1 January 2026 pagi aku check out dari penginapan menuju bandara untuk pulang. Sebelum ke bandara, aku mampir ke toko oleh-oleh. Lalu pesan gojeg agar perjalanan lebih cepat dan murah. Selama perjalanan, drivernya cerita kalau jalana sepi, driver-driver tepar semalaman kerja sampe subuh, akan sulit dapat ojeg maupun taxi online. Dia pun menawarkan untuk ditungguin di te,pat oleh-oleh dan mengantarkan ke bandara. Seketika aku sempat merasa panik dan takut untuk susah dapat driver karena sedang buru-buru dan waktunya mepet. Saat diri lebih tenang, lebih jernih, akhirnya kembali ke keinginan diri untuk pakau mobil ke bandaranya (bukan ojeg-motor), akhirnya aku tolak "nggak deh mas, makasih, saya sampe sini aja gak usah ditungguin". Setelah berbelanja, saya pesan taxi online dan langsung dapat dengan cepat nan mudah.
Dari kejadian itu tiba-tiba muncul kesadaran tentang "ketakutan". Emosi adalah barang dagang paling laku apalagi rasa takut. Mulai dari asuransi, kecantikan, sekolah, dan bayak hal lainnya yang memanfaatkan rasa takut manusia untuk mendapatkan keuntungan. Banyak manusia yang takut jelek, takut ditinggalin, takut kesepian, takut diabaikan, takut gak pasti, takut susah, takut gak dapet dan telat, takut tidak berguna, takut miskin, dan keytakutan-ketakutan lain dimana itu lahan basah untuk bisnis, Ya, memanfaatkan rasa takut dengan menjual ilusi rasa aman lewat suatu produk. Hal keculnya seperti yang dilakukan driver ojeg dengan mengkaitkan fenomena tahun baru yang ramai dan banyakk gojeg yang tepat, lalu memanfaatkan kepanikan saya ngejar pesawat, dan menjual rasa takut dengan menawarkan rasa aman dengan nungguin saya untuk lanjut ke bandara.
Ya, tidak ada yang salah dengan rasa takut amupun pihak lain yang memanfaatkan rasa takut diri untuk keuntungannya. Yang perlu disadari adalah adanya emosi takut tersebut, menerima ketakutan diri, dan berfikir jernih, makan kita akan bisa membuat pilihan yang memang align dengan keinginan diri, tujuan, dan jiwa.