, ditolak, diberi jarak, ataupun disudahi.

Saat dua orang memiliki kesetaraan dalam emosi, intelektual, memiliki frekuensi yang sama, emosi yang terhubung, empati yang kaya, apakah hal-hal tersebut harus berakhir menjadi sesuatu?