Saturday, August 1, 2026

Progress #2

Dulu ada teman kuliah yang sering traveling bareng. Aku anggap dia teman, karena sejurusan dan sekelas juga. Tapi tiaap traveling dia selalu membuat boundaries yang terasa seperti benteng yang tinggi. Tidak ada percakapan selain hal teknis, tidak ada cerita-cerita hati ke hati, tidak ada bonding, banyak judgement yang bikin tidak bisa bebas jadi diri sendiri. Setelah traveling, selesai seperti relasi pilot dengan penumpangnya, penjual dengan pembelinya, psk dengan kliennya. Saat traveling dia cukup baik meski banyak sekali benteng yang terasa, setelah traveling hilang begitu saja. Tidak bisa cerita keseruan trip kemarin, ngobrol-ngobrol, atau sekedar meet up bareng. Dari awal rasanya sudah tidka enak, tapi diri simpan sendiri.

Waktu berlalu, tahun berganti. Samapi di momen tiba-tiba ketemu banyak strangers sata traveling dan kita beneran temenan. Setelah traveling masih suka ngobrol, kalau ke kotanya terbuka untuk bertemu dan main ke tempatnya, ada yang nikah pun diundang, tidak menolak saat diri curhat, hadir di momen senang dan saat sulit. Disitu akhirnya sadar kalau perasaan selama ini dengan teman kuliah itu valid. Karena normlanya dengan orang lain yang pure intention ya tetap berinteraksi dan terbuka beterman, tidak hanya sata travelingnya saja. Lalu terjadilah ledakan, dia nge cut, aku masih ngejar untuk berteman. Ya, itu dulu.

Banyak sekali kejadian seperti itu, 
One sided realtionship/friendship, relasi yang tidak seimbang, mutual, setujuan, sama effort dan respect, pengkhianatan, dll. Dulu masih sabar nahan-nahan diri digituin orang, masih ngejar-ngejar pula saat sudah ditolak dikala awalnya dia yang harming, masih sedih-sedih kok orang begini begitu meski logika bisa mikir jernih. 

Sekarang, semua berubah.
Aku tidak pernah mengejar lagi orang-orang yang menolak, jahat, dan memperlakukan diri dengan buruk; sudah tidak sibuk menjelaskan dan memperbaiki relasi yang cuma diri sendiri yg berusaha; tidak memilih orang-orang yang tidak memilihku lagi. Aku sudah bisa melepaskan hal-hal yang sudah tidak baik, tidak relevant, dan selesai. Kmempuan "melihat"ku menjadi lebih tajam nan jernih; mampu melihat see is what is it, mampu menerima kenyataan meski pahit dna tidak sesuai dengan "ilusi" harusnya begini begitu; keputusan yang dibuat pun selaras dengan logika, tubuh, dan jiwa. 

-----

Dari banyaknya pengalaman hidup yang hadir dengan sangat beragam dan tak terduga; banyak sekali pembelajaran dan kesadaran yang di dapat. Begitupun tubuh experience dan belajar hal baru. 

I feel so grateful.