Monday, January 18, 2021
Normatif
Saturday, January 16, 2021
Cinta yang tak selesai (2)
Hari demi hari berganti, menanti yang tak kunjung datang.
Saturday, January 9, 2021
Hidup
Hidup seperti berada dalam sebuah permainan, dimana diri harus terus bergerak untuk sampai ke tujuan. Melewati level demi level hingga finish. Dalam setiap level, tantangan dan kesulitannya pun berbeda. Selalu ada hal-hal baru yang sebelumnya tidak dikenal dan belum pernah diatasi dan teratasi. Ada batas yang ditentukan yakni waktu dan "nyawa", saat habis batas waktu ataupun nyawa, diri perlu mengulang lagi dari awal. Adapun bantuan yang ditawarkan yang dihasilkan dari jumlah poin yang di dapat di level sebelumnya ataupun di sesi bonus time. Dimana bantuan tersebut bisa digunakan di hal-hal mendesak untuk akhirnya bisa diatasi dan naik level.
Untuk melewati setiap level, dibutuhkan modality, strategi, tindakan yang tepat, skill, dan banyak hal lainnya. Ada level yang mudah, ada yag sulit. Ada level yang sebelumnya mudah, pas diulang jadi lebih sulit ataupun sebaliknya. Dalam sebuah permainan, kita tidak bisa memaksakan pemain lain untuk segera melewati suatu level dengan cepat, keculi jika kita yang mengantikan ia bermain. Karena kemampuan setidap orang berbeda, kita hanya bisa memberikan saran, masalah berhasil atau tidak tergantung kecakapan pemain itu sendiri.
Sama dengan hidup, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk cepat move on, untuk mendapatkan closure nya sendiri, untuk tidak banyak berfikir, untuk melepaskan traumanya, dan segala nasihat-nasihat yang sebatas omongan tanpa tindkan nyata seperti support, pemberian rasa aman, validasi, comforting, diskusi, membimbing, dan menemani secara konsisten. Bagi kita yang pernah mengalami marahnya patah hati dan butuh tahunan untuk merelease rasa sakit hati, pengkhianatan, kehilangan, mencari closure yang tak pernah diberikan, membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri, merapihkan self esteem, menerima keadaan, me-release segala emosi, melepaskan trauma, bukanlah hal mudah dan sesingkat bersin. Sekalipun solusinya adalah tentang penerimaan alias "menerima", realitanya butuh proses sampai ke tahap tersebut, dan proses setiap orang akan berbeda-beda. Tergantung dari ketahan dirinya, tingkat luka batinnya, histroy sebelumnya, luka-luka sebelumnya, lingkungannya, support systemnya, masalah-masalah lainnya yang sedang dihadapi, keadaannya, dll. Misal, ada orang putus cinta, dan level ketahanan mentalnya sama. Yang satu punya sahabat, keluarga, financial secure, kehidupan sosial sehat, fisik oke, prosesnya bisa lebih "smooth", sedangkan yang satu hidup sesendirian, gak punya temen dekat, gak ada keluarga, struggle sesendirian bahkan untuk cerita melepaskan perasaannya aja tidak ada orang yang bisa dan mau mendengarkannya, ditambah dia sedang ada masalah lain, misal secara finansial lagi sempit, jobless, fisik gak bisa jalan habis kecelakaan. Prosesnya akan berbeda. Yang sesendirian bisa lebih lama dari yang punya support system, bisa juga lebih cepat prosesnya karena masalah-masalah hidup lainnya jauh lebih ribet dan berat dari urusan hati, jadi groundingnya lebih cepat dan lebih mudah move on.
Saat diri berhasil menyelesaikan suatu level, maka akan naik ke level berikutnya. Indikasi naik level adalah ketika hal-hal yang dulu menjadi masalah menjadi hal yang netral biasa aja, tanpa trigger, tanpa lonjakan emosi, tanpa beban. Meski itu menjadi masalah, namun menjalaninya lebih ringan dan yaudah aja. Selain itu, salah satu indikasinya saat ada pemahaman yang di dapat dari proses sebelumnya. Saat sampai ke titikitu, maka bersiaplah untuk ujian selanjutnya, tentunya dengan masalah dan ujian yang lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada ujian siapa yang lebih berat ataupun ringan, tidak bisa dibandingkan. Karena setiap orang memiliki ujian sesuai kemampuannya masing-masing dan dalam takaran yang adil menurut Tuhan. Misal, buat orang yang tidak punya trauma pengkhianatan, hubungan ortunya harmonis, saat di selingkuhi, dia bisa lebih mudah melewati, legowo dan yaudah putus, selesai. Buat orang yang sebelumnya ada insecurity dalam hubungan, beberapa kali dikhianati hingga trauma, tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dan ada kasus perselingkuhan, saat diselingkuhi, reaksinya akan lebih intense bahkan menghasilkan masalah baru lainnya, seperti depresi, psikosmatis, bolak balik opname, nambah trauma baru, dan ngembet kesana sini efeknya. Ujiannya sama: diselingkuhi, dampaknya bisa berbeda, karena history dan keadaan setiap orang berbeda.
Ada orang yang stress gak kerja, stress karena punya insecurity finansial, ada yang stressnya karena kehilangan ruang aktualisasi diri, ada yang stress nya karena kehilangan kehidupan sosial, ada yang stressnya karena gengsi. Kasusnya gak kerja, reason stress nya berbeda-beda. Kalaupun reason stress nya sama, intensitas dan dinamika sebelumnya pasti beda.
-------------
Ada hal-hal yang dulu menjadi sebuah masalah besar, sekarang hanya butiran debu yang tak diperhitungkan keberadaannya. Bukan masalahnya yang mengecil, namun jiwa dan wawasan yang menjadi lebih luas, sehingga yang sebelumnya terlihat besar menjadi kecil.
9/1/21
Sang senja menghantarkan langit.
Biru berangsur jingga
Meredup berganti terang.
Isak tanggis dalam kesunyian
Melebur dalam diam
Hanya cinta yang tersisa.
Thursday, December 31, 2020
Catatan 2020
Mengantar Tuan Putri pulang (2)
Desember 2020
| pulau padar, desember 2020 |
Thursday, December 24, 2020
Mengantar Tuan Putri Pulang (1)
Saturday, December 12, 2020
Wednesday, December 9, 2020
Berkoloni
9/12/20
Bergelut dalam kesepian, gejolak, kesedihan, kehilangan.
Tempat yang tenang, sunyi, namun banyak orang.
Tempat yang menghadirkan password wifi ajaib,
Sekarang kembali lagi kesini dalam keadaan diri yang berbeda.
-BlancoCoffeeShop.Jogja-
8/12/20
Hari ini saya belajar tentang pentingnya kata-kata:
Say hallo
Say Thank You
Say Goodbye
Meningkatkan perasaan dihargai, dianggap ada, di apresiasi, diterima.
Sunday, December 6, 2020
03:00
Cinta yang tak selesai
Monday, November 23, 2020
Giver or Taker?
Menolong orang adalah hal yang bisa dilakukan semua orang yang memiliki kemampuan untuk menolongnya dan setiap orang punya hal yang bisa ia lakukan untuk menolong orang. Menolong rasanya membahagiakan, bahagia saat melihat orang lain bisa keluar dari masalahnya, bis ajuga bahagia karena self esteem naik dan feeling good about self.
Aktivitasnya sama (menolong), jenis manusia yang melakukannya beda.
1. Tipe altruism (giver)
2. Tipe egois (taker).
Tipe altruism. giver, dia menolong murni untuk kebaikan orang yang ditolongnya, terlepas orang yeng menolongnya tau terimakasih ataupun tidak. Fokusnya untuk kebaikan orang lain, bukan untuk dirinya. Lain halnya dengan tipe egois/taker, ia menolong orang untuk kepentingan dirinya bahkan mengambil manfaat dari orang lain. Misal, ada seorang nolong orang yang kesulitan agar dirinya merasa hebat, superior, self esteem nya naik, dan ngambil manfaat dari keadaan orang yg sulit dengan bikin orang tersebut berterimakasih, memuja muji dirinya, bahkan jadi "dependable" dmn akhirnya ia merasa punya kontrol terhadap orang yang ditolongnya. Kalau yang altruism, dia nolong ya nolong aja bahkan bikin orang yang ditolongnya independent bisa menolong dirinya sendiri, krn motivasinya adalah untuk kebaikan orang yang ditolongnya bukan untuk kepuasan dirinya semata.
Aktivitasnya sama, motivasinya beda.
Yang bahaya itu kalau ketemu orang narsistic personality disorder, psikopat, sosiopath, yang kadang mencari mangsa orang2 yg lagi susah, fragile, dan sejenisnya. Datang sebagai orang yang bisa menolong dan baik, kenyataannya hanya eksploitasi orang, hanya jadiin orang objek agar dirinya dapat puja puji, jahat2nya bikin orangjd tergantung sama dirinya dan akhirnya dia bs seenak udel mainin orang kaya boneka. Krn tujuan nolongnya adalah untuk mendapati pujian dan kontrol. Dia gak peduli sama keadaan orang yang ditolongnya. Lalu saat ia tidak mendapati apa yang diinginkan dari "korbannya", orang itu dibuang gitu aja tanpa closure, dignity, dan fair. Lain halnya kalau orang nolong dengan motivasi altruism, ia akan tulus. Kalaupun ada orang yg ditolongnya menyalahpahami dirinya dengan nuduh ini itu, orang ini gak akan bereaksi, karena tujuan dia menolong orang murni bukan untuk pride dan keegoisan pribadi lainnya. Jika ketrlaluan, orang ini akan menyampaikan boundariesnya dengan fair dan ada closure.
Taker and Giver.
Karena tidak semua orang berlaku baik aslinya baik.
Thursday, November 19, 2020
Tuesday, November 3, 2020
Sebuah Jeda Tak Berjeda
Matahari hadir di setiap waktu yang kita kenal sebagai pagi.
Ia tenggelam seolah-olah meningalkan kita terganti oleh bulan.
Matahari memberi jeda manusia untuk berjeda dalam kesibukannya.
Matahari memberi jeda manusia untuk mengenal dirinya.
Matahari memberi jeda, seolah-olah ia pun berjeda dalam memberikan cahayanya.
Matahari tidak hilang, ia hanya tak menampakan diri, dan dalam jedanya ia terus bekerja.
Manusia terus berfikir dalam tidurnya, manusia terus merasa dalam jedanya.
Manusia terus bergerak dalam jedanya, tak pernah benar-benar berjeda.
3/11/20
Dari semua yang terjadi. ada validasi yang didapat.
Validasi dari realita yang di invalidation selama ini oleh sekitar yang berhasil bikin diri kehilangan kepercayaan terhadap diri bahkan keluar dari jati diri asli.
Jika pada akhirnya, semua kesulitan, struggle, dan suffering selama ini adalah sebuah jalan Tuhan menunjukan siapa diri sebenarnya dan sebuah kasih sayang untuk dir kembali padaNya, tidak ada kata yang dapat diucapkan selain Alhamdulillah.
Jika keadaan selama ini adalah sebuah persiapan untuk ujian-ujian selanjutnya, maka taka da pertolongan yang diri minta selain atas izinNya.