Wednesday, March 11, 2026

Maturity and Being Wise

 Banyak pemimpin yang cerdas, capable, gesit, dan sangat logic. Sekali melihat masalah, logikanya langsung jalan, cepat memberikan penilaian dan keputusan. Semua dilihat dari apa yang terlihat dan diputuskan berdasakan logika tanpa banyak variable.

Contoh sederhana:
Naik taxi, nunggu lama, drivernya banyak nanya, gatau jalan, nyasar,  telat.  Maka dengan mudah langsung memberikan penialain performa bintang 1. Secara logika benar, melihat hanya di momen itu dengan variable waktu dna knowledge driver.  Dibalik itu semua, ada variable lain yang berkontribusi tentang sikon dan dampak penialainnya  karena bintang 1 langsung bikin di suspend, dll. Penilaian hanya dilihat lewat kejadian saat itu. Tapi penilaiannya bisa berdampak panjang untuk kehidupan orang lain. Dan ini tidak hanya tentang profesionalitas, karena driver pun manusia yang kehidupannya dinamis, flukturatif. Dan jangka waktu sependek itu, kurang bijak untuk memberikan penilaian keseluruhan tentang seseorang dan pekerjaannya.

Begitupun sata di pekerjaan, banyak bos-bos muda yang cerdas, cekatan, dan mampu memimpin sistem bergerak sesuai tujuan perusahaan. Namun ada kebijaksanaan yang luput. Kebijaksanaan tentang cara menyampaikan kritik, dignity orang lain yg perlu di jaga, cara memanusiakan manusia, variable-variable lain, situasi kondisi, kemampuan melihat dari sudut pandang orang lain, penilaian yang komprehensif. Kalau diamati, hanya sebatas objek, 2-3 variable, selesai. 

Misal: ada pegawai baru tanpa info jelas, target, job list, dan expetasi yg disampaikan di awal, dikenalkan ke sistem, struktur organisasi, ke orang-orang satu divisi diharapkan tau semuanya. Tau apa yg dikerjakan, tau sejauh apa, tau harus ngapain, tau budaya kantor seperti apa, tau alur informasi dan hirarkinya, tau pikiran dan expetasi bosnya. 

No comments:

Post a Comment